You are on page 1of 22

Makalah

NILAI FILOSOFIS DARI MANUSIA


SEBAGAI SUBYEK DAN OBYEK HUKUM

Di susun guna memenuhi salah satu


Syarat mengikuti mata Kuliah:
Filsafat Hukum Islam

OLEH : Muhammad Arsyad

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita
berbagai macam nikmat, rahmat dan hidayah-Nya. Penulis ucapkan
terimakasih kepada Dosen serta teman-teman sekalian yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini, baik bantuan berupa moril
maupun berupa materil, sehingga makalah ini dapat terselesaikan pada
waktu yang telah ditentukan.
Penulis menyadari, dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan serta banyak kekurangan, baik dari segi tata bahasa
maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen beserta teman-teman
sekalian, yang kadang kala hanya menuruti egoisme pribadi, untuk itu
besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun untuk
untuk memperbaiki makalah di masa yang akan datang.
Harapan yang paling besar dari penyusun makalah ini ialah,
mudah-mudahan yang penulis susun ini dapat bermanfaat, baik untuk
pribadi maupun orang lain, yang ingin mengambil hikmah dari makalah
kami yang berjudul Disekitar Hukum Islam.
Demikian penulis mempersembahkan makalah ini dengan penuh
rasa terimakasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini
sehingga dapat memberikan manfaat.
Wawotobi,

09

2016
Penyusun,
Muhammad Arsyad

oktober

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia dalam kehidupan di dunia ini tentunya tidak akan pernah
terlepas oleh sesuatu aturan hukum yang berlaku. Manusia dikataan
sebagai pelaku hukum atau subjek hukum sekaligus sasaran hukum atau
objek hukum. Hukum-hukum yang telah di buat atau disyariatan oleh sang
pembuat Hukum yakni Allah SWT tentunya harus dijalakan dan diterapkan
oleh manusia.
Manusia dalam pelaksanaan suatu tuntutan hukum dalam Islam atau
yang lebih spesifik dalam tataran hukum Islam yang dikenal dengan ushul
fiqh atau fiqh itu sendiri dikenal dengan istilah mahkum fih/Bih (objek
hukum) dan mahkum alaihi (subjek hukum). Tentunya dalam masalah
hukum Islam tak terlepas dari filsafat hukum Islam, olehnya itu akan lebih
baik jika dibahas lebih mendalam mengenai hal-hal tersebut.
Allah mewajibkan kepada hambanya untuk mengabdi dan selalu
taat, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang
Allah. Namun kebanyakan dari kalangan manusia lalai akan hal itu.
Padahal dalam al Quran sudah dijelaskan ancaman bagi yang durhaka
dan pahala bagi yang taat. Namun sepertinya alquran tidak menjadi hal
yang istimewa bagi sebagian mereka (ingkar). Syariat yang Allah wajibkan
kepada hambanya (manusia) adalah segala sesuatu yang telah diajarkan
oleh Rasulullah. Namun belum menjadi wajib apabila hamba tersebut
belum mukallaf. Dalam makalah ini penulis akan memaparkan seputar
mahkum Bih/Fih, mahkum alaih. Karena memang, kewajiban merupakan
kewajiban dan tidak bisa ditawar-tawar. Katakanlah yang hak walaupun itu
terasa pahit ataupun berat. dalam makalah ini menjelaskan begitu sangat

pentingnya memahami apa saja yang telah diwajibkan kepada manusia


yang sudah mukallaf, agar tidak menjadi hamba yang ingkar kepada Allah
SWT.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana nilai filosofis dari manusia sebagai Subyek Hukum ?
2. Bagaimana nilai filosofis dari manusia sebagai Obyek Hukum ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.Manusia Sebagai Subyek Hukum
I. Pengertian Subjek Hukum (Mahkum Alaihi)
Subyek hukum atau subject van een recht; yaitu "orang" yang
mempunyai hak, manusia pribadi atau badan hukum yang berhak,
berkehendak atau melakukan perbuatan hukum. Badan hukum adalah
perkumpulan atau organisasi yang didirikan dan dapat bertindak sebagai
subyek

hukum,

perjanjian

dan

misalnya

dapat

sebagainya.

memiliki

Sedangkan

kekayaan,
perbuatan

mengadakan
yang

dapat

menimbulkan akibat hukum yakni tindakan seseorang berdasarkan suatu


ketentuan hukum yang dapat menimbulkan hubungan hukum, yaitu,
akibat yang timbul dari hubungan hukum seperti perkawinan antara lakilaki dan wanita, yang oleh karenanya memberikan dan membebankan
hak-hak dan kewajiban-kewajiban pada masing-masing pihak.
Singkatnya subyek hukum dalam hukum perdata terdiri dari :1
1. Manusia (Natulijke Persoon)

1 Komariah. Hukum Perdata, Malang : Universitas Muhammadiyah Malang. 2002.


Hlm. 21-23

Manusia merupakan subyek hukum karena sejak ia dilahirkan (bahkan


dalam kandungan) ia sudah merupakan pendukung hak dan kewajiban.
Keadaan ini berakhir pada saat manusia meninggal dunia.
2. Badan Hukum (Recht Persoon)
Selain manusia, badan hukum juga merupakan pendukung hak dan
kewajiban. Badan hukum dapat melakukan perbuatan hukum layaknya
manusia.
Menurut hukum perdata, keduanya, manusia dan badan hukum
disebut sebagai orang (persoon), yaitu pembawa hak dan kewajiban.2
Manusia adalah
manusia

adalah

sedemikian

pendukung hak dan

subyek

hukum.

Siapakah

kewajiban, oleh karena


manusia,

sehingga

istimewa bila dibandingkan dengan makhluk hidup yang

lain, bahkan manusia dinyatakan sebagai subyek hukum saat dia masih
di

dalam

manusia

kandungan,
pada

khususnya

dalam

hukum

waris.

Realitas

dasarnya tidaklah cukup disebutkan dalam satu

rumusan kalimat. Dari sudut filsafati, manusia dapat disebutkan dalam 3


definisi, yaitu:
1) Definisi klasik menyatakan bahwa manusia adalah hewan berbudi
atau animal rationale.
Bukan berarti bahwa manusia itu sama dengan hewan yang hanya
ditambah dengan budi. Dalam aksi-reaksi biologis ada persamaan,
walaupun hanya dalam suatu momen saja dari totalitas atau keseluruhan.
Namun dalam aksi-reaksi psikologis, manusia dengan hewan sama sekali
berbeda.3
2) Geist-in-welt
Usia dipandang dari sudut sungguh-sungguh sebagai barang di
dunia yang badani, oleh karena memiliki sifat-sifat badani juga.
3) Esprit incarne
2 P.N.H. Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia, Jakarta :
Djambatan, 2008. Hlm. 22.
3 A. Sudiarja, 2006, Karya Lengkap Driyarkara: Esai-esai Filsafat Pemikiran
yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsa, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, hlm. 146

Manusia adalah

roh yang telah menjelma menjadi daging.

Maksudnya bahwa manusia betul-betul bersifat jasmani, stoffelijk.4


Dengan demikian, berdasarkan pandangan filsafati
atas, dapat diketahui adanya kesatuan
manusia adalah

kata dan

manusia di

artinya, bahwa

sekaligus jasmani dan rohani. Dan keistimewaan

manusia bila dibandingkan dengan makluk yang lain adalah akal budi
yang dimilikinya. Manusia memiliki, menguasai dan memastikan dirinya
sendiri.

Kesadaran tersebut

merupakan

kesempunaan

yang tidak

terdapat pada makluk lainnya.


Notohamidjoyo,5
subyek dan
perwujudan
sehingga

bahwa manusia meliputi obyek,

relasi. Manusia sebagai obyek adalah manusia dalam


lahiriah yang memiliki tubuh, mengisi

dapat

mewujudkan

menyatakan

diiandra.

subyek

Manusia

yang

berarti

selain

suatu

sebagai

mempunyai

ruang

obyek

juga

kehendak

dan

mengambil keputusan yang bebas. Namun demikian belumlah lengkap


memberikan gambaran tentang manusia tanpa melihat manusia sebagai
relasi, karena baik dalam manusia sebagai obyek, maupun segi subyek
itu dialaminya dalam suatu relasi. Manusia bukanlah subyek yang berdiri
sendiri, melainkan senantiasa dalam perhubungan dengan kenyataan.
Manusia bukan pula kebebasan saja,
tanggung

jawab.

Sering

kali

manusia

namun

kebebasan

dikatakan

dalam

memiliki human

ecology, bahwa manusia hidup dalam hubungan timbal-balik dengan


lingkungannya, dan masyarakatlah lingkungan dimana manusia hidup.
Dengan demikian, hakekat manusia dapat dilukiskan sebagai obyeksubyek-relasi.
Pendapat Driarkara dan Notohamidjoyo di atas, melengkapi
pengertian apa itu manusia secara filsafati. Manusia merupakan subyek
sekaligus obyek atau

geist-in-welt yang memiliki human ecology dan

kesadaran memiliki, menguasai dan memastikan dirinya sendiri karena


4 Ibid, hlm.7.
5 Notohamidjoyo, 1973, Demi Keadilan dan Kemanusiaan, BPK Gunung Mulia,
Jakarta, hlm. 9.

manusia memiliki akal budi.


Pada dasarnya setiap semua orang atau natuurliijk persoon
memiliki

kecakapan kecuali undang-undang menyatakan lain.

Anak

yang masih di bawah umur, orang yang dinyatakan pailit dan orang
yang di bawah pengampuan adalah mereka yang tidak memiliki
kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum. Kewenangan subyek
hukum sangat terkait dengan kewenangan yang dimilikinya berdasarkan
peraturan yang ada. Masalah kecakapan dan kewenangan dalam hukum
sangat terkait dengan sah tidaknya perbuatan hukum yang dilakukan
subyek hukum tersebut. Subyek hukum dapat merupakan orang atau
natuurlijkpersoon (menselijkpersoon) dan bukan orang atau badan
hukum (rechtspersoon).
Secara yuridisnya ada alasan manusia sebagai subyek hukum,
yaitu: Pertama, manusia mempunyai hak-hak subyektif dan kedua,
kewenangan hukum dalam hal ini kewenangan hukum berarti kecakapan
untuk menjadi subyek hukum, yaitu sebagai pendukung hak dan
kewajiban. Pada dasarnya manusia mempunyai hak sejak dalam
kandungan karena status sebagai subyek hukum yang melekat pada
manusia adalah kodrat yang dibawa dari lahir sedangkan hukum hanya
mengakuinya saja. Pengecualian atas hak tersebut terdapat di dalam
Pasal 2 KUH Perdata yang mengatur bahwa anak yang ada dalam
kandungan seorang perempuan

dianggap

telah

lahir,

setiap

kali

kepentingan si anak menghendakinya.


Dari sudut pandang hukum,

menurut Paul Scholten

pengertian

manusia adalah orang atau persoon dalam hukum yang mengandung 2


dalil yaitu:
1)

Manusia dalam

hukum sewajarnya diakui sebagai yang berhak

atas hak-hak subyektif dan sewajarnya diakui sebagai pihak atau


pelaku dalam hukum obyektif. Disini perkataan manusia mempunyai
nilai etis.
2) Dalam hukum positif yang merupakan persoon adalah subyek
hukum,

mempunyai kewenangan. Dalil ini mengandung petunjuk

dimana tempat manusia dalam sistem hukum dan dengan demikian

dinyatakan suatu kategori hukum.6


Menurut Van Apeldoorn,7 pengertian orang dalam artian yuridis
adalah setiap orang yang mempunyai wewenang hukum. Kewenangan
hukum adalah sifat yang diberikan oleh hukum yaitu kecakapan untuk
menjadi subyek hukum. Lebih lanjut Apeldoorn berpendapat bahwa
hanya

manusia

yang

dapat

memiliki

hak-hak

subyektif,

artinya

kewenangan dan kewajiban.


Subyek hukum yang merupakan orang, sering juga disebut
sebagai subyek kodrati atau purusa kodrat karena pada kodratnya
manusia adalah subyek hukum, sehingga sangat berbeda dengan
subyek hukum lainnya yang mendapatkan kewenangan hukum

dari

hukum positif. Namun pendapat ini tidaklah tepat, karena:


1) Kewenangan hukum bukanlah sifat bawaan manusia, melainkan
kualitet yang diberikan oleh hukum positif;
2) Kualitet itu hanya dapat diberikan kepada manusia. Jadi apa yang
disebut purusa hukum bukanlah purusa yang sebenarnya.8
Dalam Pasal 6 Universal Declaration of Human Rights, dirumuskan
Everyone has the right to recognition everywhere as a person before
15
the law.

Perumusan universal ini pada hakekatnya merupakan

batasan tentang subyek hukum, yaitu man is person before the law yang
merupakan suatu asas hukum (rechtsbeginsel).
Hukum Indonesia mengakui setiap manusia sebagai subyek
hukum, hal ini tampak dalam Pasal 1 Ayat(1) KUH Perdata yang
menyatakan bahwa menikmati hak-hak kewargaan tidak tergantung
pada hak-hak kenegaraan. Pengaturan ini mengandung makna bahwa
status sebagai warga (yang memiliki makna sebagai subyek hukum) tiak
digantungkan pada syarat tertentu yang ditetapkan oleh negara,
6 Chidir Ali, 1991, Badan Hukum, Alumni, Bandung, hlm. 6
7 Van Apeldoorn, 1983, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, hlm.
203.
8 Van Apeldoorn, 1983, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta,. 204.

melainkan melekat atau muncul sebagai hak asasi yang ada pada
dirinya. Pengakuan

manusia sebagai subyek hukum tersebut dimulai

sejak manusia tersebut di dalam kandungan (bila kepentingannya


menghendaki demikian), sampai dengan manusia tersebut meninggal
dunia.
I. Pengertian Subjek Hukum (Mahkum Alaihi)
Yang dimaksud dengan mahkum alaihi adalah Mukallaf yang
berhubungan dengan hukum syari. atau dengan kata lain, mahkum alaihi
adalah mukallaf yang perbuatannya menjadi tempat berkakunya hukum
Allah. Dinamakan mukallaf sebagai mahkum alaihi adalah karena dialah
yang dikenai (dibebani) hukum syara. Ringkasnya, mahkum alaihi adalah
orang atau si mukallaf itu sendiri, sedangan perbuatannya disebut
mahkum Bih/Fih.9
Dalam pengertian yang lainnya disebutkan bahwa yang dimaksud
dengan Mahkum Alaih adalah mukallaf yang menjadi obyek tuntunan
hukum syara (Syukur, 1990: 138). Menurut ulama ushul fiqh telah
sepakat bahwa mahkum Alaih adalah seseorang yang perbuatannya
dikenai kitab Allah, yang disebut mukallaf (SyafeI, 2007: 334). Sedangkan
keterangan lain menyebutkan bahwa Mahkum Alaih ialah orang-orang
yang dituntut oleh Allah untuk berbuat, dan segala tingkah lakunya telah
diperhitungkan berdasakan tuntutan Allah itu (Sutrisno, 1999: 103). Jadi,
secara singkat dapat disimpulkan bahwa Mahkum Alaih adalah orang
mukallaf yang perbuatannya menjadinya tempat berlakunya hukum
Allah.10
Amir syarifuddin dalam bukunya menjelaskan bahwa subjek hukum
atau pelaku hukum ialah orang-orang yang dituntut oleh Allah untuk
berbuat, and segala tingkah lakunya telah diperhitungkan berdasarkan
tuntutan Allah itu. dalam istilah Ushul Fiqh, subjek hukum itu disebut
9 Alaidin Koto,Ilmu Fiqh Dan Ushul Fiqh,(Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,2004),
halm.157.
10 http://imronfauzi.wordpress.com/2008/12/29/mahkum-fih-dan-mahkum-alaih/ diakses
tanggal 09-10-2016

mukallaf atau orang-orang yang dibebani hukum, atau mahkum alaihi


yaitu orang yang kepadanya diperlakukan hukum.11
2.

Syarat-syarat mahkum alaihi


Ada 2 persyaratan yang harus dipenuhi agar sorang mukallaf sah ditaklifi:

a.

Orang

tersebut

mampu

memahami

dalil-dalil

taklif

itu

dengan

sendirinya, atau dengan perantaraan orang lain. Karena orang yang tidak
mampu memahami dalil-dalil itu tidak mungkin mematuhi apa yang
ditaklifkan kepadanya.
b.

Orang tersebut ahli (cakap) bagi apa yang ditaklifkan kepadanya. Ahli
disini berarti layak untuk kepantasan yang terdapat pada diri seseorang.
Misalnya seseorang dikatakan ahli mengurus wakaf, berarti ia pantas
untuk diserahi tanggung jawabmengurus harta wakaf.12
Para ulama ilmu ushul mengatakan bahwa mahkum alaihi adalah
mukallaf yang perbuatannya berkaitan dengan hukum syari. jadi mukallaf
itu merupakan devinisi lain dari mahkum alaihi. Dalam paradigma hukum,
mereka juga disebut subyek hukum. Karena itu Muhammad Abu zahrah
menndevinisikan mahkum alaih dengan orang mukallaf, karena dialah
yang perbuatannya dihukumi untuk diterima atau ditolak , dantermasuk
atau tidak dalam cakupan perintah dan larangan.
Secara etimologi mukallaf merupakan derivasi dari kata kallafa yang
maknanya adalah membebankan. Karena itu secara etimologi pengertian
mukallaf berarti yang dibebani hukum. Dalam ilmu ushul fiqh mukallaf
adalah orang yang telah dianggap mampubertindak hukum,baik yang
berhubungan dengan perintah Allah maupun larangan-Nya. Semua yang
berkaitan dengan seluruh aktivitas mukallaf memiliki implikasi hukum, dan
karenanya harus dipertanggung jawabkan, baik di dunia maupun di
akhirat.
Syarat-syarat Mahkum Alaihi

11 Amir Syarifuddin,Ushul Fiqh,(Jakarta:Prenada Media Group,2009),hlm.424.


12 Ibid, hlm.157-158.

Seorang

mukallaf

dianggap

shah

menanggung

beban

hukum

menurut syara, bila mereka memenuhi dua syarat:13


1.

Seorang Mukallaf harus dapat memahami dalil taklif

(pembebanan),
Yaitu ia harus mampu memahami nash-nash hukum yang dibebankan alQuran dan al-Sunnah baik yang langsung maupun melalui perantara.
Namun karena akal itu merupakan sesuatu yang tidak dapat
diindrawi secara lahiriyah, maka syari telah menghubungkan taklif
dengan hal yang nyata dan dapat diindra, dan yang menjadi asumsi bagi
akal, yaitu kedewasaan. Maka orang yang telah mencapai tingkat
kedewasaan tanpa menampakkan sifat-sifat yang merusak akalnya,
berarti telah sempura untuk terkena beban hukum. Adapun indiksi
kedewasaan manusia. Bagi laki adalah mimpi basah. Sedang bagi
pereampuan keluar darah haidh. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt
dalam surah an-Nur: 59. Apabila anakmu samapi umur baigh,maka
hendaklah mereka minta izin, seperti oarang-orang yang sebelum mereka
minta izin...
Sebagaimana Hadist Rasulullah:Diangkatlah pena itu( tidak dicatat
amal perbuatan manusia)dari tiga orang: orang yang tidur hingga
terbangun, anak-anak hingga ia dewasa, dan orang gila hingga ia
berakal.
Belaiu juga bersabda: Barang siapa yang tidur sampai tidak
melakukan Shalat (habis waktunya) atau lupa mengerjakannya, maka
hendaklah dia Shalatketika dia ingat, karena sesungguhnya waktu
ingatnya itulah waktu Shalatnya.
2. Mukallaf adalah haruslah ahli (harus cakap dalm bertindak
hukum) dengan sesuatau yang dibebankan kepadanya.
Berdasarkan konsep ini, maka seluruh perbuatan orang yang belum
atau tidak mampu dan cakap bertindak hukum, maka semua amal mereka
tidak diketegorikan sebagi delik hukum. Misalnya anak kecil atau orang
gila. Konsep Dasar Ahliyyah, secara etimologi, ahliyyah maknanya adalah
13 Koto, Alaidin,Ilmu Fiqh Dan Ushul Fiqh,Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004
175.

ash-shalahiyyah; kepantasan atau kelayakan. bila ada sesorang yang


memilki kemampuan dalam satu bidang maka dia dianggap ahli.
Secara terminologi, para ahli ushul mendefinisikan ahlyyah dengan:
Suatu sifat yang dimiliki sesorang yang dijadikan ukuran oleh syari untuk
menentukan seseorang telah cakap dikenai tuntutan syara
Muhammad

Abu

Zahrah

mendefinisikan

ahliyyah

dengan

kemampuan seseorang untuk menerima kewajiban dan menerima hak.


Artinya oarng itu pantas untuk menanggung hak-hak orang lain, menerima
hak-hak atas orang lain dan pantas melaksanakannya.
Dari kedua devinisi di atas, maka ahliyyah adalah sifat yang
menunjukkan bahwa seseorang itu telah sempurna jasmani dan akalnya,
sehingga

seluruh

aktivitas

dan

prlikakunya

memiliki

konsekuensi-

konsekuensi hukum. Pada tahap ini dia telah menjadi subyek hukum yang
harus

bertanggung

jawab

secara

indepennden

terhadap

amal

perbuatannya sendiri. Maka jika dia berzina, dia akan dirajam sampai
meninggal dunia, bila ia pezina mukhson (telah dan pernah menikah). Bila
ia melakukan aktivitas perniagaan, maka dianggap shah.
Karena yang menjadai subyek hukum (muhkam alaih/mukallaf)
adalah manusia, sedang manusia terikat dengan hukum-hukum biologis
yang telah didesain oleh Allah Swt, maka kemampuan bertindak hukum
seseorang tidak datang secara sekaligus, melainkan secara evolusi
melalaui tahapan-tahapan tertentu, sesuai tingkat perkembangan jasmani
dan akalnya. Atas dasar itu, maka ulama ushul fiqh membagi ahilyyah
kepada dua bagian.
a. Keahlian wajib (Ahliyyatul al-wujub)
Keahlian wajib Ahliyyatul al-wujub adalah kelayakan seseorang
untuk mendapatkan hak dan kewajiban, tetapi belum cakap atau mampu
untuk dibebani seluruh kewajiban. misalnya ia telah berhak menerima
hibah, akan tetapi ia tidak sah memberikan hibah. Ia telah dianggap
berhak menerima perintah ibadah, tetapi ia belum dianggap mampu untuk
menegakkannya seperti Shalat, zakat, maupun ibadah lainya. Kalaupun
dia menunaikannya, semua itu dianggap sebagai pendidikan, pembinaan
dan pembiasaan.

Karena itu ahliyyah al-wujub ini, merupakan kemampuan yang


diberikan dan dimiliki oleh seluruh manusia tanpa kecuali. Keahlian wajib
ini merupakan konsekuensi logis dari sifat kemanusiaan manusia yang
telah diberikan kemampuan memahami dan dianugrahi keunggulan
konpetitif (baca: akal) oleh Allah yang membedakannya dengan makhluk
yang

lain.

Akal

yang

ditanamkan

itulah

yang

membuat

manusia

mendapatkan keistimewaan sehingga memiliki kelayakan dan kepantasan


(ash-shalahiyyah) mendapatkan hak dan kewajiban. Keistimewaan ini oleh
ulama fiqh disebu dengan adz-Dzimmah; yaitu sifat naluri manusia yang
denngan itu ia menerima hak bagi orang lain dan kewajiban untuk orang
lain pula.
Jika kehalian wajib ini dihubungkan dengan keadaan manusia, maka
ia terbagi pada dua bagian, yaitu:
1) Keahlian Wajib yang tidak sempurna.
Yaitu mukallaf layak mendapatkan hak tetapi tidak harus menunaikan
kewajiban atau sebaliknya. Contohnya; janin dalam kandungan. Janin
sudah dainggap memiliki Ahliyyatul al-wujub, tetapi belum sempurna. Para
ahli ushul fiqh sepakat dia telah layak mendapatkan hak keturunan dari
ayahnya,

memperoleh

bagian

waris

mendapatkan

wasiat

dan

mendapatkan seperempat yang ditujukan kepadanya namun dia tidak


wajib melaksanakan kewajiban itu bagi orang lain.
2) Keahlian wajib yang sempurna
Yaitu jika mukallaf layak menerima hak dan melaksanakan kewajiban.
Keahlian ini berlaku bagi seorang anak ayang telah lahir ke dunia sampai
ia dinyatakan baligh dan berakal,sekalipun akalnya masih kurang. Ia telah
memperoleh hak-haknya sebagai manusia secara umum, baik ia cakap
atau tidak cakap.
Perlu ditegaskan, bahwa dalam status keahlian wajib (ahliyyatul alwujub), baik yang sempurna maupun yang tidak, seseorang tidak dibebani
tuntutan syara, baik yang bersifat ibadah maupun yang bersifat hukumhukum duniawi. Namun demikian, menurut ksepakatan ulama ushul,
apabila mereka melakukakn tindakan yang berkaitan dengan hukum
perdata

yang

merugikan

orang

lain,

maka

mereka

wajib

mempertanggungjawakannya

dengan

memberikan

ganti

rugi

dari

hartanya sendiri. Akan tetapi jika perbuatannya berkaitan dengan tindak


hukum pidana, sepert seorang anak kecil yang melukai seseorang atau
bahkan membunuhnya, maka tindakan hukum anak kecil yang memilki
ahliyyatul wujub tersebut, belum dapat dipertanggung jawabkan secara
hukum, karena ia belum dianggap cakap bertindak hukum, sehingga
hukumannya-pun cukup dengan dikenakan diyat.
Adapun bagi orang yang memiliki status ahliyyah al-ada, apabila
melakukan tindakan hukum perdata mapun pidana,maka ia beratnggung
jawab secara penuh. Ia bahkanbisa diqishah jika membuh nyawa
manusia.
b. Keahlian Melaksanakan (Ahliyyah al-Ada)
Syeikh

Muhammad

Abu

Zahrah

memaknakan

keahlian

melaksanakan adalah kelayakan seorang mukallaf agar ucapan dan


perbuatannya

diperhitungkan

menurut

syara.

Menurut

Prof.

Dr.

Muhammad Abu Zahrah keahlian melaksanakan adalah kemampuan


bekerja yaitu seseorang telah pantas menerima haknya sendiri dan
melahirkan hak atas orang lain kerena pebrbuatannya.
Jadi, keahlian melaksanakan adalah suatu fase dimana seorang mukallaf
telah dianggap sempurna untuk mempertanggung jawabkan seluruh
perbuatan-perbuatannya di hadapan hukum.
Para ulama ushul telah sepakat bahwa masa datanganya Ahliyyatul
al-ada menurut syara adalah bersamaa dengan tibanya usia taklif yang
ditandai dengan akal dan baligh. Dalam hal ini mereka mendasarkan
pendapanya dengan merujuk kapada surah an-Nisa:46 Dan ujilah anak
yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah, kemudia jika
menurut pendapatmumereka telah cerdas, maka serahkanlah kepada
mereka harta-harta mereka. Menurut ulama ushul fiqh, kalimat cukup
umur dalam ayat ini merujuk pada pengertian seseoramg yang telah
bermimpi

dengan

mengeluarkan

mani

untuk

pria

dan

haid

bagi

perempuan.
Jadi Tolak ukur ahliyyah al-adaadalah akal, bila akal sempurna maka
sempurna pulalah ahliyyah ini, begitu sebaliknya.

Manusia sebagai subyek hukum, bila dikaitkan dengan keahlian ini,


maka ia terbagi pada tiga bagian, yaitu:
1) Terkadang tidak memiliki keahlian sama sekali
2) Terkadang manusia memiliki keahlian melaksanakan yang tidak
sempurna
3) Terkadang manusia memiliki keahlian melaksanakan yanng sempurna,
yaitu orang baligh dan berakal sehat.
Sesungguhnya keadaan manusia terkadang menyebabkan mereka
terhalang dari aktivitas-aktivitas hukum. Para ulama ushul memabagi sifat
pengalang itu kepada dua bagian, yaitu:
1) Arid Samawiy, yaitu halangan yang datangnya dari Allah. Halangan
yang tidak diupayakan dan diusahakan oleh manusia, seperti gila
2) Arid Kasbiy, yaitu halanganyang disebabkan oleh manusia. Halangan
ini ada sumbernya ada dua:
a)

dari diri sendiri, yaitu mabuk, alpa

b)

dari orang lain seperti dipaksa


Keahlian (kecakapan) para mukallaf yang dibebani tugas hukum

menjadi

hilang,

bila

timbul

yang

menghilangkan

kecakapannya

(menunaikan). Keahlian dibagi menjadi dua :


Keahlian wajib, yakni : layak dan pantas menjalankan apa yang
diwajibkan, baik atas yang menjalankan, maupun baginya.
Keahlian menunaikan, yakni kelayakan dan kepantasan orang yang
ditugaskan untuk menyelesaikan pekerjaan menurut cara yang dipandang
oleh syara.
Hukum adalah peraturan-peraturan tentang perbuatandan tingkah
laku manusia didalam lalu lintas hidup. Nasruddin Razak (2000: 210)
mengatakan bahwa para sarjana hukum itu mengetahui segala-galanya,
kecuali defenisi hukum itu sendiri, karena sampai sekarang, belum ada
kesempatan dalam merumuskan suatu defenisi yang dapat diterima oleh
semua pihak tentang apa yang disebut hukum itu. Dalam Islam, hukum
adalah menetapkan sesuatu dari sesuatu (itsbatu syaiin ala syaiin).
Secara ringkas ia berarti ketetapan.14
14 Beni Ahmad Saebeni, Filsafat Hukum Islam,h.54

B. Manusia sebagai Obyek Hukum


1.

Pengertian Obyek Hukum (Mahkum Bih/Fih)


Manusia sebagai Obyek hukum adalah segala sesuatu yang berguna

bagi subyek hukum dan yang dapat menjadi pokok suatu perhubungan
hukum, karena sesuatu itu dapat dikuasai oleh subyek hukum. Dalam hal
ini tentunya sesuatu itu mempunyai harga dan nilai, sehingga memerlukan
penentuan siapa yang berhak atasnya, seperti benda-benda bergerak
ataupun

tidak

bergerak

yang

memiliki

nilai

dan

harga,

sehingga

penguasaannya diatur oleh kaidah hukum.


Secara singkat dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan
mahkum fih adalah perbuatan mukallaf yang berkaitan atau dibebani
dengan hukum syari.15 dalam derivasi yang lain dijelaskan bahwa yang
dimaksud dengan objek hukum atau mahkum Bih/Fih ialah sesuatu yang
dikehendaki oleh pembuat hukum untuk dilakukan atau ditinggalkan oleh
manusia, atau dibiarkan oleh pembuat hukum untuk dilakukan atau
tidak.16
Menurut Usuliyyin,yang dimaksud dengan Mahkum fih adalah
obyek hukum,yaitu perbuatan seorang mukalllaf yang terkait dengan
perintah

syari(Allah

dan

Rosul-Nya),

baik

yang

bersifat

tuntutan

mengerjakan; tuntutan meninggalkan; tuntutan memilih suatu pekerjaan.


Para ulama pun sepakat bahwa seluruh perintah syari itu ada objeknya
yaitu perbuatan mukallaf. Dan terhadap perbuatan mukallaf tersebut
ditetapkannya suatu hukum:17
Di dalam penjelasan yang lain pula disebutkan bahwa, Mahkum
Bih/Fih adalah objek hukum yaitu perbuatan orang mukallaf yang terkait
dengan titah syari yang bersifat mengerjakan, meninggalkan maupun
15 Alaidin Koto,Ilmu Fiqh Dan Ushul Fiqh,(Jakarta: PT.Raja Grafindo
Persada,2004), halm.153.
16 Amir Syarifuddin,Ushul Fiqh,(Jakarta:Prenada Media Group,2009),hlm.417.
17 http://elmisbah.wordpress.com/mahkum-fih-dan-mahkum%E2%80%98alaih/.diakses tgl 04-10-2016.

memilih antara keduanya. Seperti perintah Shalat, larangan minum


khomer, dan semacamnya. Seluruh titah syari ada objeknya. Objek itu
adalah perbuatan orang mukallaf yang kemudian di tetapkan suatu hukum
darinya.18
Dalam istilah ulama ushul Fiqh, yang disebut mahkum Bih/Fih atau
objek hukum, yaitu sesuatu yang berlaku padanya hukum syara. Objek
hukum adalah perbuatan itu sendiri dan hukum itu berlaku pada
perbuatan dan bukan pada zatnya. Hukum syara yang dimaksud, terdiri
atas dua macam yaknihukum taklifi dan hukum wadi. hukum taklifi jelas
menyangkut perbuatan mukallaf, sedangkan sebagian hukum wadI ada
yang tidak berhubungan dengan perbuatan mukallaf.19
Sedangkan dalam perspektif hukum islam, Objek hukum (makhum fih) bukan berupa
benda tetapi berupa perbuatan manusia yang diatur oleh hukum islam. Oleh karena itu, ulama
ushul mendefinisikan makhum fih (objek hukum) adalah perbuatan orang mukallaf yang
terkait dengan titah syari (Allah dan rasulnya), baik yang bersifat tuntunan pekerjaan,
memilih suatu pekerjaan, dan yang bersifat syarat, sebab halangan, azimah , ruksah, sah serta
batal.
.

2. Syarat-syarat mahkum Bih/Fih


a)

Para ulama Ushul Fiqh menetapkan beberapa syarat untuk suatu

perbuatan sebagai objek hukum: Perbuatan tersebut diketahui oleh


mukallaf, sehingga mereka dapat melakukannya sesuai dengan apa yang
mereka tuntut. Sehingga tujuan dapat tangkap dengan jelas dan dapat
dilaksanakan, maka seorang mukallaf tidak terkena tuntutan untuk
melaksanakan sebelum dia tau persis.
Contoh:Dalam Al quran perintah Shalat yaitu dalam ayat Dirikan Shalat
perintah tersebut masih global,Maka Rasulullah menjelaskannya sekaligus
memberi contoh
sabagaimana sabdanyaShalatlah sebagaimana aku Shalatbegitu pula
perintah

perintah

syara

yang

lain

seperti

zakat,puasa

dan

18 http://m-syarifuddin.blogspot.com/2009/06/mahkum-bih.html.diakses tanggal
04-10-2016.
19 Amir Syarifuddin,Ushul Fiqh,(Jakarta:Prenada Media Group,2009),hlm.417.

sebagainya.tuntutan untuk melaksanakannya di anggap tidak sah sebelum


di ketahui syarat,rukun,waktu dan sebagainya.
b)

Harus diketahui bahwa pentaklifan tersebut berasal dari orang yang

berwenang untuk mentaklifan dan termasuk orang yang wajib dipatuhi


oleh mukhallaf.
Yang

dimaksud

dengan

mengetahui

disini

adalah

kemungkinan

mengetahui, bukan kenyataan mengetahui. Oleh sebab itu seseorang


yang sehat akalnya dan sanggup mengetahui hukum syara dengan
sendirinya atau menanyakannya pada orang lain.
c)

Perbuatan yang ditaklifkan tersebut dimungkinkan terjadi. Artinya,

melakukan

atau

meninggalkan

perbuatan

itu

berada

dalam

batas

kemampuan si mukallaf. Dan syarat ini timbul dari dua hal:


1)

Tidak syah menurut syara mentaklifkan sesuatu yang mustahil baik

meurut zatnya, maupun karena hal yang lain. Mustahil menuuurut zatnya
adalah sesuatu yang tidak tergambar pada akal. Misalnya, mewajibkan
dan mengharamkan sesuatu pada waktu bersamaan. Adapun mustahil
karena hal lain adalah segala sesuatu yang tergambar oleh akal adanya,
tetapi menurut hukum alam dan kebiasaan pernah terjadi.
2)

Tidak sah menurut syara mentaklifkan seorang mukallaf agar orang

lain melakukan sesuatu perbuatan tertentu. Oleh sebab itu, yang


ditaklifkan disini hanya memberi nasehat,menyuruh yang maruf dan
melarang yang mungkar.20
Apabila

dalam

suatu

amalan

terdapat

kesulitan

untuk

mengerjakannya, maka Allah juga memberi keringanan dengan cara


rukhsah.
Sunggauh

Sebagaimana
Allah

sabda

mendatangkan

rukhsah-Nya

Rasul:
sebagaimana

Ia

mendatangkan azimah-Nya. (HR. Ahmad ibn Hanbal dan al-Baihaqi, dari


Abdullah

bin

Umar).

Seluruh ayat dan hadis diatas, menurut ulama ushul fiqh, bertujuan untuk

20 Alaidin Koto,Ilmu Fiqh Dan Ushul Fiqh,(Jakarta: PT.Raja Grafindo


Persada,2004), halm.157-158.

meeudahkan para mukallaf untuk melaksanakan taklif syara sehingga


mereka dapat melaksanakan secara berkesinambungan.21
3. Macam-Macam Mahkum Bih/Fih
Para ulama usul membagi mahkum fih/bih dari dua segi yaitu dari
segi keberadanya secara material dan syara serta dan segi hak yang
terdapat dalam perbuatan itu sendiri
Dari segi keberadanya dan syara mahkum Bih/Fih terdiri dari
1)

Perbuatan secara material ada. Tetapi tidak termasuk perbuatan

yang terkait dengan syara seperti makan dan minum yang dilakukan
mukallaf itu bukan termasuk syara
2)

Perbuatan yang secara material ada dan menjadi sebab adanya

hukum syara seperti perziaan ,pencurian dan pembunuhan perbauatan itu


berkaitan hukum syara yaitu hudud qishash.
3)

Perbuatan yang secara material

dan baru bernilai dalam syara

apabila memenuhi rukun dan syarat yang ditentukan seperti Shalat dan
zakat
4)

Perbuatan yang secara material ada dan diakui syara serta

mengakibatkan adanya hukum syara yang lain seperti nikah dan jual beli
dan sewa menyewa .Perbuatan ini secara material ada dan diakui oleh
syara

Apabila

menemukan

rukun

dan

syarat

perbuatan

itu

memnakibatkan munculnya hukum syara yang lain seperti hubungn suami


istri mangakibatkan kewajiban untuk member nafkah.22

BAB III
KESIMPULAN
21 http://m-syarifuddin.blogspot.com/2009/06/mahkum-bih.html. diakses tanggal
03-10-2016.
22 http://kosma5bpaiinsuri.blogspot.com/2011/01/makalah-fiqih-usul.html.
diakses tanggal 03-10-2016

Manusia adalah

pendukung hak dan

kewajiban, oleh karena

manusia adalah subyek hukum. sehingga sedemikian

istimewa bila

dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain, bahkan

manusia

dinyatakan sebagai subyek hukum


Mahkum alaihi adalah Mukallaf yang berhubungan dengan hukum
syari. atau dengan kata lain, mahkum alaihi adalah mukallaf yang
perbuatannya menjadi tempat berlakunya hukum Allah.
Manusia sebagai objek hukum (makhum fih) bukan berupa benda tetapi berupa
perbuatan manusia yang diatur oleh hukum islam. Oleh karena itu, ulama ushul
mendefinisikan makhum fih (objek hukum) adalah perbuatan orang mukallaf yang terkait
dengan titah syari (Allah dan rasulnya), baik yang bersifat tuntunan pekerjaan, memilih suatu
pekerjaan, dan yang bersifat syarat, sebab halangan, azimah , ruksah, sah serta batal. Jadi
makhum fih adalah perbuatan orang mukallaf (orang yang sah menerima beban hukum), baik
perbuatan dalam bentuk aktif (melakukan sesuatu) maupun perbuatan pasif (tidak
melakukan).

DAFTAR PUSTAKA
Amir Syarifuddin,Ushul Fiqh,(Jakarta:Prenada Media Group,2009).
Alaidin Koto,Ilmu Fiqh Dan Ushul Fiqh,(Jakarta: PT.Raja Grafindo
Persada,2004).
A. Sudiarja, Karya Lengkap Driyarkara: Esai-esai Filsafat Pemikiran yang
Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsa, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, 2006.
Beni Ahmad Saebeni, Filsafat Hukum Islam
Chidir Ali, , Badan Hukum, Alumni, Bandung, 1991.
Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan
Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 1995.
Komariah. Hukum Perdata, Malang : Universitas Muhammadiyah Malang.
2002.
P.N.H. Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia, Jakarta :
Djambatan, 2008..
Notohamidjoyo, 1973, Demi Keadilan dan Kemanusiaan, BPK Gunung
Mulia, Jakarta, 1973.
Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta,1983.
Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab,
Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996.
Sumber Websait:
http://elmisbah.wordpress.com/mahkum-fih-dan-mahkum%E2%80%98alaih/.diakses tgl 04-10-2016.
http://m-syarifuddin.blogspot.com/2009/06/mahkum-Bih/Fih.html. diakses
tanggal 03-10-2016.
http://kosma5bpaiinsuri.blogspot.com/2011/01/makalah-fiqih-usul.html.
diakses tanggal 03-10-2016
http://imronfauzi.wordpress.com/2008/12/29/mahkum-fih-dan-mahkumalaih/ diakses tanggal 09-10-2016