You are on page 1of 9

Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Hifofisis

Hipofisa merupakan sebuah kelenjar sebesar kacang polong, yang


terletak di dalam struktur bertulang (sela tursika) di dasar otak. Sela tursika
melindungi hipofisa tetapi memberikan ruang yang sangat kecil untuk
mengembang.
Jika hipofisa membesar, akan cenderung mendorong ke atas, seringkali
menekan daerah otak yang membawa sinyal dari mata dan mungkin akan
menyebabkan sakit kepala atau gangguan penglihatan.
Hipofisa mengendalikan fungsi dari sebagian besar kelenjar endokrin
lainnya. Hipofisa dikendalikan oleh hipotalamus, yaitu bagian otak yang
terletak tepat diatas hipofisa. Hipofisa memiliki 2 bagian yang berbeda, yaitu
lobus anterior (depan) dan lobus posterior (belakang).
Hipotalamus mengendalikan lobus anterior (adenohipofisa) dengan cara
melepaskan faktor atau zat yang menyerupai hormon, melalui pembuluh
darah yang secara langsung menghubungkan keduanya.

Kelenjar Hipofisis merupakan kelenjar berdiameter kira-kira 1 cm dan


beatnya 0,5-1 gram. Hipofisis disebut juga master of glands karena hipofisis
dapat menyekresikan hormon yang dapat mengatur kerja tubuh. Namun,
kelenjar hipofisis juga dipengaruhi oleh hipotalamus. Mekanisme yang terjadi
adalah mekanisme umpan balik yang sangat mempengaruhi kelenjar yang
satu dengan kelenjar yang lain.
Kelenjar hipofisis terletak pada rongga tulang pada basis otak. Hipofisis
terhubung dengan hipotalamus dan dihubungkan dengan tangkai hipofisis.
Hipofisis terbagi menjadi dua bagian, yaitu hipofsis anterior dan
hipofisis posterior. Namun, memang terdapat bagian pars media (Lobus
intermedius) yang berada di antara hipofisis anterior dan posterior yang
pada manusia hampir tidak ada. Lobus anterior, intermedius, dan posterior
kelenjar hipofisis sebenarnya adalah tiga organ endokrin yang kurang lebih
terpisah satu sama lain dan, paling tidak pada beberapa spesies,
mengandung 14 atau zat hormonal aktif.
Dipandang dari sudut embriologi, kedua bagian hipofisis (anterior dan
posterior) berasal dari sudut yang berbeda, hipofisis anterior berasal dari
kantong Rathke, dan hipofisis posterior berasal dari penonjolan hipotalamus.
Kedua bagian tersebut mensekresikan hormon yang bebeda.
1. Anatomi Kelenjar Hipofisis Anterior

Kelenjar pituitary (hipofisis) berukuran kurang lebih 1 cm dengan berat


500 mg. Terletak di sella tursica dari tulang sphenoid. Sella tursica dekat
dengan chiasma opticum. Kelenjar hipofisis merupakan sekerat daging kecil
berwarna merah jambu, dengan ukuran sebesar buncis, dan dihubungkan ke
hipotalamus dalam otak oleh sebuah batang. Berkat hubungan inilah,
hipofisis menerima perintah hipotalamus untuk menghasilkan hormone yang
diperlukan.
Kelenjar hipofisis sebenarnya terdiri dari dua kelenjar, pituitary anterior
yang berukuran lebih besar terletak di anterior disebut juga adenohipofise,
dan pituitary posterior atau neurohipofise.
Dipandang dari sudut embriologi, kedua bagian hipofisis berasal dari
dua sumber yang berbeda, hipofisis anterior berasal dari berasal dari
kantong Rathke, yang merupakan invaginasi pada epitel faring sewaktu
pembentukan embrio, dan hipofisis posterior berasal dari penonjolan
hipotalamus. Asal mula hipofisis anterior dari epitel faring ini dapat
menjelaskan sifat epiteloid sel-selnya, sedangkan asal mula hipofisis
posterior dari jaringan neural dapat menjelaskan adanya banayak sekali selsel tipe glia yang terdapat dalam kelenjar ini.
Pituitary anterior biasa juga disebut sebagai Master of gland karena
pengaruhnya pada kelenjar lain dan pada seluruh tubuh. Pengaruh ini
dilaksanakan oleh 7 hormon yang diproduksi oleh sel yang berbeda- beda
yang terdapat di lobus anterior hipofisis yaitu GH, ACTH, TSH, PRL, FSH, LH
dan ICSH.

2. Fungsi Kelenjar Hipofisis Anterior

Ketujuh hormon yang diproduksi oleh hipofisis anterior adalah sebagai


berikut :

Growth Hormone (Somatotropik /GH), merupakan hormon yang


berfungsi merangsang proses pertumbuhan tubuh. Hormon ini bekerja
mulai dari embrio sampai dewasa menjelang usia akil balik atau masa

pertumbuhan.
Adrenocorticotropic Hormone (ACTH), berfungsi mengatur sekresi
beberapa hormon adrenokortikal, yang selanjutnya akan

mempengaruhi metabolisme glukosa, protein, dan lemak.


Thyroid Stimulating Hormone (Thyrotropin, TSH), berfungsi mengatur
kecepatan sekresi tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar tiroid, dan
hormon ini selanjutnya akan mengatur kecepatan sebagian besar
reaksi kimia di seluruh tubuh.

Prolactin (PRL), berfungsi meningkatkan pertumbuhan kelenjar

payudara dan produksi air susu.


Hormone gonadotropin (Follicle Stimulating Hormone/FSH, Luiteinizing
Hormone/LH pada wanita, dan Interstitial Cell Stimulating
Hormone/ICSH pada pria), berfungsi mengatur pertumbuhan gonad
sesuia dengan aktivitas reroduksinya.

3. Mekanisme Kelenjar Hipofisis Anterior


Hampir semua sekresi kelenjar hipofisis diatur baik oleh hormon atau
sinyal saraf yang berasal dari hipotalamus. Sebenarnya, bila kelenjar
hipofisis ini diambil dari kedudukannya di bawah hipotalamus dan
ditransplantasikan pada beberapa bagian tubuh lain, maka kecepatan
sekresi berbagai hormon yang berbeda (kecuali prolaktin) menurun sampai
kadar rendah, pada beberapa hormon malah sampai nol.
Sekresi kelenjar hipofisis anterior diatur oleh hormon-hormon yang
disebut releasing hormone and inhibitory hormone atau hormon (atau faktor)
pelepas hipotalamus dan hormon (faktor) penghambat yang disekresikan ke
dalam hipotalamus sendiri dan selanjutnya dijalarkan ke hipofisis anterior
melalui pembuluh-pembuluh darah kecil yang disebut pembuluh darah porta
hipotalamus-hipofisis. Di dalam kelenjar hipofisis anterior, hormon pelepas
dan hormon penghambat ini bekerja terhadap sel kelenjar dan mengatur
sekresi kelenjar tersebut.
Hipotalamus selanjutnya menerima sinyal-sinyal dari hampir semua
sumber yang mungkin dalam saraf, sehingga hipotalamus dianggap sebagai
pusat pengumpul informasi mengenai kesehatan dalam tubuh, dan
sebaliknya sebagian besar dari informasi ini digunakan untuk mengatur
sekresi sebagian besar hormon hipofisis yang sangat penting.
4. Efek Kelenjar Hipofisis Anterior Terhadap Tubuh

Berikut ini adalah beberapa efek hormon yang dihasilkan oleh kelenjar
hipofisis anterior :
a) Growth Hormone (Somatotropik /GH)
Hormon ini menyebabkan pertumbuhan seluruh jaringan tubuh yang
memang mampu untuk bertumbuh. Hormon ini menambah ukuran sel
dan meningkatkan proses mitosis yang diikuti dengan bertambahnya
jumlah sel dan diferensiasi khusus dari beberapa tipe sel seperti sel-sel
pertumbuhaan tulang dan sel-sel otot awal.
Efek metabolik hormon pertumbuhan adalah meningkatkan protein
tubuh, menggunakan lemak dari tempat penyimpanannya, dan
menghemat karbohidrat.
b) Adrenocorticotropic Hormone (ACTH)
Efek kortisol terhadap metabolisme karbohidrat yaitu merangsang
glukoneogenesis (pembentukan karbohidrat dari protein), penurunan
pemakaian glukosa oleh sel, serta peningkatan glukosa darah dan diabetes
adrenal.
Efek kortisol terhadap metabolisme protein yaitu mengurangi
penyimpanan protein sel, dan menkan pengangkutan asam amino ke dalam
sel-sel otot. Efek kortisol terhadap metabolism lemak yaitu memobilisasi
asam lemak, dan kegemukan yang khas pada penderita yang kelebihan
sekresi kortisol.
c) Thyroid Stimulating Hormone (Thyrotropin, TSH)
Efek hormon tiroid terhadap pertumbuhan adalah meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan otak selama kehidupan janin dan beberapa
tahun pertama pascalahir.
Efek hormon tiroid pada mekanisme tubuh yang spesifik, misalnya
meningkatkan glikolisis, glukogenesis, kecepatan absorpsi dari saluran cerna,

serta sekresi insulin dengan hasil akhirnya adalah efek terhadap


metabolisme karbohidrat, mempercepat proses oksidasi asam lemak bebas
oleh sel, menurunkan jumlah kolesterol, fosfolopid, dan trigliserida dalam
darah, meningkatkan kebutuhan akan vitamin, meningkatkan dan
menurunkan laju metabolisme basal.
d) Prolactin (PRL)
Efek hormon prolaktin yaitu meningkatkan sekresi dari air susu.
e) Hormone gonadotropin (Follicle Stimulating Hormone/FSH, Luteinizing
Hormone/LH pada wanita, dan Interstitial Cell Stimulating
Hormone/ICSH pada pria))
Efek estrogen pada tuba fallopii yaitu estrogen menyebabkan jaringan
kelenjar berproliferasi, dan menyebabkan jumlah sel-sel epitel bersilia yang
membatasi tuba fallopii bertambah banyak, estrogen menyebabkan
meningkatnya aktivitas osteoblastik.
Tesrosteron yang disekresi testis salah satunya menyebabkan
hipertropfi mukosa laring dan pembesaran laring, sehingga terjadi
perubahan suara.

5. Anatomi dan Fisiologi Hipotalamus dan Kelenjar Hipofisis Posterior


Kelenjar hipofisis posterior terutama terdiri atas sel-sel glia yang disebut
pituisit. Namun, pituisit ini tidak mensekresi hormon, sel ini hanya bekerja
sebagai struktur penunjang bagi banyak sekali ujung-ujung serat saraf dan
bagian terminal akhir serat dari jaras saraf yang berasal dari nukleus
supraoptik dan nukleus paraventrikel hipotalamus.
Jaras saraf ini berjalan menuju ke neuro hipofisis melalui tangkai hipofisis,
bagian akhir saraf ini merupakan knop bulat yang mengandung banyak
granula-granula sekretonik, yang terletak pada permukaan kapiler tempat
granula-granula tersebut mensekresikan hormon hipofisis posterior berikut:

Hormon antidiuretik (ADH) yang juga disebut sebagai vasopresin yaitu


senyawa oktapeptida yang merupakan produk utama hipofise posterior.
Memainkan peranan fisiologik yang penting dalam pengaturan
metabolisme air. Hormon antidiuretik (ADH) dalam jumlah sedikit sekali,
sekecil 2 nanogram, bila disuntukkan ke orang dapat menyebabkan anti
diuresis yaitu penurunan ekskresi air oleh ginjal. Stimulus yang lazim
menimbulkan ekskresi ADH adalah peningkatan osmolaritas plasma. Dalam
keadaan normal osmolaritas plasma dipertahankan secara ketat sebesar 280
mOsm/kg plasma. Kalau terjadi kehilangan air ekstraselular, osmolaritas
plasma akan meningkat shingga mengaktifkan osmoreseptor, kemudian
sinyal untuk pelepasan ADH, peningkatan osmolaritas plasma juga
merangsang pusat rasa haus yang secara anatomis berdekatan /
berhubungan dengan nukleus supraoptikus.
Kerja ADH untuk mempertahankan jumlah air tubuh terutama terjadi pada
sel sel ductus colligens ginjal. ADH mengerahkan kemampuannya yang
baik untuk mengubah permeabilitas membran sel epitel sehingga
meningkatkan keluarnya air dari tubulus ke dalam cairan hipertonik diruang
pertibuler / interstisial. Aktifitas ADH dan rasa haus yang saling terintigritas
itu sangat efektif untuk mempertahankan osmolaritas cairan tubuh dalam
batas batas yang sangat sempit.
6. Hormon yang Dihasilkan

Hormon Hipofisi Posterior

Vasopresin dan OksitosinHormon peptida vasopresin dan oksitosin


disintesis di nucleussupraopticus dan paraventricularishypothalami. Akson
dari neuron di nukleus-nukleus ini membentuk hipofisis posterior, tempat
hormon-hormon peptida ini disimpan. Karena itu, untuk memicu pelepasan
vasopresin atau oksitosin, setterpisah releasing factor hipotalamus tidak
diperlukan.