You are on page 1of 11

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFISIKA DAN MEKANIKA TANAH


PENETAPAN UKURAN AGREGAT TANAH

REZKY RAHMALINDA
05021181520028

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2016
Universitas Sriwijaya
1

DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN DEPAN ........................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................................. 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agregat Tanah ...................................................................................... 2
2.2 Proses pembentukan agregat tanah ...................................................... 3
2.3 Kemantapan Agregat Tanah ................................................................. 4
2.4 Faktor yang mempengaruhi kemantapan agregat tanah........................4
BAB 3 METODELOGI
3.1 Waktu dan Tempat ............................................................................... 5
3.2 Alat dan Bahan .................................................................................... 5
3.3 Cara Kerja ............................................................................................ 5
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil ..................................................................................................... 6
4.2 Pembahasan ......................................................................................... 7
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 9
5.2 Saran .................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 10
LAMPIRAN ....................................................................................................... 11

Universitas Sriwijaya
2

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu fungsi tanah adalah sebagai tempat pertumbuhan tanaman.
Tanah sebagai media pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak begitu saja
menunjang keberhasilan usaha, ada kalanya hasil usaha tanaman itu memuaskan
tetapi ada pula yang menyedihkan. Hal ini terjadi karena, tanah sangat
berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tanaman. Pengaruh-pengaruh itu antara
lain temperatur tanah, kelembaban tanah, unsur hara, dan permeabilitas tanah.
Tanah mempunyai sifat sangat kompleks, terdiri atas komponen padatan
yang berinteraksi dengan cairan, dan udara. Komponen pembentuk tanah yang
berupa padatan, cair, dan udara jarang berada dalam kondisi kesetimbangan,
selalu berubah mengikuti perubahan yang terjadi di atas permukaan tanah yang
dipengaruhi oleh suhu udara, angin, dan sinar matahari.
Untuk bidang pertanian, tanah merupakan media tumbuh tanaman. Media
yang baik bagi pertumbuhan tanaman harus mampu menyediakan kebutuhan
tanaman seperti air, udara, unsur hara, dan terbebas dari bahan-bahan beracun
dengan konsentrasi yang berlebihan. Dengan demikian sifat-sifat fisik tanah
sangat penting untuk dipelajari agar dapat memberikan media tumbuh yang ideal
bagi tanaman.
Kemantapan agregat adalah ketahanan rata-rata agregat tanah melawan
pendispersi oleh benturan tetes air hujan atau penggenangan air. Kemantapan
tergantung pada ketahanan jonjot tanah melawan daya dispersi air dan kekuatan
sementasi atau pengikatan. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam kemantapan
agregat antara lain bahan-bahan penyemen agregat tanah, bentuk dan ukuran
agregat, serta tingkat agregasi. Stabilitas agregat yang terbentuk tergantung pada
keutuhan tanaga permukaan agregat pada saat rehidrasi dan kekuatan ikatan
antarkoloid-partikel di dalam agregat pada saat basah.
Nilai bobot isi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya
pengolahan tanah, bahan organik, pemadatan oleh alat-alat pertanian, tekstur,
Universitas Sriwijaya
3

struktur, dan kandungan air tanah. Nilai ini banyak dipergunakan dalam
perhitungan-perhitungan seperti dalam penentuan kebutuhan air irigasi,
pemupukan, pengolahan tanah, dan lain-lain.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui ukuran
agragat tanah yang lolos pada nomor ayakan 8, 10, dan 12.

Universitas Sriwijaya
4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agregat Tanah
Agregat tanah terbentuk jika partikel-partikel tanah menyatu membentuk
unit-unit yang lebih besar. Agregat tanah sebagai kesatuan partikel tanah yang
melekat satu dengan lainnya lebih kuat dibandingkan dengan partikel sekitarnya.
Dua proses dipertimbangkan sebagai proses awal dari pembentukan agregat tanah,
yaitu flokulasi dan fragmentasi. Flokulasi terjadi jika partikel tanah yang pada
awalnya dalam keadaan terdispersi, kemudian bergabung membentuk agregat.
Sedangkan fragmentasi terjadi jika tanah dalam keadaan masif, kemudian
terpecah-pecah membentuk agregat yang lebih kecil.
Tanah yang teragregasi dengan baik biasanya dicirikan oleh tingkat
infiltrasi, permeabilitas, dan ketersediaan air yang tinggi. Sifat lain adalah tanah
tersebut mudah diolah, aerasi baik, menyediakan media respirasi akar dan
aktivitas mikrobia tanah yang baik. Untuk dapat mempertahankan kondisi tanah
seperti itu, maka perbaikan kemantapan agregat tanah perlu diperhatikan.
Kemantapan agregat tanah dapat didefinisikan sebagai kemampuan tanah untuk
bertahan terhadap gaya-gaya yang akan merusaknya. Gaya-gaya tersebut dapat
berupa kikisan angin, pukulan hujan, daya urai air pengairan, dan beban
pengolahan tanah.
2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Kemantapan Agregat Tanah
Sejumlah faktor mempengaruhi kemantapan agregat. Faktor faktor tersebut
antara lain pengolahan tanah, aktivitas mikrobia tanah, dan tajuk tanaman
terhadap permukaan tanah dari hujan. Pengolahan tanah yang berlebihan
cenderung memecah agregat mantap menjadi agregat tidak mantap. Sangat sering
terjadi kemantapan agregat tanah menurun pada sistem pertanian tanaman
semusim, seperti pada tanaman jagung. Dalam penuntun ini akan dikemukakan
dua metode penetapkan kemantapan agregat.

Universitas Sriwijaya
5

Agregat tanah juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya


pengolahan tanah, bahan organik, pemadatan oleh alat-alat pertanian, tekstur,
struktur, dan kandungan air tanah. Nilai ini banyak dipergunakan dalam
perhitungan-perhitungan seperti dalam penentuan kebutuhan air irigasi,
pemupukan, pengolahan tanah, dan lain-lain.Pengolahan tanah yang berlebihan
cenderung memecah agregat mantap menjadi agregat tidak mantap. Agregat dapat
menciptakan lingkungan fisik yang baik untuk perkembangan akar tanaman
melalui pengaruhnya terhadap porositas, aerasi dan daya menahan air. Pada tanah
yang agregatnya, kurang stabil bila terkena gangguan maka agregat tanah tersebut
akan mudah hancur (Pratiwi, 2013).
2.3 Kemantapan Agregat Tanah
Ketahanan rata- rata agregat tanah melawan pendispersi oleh benturan tetes
air hujan atau penggenangan air. Kemantapan tergantung pada ketahanan jonjot
tanah melawan daya dispersi air dan kekuatan sementasi atau pengikatan. Struktur
tanah disyarati oleh tekstur, adanya bahan organik dan bahan-bahan perekat lain
serta nisbah atau perbandingan antara berbagai kation yang ada dalam tanah.
Struktur tanah berpengaruh penting atas regim udara dan air dalam tanah, antara
hidrolik dan konsekuensinya yang berpengaruh atas pertumbuhan akar dan
kegiatan biologi dalam tanah.

Universitas Sriwijaya
6

BAB 3
METODELOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, September 2016 pada pukul
16.00 di Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya
Indralaya.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah 1) ayakan
tanah, 2) kantong plastik, 3) nampan, 4) neraca analitic. Dan bahan yang
digunakan pada praktikum kali ini adalah 1) tanah agregat utuh.
3.3 Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
2. Siapkan sampel tanah atau agregat utuh yang telah dikering anginkan.
3. Lalu timbang agregat tersebut seberat 300 gram menggunakan timbangan
biasa.
4. Setelah agregat tanah tersebut ditimbang seberat 300 gram, ayaklah
menggunakan mesh yang telah disediakan.
5. Penyusunan ayakan tanah dimulai atas kebawah yaitu 8, 10, 12. Tanah
yang akan diayak jangan dihancurkan (biarkan dalam keadaan
sebenarnya).
6. Ayaklah tanah tersbut dengan gerakan keatas kebawah selama waktu
tertentu hingga kiranya tidak ada lagi tanah yang lolos.
7. Setelah selesai pengayakan, timbang kembali tanah yang tertahan diatas
ayakan dan tanah yang lolos dari ayakan no 8, 10, dan 12 dengan
menggunakan neraca analitik.
8. Pisahkan agregat-agregat tanah yang telah ditimbang kedalam plastik
berbeda yang telah diberi label sebelumnya.

Universitas Sriwijaya
7

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berikut hasil dari tanah yang telah diayak dengan mesh 8, 10, dan 12 :
Persentase

Nomor

Lubang

Massa Tanah

Ayakan

Ayakan

pada Ayakan (g)

2,38

11,64 g

3,88 %

96,17 %

10

10,46 g

3,48 %

92,64 %

12

1,68

8,60 g

2,86 %

89,78 %

262 g

87,3 %

100 %

Tidak
lolos

Lolos Ayakan
(%)

Persentase
(%)

Universitas Sriwijaya
8

D60

= 2,68

D30

= 0,0156

D10

= 0,0015

Cu

= D60/D10
= 2,68/0,00158
= 1696,20

Cc

= D(30)2/( D60.D10)
= (0,0156)2/(2,68.0,00158)
= 0,0574

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini telah didapatkan hasil persentase tanah yang lolos
dari pengambilan sample tanah sebanyak 300 gram. Kenapa kelompok 5 hanya
300 gram dikarenakan jumlah tanah agregat yang kami miliki beratnya tidak
mencapai 500 gram sehingga diasumsikan menjadi 300 gram saja. Dari tanah
agregat seberat 300 gram telah dilakukan penggayakan dengan hasil seperti diatas
dimana hasil tanah yang lolos jika dilihat dari hasil timbangan adalah seberat 262
gram, sedangkan jika jumlah tanah-tanah agregat yang lolos dari ayakan
ditambahkan dengan jumlah tanah yang tidak lolos maka hasilnya tidak mencapai
300 gram. Hal tersebut dikarenakan adanya tanah-tanah yang berjatuhan pada saat
proses pengayakan juga adanya tanah-tanah yang masih melekat pada ayakan.
Itulah yang menjadi faktor ketidak sesuaian jumlah masa tanah tesebut.
Dari hasil tabel terbuka diatas, sebelumnya telah didapatkan data-data untuk
perhitungannya. Pada praktikum kali ini ayakan yang digunakan hanya nomor 8,
10, dan 12, dimana pada masing-masing ayakan memberikan hasil massa tanah
yang tertinggal berbeda-beda. Massa tanah yang tertinggal pada ayakan nomor 8
seberat 11,64 gram. Pada ayakan nomor 10 seberat 10,46 gram. Pada ayakan
nomor 12 seberat 8,60 gram dan tanah yang tidak lolos dari ayakan seberat 262
gram.
Dari hasil yang didapatkan kita bisa menggangap bahwa dari sample agregat
tanah seberat 300 gram ukuran agregat tanah yang mendominasi adalah ukuran
agregat tanah yang lolos pada mesh 8, karena pada mesh 8 lah tanah yang paling
banyak lolos. Itu berarti sample tanah tersebut didominasi oleh ukuran agregat
Universitas Sriwijaya
9

tanah dengan mesh 8 yang memiliki ukuran lubang ayakan yaitu 8 lubang dalam 1
inch dengan diameter ayakan sebesar 2,36 mm.
Persentase tanah yang lolos pada lubang ayakan nomor 8 didapatkan
sebesar 13,17%. Persentase tanah pada lubang ayakan nomor 10 sebesar 4,54%.
Sedangkan pada lubang ayakan nomor 12 didapatkan sebesar 70,45% dan
persentase tanah yang lolos sebesar 0,26%. Dilihat dari grafik, didapatkan hasil
D60 yang menunjukkan angka kurang lebih sebesar 2,68. Sedangkan pada
D30menunjukkan angka kurang lebih sebesar 0,0156. Lalu pada D10 menunjukkan
angka kurang lebih sebesar 0,0015. Pada perhitungan yang menggunakan
koefisien keseragaman didapatkan hasil sebesar 1696,20. Dan pada perhitungan
yang menggunakan koefisien kecekungan didapatkan hasil sebesar 0,0574.
Pada perhitungan hasil akhir persentase ternyata tidak mendapatkan hasil
yang sama dengan perhitungan persentase tanah yang lolos ayakan. Hal tersebut
bisa saja disebabkan karena beberapa kesalahan. Diantaranya kesalahan saat
menimbang, dan bisa jadi pada saat penuangan tanah ke plastik ada tumpah di
lantai sehingga mengurangi massa tanah.Dari data yang telah didapatkan setelah
praktikum dapat disajikan dalam grafik keseragaman ukuran agregat tanah.
Semakin datar kurva pada grafik maka keseragaman semakin tinggi, dan
sebaliknya jika kurva sangat curam maka keseragaman semakin kecil. Dilihat dari
bentuk kurva pada hasil, dapat disimpulkan bahwa tanah yang dianalisa bergradasi
kurang baik dengan koefisien keseragaman yang rendah. Pada gambar kurva
dapat disimpulkan bahwa semakin ke kanan maka tanah semakin kasar,
sedangkan semakin ke kiri maka tanah semakin halus. Tanah dengan kurva
semakin datar maka variasi ukuran butiran semakin banyak atau butir-butirnya
makin tak seragam sehingga gradasi tanahnya semakin baik.

Universitas Sriwijaya
10

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Perhitungan hasil akhir persentase ternyata tidak mendapatkan hasil yang
sama dengan perhitungan persentase tanah yang lolos ayakan.
2. Dari bentuk kurva pada hasil, bahwa tanah yang dianalisa bergradasi
kurang baik dengan koefisien keseragaman yang rendah.
3. Makin stabil suatu agregat tanah, makin rendah kepekaannya terhadap
erosi (erodibilitastanah).
4. Semakin datar kurva pada grafik maka keseragaman semakin tinggi, dan
sebaliknya jika kurva sangat curam maka keseragaman semakin kecil.
5.2 Saran
Pada praktikum yang telah dilaksanakan masih saja terdapat kekurangan
maupun ketidakteraturan jadwal praktikum, serta alat yang digunakan masih
terbatas jumlahnya. Hal tersebut terkadang membuat para praktikan sedikit malas
melaksanakan praktikum.

Universitas Sriwijaya
11