You are on page 1of 9

ABSTRACT

DIFFERENCE OF WEIGHT GAIN AND LENGTH INCREMENT BETWEEN 0-6


INFANT WHO WERE EXCLUSIVELY BREASTFED AND FORMULA FED IN
PUSKESMAS KECAMATAN PALMERAH PERIODE 2013-2014

LIESIA

Infant growth affect by the type of intake. Breast milk has an ideal nutrient
composition for the infants. Newborn until 6 month-aged can thrive optimally only
from breast milk. Giving formula feeding to infants less than 6 month aged resulting
to poor infants growth. This study is a descriptive - analytic with cross - sectional
approach and located in Puskemas Kecamatan Palmerah Jakarta Barat using a
questionnaire. Sampling was done by consecutive sampling methods. Descriptive data
were processed using a frequency distribution table of the variables studied.
Statistically analyzed by SPSS software. The result of study show 63 of the 88
respondents who formula fed and 63 respondents exclusively breastfed. 15 of the 25
respondents were given formula fed have lower weight gain and 20 of the 63
respondents who exclusively breastfed have lower weight gain. 23 of the 25
respondents were given formula have lower length increment and 60 of the 63
respondents were given exclusively breastfed have lower length increment. The
results based on total (p>0.05) there are no significant difference between weight
gain and length incrament of exclusively breastfed infants with formula fed infants in
Puskesmas Kecamatan Palmerah Period 2013-2014

Key words: breastfed, formula-fed, growth infant

ABSTRAK
PERBEDAAN KENAIKAN BERAT BADAN DAN PANJANG BADAN BAYI 0-6
BULAN YANG MENDAPAT ASI EKSKLUSIF DAN SUSU FORMULA DI
PUSKESMAS KECAMATAN PALMERAH PERIODE 2013-2014
LIESIA

Salah satu hal yang mempengaruhi pertumbuhan bayi adalah jenis asupan. ASI
memiliki komposisi ideal bagi bayi baru lahir. Bayi usia 0-6 bulan dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal dengan hanya mengandalkan asupan gizi Air Susu Ibu
(ASI). Pemberian susu formula dan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan kurang
baik bagi pertumbuhan bayi. Desain penelitian analitik observasional dengan studi
cross sectional di Puskesmas Kecamatan Palmerah bulan Oktober 2013 sampai
Oktober 2014. Pengambilan sample menggunakan consecutive sampling. Data
deskriptif diolah dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dari variabel yang
diteliti. Kemudian dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS. Sebanyak
25 dari 88 responden diberikan susu formula dan sebanyak 63 responden diberikan
ASI eksklusif. Sebanyak 15 dari 25 responden yang diberikan susu formula memiliki
berat badan tidak normal dan 20 dari 63 responden yang diberikan ASI eksklusif
memiliki berat badan tidak normal. Sebanyak 23 dari 25 responden yang diberikan
susu formula memiliki panjang badan tidak normal dan 60 dari 63 responden yang
diberikan ASI eksklusif memiliki panjang badan tidak normal. nilai signifikansi lebih
besar dari 0,05. Jadi tidak terdapat Perbedaan signifikan antara kenaikan berat badan
dan panjang badan bayi 0-6 bulan yang diberi ASI eksklusif dan susu formula di
Kecamatan Palmerah periode 2013-2014.

Kata-kata kunci : ASI eksklusif, Susu Formula, Pertumbuhan bayi

PENDAHULUAN
Pertumbuhan berat badan dan panjang badan dipengaruhi oleh asupan gizi yang
diterima.1 Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan bayi yang utama dan alami yang
sudah dikenal sejak manusia itu ada.1,2 ASI dengan komposisi yang unik diciptakan
sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang.1 Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) tahun 2010, cakupan pemberian ASI eksklusif sebesar 15,3% dan susu
formula 71,3%

Sejauh ini penelitian tentang pengaruh pemberian ASI dan susu formula terhadap
berat badan dan panjang badan masih kurang sehingga ibu dan keluarga kurang
mendapat pengetahuan tentang pentingnya ASI terhadap pertumbuhan berat badan
dan panjang badan sehingga perlu adanya upaya promotif.1

Berdasarkan data diatas, cakupan pemberian ASI masih jauh dari rata-rata karena
banyak ibu-ibu di indonesia yang lebih memilih memberikan susu formula terhadap
bayinya padahal pemberian ASI sangat penting terhadap pertumbuhan anak. 1 Melihat
hal ini, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang perbedaan kenaikan berat badan
dan panjang badan bayi 0-6 bulan yang mendapat ASI eksklusif dan susu formula di
Puskesmas Kecamatan Palmerah periode 2013-2014 dan diharapkan penelitian ini
dapat bermanfaat sebagai dasar penelitian lanjut.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional dengan menggunakkan


metode consecutive sampling. Lokasi penelitian adalah di Puskesmas Kecamatan
Palmerah dan waktu penelitian bulan Oktober 2013 sampai Oktober 2014. Populasi
pada penelitian ini adalah bayi 0-6 bulan di Puskesmas Kecamatan Palmerah. Kriteria
penerimaan subyek adalah bayi 0-6 bulan yang mendapat ASI eksklusif, yang
mendapat susu formula dan bersedia turut serta dalam penelitian. Kriteria penolakan
subyek adalah bayi 0-6 bulan yang diberikan MP-ASI dan partial feeding. Data
diperoleh dari responden yang sesuai dengan kriteria dan bersedia untuk dilakukan
wawancara mencakup variabel bebas yaitu jenis asupan. Responden dibedakan
menjadi 2 kelompok yaitu kelompok ASI eksklusif dan kelompok susu formula.
Variabel tergantung yaitu mengukur sendiri berat badan dan panjang badan dan
melakukan pembacaan grafik pertumbuhan untuk mengetahui kenaikan berat badan
dan panjang badan bayi. Kenaikan berat badan dan panjang badan dikategorikan
menjadi tiga yaitu kenaikan kurang bila berat badan dan panjang badan dibawah garis
z skor -2 atau tidak naik, cukup bila berat badan dan panjang badan naik atau sejajar
garis z skor -2 sampai +2 dan lebih bila berat badan dan panjang badan melebihi atau
di atas garis z skor +2. Kemudian dilakukan pengolahan data untuk membedakan
berat badan dan panjang badan bayi 0-6 bulan yang mendapat ASI eksklusif dan susu
formula.

HASIL PENELITIAN

Karakteristik Responden

Susu Formula ASI Eksklusif


Karakteristik P
(n=25) (n=63)
Jenis Kelamin 0,922

- Lk 14 (28%) 36 (72%)

- Pr 11 (28,9%) 27 (71,1%)
Usia Bayi (bulan) 0,215
1 8 (9,1%) 16 (18,1%)
2 1 (1,1%) 15 (17%)

3 6 (6,8%) 14 (15,9%)

4 4 (4,5%) 8 (9,1%)

5 5 (5,7%) 3 (3,4%)

6 1 (1,1%) 7 (8%)

Pendidikan Ibu 0,919

- Tamat SD 2 (28,6%) 5 (71,4%)

- Tamat SMP/SMA 19 (27,5%) 50 (72,5%)

- Tamat PT 4 (10,6%) 8(66,7%)

Pekerjaan Ibu 0,035

- IRT 15 (23,1%) 50(76,9%)

- Pegawai Swasta 10 (50%) 10(50%)

- Wiraswasta 0 (0%) 3(100%)


Pendapatan Keluarga
- <UMR 11 (20%) 44 (80%) 0,018

- UMR 14 (46,7%) 16(53,3%)


- >UMR 0 (0%) 3(100%)
Setelah pengumpulan data selesai dilakukan selama dua belas bulan, didapatkan 88
responden yang dapat diteliti datanya. Sebanyak 63 responden diberikan ASI
Eksklusif dan sebanyak 25 responden yang diberikan susu formula. Sebanyak 50
responden berkelamin laki-laki. Sebanyak 69 ibu tamat Sekolah Menengah Pertama
(SMP) atau Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebanyak 65 responden yang berprofesi
sebagai ibu rumah tangga. Sebanyak 55 ibu responden yang memiliki pendapatan
keluarga kurang dari 2.200.000 rupiah.

Jenis Asupan Responden


Dari 153 bayi 0-6 bulan yang dibawa ibunya ke Puskesmas Kecamatan Palmerah pada
bulan Oktober 2013 sampai 2014 didapatkan ada tiga jenis asupan dan sebagian besar
diberikan ASI eksklusif. Sebanyak 46 responden di drop out karena datanya tidak
memenuhi kriteria inklusi,seperti usia responden yang lebih dari 6 bulan dan juga
diberikan partial feeding. Selama penelitian sebanyak 19 responden yang di drop out
karena datanya tidak lengkap, sehingga hanya 88 responden yang datanya dapat
diteliti.

Perbedaaan Kenaikan Berat Badan dan Panjang Badan Bayi usia 0-6 bulan
yang mendapat ASI Eksklusif dan Susu Formula

Perbedaan Kenaikan Berat Badan

Kenaikan ASI Susu P


BB Eksklusif Formula
(n=63) (n=25)

Kurang 10 (76,9%) 3 (23,1%) 0,728

Cukup 43(81,1%) 10 (18,9%)

Lebih 10 (45,5%) 12(54,5%)

Dari 25 responden yang diberi susu formula didapatkan 3 responden


pertumbuhan berat badan kurang, sebanyak 10 responden pertumbuhan berat badan
cukup dan 12 responden pertumbuhan berat badan lebih. Dari 63 responden yang
mendapat ASI Eksklusif didapatkan 10 responden pertumbuhan berat badan kurang,
sebanyak 43 responden pertumbuhan berat badan cukup dan 10 responden
pertumbuhan berat badan lebih. Dari data diatas didapatkan nilai signifikansi sebesar
0,728. Karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka Ho gagal ditolak. Jadi,
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kenaikan bermakna antara
responden yang mendapat ASI eksklusif dan susu formula pada bayi 0-6 bulan di
Puskesmas Kecamatan Palmerah Jakarta Barat periode 2013-2014.

Perbedaan kenaikan Panjang Badan

Kenaikan ASI Eksklusif Susu Formula P


PB
(63) (25)

Kurang 39 (79,6%) 10 (20,4%) 0,175

Cukup 3 (60%) 2 (40%)

Lebih 21 (61,8%) 13 (38,2%)

Dari 25 responden yang diberi susu formula didapatkan 10 responden


pertumbuhan panjang badan kurang, sebanyak 2 responden pertumbuhan panjang
badan cukup dan 13 responden pertumbuhan panjang badan lebih. Dari 63 responden
yang mendapat ASI Eksklusif didapatkan 39 responden pertumbuhan panjang badan
kurang, sebanyak 3 responden pertumbuhan panjang badan cukup dan 21 responden
pertumbuhan panjang badan lebih. Dari data diatas didapatkan nilai signifikansi
sebesar 0,175. Karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka Ho gagal ditolak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kenaikan Panjang badan yang
bermakna antara responden yang mendapat ASI eksklusif dan susu formula pada bayi
0-6 bulan di Puskesmas Kecamatan Palmerah periode 2013-2014

PEMBAHASAN
Secara umum semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin tinggi
kemampuannya untuk menyerap pengetahuan pendidikan non formal, akan tetapi
pendidikan yang tinggi tanpa pengetahuan tinggi tanpa pengetahuan pemberian ASI
yang benar dan memadai tidak menjamin terlaksananya pemberian ASI sebagaimana
mestinya.18 Hasil penelitian menunjukkan jumlah pemberian ASI Eksklusif pada bayi
di tiap tingkat pendidikan cukup bervariasi. Pemberian ASI eksklusif pada tingkat
pendidikan SMP atau SMA menunjukkan angka paling tinggi yaitu sebanyak 50
responden, disusul tingkat pendidikan perguruan tinggi sebanyak 8 responden
dan paling kecil tingkat pendidikan SD sebanyak 5 responden. Hasil ini sama dengan
penelitian Dian tahun 2012.19 Pekerjaan ibu berkaitan dengan berapa banyak waktu
ibu yang dihabiskan bersama bayinya Semakin banyaknya aktivitas atau pekerjaan
orang tua diluar rumah tentunya akan mengurangi waktu bersama antara ibu dan anak.
Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap pemberian jenis asupan pada anak. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI Eksklusif dari ibu yang berprofesi
sebagai ibu rumah tangga lebih tinggi yaitu sebanyak 50 responden, sebagian kecil
ibu responden yang diberikan susu formula berprofesi sebagai pegawai swasta, lalu
sedikit sekali yang berprofesi sebagai wiraswasta. Hasil ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh.16 Sebagian besar ibu responden baik yang diberikan ASI
Eksklusif maupun Susu Formula memiliki pendapatan keluarga kurang. Sebagian
kecil ibu responden yang diberikan ASI Eksklusif memiliki pendapatan keluarga
sebesar 2.200.000 sampai 4.400.000 rupiah, lalu hanya sedikit yang memiliki
pendapatan keluarga lebih dari 4.400.000 rupiah.

Perbedaaan Kenaikan Berat Badan Bayi usia 0-6 bulan yang mendapat ASI
Eksklusif dan Susu Formula

Dari hasil penelitian didapatkan 3 bayi atau sebesar 23,1% dari 25 bayi yang
mendapat susu formula memiliki kenaikan berat badan yang kurang. Terdapat 10 bayi
dari 25 bayi di kelompok susu formula memiliki kenaikan berat badan yang cukup
yaitu sebesar 18,9%, dan 12 bayi dari kelompok susu formula memiliki pertumbuhan
berat badan lebih yaitu sebesar 5,4%. Sementara itu terdapat 10 bayi dari 63 bayi yang
mendapat ASI eksklusif memiliki kenaikan berat badan kurang yaitu sebesar 76,9%.
Terdapat 43 bayi dari 63 bayi di kelompok ASI eksklusif memiliki kenaikan berat
badan cukup yaitu sebesar 81,1% dan sisanya 10 responden dari kelompok ASI
eksklusif memiliki kenaikan berat badan lebih. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Kramer yang menunjukkan pengukuran kenaikan berat badan bayi yang
diberi susu formula menunjukkan kenaikan berat badan lebih tinggi dibanding dengan
kenaikan berat badan bayi yang diberi ASI eksklusif. Hal ini terjadi karena jumlah zat
gizi yang terkandung dalam susu formula dan ASI berbeda. 20 Menurut hasil uji
statistik Chi-square juga didapatkan bahwa data tersebut tidak bermakna secara
statistik, Didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,728. Karena nilai signifikansi lebih
besar dari 0,05, maka Ho gagal ditolak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
perbedaan kenaikan Panjang badan yang bermakna antara responden yang mendapat
ASI eksklusif dan susu formula pada bayi 0-6 bulan di Puskesmas Kecamatan
Palmerah periode 2013-2014.

Perbedaaan Kenaikan Panjang Badan Bayi usia 0-6 bulan yang mendapat ASI
Eksklusif dan Susu Formula

Dari tabel 4.3 didapatkan 10 bayi atau sebesar 20,4% dari 25 bayi yang mendapat
susu formula memiliki pertumbuhan panjang badan yang kurang. Terdapat 2 bayi dari
25 bayi di kelompok susu formula memiliki pertumbuhan panjang badan yang cukup
yaitu sebesar 40%, dan 13 bayi dari kelompok susu formula memiliki pertumbuhan
panjang badan lebih yaitu sebesar 38,2%. Sementara itu terdapat 39 bayi dari 63 bayi
yang mendapat ASI eksklusif memiliki pertumbuhan panjang badan kurang yaitu
sebesar 79,6%. Terdapat 3 bayi dari 63 bayi di kelompok ASI eksklusif memiliki
pertumbuhan panjang badan cukup yaitu sebesar 60% dan sisanya 21 responden dari
kelompok ASI eksklusif memiliki pertumbuhan panjang badan lebih. Hasil tersebut
sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kramer dan Kakuma menunjukkan tidak
terdapat perbedaan yang bermakna dari peningkatan panjang badan bayi usia 0-6
bulan pada bayi yang diberi ASI eksklusif selama 6 bulan dan bayi yang diberi susu
formula.20 Faktor gizi memegang peranan penting dalam pertumbuhan. Selain zat gizi,
terdapat faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan panjang badan, yaitu genetic. 1
Kadar kalsium ASI lebih rendah dari susu sapi, tapi tingkat penyerapannya lebih
besar. Penyerapan kalsium ini dipengaruhi oleh kadar fosfor, magnesium, vitamin D
dan lemak.21 Perbedaan tersebut menyebabkan perbedaan pertumbuhan antara bayi
yang diberi ASI eksklusif dan yang diberi susu formula. Menurut hasil uji statistik
Chi-square juga didapatkan bahwa data tersebut tidak bermakna secara statistik.
Didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,175. Karena nilai signifikansi lebih besar dari
0,05, maka Ho gagal ditolak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan
kenaikan Panjang badan yang bermakna antara responden yang mendapat ASI
eksklusif dan susu formula pada bayi 0-6 bulan di Puskesmas Kecamatan Palmerah
periode 2013-2014.

KESIMPULAN
1. Dari 88 responden terdapat 63 responden yang mendapat ASI eksklusif dan 25
responden mendapat susu formula
2. Jumlah responden yang mendapat ASI eksklusif kenaikan BB cukup sebanyak 43
responden dan jumlah responden yang mendapat susu formula kenaikan BB cukup
sebanyak 10 responden. Jumlah responden yang mendapat ASI eksklusif kenaikan
PB cukup sebanyak 3 responden dan jumlah responden yang mendapat susu
formula kenaikan BB cukup sebanyak 2 responden.
3. Tidak ada perbedaan kenaikan berat badan dan panjang badan yang bermakna
antara responden yang mendapat ASI eksklusif dan susu formula pada bayi 0-6
bulan di Puskesmas Kecamatan Palmerah periode 2013-2014.

SARAN
Pendidikan
Peneliti merekomendasikan agar penelitian selanjutnya dapat menggali faktor-faktor
yang mempengaruhi kenaikan berat badan dan panjang badan dan mencari jumlah
responden yang sesuai antar masing-masing jenis asupan.
Masyarakat
Dari hasil penelitian didapati tidak ada pengaruh bermakna antara jenis asupan bayi 0-
6 bulan terhadap pertumbuhan pertumbuhan berat badan dan panjang badan.
Diharapkan dapat memberikan informasi tentang peran ibu dalam mempersiapkan
pertumbuhan anak. Didapati juga masih banyak responden yang diberikan partial
feeding karena itu penulis berharap angka pemberian ASI eksklusif dapat
ditingkatkan, mungkin dengan memberikan penyuluhan mengenai ASI eksklusif,
manfaatnya baik bagi bayi maupun bagi ibu, cara pemberian ASI eksklusif yang
benar, cara menyusui yang benar dan masalah apa saja yang dapat timbul saat ibu
menyusui serta solusi dari setiap masalah tersebut.