You are on page 1of 2

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
Agregat Tanah secara umum tersusun oleh senyawa anorganik, senyawa organik,
udara, dan air serta mengandung bagian yang terbentuk jasad hidup yang secara umum terdiri
dari mikroorganisme. Mikroba tanah terdiri dari bakteri, jamur dan mikroalgae. Sifat-sifat
tanah bergantung pada besar kecilnya partikel-partikel yang merupakan komponenkomponen tanah tersebut; misalnya, tanah pasir berbeda dengan tanah liat dalam hal
kemampuan menahan air, kemampuan mengurung udara, dan karenanya juga berbeda dalam
hal menahan panas. Komponen-komponen anorganik maupun organik tanah merupakan
substrat ataupun medium yang baik bagi kehidupan mikroorganisme ( Dwidjoseputro, 2003).
Tanah terdiri atas beberapa lapisan, lapisan pertama yang merupakan lapisan teratas
disebut sebagai lapisan O, yaitu lapisan yang kaya akan bahan organik. Di bawah lapisan O
terdapat lapisan A. Lapisan A terdiri dari komposisi mineral dan bahan organik
terdekomposisi. faktor-faktor lingkungan dan aktivitas organisme, memiliki sifat kaya akan
nutrien dan cukup oksigen sehingga lapisan ini selalu mengalami pelapukan. Lapisan
dibawah lapisan A adalah lapisan E, yaitu lapisan ini mengalami pengkayaan mineral yang
berasal dari penindihan mineral. Di bawahnya disebut lapisan B yang memiliki cukup
mineral, senyawa organik dan karbonat sebagai akibat dari pencucian dan pelapukan lapisan
di atasnya. Lapisan selanjutnya adalah lapisan C. Lapisan ini dicirikan dengan mineralmineral yang tidak mengalami pelapukan dan terletak di atas batuan induk (Irianto,2002).
Agregat merupakan kumpulan pasir, pasir halus, tanah liat serta partikel organik
seperti sel mikroba sendiri yang menggumpal karena adanya gum, polisakarida atau metabolit
lainnya yang disekresi mikroba. Agregat yang dibentuk sangat ditentukan oleh batuan induk
penyusunnya, iklim dan aktivitas biologis yang berlangsung dilingkungan tersebut. Agregat
tanah yang terbentuk ditentukan oleh batuan induk penyusunnya, iklim, dan aktivitas biologi
yang langsung di lingkungan tersebut. Distribusi materi pasir, pasir halus (slit) dan tanah liat
merupakan tekstur tanah, sedangkan tekstur tanah menunjukkan sifat agregat (Irianto, 2002).
Proses pembentukan agregat tanah melibatkan organisme seperti benang-benang hifa
pada jamur yang mampu mengikat partikel tanah dengan partikel lain. Organisme juga
memproduksi sejumlah bahan kimia/asam-asam yang dapat merekatkan tanah. Pertumbuhan
struktur miselium akan semakin meningkat apabila semakin lama waktu inkubasi. Hal ini
akan berdampak pada semakin mantapnya pembentukan agregat tanah. Struktur miselium

yang terdapat pada jamur serta polisakarida memiliki pengaruh dalam memantapkan agregat
tanah.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Proses pembentukan agregat tanah melibatkan organisme seperti benang-benang hifa
pada jamur yang mampu mengikat partikel tanah dengan partikel lain. Organisme juga
memproduksi sejumlah bahan kimia/asam-asam yang dapat merekatkan tanah. Pertumbuhan
struktur miselium akan semakin meningkat apabila semakin lama waktu inkubasi. Hal ini
akan berdampak pada semakin mantapnya pembentukan agregat tanah. Struktur miselium
yang terdapat pada jamur serta polisakarida memiliki pengaruh dalam memantapkan agregat
tanah.
Polisakarida ternyata mengandung gkukosa, rhamnosa, manosa, glukosamin dan asam
4-0-metil-glukoronat sebagi komponen utama. Diantara karbohidrat yang diisolasi dari tanah,
diketahui bahwa dekstran yang mengandung adam uronat dalam jumlah yang besar dan
resisten terhadap degradasi mikroba ternyata memiliki kualitas tertinggi dalam membentuk
agregrat tanah (Rao, 1994).