You are on page 1of 3

2.

1 Diagnosa
Pada diagnosis untuk menentukan apakah pasien memiliki diabetes tipe 1 atau
diabetes tipe 2, sangat penting, karena pasien dengan diabetes tipe 1 sangat tergantung pada
pemberian insulin eksogenuntuk bertahan hidup, sedangkan pasien dengan diabetes tipe 2
tidak selalu membutuhkan insulin eksogen untuk bertahan.
2.1.1

Diagnosis DM tipe 1

a. Glukosa darah
Kriteria diagnosis menurut American Diabetes Association (ADA) meliputi:
- Kadar glukosa darah puasa (GDP) 126 mg/dL (7,0 mmol/L), atau
- Kadar glukosa darah 2 jam setelah puasa 200 mg/dL (11,1 mmol/L) dengan tes
-

toleransi glukosa oral (OGTT) 75 g, atau


Kadar glukosa plasma random 200 mg/dL (11,1 mmol/L) pada pasien dengan

gejala hiperglikemik klasik atau krisis hiperglikemia.


b. Hemoglobin glikat
Pengukuran HbA1c adalah metode terbaik untuk jangka menengah untuk
pemantauan pengendalian diabetes jangka panjang. Komite ahli internasional
American Diabetes Association, The European Association for the Study of
Diabetes, merekomendasikan pengujian HbA1c untuk mendiagnosis diabetes
mellitus.
(Diabetes Care, 2000)
2.1.2

Diagnosis DM tipe 2
Diagnosis untuk diabetes tipe 2 harus dipertimbangkan ketika pasien kelebihan

berat badan dan memiliki setiap 2 kriterial berikut:


-

Memiliki riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2.


Tanda-tanda resistensi insulin atau kondisi yang berhubungan dengan resistensi
insulin (misalnya, akantosis nigrikans, hipertensi, dislipidemia, PCOS/polycystic

ovary syndrome).
Termasuk kaum etnis/ras minoritas (misalnya, American Indian, ras kulit hitam,
Hispanik, Asia atau Kepulauan Pasifik).

Rekomendasi skrining/pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:


a. Skrining awal dapat dimulai pada usia 10 tahun atau di awal pubertas jika pubertas
terjadi pada usia muda,
b. Skrining dilakukan setiap 2 tahun sekali,
c. Tes glukosa plasma puasa

Pada anak-anak, yang tidak memenuhi kriteria yang dijelaskan di atas tetapi diduga
mengalami diabetes (highly suspected), perlu diterapkan penilaian klinis. Jika gejala
klinis diabetesnya tinggi tetapi kadar glukosa plasma puasanya normal (< 100 mg/dL),
maka perlu dipertimbangkan tes toleransi glukosa oral sebagai metode skrining yang
lebih sensitif. Karena onset diabetes tipe 2 sering terjadi beberapa tahun sebelum
diangnosis.
Interpretasi nilai glukosa plasma puasa pada diagnosis diabetes tipe 2:
-

Konsentrasi glukosa plasma 200 mg/dL dengan munculnya gejala seperti, poliuria,

polidipsia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.


Pada pasien yang tidak memiliki gejala (asimtomatik), nilai glukosa plasma puasa
126 mg/dL atau nilai glukosa plasma 2 jam setelah puasa (postprandial) 200 mg /
dL selama tes toleransi glukosa oral.
Hasil laboratorium lain yang biasanya merekomendasikan tes lainnya untuk diabetes

tipe 2, yaitu sebagai berikut:


-

Peningkatan kadar C-peptide puasa


Peningkatan kadar insulin puasa
Tidak terdapatnya penanda autoimun (asam glutamat dekarboksilase (GAD) dan sel
islet antibodi).
Pengujian albuminuria juga dapat dilakukan dengan salah satu cara dari 3 metode

berikut:
a. Pengukuran rasio albumin-kreatinin secara random
b. Pengukuran albumin-kreatinin secara simultan (pengukuran albumin-kreatinin yang
dikolektif selama 24 jam)
c. Pengukuran albumin kreatinin setiap 4 jam
Pegukuran kadar lipid puasa juga sebaiknya dilakukan. Setelah kadar glukosa stabil
dapat dicapai dan jika dua tahun setelahnya tetap normal. Nilai normal profil lipid puasa
untuk anak-anak dengan diabetes tipe 2 adalah sebagai berikut:
-

Trigliserid < 150 mg/dL


LDL < 100 mg/dL
HDL > 35 mg/dL
-

(Diabetes Care, 2004)

Hasil Terapi yang Diinginkan


The American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan beberapa
parameter yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan penatalaksanaan diabetes
yang merupakan Hasil yang diinginkan setelah melakukan terapi.
-

Tabel I.1. Target Penatalaksanaan Diabetes

Parameter
Kadar Glukosa Darah Puasa

Kadar Ideal Yang Diharapkan


80120mg/dl

Kadar Glukosa Plasma Puasa

90130mg/dl

Kadar Glukosa Darah Saat Tidur

100140mg/dl

(Bedtime blood glucose)


Kadar Glukosa Plasma Saat Tidur

110150mg/dl

(Bedtime plasma glucose)


Kadar Insulin

<7 %

Kadar HbA1c

<7mg/dl

Kadar Kolesterol HDL

>45mg/dl (pria)

Kadar Kolesterol HDL

>55mg/dl(wanita)

Kadar Trigliserida

<200mg/dl

Tekanan Darah

<130/80mmHg
(Diabetes Care, 2003)

Hasil terapi yang diharapkan meliputi :

1. Dapat mengurangi symptom hiperglisemia


2.
3.
4.
5.

Mengurangi onset dan perkembangan komplikasi mikrvaskular dan makrovaskular


Mengurangi mortalitas
Meningkatkan kualitas hidup
Level glukosa plasma dan darah lengkap serta hemoglobin terglikosilasi (HbA1c yang
diinginkan < 8%) (Dipiro, 2003).