You are on page 1of 19

BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT
MEI 2010

ANATOMI DAN FISIOLOGI GINJAL

OLEH :
TASLIM CHALID
(110980045)
PEMBIMBING :
Dr. EKA SUKMA ELIMIAH
SUPERVISOR :
Dr. KHOIRUL KHOLIS, Sp.U

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010

ANATOMI DAN FISIOLOGI GINJAL


PENDAHULUAN
Secara garis besar, hewan darat mampu hidup di tanah yang kering tanpa bergantung
pada laut karena adanya ginjal, organ yang bersama dengan masukan hormonal dan saraf yang
mengatur fungsinya, terutama berperan dalam mempertahankan stabilitas volume dan komposisi
elektrolit cairan ekstraseluler. Dengan menyesuaikan jumlah air dan berbagai konstituen plasma
yang akan disimpan di dalam tubuh atau dikeluarkan melalui urin, ginjal mampu
mempertahankan keseimbangan air dan elektrolit di dalam rentan yang sangat sempit yang cocok
bagi kehidupan. Jika terdapat kelebihan air atau elektrolit tertentu di cairan ekstraseluler,
misalnya garam (NaCl), ginjal dapat mengeleminasi kelebihan tersebut dalam urin. Jika terjadi
kekurangan, ginjal sebenarnya tidak dapat memberi tambahan konstituen yang kurang tersebut
tetapi dapat membatasi kehilangan zat tersebut melalui urin.1

Gambar 1. Anatomi dan fisiologi ginjal


Dikutip dari kepustakaan 2

Selain berperan penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, ginjal juga
merupakan jalan penting untuk mengeluarkan berbagai zat sisa metabolik yang toksik dan
senyawa-senyawa asing dari tubuh. Zat-zat sisa ini tidak dapat dikeluarkan dalam bentuk padat,
mereka harus dieksresikan dalam bentuk larutan, sehingga ginjal harus menghasilkan minimal
500 ml urin bersih zat sisa perharinya. Ginjal tidak saja mampu menyesuaikan diri terhadap
perubahan dalam ingesti H2O, garam dan elektrolit lain, tetapi organ ini juga melakukan
penyesuaian dalam pengeluaran konstituen-konstituen cairan ekstraseluler ini melalui urin untuk
mengkompensasi pengeluaran abnormal misalnya melalui keringat berlebihan, muntah, diare
atau perdarahan. Dengan demikian, komposisi urin sangat bervariasi karena ginjal melakukan
penyesuaian terhadap perubahan pemasukan atau pengeluaran berbagai bahan sebagai usaha
untuk mempertahankan cairan ekstraseluler dalam batas-batas sempit yang cocok untuk
kehidupan.1
Berikut ini adalah fungsi spesifik yang dilakukan oleh ginjal, yang sebagian besar ditujukan
untuk mempertahankan kestabilan lingkungan cairan internal : 1,3,4,5
1. Mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh.
2. Mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar ion cairan ekstraseluler termasuk Na +,
Cl-, K+, HCO3-, Ca++, Mg++, SO4++, PO4- dan H+. bahkan fluktuasi minor pada konsentrasi
sebagian elektrolit ini dalam cairan ekstraseluler dapat menimbulkan pengaruh besar.
3. Memelihara volume plasma yang sesuai, sehingga sangat berperan dalam pengaturan
jangka panjang tekanan darah arteri. Fungsi ini dilaksanakan melalui peran ginjal sebagai
pengatur keseimbangan garam dan H2O.
4. Membantu memelihara keseimbangan asam basa tubuh dengan menyesuaikan
pengeluaran H+ dan HCO3- melalui urin
5. Memelihara osmolaritas (konsentrasi zat terlarut) berbagai cairan tubuh, terutama melalui
pengaturan keseimbangan H2O
6. Mengeksresikan(eliminasi) produk-produk sisa dari metabolisme tubuh, misalnya urea,
asam urat dan kreatinin
7. Mengekskresikan banyak senyawa asing misalnya obat, zat penambah makanan,peptisida
dan bahan bahan eksogen non-nutrisi lainnya yang berhasil masuk ke dalam tubuh.
8. Mengeskresikan eritropoitin, suatu hormon yang dapat merangsang pembentukan sel
darah merah
9. Mensekresikan renin, suatu hormon enzimatik yang memicu reaksi berantai yang penting
dalam proses konservasi garam oleh ginjal

10. Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya.


ANATOMI
Ginjal adalah organ ekskresi yang terletak retroperitoneal yang bentuknya mirip kacang.
Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah
dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Pada orang dewasa, setiap ginjal
memiliki ukuran panjang sekitar 11 cm dan ketebalan 5 cm dengan berat sekitar 150 gram.
Ginjal memiliki bentuk seperti kacang dengan lekukan yang menghadap ke dalam. Di tiap ginjal
terdapat bukaan yang disebut hilus yang menghubungkan arteri renal, vena renal, dan ureter 6.
Letak
Manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak retroperitoneal. Ginjal ini terletak di kanan dan
kiri tulang belakang, sekitar vertebra T12 hingga L3 di bawah hati dan limpa. Di bagian atas
(superior) ginjal terdapat kelenjar adrenal (juga disebut kelenjar suprarenal). Ginjal kanan
biasanya terletak lebih rendah dari ginjal kiri untuk memberi hati tempat. Sebagian dari bagian
atas ginjal terlindungi oleh iga ke sebelas dan dua belas. Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan
lemak (lemak perirenal dan lemak pararenal) yang membantu meredam goncangan. Ginjal
memiliki kapsul fibrosa sendiri dan dikelilingi oleh lemak perinefrik yang akhirnya dilapisi oleh
fasia renalis. Hilus ginjal terletak di medial dan dari depan ke belakang merupakan tempat lewat
v. renalis, a.renalis, pelvis ureter dan pembuluh limfe serta nervus vasomotor simpatis. 6,7,8

Gambar 2. Ginjal dilihat dari belakang (tulang rusuk dihilangkan)


Dikutip dari kepustakaan 6
Bagian paling luar dari ginjal disebut korteks, bagian lebih dalam lagi disebut medulla.
Bagian paling dalam disebut pelvis. Pada bagian medulla ginjal manusia dapat pula dilihat
adanya piramida yang merupakan bukaan saluran pengumpul. Ginjal dibungkus oleh lapisan
jaringan ikat longgar yang disebut kapsula.7

Gambar 3. Potongan membujur ginjal


Dikutip dari kepustakaan 9

Sirkulasi
Arteri renalis berasal dari aorta setinggi L2 bersama a.renalis mengarahkan 25% curah jantung
ke ginjal. Tiap a.renalis terbagi menjadi lima aa.segmental pada hilus,yang pada gilirannya
terbagi secara sekuensial menjadi cabang-cabang lobaris, interlobaris, arkuata dan kortikal radial.
Cabang kortikal radial bercabang lagi menjadi arteriol aferen yang memasok darah ke glomeruli
dan melanjutkan sebagai arteriol eferen. Tekanan yang berbeda antara arteriol aferen dan eferen
menghasilkan ultrafiltrasi yang kemudian melewati dan diubah oleh nefron untuk menghasilkan
urin. A.renalis dekstra lewat di belakang vena cava inferior. V.renalis sinistra panjang karena
lewat di depan aorta dan mengalir menuju vena cava inferior5,6

Gambar 4. sirkulasi ginjal


Dikutip dari kepustakaan 10

Nefron
Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron yang dapat berjumlah lebih dari satu juta
buah dalam satu ginjal normal manusia dewasa. Nefron berfungsi sebagai regulator air dan zat
terlarut (terutama elektrolit) dalam tubuh dengan cara menyaring darah, kemudian mereabsorpsi
cairan dan molekul yang masih diperlukan tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan dibuang.
Reabsorpsi dan pembuangan dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran lawan arus dan kotransport. Hasil akhir yang kemudian diekskresikan disebut urin. Sebuah nefron terdiri dari
sebuah komponen penyaring yang disebut korpuskula (atau badan malphigi) yang dilanjutkan
oleh saluran-saluran (tubulus). Setiap korpuskula mengandung gulungan kapiler darah yang
disebut glomerulus yang berada dalam kapsula Bowman. Setiap glomerulus mendapat aliran
darah dari arteri aferen. Dinding kapiler dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau
penyaringan. Darah dapat disaring melalui dinding epitelium tipis yang berpori dari glomerulus
dan kapsula Bowman karena adanya tekanan dari darah yang mendorong plasma darah. Filtrat
yang dihasilkan akan masuk ke dalan tubulus ginjal. Darah yang telah tersaring akan
meninggalkan ginjal lewat arteri eferen3,5,6,7

Gambar 5. Anatomi Glomerulus


Dikutip dari kepustakaan 9

Di antara darah dalam glomerulus dan ruangan berisi cairan dalam kapsula Bowman terdapat
tiga lapisan:6
1. kapiler selapis sel endotelium pada glomerulus
2. lapisan kaya protein sebagai membran dasar
3. selapis sel epitel melapisi dinding kapsula Bowman (podosit)
Dengan bantuan tekanan, cairan dalan darah didorong keluar dari glomerulus, melewati ketiga
lapisan tersebut dan masuk ke dalam ruangan dalam kapsula Bowman dalam bentuk filtrat
glomerular.6
Filtrat plasma darah tidak mengandung sel darah ataupun molekul protein yang besar. Protein
dalam bentuk molekul kecil dapat ditemukan dalam filtrat ini. Darah manusia melewati ginjal
sebanyak 350 kali setiap hari dengan laju 1,2 liter per menit, menghasilkan 125 cc filtrat
glomerular per menitnya. Laju penyaringan glomerular ini digunakan untuk tes diagnosa fungsi
ginjal. Tubulus ginjal merupakan lanjutan dari kapsula Bowman. Bagian yang mengalirkan filtrat
glomerular dari kapsula Bowman disebut tubulus kontortus proksimal. Bagian selanjutnya adalah
lengkung Henle yang bermuara pada tubulus kontortus distal.6
Lengkung Henle menjaga gradien osmotik dalam pertukaran lawan arus yang digunakan untuk
filtrasi. Sel yang melapisi tubulus memiliki banyak mitokondria yang menghasilkan ATP dan
memungkinkan terjadinya transpor aktif untuk menyerap kembali glukosa, asam amino, dan
berbagai ion mineral. Sebagian besar air (97,7%) dalam filtrat masuk ke dalam tubulus kontortus
dan tubulus kolektivus melalui osmosis.6

Gambar 6. Nefron,terdiri dari glomerulus dan tubulus


Dikutip dari kepustakaan 3
Cairan mengalir dari tubulus kontortus distal ke dalam sistem pengumpul yang terdiri dari:6

tubulus penghubung

tubulus kolektivus kortikal

tubulus kolektivus medullaris

Tempat lengkung Henle bersinggungan dengan arteri aferen disebut aparatus juxtaglomerular,
mengandung makula densa dan sel juxtaglomerular. Sel juxtaglomerular adalah tempat
terjadinya sintesis dan sekresi renin cairan menjadi makin kental di sepanjang tubulus dan
saluran untuk membentuk urin, yang kemudian dibawa ke kandung kemih melewati ureter.6

FISIOLOGI GINJAL
Mekanisme pembentukan urin

Terdapat tiga proses dasar yang berperan dalam pembentukan urin, proses tersebut berupa
filtrasi glomerulus, reabsorbsi tubulus, dan sekresi tubulus. Pada saat darah mengalir melalui
glomerulus, terjadi filtrasi plasma bebas protein menembus kapiler glomerulus ke dalam kapsul
bowman, proses ini yang dikenal sebagai filtrasi glomerulus, yang merupakan langkah pertama
dalam pembentukan urin. Setiap hari terbentuk rata-rata 180 liter filtrat glomerulus. Pada saat
filtrat mengalir melalui tubulus, zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh dikembalikan ke plasma
kapiler peritubulus. Perpindahan bahan-bahan yang bersifat selektif dari bagian dalam tubulus
(lumen tubulus) kedalam darah ini disebut sebagai reabsorbsi tubulus. Zat zat yang direabsorbsi
tidak keluar dari tubuh melalui urin tetapi diangkut oleh kapiler peritubulus ke sistem vena dan
kemudian ke jantung untuk kembali diedarkan. Sekresi tubulus yang mengacu pada perpindahan
selektif zat-zat dari darah kapiler peritubulus ke dalam lumen tubulus, merupakan rute kedua
bagi zat dari darah untuk masuk ke dalam tubulus ginjal. Cara pertama zat berpindah dari plasma
ke dalam lumen tubulus melalui filtrasi glomerulus namun hanya sekitar bowman, 80% sisanya
terus mengalir melalui arteriol eferen ke dalam kapiler peritubulus. Eksresi urin mengacu pada
eliminasi zat zat dari tubuh di urin. Proses ini bukan suatu proses terpisah, tetapi merupakan hasil
dari ketiga proses utama. Semua konstituen plasma yang mencapai tubulus yaitu yang difiltrasi
atau disekresi tetapi tidak direabsorbsi akan tetap berada dalam tubulus dan mengalir ke pelvis
ginjal untuk disekresikan sebagai urin.1,
A. Filtrasi Glomerulus
Cairan yang difiltrasi dari glomerulus kedalam kapsul bowman harus melewati tiga lapisan yang
membentuk membran glomerulus yaitu:1
1. Dinding kapiler glomerulus
2. Lapisan gelatinosa aseluler yang dikenal sebagai membran basal
3. Lapisan dalam kapsul bowman.
Secara kolektif ketiga lapisan tersebut berfungsi sebagai saringan molekul halus yang menahan
sel darah merah dan protein plasma tetapi melewatkan H2O dan zat terlarut lainnya.1
Faktor yang berperan dalam Filtrasi
Untuk melaksanakan filtrasi glomerulus harus terdapat suatu gaya yang mendorong sebagian
plasma dalam glomerulus menembus lubang-lubang membran glomerulus. Dalam perpindahan

cairan tidak terdapat mekanisme transportasi aktif atau pemakaian energi lokal tetapi disebabkan
oleh gaya-gaya fisik pasif yang mirip dengan gaya yang terdapat di kapiler tubuh lainnya.
Kecuali dua perbedaan penting yaitu kapiler glomerulus jauh lebih permeabel dibandingkan
dengan kapiler di tempat lain dan keseimbangan gaya-gaya di kedua sisi membran glomerulus
sehingga filtrasi berlangsung di keseluruhan panjang kapiler. Terdapat tiga gaya fisik yang
terlibat dalam filtrasi glomerulus yaitu :1,4
1. Tekanan darah kapiler glomerulus
2. Tekanan osmotik koloid plasma
3. Tekanan hidrostatik kapsul bowman.
Tekanan darah kapiler glomerulus adalah tekanan cairan yang ditimbulkan oleh darah di dalam
kapiler glomerulus yang akhirnya bergantung pada kontraksi jantung dan resistensi arteriol
aferen dan eferen terhadap aliran darah. Tekanan darah kapiler glomerulus, diperkirakan bernilai
rata-rata 55 mmHg, lebih tinggi dari pada tekanan darah kapiler di tempat lain. Tekanan ini
cenderung mendorong cairan keluar dari glomerulus untuk masuk ke kapsul bowman. Sementara
tekanan darah kapiler glomerulus mendorong filtrasi kedua gaya lain yaitu tekanan osmotik
koloid plasma dan tekanan hidrostatik kapsul bowman melawan filtrasi. Tekanan osmotik koloid
plasma sekitar 30 mmHg ditimbulkan oleh distribusi protein protein plasma yang tidak seimbang
di kedua sisi membran glomerulus. Cairan di dalam kapsul bowman menimbulkan tekanan
hidrostatik yang diperkirakan sekitar 15 mmHg yang cenderung mendorong cairan keluar dari
kapsul bowman, melawan filtrasi cairan dari glomerulus ke dalam kapsul bowman.

Gambar 3. Kapiler glomerulus dengan tekanan yang tinggi dan kapiler peritubulus dengan
tekanan yang rendah menyebabkan adanya proses filtrasi dan reabsorbsi
Dikutip dari kepustakaan 3

Laju Filtrasi Glomerulus (GFR)


Terdapat ketidakseimbangan gaya-gaya yang bekerja melintasi glomerulus. Gaya total yang
mendorong filtrasi adalah 55 mmHg, dan jumlah total gaya yang melawan filtrasi adalah 45
mmHg. Perbedaan netto yang mendorong filtrasi (10mmHg) disebut tekanan filtrasi netto. Laju
filtrasi glomerulus bergantung tidak saja pada tekanan filtrasi netto tapi juga pada luas
permukaan glomerulus dan seberapa permeabelnya membran glomerulus. Sifat-sifat membran
glomerulus ini disebut sebagai koefisien filtrasi (Kf). dengan demikian1,3
GFR = Kf x tekanan filtrasi netto
Pengontrolan Laju Filtrasi Glomerulus
Tekanan filtrasi netto yang bertanggung jawab menginduksi filtrasi glomerulus ditimbulkan oleh
ketidakseimbangan gaya-gaya fisik yang saling bertentangan antara plasma kapiler glomerulus
dan cairan kapsul bowman, perubahan pada salah satu dari gaya fisik ini akan mempengaruhi
GFR. Berbeda dengan tekanan darah kapiler glomerulus yang dapat dikontrol untuk
menyesuaikan GFR dalam memenuhi kebutuhan tubuh. GFR dikontrol oleh dua mekanisme
yang dapat menyesuaikan aliran darah glomerulus dengan mengatur kaliber dan resistensi
arteriol aferen. Keduanya adalah otoregulasi dan kontrol simpatis ekstrinsik1.
Otoregulasi GFR
Ginjal dalam batas-batas tertentu dapat mempertahankan aliran darah kapiler glomerulus yang
konstan walaupun terjadi perubahan tekanan arteri. Ginjal melakukannya dengan mengubah
tekanan arteri kaliber arteriol aferen, sehingga resistensi terhadap aliran darah melalui pembuluh
ini dapat disesuaikan. Mekanisme pasti yang bertanggung jawab melaksanakan respon
otoregulasi ini masih belum sepenuhnya dipahami. Saat ini diperkirakan dua mekanisme yaitu
mekanisme miogenik dan mekanisme umpan balik tubule-glomerulus.1
1. Mekanisme miogenik
Otot polos vaskuler arteriol berkontraksi secara inheren sebagai respons terhadap peregangan
yang menyertai peningkatan tekanan di dalam pembuluh. Dengan demikian arteriol aferen
secara otomatis berkonstriksi sendiri jika teregang karena tekanan arteri meningkat. Respon

ini membatasi aliran darah ke dalam glomerulus ke tingkat normal walaupun tekanan arteri
meningkat. Sebaliknya arteriol aferen yeng tidak teregang akan melemas sehingga aliran
darah ke dalam glomerulus meningkat walaupun terjadi penurunan tekanan arteri.1
2. Mekanisme umpan balik tubulus-glomerulus
Mekanisme ini melibatkan apparatus jukstaglomerulus yaitu kombinasi khusus sel-sel
tubulus dan vaskuler di daerah nefron tempat tubulus. Sel-sel makula densa mendeteksi
perubahan kecepatan aliran cairan di dalam tubulus yang melewati mereka. Apabila GFR
meningkat akibat peningkatan tekanan arteri, cairan yang difiltrasi akan mencapai tubulus
distal lebih banyak dari pada normal. Sebagai respon sel-sel makula densa memicu
pengeluaran zat-zat kimia vasoaktif dari apparatus jukstaglomerulus yang kemudian
menyebabkan konstriksi arteriol aferen dan menurunkan aliran darah glomerulus serta
memulihkan GFR ke normal. Beberapa zat kimia berhasil di identifikasi, sebagian adalah
vasokonstriktor (endotelin) dan sebagian lainnya vasodilator (bradikinin) tetapi kontribusi
mereka masih perlu ditentukan lebih lanjut. Melalui apparatus jukstaglomerulus, tubulus
nefron mampu memantau laju perpindahan cairan didalamnya dan menyesuaikan GFR
seperlunya. Mekanisme umpan balik tubule-glomerulus ini dimulai oleh tubulus untuk
membantu setiap nefron mengatur kecepatan filtrasi melalui glomerulus masing-masing.1
Kontrol Simpatis Ekstrinsik GFR
Selain mekanisme otoregulasi intrinsik yang dirancang untuk menjaga agar GFR konstan,
GFR juga dapat diubah-ubah secara sengaja oleh mekanisme kontrol ekstrinsik yang
mengalahkan respons otoregulasi. Kontrol ekstrinsik atas GFR, yang diperantarai oleh
masukan sistem saraf simpatis ke arteriol aferen, ditujukan untuk mengatur tekanan darah
arteri, sistem saraf parasimpatis tidak menimbulkan pengaruh apapun pada ginjal. Jika
volume plasma menurun, tekanan darah arteri yang kemudian menurun akan dideteksi oleh
baroreseptor arkus aorta dan sinus karotis yang mengawali refleks saraf untuk meningkatkan
tekanan darah ke tingkat normal. Respons refleks ini dikoordinasikan oleh pusat control
kardiovaskuler di batang otak dan terutama diperantarai oleh peningkatan aktivitas simpatis
ke jantung dan pembuluh darah. GFR berkurang akibat respons refleks baroreseptor terhadap
penurunan tekanan darah. Selama refleks ini, terjadi vasokonstriksi yang di induksi oleh

sistem simpatis di sebagian besar arteriol tubuh sebagai mekanisme kompensasi untuk
meningkatkan resistensi perifer total. Sebaliknya jika tekanan darah meningkat, baroreseptor
akan mendeteksi peningkatan tekanan darah, aktivitas vasokonstriktor simpatis ke arteriolarteriol termasuk arteriol aferen secara refleks berkurang sehingga terjadi vasodilalatasi
arteriol. Karena darah yang masuk ke glomerulus melalui arteriol aferen yang berdilatasi
lebih banyak, tekanan darah kapiler glomerulus meningkat dan GFR juga meningkat.1
B. Reabsorbsi Tubulus
Reabsorbsi tubulus adalah suatu proses yang sangat selektif. Setiap bahan yang direabsorbsi
adalah jumlah yang diperlukan untuk mempertahankan komposisi dan volume lingkungan
cairan internal yang sesuai. Tubulus memiliki ketebalan satu lapisan sel dan terletak
berdekatan dengan kapiler peritubulus di dekatnya. Untuk dapat direabsorbsi suatu bahan
harus harus melewati lima sawar terpisah1
1. Bahan tersebut harus meninggalkan cairan tubulus dengan melintasi membran luminal sel
tubulus
2. Bahan tersebut harus berjalan melewati sitosol dari satu sisi sel tubulus ke sisi lainnya
3. Bahan tersebut harus menyeberangi membran basolateral sel tubulus untuk masuk ke
cairan interstisium
4. Bahan tersebut harus berdifusi melintasi cairan interstisium
5. Bahan tersebut harus menembus dinding kapiler untuk masuk ke plasma darah
Keseluruhan langkah-langkah tersebut dikenal sebagai transportasi transepitel.
Reabsorbsi Natrium
Reabsorbsi natrium bersifat unik dan kompleks. Delapan puluh persen dari kebutuhan energi
total ginjal digunakan untuk transportasi Na+.1
1. Reabsorbsi natrium di tubulus proksimal berperan penting dalam reabsorbsi glukosa,
asam amino, H2O,Cl- dan urea
2. Reabsorbsi natrium di lengkung henle, bersama dengan reabsorbsi Cl -, berperan penting
dalam kemampuan ginjal menghasilkan urin dengan konsentrasi dan volume yang
berbeda-beda, bergantung pada kebutuhan untuk menyimpan atau membuang H2O

3. Reabsorbsi natrium di bagian distal nefron bersifat variabel dan berada di bawah kontrol
hormon, menjadi penting dalam mengatur volume cairan ekstraseluler. Reabsorbsi
tersebut juga berkaitan dengan sekresi K- dan H+
Langkah aktif pada reabsorbsi Na+ melibatkan transport aktif Na+,K+, ATPase yang terletak di
membran basolateral sel tubulus. Transport ini merupakan pembawa yang sama dengan yang
terdapat di semua sel dan secara aktif mengeluarkan Na+ dari sel. Ginjal mensekresikan hormon
renin sebagai respons terhadap penurunan NaCl, volume cairan ekstraseluler dan tekanan darah
arteri. Renin mengaktifkan angiotensinogen menjadi angiotensin I, kemudian dengan angiotensin
konverting enzim yang diproduksi di paru angiotensin I diubah menjadi angiotensin II yang
dapat merangsang korteks adrenal untuk mensekresikan hormon aldosteron yang dapat
merangsang reabsorbsi Na+ oleh tubulus distal dan tubulus pengumpul melalui dua cara sebagai
berikut :1
1. Mereka terlibat dalam pembentukan saluran Na+ di membran luminal sel tubulus distal
dan pengumpul sehingga meningkatkan perpindahan pasif Na+ dari lumen ke dalam sel.
2. Menginduksi sintesis pembawa Na+, K+, ATPase yang disisipkan ke dalam membran
basolateral sel-sel tersebut.
Hasil akhirnya adalah peningkatan reabsorbsi Na+. Ion klorida mengikuti secara pasif sesuai
gradien listrik yang tercipta oleh reabsorbsi aktif Na+.1
Reabsorbsi Glukosa
Sejumlah besar molekul organik yang mengandung nutrisi misalnya glukosa dan asam amino
difiltrasi setiap harinya karena zat-zat ini secara normal direabsorbsi secara total kembali ke
dalam darah oleh mekanisme yang bergantung energi dan Na+ yang terletak di tubulus proksimal.
Konsentrasi glukosa normal dalam plasma adalah 100 mg glukosa/100 ml plasma. Glukosa dan
asam amino diangkut melalui proses transportasi aktif sekunder . Gradient konsentrasi Na+
lumen ke sel-sel yang diciptakan oleh pompa Na +, K+, ATPase basolateral yang memerlukan
energi ini mengaktifkan sistem kontransportasi ini dan menarik molekul molekul organik
melawan gradien konsentrasi mereka tanpa secara langsung menggunakan energi. Pada dasarnya
glukosa dan asam amino mendapat tumpangan gratis dari proses reabsorbsi Na + yang
menggunakan energi.1

Reabsorbsi urea
Reabsorbsi pasif urea juga secara tidak langsung berkaitan dengan reabsorbsi aktif Na +.
Reabsorbsi H2O yang diinduksi secara osmotik di tubulus proksimal yang sekunder terhadap
reabsorbsi aktif Na+ menimbulkan gradien konsentrasi untuk urea yang mendorong reabsorbsi
pasif zat sisa bernitrogen ini. Konsentrasi urea sewaktu difiltrasi di glomerulus setara dengan
konsentrasinya di dalam plasma yang memasuki kapiler peritubulus. Namun jumlah urea yang
terdapat di dalam 125 ml cairan filtrasi di permulaan tubulus proksimal mengalami pemekatan
hampir tiga kali lipat, akibatnya konsentrasi urea di dalam cairan tubulus menjadi jauh lebih
besar daripada konsentrasi urea dalam plasma kapiler-kapiler di sekitarnya. Dengan demikian
tercipta gradien konsentrasi agar urea secara pasif berdifusi dari lumen tubulus ke dalam plasma
kapiler peritubulus1
C. Sekresi tubulus
Semua zat yang masuk ke cairan tubulus, baik melalui filtrasi glomerulus maupun sekresi
tubulus dan tidak direabsorbsi akan dieliminasi di urin. Sekresi tubulus melibatkan transportasi
transepitel seperti yang dilakukan reabsorbsi tubulus, tetapi langkah-langkahnya berlawanan
arah. Seperti reabsorbsi, sekresi dapat aktif atau pasif. Bahan yang paling penting disekresikan
oleh tubulus adalah ion H+, ion K+, serta anion dan kation organik yang banyak diantaranya
adalah senyawa-senyawa asing bagi tubuh. Sekresi ion kalium ditubulus distal dan pengumpul
digabungkan dengan reabsorbsi Na+ melalui pompa Na+, K+ basolateral yang bergantung energi.
Pompa ini tidak saja memindahkan Na+ keluar ke ruang lateral tetapi juga memindahkan K+ ke
dalam sel tubulus. Konsentrasi K+ intrasel yang meningkat mendorong difusi K+ dari sel ke
dalam lumen tubulus. Perpindahan menembus lumen membran luminal berlangsung secara pasif
melalui sejumlah besar saluran K+ yang terdapat di sawar tersebut. Beberapa faktor mampu
mengubah kecepatan sekresi K+, yang paling penting adalah hormon aldosteron, yang
merangsang sekresi K+ oleh sel sel tubulus di bagian akhir nefron secara simultan untuk
meningkatkan reabsorbsi Na+ oleh sel-sel tersebut. Peningkatan konsentrasi K+ plasma secara
langsung merangsang korteks adrenal untuk meningkatkan keluaran aldosteronnya, yang
kemudian mendorong sekresi dan eksresi kelebihan K+. Sebaliknya, penurunan konsentrasi K+
plasma menyebabkan reduksi sekresi aldosteron sehingga sekresi K+ oleh ginjal yang dirangsang
oleh aldosteron juga berkurang.1

D. Eksresi dan pemekatan urin


Biasanya dari 125 ml plasma yang difiltrasi permenit, 124 ml/menit direabsorbsi, sehingga
jumlah akhir urin yang terbentuk rata-rata adalah 1 ml/menit. Dengan demikian urin yang
dieksresikan perhari adalah 1,5 liter dari 180 liter yang difiltrasi. Urin mengandung berbagai
produk sisa dengan konsentrasi tinggi ditambah sejumlah bahan, dengan jumlah bervariasi yang
diatur oleh ginjal dan kelebihan akan dikeluarkan melalui urin. Osmolaritas cairan ekstraseluler
bergantung pada jumlah relatif H2O dibanding dengan zat terlarut. Secara umum, osmolaritas
cairan ekstraseluler sama di seluruh tubuh. Ginjal tidak dapat menseksresi urin dengan
konsentrasi yang lebih tinggi atau lebih rendah dari pada cairan tubuh. Pada cairan intertisium
medulla kedua ginjal terdapat gradien osmotik vertikel besar. Konsentrasi cairan intertisium
secara progresif meningkat dari batas korteks masuk ke dalam medulla ginjal sampai mencapai
maksimum 1.200 mosm/l pada manusia. Gradien osmotik vertikal ini bersifat konstan tanpa
bergantung pada keseimbangan cairan tubuh. Adanya gradient ini memungkinkan ginjal
menghasilkan urin dengan konsentrasi antara 100 sampai 1.200 mosm/l.1
Tidak seperti tubulus proksimal, bagian awal tubulus pengumpul bersifat inpermeabel
terhadap urea. Akibatnya, urea secara progresif lebih pekat di segmen ini karena H2O
direabsorbsi oleh keberadaan vasopressin. Urea tidak dapat keluar mengikuti penurunan gradien
konsentrasi karena segmen ini inpermeabel terhadap urea. Urea berdifusi keluar dibagian terakhir
tubulus pengumpul mengikuti penurunan gradien konsentrasinya kedalam cairan intertisium dan
bagian dasar lengkung henle karena segmen-segmen tubulus ini permeabel terhadap urea.
Vasopressin meningkatkan permeabilitas bagian akhir tubulus pengumpul terhadap urea.
Masuknya urea kedalam cairan intertisium ikut menentukan hipertonisitas medulla di medulla
bagian dalam. Sewaktu cairan tubulus mengalir melalui pars ascendens dan tubulus distal, urea
tidak dapat keluar karena segmen ini inpermeable terhadap urea. Dengan demikian urea tidak
dapat berdifusi keluar walaupun cairan melewati daerah dengan konsentrasi urea yang lebih
rendah. Konsentrasi urea cairan tubulus semakin meningkat karena air direabsorbsi sewaktu
cairan sekali lagi memasuki bagian awal tubulus pengumpul. Dengan demikian apabila terjadi
sekresi vasopressin akibat defisit H2O, daur ulang urea ini secara progresif memekatkan urea di
dalam cairan tubulus yang dieksresikan sebagai urin.1

PROSES BERKEMIH
Setelah dibentuk oleh ginjal, urin disalurkan melalui ureter ke kandung kemih, aliran urin di
ureter tidak semata-mata bargantung pada gaya tarik bumi. Kontraksi peristaltik otot polos di
dinding urethra juga mendorong urin bergerak maju dari ginjal ke kandung kemih. Ureter
menembus kandung kemih secara oblik, melalui dinding kandung kemih beberapa sentimeter
sebelum bermuara di rongga kandung kemih. Susunan anatomis seperti ini mencegah aliran balik
urin dari kandung kemih ke ginjal apabila terjadi peningkatan tekanan di kandung kemih. Berikut
ini adalah skema refleks dan volunter dalam proses berkemih.1

Pengaturan
refleks

Pengaturan
volunter
Korteks Cerebri

Kandung kemih
terisi

Motor neuron menuju


sfingter urethra
eksterna

Reseptor
Tegang
Saraf
parasimpatis

Sfinter urethra eksterna


tertutup bila motor neuron
dirangsang

Kandung kemih
berkontraksi

Sfingter urethra interna


secara mekanik terbuka bila
kandung kemih berkontraksi

Sfinter urethra
eksterna terbuka
bila motor neuron
dihambat

berkemih

Tidak
berkemih

DAFTAR PUSTAKA

1. Sherwood L. Fisiologi Berkemih. Dalam: Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi ke2. Jakarta: EGC.2001.pp.462-99
2. Anonym. Anatomy and Physiology of The Kidney. Available from
URL:http//www.generateexhibit.php.htm.com.accairan ekstraselulersed on 10 may 2010
3. Stewart P. Physiology of The Kidney. Article 6.Sydney: World Federation of ocieties of
Anaesthesiologists www implementation by the NDA Web Team, Oxford.1998.pp.1-3
4. Widmaier PE, Raff H,Strang TK. The Kidneys and Regulation of Water and Inorganic
Ions. Dalam: Vander,Sherman & Luciano`s Human Physiology The Mechanisms of Body
Function. Edisi ke-9. New York: Mc Graw Hill.2004.pp.514-27
5. Despopoulos A, Silbernagl S. Kidney,Salt and water Balance.Dalam: Color Atlas of
Physiology. Edisi ke-3.Stuttgart: Thieme.2003.pp.161-79
6. Anoniym. Ginjal. Available from URL:http//www.wikipedibahasaindonesia.com.accairan
ekstraselulersed on 10 may 2010
7. Faiz O, David M. Dinding Posterior Abdomen. Dalam: At a Glance Series Anatomi.
Jakarta: Erlangga.2004.pp.44-5
8. Elaine NM. The Urinary Sistem. Dalam: essentials of Human Anatomy & Physiology.
Edisi ke-7. New York: Benjamin Cummings.2003.pp.479-89
9. Hansen TJ,Koeppen MB. Renal Physiology. Dalam: Netters`Of Human
Physiology.pp.104-105
10. Anonym. Renal Blood Vessels. Available from
URL:http//www.medicalartlibrary.com.accairan ekstraselulersed on 10 may 2010.