You are on page 1of 5

Abstrak & Executive Summary Laporan Akhir:

Fasilitas Pejalan Kaki Menuju Kota Hijau


Abstrak
Pedoman dan naskah kebijakan fasilitas pejalan kaki menuju kota hijau dibuat untuk memfasilitasi
kebutuhan penyediaan fasilitas pejalan kaki yang menerapkan konsep-konsep kota hijau sesuai dengan
amanat UU nomor 26/2007 tentang Penataan Ruang dan program kota hijau dari Kementerin
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pedoman dan naskah kebijakan ini akan menjadi jembatan
bagi penerapan konsep kota hijau pada fasilitas pejalan kaki dengan titik berat pada atribut green
transportation. Saat ini fasilitas pejalan kaki yang tersedia masih minim menerapkan konsep kota hijau,
sehingga dalam penyediaan banyak faktor yang belum mendukung gagasan ini. Hal ini menjadi
tantangan dalam upaya mendorong warga kota berjalan kaki dan mengurangi penggunaan kendaraan
bermotor.
Adaptasi konsep kota hijau dalam Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) dapat dijabarkan
sebagai konsep pengembangan kawasan perkotaan yang berkelanjutan dan menerapkan prinsip
perencanaan kota yang progresif dan implementatif (Djakapermana, 2013). Dengan demikian, konsep
kota hijau versi P2KH mendorong untuk terwujudnya kota yang berkelanjutan yang progresif dan dapat
diimplementasikan. Penyediaan fasilitas pejalan kaki dengan konsep kota hijau merupakan salah satu
bagian dari delapan atribut kota hijau, yaitu green transportation. Aktivitas berjalan kaki warga kota
menjadi penting karena dapat mengurangi penggunakan kendaraan bermotor dan menekan emisi
karbon (CO2). Selain itu, dengan semakin bertambahnya jumlah kota dan kabupaten di Indonesia yang
sudah menjadi anggota kota hijau, keberadaan kriteria perencanaan fasilitas pejalan kaki pada kota
hijau dapat menjadi rujukan bagi kota dan kabupaten di Indonesia dalam penataan ruang, khususnya
penyediaan fasilitas bagi pejalan kaki.
Keberadaan pedoman dan naskah kebijakan diharapkan dapat menjadi referensi dalam perencanaan,
penyediaan, dan pemanfaatan fasilitas pejalan kaki yang menerapkan konsep kota hijau. Pedoman
merupakan arahan teknis yang akan digunakan oleh pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat mulai
dari kegiatan perencanaan hingga pelaksanaan (detail engineering drawing dan konstruksi). Sedangkan
naskah kebijakan berfungsi sebagai referensi kebijakan-kebijakan terkait dengan fasilitas pejalan kaki
dan kota hijau, yang saat ini masih belum saling terintegrasi dengan baik. Naskah kebijakan tidak hanya
membahas mengenai kebijakan, tetapi juga memberikan rekomendasi terkait peraturan dan kebijakan,
kelembagaan, dan pendanaan, sehingga perencanaan fasilitas pejalan kaki menuju kota hijau dapat
memiliki landasan hukum yang jelas, skema kelembagaan dan kerjasama, dan skema pendanaan yang
jelas agar memudahkan implementasi.

Executive Summary
Sudah banyak kota-kota di Negara maju yang mengembangkan jalur pejalan kaki dengan
menggunakan pendekatan konsep hijau. Pendekatan ini mendorong pemerintah kota untuk tidak
sekedar membangun fisik jalur pejalan kaki, tetapi juga mempertimbangkan pentingnya kegiatan
berjalan kaki bagi peningkatan kualitas lingkungan kota. Di Indonesia, konsep kota hijau sudah
diperkenalkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sekitar tahun 2011. Konsep
kota hijau ini bertujuan untuk mendorong pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat untuk secara aktif
mendukung ide kota hijau. Meskipun demikian, integrasi antara konsep kota hijau dan perencanaan
fasilitas pejalan kaki belum menjadi satu kesatuan sehingga keduanya berjalan secara terpisah.
Pekerjaan ini bertujuan untuk menggabungkan konsep kota hijau dengan penyediaan fasilitas pejalan
kaki agar dapat mendukung atribut green transportation. Penyusunan naskah kebijakan dipandang
perlu karena hingga saat ini belum ada peraturan dan kebijakan khusus yang mengatur mengenai
perencanaan fasilitas pejalan kaki berbasis konsep kota hijau. Naskah kebijakan ini diperlukan untuk
memandu pemerintah kota/kabupaten yang akan melakukan pengembangan atribut Kota Hijau,
khususnya green transportation. Kebijakan dalam penyediaan fasilitas masih merupakan bagian khusus
dari kebijakan penataan ruang, tetapi belum secara memadai memberikan arahan atas penyediaannya
pada kota hijau. Naskah Kebijakan mengenai penyediaan fasilitas pejalan kaki ini penting mengingat
pada tahun-tahun mendatang jumlah kota yang menjadi anggota P2KH akan semakin bertambah. Pada
tahap 1 (2011 2014) telah terdaftar 107 kota/kabupatenmenjadi peserta P2KH. Jumlah tersebut
bertambah dengan bergabungnya 30 kota/kabupaten menjadi peserta baru P2KH pada tahun 2015.
Dengan semakin bertambahnya anggota P2KH, maka diharapkan semakin banyak kota yang
menerapkan Green transportation. Sedangkan pedoman akan berfungsi sebagai pedoman
perencanaan dan penyediaan fasilitas pejalan kaki dengan menintegrasi aspek linkgundan seperti fiturfitur lansekap, konsep penataan blok kawasan maupun kebutuhan spesifik kawasan.
Naskah kebijakan menekankan pada isu strategis dan kebutuhan spesifik dalam perencanaan,
perancangan, dan pembangunan fasilitas pejalanan kaki berbasis konsep kota hijau dan walkability.
Mekanisme kerjasama dan penganggaran kegiatan pembangunan yang akan melibatkan pihak
pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta menjadi bagian penting dalam kajian kebijakan ini
untuk mendorong implementasi. Kajian kebijakan ini disusun berdasarkan hasil kajian kebijakan terkait
fasilitas untuk pejalan kaki dan kota hijau, pengkajian di 4 lokasi studi (Kota Semarang, Kota Batu, dan
Kota Banjarmasin), serta Focus Group Discussion (FGD) di tingkat pusat.
Studi walkability berguna untuk membuat arahan kebijakan yang dapat memfasilitasi dan mendorong
aktivitas berjalan kaki. Pendekatan walkability digunakan untuk mengukur kelayakan berjalan pada

lingkungan pejalan kaki dengan memperhitungkan konektivitas jalur berjalan, kualitas fasilitas pejalan
kaki, kondisi jalan, pola tata guna lahan, dukungan masyarakat, keamanan dan kenyamanan untuk
berjalan. Pengukuran walkability merupakan evaluasi terhadap fasilitas yang sudah tersedia pada skala
yang berbeda, baik pada skala lokasi, tingkat jalan atau lingkungan, dan pada tingkat masyarakat.
Setiap tingkatan memiliki parameter yang berbeda. Pada skala lokasi, evaluasi walkability dipengaruhi
oleh kualitas jalur, jalan akses antar bangunan dan fasilitas terkait. Sedangkan pada tingkat jalan atau
lingkungan, evaluasi dipengaruhi oleh keberadaan jalur pejalan kaki (trotoar) dan penyeberangan serta
kondisi jalan (lebar, volume lalu lintas dan kecepatan). Pada tingkat masyarakat, evaluasi walkability
dipengaruhi oleh aksesibilitas tata guna lahan, seperti tempat umum tertentu yang biasa dituju dan
kualitas konektivitas di antara lokasi tertentu. Dengan demikian penerapan konsep walkability dapat
memperkaya kriteria perencanaan fasilitas pejalan kaki pada kota hijau. Terutama untuk mengetahui
kelayakan berjalan kaki pada fasilitas yang sudah disediakan sehingga dapat memfasilitasi dan
mendorong aktivitas berjalan kaki.
Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) merupakan gagasan inovatif untuk memecahkan masalah
di perkotaan berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Mengacu pada program
pengembangan kota hijau (2016), kota hijau didefinisikan sebagai kota yang ramah lingkungan dengan
memanfaatkan sumber daya air dan energi secara efektif dan efisien, mengurangi limbah, menerapkan
sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, mensinergikan lingkungan alami dan
buatan, berdasarkan perencanaan dan perancangan kota yang berkelanjutan. Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat telah mencanangkan P2KH sejak tahun 2011. Progam ini memiliki
delapan buah atribut yang menjadi fokus dalam penerapan konsep kota hijau, yaitu perencanaan dan
perancangan kota yang ramah lingkungan (green planning and design), peningkatan peran masyarakat
sebagai komunitas hijau (green community), konsumsi energi yang efisien (green energy), pengelolaan
limbah dengan prinsip 3R (green waste), bangunan hemat energi dan bangunan hijau (green building),
dan penerapan sistem transportasi yang berkelanjutan (green transportation).
Kendala yang dihadapi dalam pengembangan fasilitas pejalan kaki menuju kota hijau antara lain (1)
belum ada keterpaduan peraturan dan kebijakan bagi perencanaan fasilitas pejalan kaki dan kota hijau.
Hal ini berdampak pada kurang optimalnya program terkait dengan penyediaan fasilitas pejalan kaki
yang menerapkan konsep hijau sehingga upaya untuk mendukung green transportation masih belum
significant; (2) minimnya koordinasi antara instansi pemerintah baik pada level nasional hingga local
mengakibatkan belum adanya keterpaduan program dan kejelasan prosedur penyediaan fasilitas
pejalan kaki yang berbasis konsep kota hijau. Hal ini juga menyebabkan pelaksanaan program kota
hijau, khususnya green transportation berjalan lambat; (3) lemahnya evaluasi dan pengawasan
pelaksaaan program penyediaan fasilitas pejalan kaki sehingga permasalahan yang dihadapi belum
terpetakan dengan baik. Hal ini menyulitkan upaya untuk meningkatkan kualitas fasilitas pejalan kaki

dan menerapkan konsep kota hijau, khususnya atribut green transportation.


Untuk mengatasi persolana di atas, diusulkan strategi kelembagaan dan pendanaan yang melibatkan
pihak lain yaitu swasta dan masyarakat. Untuk mendorong dan mewadahi interaksi semua pihak, maka
perlu disediakan kelembagaan khusus sehingga aspirasi dan kontribusi dari pihak swasta dan
masyarakat dapat digunakan untuk penyediaan dan pemeliharaan fasilitas pejalan kaki. Bentuk
kelembagaan yang diusulkan merupakan bagian dari institusi pemerintah pemilihan format ini
dilakukan untuk mempermudah koordinasi dalam perencanan, penyediaan, dan pemeliharaan. Selain
penyiapan institusi pemerintah, juga perlu dilakukan penyiapan rancangan kerangka regulasi tentang
penerapan fasilitas pejalan kaki menuju kota hijau. (1) Perlunya tata cara penerapan fasilitas pejalan
kaki yang terintegrasi dengan kebijakan nasional terkait kota hijau. Saat ini, peraturan dan kebijakan
mengenai fasilitas pejalan kaki belum membahas tentang kota hijau, sehingga dalam perencanaan dan
implementasi belum menerapkan pendekatan kota hijau seperti pemanfaatan energi hijau, penyediaan
ruang hijau, pengelolaan sampah, keterlibatan komunitas dan swasta, dan lainnya. (2) Koordinasi antar
institusi sangat diperlukan mengingat dalam penerapannya, kementerian PUPR harus bekerjasama
dengan beberapa institusi terkait seperti Kementerian Perhubungan, dinas-dinas pemerintah propinsi
dan kabupaten/kota, pihak swasta, dan komunitas (masyarakat). Diharapkan koordinasi antar institusi
dapat mempermudah proses sosialisasi perencanaan, perancangan, dan implementasi. (3) Tata cara
kerjasama antar pihak-pihak terkait yang terlibat saling mendukung kegiatan penerapan fasilitas pejalan
kaki menuju kota hijau. Pemerintah dalam hal ini Kementerian PUPR yang di mendorong kerjasama
antara pihak-pihak terkait melalui penyediaan platform umum kerjasama, selanjutnya di daerah, Dinas
Pekerjaan Umum dapat mengembangkan platform kerjasama yang telah disesuaikan dengan peraturan
dan kebijakan daerah. Kerjasama dan keterlibatan seluruh pihak dalam kegiatan perencanaan
diharapkan dapat mengakomodasi masukan dari pihak-pihak terkait dalam penyediaan fasilitas pejalan
kaki yang berbasis konsep kota hijau sehingga dapat terlaksana dan mencapai tujuan yang diharapkan.
Strategi pendanaan memfokuskan pada sumber-sumber pendanaan infrastruktur fasilitas pejalan kaki
seperti (1) Dana alokasi khusus (DAK) adalah dana yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah untuk mendorong percepatan kegiatan pembangunan fisik di daerah. Pemanfaatan
dana DAK untuk pembangunan fasilitas pejalan kaki menuju kota hijau dapat dilakukan dengan
mengajukan proposal perencanaan dan anggaran biaya kepada pemerintah pusat. Apabila
perencanaan dan anggaran disetujui, pemerintah pusat akan mengalokasikan dana khusus untuk
pembangunan fasilita pejalan kaki. (2) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah
salah satu sumber pendanaan utama yang dapat digunakan untuk membiayai fasilitas pejalan kaki
menuju kota hijau. Pengajuan anggaran tahunan dapat diajukan oleh pemerintah daerah untuk
kemudian dibahas dan disetujui oleh pemerintah daerah dan DPRD. Apabila sudah disetujui besar
nominal anggaran, maka akan ditetapkan dengan peraturan daerah. (3) Hibah merupakan pemberian

uang/barang atau jasa dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat (dan sebaliknya) atau
pemerintah daerah lainnya, badan usaha milik Negara/badan usaha milik daerah, badan, lembaga dan
organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum Indonesia. Pemberian hibah bertujuan untuk
membantu/menunjang penyelenggaraan pembangunan atau urusan pemerintah daerah. Hibah bersifat
tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus. (4) Corporate Sosial Responsibility
(CSR). Berdasarkan Undang Undang no. 25/2007 tentang Penanaman Modal (UUPM) penjelasan
Pasal 15 huruf b, CSR adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanam modal
untuk menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan
budaya masyarakat setempat. Sedangkan menurut Undang Undang no. 40/2007 tentang Perseroan
Terbatas (UUPT) Pasal 1 angka 3, CSR adalah komitment perseroan untuk berperan serta dalam
pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan yang
bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembuatan naskah kebijakan dan strategi fasilitas
pejalan kaki penerapan menuju kota hijau akan memberikan arahan bagi perencanaan dan
perancangan pada tingkat pusat dan daerah. Naskah kebijakan menjelaskan posisi peraturan dan
kebijakan terkait fasilitas pejalan kaki dan analisis seluruh peraturan dan kebijakan yang ada untuk
mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam perencanaan fasilitas pejalan kaki sehingga naskah
kebijakan dapat memberikan rekomendasi dan usulan kebijakan terkait. Program nasional
pengembangan kota hijau sangat mendukung perencanaan fasilitas pejalan kaki sebagai bagian dari
atribut kota hijau green transportation. Meskipun demikian, program pengembangan kota hijau (P2KH)
perlu memiliki dasar hukum yang jelas sehingga dapat mengatur implementasi konsep kota hijau di
kawasan perkotaan di Indonesia. Perencanaan fasilitas pejalan kaki yang menerapkan konsep
walkability - kombinasi vegetasi, elemen estetika (tata informasi, warna vegetasi, dan lainnya), dan jalur
pejalaan kaki akan membentuk karakater ruang yang menarik sehingga akan menarik pejalan kaki
untuk berjalan kaki. Kebijakan dan strategi dalam penerapan fasilitas pejalan kaki berlandaskan pada
pendekatan pengembangan kawasan perkotaan yang terpadu sehingga dapat mendukung program
kota hijau dan tata ruang. Dengan demikian, penyediaan fasilitas pejalan kaki memerlukan dukungan
dari seluruh stakeholder baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta melibatkan pihak swasta.
Diharapkan dengan meningkatnya kualitas fasilitas pejalan kaki di kawasan perkotaan akan dapat
mendorong aktivitas sosial, ekonomi, dan keberlanjutan kota hijau.