You are on page 1of 22

Proses kimia - Aminasi 1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan YME, karena dengan karunia-Nya kami
dapat menyelesaiakan makalah yang berjudul Proses Aminasi. Meskipun banyak hambatan
yang kami alami dalam proses pengerjaannya, tapi kami berhasil menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya.
Tidak lupa kami sampaikan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah membantu
dan membimbing kami dalam mengerjakan makalah ini. Kami juga mengucapkan terimakasih
kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun
tidak langsung dalam pembuatan malakah ini.
Karena itu kami berharap semoga makalah ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi
kita bersama. Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini bisa
bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Yogyakarta, 14 April 2014

Penulis
Proses kimia - Aminasi 2

DAFTAR ISI
Halaman judul

Kata pengantar 1

Daftar isi 2

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 3


1.2 Rumusan Masalah 4

BAB II Pembahasan

2.1 Jenis-jenis amina 5


2.2 Proses pembentukan amina 5
2.2.1 Aminasi secara reduksi 5
2.2.1.1 Reduksi dengan besi dan asam 8
2.2.1.2 Reduksi dengan logam dan alkali 10
2.2.1.3 Reduksi menggunakan gas hidrogen (hidrogenasi) 10
2.2.1.4 Reduksi dengan gas elektrolisa 10
2.2.1.5 Reduksi menggunakan garam sulfida 11
2.2.2 Aminasi secara amonolisis 12
2.2.2.1 Amonolisis substitusi 14
2.2.2.1.1 Amonolisi alkana 14
2.2.2.1.2 Amonolisis senyawa halogenida 14
2.2.2.1.3 Amonolisi senyawa sulfonat atau sulfat 15
2.2.2.1.4 Amonolisis alkohol 15
2.2.2.1.5 Amonolisis senyawa karbonil 16
2.2.2.2 Amonolisis secara adisi 16
BAB III Penutup 21
Daftar Pustaka 22
Proses kimia - Aminasi 3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Aminasi adalah proses dimana suatu gugus amina dimasukkanke sebuah
molekul organik. Enzim yang mengkatalisis reaksiini, yang disebut aminases. Hal ini
dapat terjadi dalam beberapa cara termasuk reaksi dengan amonia atau amina lain
seperti alkilasi,aminasi reduktif dan reaksi Mannich. Salah satu produksi bahan
kehidupan sehari-hari yang menggunakan bahan yang dapat diperbaharui adalah
produksi amina rantai panjang melalui proses aminasi alkohol rantai panjang. Amina
rantai panjang merupakan turunan dari ammonia dimana satu atau lebih atom hidrogen
telah digantikan oleh gugus alkil dari asam lemak dan bersifat kationik, basa ,dan aktif
secara biologis. Amina rantai panjang dapat berupa amina primer, sekunder dan tersier
dilihat dari jumlah gugus alkil yang terikat pada atom nitrogen (Gervajio, 2005).
Amphetamine telah disintesis pada tahun 1887 oleh ilmuwan Jerman yang
bernama L. Edeleano. Pada tahun 1927, peneliti bernama Gordon Ales dari USA
menemukan bahwa amphetamine dapat berefek sebagai pengganti ephedrine.
Kemudian, pada tahun 1930 diketahui bahwa amphetamine dapat meningkatkan
tekanan darah dan tahun 1932 dipasarkan sebagai benzedrine secara over the counter
inhaler untuk mengobati hidung yang tersumbat (nasal congestion). Selanjutnya, pada
tahun 1935 diketahui efek stimulansia dari amphetamine untuk pertama kalinya. Pada
tahun 1938, untuk pertamakalinya dipublikasikan hasil laporan bahwa amphetamine
dapat menyebabkan addiction (kecanduan) dan penyakit kejiwaan.
Tahun 1940, amphetamine digunakan untuk peningkat performa oleh orang
Jepang, Jerman dan Amerika dalam Perang Dunia II. Pada saat itu, amphetamine
digunakan oleh militer dalam peperangan. Efek stimulansia yang dihasilkan oleh
amphetamine ini digunakan untuk membantu prajurit agar tetap siaga selama berjam-
jam. Pada tahun 1950-1953, amphetamine diberikan kepada pasukan Amerika dalam
perang di Korea.
Amina rantai panjang dan turunannya telah diketahui memiliki banyak
kegunaannya antara lain sebagai pelembut pakaian (Reck, 1962) juga dapat digunakan
sebagai anti iritasi pada shampoo yang mengandung natrium laurelsulfat dan zinc
piridinthione (Gerstein, 1977). Oktadekilamin juga dapat digunakan bersama dengan
Proses kimia - Aminasi 4

lemak sebagai obat dan bersifat spesifik artinya tidak berbahaya bagi manusia
(Banerjee, 2007). Turunan oleilamina dan stearilamina dapat menggantikan zink dialkil
ditiofosfat sebagai bahan pelumas (Kocsis, 2010). Senyawa amina rantai panjang dapat
dibuat dengan cara hidrogenasi rantai panjang dengan katalis nikel atau kobalt dengan
tekanan sebesar 100-500 Psi (Allain, 1983).
Berdasarkan uraian di atas yang telah menyebutkan banyak manfaat yang
didapat dari senyawa amina, maka dari itu makalah ini akan membahas proses aminasi
dalam pembuatan senyawa amina rantai panjang secara detail.

1.2 Rumusan Masalah


Berikut adalah beberapa rumusan masalah dalam makalah ini Proses Aminasi
yakni sebagai berikut :
a. Bagaimana prinsip kerja dari proses aminasi?
b. Apa saja faktor yang mempengaruhi proses aminasi?
Proses kimia - Aminasi 5

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Jenis-jenis amina


Amina adalah turunan amoniak, dimana 1 atom H atau lebih diganti dengan gugus alkil
(R), aril, hidroatil atau heterosiklik. Ada tiga macam amina, yaitu:

2.2 Proses pembentukan amina


Aminasi adalah proses pembentukan amina. Aminasi dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu:
1. Aminasi secara reduksi
Adalah proses pembuatan amina berdasarkan reaksi reduksi
2. Amonolisis
Adalah proses pembuatan amina dari reaksi dengan amonia

2.2.1 Aminasi secara reduksi


Aminasi adalah proses proses memasukkan gugus amina (-NH2) ke dalam senyawa
organik, sebagai contoh produksi anilin (C6H5NH2) dengan mereduksi nitrobenzen (C6H5NO2)
dalam fase cair (gambar 1) atau dalam fase uap pada fluidized bed reactor (gambar 2).
Proses kimia - Aminasi 6

Gambar 1 dan 2. (Atas (1) : Produksi anilin oleh reduksi nitrobenzen , Bawah (2) :
Reduksi fase uap dari nitrobenzen menjadi anilin)

Untuk beberapa dekade, satu-satunya metode yang digunakan adalah dengan


meletakkan gugus amina ke dalam sebuah aryl nucleus yang terlibat dengan menambahkan
sebuah gugus nitro (-NO2), kemudian reduksi hingga menjadi gugus amina (-NH2).
Zat yang dapat direduksi adalah senyawa-senyawa yang telah mengandung atom N,
yaitu :
1. Senyawa nitro (R-NO2)
2. Senyawa nitroso (R-NO)
3. Senyawa hidroksilamin (R-NH-OH)
4. Senyawa hidraso (R-NH-NH-R)
5. Senyawa azoxybenzena (R-NH-NO-R)
6. Senyawa nitril (R-CN), azida, amida (RCO-NH2)
Proses kimia - Aminasi 7

Tanpa menggunakan bejana bertekanan tinggi dan katalis, reduksi harus dilakukan
oleh pereaksi yang bekerja di bawah tekanan atmosfer. Reduktor yang biasa digunakan pada
aturan ini adalah:
1. Logam dan asam
Logam yang digunakan adalah : Fe, Zn, Sn, Al sebagai sumber elektron. Asam yang
digunakan adalah : HCl, H2SO4 sebagai sumber ion H+. HNO3 jarang digunakan karena
mempunyai sifat sebagai oksidator kuat.
2. Logam dan basa
Logamnya adalah : Fe, Zn, Sn, Al
Basa : NaOH, KOH
3. Sulfida
Untuk mereduksi sebagian senyawa polinitro aromatik menjadi nitro amina dan
mereduksi aminoantraquinon menjadi antraquinon.
4. Sulfit (Na-sulfit dan bisulfit)
5. Hidrogen (H2) dengan katalis
Penggunaan hidrogen sebagai reduktor, biasanya dengan katalisator. Reduksi dengan
hidrogen disebut hidrogenasi.
6. Elektrolisa
Ion hidrogen dihasilkan dari elektrolisa. Hidrogen inilah yang kemudian melakukan
reduksi.
7. Na-hidrosulfit
8. Metal hidrida
9. Natrium dan Na-alkoholat
Pereduksi tersebut di atas memiliki kekuatan mereduksi yang berbeda. Yang paling
banyak digunakan adalah logam dan asam. Dengan memilih reduktor yang sesuai dan
mengatur kondisi operasi, maka reduksi dapat dihentikan tidak sampai hasil akhir.
Pengaruh kekuatan zat pereduksi tersebut dapat dilihat pada hasil reduksi nitrobenzena
sebagai berikut :
Proses kimia - Aminasi 8

2.2.1.1 Reduksi menggunakan Besi dan Asam.


Disebut juga reduksi Bechamp.
Reaksi :

Apabila reaksi dijalankan pada bejana gelas, maka mula-mula terbentuk


endapan kehijauan dari mula Fe(OH)2, kemudian endapan coklat dari Fe(OH)3;
kemudian endapan coklat dari Fe3O4. Reaksi:

Aminahidroklorida bereaksi dengan besi dan nitrobenzena:

a. Mekanisme Elektronik :

Penataan ulang :
Proses kimia - Aminasi 9

Jadi ada 3 tahap reaksi, yang setiap tahapannya membutuhkan 2 mol H2 dan
3 atom Fe yang menjadi ion Fe2+. Hidrogen juga dihasilkan dari reaksi samping
berikut ini:

b. Termodinamika
Usaha Memperbesar hasil :
1. Logam berlebih (2,5-5 mol/mol senyawa nitro)
2. HCl berlebih
3. H2O berlebih
4. H2O hasil samping tidak diusir karena berfungsi sebagai pensuspensi
5. Suhu dicari yang optimum
c. Kinetika
Untuk mempercepat Reaksi :
1) Memperbesar A
2) Logam dan asam diperbesar
3) Suhu dinaikkan sampai optimum
Proses kimia - Aminasi 10

4) Ditambahkan zat pelarut untuk memudahkan pencampuran. Contohnya:


alkohol, piridin, dan lain-lain.

2.2.1.2 Reduksi menggunakan Logam dan Alkali

2.2.1.3 Reduksi dengan gas Hidrogen (Hidrogenasi)


Pada reduksi senyawa dengan gas hidrogen digunakan katalisator. Fungsi
katalisator adalah mengganggu kestabilan hidrogen, sehingga mudah menjadi ion
H+. Katalisator berfungsi mengikat elektron, sehingga H2 dapat menjadi 2H+.
Reaksi-reaksinya adalah:
RNO2 + 3H2 RNH2 + 2H2O
RCN + 3H2 RCH2N2
RCONH2 + 2H2 RCH2NH2 + H2O
2RRC=NOH + 5H2 2(RRCH2NH2) + 2H2O
RCSNH2 + 2H2 RCH2NH2 + H2S
Katalisator yang digunakan adalah : Ni, Co, Cu, Fe, Pd, Wo, Pt, Sn, Ag, dan lain-
lain.
Logam dalam keadaan murni atau merupakan logam oksida. Katalisator Ni
paling banyak digunakan karena reaktivitasnya tinggi serta bekerja dengan baik
pada suhu operasi yang lebih rendah dari pada katalisator Sn ataupun Cu.
Keuntungan menggunakan metode ini adalah:
Kapasitas besar, H2 murah (apabila merupakan hasil samping)
Range kondisi operasi luas
1.Tekanan : 14,7 psi beberapa ribu psi
2.Suhu : 20-300oC
3.Katalisator banyak macamnya
Tidak ada hasil buangan, kecuali katalisator (tidak ada masalah limbah).

2.2.1.4 Reduksi dengan Elektrolisa


Secara umum reduksi dengan cara ini terkontrol dengan baik, yield tinggi dan
produk samping sedikit. Proses ini digunakan untuk mereduksi senyawa alifatik,
senyawa mono, di, dan trinitro aromatik menjadi nitroso, hidroksilamina, azoksi,
azo, hidrazo dan amino.
Proses kimia - Aminasi 11

Elektroda yang digunakan adalah:


Anoda : C, Cu, Zn, Cd, Hg, Ni, Pt, Pb, Sn, amalgam Pb dan Zn.
Katoda : Fe, Ni, Pt, C dan Pb.
Sedangkan elektrolit yang digunakan adalah: H2SO4, HCl, NaOH, garam-garam
anorganik dan garam-garam organik.
Sel yang digunakan adalah sel yang berbahan anti korosi, misal : kaca.
Faktor penting yang berpengaruh pada hasil adalah : densitas arus, konsentrasi
arus, suhu, komposisi elektroda, elektrolit dan promotor.

Contoh reaksi untuk senyawa nitro:

RNO2 + 6H+ + 6e RNH2 + H2O


Sebagai contoh, reduksi nitrobenzena menggunakan elektrolit asam sulfat pekat:
C6H5NO2 + 4H+ + 4e p-HOC6H4NH2 + H2O

2.2.1.5 Reduksi dengan garam sulfida


Garam-garam sulfida yang dipakai adalah : natrium sulfida (Na2S),
Natrium hidrosulfit, natrium polisulfida,amonium sulfida dan lain-lain. Proses
ini digunakan untuk produksi :
1. nitroamina dari senyawa dinitro, contoh : m-dinitrobenzena mnitroanilin
2. reduksi nitrofenol
3. reduksi nitroantraquinon
4. pembuatan senyawa aminoazo
Reduksi senyawa nitro oleh alkali sulfida, berlangsung sesuai reaksi
sebagai berikut :
4RNO2 + 6Na2S + 7H2O RNH2 + Na2S2O3 + NaOH
RNO2 + Na2S2 + H2O RNH2 + Na2S2O3
4RNO2 + 6NaHS + H2O 4RNH2 + 3 Na2S2O3

Saat logam digunakan untuk menghasilkan pereduksi hidrogen, beberapa kesulitan


proses dihasilkan. Biaya yang dikeluarkan sangat besar sehingga perlu untuk menemukan
penggunaan lain dari bahan yang bereaksi. Besi yang telah terpakai kadang-kadang bisa
Proses kimia - Aminasi 12

digunakan untuk penyiapan zat warna atau untuk menyerap hidrogen sulfida. Pengadukan
dalam bejana yang mengandung logam sedikit sulit.
Aminasi dengan reduksi biasa dilakukan dalam bejana besi cor (kapasitas 1600 gal,
atau lebih besar) dan reduksi alkali dalam bejana baja karbon dengan berbagai ukuran yang
dibutuhkan. Bejana biasanya dilengkapi dengan dengan nozzle yang berada di dasarnya,
sehingga lumpur besi oksida atau seluruh muatan dapat keluar setelah reaksi selesai.
Pada beberapa reduktor, sebuah batang pengaduk vertikal yang terbuat dari besi cor
digunakan untuk menjaga partikel besi dalam suspensi pada bagian bawah bejana dan untuk
merawat semua komponen reaksi yang mengalami kontak. Pengaduk juga berfungsi untuk
membantu agar difusi senyawa amina berada jauh dari permukaan logam dan dengan demikian
kontak antara tubuh nitro dan permukaan katalitik menjadi lebih sering terjadi.
Pada skala yang kecil, perengkahan amonia bisa menghasilkan hidrogen untuk reduksi.
Transpor dan penyimpanan hidrogen sebagai amonia berbentuk padat, dan prosedur
perengkahan (cracking) melibatkan sebuat pipa panas yang dimasukkan dengan katalis dan
dicelup dalam tangki garam yang telah dilelehkan. Nitrogen yang ikut bersama hidrogen yang
dihasilkan bersifat inert.

2.2.2 Aminasi dengan cara amonolisis


Aminasi juga diperoleh dengan penggunaan amonia (NH3), dalam sebuah proses yang
disebut sebagai amonolisis. Sebagai contoh, produksi anilin (C6H5NH2) dari klorobenzen
(C6H5Cl) dengan amonia (NH3). Reasi dapat terjadi hanya bila berlangsung pada tekanan yang
tinggi.
Amonolisis didefinisikan sebagai proses pembentukan amina dari reaksi dengan amonia.
RX + NH3 RNH2 + HX
Dimana X dapat berupa : halogen, NO2, SO3H dan lain-lain
Bahan yang digunakan untuk pengaminasi adalah :
1. NH3 gas atau cair
2. NH3 dalam air (NH4OH) atau dalam pelarut organik
3. senyawa yang mengandung amonia ((NH4)2SO4 dan lain-lain
Pemilihan zat pengaminasi didasarkan pada :
1. suhu dan tekanan
2. jenis katalisator yang dipakai
3. kelarutan dan stabilitas zat yang diaminasi
Proses kimia - Aminasi 13

4. kemungkinan adanya hasil samping


5. kemungkinan terbentuknya amina sekunder

Ada dua macam reaksi amonolisa yaitu :


1. amonolisa : memasukkan NH3 ke dalam senyawa
2. hidroamonolisa : memasukkan NH3 dan H2 dalam senyawa.

NH3 dapat masuk ke dalam suatu senyawa, dengan cara :


1. Substitusi
a. Alkana
RCH3 + NH3 RCN RCH2NH2
Untuk memperoleh RNH2 suhu harus tinggi dan katalisator harus kuat
b. Substitusi halogen
RCH2X + NH3 RCH2NH2 + HX
c. Substitusi sulfat atau sulfat
RSO3H + NH3 RNH2 + H2SO3
d. Konversi senyawa karbonil : Hidroamonolisis
Memasukkan NH3 serta H2 ke dalam senyawa.
RCOOH + NH3 + H2 RCH2NH2 + H2O
RCHO + NH3 + H2 RCH2NH2 + H2O
RCOOR NH3 + H2 RCONH2 + H2O
e. Alkohol
RCH2OH + NH3 RCH2NH2 + H2O
2. Adisi
a. Pada pembuatan urea

b. Etilen oksida
Proses kimia - Aminasi 14

2.2.2.1 Amonolisis Substitusi


2.2.2.1.1 Amonolisis Alkana
Untuk mengamonolisis alkana, zat pengolah yang digunakan adalah gas
amoniak, karena amonolisis berlangsung pada fase gas dan suhu tinggi. Sebagai
contoh adalah amonolisis metana dengan gas amonia.
Reaksi :
CH4 + NH3 HCN + 3 H2 (ada O2 dalam campuran pereaksi)
Reaksi diatas berlangsung pada suhu 1000oC, tekanan 1 atm, dengan katalisator : Ni,
Pt, Pd. Reaksi diatas bersifat endotermis. Adanya oksigen dalam campuran pereaksi
akan mengoksidasi hidrogen menjadi H2O.
H2 + O2 H2O.
Reaksi diatas bersifat eksotermis. Kebutuhan panas pada reaksi endotermis dapat
dipenuhi dari reaksi oksidasi hidrogen ini.
Untuk amonolisis alkana yang lebih panjang, reaksi akan menjadi lebih sulit,
karema untuk memecah hidrokarbon menjadi gas sianida memerlukan panas yang
banyak. Keperluan panas pada amonolisis metana dicukupi dengan mengoksidasi
sebagian metana:
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O
Kalau panas sudah mencukupi, maka gas amoniak akan bereaksi dengan metana.
Reaksi amonolisis ini menggunakan katalis Ni, Pt, dan Pd.

2.2.2.1.2 Amonolisis Senyawa Halogenida


RCH2X + NH3 RCH2NH2 + HX
X pada rekasi di atas dapat berupa Cl, Br atau F, namun yang paling banyak
digunakan adalah Cl, karena paling murah. Senyawa R dapat berupa alifatik maupun
aromatik. Sebagai contoh:
C6H5Cl + NH3 C6H5NH2 + HCl
Untuk menghindari reaksi di atas bergeser ke kiri maka HCl harus diikat dengan
amoniak. Jadi amoniak berlebih diperlukan untuk mengikat asam klorida yang
terbentuk, sesuai reaksi di bawah ini.
HCl + NH3 NH4Cl
Apabila ada gugus lain dalam inti benzena maka akan mempengaruhi mudah
tidaknya reaksi amonolisis.
Proses kimia - Aminasi 15

2.2.2.1.3 Amonolisis Senyawa Sulfonat atau Sulfat


Reaksi penggantian gugus SO3H ini sebetulnya lebih mudah dari pada reaksi
substitusi halogen, sebab SO3H lebih besar molekulnya. Tetapi harga RCH2SO3H
lebih mahal dari pada RCH2NH2, sehingga jarang dibuat RCH2NH2 dari alkil
sulfonat.
H2N-CH2-CH2- OSO3H + NH3 H2N-CH2-CH2-NH2 + H2SO4
amino etilenasulfat etilen diamin
Reaksi di atas dapat terbilang mahal sehingga jarang dipakai apabila tidak terpaksa,
meskipun reaksinya tidak sulit untuk berlangsung.

2.2.2.1.4 Amonolisis Alkohol


Reaksi amonolisis alkohol dapat dilihat seperti di bawah ini,
RCH2OH + NH3 RCH2NH2 + H2O
amina primer
Reaksi di atas berjalan mudah, tetapi hasil yang diperoleh juga reaktif, bahkan lebih
reaktif dari amoniaknya sendiri. Akibatnya kalau amina bertemu alkohol yang
diolah, akan terjadi reaksi berikut ini :
RCH2NH2 + RCH2OH RCH2NHCH2R + H2O
amina sekunder
Amina sekunder yang terbentuk pada reaksi di atas lebih reaktif lagi, sehingga
kalau masih ada alkohol, akan terjadi reaksi lebih lanjut. Reaksi di bawah ini terjadi
jika amoniak yang tersedia sedikit, namun alkoholnya banyak.

Untuk menghindarkan reaksi lanjutan jika diinginkan hasinya adalah amina primer
maka amoniak harus sangat berlebih (ratio amoniak: alkohol besar). Selain itu dalam
reaksi terbentuk air, air harus diikat supaya tidak membentuk NH4OH yang apabila
terjadi maka berarti amoniak pengolah berkurang.
Bila dibandingkan reaktivitas RCH2X, RCH2OH dan RCH2SO3H maka pada
reaksi amonolisis yang paling reaktif adalah RCH2X.
Proses kimia - Aminasi 16

2.2.2.1.5 Amonolisis Senyawa Karbonil


Amonolisis senyawa karbonil melibatkan: aldehid, keton, ester dan asam
karboksilat. Zat yang paling sering diamonolisis adalah kelompok ester. Hasil yang
diperoleh adalah amida, seperti reaksi di bawah ini.
RCH2COOR1 + NH3 RCH2CONH2 + R1OH
Amida
Sebagai contoh adalah amonolisis etil asetat, dengan persamaan reaksi di bawah ini.
CH3COOC2H5 + NH3 CH3CONH2 + C2H5OH
Etil asetat etilamida etanol

2.2.2.2 Amonolisis dengan cara adisi


Reaksi ini dijumpai pada pembuatan mono etanol amina (MEA) dari etilen oksida.

Hasil monoetanolamina bersifat lebih reaktif daripada amoniak. Sehingga apabila NH3
kurang tetapi etilenoksida masih banyak maka akan terjadi reaksi lanjutan :

Jika etilena oksida masih ada, amak DEA akan melanjutkan reaksi membentuk
trietanolamina (TEA).

Oleh karenanya, jika hanya diinginkan MEA sebagai hasil atau DEA atau TEA, maka
perbandingan pereaksi harus diatur. Rasio amoniak terhadap etilena oksida menentukan
hasil yang diperoleh. Contoh lain adalah reaksi pembentukan urea.
Proses kimia - Aminasi 17

Faktor-faktor yang mempengaruhi amonolisis, adalah:


1. Kelarutan
2. Pengadukan
3. Efek derivat halogen
4. Efek gugus nitro
5. Suhu
6. Konsentrasi NH3

Penggunaan katalis dalam reaksi aminasi, adalah.


1. Amonolisis senyawa halogen dengan katalis logam : Cu, As, Ag, CuO dan garam-
garam Cu
2. Katalisator untuk dehidrasi adalah: alumina, silika gel, alumunium fosfat dalam gel
alumina, Ni, Co, dan lain-lain.
3. Katalisator hidrogenasi berupa logam campuran (alloy)
4. Katalisator hidroamonolisis adalah: logam Ni, Co, Cu, Ni-A, dan lain-lain.
5. Katalisator campuran logam (alloy)

Keuntungan menggunakan katalis logam campuran adalah:


a. Konversi dan hasil lebih tinggi
b. Harga katalisator lebih murah
c. Perbandingan hasil amina pada kisaran yang besar
Proses kimia - Aminasi 18

Untuk memperbesar hasil yang diperoleh, maka faktor yang harus diperhatikan adalah:
1. NH3 berlebih
2. Tekanan
3. Suhu

Sedangkan untuk mempercepat reaksi, diusahakan dengan:


1. Konsentrasi NH3 dibuat tinggi, caranya adalah dengan NH3 cair.
2. Pengadukan, diperlukan karena reaktan tidak saling larut
3. Suhu, bila reaksi eksotermik, maka harus dicari suhu optimum

Penggantian dari substituen nuklir seperti hidroksil (-OH), kloro (-Cl) atau asam
sulfonat (-SO3H) dengan amino (-NH2) menggunakan amonia (amonolisis), telah dilakukan
selama waktu tertentu, keberadaan gugus induksi (yang menginduksi) membuat proses
penggantian menjadi lebih mudah. Sebagai contoh, 1,4-dikloro-2-nitrobenzena bisa diuabh
menjadi 4-kloro-2-nitroanilin dengan menggunakan larutan amonia. Molekul-molekul lain
memberikan lebih banyak kesulitan dalam proses, dan bejana tekan dibutuhkan untuk produksi
anilin dari klorobenzena atau dari fenol. (gambar 3).

Gambar 3. Produksi anilin dan difenilamin dari fenol


Proses kimia - Aminasi 19

Amonia adalah pereaksi yang terbilang relatif murah, dan prosesnya dapat
diseimbangkan dengan menghasilkan amina yang diinginkan. Jalan lain untuk mendapatkan
amina adalah dengan melalui reduksi menggunakan reagen (pereaksi) yang mahal (besi (Fe),
seng (Zn), atau gas hidrogen (H2)) yang membuat harga dari sebuah proses amonolisis menjadi
agak mahal. Amina yang tersubstitusi bisa dihasilkan dengan menggunakan amonia yang
tersubstitusi (amina). Peralatannya adalah bejana besi tekan yang tidak stabil ; stainless steel
juga dapat digunakan untuk konstruksi bejana.
Oleh karena itu, aminasi atau reaksi dengan menggunakan amonia, digunakan untuk
membentuk amina aromatik dan alifatik. Reduksi dari senyawa nitro adalah proses kuno untuk
menghasilkan amina, tapi amonia atau amonia yang telah tersubstitusi (amina) bereaksi
langsung untuk membentuk amina. Produksi anilin dengan amonolisis melampaui jumlah yang
dihasilkan dengan reduksi (dari nitrobenzen).
Senyawa fungsi oksigen juga berperan dalam proses amonolisis, sebagai contoh:
1. Metanol ditambah katalis alumunium fosfat menghasilkan monometilamina
(CH3NH2), dimetilamina [(CH3)2NH], dan trimetilamina [(CH3)3N]
2. 2-naptol ditambah katalis natrium amonium sulfit (NaNH3SO3) (reaksi Bucherer),
menghasilkan 2-naptilamina
3. Etilen oksida menghasilkan monoetanolamina (HOCH2CH2NH2), dietanolamina
[(HOCH2CH2)2NH], dan trietanolamina [(HOCH2CH2)3N]
4. Glukosa ditambah katalis nikel menghasilkan glukamin
5. Sikloheksanon ditambah katalis nikel menghasilkan sikloheksilamina
Metilamina dihasilkan dengan mereaksikan gas metanol dengan katalis pada suhu 350oC-
400oC dan 290 psi (2,0 Mpa), kemudian mendestilasi campuran rekasi. Pada mono-, di-, atau
trimetilamina sangat mungkin dilakukan proses recycle pada produk yang tidak diinginkan.
Sebuah campuran yang setimbang dari tiga etanolamina dihasilkan ketika etilen oksida
digelembungkan melalui 28% larutan amonia pada suhu 30-40oC. Dengan mensirkulasi ulang
produk dari reaksi, mengubah temperatur, tekanan, dan rasio amonia terhadap etilen oksida
(namun selalu mempunyai amonia berlebih), maka sangat mungkin utuk membuat amina yang
diinginkan menjadi dominasi. Diluent gas juga mengubah rasio hasil.
CH2CH2O + NH3 HOCH2CH2NH2 + H2O
monoetanolamina
2CH2CH2O + NH3 (HOCH2CH2)2NH + 2H2O
dietanolamina
Proses kimia - Aminasi 20

3CH2CH2O + NH3 (HOCH2CH2)3N + 3H2O


trietanolamina
Setelah mengalami reaksi eksotermis, hasil reaksi ditemukan dan dipisahkan dengan flashing
off dan merecycle amonia, dan kemudian memecah produk amina.
Monoetilamina digunakan dalam bahan peledak, insektisida, dan surfaktan.
Dimetilamina digunakan untuk pembuatan dimetilformamida dan asetamida, pestisida, dan
berbagai perlakuan menggunakan air. Trimetilamina biasa digunakan untuk membentuk
choline chloride dan untuk membuat biosida dan slimisida.
Alkilamina yang lain dapat dibuat dengan cara yang serupa dari alkohol dan amonia
(gambar 4). Metil, etil, isopropil, sikloheksil, dan kombinasi amina biasanya jarang ditemukan
dan biasanya dibuat dengan mereaksikan alkohol yang benar dengan amonia anhidrat dalam
fase uap.

Gambar 4. Proses aminasi untuk produksi amina


Proses kimia - Aminasi 21

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aminasi adalah proses pembentukan amina. Aminasi dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu:
1. Aminasi secara reduksi
Adalah proses pembuatan amina berdasarkan reaksi reduksi. Aminasi
dengan reduksi biasa dilakukan dalam bejana besi cor.
2. Amonolisis
Adalah proses pembuatan amina dari reaksi dengan amonia.
Aminasi dengan cara reduksi adalah proses kuno untuk menghasilkan amina,
tapi amonia atau amonia yang telah tersubstitusi (amina) bereaksi langsung untuk
membentuk amina (cara amonolisis). Sehingga produksi anilin dengan amonolisis
melampaui jumlah yang dihasilkan dengan reduksi (dari nitrobenzen).
Tanpa menggunakan bejana bertekanan tinggi dan katalis, reduksi harus
dilakukan oleh pereaksi yang bekerja di bawah tekanan atmosfer. Reduktor yang biasa
digunakan pada aturan ini adalah
1. Logam dan basa
2. Logam dan asam
3. Sulfida
4. Sulfit (Na-sulfit dan bisulfit)
5. Hidrogen (H2) dengan katalis
6. Elektrolisa
7. Na-hidrosulfit
8. Metal hidrida
9. Natrium dan Na-alkoholat
Faktor-faktor yang mempengaruhi amonolisis, adalah:
1. Kelarutan
2. Pengadukan
3. Efek derivat halogen
4. Efek gugus nitro
5. Suhu
6. Konsentrasi NH3
Proses kimia - Aminasi 22

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Aminasi. Online. Sumber:


http://hmtkupnyogya.files.wordpress.com/2012/02/9-aminasi.pdf, diakses pada
tanggal 13 April 2014
Speight, James G. 2002. Chemical and process design handbook : Amination. McGraw-Hill:
New York