You are on page 1of 15

ANATOMI DAN FISIOLOGI KEPALA

(Putri Ulfa Sani, S.Ked)

KULIT KEPALA
Terdiri dari 5 lapis (SCALP) yaitu:
1. Skin atau kulit,
2. Connective Tisuue atau jaringan penyambung,
3. Aponeurosis atau galea aponeurotika,
4. Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar,
5. Perikranium.

TULANG TENGKORAK
Lapisan tulang tengkorak
1. Tabula eksterna
2. Diploe
3. Tabula interna

Tulang tengkorak terdiri dari :


1. Kubah (kalvaria)
2. Basis kranii
Rongga basis cranii dibagi atas 3 fosa :
a. fosa anterior
b. fosa media
c. fosa posterior
ruang untuk bagian bawah batang otak dan otak kecil (serebelum)

Tulang tengkorak terdiri dari Os:


1. Os frontal
2. Os parietal
3. Os nasal
4. Os lakrimal
5. Os etmoidale
6. Os Sphenoidale
7. Os Occipital
8. Os Zygomatikum
9. Os temporal
10. Os Maksila
11. Os Mandibula
12.
13. M
ENINGEN (SELAPUT OTAK)
14. T
erdiri dari 3 lapisan :
1. Duramater
2. Arachnoid
3. Piamater.

15. M
eningen dibagia menjadi :
- Pachimenin/ membran keras
16. (
tdd. Duramater)
- Leptomeningens/membran halus
17. (
tdd. Arachnoid dan Piamater)

18. D
uramater
- Selaput yang kuat
- Terdiri atas jaringan ikat fibrosa, melekat erat pada permukaan dalam cranium.
- Pada beberapa tempat tertentu, duramater membelah menjadi 2 lapis membentuk sinus
venosus besar yang mengalirkan darah vena otak.
- Sinus sagitalis superior (terletak digaris tengah) mengalirkan darah vena ke sinus
transversus kanan dan kiri lalu ke sinus sigmoideus.

19.
20.
21. A
rachnoid
- Lapisan yang tipis dan tembus pandang
- Karena duramater tidak melekat ke arachnoid, maka ada satu rongga diantaranya yaitu
rongga subdural yang kedalamnya dapat berkumpul perdarahan.

22. P
iamater
- Melekat erat pada permukaan korteks serebri.
- Diantara piamater dan arachnoid terdapat ruang subarachnoid, diisi oleh cairan
cerebrospinal (LCS)

23.
24. N
OTE :
a. Perdarahan epidural (EDH) :
- akibat laserasi arteri meningea (arteri ini berjalan di atas lapisan duramater)
- Perdarahan terjadi di antara tulang dan duramater.
- Gambaran cendrung cembung.
- Biasanya disertai dengan patah/fraktur.
b. Perdarahan subdural (SDH):
- akibat robekan vena-vena bridging (bridging vein) (vena ini berjalan dari permukaan
otak ke sinus-sinus duramater)
- Perdarahan antara epidural dan araknoid.
- Perdarahan mengikuti lengkukan otak
- Biasanya pada trauma coup and controcup
c. Perdarahan Subarachnoid :
- sering terlihat pada kontusi jaringan otak ataupun pada cedera pembuluh darah besar
di daerah dasar otak
- perdarahan di ruang subarachnoid
- mengikuti lekukan gyrus
25.
26.

27.
28.
29.

30. G
ambar Perdarahan di otak
31. E
DH : Epidural Hematome
32. S
DH : Subdural hematom
33. S
AH : Subarachnoid hematome
34. D
AI : Diffuse Axonal hematome
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42. O
TAK
43. T
erdiri dari :
1. Serebrum
2. Serebelum
3. Batang otak.

44.
45.
46.
47. S
erebrum
48. T
erdiri dari :
a. Hemisfer kanan
b. Hemisfer kiri : terdapat pusat bicara.
49.
Hemisfer kanan dan kiri dipishkan oleh falks serebri (lipatan duramater yang merupakan
lanjutan dari sinus sagitalis superior di garis tengah.
50.
Hemisfer yang mengandung pusat bicara disebut sebagai hemisfer dominan

51.
Terdiri dari lobus:
a52. Lobus frontal :
53. - mengontrol inisiatif, emosi, fungsi motoric
54. dan pada sisi yang dominan mengandung
55. pusat ekspresi bicara (area bicara motorik).
b Lobus parietal :
56. - fungsi sensorik dan orientasi ruang.
c57. Lobus temporal :
- fungsi memori tertentu, kemampuan
58.
menerima rangsang dan integrasi bicara.
d59. Lobus oksipital :
60. - Fungsi penglihatan
61.
62.
63.
64. C
erebellum
- Fungsi koordinasi dan keseimbangan

65.
66.
67. B
atang otak
68. T
erdiri dari
- Mesensefalon (midbrain)
- Pons
- Medulla oblongata.

69. M
esensefalon dan pons : fungsi kesadaran dan kewaspadaan
70. M
edulla oblongata : pusat kardiorespiratorik, yang berlanjut memanjang menjadi medulla
spinalis.
71.
72.
73.

74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82. V
ASKULARISASI (Lengkapi lagi!!!!)
83. A
RTERI
- Dua arteri carotis interna
- Dua arteri vertebralis.
84.
Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk sirkulus
Willisi.

85.

86.
87. Vaskularisasi Vena
88. V
ENA
89.
V
ena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot didalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak
mempunyai katup. Vena tersebut keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus
cranialis
90. S
ISTEM VENTRIKEL
- suatu system berupa rongga yang berisi Liquor Cerebrospinal (LCS).
- Terdiri dari :
a. Ventrikel lateralis kanan dan kiri
b. Ventrikel III
c. Ventrikel IV

91.
92. C
AIRAN SEREBROSPINAL (LCS) DAN ALIRANNYA
- LCS dihasilkan oleh pleksus khoroideus (terletak di atas ventrikel lateralis kanan dan kiri
dan ventrikel III)
- LCS dihasilkan dengan kecepatan 20 ml/jam

93. A
liran :
94. V
entrikel lateral kanan dan kiri foramen Monroe ventrikel III akuaduktus Sylvius
ventrikel IV di fossa posterior keluar dari system ventrikel masuk dalam rongga
subarachnoid yang berada di seluruh permukaan otak dan medula spinalis mengalami
reabsorbsi kedalam sirkulasi vena melalui granulasio arachnoid sinus sagitalis superior
95.
96.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108. G
ambar 2.7. Aliran Cairan Serebrospinal
109.
110.
111.
112. T
ENTORIUM
- Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi
a. ruang supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media)
b. ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior).

113. M
esensefalon (midbrain) menghubungkan hemisfer serebri dengan batang otak (pons dan
medulla oblongata) dan berjalan melalui celah lebar tentorium serebeli yang disebut
insisura tentorial
114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.
121.
122.
123. T
entorium
124.
125. N
OTE :
- Nervus kranialis III (okulomotorius) berjalan sepanjang tepi tentorium, jika tertekan akibat
herniasi lobus temporal yang biasanya akibat masa supratentorial atau edema otak
sehingga akan menyebabkan pupil dilatasi (blown pupil)
- Bagian otak yang sering mengalami herniasi melalui insisura tentorial adalah sisi medial
lobus temporal yang disebut Unkus.
- Herniasi Unkus juga menyebabkan penekanan traktus kortikospinal (piramidalis). Traktus
piramidalis menyilang garis tengah menuju sisi berlawanan pada level foramen magnum,
sehingga penekanan pada traktus ini menyebabkan paresis otot-otot sisi tubuh
kontralateral (hemiparese kontralateral).
- Dilatasi pupil ipsilateral disertai hemiparese kontralateral dikenal sebagai sebagai sindrom
klasik herniasi unkus.
- Kadang-kadang, lesi massa yang terjadi akan menekan dan mendorong sisi kontralateral
midbrain pada tentorium serebeli sehingga mengakibatkan hemiparese dan dilatasi pupil
pada sisi yang sama dengan hematoma intrakranialnya (sindroma lekukan Kernohan)

126. FISIOLOGI
127. Konsep penting : tekanan intrakranial, doktrin Monro-Kellie, dan aliran darah otak.
128.
129. Tekanan Intrakranial
130.
TIK normal pada keadaan istirahat : 10 mmHg.
131. Kenaikan TIK menyebabkan :
-
Penurunan perfusi otak
-
Menyebabkan atau memperberat iskemia.
132.
133. Etiologi Peningkatan TIK Skema Peningkatan TIK
134.
135.Doktrin Monro-Kellie
-
Konsep utamanya : TIK harus selalu konstan, karena rongga cranium merupakan rongga
yang kaku, tidak elastik dan tidak mungkin mekar.
-
Darah dan CSS dapat dikeluarkan dan dipindahkan dari rongga tengkorak, sehingga TIK
tetap normal. Sehingga segera setelah cedera otak, suatu massa seperti perdarahan dapat
bertambah dengan TIK masih tetap normal. Namun sewaktu batas pemindahan
/pengeluaran CSS dan darah intravascular tadi terlewati maka TIK secara sangat cepat
akan meningkat

136.
Doktrin Monro-Kellie yaitu Volume intrakranial adalah tetap, Volume intrakranial
(Vic) adalah sama dengan jumlah total volume komponen-komponennya yaitu volume
jaringan otak (Vbr), volume cairan serebrospinal (Vcsf) dan volume darah (Vbl).
137.
138.
139. Gambar 2.11. Kurva Volume-Tekanan isi Intrakranial
140.
141.
142.
143.
144.
145.
146.
147.
148.
149.
150.
151.
152.
153.
154. Doktrin Monro-Kellie
155.
156.
157.Aliran Darah ke Otak (ADO, Cerebral Blood Flow)
158. ADO normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 mL per
100 gr jaringan otak per menit. Pada anak, ADO bisa lebih besar bergantung pada usianya.
Pada usia 1 tahun, ADO hampir seperti orang dewasa, tetapi pada usia 5 tahun ADO bisa
mencapai 90 ml/100gr/menit, dan secara bertahap akan turun sampai seperti ADO dewasa
saat mencapai pertengahan atau akhir masa remaja3,7.
159. Cedera otak berat yang dapat menyebabkan koma dapat
mengakibatkan penurunan ADO dalam beberapa jam pertama sejak trauma. ADO biasanya
akan meningkat setelah 2-3 hari, tetapi pada pasien yang tetap koma, ADO tetap dibawah
normal sampai beberapa hari atau minggu setelah trauma. Semakin banyak bukti yang
menyatakan bahwa ADO tidak dapat mencukupi kebutuhan metabolisme otak segera setelah
trauma, sehingga sering mengakibatkan iskemi otak fokal ataupun menyeluruh3.
160. Pembuluh darah prekapiler normal memiliki kemampuan untuk
berkonstriksi ataupun dilatasi sebagai respon terhadap perfusi otak/TPO (CPP= Cerebral
perfusion pressure), yang secara klinis didefinisikan sebagai tekanan darah arteri rata-rata
dikurangi tekanan intracranial. CPP sebesar 50-150 mmHg diperlukan untuk memelihara
aliran darah otak tetap konstan (autoregulasi tekanan) 3.
161. Konsekuensinya, otak yang cedera akan mengalami iskemia dan infark
sehubungan dengan penurunan ADO sebagai akibat cedera itu sendiri. Keadaan iskemi awal
tersebut akan dengan mudah diperberat oleh adanya hipotensi, hipoksia, dan hipokapnia
sebagai akibat hiperventilasi agresif yang kita lakukan3,10.
162.
Oleh karena itu, semua tindakan ditujukan untuk meningkatkan aliran darah
dan perfusi otak dengan cara menurunkan TIK, memelihara kecukupan volume intrakranial,
mempertahankan tekanan darah arteri rata-rata (MAP= Mean Arterial Blood Pressure) dan
memperbaiki oksigenasi serta mengusahakan normokapnia3.
163. Perdarahan dan lesi lain yang meningkatkan volume intrakranial harus
segera dievakuasi. Mempertahankan tekanan perfusi otak diatas 60 mmHg sangat membantu
untuk memperbaiki ADO (namun tekanan yang sangat tinggi dapat memperburuk keadaan
paru-paru) 3.
164. Sekali mekanisme kompensasi terlewati dan terdapat peningkatan
eksponensial TIK, maka perfusi otak akan terganggu, terutama pada pasien yang mengalami
hipotensi. Akhirnya akan berkontribusi pada terjadinya cedera sekunder yang dapat terjadi
pada jaringan otak yang masih bertahan pada beberapa hari pertama setelah cedera otak berat.
Proses patofisiologi tersebut ditandai oleh proses inflamasi progresif, permeabilitas pembuluh
darah, danpembengkakan jaringan otak, dan kemudian peningkatan TIK yang menetap dan
mengakibatkan kematian3.
165.