You are on page 1of 4

Patogenesis Bacillus anthracis.

Setelah endospora masuk ke dalam tubuh manusia, melalui luka pada kulit, inhalasi (ruang
alveolar) atau makanan (mukosa gastrointestinal), kuman akan difagosit oleh makrofag dan
dibawa ke kelenjar getah bening regional. Pada antraks kutaneus dan gastrointestinal terjadi
germinasi tingkat rendah di lokasi primer yang menimbulkan edema lokal dan nekrosis. Endospora
akan mengalami germinasi di dalam makrofag menjadi bentuk vegetatif. Bentuk vegetatif akan
keluar dari makrofag, berkembang biak di dalam sistem limfatik, mengakibatkan limfadenitis
hemoragik regional, kemudian masuk ke dalam sirkulasi, dan menyebabkan septikemia.1

Gambar 1. Patofisiologi Bacillus anthracis (Dixon et all, 1999)

Faktor virulensi utama B.anthracis dicirikan (encoded) pada dua plasmid virulen yaitu pXO1
dan pXO2. Plasmid pXO1 mengandung gen yang memproduksi kompleks toksin antraks berupa
faktor letal (FL), faktor edema (FE), dan antigen protektif (AP). Antigen protektif
merupakan komponen yang berguna untuk berikatan dengan reseptor toksin antraks (ATR =
Anthrax Toxin Receptor) di permukaan sel. Setelah berikatan dengan reseptor maka oleh
furin protease permukaan sel, antigen protektif yang berukuran 83-kDa itu membelah menjadi
bentuk 63-kDa dan selanjutnya bentuk itu akan mengalami oligomerisasi menjadi bentuk
heptamer. Pembelahan antigen protektif diperlukan agar tersedia tempat pengikatan FL dan atau
FE. Antigen protektif yang telah mengalami pembelahan, bersama reseptornya akan
melakukan pengelompokan ke dalam lipid rafts sel kemudian mengalami endositosis. Melalui
lubang yang terbentuk terjadilah translokasi FE dan FL ke dalam sitosol yang selanjutnya
dapat menimbulkan edema, nekrosis, dan hipoksia.2,3

FE merupakan calmodulin-dependent adenylate cyclase yang mengubah adenosine


triphosphate (ATP) menjadi cyclic adenosine monophosphate (cAMP) yang menyebabkan
edema. FE menghambat fungsi netrofil dan aktivitas oksidatif sel polimormonuklear (PMN).
FL merupakan zinc metal- loprotease yang menghambat aktifitas mitogen-activated protein
kinase kinase (MAPKK) in vitro dan dapat menyebabkan hambatan signal intraselular. FL
menyebabkan makrofag melepaskan tumor necrosis factor (TNF- ) dan interleukins-1 (IL1) yang merupakan salah satu factor penyebab kematian mendadak.

Gambar 2. Mekanisme kelainan patologik akibat Bacillus anthracis (Alice S. Prince, Department of
Pediatrics, Columbia University College of Physicians and Surgeons, 2003)

Plasmid pXO2 mengkode tiga gen (capB, capC dan capA) yang terlibat dalam sintesis
kapsul

polyglutamyl. Kapsul

menghambat

proses

fagositosis

bentuk

vegetatif

B.anthracis.4

Sumber :
1. Dixon TC, Meselson BSM, Guillemin J, Hanna PC. Anthrax. N Engl J Med 1999;
341:815-26.
2. Inglesby TV, OToole T, Henderson DA, Bartlett JG, Ascher MS, Eitzen E, et al.
Anthrax as a biological weapon: updated recommendations for management. JAMA
2002; 287 (17):2236-52.

3. Prince AS. The host response to anthrax lethal toxin: unexpected observations. J.
Clin. Invest 2003;112:656-8.
4. Holmes RK. Diphtheria, other corynebacterial infection and anthrax. In : Fauci AS,
Braunwald E, Isselbacher KJ, Wilson JD, Martin JB, Kasper DL, et al. Eds. Harrisons
Principles of Internal Medicine. 14th ed. McGraw-Hill: New York 1998.p.892-9