You are on page 1of 5

Anatomi dan Fisiologi Sistem Respirasi

Saluran pernafasan atas terdiri dari:


a.

Hidung
Hidung adalah pintu masuk pertama udara yang kita hirup. Udara keluar melalui sistem
pernafasan yaitu hidung yang terbentuk atas dua tulang hidung dan beberapa kartilago. Terdapat
dua pipi pada dasar hidung-nostril (lubang hidung), atau nares eksternal yang dipisahkan oleh
septum nasal di bagian tengah. Lapisan mukus hidung adalah sel epitel bersila dengan sel goblet
yang menghasilkan lendir dan juga sebagai sistem pembersih pada hidung (Asih, 2003: 2). Zat
mukus yang disekresi hidung mengandung enzim lisosom yang dapat membunuh bakteri

(Alsagaff, 2006: 9).


b. Faring
Faring atau tenggorokan adalah tuba muskular yang terletak di posterior rongga nasal dan oral
dan di anterior vertebra servikalis. Faring dapat dibagi menjadi tiga segmen, setiap segmen
dilanjutkan oleh segmen lain nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Nasofaring terletak di
belakang rongga nasal, orofaring terletak di belakang mulut sedangkan laringofaring terletak di
belakang laring (Asih, 2003: 5).
c. Laring
Laring menghubungkan trakhea dengan faring (Underwood, J.C.E, 1999: 14).
Laring sering disebut kotak suara fungsinya untuk berbicara, selain itu juga untuk mencegah
benda padat agar tidak masuk ke dalam trakhea. Dinding laring dibentuk oleh tulang rawan
(kartilago) dan bagian dalamnya dilapisi oleh membran mukosa bersilia, kartilago laring tersusun
9 buah, kartilago yang terbesar adalah kartilago tiroid atau disebut dengan buah jakun pada pria,
terkait di puncak tulang rahang tiroid terdapat epiglotis yang fungsinya membantu menutup
laring sewaktu orang menelan makanan. Pita suara terletak di kedua sisi selama bernafas, pita
suara tertahan di kedua sisi glotis sehingga untuk dapat masuk dan keluar dengan bebas dari
trakhea. Selama berbicara otot intrinsik laring menarik pita suara untuk menghasilkan bunyi

yang selanjutnya diubah menjadi kata-kata. Saraf kranial motorik yang mempersarafi faring
untuk berbicara adalah nervus vagus dan nervus aksesorius (Asih, 2003: 5).
Saluran pernafasan bawah terdiri atas
a.

Trakhea (pipa udara), adalah saluran udara tubular yang mempunyai panjang sekitar 13 cm.
Trakhea terletak di depan esofagus, tepat di permukaan leher. Dinding trakhea disangga oleh
cincin-cincin kartilago, otot polos dan serat elastik. Cincin kartilago berbentuk kaku guna
mencegah agar tidak kolaps dan menutup jalan udara. Bagian dalam trakhea dilapisi membran

mukosa bersilia (Asih, 2003: 5).


b. Bronkhial, ujung distal trakhea terbagi menjadi bronkhus primer kanan dan kiri yang terletak di
dalam rongga dada. Bronkhus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada yang kiri. Fungsi
percabangan bronkhial untuk memberikan saluran bagi udara antara trakhea dan alveoli agar
c.

jalan udara tetap terbuka dan bersih (Pearce, 2006: 215).


Alveoli, berjumlah sekitar 300 sampai 500 juta di dalam paru-paru orang dewasa. Fungsinya
adalah sebagai satu-satunya tempat pertukaran gas antara lingkungan eksternal dan aliran darah.
Alveoli dikelilingi oleh dinding yang tipis yang terdiri atas satu lapis epitel skuamosa. Di antara
sel epitel terdapat cairan khusus yang menyekresi lapisan molekul lipid yang disebut surfaktan.
Cairan ini dibutuhkan untuk menjaga agar permukaan alveolar tetap lembab, tanpa surfaktan
tekanan permukaan akan menjadi demikian besar sehingga membutuhkan upaya muskular yang
sangat besar untuk mengembangkan alveoli (Asih, 2003: 3-8). Surfaktan adalah suatu zat
campuran antara lemak fosfat, lemak jenis lain, protein dan karbohidrat yang disekresi oleh
epitel alveol tipe II, surfaktan berperan menurunkan tegangan permukaaan pada cairan alveol
sehingga alveol lebih mudah berkembang pada waktu inspirasi dan mencegah alveol menutup
pada akhir respirasi. Faktor yang dapat mempengaruhi sintesa surfaktan adalah hormon tiroid
dan hormon kortikosteroid (Alsagaff, 2006: 12).

d. Paru-paru, terletak di kedua sisi jantung di dalam rongga dada dan dikelilingi serta dilindungi
oleh sangkar iga. Bagian dasar setiap paru terletak atas diafragma, bagian apeks paru (ujung
superior) terletak setinggi klavikula . Pada permukaan tengah dari setiap paru terdapat identasi
yang disebut hilus tempat bronkus primer dan masuknya arteri serta vena pulmonasi ke dalam
paru. Bagian kanan dan kiri paru terdiri atas percabangan saluran yang membentuk jutaan
alveoli, jaring-jaring kapiler dan jaringan ikat.
Setiap paru dibagi menjadi kompartemen yang lebih kecil pembagian pertama disebut lobus.
Paru kanan terdiri atas 3 lobus dan lebih besar dari kiri yang hanya terdiri 2 lobus. Lapisan yang
membatasi antara lobus disebut fisura. Lobus kemudian dibagi lagi menjadi segmen. Setiap
segmen terdiri atas banyak lobulus yang masing-masing mempunyai bronkhiale, arterioale,
venula dan pembuluh limfatik.
Dua lapis membran serosa mengelilingi setiap paru dan disebut sebagai pleura. Lapisan terluar
disebut pleura parietal yang melapisi dinding dada dan mediastinum. Lapisan dalamnya disebut
pleura viseral yang mengelilingi paru. Rongga pleura ini mengandung cairan yang dihasilkan selsel serosa di dalam pleura. Jika cairan yang dihasilkan berkurang atau membran pleura
membengkak, akan terjadi suatu kondisi yang disebut pleuritis dan terasa sangat nyeri karena
e.

membran pleura saling bergesekan (Asih, 2003: 9).


Toraks, rongga toraks terdiri atas rongga pleura kanan dan kiri dan bagian tengah yang disebut
mediastinum. Satu-satunya organ dalam rongga toraks yang tidak terletak di dalam mediastinum
adalah paru-paru (Asih, 2003: 9).

Fisiologi pernafasan
Fisiologi pernafasan adalah serangkaian proses interaksi dan koordinasi yang kompleks yang
mempunyai peranan sangat penting dalam mempertahankan kestabilan atau homeostasis
lingkungan internal tubuh kita. Ventilasi pulmonal adalah istilah teknis dari bernafas terdiri dari

inspirasi yaitu gerakan perpindahan udara masuk ke dalam paru-paru dan ekspirasi yaitu gerakan
udara meninggalkan paru-paru. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:
a.

Inspirasi
Diafragma berkontraksi, bergerak ke arah bawah dan mengembangkan rongga dada dari atas ke
bawah. Otot-otot interkosta eksternal menarik iga dari atas keluar yang mengembangkan rongga
dada ke arah samping kiri dan kanan, dengan begitu pleura parietal ikut mengembang diikuti
oleh pleura viseral, yang menyebabkan tekanan intrapulmonal turun di bawah tekanan atmosfer
dan udara masuk melalui hidung dan akhirnya sampai alveoli (Asih, 2003: 11). Otot otot yang
digunakan untuk inspirasi adalah difragma (paling utama), muskulo intercostalis externus,
muskulo scaleneus, muskulo sternocleidomastoideus dan muskulo pectoralis minor (Alsagaff,

2006: 13).
b. Ekspirasi
Diafragma dan otot-otot interkosta rileks, karena rongga menjadi lebih sempit, paru-paru
terdesak dan jaringan elastiknya meregang selama inhalasi, mengerut dan juga mendesak alveoli.
Dengan meningkatnya tekanan intrapulmonal di atas tekanan atmosfir, udara didorong keluar
paru sampai kedua tekanan sama kembali(Asih, 2003: 10-11). Otot-otot yang digunakan untuk
ekspirasi adalah intercostalis internus dan otot-otot dinding perut (Alsagaff, 2006: 13).

Ganong W. F. (2005). Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC, hal 130-131


Guyton A. C (2004). Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC hal 774-775, 1141-1151
Nowak J. T (2006), Essentials of Patophisiology: Consepts and Applications for Health Care
Professionals. Second Edition, the McGraw-Hill Companies. Page 48-51.
Patton H. D (2006). Fuchs A.F, Hill B, Scher A. M, dan Steiner B. Textbook of Physiology.
Philadelphia. Saunders Company