You are on page 1of 3

ABSTRAK

Latar Belakang:
Otitis media adalah salah satu dari infeksi yang paling sering menyerang anakanak usia muda. Walaupun paparan terhadap asap tembakau di lingkungan
diketahui sebagai faktor resiko terhadap kejadian otitis media, masih terlalu
sedikit informasi mengenai adanya hubungan yang potensial antara otitis media
dengan polusi udara.
Tujuan:
Untuk mengetahui hubungan antara paparan polusi udara terkait lalu lintas
dengan otitis media pada dua kelompok kelahiran kohort.
Metode:
Perkiraan paparan individu terhadap konsentrasi polutan udara terkait lalu lintas
di lingkungan terbuka nitrogen dioksida, partikel halus [partikulat dengan
diameter aerodinamis 2,5 m (PM2.5)], dan karbon elemental dihitung pada
lingkungan tempat tinggal sekitar 3.700 bayi dari studi kelompok kelahiran
Belanda dan 650 bayi dari studi kelompok kelahiran Jerman. Paparan polusi
udara dianalisis dalam kaitannya dengan diagnosis otitis media oleh dokter
dalam 2 tahun pertama kehidupan.
Hasil:
Odd ratio (disesuaikan dengan faktor risiko utama yang diketahui) untuk otitis
media menunjukkan asosiasi positif dengan polutan udara terkait lalu lintas.
Peningkatan 3 ug/m3 PM2.5, 0,5 mg/m3 karbon elemental, dan 10 mg/m 3 NO2
dikaitkan dengan odd ratio dari 1,13 (95% confidence interval, 1,00-1,27), 1,10
(1,00-1,22), dan 1,14 (1,03-1,27) di Belanda dan 1,24 (0,84-1,83), 1,10 (0,861,41), dan 1,14 (0,87-1,49) di Jerman.
Kesimpulan:
Penelitian ini menunjukkan hubungan antara paparan polusi udara terkait lalu
lintas dan kejadian otitis media. Mengingat sifat dari paparan polusi udara dan
pentingnya otitis media untuk kesehatan anak-anak, temuan ini memiliki
implikasi kesehatan pada masyarakat.
Kata Kunci:
polusi udara, penelitian kohort, bayi, otitis media, emisi kendaraan.

PENDAHULUAN
Otitis media merupakan salah satu dari infeksi yang paling sering menyerang
anak-anak. Sebanyak tiga dari empat anak mengalami otitis media dalam 3
tahun pertama kehidupan, dengan sebagian besar infeksi terjadi sebelum usia 2
tahun (Bluestone dan Klein, 2001). Otitis media adalah salah satu penyebab
utama kunjungan dokter di masa kanak-kanak (Freid et al. 1998) dan merupakan
alasan utama bagi anak-anak untuk mengkonsumsi antibiotik atau menjalani
operasi di negara maju (Rovers et al. 2004). Otitis media efusi (OME), dimana

cairan dan lendir terjebak di dalam telinga setelah infeksi, dapat menyebabkan
gangguan pendengaran konduktif, yang mana jika menetap maka akan
mengakibatkan keterlambatan dalam perkembangan kemampuan bicara,
bahasa, dan kemampuan kognitif anak (Klein 2000; Teele et al 1990). Otitis
media akut yang rekuren berakibat pada penurunan kualitas pengukuran hidup
pada anak-anak dan juga stres untuk pengasuh mereka (Brouwer et al. 2005). Di
samping itu, biaya yang harus dibayar terkait dengan otitis media baik secara
langsung maupun tidak langsung cukup tinggi. Di Amerika Serikat, biaya
perawatan kesehatan tahunan untuk otitis media diperkirakan menghabiskan 3-5
milyar dollar Amerika (Bondy et al. 2000). Biaya tidak langsung yang digunakan
untuk upah pengasuh penderita juga pengeluaran yang substansial dan mungkin
jumlahnya dapat melebihi biaya langsung. Pada tahun 1994, total biaya tahunan
untuk otitis media di Kanada diperkirakan mencapai 611 juta dollar Amerika atau
setara dengan 60% dari total biaya ekonomi yang terkait dengan semua bentuk
diabetes (Coyte et al. 1999). Selain itu, terdapat data yang membuktikan adanya
peningkatan angka kejadian otitis media setiap tahunnya (Bluestone dan Klein
2001; Lanphear et al. 1997). Oleh karena itu, identifikasi faktor resiko otitis
media yang berpotensial untuk dicegah, seperti paparan polusi udara, akan
berdampak signifikan terhadap pengurangan jumlah biaya yang dikeluarkan
untuk otitis media. Namun, karena polusi udara umumnya tidak dianggap
sebagai faktor resiko terjadinya otitis media, maka penyakit ini juga tidak
dievaluasi dalam skrining biaya dan dampak negatif polusi udara terhadap
kesehatan (Kunzli et al. 2000).
Relevansi khusus untuk hubungan yang mungkin antara paparan polusi udara
dan otitis media adalah kekuatan paparan asap tembakau di lingkungan atau
Environmental Tobacco Smoke (ETS) sebagai faktor risiko terjadinya otitis media
(Jinot dan Bayard 1996; National Cancer Institute 1999; Departemen Kesehatan
dan Pelayanan Masyarakat AS 1986). Sebuah meta-analisis kuantitatif yang
diterbitkan pada tahun 1998 menyimpulkan bahwa terdapat hubungan sebabakibat yang konsisten antara orangtua yang merokok di rumah dengan
terjadinya otitis media akut (Strachan dan Masak 1998). Meskipun temuan
tersebut dan sejumlah besar studi menilai tentang dampak paparan polusi udara
ambien pada infeksi saluran pernapasan atas, hubungan potensial antara
episode otitis media dan paparan polusi udara ambien belum diperiksa secara
detail. Oleh karena itu, kami menilai hubungan antara polusi udara terkait lalu
lintas dengan otitis media dalam dua kelompok kelahiran, yang mana satu
kelompok berada di Belanda dan kelompok lain bertempat di Munich, Jerman.
Analisis sebelumnya pada kelompok Belanda menunjukkan adanya hubungan
yang signifikan antara paparan polusi udara terkait lalu lintas dengan kombinasi
antara
infeksi
saluran
pernapasan
atas
berat
dan
infeksi
telinga/hidung/tenggorokan dalam periode 12 bulan sebelum anak menginjak
usia kedua (Brauer et al. 2002), tapi infeksi yang terjadi tidak spesifik untuk otitis
media. Analisis yang lebih awal terfokus pada periode usia 12 hingga 24 bulan,
yang mana angka kejadian otitis media tertinggi pada kelompok usia 6-11 bulan
(Rovers et al. 2004). Analisis kohort terdahulu pada kelompok Jerman
menunjukkan asosiasi antara paparan polusi udara dengan batuk (nokturnal
kering) tanpa infeksi pernafasan (Gehring et al. 2002). Namun sayangnya tidak
satu pun dari analisis di atas yang melakukan penilaian secara independen

terhadap episode terjadinya otitis media dan hubungannya dengan paparan


polusi udara.