You are on page 1of 6

ADULT COMMUNICATION MANAGEMENT: AN AUSTRALIAN PERSPECTIVE

FOR ENHANCING ORGANISATIONAL EFFECTIVENESS

MANAGEMENT KOMUNIKASI ORANG DEWASA : PERSPEKTIF ORANG AUSTRALIA


UNTUK MENINGKATKAN KEEFEKTIFAN ORGANISASI

Michael Kaye
University of Technology, Sydney

General Features
the adult communication management approach does not sit comfortably
with the conventional divisions within the boundaries of
contemporary communication theory. In effect, the "adult
communication management" perspective crosses the
traditional boundaries which appear to separate
interpersonal from organisational or instructional
communication.

Gambaran Umum
pendekatan managemen komunikasi orang dewasa tidak semata-mata
hadir dengan divisi konvensional dengan batasan dari teori komunikasi
kontemporer. Dalam efeknya, perspektif manajemen komunikasi orang
dewasa hadir dengan melintasi batas-batas tradisional yang muncul
untuk memisahkan komunikasi interpersonal dari komunikasi
organisasi atau komunikasi instruksi.

Another important difference between the adult


communication management (ACM) perspective and existing
theoretical frameworks within the field of human
communication is that adult communication management theory
draws from a number of diverse disciplinary approaches and
backgrounds. As such, adult communication management theory
is both multidisciplinary and eclectic. It is not grounded
solely in social interpretive theory, nor exclusively in
psychologically oriented thinking, although it would be true
to say that there is a strong leaning toward psychologically
determined views of the world.

Perbedaan penting lain antara perspektif manajemen komunikasi


orang dewasa dan kerangka teoritis dalam human communication
adalah; teori manajmeen komunikasi orang dewasa terbentuk dari
sejumlah pendekatan disiplin tertentu. Maka dari itu sifatnya
multidisiplin dan dari berbagai sumber. Dia tidak terbentuk sendiri
dari teori interpretasi sosial, tidak juga secara eksklusif dari
pendekatan psikologi, walalupun benar bahwa hal ini mengarah
kepada pandangan psikologi dunia.

It has been suggested that the field of communication studies


is not grounded in any single discipline but is rather a
multidisciplinary field characterised by a number of issues
and debates (Kaye, 1988).

1
Bahwa dalam dunia ilmu komunikasi, tidak terbentuk dari satu

disiplin tertentu melainkan multidisiplin yang digolongkan

dari beberapa isu dan debat, (Kaye 1988)

The words "communication management" are used in a


particular sense in this perspective. Essentially,
communication management refers to the ways in which
communicating individuals construct, coordinate, and clarify
their meanings about their interpersonal worlds. There is
also a suggestion here that if reciprocity occurs, that is
to say, when individuals are communicating with each other
on the basis of mutually developed understandings, these
individuals are displaying some form of communication
competence.

Kata managemen komunikasi digunakan sebagai

pengertian khusus dalam perspektif ini. Secara esensial,

manajemen komunikasi mengarahkan kepada bagaimana

komunikasi individual terbentuk, terkoordinasi, dan

terjelaskan arti mereka tentang dunia interpersonal.

Juga disarankan disini bahwa jika hubungan itmbal balik

terjadi, misalnya, ketika individu saling berkomunikasi

dengan yang lainnya untuk menghasilkan pemahaman

yang menguntungkan, individu-individu ini menunjukkan

sebuah bentuk kecakapan komunikasi.

For example, Farace, Monge


and Russell (1979) saw communication management as a sort of
gatekeeping function. More specifically,they argued that
communication managers should be located at the centre of
message flows in organisations. In this way, communication
managers would be able to influence the quality, quantity,
timing and form of messages received by organisational
units. Thus, "communication managers" were conceived to be
individuals who controlled the flow of information among the
various members of systems or organisations.

Contohnya, Farace, Monge, dan Russel (1979) melihat

2
manajemen komunikasi sebagai sebuah fungsi penjaga

pintu. Lebih khususnya, mereka berargumen bahwa manajer

komunikasi (dalam sebuah interaksi organisasi) harus

ditempatkan di tengah-tengah arus pesan organisasi. Disini,

manajer komunikasi harus mempunyai pengaruh dalam

kualitas, kuantitas, waktu dan bentuk pesan yang diterima

oleh anggota organisasi. Maka dari itu, manajer komunikasi

dipahami sebagai individu yang mengontrol jalannya

arus informasi diantara anggota.

The view espoused in the adult communication management


perspective is that all individuals within systems exercise
some form of communication management, albeit in varying
degrees of intensity, opportunity, or skill. Clearly, some
people, because of the nature of their jobs, spend
relatively large proportions of their time in interacting
with others. Alternatively, there are inevitably persons
who, by virtue of the tasks assigned to them, are not
required to meet as frequently with colleagues from other
departments, divisions, or sections of their particular
systems.

Pandangan ini menyertai perspektif manajemen komunikasi

orang dewasa bahwa semua individu dalam sistem melatih

sebuah bentuk manajemen komunikasi, walaupun dalam

intensitas, kesempatan, dan kemampuan yang berbeda-beda.

Secara jelas, beberapa orang karena lingkungan pekerjaan mereka,

menghabiskan waktu yang berbeda-beda dalam berinteraksi

dengan yang lainnya. Kemungkinan lain, ada orang yang

karena tugas yang diberikan kepada mereka, tidak perlu

untuk bertemu orang lain / teman kerja dari departemen

lain, divisi lain atau bagian lain dari sistem organisasi mereka

Whilst there is a strong relationship between

3
experience and learning, particularly in the case of adults,
the connection between learning and communication suggests
that experience influences the ways in which individuals
communicate. Especially for adults, experience provides a
means for both learning and communicating. In the latter
case, adults use their interpersonal experiences to form
impressions of individuals who enter their social worlds.
These experiences become part of a cognitive structure which
enables communicating individuals to establish, stabilise,
develop, or terminate relationships with others.

Ada hubungan yang kuat antara pengalaman dan pembelajaran,


khususnya di antara orang dewasa, hubungan antara pembelajran
dan komunikasi mengarahkan bahwa pengalaman mempengaruhi
bagaimana seseorang berkomunikasi. Khususnya orang dewasa,
pengalaman memberikan arti untuk belajar dan komunikasi.
Di kasus yang lain, orang dewasa menggunakn pengalaman
interpersonalnya untuk membentuk kesan dari individu yang
masuk dalam kehidupan dunia sosial mereka.

Whilst some scholars continue to refer to "acts" of


communication, adult communication management theory prefers
to regard communication as a process.

Beberapa peneliti melihat ini sebagai act (kegiatan) dari komunikasi,


namun manajemen komunikasi orang dewasa lebih mengarah
kepada komunikasi sebagai proses

Adult communication management theory also accepts the


well established notions that interpersonal communication is
inevitable (Watzlawick, Beavin & Jackson, 1967) and that it
is the most pervasive of all forms of communication (Parks,
1985).
Teori manajemen komunikasi orang dewasa juga menyetujui ide
yang terbentuk bahwa ; komunikasi interpersonal
adalah sebuah hal yang tidak bisa diacuhkan dan itu
adalah pemikiran yang tersebar di seluruh bentuk komunikasi.
(Watzlawick, Beavin & Jackson, 1967)

There are three significant contributing perspectives


to adult communication management theory. The first is the
interpersonal perspective which represents the theoretical
core since it is fundamental to all forms of human
communication. It is assumed, moreover, that the
interpersonal communication processes described in this
section, apply to all situations where individuals interact
with other persons and where people's communication and
behaviours are largely shaped by their perceptions of the
quality of their relationships and communication with
others.
Ada tiga perspektif penting yang berkontribusi dalam teori
manajemen komunikasi orang dewasa. Yang pertama
adalah pendekatan interpersonal yang mewakili inti dari
teori , bahwa itu adalah hal yang fundamental dalam

4
pembentukan human communication. Bahwa komunikasi
interpersonal berlaku di semua situasi dimana individu
berinteraksi dengan orang lain dan perilaku komunikasi orang
tersebut terbentuk dari persepsi
mereka tentang kualitas dari hubungan dan
komunikasi dengan yang lainnya.

The second contributing perspective focuses on the


context of human communication. Within this orientation, it
is possible to determine both how the setting can influence
the way individuals communicate with others, and how
individuals, by the ways they communicate, can influence the
nature and culture of their organisations or systems.

Yang kedua adalah bagaimana keadaan dapat mempengaruhi


cara individu berkomunikasi dengan yang lainnya, dan
bagaimana individu dengan keadaan komunikasi tersebut
dapat mempengaruhi sifat dasar dan kebudayaan
organisasi/sistem mereka.

Communication competence represents the third of the


perspectives on which adult communication management theory
is founded. This perspective has been the subject of
considerable scholarly inquiry in interpersonal
communication literature (Parks, 1985, 1977; Spitzberg,
1989; Spitzberg & Cupach, 1984; Wiemann, 1977; Wiemann &
Backlund, 1980). Effectively, the competence perspective
relates to both the interpersonal and people-in-systems
bases of adult communication management theory, since
competence in this sense may refer not only to abilities to
relate to other persons but also to the abilities to shape
environments so that interpersonal communication is
optimised.
Yang ketiga adalah kompetensi komunikasi. Perspektif ini
telah menjadi subjek dari sejumlah peneliti yang
menyelidiki literature komunikasi interpersonal. (Parks, 1985, 1977; Spitzberg,
1989; Spitzberg & Cupach, 1984; Wiemann, 1977; Wiemann &
Backlund, 1980). Secara efektif, perspektif kompetensi menghubungkan
interpersonal dan orang-dalam-sistem dalam teori manajemen komunikasi.
Kompetensi bukan hanya kemampuan untuk menghubungkan orang
lain tapi juga kemapuan untuk membentuk lingkungan sekitar
sehingga komunikasi interpersonal bisa terjadi secara optimal.

Conclusion
Adult communication management is seen as an
appropriate theoretical framework for developing an
epistemology of practice. Hopefully, there will be other
opportunities for the adult communication management
perspective to develop and be refined as a result of
constructive and intellectually challenging criticism from
contemporary scholars in applied communication theory and

5
research.

Kesimpulan
Manajemen komunikasi orang dewasa dilihat sebagai
kerangka teoritis yang tepat untuk perkembangan
kebiasaan epistimologi . Diharapkan, aka nada peluang
bagi perspektif manajemen komunikasi organisasi untuk
berkembang dan murni sebagai hasil dari tantangan kritik
membangun dan intelektual dari ilmuwan yang
mendalami teori dan penelitian komunikasi.