You are on page 1of 17

KONSEP OBSTETRIK DAN GINEKOLOGI

DISUSUN OLEH KELOMPOK 2


ANIS ARUM NURAENI
GALUH CANDRA DEWI
DWI INDAH KRISNAWATI
NANANG LEO KUSUMAHENDRA
SRI WAHYUNI
DEWI WIRANING UTAMI
TRI RAHMANTO

KONSEP OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

A. ANATOMI FISIOLOGI REPRODUKSI PRIA

1. Kelenjar, yang termasuk kelenjar ialah :


a. Testis
Testis merupakan organ kelamin laki-laki tempat spermatozoa dan
hormone laki-laki dibentuk. Testosteron dehasilkan oleh testis, berkembang di
dalam abdomen sewaktu janin, dan turun melalui saluran inguinal kiri dan kanan
masuk ke dalam skrotum menjelang akhir kehamilan.
Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak
di dalam skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan. Testis
terletak menggantung pada urat-urat spermatic di dalam skrotum. Sepasang kelenjar
yang masing-masing sebesar telur ayam tersimpan di dalam skrotum masingmasing di tunika albugenia testis. Di belakang testis, selaput ini agak menebal
sehingga membentuk suatu bagian yang disebut mediastinum testis.
Testis memiliki 2 fungsi yaitu :

Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di tubulus


seminifeus

Menghasilkan hormone testosterone, dilakukan oleh sel interstial


b. Vesika Seminalis
Kelenjar yang panjangnya 5-10 cm, berupa kantong seperti huruf S

berbelok-belok, sekretnya yang alkalis bersama dengan cairan prostat merupakan


bagian terbesar semen yang mengandung fruktosa yang merupakan sumber energy
untuk spermatozoa. Vesika seminalis bermuara pada duktus deferens pada bagian
yang hamper masuk prostat. Dindingnya tipis, mengandung serabut otot dan
mukosa, terbagi menjadi ruang-ruang dan lekuk-lekuk yang penampangnya
memperlihatkan gambaran jembatan membrane mukosa.
Vesika seminalis mempunyai saluran yang dinamai duktus vesikula
seminalis. Duktus vesikula seminalis ini akan bergabung dengan duktus deferens.
Pengejakulatorius yang bermuara pada 2 buah kelenjar tubule alveolar yang terletak
di kanan dan kiri di belakang leher kandung kemih. Secret vesika seminalis
merupakan komponen pokok dari air mani. Fungsinya menghasilkan cairan yang
disebut semen untuk cairan pelindung spermatozoa.
c. Prostat
Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih di dalam pinggul dan
mengelilingi bagian tengah dari uretra. Biasanya ukurannya sebesar walnut dan
akan membesar sejalan dengan pertambahan usia.
Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan
sumber makanan bagi sperma atau menghasilkan cairan alkalis pada cairab
seminalis berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang terdapat
pada uretra dan vagma. Cairan ini merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan
lainnya yang membentuk semen berasal dari vas deferens dan dari kelenjar lendir di
dalam kepala penis.
Kelenjar prostat, merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30-50 kelenjar
yang terbagi atas empat lobus yaitu :
1. Lobus posterior
2. Lobus lateral
3. Lobus anterior
4. Lobus medial
d. Bulbouretralis

Kelenjar bulbo uretralis terletak di sebelah bawah dari kelenjar prostat


panjangnya 2-5 cm. Fungsinya hampir sama dengan kelenjar prostat.
2. Kelenjar duktuli, yang termasuk kelenjar duktuli :

a.

Epididimis
Epididimis merupakan saluran halus yang panjangnya 6 cm terletak

disepanjang atas tepi dan belakang dari testis. Terdiri dari kepala atau kaput yang
terletak di atas kutup testis. Badan dan ekor epididimis sebagian ditutupi oleh
lapisan visceral, lapisan ini pada mediastinum menjadi lapisan parietal.
Saluran ini dikelilingi oleh jariran ikat, spermatozoa melalui duktuli
eferentis merupakan bagia dari kaput epididimis. Duktus eferentis panjangnya 20
cm, berbelok-belok dan membentuk kerucut kecil dan bermuara ke duktus
epididimis tempat spermatozoa disimpan, masuk ke dalam vas deferens. Fungsinya
sebagai saluran penghantar testis, mengatur sperma sebelum diejakulasi, dan
memproduksi semen.
Semen terdiri dari secret epididimis, vesika seminalis dan prostat serta
mengandung spermatozoayang dikeluarkan setiap ejakulasi. Spermatozoa bergerak
dalam semen, lingkungan cairan alkalis melindungi dari keasaman.
b. Duktus deferens
Duktus deferens merupakan kelanjutan dari epididimis ke kanalis
inguinalis. Kemudian duktus ini berjalan masuk ke dalam rongga perut terus ke

kandung kemih di belakang kandung kemih. Akhirnya bergabung dengan saluran


vesika seminalis dan selanjutnya membentuk ejakulatoris, dan bermuara di prostat.
Panjang duktus deferens 40-50 cm berjalan bersama pembuluh darah dan
saraf dalam funikulus spermatikus melalui kanalis inguinalis, memanjang pada
bagian akhir berbentuk kumparan disebut ampula duktus deferentis. Duktus ini
terletak dalam osteum vesika seminalis berlanjut sebagai duktus ejakulatoris yang
menembus prostat.
c. Uretra
Uretra merupakan saluran kemih pada pria yang sekaligus merupakan
saluran ejakulasi (mani). Uretra memiliki 2 fungsi yaitu :

Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih
Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.

3. Bangun penyambung

a. Skrotum
Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan
melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk
testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang
sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh. Otot kremaster pada dinding
skrotum akan mengendur atau mengencang sehinnga testis menggantung lebih jauh
dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan
suhunya menjadi lebih hangat).
b. Fenikulus spermatikus

Fenikulus spermatikus merupakan bangun penyambung yang berisi duktus


seminalis, pembuluh limfe, dan serabut-serabut saraf.
c.

Penis

Penis terdiri dari:


Akar (menempel pada didnding perut)
Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).
Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung
glans penis. Dasar glans penis disebut korona. Pada pria yang tidak disunat
(sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona menutupi glans
penis. Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil:

2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak

bersebelahan
Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra.
Jika rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak
(mengalami ereksi)
I.

HORMON REPRODUKSI
1. Testosteron
Adalah hormon kelamin laki-laki yang disekresi oleh sel interstitial. Sel
ini terletak di dalam ruang antara tubulus-tubulus seminiferus, testis di bawah
rangsangan hormon, juga dinamakan ICSH (Interstitial Cel Stimulating Hormone)
dari hipofisis. Pengeluaran testosteron bertambah nyata pada pubertas dengan
pengembangan sifat-sifat kelamin sekunder yaitu tumbuhnya jenggot, suara lebih
berat, pembesaran genetalia.
Testosteron dihasilkan pada anak usia 11-14 tahun. Pembentukan ini
meningkat dengan cepat pada permulaan pubertas dan berlangsung hampir
sepanjang kehidupan. Berkurangnya kebepatan produksi setelah umur 40 tahun.
Pada umur 80 tahun menghasilkan testosterone lebih kurang 1/5 dari nilai puncak.
Testosterone meningkat kecepatan sekresinya oleh beberapa kelenjar utama pada
kelenjar sebasea. Pada wajah menimbulkan jerawat, gambaran yang paling sering
pada pubertas.
Fungsi tetosteron :

a. Efek desensus testis, ini menunjukkan bahwa testosterone merupakan


hal yang penting untuk perkembangan seks pria selama kehidupan manusia dan factor
keturunan
b. Perkembangan seksual primer dan sekunder. Sekresi testosterone
setelah pubertas menyebabkan penis, testis dan skrotum membesar sampai usia 20 tahun,
dan mempengaruhi pertumbuhan sifat seksual sekunder pria mulai pada masa pubertas.
2. Gonadotropin
Kelenjar hipofise anterior menyekresi dua hormon gonadotropin, FSH dan
LH. Kedua hormon ini mempunyai peranan penting yaitu mengatur fungsi seksual pria.
FSH untuk pengaturan spermatogenesis, perubahan spermatosid primer menjadi
spermatosid sekunder dari kelenjar hipofise anterior agar spermatogenesis berlangsung
sempurna. LH mengurangi sekresi testoteron kembali ke tingkat normal untuk
melindungi terhadap pembentukan testoteronyang selalu sedikit.
II.

SPERMATOGENESIS
Pada tubulus seminiferus mengandung banyak sel epitel germinativum
yang berukuran kecil, dinamakan spermatogenia menjadi spermatosit yang masingmasing mengandung 23 kromosom. Setelah beberapa minggu menjadi spermatozoa
spermatid, pertama kali dibentuk masih mempunyai sifat umum sel epiteloid.
Kemudian sitoplasma menghilang, spermatid memanjang menjadi spermatozoa
terdiri dari kepala, leher, badan dan ekor.

III.

SPERMA
Setelah pembentukan tubulus seminiterus, sperma masuk ke seminiferus
selama 18 jam sampai 10 hari hinga mengalami proses pematangan. Epididimis
menyekresi cairan yang mengandung hormone, enzim, dan gizi yang sangat penting
dalam proses pematangan sperma. Sebagian besar pada vas deferens dan sebagian
kecil di dalam epididimis.
CATATAN

Selama melakukan hubungan seksual, penis menjadi kaku dan tegak sehingga
memungkinkan terjadinya penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina). Ereksi terjadi
akibat interaksi yang rumit dari sitem saraf, pembuluh darah, hormon dan psikis.
Rangsang yang menyenangkan menyebabkan suatu reaksi di otak, yang kemudian

mengirimkan sinyalnya melalui korda spinalis ke penis. Arteri yang membawa darah ke
korpus kavernosus dan korpus spongiosum memberikan respon, yaitu berdilatasi
(melebar). Arteri yang melebar menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah erektil
ini, sehingga daerah erektil terisi darah dan melebar. Otot-otot di sekitar vena yang dalam
keadaan normal mengalirkan darah dari penis, akan memperlambat aliran darahnya.
Tekanan darah yang meningkat di dalam penis menyebabkan panjang dan diameter penis
bertambah.
Ejakulasi terjadi pada saat mencapai klimaks, yaitu ketika gesekan pada glans
penis dan rangsangan lainnya mengirimkan sinyal ke otak dan korda spinalis. Saraf
merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran epididimis dan vas deferens, vesikula
seminalis dan prostat. Kontraksi ini mendorong semen ke dalam uretra. Selanjutnya
kontraksi otot di sekeliling urretra akan mendorong semen keluar dari penis. Leher
kandung kemih juga berkonstriksi agar semen tidak mengalir kembali ke dalam kandung
kemih. Setelah terjadi ejakulasi (atau setelah rangsangan berhenti), arteri mengencang
dan vena mengendur. Akibatnya aliran darah yang masuk ke arteri berkurang dan aliran
darah yang keluar dari vena bertambah, sehingga penis menjadi lunak.

B. B. ANATOMI FISIOLOGI REPRODUKSI WANITA

Organ kelamin luar wanita memiliki 2 fungsi, yaitu sebagai jalan masuk sperma ke
dalam tubuh wanita dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari organisme penyebab
infeksi.
Saluran kelamin wanita memiliki lubang yang berhubungan dengan dunia luar,
sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa masuk dan menyebabkan infeksi
kandungan. Mikroorganisme ini biasanya ditularkan melalui hubungan seksual.
Organ kelamin dalam membentuk sebuah jalur (saluran kelamin), yang terdiri dari
Ovarium (indung telur), menghasilkan sel telur. Tuba falopii (ovidak), tempat
berlangsungnya pembuahan, dan Rahim (uterus), tempat berkembangnya embrio menjadi
janin, Vagina, merupakan jalan lahir. Terdiri alat / organ eksternal dan internal, sebagian
besar terletak dalam rongga panggul. Eksternal (sampai vagina) : fungsi kopulasi. Internal;
fungsi ovulasi, fertilisasi ovum, transportasi blastocyst, implantasi, pertumbuhan fetus,
kelahiran.
Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan / dipengaruhi oleh hormon-hormon
gondaotropin / steroid dari poros hormonal thalamus - hipothalamus - hipofisis - adrenal ovarium. Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ekstragenital yang juga dipengaruhi
oleh siklus reproduksi : payudara, kulit daerah tertentu, pigmen dan sebagainya.
GENITALIA EKSTERNA

1. Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons
pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae
externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.

2. Mons pubis / mons veneris (Tundun)


Bagian yang menonjol meliputi simfisis yang terdiri dari jaringan dan lemak, area ini
mulai ditumbuhi bulu pada masa pubertas.
3. Labia mayora (Bibir Besar)
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung
pleksus vena. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum
uteri berakhir pada batas atas labia mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora
menyatu (pada commisura posterior).
4. Labia minora (Bibir Kecil)
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak
terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.
5. Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus
clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik dengan
penis pada pria. Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah
dan ujung serabut saraf, sangat sensitif.
6. Vestibulum
Merupakan rongga yang berada di antara labia minora, muka belakang dibatasi oleh
klitoris dan perineum, dalam vestibulum terdapat muara-muara dari :
a.

Liang senggama (introitus vagina)

b. Uretra
c.

Kelenjar Bartolin

d. Kelenjar skene kiri dan kanan


7. Introitus / orificium vagina
Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis
bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk
bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain,
hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya
berbentuk fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous.
Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada
wanita pernah melahirkan / para.

Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata)


menutup total lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga
genitalia interna.
8. Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Panjangnya lebih kurang 4
cm. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma
urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra).
Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina. Perineum
meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan
lahir dan mencegah ruptur.
GENITALIA INTERNA

1. Vagina (liang kemaluan)


Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian
kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut
fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan
dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel
skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid.
Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan
untuk kopulasi (persetubuhan).

Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas
dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri.
Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior
dinding vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.
2. Uterus (rahim)
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa). Selama
kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus. Panjang
uterus 7 cm, lebar 5 cm, tebal 2 cm, berat 50 g. Pada rahim wanita dewasa yang
belum pernah menikah (bersalin) panjang uterus 5-8 cm dan beratnya 30-60 g.
Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks
uterus, isi konsepsi dikeluarkan. Uterus terdiri dari :
a. Serviks uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding
dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan
jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina
yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah
vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum
(dalam, arah cavum).
Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil,
setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang.
Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa
serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya
karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan
viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid.
b. Corpus uteri
Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum
latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga
lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta
dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh
sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium.
Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada
di atas vesica urinaria. Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus
bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita.
c. Fundus uteri (dasar rahim)

Bagian uterus yang terletak antara kedua pangkal saluran telur.


Dinding uterus terdiri dari :
a. Endometrium (epitel, kelenjar, jaringan dan pembuluh darah),
Merupakan lapisan dalam uterus yang mempunyai arti penting dalam siklus haid.
Seorang wanita pada masa reproduksi, pada kehamilan endometrium akan menebal,
pembuluh darah bertambah banyak yang diperlukan untuk memberi makanan pada janin.
b. Miometrium (lapisan otot polos)
Tersusun sedemikian rupa sehingga dapat mendorong isinya keluar pada waktu
persalinan. Sesudah plasenta lahir akan mengalami pengecilan sampaike ukuran normal
sebelumnya.
c. Lapisan serosa (peritoneum visceral)
Terdiri atas ligamentum yang menguatkan uterus yaitu :
1.
tidak turun
2.

Ligamentum karnidale kiri dan kanan, mencegah supaya uterus


Ligamentum sakrouterinum kiri dan kanan, menahan uterus supaya

tidak banyak bergerak


3.
Ligamentum rotundum kiri dan kanan, menahan uterus agar tetap
dalam keadaan antefleksi
4.
Ligamentum latum kiri dan kanan, ligamentum yang meliputi tuba
5.
Ligamentum infundibulo pelvikum, ligament yang menahan tuba
falopi
d.

Vaskularisasi uterus

Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri
ovarica cabang aorta abdominalis.
e.

Salping / Tuba Falopi

Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Ada 2 saluran telur kiri dan
kanan, panjang kira-kira 12 cm diameter 3-8 mm, berfungsi sebagai jalan transportasi
ovum dari ovarium sampai cavum uteri.
Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta
mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri atas :
a. Pars interstitialis, bagian yang terdapat di dinding uterus
b. Pars isthmica/isthmus, merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya
dan terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet

c. Pars ampularis (medial/ampula), tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah


daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi
implantasi di dinding tuba bagian ini.
d. Pars infundibulum (distal), dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae
abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi
"menangkap" ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya
ke dalam tuba.
f. Mesosalping
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus).
g. Ovarium
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kirikanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf.
Terdiri dari korteks dan medula.
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari
sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi
(pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka
interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars
infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae "menangkap" ovum
yang dilepaskan pada saat ovulasi.
Ovarium

terfiksasi

oleh

ligamentum

ovarii

proprium,

ligamentum

infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta


abdominalis inferior terhadap arteri renalis.
CATATAN :
Letak / hubungan anatomik antara organ2 reproduksi (uterus, adneksa,
dsb) dengan organ2 sekitarnya di dalam rongga panggul (rektum, vesika urinaria,
uretra, ureter, peritoneum dsb), vaskularisasi dan persarafannya, silakan baca
sendiri.

PROSES KONSEPSI

1. Ovulasi
Setiap bulannya, di dalam satu dari dua ovarium wanita, sekelompok seltelur yang belum
matang, mulai berkembang. Lebih tepatnya, perkembangan itu terjadi pada folikel
(kantung kecil berisi cairan, dimana sel telur bersemayam). (Baca selengkapnya tentang
tanda ovulasi di sini.) Dari sekian banyaknya, salah satu folikel terpilih untuk matang.
Kemudian, ia mulai menekan pertumbuhan folikel lainnya supaya tidak ikut tumbuh.
Folikel yang matang kemudian pecah dan melepaskan sel telur dari ovarium. Peristiwa
inilah yang disebut dengan ovulasi. Adapun ovulasi terjadi dua minggu sebelum periode
menstruasi berikutnya dimulai.
2. Pengembangan corpus luteum
Setelah ovulasi, folikel yang pecah berkembang menjadi struktur yang disebut sebagai
corpus luteum. Corpus luteum berperan untuk menghasilkan dua hormon. Pertama,

hormon progesteron yang mempersiapkan endometrium (lapisanrahim) agar embrio bisa


melakukan implan pada lapisan yang menebal. Kedua, estrogen.
3. Pelepasan sel telur
Sel telur dilepas dari folikel, ia berjalan menuju tuba falopi. Lantas, iatinggal di sana
sampai satu sperma melakukan penetrasi. Dengan penetrasi tersebut, pembuahan bisa
terjadi. Sel telur sendiri bisa dibuahi kurang lebih 24 jam setelah ovulasi.
4. Menstruasi
Jika tidak ada sperma yang membuahi, sel telur dan corpus luteum akan merosot. Tingkat
hormon yang tadinya tinggi, pun ikut menghilang. Akibatnya, endometrium terkelupas
dan terjadilah perdarahan menstruasi. Kemudian, siklus ini akan terus berulang setiap
bulan jika tidak ada pembuahan.
5. Inti proses konsepsi :Pembuahan
Inilah proses konsepsi yang paling penting! Jika sperma bertemu sel telur matang dan
melakukan penetrasi pasca ovulasi, ia akan membuahi sel telur tersebut. Perubahan pun
terjadi pada lapisan protein sel telur.Tujuannya agar sperma lain tidak masuk dan turut
melakukan penetrasi. Pada saat pembuahan, pembentukan genetik bayi selesai (termasuk
dengan pembentukan jenis kelaminnya).Karena ibu hanya memiliki kromosom X (pada
dasarnya, wanita berkromosom XX), jika ada sperma berkromosom Y yang membuahi,
maka bayi Anda akan menjadi bayi laki-laki. Ini karena bayi berkromosom XY. Namun
jika sperma X yang membuahi, bayi Anda adalah perempuan karena kromosomnya XX.
6. Implantasi
Dalam waktu 24 jam setelah pembuahan, sel telur mulai terbagi menjadi beberapa sel.
Saat itu, ia tinggal di tuba falopi selama tiga hari. Sel telur yang dibuahi inilah yang
disebut dengan zigot.Ia akan terus terbagi saat perlahan-lahan menuruni tuba falopi,
laluke uterus. Setelah mencapai uterus, ia akan tertanam ke endometrium. Inilah yang
dimaksud implantasi.Awalnya, zigot menjadi sel berbentuk bola padat.Kemudian berubah
menjadi bola berongga, yang kelak disebut blastokista (blastocyst).Sebelum implantasi
terjadi, blastokista akan memecahkan pelindungnya. Lalu saat blastokista membangun
kontak dengan endometrium, pertukaran hormon membantu blasto kista agar menempel
di lapisannya. Beberapa wanita mulai melihat bercak atau perdarahan ringan selam satu
hingga dua hari di sekitar waktu terjadinya implantasi. Setelah gejala itu terjadi,
endometrium menebal dan leher rahim disegel oleh lendir. Dalam waktu tiga minggu
kemudian, sel blastokista mulai tumbuh sebagai gumpalan sel berbentuk bola kecil.
Artinya, sel-sel syaraf pertama bayi sudah terbentuk. Bayi yang sedang berkembang,
akan disebut embrio semenjak waktu konsep sehingga delapan minggu kehamilan.
Setelah delapan minggu sampai waktunya kehamilan, ia tidak disebut sebagai embriolagi.
Ia akan disebut dengan foetus.
7. Hormon kehamilan

Human Chorionic Gonadotropin (hCG) adalah hormon kehamilan yang ada di darah
semenjak waktu konsepsi. Hormon ini diproduksi oleh sel yang membentuk
plasenta.Inilah hormon yang terdeteksi dalam tes kehamilan.