You are on page 1of 4

5.

Abu 'Ubaidah bin Jarrah ra.

Siapakah kiranya orang yang dipegang oleh


Rasulullah saw dengan tangan kanannya sambil
bersabda, "Sesungguhnya setiap ummat mempunyai
orang kepercayaan, dan sesungguhnya kepercayaan
ummat ini adalah Abu 'Ubaidah Ibnul Jarrah."
Siapakah sahabat yang mula pertama disebut
sebagai amirul umara atau panglima besar ini. Dan
siapakah orang yang tinggi perawakannya tetapi
kurus tubuhnya, tipis jenggotnya, berwibawa
wajahnya, dan ompong karena patah dua gigi
mukanya.
Siapakah kiranya orang kuat lagi terpercaya,
sehingga Umar bin Khattab ketika hendak
menghembuskan nafasnya yang terakhir pernah
berkata mengenai pribadinya, "Seandainya Abu
'Ubadah ibnul Jarrah masih hidup, tentulah ia di
antara orang-orang yang akan saya angkat sebagai
penggantiku. Dan jika Tuhanku menanyakan hal
itu tentulah, "Saya angkat kepercayaan Allah dan
kepercayaan Rasul-Nya."
Dia lah yang membunuh ayahnya yang
berada di pasukan musyrikin dalam perang Badar,
sehingga ayat Al-Qur'an turun mengenai hal ini,
Artinya : "Engkau tidak menemukan kaum yang
beriman kepada Allah dan hari kiamat yang
mengasihi orang-orang yang menentang Allah swt.
dan Rasulullah, walaupun orang tersebut ayah
kandung, anak, saudara atau keluarganya sendiri.
Allah telah mematri keimanan di dalam hati mereka
dan Dia bekali pula dengan semangat. Allah akan
memasukkan mereka ke dalam surga yang di
dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka akan
kekal di dalamnya. Akan menyenangi mereka, di
pihak lain mereka pun senang dengan Allah. Mereka
itulah prajurit Allah, ketahuilah bahwa prajurit
Allah pasti akan sukses". (Al-Mujadilah, 22)
Rasulullah saw. menjulukinya dengan
seorang yang "Gagah dan Jujur ". Ia adalah Abu
'Ubaidah, Amir bin Abdillah ibnul Jarrah ra. lahir di
Mekah, di sebuah rumah keluarga suku Quraisy
terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin
Abdullah bin Jarah yang dijuluki dengan Abu
Ubaidah. Abu Ubaidah adalah seorang yang
berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka
ceria, rendah diri dan sangat pemalu.Beliau termasuk
orang yang berani ketika dalam kesulitan, dia
disenangi oleh semua orang yang melihatnya, siapa
yang mengikutinya akan merasa tenang.

Abu 'Ubaidah, Amir bin Abdillah ibnul


Jarrah masuk Islam melalui Abu Bakar Shiddiq di
awal mula kerasulan, yakni sebelum Rasulullah saw
mengambil rumah Arqam sebagai tempat da'wah. Ia
ikut hijrah ke Habsy pada kali kedua. Ia kembali
pulang agar dapat mendampingi Rasulullah di perang
Badar, perang Uhud, dan pertempuran-pertempuran
lainnya. Lalu sepeninggal Rasulullah, dilanjutkannya
gaya hidupnya sebagai seorang kuat yang dipercaya
mendampingi Abu Bakar dan kemudian Umar dalam
pemerintahan
masing-masing
dengan
mengesampingkan dunia kemewahan dalam
menghadapi tanggung jawab keagamaan, baik dalam
zuhud dan ketaqwaan, amanah dan keteguhan.
Ketika Abu 'Ubaidah bai'at atau sumpah setia
kepada Rasulullah saw akan membangkitkan
hidupnya di jalan Allah, ia menyadari sepenuhnya
makna kata-kata yang tiga ini: berjuan dijalan Allah,
dan telah memiliki persiapan sempurna untuk
menyerahkan kepadanya apa saja yang dibutuhkan
berupa darma bakti dan pengurbanan.
Semenjak ia mengulurkan tangannya untuk
bai'at kepada Rasulullah, ia tidak memperhatikan
kepentingan pribadi dan masa depannya. Seluruh
kehidupannya dihabiskan dalam mengemban amanat
yang dititipkan Allah kepadanya dan dibaktikan pada
jalan-Nya demi mencapai keridhaan-Nya. Tidak ada
suatu pun yang dikejar untuk kepentingan dirinya
pribadi, dan tidak satu keinginan atau kebencian pun
yang dapat menyelewengkannya dari jalan Allah itu.
Maka tatkala Abu 'Ubaidah telah menepati
janji yang dilakukan oleh para sahabat lainnya,
dilihat pula oleh Rasulullah sikap jiwa dan tata cara
kehidupannya yang menyebabkannya layak untuk
menerima gelar mulia yang diserahkan serta
dihadiahkan
Rauslullah
kepadanya,
dengan
sabdanya: "Orang kepercayaan ummat ini, Abu
'Ubaidah ibnul Jarrah."
Amanat atau kepercayaan yang dipenuhi oleh
Abu 'Ubaidah atas segala tanggung jawabnya,
merupakan sifatnya yang paling menonjol. Misalnya
waktu perang Uhud, dari gerak gerik dan jalan
pertempuran, diketahui bahwa tujuan utama dari
orang-oarng musyrik itu adalah bukanlah hendak
merebut kemenangan, tetapi untuk menghabisi
riwayat Nabi Besar dan merenggut nyawanya. Ia
berjanji pada dirinya untuk selalu dekat dengan
Rasulullah di arena perjuangan itu.
Maka dengan pedangnya yang terpercaya
seperti dirinya pula, ia maju ke muka, merambah dan
mendesak
tentara
berhala
yang
hendak

melampiaskan maksud jahat mereka untuk


memadamkan nur Ilahi. Setiap suasana medan
pertempuran memaksanya terpisah jauh dari
Rasulullah saw, ia tetap bertempur tanpa melepaskan
pandangan matanya dari posisi Rasulullah itu yang
selalu diikutinya dengan hati cemas dan jiwa
gelisah. Jika dilihatnya ada bahaya yang mengancam
Nabi, maka ia bagaikan disentakan dari tempatnya
lalu melompat menerkam musuh-musuh Allah dan
mengusir mereka ke belakang sebelum mereka
sempat mencelakakannya.
Suatu ketika pertempuran berkecamuk
dengan hebatnya, ia terpisah dari Nabi karena
terkepung oleh tentara musuh, tetapi seperti biasa
kedua matanya bagai mata elang mengintai kedaan
sekitarnya. Hampir saja ia gelap mata, melihat
sebuah anak panah meluncur dari tangan seorang
musyrik lalu mengenai Nabi. Terlihatlah pedangnya
yang sebilah itu berkelibatan, tak ubah bagai seratus
bilah
pedang
menghantam
musuh
yang
mengepungnya sampai mencerai-beraikan mereka,
lalu ia terbang mendapatkan Rasulullah. Didapatinya
darah beliau yang suci mengalir dari wajahnya, dan
dilihatnya Rasulullah, Al-Amin, menghapus darah
dengan
tangan
kanannya,
sambil
bersabda: "Bagaimana mungkin berbahagia suatu
kaum yang mencemari wajah Nabi mereka, padahal
ia menyerunya kepada Nabi mereka, padahal ia
menyerunya kepada Tuhan mereka."
Abu 'Ubaidah melihat dua buah mata rantai
baju besi penutup kepala Rasulullah menancap di
kedua belah pipinya. Abu 'Ubaidah tak dapat
manahan hatinya lagi; ia segera menggigit salah satu
mata rantai itu dengan gigi manisanya lalu
menariknya dengan kuat dari pipi Rasulullah sampai
tercabut keluar, tetapi bersamaan dengan itu, tercabut
pula sebuah gigi manis Abu' Ubaidah, lalu ditariknya
mata rantai yang kedua dan tercabut pulalah gigi
manis Abu 'Ubaidah yang kedua.
Abu Bakar Shiddiq berkata menceritakan
peristiwa itu: "Di waktu perang Uhud dan Rasulullah
ditimpa anak panah sampai dua buah rantai ketopong
masuk ke dua belah pipinya bagian atas, saya segera
berlari mendapatkan Rasulullah saw kiranya ada
seorang yang datang bagaikan terbang dari jurusan
timur, maka kataku: "Ya Allah, moga-moga itu
merupakan pertolongan." Dan kala kami sampai pada
Rasulullah, kiranya orang itu adalah Abu 'Ubaidah
yang telah mendahuluinya ke sana, dan katanya,
"Atas nama Allah, saya minta kepada Anda wahai
Abu Bakar, agar saya dibiarkan mencabutnya dari

pipi Rasulullah saw." Saya pun membiarkanya, maka


dengan gigi mukanya Abu 'Ubaidah melepaskan
salah satu mata rantai baju besi penutup kepala
beliau sampai ia terjatuh ke tanah, dan bersamaan
dengan itu jatuhlah pula sebuah gigi manis Abu'
Ubaidah. Kemudian ditariknya pula mata rantai yang
kedua dengan giginya yang lain sampai sama
tercabut, menyebabkan Abu 'Ubaidah tampak di
hadapan orang banyak bergigi ompong.
Di saat-saat bertambah besar dan meluasnya
tanggung jawab para sahabat, maka amanah dan
kejujuran Abu 'Ubaidah meningkatlah pula. Tatkala
ia dikirim oleh Nabi saw dalam ekspedisi "Daun
Khabath"dengan memimpin lebih dari tiga ratus
orang prajurit sedang berbekalan mereka tidak lebih
dari sebakul kurma, sementara tugas sulit dan jarak
yang akan ditempuh jauh pula, Abu 'Ubaidah
menerima perintah itu dengan taat dan hati
gembira. Bersama anak buahnya pergilah ia ke
tempat yang dituju, dan berbekallah setiap prajurit
setiap harinya hanyalah segenggam kurma. Ketika
perbekalan hampir habis, maka bagian masingmasing prajurit hanyalah sebuah kurma untuk
sehari. Tatkala habis sama sekali, mereka mulai
mencari daun kayu yang disebut "khabath," lalu
mereka tumbuk sampai halus seperti tepung dengan
menggunakan alat senjata. Di samping daun-daun itu
dijadikan sebagai makanan, dapat pula mereka
gunakan sebagai wadah untuk air minum. Itulah
sebabnya ekspedisi ini disebut ekspedisi "Daun
Khabath."
Mereka terus maju tanpa menghiraukan lapar
dan dahaga, dan tak ada tujuan mereka kecuali
menyelesaikan tugas mulia bersama panglima
mereka yang kuat lagi terpercaya. Rasulullah amat
sayang kepada Abu 'Ubaidah sebagai orang
kepercayaan ummat, dan beliau sangat terkesan
kepadanya. Tatkala datang perutusan Najran dari
Yaman menyatakan keislaman mereka dan meminta
kepada Nabi agar dikirim bersama mereka seorang
guru untuk mengajarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
serta seluk beluk agama Islam, maka ujar
beliau: "Baiklah, akan saya kirim bersama TuanTuan seorang yang terpercaya, benar-benar
terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar
terpercaya."
Para sahabat mendengar pujian yang keluar
dari mulut Rasulullah saw ini, dan masing-masing
berharap agar pilihan agar jatuh kepada dirinya,
sampai beruntung beroleh pengakuan dan kesaksian
yang tak dapat diragukan lagi kebenarannya.

Umar bin khattab menceritakan peristiwa itu


sebagai berikut: "Aku tak pernah berangan-angan
menjadi amir, tetapi ketika itu aku tertarik oleh
ucapan beliau dan mengharapkan yang dimaksud
beliau itu adalah aku. Aku cepat-cepat berangkat
untuk shalat dhuhur. Dan tatkala Rasulullah selesai
mengimami kami shalat dhuhur, beliau memberi
salam, lalu menoleh ke sebelah kanan dan kiri.Maka
saya pun mengulurkan badan agar terlihat oleh
beliau. Tetapi ia juga masih melayangkan
pandangannya menacari-cari, sampai akhirnya
tampaklah Abu 'Ubaidah, maka dipanggilnya, lalu
sabdanya: "Pergilah berangkat bersama mereka
dan selesaikanlah apabila terjadi perselisihan di
antara mereka dengan haq." Maka Abu 'Ubaidah
berangkatlah bersama orang-orang itu.
Dengan peristiwa ini, tentu saja tidak berarti
bahwa Abu 'Ubaidah merupakan satu-satunya yang
mendapat kepercayaan dan tugas dari Rasulullah,
sedang lainnya tidak. Maksudnya adalah bahwa ia
adalah salah seorang yang beruntung beroleh
kepercayaan yang berharga serta tugas mulia ini. Di
samping itu, ia adalah salah seorang, mungkin juga
satu-satunya orang pada masa itu, yang berpropesi
da'i.
Sebagaimana Abu Ubaidah menjadi seorang
kepercayaan di masa Rasulullah saw, demikian pula
setelah Rasulullah wafat, ia tetap sebagai orang
kepercayaan, memikul semua tanggung jawab
dengan sifat amanah. Wajarlah apabila ia menjadi
suri tauladan bagi seluruh ummat manusia.
Di bawah panji-panji Islam, kemana pun ia
pergi, ia adalah seorang prajurit yang dengan
keutamaan dan keberaniannya melebihi seorang amir
atau panglima, dan disaat ia sebagai panglima,
karena keikhlasan dan kerendahan hatinya,
menyebabkan tidak lebih dari seorang prajurit biasa.
Kemudian, tatkala Khalid bin Walid sedang
memimpin tentara Islam dalam salah satu
pertempuran terbesar yang menentukan, tiba-tiba
amirul mu'minin Umra mema'lumkan titahnja untuk
mengangkat Abu 'Ubaidah sebagai pengganti Khalid,
maka demi diterimanya berita itu, dari utusan
khalifah, dimintanya orang itu untuk merahasiakan
berita tersebut kepada umum. Sementara, Abu
'Ubaidah sendiri mendiamkannya dengan suatu niat
dan tujuan baik sebagai lazimnya dimiliki seorang
zuhud, arif, bijaksana, lagi dipecaya, menunggu
selesainya Panglima Khalid itu merebut kemenangan
besar.

Setelah kemenangan tercapai, barulah ia


mendapatkan Khlaid dengan hormat dan ta'dhimnya
untuk
menyerahkan
surat
dari
amirul
mu'minin. Ketika
Khalid
bertanya
kepadanya, "Semoga Allah memberimu rahmat
wahai Abu 'Ubaidah, Apa sebanya Anda tidak
menyampaikannya kepadaku di waktu datangnya?
" Maka ujar kepercayaan ummat itu," Saya tidak
ingin mematahkan ujung tombak anda, dan bukan
kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan pula
untuk dunia kita beramal. Kita semua bersaudara
karena Allah."
Demikianlah, Abu 'Ubaidah telah menjadi
panglima besar di Syria Di bawah kekuasaanya,
bernaung sebagian besar tentara Islam, baik dalam
luas wilayahnya, maupun dalam perbekalan dan
jumlah bilangannya. Tetapi ia tetap terlihat seperti
salah seorang prajurit biasa serta pribadi biasa dari
kaum muslimin.
Ketika sampai kepadanya perbincangan
orang-orang Syria tentang dirinya dan ketakjuban
mereka terhadap sebutan panglima besar,
dikumpulkannya
mereka
lalu
ia
berdiri
menyampaikan pidato, "Hai ummat manusia.
Sesungguhnya saya ini adalah seorang muslim dari
suku Quraisy. Dan siapa saja diantara kalian, baik
ia berkulit merah atau hitam yang lebih takwa dari
padaku, hatiku ingin sekali berada dalam
bimbingannya.
Kedudukannya sebagai panglima besar, dan
pemimpin tentara Islam yang paling banyak
jumlahnya dan paling menonjol keperwiraannya
serta paling besar kemenangannya, begitu pun
sebagai wali negeri diwilayah Syria yang semua
kehendakanya terjadi dan perintahnya ditaati, maka
semua itu dan lainnya yang serupa, tidak
menggoyahkan ketakwaanya sedikit pun, dan tidak
dijadikan andalan.
Amirul Mu'minin umar bin Khattab datang
berkunjung ke Suriah, kepada para penyambutnya
ditanyakannya: "Mana
saudara
saya?" "Siapa?," ujar mereka. "Abu 'Ubaidah
Ibnul Jarrah," katanya pula. Kemudian datanglah
Abu 'Ubaidah yang kemudian dipeluk oleh Amirul
Mu'minin, lalu mereka pergi bersama-sama
kerumahnya. Maka tidak satu pun perabotan rumah
tangga ada di rumah itu, kecuali pedang, tameng
serta pelana kendarannya.
Sambil
tersenyum,
Umar
bertanya
kepadanya, "Mengapa tidak kau ambil untuk
dirimu sebagaimana dilakukan oleh orang

lain?" Maka jawab Abu 'Ubaidah, "Wahai Amirul


Mu'minin, ini menyebabkan hatiku lega dan sempat
beristirahat."
Abu Ubaidah bin Jarah ra. ikut partisipasi
dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu
memiliki andil besar dalam setiap peperangan
tersebut. Dia berangkat membawa pasukan menuju
negeri Syam, dengan izin Allah dia berhasil
menaklukkan semua negeri tersebut.Ketika wabah
penyakit Taun merajalela di negari Syam, Khalifah
Umar bin Khatab ra mengirim surat untuk
memanggil kembali Abu Ubaidah.
Namun
Abu
Ubaidah
menyatakan
keberatannya sesuai dengan isi surat yang
dikirimkannya kepada khalifah yang berbunyi, "Hai
Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu, kalau
kamu membutuhkan saya, akan tetapi seperti kamu
ketahui saya sedang berada di tengah-tengah
serdadu muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan
diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan
saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah
sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan
mereka. Karena itu, sesampainya surat saya ini,
tolonglah saya dibebaskan dari panggilam beliau
dan izinkanlah saya tinggal di sini. " Setelah Umar
ra membaca surat itu, dia menangis, sehingga para
hadirin bertanya, "Apakah Abu Ubaidah sudah
meninggal?" Umar menjawab, "Belum, akan tetapi
kematiannya sudah di ambang pintu."
Menjelang kematian Abu Ubaidah ra dia
berpesan kepada pasukannya, "Saya pesankan
kepada kalian sebuah pesan, jika kalian terima,
kalian akan baik, 'Dirikanlah salat, bayar zakat,
puasalah bulan Ramadan, berdermalah, tunaikan
ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah
kalian, sampaikanlah nasihat kepada pimpinan
kalian, jangan suka menipunya, janganlah kalian
terpesona dengan keduniaan, karena betapapun
seorang melakukan seribu upaya, dia pasti akan
menemukan kematiannya seperti saya ini. Sungguh
Allah telah menetapkan kematian untuk setiap
pribadi manusia, oleh sebab itu semua mereka pasti
akan mati. Orang yang paling beruntung adalah
orang yang paling taat kepada Allah dan paling
banyak bekalnya untuk akhirat ... Assalamu alaikum
warahmatullah'. " Kemudian beliau melihat ke Muaz
bin Jabal ra dan mengatakan, "Ya Muaz! imamilah
salat mereka." Setelah itu, Abu Ubaidah ra. pun
menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sepeninggal Abu Ubaidah ra Muaz bin Jabal
berpidato di hadapan kaum muslimin yang

berisi, "Hai sekalian kaum muslimin! Kalian sudah


dikejutkan dengan berita kematian seorang
pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan
ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh
pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian
dan sangat senang memberi nasihat kepada semua
orang dari dia. Karena itu kasihanilah dia, semoga
kamu akan dikasihani Allah. "
Tatkala Amirul Mu'minin Umar Al-Faruq,
mendengar berita berkabung meninggalnya Abu
'Ubaidah. Maka terpejamlah kedua pelupuk matanya
yang telah digenangi air. Dan air itu pun meleleh,
hingga Amirul Mu'minin membuka matanya dengan
tawakal menyerahkan diri. Dimohonkannya rahmat
untuk sahabatnya itu, dan bangkitlah kanangankenangan lamanya bersama almarhum ra. yang
ditampungnya
dengan
hati
sabar
diliputi
duka. Kemudian diulangi kembali ucapan tersebut
sahabatnya itu, katanya: "Seandainya aku bercitacita, maka tak adalah harapanku selain sebuah
rumah yang penuh di diami oleh tokoh-tokoh
seperti Abu 'Ubaidah."
Orang kepercayan dari ummat ini wafat diatas bumi
yang telah disucikannya dari keberhalaan Persi dan
penindasan Romawi. Dan disana sekarang ini, yaitu
dalam pangkuan tanah Yordania, bermukim makam
yang mulia, tempat bersemayam jiwa yang tenteram
dan ruh pilihan.