You are on page 1of 16

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR KIMIA MEDISINAL

SEMESTER GANJIL 2015 2016

SINTESIS ASAM ASETIL SALISILAT , IDENTIFIKASI DAN


KARAKTERISASI ASETOSAL

Hari / Jam Praktikum

: Selasa / Pukul 13.00 16.00 WIB

Tanggal Praktikum

: 6 & 13 Oktober 2015

Kelompok

: VI

Asisten

: 1. Sheila Pratiwi
2. Theresia Ratnadewi
Anasya Ridha Nurhanifah
260110150024

LABORATORIUM KIMIA MEDISINAL


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015

SINTESIS ASAM ASETIL SALISILAT , IDENTIFIKASI DAN


KARAKTERISASI ASETOSAL
I.

II.

TUJUAN
I.1 Mengenal proses reaksi esterifikasi dengan hasil padat
I.2 Memahami cara pelaksanaan rekristalisasi dengan

pelarut

campuran
I.3 Menganalisis asetosal dengan menggunakan KLT dan titik leleh
PRINSIP
II.1Esterifikasi
Esterifikasi merupakan reaksi antara asam-lemak bebas
dengan alkohol yang membentuk ester dan air.(Nurhayanti, 2009).
II.2Rekristalisasi
Rekristalisasi merupakan salah satu metode yang sangat
efektif untuk memurnikan suatu zat padat dengan cara mengulang
pembentukan kristalnya. (Oxtoby, 2001).
II.3Reaksi Asetilasi
Reaksi asetilasi adalah reaksi yang bersifat endotermis, dan
yang berfungsi sebagai pengontrol suhu sehingga tidak melampaui
suhu maksimum.(Carolina, 2010).
II.4Kepolaran
Kepolaran adalah pemisahan muatan listrik yang mengarah
ke molekul atau gugus yang memiliki momen dipol. (Winarto,
2014).
II.5Titik leleh
Titik leleh merupakan titik suhu dimana fase akan berubah
dari padatan menjadi cairan dan akan menjadi cairan sempurna.
(Winarto, 2013).
II.6Hukum beer
Hukum beer
spektrofotometri.
1
A = -log T

merupakan

prinsip

penentuan

dalam

(Sherman,

2007).
II.7Kromofor
Bagian yang mengabsorpsi dalam sinar ultra violet. (Roth dan
Blaschke, 1985).
II.8Intensitas cahaya

Intesitas cahaya merupakan fluks cahaya persatuan sudut


ruang yang terpancarkan kedalam suatu arah tertentu dan diukur
dengan Candella Cd.

I = lumen per streadian

(Kurnia,

2010).
II.9Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu
metode pemisahan komponen yang menggunakan fasa diam dan
III.

fasa gerak. (Tim Ilmu Kimia, 2013).


REAKSI

IV.

TEORI DASAR

(Kusuma, 2003).

Asam asetil salisilat atau biasa disebut dengan asetosal, aspirin,


cafenol maupun naspro merupakan obat anti nyeri tertua yang paling
sering digunakan pada saat ini diseluruh dunia. Zat ini berfungsi
sebagai anti-demam, penghambat agregasi trombosit dan juga
berkhasiat sebagai anti radang. Namun asetosal memiliki afek
samping pula, seperti reaksi alergi kulit dan telinga berdengung pada
dosis yang tinggi. (Tjay, 2007).
Aspirin dibuat dengan mereaksikan asam salisilat dengan anhidrida
asam asetat menggunakan katalis H2SO4 pekat sebagai zat
penghidrasi.

Asam

salisilat

adalah

asam

bifungsional

yang

mengandung dua gugus OH dan COOH. Karenanya asam salisilat

ini dapat mengalami dua jenis reaksi yang berbeda. Dengan anhidrida
asam asetat akan menghasilkan aspirin, sedangkan dengan metanol
akan menghasilkan metil salisilat (Damanhuri, 2010).
Gugus fungsi merupakan sekelompok atau serangkaian kelompok
atom yang menyebabkan perilaku suatu kimia molekul induk.
Molekul yang berbeda yang mengandung gugus atau gugus-gugus
fungsi yang sama akan mengalami reaksi yang serupa. Sehingga
dengan kita mempelajari gugus fungsi, kita dapat mempelajari dan
memahami sifat-sifat dari banyak senyawa organik. Senyawa organik
biasanya mengandung lebih dari satu gugus fungsi. Pada umumnya
kereaktifan suatu senyawa ditentukan oleh jumlah dan jenis gugus
fungsi pada molekulnya.(Chang, 2005).
Rekristalisasi merupakan salah satu metode yang paling ampuh
untuk melakukan pemurnian zat, karena didasarkan atas perbedaan
antara kelarutan zat yang diinginkan dari kotorannya. Didalam
rekristalisasi, sebuah larutan akan mulai mengendapkan sebuah
senyawa bila larutan tersebut telah mencapai titik jenuh terhadap
senyawa tersebut. Didalam pelarutan, pelarut menyerang zat padat dan
mensolvasinya pada tingkat partikel individual, pelarut yang memiliki
ikatan longgar dikenal sebagai pelarut kristalisasi. Dengan cara
melarutkan dan kemudian mengendapkan suatu senyawa dan dapat
juga menghasilkan bahan dengan rumus kimia berbeda dan massa
berbeda. Akibatnya proses rekristalisasi untuk pemurnian produk hasil
reaksi harus direncanakan dengan hati-hati. (Oxtoby, 2001).
Esterifikasi merupakan reaksi asam lemak bebas dengan alkohol
yang membentuk ester dan air. Pada umumnya esterifikasi dilakukan
jika minyak diumpamakan mengandung asam lemak bebas yang
tinggi. Melalui esterifikasi, kandungan asam lemak bebas dapat
dikonversi

menghasilkan

ester. Reaksi

ini

dilakukan

dengan

menggunakan katalis padat yang heterogen atau katalis cair homogen.


Dalam pengerjaanya, reaksi esterifikasi dipengaruhi oleh empat faktor,
yaitu waktu reaksi, frekuensi pengadukan, katalisator, dan yang
terakhir adalah faktor temperatur suhunya. (Nurhayanti, 2009).
Reaksi asetilasi bersifat endotermis. Pada pemanasan dalam
suasana alkalis, asam amino akan bereaksi dengan asetil klorida yang
membentuk N-Asetil asam amino dan asam klorida. Didalam proses
asetilasi asam amino dapat pula dilakukan dengan penambahan anhidra
asam asetat. (Sumardjo, 2006).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu metode
pemisahan komponen yang menggunakan fasa diam dan fasa gerak.
Yang mana fasa diam nya merupakan plat dengan lapisan bahan
adsorben inert. Kromatografi Lapis Tipis merupakan salah satu jenis
kromatografi analitik. Biasanya kromatografi lapis tipis sering
digunakan untuk pengidentifikasian awal. Karena banyak keuntungan
dalam menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis , diantaranya
adalah hanya memerlukan bahan yang sederhana dan murah.
Kromatografi Lapis Tipis termasuk dalam kromatografi planar, selain
kromatografi kertas. Kromatografi Lapis Tipis menggunakan plat tipis
yang dilapisi dengan adsorben seperti silika gel. (Tim Ilmu Kimia,
2013).
Uji kemurnian suatu senyawa, merupakan uji yang mengukur
banyaknya zat pengotor yang terdapat dalam suatu materi atau bahan.
Zat pengotor biasanya didapatkan dari proses pembuatannya atau
mungkin terbawa dari lingkungannya dimana merupakan tempat atau
bahan tersebut berasal. Ukuran kemurnian adalah hal yang relatif
dimana nilainya sangat bergantung pada cara-cara/metode yang
digunakan untuk mendeteksi adanya zat pengotor tersebut. Sehingga
tidak ada suatu materi/bahan yang murni secara mutlak, namun yang
ada adalah nilainya yang negatif terhadap hasil uji tertentu yang
artinya, suatu materi atau bahan setelah dilakukan pengujian dengan
cara tertentu ternyata tidak memberikan hasil. (Krisnadwi, 2013).

Dalam pemurnian atau penentuan analisis kuantitatif digunakan


hukum beer. Dengan hukum beer kita dapat menghitung absortivitas
molar. Pada panjang gelombang tertentu, dimana salah satu
komponennya mengabsorpsi dengan kuat, sedangkan komponen lain
lemah atau mungkin tidak mengabsorpsi. Absorpsi suatu zat yang tidak
diketahui jumlahnya ditentukan pada panjang gelombang ini secara
simultan. Serta hukum beer tidak dapat digunakan pada nilai OH - yang
tinggi. (Khopkar, 1990).
Reaksi asetilasi adalah reaksi memasukkan gugus asetil (CH 3CO-)
ke dalam molekul organik seperti (-OH dan -NH 2). Reagen yang
umum dipakai adalah anhidrat asetat atau etanoil klorida (CH 3COCl).
Reaksi asetilasi ini merupakan reaksi yang setimbang. Dengan
mengambil satu arah reaksi yang menuju pada sisi ester, dapat
diperoleh hasil yang besar dan konversi yang tinggi. salah satu cara
untuk mencapai konversi yang tinggi adalah dengan penghilangan air
yang terbentuk. Reaksi asetilasi sama dengan reaksi esterifikasi, yaitu
reaksi antara alkohol dan asam yang menghasilkan ester dan air
(Groggin, 1985).
V.

ALAT DAN BAHAN


V.1 Alat
V.1.1 Batang pengaduk
V.1.2 Corong
V.1.3 Gelas Ukur
V.1.4 Kaca arloji
V.1.5 Kertas saring
V.1.6 Labu erlenmeyer
V.1.7 Melting point aparatus
V.1.8 Oven
V.2 Bahan
V.2.1 Aquades
V.2.2 Anhidrida Asam asetat
V.2.3 Asetosal murni
V.2.4 Asam salisilat
V.2.5 H2SO4 pekat
V.3 Gambar Alat

5.1.9 Pemanas (Hot Plate)


5.1.10 Pipa kapiler
5.1.11 Pipet tetes
5.1.12 Plat tetes
5.1.13 Silika gel
5.1.14 Spatula
5.1.15 Termometer
5.1.6 Etanol
5.1.7 Etil asetat
5.1.8 FeCl3
5.1.9 Vaseline

V.3.1

5.3.9

5.3.2

5.3.10

5.3.3

5.3.11

5.3.4

5.3.12

5.3.5

5.3.13

5.3.6

5.3.14

5.3.7

5.3.15

5.3.8

VI.

PROSEDUR
VI.1
Sintesis Asam asetil salisilat
Hal yang pertama dilakukan adalah mempersiapa alat dan bahan
nya. Lalu, 5g asam salisilat, asam asetat anhidra dimasukkan
kedalam labu erlenmeyer lalu ditetesi denga 5 tetes H2SO4 12M.
Selanjutnya kabu erlenmeyer dipanaskan sambil diputa-putar ditas
pemanas pada suhu 50C 80C selama 15 menit. Setelah itu,
ambil beberapa tetes larutan yang dipanaskan kedalam plat tetes
lalu ditetesi denga FeCl3. Apabila larutan tersebut masih berwarna
biru-ungu maka harus diaduk sambil dipanaskan kembali. Larutan
campuran lalu didinginkan dan selanjutnya disaring menggunakan
aquades.

Setelah

disaring,

padatan

tersebut

dipanaskan

menggunakan etanol panas dan dituangkan kedalam air hangat


hingga larutan sermpurna. Dibiarkan sambil didinginkan sampai

terbentuk kristal berbentuk jarum. Setelah terbentuk jarum maka


selanjutnya dikeringkan didalam oven.
VI.2
Identifikasi kemurnian asam asetil salisilat
Hal yang pertama dilakukan adalah mempersiapkan alat dan bahan.
Untuk identifikasi menggunakan titik leleh, hal yang pertama
adalah

asetosal

ditumbuk

lalu

dimasukkan

kedalam pipa

kapiler(sebelumnya pipa kapiler dbakar disalah satu ujungnya


sampai tertutup). Lalu dijatuh-jatuhkan hingga benar-benar padat
dan asetosal tidak dapat keluar secara mudah. Setelahnya baru
dimasukkan kedalam melting point aparatus dan diamati. Dan
untuk identifikasi menggunakan KLT hal yang pertama dilakukan
adalah menjenuhkan larutan etil asetat menggunakan gelas yang
ditutup dengan gelas arloji dan pinggirnya di olesi dengan vaseline
selama kurang lebih 15 menit. Kristal asetosal yang telah dibuat
lalu dilarutkan menggunakan etanol yang telah dihangatkan.
Setelah larut, ambil beberapa asetosal menggunakan pipa kapiler
lalu ditotol-totolkan ke silika gel yang telah diberi garis pinggir
atas dan bawah 1cm. Selanjutnya adalah silika gel dicelupkan
kedalam larutan etil asetat yang telah dijenuhkan lalu sinari
dibawah sinar UV dan amati apa yang terjadi.
VII.

NO.
1

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


VII.1
Data pengamatan
VII.1.1 Sintesis Asam asetil salisilat

Perlakuan
Hasil
Dimasukkan 5g as.salisilat dan Asam salisilat + anhidra asam
anhidra as.asetat kedalam labu asetat + katalis
erlenmeyer dan ditambahkan 5

tetes H2SO4 12 M.
Labu dipanaskan sambil diputar- Terdapat endapan
putar diatas pemanas pada suhu

50C 80C selama 15 menit


Diuji dengan FeCl3

Tidak berwarna biru kehitaman

Campuran

dibiarkan

dingin

5
6

sambil diputar-putar
Ditambahkan air dan disaring
Padatan dilarutkan dalam etanol Terlarut
panas dan dituangkan kedalam air

hangat hingga larut sempurna


Dibiarkan dingin perlahan sampai Terbentuk kristal berbentuk jarum

timbul kristal berbentuk jarum


Hasilnya dikeringkan dioven

VII.1.2 Analisis kemurnian Asetosal


a. Titik leleh
N

Perlakuan

O
1

Pipa kapiler dibakar dengan spirtus Pipa kapiler pada salah satu
sampai

Hasil

menutup

salah

satu ujungnya tertutup

ujungnya
Senyawa asetosal ditotol-totolkan Senyawa asetosal masuk hingga
sehingga

masuk

kedalam

pipa 1cm pada pipa kapiler

kapiler hingga 1cm


Pipa kapiler yang berisi senyawa Pipa

asetosal dijatuh-jatuhkan
asetosal dengan padat
Pipa kapiler dimasukkan kedalam Suhu saat asetosal mulai meleleh
melting point aparatus dan diamati

kapiler

terisi

senyawa

adalah 128C
Suhu

saat

asetosal

meleleh

sempurna adalah 136C


T = 8C

b. KLT
N

Perlakuan

O
1

Etil asetat dibakukan selama 15 Larutan etil asetat menjadi jenuh


menit

Hasil

Kristal asetosal dilarutkan dengan

etanol
Diambil beberapa larutan asetosal

menggunakan pipa kapiler


Asetosal dalam pipa kapiler
ditotolkan ke silika gel yang telah

diberi garis
Silika gel dicelupkan kedalam Larutan etil asetat naik hingga
larutan etil asetat yang telah jenuh. batas atas silika gel (diamati
(dipastikan

larutan

etil

asetat dibawah sinar UV)

berada pada batas bawah silika gel)

Rf asetosal murni = 0,91


Rf asetosal sintesis = 0,54

VII.2

Perhitungan
VII.2.1 Sintesis Asam asetil salisilat

Massa Asam salisilat = 2,5094 g


m Asam salisilat =

massa
mr

2,5094
138,12

= 0,0182 mol

m asam asetil salisilat = m asam salisilat = 0,0812 mol


Massa asetosal = m asetosal . Mr asetosal
= 0,0182 . 180,169
= 3,27 g
Massa asetosal yang berhasil dibuat = 3,1 gram
3,1
x 100 =0,94 x 100 =94
% Rendemen = 3,27
Penentuan Rf

jarak yang ditempuh analit


jarak yang ditempuh fase gerak

Penentuan Rf Asetosal murni

5,5
6

= 0,91

Penentuan Rf Asetosal

3
5,5

= 0,54

VIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami melakukan sintesis asam asetil
salisilat melalui esterifikasi dan rekristalisasi dan setelahnya melakukan
identifikasi

karakteristik

menggunakan

indikator

titik

leleh

dan

kromatografi lapis tipis.


Pada praktikum ini kami menggunakan alat-alat yang pada
praktikum sebelumnya belum pernah digunakan. Yaitu, melting point
aparatus dan oven. Dan bahan-bahan seperti Aquades, H2SO4 pekat,
Anhidrida Asam asetat, Etanol, Asetosal murni, FeCl3, dan Asam salisilat
Reaksi esterifikasi adalah reaksi antara asam karboksilat dengan
alkohol yang akan menjadi ester. Pada praktikum kali ini yang berperan
sebagai asam karboksilat adalah asam salisilat dan yang menjadi
alkoholnya adalah anhidrida asam asetat.
Sesuai dengan prosedurnya saat asam salisilat direaksikan dengan
anhidrida asam asetat ditambahkan 3 tetes asam sulfat pekat yang
fungsinya sebagai katalis yang akan menurunkan energi aktivasi sehingga
energi yang dibutuhkan semakin sedikit sehingga semakin cepat reaksi
dapat berlangsung secara sempurna. Setelah nya diputar-putar dan
dipanaskan dalam suhu 50C 80C selama 15 menit. Fungsi dari diputarputar adalah agar dapat bercampur secara sempurna dan suhu harus
berkisar diantara suhu tersebut karena, dikhawatirkan akan terjadi
pengendapan sebelum campuran tersebut larut secara sempurna, ini juga
disebabkan karena asetosal hanya dapat larut dalam suhu yang hangat dan
hampir panas. Untuk mengetahui larutan tersebut telah bercampur secara
sempurna atau tidak adalah dengan mengujinya dengan indikator FeCl 3 .
Indikator FeCl3 digunakan untuk memastikan masih ada atau tidaknya

asam salisilat. Apabila masih terdapat asam salisilat maka asam salisilat
akan bereaksi dengan Fe membentuk senyawa kompleks yang akan
berubah warna menjadi biru-kehitaman. Dan sebaliknya apabila asam
salisilat sudah tidak ada, maka tidak akan ada perubahan warna yang
terjadi. Setelah itu ditambahkan air sebanyak 75 ml, pada penambahan air
ini disarankan untuk tidak lebih dari 75ml karena dikhawatirkan karena
asetosal merupakan asam lemah maka akan ada bagian yang larut dalam
air dan tidak larut dalam air. Apabila air yang ditambahkan terlalu banyak
maka asetosal yang larut dalam air akan lebih banyak dibandingkan yang
tidak larut sehingga produk yang dihasilkan menjadi lebih sedikit.
Setelahnya larutkan menggunakan etanol panas dikarenakan salah satu
pelarut asetosal merupakan etanol, dan asetosal dapat larut apabila suhu
nya hangat. Setelah larut ditambahkan aquades dan disaring menggunakan
kertas saring yang dipasang pada corong biasa. Seharusnya dalam
melakukan proses penyaringan menggunakan corong buchner dan
erlenmeyer buchner namun karena keterbatasan alat dan vakum yang
diperlukan maka proses penyaringan hanya menggunakan kertas saring
dan corong biasa. Tujuannya menggunakan corong buchner adalah agar
saat penyaringan dapat menggunakan vakum(alat penghisap) supaya zat
pengotor lebih banyak tersaring, sedangkan apabila hanya menggunakan
corong biasa zat pengotor sedikit yang tersaring. Setelah terbentuk
asetosal, maka selanjutnya tinggal dikeringkan menggunakan oven agar
kandungan airnya menghilang. Saat dioven juga harus selalu diawasi agar
tidak gosong (warna tidak berubah sampai warna kecoklatan), karena
dikhawatirkan asetosal makin tidak murni dan asetosal akan rusak.
Saat identifikasi karakteristik asetosal, menggunakan identifikasi
titik leleh dan Kromatografi Lapis Tipis. Titik leleh dapat dijadikan
indikator kemurnian asetosal karena asestosal murni mempunyai rentang
titik leleh 141C - 144C dari awal asetosal meleleh sampai asetosal
meleleh sempurna. Saat identifikasi titik leleh asetosal yang kami sintesis

rentang titik leleh nya adalah pada suhu 128C -136C dengan T nya
adalah 8C . Ini membuktikan bahwa asam asetil salisilat yang kita sintesis
tidak murni. Ini dapat disebabkan karena beberapa faktor diantaranya, alat
gelas yang digunakan tidak steril(tidak bersih) karena tidak sampai kering
saat digunakan karena bagian yang basah sulit terjangkau dengan lap/tisu,
bahan-bahan yang dihitung tidak sesuai ini mungkin disebabkan karena
neraca yang digunakan sudah tidak sensitif.
Sesuai prosedur, asam asetil salisilat harus ditumbuk terlebih
dahulu agar mudah masuk ke pipa kapiler. Pipa kapiler salah satu
ujungnya harus dibakar agar meleleh dan menutup ujungnya karena
apabila ujungnya tidak tertutup asetosal yang nantinya akan dimasukkan
kedalam pipa kapiler akan sulit untuk dimampatkan. Setelah betul-betul
mampat barulah diamati di melting point aparatus.
Identifikasi asetosal pula, dapat menggunakan Kromatografi Lapis
Tipis. Kromatografi Lapis Tipis adalah metode pemisahan berdasarkan
polaritas. Polaritas adalah suatu yang berhubungan dengan momen dipol.
Sesuai dengan prosedur, Kromatografi Lapis Tipis menggunakan silika
gel. Silika gel yang ideal seharusnya menggunakan ukuran 3x20cm namun
karena keterbatasan bahan maka silika gel yang digunakan hanya
setengahnya dari ukuran ideal. Silika gel sebelum digunakan harus digarisi
dengan pensil 1cm dari ujung atas sebagai fase akhir dan 1cm dari ujung
bawah sebagai fase awal. Saat menggaris harus menggunakan pensil dan
tidak boleh pulpen. Tidak boleh pulpen karena isi pulpen adalah zat
organik yang nantinya akan mempengaruhi hasil akhir dan yang berpindah
nanti adalah titik pulpennya. Untuk menotolkan asetosal harus
menggunakan pipa kapiler agar tidak melebar kemana-mana jika
menggunakan pipet tetes atau semacamnya. Chamber bentuknya hampir
sama dengan gelas. Etil asetat dimasukkan kedalam chamber ditutup
dengan kaca arloji dan ujung-ujungnya dilapisi dengan vaseline. Chamber
dijenuhkan supaya tekanan yang berada dalam chamber sama atau

setimbang. Karena tidak ada paramater yang pasti, maka chamber


dijenuhkan selama 15 menit dan dipastikan bahwa chamber sudah jenuh.
Setelah chamber jenuh asetosal diambil menggunakan pipa kapiler dan
ditotolkan ke silika gel. Selanjutnya silika gel ditaruh diatas chamber yang
telah dijenuhkan diamati sampai air yang terserap sampai ke batas atas.
Lalu disinari dengan sinar UV 254nm. Setelah disinari dengan sinar UV
asetosal tertatarik dan membentuk titik baru. Besarnya noda dalam silika
gel menunjukkan banyaknya kadar yang ada. Dengan menghitung KLT
ada dua parameter, yaitu Rf(Reteution Factor) dan Rs. Menggunakan Rf
yang merupakan perhitungan perbandingan antara jarak yang ditempuh
oleh analit/jarak yang ditempuh oleh fase gerak. Dan Rs/Resolusi
menunjukkan 2 spot yang dihitung dengan cm. Dan dapat dikategorikan
Rs>1,5 baik, Rs=1 sedang dan Rs<1 buruk.
IX.

SIMPULAN
IX.1
Reaksi esterifikasi asam asetil salisilat dilakukan dengan
langkah-langkah yang sistematis dimana digunakan asam salisilat
dan asam asetat sebagai reaktan dan H2SO4 sebagai katalis
IX.2
Rekristalisasi asam asetil salisilat dilakukan dengan
pelarutan

padatan

aspirin

dan

mendinginkannya

hingga

membentuk kristal aspiri berbentuk jarum


IX.3
Dapat menganalisis asetosal dengan menggunakan metode
KLT dan titik leleh. Nilai Rf yang didapat pada metode KLT yaitu
0,54, sedangkan titik leleh yaitu 128C-136C.
DAFTAR PUSTAKA
Carolina,Anindita.2010.Prarancangan Pabrik Selulosa Asetat dari Selulosa
dan Asetat Anhidrad dengan Proses Asetilasi Kapasitas 31.500 Ton
per

tahun.

Tersedia

online

di

eprints.ums.ac.id/9078/1/D500010147.pdf [Diakses pada tanggal 4


Oktober 2015]
Chang,Raymond.2005.Kimia Dasar Edisi ketiga Jilid 1. Jakarta:Erlangga
Damanhuri, Enri.2010. Diktat Kuliah TL-3104. Bandung. Program Studi
Teknik Lingkungan FTSL ITB

Groggin, P.H. 1985. Unit Processes in Organic Synthesis. New York: Mac,
Grow Hill Book Company Inc.
Khopkar,SM.1990.Konsep Dasar Kimia Analitik.Jakarta: UI Press
Krisnadwi.2013.Kemurnian
Suatu
Senyawa.Tersedia
Online
bisakimia.com/2013/06/08/kemurnian-suatu-senyawa/

di

[Diakses

pada tanggal 13 Oktober 2015]


Kurnia, Chris Timotius.2010. Instalasi Cahaya. Tersedia Online di
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR_PEND._TEKNIK_ELEKT
RO/195106301982031.CHRIS_TIMOTIUS_KURNIA_K/instalasi
_cahaya_c.pdf [Diakses pada tanggal 13 Oktober 2015]
Kusuma. 2003. Sintesis Organik. Semarang: Jurusan Kimia FMIPA
UNNES.
Nurhayanti,Erna. 2009. Kajian Awal Sintesis Biodisel dari Minyak Dedak
dan Metanol Melalui Ekstraksi dan Proses Esterifikasi. Semarang :
Jurusan Teknik Kimia UNDIP.
Oxtoby, David W. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern edisi keempat jilid
1. Jakarta: Erlangga.
Roth,Hermann J.,dan Gottfried Balsschke . 1985 . Analisis Farmasi.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Sherman.2007.Infrared
Spectroscopy.
Tersedia

Online

di

fp.okstate.edu/nanotech/Assignments/Reading/Char_intro/reading
%201.2%ir-hsu.pdf [Diakses pada tanggal 12 Oktober 2015]
Sumardjo, Darmin. 2006. Pengantar Kimia. Jakarta:EGC
Tim Ilmu Kimia.2013.Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Tersedia Online di
www.ilmukimia.org/2013/05/kromatografi-lapis-tipis-klt.html
[Diakses pada tanggal 4 Oktober 2015]
Tjay,Tan Hoan. 2007. Obat-Obat Penting Kasiat,Penggunaan dan Efek-efek
sampingnya edisi keenam. Jakarta:PT.Elex Media Komputindo
Winarto, Dwi. 2013. Cara Menentukan Titik Leleh. Tersedia online di:
http://www.ilmukimia.org/2013/04/cara-menentukan-titikleleh.html [Diakses tanggal 17 Oktober 2015 pukul 17.15].
Winarto,
Dwi.2014.
Polar
Non-Polar.
Tersedia
Online
http://www.ilmukimia.org/2014/06/polar-dan-nonpolar.html
[Diakses pada tanggal 16 Oktober 2015]
LAMPIRAN
1. Hasil Sintesis Asetosal

di

2. Hasil Metode KLT