You are on page 1of 5

Inilah Kehidupan

Setiap hari aku selalu bangun pagi untuk pergi ke


sekolah. Ketika ku buka jendela kamarku, aku teringat kalau
hari ini aku ada janji dengan

teman sekolahku

yang

merupakan teman masa kecilku, dia bernama Ghea. Saat ini


kami duduk di kelas x tingkat SMA. Kami akan berangkat ke
sekolah

bersama-sama.

Dengan

terburu-buru

aku

mempersiapkan diri, karena biasanya aku pergi ke sekolah


sendirian. Entah kenapa hari ini Ghea mengajakku untuk
pergi bersamanya.
Rumah

kami

tidak

begitu

jauh.

Setelah

selesai

mempersiapkan diri, aku langsung menuju rumahnya yang


berada di depan rumahku. Aku berjalan cukup cepat, karena
aku takut kalau dia sudah menungguku. Ternyata dia masih
berada di dalam rumah, dengan nafas yang terengah-engah
aku memanggilnya Ghea...Ghea..., udah siap berangkat
sekolah belum? Setelah aku menunggu beberapa menit,
kemudian terdengar suaranya ya... tunggu sebentar. Kami
terlihat dekat dan akrab sekali, sampai-sampai aku sangat
mempercayainya. Aku termasuk orang yang mudah bergaul
dengan

teman-teman

baru.

Namun

aku

tidak

suka

mengumbar atau menceritakan kisah hidupku kepada orang


lain. Terutama orang yang tidak terlalu ku percayai.
Tidak lama kemudian Ghea keluar dari rumahnya.
Kamipun langsung berangkat dan harus menunggu angdes
terlebih dahulu untuk sampai ke sekolah, karena jaraknya

yang cukup jauh. Ketika menunggu angdes kami berbincangbincang, kalau kata anak zaman sekarang sih curhat. Angdes
yang

kami

tunggu

pun

tiba.

Di

dalam

angdes

kami

melanjutkan pembicaraan. Bisa dibilang Ghea tahu kisah


hidupku dan masalah yang sedang ku alami, begitu juga
sebaliknya. Kami tiba di sekolah, Ghea langsung menghampiri
teman-temannya. Memang dia seorang perempuan yang
memiliki wajah cantik, tubuhnya tinggi, kalau orang bilang
fisiknya sempurna.
Keesokan

harinya,

tanpa

sengaja

aku

mendengar

pembicaraan Ghea dan teman-temannya di kelas. Ternyata


teman yang selama ini aku anggap baik dan sangatku
percayai tega menceritakan kisah hidupku. Aku langsung
masuk ke kelasnya dan memanggil Ghea keluar Ghea,aku
mau bicara. Apa maksudmu menceritakan kisah hidupku
kepada teman-temanmu. Aku sangat mempercayaimu tapi
kenapa kamu menghianati kepercayaanku. Dengan wajah
yang seakan-akan tanpa dosa dia menjawab Aku ingin
sepertimu yang memiliki banyak teman. Orang-orang bilang
fisik ku sempurna tapi aku tidak bisa memiliki teman
sepertimu, itulah sebabnya kenapa aku begini.
Dari kejadian hari itu aku dan Ghea tetap berteman tapi
kami tidak seakrab dulu. Aku bisa mengambil banyak
pelajaran dari masalahku dengan Ghea. Sekarang kalau ada
masalah aku lebih memilih untuk menceritakannya kepada
orang tuaku, karena aku sangat percaya kepada mereka.
Orang tuaku bilang kalau ada orang yang tidak suka

denganku dan mengejekku lebih baik aku diam, terserah


mereka mau bilang apa dan yang terpenting aku tidak
mengusik mereka.

Editor : Ardiansyah
Karya : Sulastri

Kebersamaan di Dalam Kesulitan


Pagi yang cerah itu adalah hari minggu. Hari dimana
kami

para

siswa

bebas

dari

tugas

sekolah

yang

membosankan. Akupun bergegas mandi kemudian menonton


film Doraemon kartun favoritku. Tiba-tiba handphoneku
berdering sangat keras. Dan aku mengambil handphoneku
yang ada diatas meja belajarku. Ternyata ada SMS masuk dari
teman akrabku yaitu Rio. Dalam persahabatan kami tiada hari
tanpa perbedaan pendapat, adu mulut dan perkelahian kecil.
Tapi kami tak pernah menganggap serius itu semua dan
saling memaafkan. SMS itu berisi bahwa Rio mengajakku
pergi ke rumah temannya pada pukul 11.30 WIB. Tanpa pikir
panjang lagi aku langsung menyetujuinya.
Saat jam menunjukkan pukul 09.30 WIB. Aku teringat
dengan janjiku kepada Rio untuk menemaninya ke rumah
temannya. Setelah itu aku bersiap-siap dan mengganti
pakaianku. Ketika aku telah selesai mengganti pakaian, aku

pun menunggunya sambil menonton televisi. Setelah lama


menunggu Rio tak kunjung datang itu membuatku kesal.
Beberapa

menit

kemudian

dia

datang

dengan

wajah

cemberut.
Rio cepat sekali kau datang. Aku hampir menjamur
disini kataku dengan ketus.
Maafkan aku. Ada masalah kecil di rumah bibiku
katanya memelas.
Sudah lupakan, ayo kita pergi.
Pada saat diperjalanan hendak ke rumah temannya Rio. Kami
menceritakan apa yang kami tidak sukai.
Aku mengatakan bahwa aku tidak suka belajar berenang
karena terkadang kepalaku sering pusing saat menyelam. Rio
menjawab pertanyaanku dengan sombongnya bahwa dia itu
bisa berenang. Dia belajar dengan membalikkan ember dan
dia pun bisa berenang. Dia paling tidak suka kalau sepeda
motornya mogok di jalan.
Beberapa saat kemudian motor itu berjalan dengan
pelan dan akhirnya berhenti. Hal yang ditakutkan Rio pun
terjadi dan bengkel belum terlihat sepanjang jalan tadi. Aku
mengatakan mungkin bensinnya habis, tapi dia tak percaya
padaku. Sepanjang jalan dia terus mendorong motor dan
berceloteh tak karuan dan terkadang dia menyalahkan aku.
Aku hanya bisa tertawa geli karena mimik mukanya saat
marah sangat lucu.

Ketika sampai di bengkel hari sudah mulai sore. Dan hal


yang kuduga benar sekali, motornya Rio habis bensin. Dia
tidak tahu bahwa spidometernya tak berfungsi. Aku sudah
menduganya tadi, tapi kau tidak percaya padaku kataku
dengan ketus. Rio tertawa terbahak-bahak sehingga aku
semakin kesal padanya. Ketika sampai di rumahku Rio
mampir

untuk

beristirahat

menunggu

maghrib.

Setelah

maghrib selesai Rio berpamitan untuk pulang. Sebelum


pulang aku berpesan kalau motormu tiba-tiba mogok lagi
jangan sungkan untuk menghubungiku, dengan senang hati
aku akan membantumu. Rio hanya menjawab dengan
senyuman dan berkata Baiklah temanku.

Editor : Berlian Septiawan


Karya : Siti Wulandari