You are on page 1of 14

ANATOMI DAN FISIOLOGI SKLERA

Pendahuluan

Sklera adalah struktur jaringan yang padat yang terdiri dari kumpulan kolagen-
kolagen dengan ukuran yang bervariasi. Sklera berasal dari bahasa Yunani sklera mannix
yang berarti membran yang keras, yang dapat melindungi komponen intraokuler.Sklera
merupakan lapisan dinding paling luar dan menempati empat per lima bola mata. Bagian
anteriornya terlihat di bawah konjungtiva sebagai bagian mata yang berwarna putih, tapi
dengan pemeriksaan teliti dapat terlihat pembuluh darah yang memperdarahi episklera
terutama di daerah segmen anterior bola mata antara konjungtiva dan sklera.Fungsi sklera
untuk memberikan bentuk bola mata dan merupakan jaringan penunjang yang kuat.1,2,3
Sklera mengandung 70% air. Serat-serat kolagen sklera dimana 90% nya adalah
kolagen tipe I merupakan 75-80% dari berat kering sklera. Untuk memahami fungsi
sklera maka dalam sari pustaka ini akan dibahas tentang embriologi, anatomi, fisiologi,
vaskularisasi, innervasi dan komposisi sklera dengan harapan dapat menambah
pemahaman kita mengenai sklera.2,4

Gambar 1.Anatomi mata


5

Embriologi
Hampir seluruh sklera berasal dari neural crest kecuali sebagian kecil di temporal
yang berasal dari mesoderm. Sklera berkembang dari anterior ke posterior dan dari dalam

1
ke luar. Pada minggu ke-5, masing-masing vesikel optik berinvaginasi membentuk
neuroectoderm. Differensiasi neural crest menjadi sklera dan koroid terjadi pada minggu
ke-6 di anterior dan ke posterior pada minggu ke-8 dan mencapai polus posterior pada
minggu ke-12. Pada bulan ke-4 serat-serat sklera membentuk skleral spur.1,6

Gambar 2. Embriologi sklera 3

Anatomi
Sklera menutupi empat per lima permukaan bola mata. Di bagian anterior kornea
dan di bagian posterior terdapat nervus optik. Tendon dari otot rektus berinsersi ke
kolagen sklera superfisial. Kapsul tenon menutupi sklera dan otot rektus di sebelah
anterior dan keduanya dilapisi oleh konjungtiva bulbi . Kapsula tenon dan konjungtiva
menyatu dekat limbus.1,3
Sklera paling tipis ( 0,3 mm) di belakang insersi otot rektus dan paling tebal ( 1,0
mm) pada daerah posterior sekitar papil nervus optik. Ketebalan sklera 0,4-0,5 mm pada
ekuator dan 0,6 mm di anterior insersi otot rektus.1,3,7,8,9,10,11
Otot rektus medial berinsersi 5,5 mm di sebelah posterior limbus, otot rektus
inferior 6,5 mm, otot rektus lateral 6,9 mm dan otot rektus superior 7,7 mm. Insersi dari
otot oblik superior dan otot oblik inferior di sebelah posterior ekuator.1

2
Gambar 3. Insersi otot rektus 8

Sklera hampir keseluruhannya terdiri dari kolagen. Lapisan paling bawah dari
sklera berbatasan dengan koroid disebut lamina fusca. Sklera dilapisi oleh fascia bulbi
(kapsula Tenon) dan oleh episklera. Kornea yang transparan menyatu dengan sklera yang
opak pada daerah limbus (true limbus). 3

Konjungtiva bulbi
Konjungtiva bulbi adalah membran mukosa yang transparan, epitelnya berlanjut
dengan epitel kornea dan terletak di atas stroma konjungtiva yang berikatan secara
longgar dengan jaringan penyambung di bawahnya. Di depan otot rektus , konjungtiva
melekat longgar pada kapsula Tenon di bawahnya . Kira-kira 3 mm dari limbus, jaringan
subkonjungtiva dan kapsula Tenon menyatu. Di limbus, konjungtiva dan kapsula Tenon
tidak dapat dipisahkan dari episklera dan sklera di bawahnya. Secara mikroskopik, epitel
permukaan mengandung sel goblet perifer. Jaringan subkonjungtiva mengandung
pembuluh darah, sejumlah fibroblast , polimorfonukleosit, limfosit, sel plasma dan
melanosit yang bertambah jumlahnya di daerah dekat limbus.3
Kapsula Tenon
Kapsula Tenon dari limbus melapisi otot rektus dan bulbus okuli posterior hingga
ke nervus optik. Pada limbus, kapsula Tenon tidak terpisahkan dari episklera di bawahnya
dan makin menebal 3 mm dari limbus dimana kapsula Tenon dapat terpisah dari episklera

3
di bawahnya.Di belakang insersi otot , fasia bulbi menipis kecuali di bawah ekuator ia
menjadi sangat tebal untuk membentuk ligamentum Lockwood dimana mata bersandar.
Ke belakang di atas otot, kapsula Tenon menebal membentuk ligamentum check. Kapsula
Tenon menebal antara otot levator palpebra dan rektus superior sehingga memudahkan
mata melihat ke atas dan antara rektus inferior ke palpebra sehingga memudahkan mata
melihat ke bawah. Di sebelah posterior, kapsula Tenon begitu tipis sehingga sulit
membedakan dimana berakhirnya di nervus optik.3,7

Gambar 4. Fascia pada muskulus dan bola mata (kapsula tenon) 6

Episklera
Episklera membentuk aspek superfisial sklera yang berlanjut superfisial dengan
kapsula Tenon dan menyatu dengan stroma sklera di bawahnya. Episklera terdiri dari
kumpulan kolagen yang tersusun longgar berbaur dengan fibroblast, melanosit,
proteoglikan dan glikoprotein.Aliran darahnya berasal dari arteri siliaris anterior dan
melekat kuat ke jaringan subkonjungtiva , insersi otot rektus dan kapsula Tenon.Episklera
paling tebal di anterior insersi otot rektus dan menipis ke arah belakang mata.
Perlekatannya dengan kapsula Tenon kuat di dekat limbus dan berkurang di dekat
ekuator.1,3,7

Stroma sklera

4
Di bawah episklera terdapat stroma sklera dengan serat yang makin tebal dan
terjalin , sehingga sklera menjadi kuat dan elastik.Stroma sklera juga terdiri dari
kumpulan kolagen yang berbaur dengan fibroblast, melanosit , serat elastik, proteoglikan
dan glikoprotein. Serat pada sklera mirip dengan yang terdapat pada sendi. Serat pada
tendon otot rektus berbaur dengans serat sklera hingga ke limbus. Tebal sklera bervariasi,
yang paling tebal di daerah posterior 1-1,35 mm dan berkurang ke arah ekuator 0,4-0,6
mm. Sklera paling tipis di bawah otot rektus 0,3 mm. Dari tempat insersi otot ke limbus,
sklera makin tebal hingga 0,8 mm di dekat kornea. Di depan sklera anterior terletak
kanalis Schlemm, trabekular meshwork dan skleral spur.1,3,7,8

Lamina fusca
Lapisan terdalam sklera yang berbatasan dengan uvea disebut lamina fusca.Kata
fusca berasal dari bahasa Latin fuscus yang berarti gelap. Pada daerah ini kolagennya
kecil dan mengandung banyak serat elastik. Lamina fusca berwarna gelap karena
mengandung melanosit yang bermigrasidari koroid ke lapisan dalam sklera. Lamina
fusca dilekatkan ke koroid oleh serat kolagen. Kumpulan kolagen di lamina fusca
menjadi lebih tipis dan terdapat banyak serat elastik.1,3

Scleral spur
Sleral spur merupakan struktur yang penting karena bentuknya yang kaku
menguatkan stabilitas bentuk kornea. Di sebelah anterior, serat sklera superfisial berbaur
dengan serat episklera di limbus.Serat yang lebih dalam berlanjut dengan kornea. Serat
kolagen dari scleral spur berlanjut sebagai serat korneoskleral trabekular
meshwork.berukuran 40 nm di trabekular dan 80 nm dekat sklera.3

5
Gambar 5. Skleral spur 8

Limbus
Limbus adalah daerah selebar 1-2 mm antara kornea dan sklera (true limbus).
Konjungtiva menutupi sklera , melanjutkan ke depan ke daerah kornea 1,5 2 mm
disebut limbus konjungtiva, sedangkan kapsula Tenon di belakang menutupi sklera
disebut limbus kapsula Tenon.3

Sklera posterior
Sklera posterior ditembusi oleh saraf optik 3 mm medial ke garis tengah dan 1
mm di bawah horisontal. Di sebelah posterior serat sklera berlanjut dengan pembungkus
dura saraf optik dan sisanya membentuk matriks kolagen melewati saraf optik yaitu
lamina kribrosa.3

Vaskularisasi sklera dan episklera


Stroma sklera tidak mengandung pembuluh darah pada keadaan normal,
walaupun arteri siliaris posterior brevis dan longus dan saraf dan vena vortex
melewatinya dalam kanal fibrous dan arteri siliaris posterior brevis beranastomose di
sklera. Stroma mendapatkan nutrisi melalui jaringan nutisi episklera dan khoroidal.1,3

6
Gambar 6. Vaskularisasi sklera6

Gambar 7. Vaskularisasi sklera 3

Episklera dan kapsula Tenon mendapatkan aliran darah dari arteri siliaris yang
berasal dari arteri oftalmikus , cabang dari arteri carotid interna. Arteri siliaris posterior
longus berjalan 3,6 mm di nasal ke 3,9 mm temporal ke saraf optik. Arteri ini berjalan
oblik melewati sklera menuju otot siliar, badan siliar, iris, dan beranastomose dengan
arteri siliaris anterior.Anterior fasia diperdarahi oleh arteri siliaris anterior. Di anterior

7
sklera terdapat arteri superfisial yang merupakan kelanjutan arteri muskular dari ke
keempat otot rektus. Pada saat arteri ini meninggalkan otot , melewati permukaan tendon
ke episklera superfisial ( dua arteri pada setiap otot kecuali otot rektus lateral yang hanya
mempunyai satu.). Cabang-cabang terminal ini akan saling beranastomose membentuk
sirkulus arteri episklera sekitar 4 mm dari limbus. Sirkulus ini memberi cabang ke arkade
limbal , ke kapsula Tenon (lapisan parietal superfisial dari episklera) ke lapisan episklera
di bawahnya. Pada limbus , terdapat anastomose dengan pembuluh darah konjungtiva
anterior yang berasal dari sirkulasi carotid external. Arteri siliaris anterior juga
beranastomose dengan asteri siliaris posterior longus . Sirkulasi arterial sagital antara
arteri siliaris posterior longus dan arteri siliaris anterior dan sirkulasi koronal adalah
sirkulus arterial episklera dan sirkulus iris. Anastomose arteri ke arteri antara arteri
siliaris anterior dengan arteri siliaris posterior longus berguna untuk menjaga agar
segmen anterior mata selalu mendapat aliran darah walaupun terdapat tekanan pada bola
mata.1,3

Gambar 8. Vaskularisasi sklera 3

Sklera posterior diperdarahi oleh pembuluh darah dari sirkulus siliaris posterior
brevis sebelum memasuki sklera menunju ke saraf optik dan daerah makula. Drainase

8
vena mulai di arkade limbal dan dialirkan ke sirkulus arterial episklera. Ada aliran vena
ke vena konjungtiva. Cabang sirkulus arteri episklera beranastomose dengan vena
episklera dalam jaringan episklera.1,3

Aliran Limfe Episklera


Limfe dari jaringan episklera superfisial mengalir ke daerah subkonjungtiva ke
nodus parotid nasal dan ke nodus submandibular temporal. Limfe dari tempat lainnya di
sklera dan episklera melewati orbita melalui ruang perivaskuler sekitar vena dan ke limfe
jugular dan nodus servikal dalam.3

Innervasi Sklera
Bila terjadi inflamasi pada sklera maka terasa sangat nyeri. Innervasi sensoris dari
sklera berasal dari cabang nasosiliar dari canang pertama N.V. Saraf nasosiliar berjalan
bersama arteri oftalmikus di atas nervus optik dan di bawah otot rektus superior.1,3

Gambar 9. Innervasi sklera 3

Innervasi sklera posterior berasal dari nervus siliaris brevis yang memasuki sklera
melalui ganglion siliar dekat ke nervus optik. Di sebelah anterior , innervasi berasal dari

9
cabang nervus siliaris longus yang berjalan bersama arteri siliaris posterior. Nervus
siliaris longus berasal dari nervus nasosiliar. Di ekuator, nervus siliaris longus terbagi,
ada yang kembali ke arah posterior memasuki khoroid di daerah lamina fusca. Yang ke
arah anterior , memasuki badan siliar , sebagian membentuk loops of Axenfeld.1,3
Nervus siliaris longus lewat di atas dan di luar memasuki sklera kira-kira 3 mm
dari limbus dan memberi cabang-cabang ke kornea, trabekular meshwork, kanalis
Schlemm dan episklera.1,3

Histologi dan komposisi sklera


Komposisi sklera terdiri dari kolagen, elastin dan proteoglikan . Matriks ini
diproduksi oleh fibrosit sklera. Struktur sklera dipertahankan oleh kumpulan fibril koagen
yang bervariasi diameter longitudinal dan transversal sehingga sklera terlihat opak. Serat
kolagen bervariasi ukurannya di tiap kumpulan , ketebalannya 10 16 mikrometer dan
lebanya 100-140 mikrometer. Kolagen ini diperkuat oleh serat elastik, utamanya di
ekuator dimana sklera paling tipis ( 0,3 mm) dan di limbus dan saraf optik. Struktur ini
membuat sklera viskoelastik.1,3

Gambar 10. Potongan longitudinal sklera3

Kolagen

10
Kolagen, protein terbanyak di tubuh, membentuk 25% total protein tubuh dan
90% atau lebih protein di kartilago, tendon, ligamen, tulang dan mata. Fibril kolagen
berfungsi menjaga integritas jaringan. Kolagen bersama dengan proteoglikan membentuk
substansi dasar. Proporsi kolagen di sklera 68%. Kolagen disintesa oleh fibroblast.
Kolagen ada beberapa tipe. Tipe I berfungsi unuk tahan terhadap tekanan atau ekspansi.
Tipe III esensial untuk mempertahankan struktural . Tipe V untuk mengontrol diameter
serat dan tipe V dan VI ditemukan di luar fibril, sering memisahkan filamen dari
pembuluh darah dan saraf. Di sklera terdapat kolagen tipe I, III, V, VI dan VIII.3,10
Kolagen pada sklera paling banyak berupa tipe I. Diameter seratnya bervariasi
dari 28 nm sampai 30 nm di lamina fusca dan jaringan sklera dalam . Serat yang di luar
lebih besar , diameternya 62 nm.1,3,4

Tabel 1. Collagen types (of the 19 genetically distinct types of collagen. Types I, III, V, VI,
and VIII have been identified in scleral tissue)
Type I Chain composition [(1)I]22; found in sclera cornea, skin, bone, and tendon
Type II [(1)II]3 identified in hyaline cartilage
Type III [(1)III]3 found in some connective tissue disease, in sclera, foetal skin, vascular,
and expansible tissue
Type IV [(1)IV]3 (basement membrane collagen) in lens and blood vessels; not present
elsewhere in sclera
Type V Anchoring protein between basement membrane and stroma
Type VI Anchoring protein holding nerves and vessels in bundles
Type VII Absent from scleral tissue
Type VIII Present in scleral tissue

Tabel 1. Jenis kolagen3

11
Gambar 11. Kolagen sklera 3

Elastin
Komponen sklera lainnya adalah elastin. Serat elastin disekresikan oleh fibroblast
sklera sebagai respon terhadap tekanan. Di sklera, elastin terletak paling banyak di
lapisan dalam sklera dan di garis tekanan otot ekstraokuler. Elastin terdiri dari asam
amino hidrofobik non polar seperti alanin, valin, isoleusin, dan leusin, desmosin dan
isodesmosin dan mengandung sedikit hidroksi proline dan tidak mengandung
hidroksilisin1,3.
Struktur sklera memberi proteksi melalui komposisi seratnya. Sklera bersifat
viskoelastik dan bila tekanan intraokuler naik misalnya dengan menyuntikkan cairan ke
dalam mata maka tekanan akan meningkat lalu secara perlahan kembali ke keadaan
awal.1,3

Proteoglikans
Jaringan penyambung terdiri atas kolagen dan substansi dasar, kebanyakan terdiri
dari proteoglikan yang merupakan produk dari fibroblast. Proteoglikan terdiri dari protein

12
inti dimana rantai glikosaminoglikan terikat.Glikosaminoglikan yang terdapat pada
jaringan sklera adalah dermatan sulfat, khondroitin sulfat, heparan sulfat dan asam
hialuronat. Dermatan sulfat dan khondroitin sulfat adalah glikosaminoglikan yang paling
banyak di sklera. Proporsi glikosaminoglikan bervariasi di sklera. Chondroitin sulfat dan
asam uronik meningkat dari ekuator ke polus posterior , konsentrasi maksimal 2 mm dari
fovea.3

Fisiologi Sklera
Meskipun sklera dilalui oleh pembuluh darah , arteri dan vena siliaris, vena
vortex, tapi sklera mendapat nutrisi dari pembuluh darah episklera dan khoroidal. Sel
yang aktif dalam struktur sklera adalah fibrosit. Gunanya untuk memperbaiki matriks
kolagen yang rusak. Jaringan sklera berpengaruh terhadap aliran humor akuos melalui
skleral spur dan otot siliar dan perlekatan tendon.Sklera bersifat permeabel terhadap
cairan dan substansi dengan berat molekul dibawah 3 kDa.3,4
Sklera mempertahankan bentuknya melalui kombinasi tekanan intraokuler dan
komposisi kolagen dan jaringan elastiknya. Ini dikenal denga rigiditas sklera.
Sklera mempunyai fungsi untuk memberikan bentuk bola mata dan merupakan jaringan
penunjang yang kuat. Sebagian besar struktur sklera terbentuk dari jaringan kolagen yang
padat, kuat, elastis yang terdapat pada stroma sklera dan memberikan kekuatan pada
sklera sehingga tahan terhadap benturan dan cedera.12

Penutup
Sklera sebagian besar tersusun atas kolagen tipe I dan elastin untuk memberikan
kekuatan dan elastisitas. Sklera melekat kuat dengan episklera dan melekat longgar
dengan kapsula Tenon yang membungkus otot.
Sklera merupakan pembungkus fibrosa pelindung mata bagian luar. Jaringan ini
padat dan berwarna putih dan bersambungan dengan kornea di sebelah anterior dan
duramater nervus optik di belakang. Sklera berfungsi memberikan bentuk bola mata dan
merupakan jaringan penunjang yang kuat.

13
Daftar Pustaka

1. La Maza MS, Foster CS. Sclera. In: Duanes Clinical Ophthalmology on CD-ROM.
Philadelphia : Lippincott Williams&Wilkins: 2003.
2. Newell FW, Anatomy and Embriology. In: Ophthalmology Principle and Concept. 6ed
St.Louis: Mosby.1986:5-14.
3. Watson PG, Hazleman BL, Pavesio CE, Green WR. Anatomical, physiological and
comparative aspect. In: The Sclera and Systemic Disorder. 2nd ed. Butterworth
Heinemann: Edinburgh, 2004: 15-38.
4. Kaufman PL, Albert. The cornea and sclera .In: Adlers Physiology of The Eye. 10th ed
USA: Mosby. 1998 : 80-103.
5. Sclera. 2008. (Acessed 1 September 2008, at http://en.wikipedia.org/wiki/Sclera).
6. Riordan-Eva P.Anatomi dan Embriologi Mata. In: Vaughan DG, eds. Oftalmologi
Umum, Edisi 14. Jakarta : Widya Medika ; 2000 : 5-29.
7. Snell RS, Lemp MA. The Eyeball. In :Clinical Anatomy of The Eye. 2nd ed. Blackwell
Science. Malden. 1998: 139-43.
8. Liesegang TJ, Skuta GL, Cantour LB. Ocular Developmant. In: Fundamentals and
Principle of Ophthalmology , section 2. American Academy of Ophthalmology. San
Fransisko. 2005-2006: 47-52.
9. James B, Chew C, Bron A. Anatomy .In: Lectures Notes on Ophthalmology.9 th ed.
Blackwell Science. Malden: 2003 :6.
10.Girolamo ND. Anatomical and Biochemical Aspects of the Sclera. In: Fundamentals
Of Clinical Ophthalmology Scleritis.1st ed . London: BMJ.2001:1-13.
11. Scleritis. 2008.(Acessed 1 September 2008, at http://www.emedicine.com/EMERG/
topic521.htm)
12. Conjuctival and scleral disorders. 2003. (Accessed 1 September 2008, at
http://www.merck.com/mmhe/sec20/ch229a.html)

14