You are on page 1of 46

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan jounal reading yang
berjudul PENGARUH TANAH DAN AIR LAUT TERHADAP KUALITAS DNA
DARI OTOT PSOAS JENAZAH MELALUI METODE STR ini dapat
terselesaikan sebagai salah satu syarat menyelesaikan kepanitraan klinik ilmu
Kedokteran Forensi di Rumah Sakit Umum Dr. Kariadi. Banyak terima kasih penulis
sampaikan kepada pembimbing penulis, Dr. Arif, SpF atas segenap waktu, tenaga, dan
pikiran telah diberikan selama proses pembuatan journal reading ini. Ucapan terima
kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh rekan-rekan kepaniteraan klinik ilmu
kedokteran forensic di Rumah Sakit Umum dr Kariadi atas kebersamaan dan kerja sama
yang telah terjalin selama ini.
Seiring dengan perkembangan jaman, banyak sekali perubahan di bidang
pengetahuan medis yang mengarah kepada kemajuan dan perbaikan kualitas kesehatan,
banyak data, dan fakta yang signifikan perlu diketahui oleh tenaga medis untuk
menegakkan diagnosa dengan baik. Sebagai tenaga medis yang berkualitas, diperlukan
pengetahuan yang cukup agar dapat memberikan penanganan yang tepat. Untuk itu
melalui referat ini penulis mencoba untuk sedikit menjabarkan mengenai PENGARUH
TANAH DAN AIR LAUT TERHADAP KUALITAS DNA DARI OTOT PSOAS
JENAZAH MELALUI METODE STR. Akhir kata, penulis menyadari bahwa referat
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun
akan sangat diharapkan demi penyempurnaannya.
Semoga referat ini dapat memberi informasi yang berguna bagi para pembaca.

Jakarta, Maret 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.. 1
DAFTAR ISI 2
BAB I JOURNAL READING 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 25
2.1 MUSCULUS PSOAS 25
2.1.1 ANATOMI.. 25
2.1.2 HISTOLOGI DAN EMBRIOLOGI 25
2.1.2.1 PENGGOLONGAN JARINGAN OTOT.. 26
2.1.2.2 PEMBENTUKAN OTOT RANGKA 26
2.1.2.3 JARINGAN IKAT PADA OTOT RANGKA 27
2.1.2.4 PENAMPAKAN MIKROSKOPIS SERAT OTOT 28
2.1.2.5 PROTEIN PADA OTOT RANGKA 31
2.2 PEMBUSUKAN 34
2.2.1 DEFINISI 34
2.2.2 FISIOLOGI.. 34
2.2.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PEMBUSUKAN 36
2.2.4 TEORI PEMBUSUKAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN 37
MEDIA
2.3 DNA 42
2.3.1 DEFINISI 42
2.3.2 STR.. 42
2.3.2.1 DEFINISI 42
2.3.2.2 CARA PENGAMBILAN 43
2.3.2.3 CARA PEMERIKSAAN DAN ANALISA... 43
DAFTAR PUSTAKA 46

BAB I
JOURNAL READING

PENGARUH TANAH DAN AIR LAUT TERHADAP KUALITAS DNA DARI


OTOT PSOAS JENAZAH MELALUI METODE STR

Ni Putu Puniari Eka Putri1*, Ahmad

Yudianto1**

2
1Program Studi S2 Ilmu Forensik, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga,

Surabaya e-mail: *puniariekaputri@yahoo.com, **yudi4n6sby@yahoo.co.id

Abstrak
DNA merupakan materi genetik yang berfungsi untuk mengatur aktifitas biologis
seluruh bentuk kehidupan. Jaringan otot psoas jenazah merupakan salah satu sumber DNA
yang dapat digunakan sebagai barang bukti dalam bidang forensik. Jenazah bisa ditemukan
diberbagai tempat seperti terkubur di dalam tanah dan tenggelam di dalam air. Hal ini
disebabkan oleh pelaku tindak kriminal yang ingin menghilangkan jejak atau barang bukti
dengan mengubur jenazah di dalam tanah maupun menenggelamkan jenazah di dalam
air. Biasanya kondisi jaringan otot psoas jenazah sebagai barang bukti di TKP (tempat
kejadian perkara) ditemukan sudah terpapar oleh media tanah dan air dalam lama waktu
tertentu, sehingga dapat mempengaruhi hasil ekstraksi dan analisis DNA. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh media tanah dan air laut terhadap kualitas DNA
dari jaringan otot psoas jenazah dengan lama waktu paparan yaitu hari ke-1, 7, dan 20 hari
terhadap lokus STR D13S317 dan D18S51. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas
DNA dari jaringan otot psoas jenazah pada media tanah yang dikubur dan air laut yang
ditenggelamkan dalam lama waktu paparan hari ke-1, hari ke-7, dan hari ke-20 masih dapat
diekstraksi, namun terjadi penurunan kadar dan kemurnian DNA secara signifikan.
Kata Kunci: air laut, kualitas DNA, STR, tanah.

1. PENDAHULUAN
Kasus kematian seseorang sering terjadi akhir-akhir ini dan telah menjadi
fenomena yang tidak lazim lagi dikalangan masyarakat luas. Jenazah bisa ditemukan
diberbagai tempat seperti terkubur di dalam tanah dan tenggelam di dalam air. Hal ini
disebabkan oleh pelaku tindak kriminal yang ingin menghilangkan jejak atau barang
bukti dengan mengubur jenazah di dalam tanah maupun menenggelamkan jenazah
di dalam air (Laupa, 2013). Selama proses identifikasi muncul beberapa pertanyaan
seperti kapan, dimana dan bagaimana jenazah tersebut bisa meninggal akan mampu
terjawab (Slone et al, 2004). Hal ini akan berkaitan dengan keterangan/alasan pelaku
pembunuhan yang terjadi di TKP (tempat kejadian perkara), karena penentuan waktu
kematian sangat penting untuk menentukan situasi terakhir dari jenazah tersebut
(Isfandiari, 2009; Miller and Naples, 2002).

3
Beberapa metode telah dikembangkan untuk mengungkapkan misteri kasus
penemuan jenazah. Salah satunya adalah dengan pengujian DNA forensik (Kreeger et
al., 2003). Semua bahan biologis tubuh dapat digunakan sebagai sumber DNA
misalnya darah, saliva (bagian epitel mukosa mulut), urine, sperma, kulit, rambut,
gigi, tulang dan organ lunak/kuat lainnya (Raven and Johnson,2002). Pada penelitian
ini menggunakan jaringan otot psoas jenazah, karena jenazah yang membusuk
dapat diambil bahan biologisnya berupa jaringan dari tubuh jenazah tersebut.
Fadillah (2009), menyatakan DNA dapat diperoleh dari inti sel yang
disebut DNA kromosomal dan dari mitokondria yang disebut mtDNA yang
sifatnya tidak berkorelasi dengan DNA inti. Pada penelitian ini digunakan pola
polimorfisme DNA inti, karena sangat banyak dimanfaatkan sebagai penentuan
identitas individu yaitu menggunakan Short Tandem Repeats (STR). Short Tandem
Repeats (STR) merupakan suatu uncoding region yang terdapat pada DNA inti dan
terdiri dari 2-7 urutan nukleotida yang tersusun berulang. Ukuran fragmen STR
biasanya tidak lebih dari 500bp, oleh karena itu STR dapat diamplifikasi
dengan menggunakan jumlah DNA template yang relatif sedikit serta dapat
digunakan untuk menganalisa sampel DNA yang sudah terdegradasi, dengan
menggunakan 13-20 lokus STR identitas seseorang dapat ditentukan (Butler,
2006). Dipilihnya kedua buah lokus STR: D13S317 dan D18S51 tersebut, karena
memiliki variasi pasangan alel yang tinggi dan kemampuan identifikasi individu
yang cukup baik (Budowle et al.,2000).
Pada penelitian ini menggunakan perbedaan kurun waktu pada hari
ke-1, hari ke-7 dan hari ke-20. Pemilihan perbedaan kurun waktu tersebut,
karena pada hari ke-1 adalah awal dimulainya proses identifikasi di TKP
(Sampurna, 2000). Pada hari ke-7 adalah batas waktu paling lambat (maksimal)
bagi penyidik/kepolisian (Polri) dalam melakukan proses identifikasi di
TKP setelah dilaksanakan pemeriksaan pendahuluan. Ini sesuai dengan
Peraturan Kepala Kepolisisan Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2012
tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana (Nugroho, 2013). Kurun waktu
pada hari ke-20 merupakan masa penahanan tersangka berdasarkan kegiatan
penyidik yang sudah dilakukan, namun apabila perkara belum memuat berkas-
berkas secara lengkap, maka dapat diperpanjang untuk proses penyidikan di TKP
paling lama 40 hari atas izin jaksa penuntut umum (Marpaung, 2009).

4
Penelitian tentang DNA forensik sudah banyak dilakukan di daerah tropis,
namun penelitian tentang pemeriksaan kualitas DNA dari jaringan otot psoas jenazah
pada media tanah regosol dan air laut masih jarang dan perlu dilakukan. Penelitian ini
nantinya akan memberikan informasi untuk kepentingan forensik, yaitu dapat
mengetahui pengaruh media air dan tanah terhadap hasil uji kualitas DNA dari
jaringan otot psoas jenazah yang mengalami pembusukan di dalam tanah regosol
dan di dalam air laut.

2. DNA (Deoxyribonucleic Acid)


Semua organisme, baik prokariot dan eukariot tersusun atas sel. Sel
merupakan unit struktural dan fungsional dari organisme yang ditemukan pertama kali
oleh peneliti Inggris bernama Robert Hooke. Sel eukariot jauh lebih kompleks
daripada prokariot, karena sel eukariot memiliki membran dan organel tertentu yang
tidak dimiliki sel prokariot. Di dalam sebuah sel juga terdapat materi genetik,
tepatnya terletak pada inti sel dan mitokondria pada hewan atau kloroplas pada
tumbuhan. Materi genetik dapat berupa Deoxyribonucleic Acid (DNA) atau
Ribonucleic Acid (RNA) (Campbell et al., 2002).
Deoxyribonucleic Acid (DNA) adalah asam nukleat yang membawa
informasi genetik dari generasi ke generasi selanjutnya. Deoxyribonucleic Acid
(DNA) diisolir pertama kali tahun 1869 oleh peneliti Jerman bernama Friedrich
Miescher, yang pada awal penamaannya disebut nuklein karena terdapat di dalam
nukleus. Pada perkembangan selanjutnya, tahun 1880, Fischer menemukan adanya
basa purin dan pirimidin yang terdapat dalam asam nukleat. Dilatarbelakangi
penemuan Fischer, tahun 1910, Kossel menemukan adenin dan guanin pada purin
serta sitosin dan timin pada pirimidin. Seiring dengan berjalannya waktu, penemuan
yang berhubungan dengan DNA semakin berkembang, seperti tahun 1910
ditemukannya 5 gula karbon ribose pada molekul DNA oleh Levine. Tahun 1947,
Chargaff menyatakan bahwa molekul DNA terdiri dari bagian yang sama dari basa
purin dan pirimidin, adenin dan timin serta sitosin dan guanin terdapat dalam jumlah
yang sama. Tahun 1953, Watson dan Crick menemukan bahwa DNA berbentuk
double helix dan menunjukkan berbagai aktifitas dari molekul DNA
(Campbell et al.,2002; Suryo, 2005; Suryo, 2011).
Letak DNA terdapat pada nukleus, mitokondria pada hewan dan terdapat
juga pada kloroplas tumbuhan. Ada beberapa perbedaan antara DNA tersebut, yaitu:

5
DNA nukleus yang disebut juga DNA kromosomal, berbentuk benang lurus
(linear) tidak bercabang dan berasosiasi sangat erat dengan protein histon,
sedangkan DNA mitokondria serta kloroplas berbentuk melingkar (sirkular) dan
tidak berasosiasi dengan protein histon. Deoxyribonucleic Acid (DNA)
mitokondria dan kloroplas memiliki ciri khas, yaitu hanya mewariskan sifat-sifat
yang berasal dari ibu, sedangkan DNA nukleus memiliki pola pewarisan sifat dari
kedua orang tua (Raven and Johnson, 2002; Klug and Cummings,2003).
Ukuran molekul DNA setiap spesies berbeda satu dengan lainnya.
Pada mitokondria molekul DNA berukuran 5 dan molekul DNA pada bakteri
berukuran 1,4mm. Molekul DNA pada sel yang berinti sejati berukuran sekitar
50-60 menurut Solari, sedangkan menurut Cairus sekitar 500 dan 1,6-1,8mm
menurut Huberman dan Riggs (Suryo, 2005).
Menurut Suryo (2011), molekul DNA berbentuk double helix yang terdiri
atas susunan kimia yang terdiri atas tiga macam molekul, yaitu: gula pentosa
yang dikenal sebagai deoksiribosa, asam fosfat dan basa nitrogen yang terdiri atas
basa purin dan pirimidin. Menurut Lewis (2003), purin terdiri atas adenin (A) dan
guanin (G), sedangkan pirimidin dibedakan menjadi timin (T) dan sitosin (S).
Adenin hanya akan berpasangan dengan timin dan guanin hanya berpasangan
dengan sitosin. Adenin dan timin dihubungkan oleh dua atom hidrogen,
sedangkan guanin dan sitosin dihubungkan dengan tiga atom hidrogen.
Tes DNA dilakukan dengan cara mengambil DNA dari kromosom sel tubuh
(autosom) yang mengandung STR (short tandem repeats). STR inilah yang bersifat
unik karena berbeda pada setiap orang. Perbedaannya terletak pada urutan pasang
basa yang dihasilkan dan urutan pengulangan STR. Pola STR ini diwariskan dari
orang tua (Dauber et al., 2003; Di Lonardo et al., 2004). Aplikasi teknik ini misalnya
pada tes DNA untuk paternitas (pembuktian anak kandung), yaitu tes DNA untuk
membuktikan apakah seorang anak benar-benar adalah anak kandung dari sepasang
suami dan isteri. Cara memeriksa tes DNA dilakukan dengan cara mengambil STR
dari anak (Dauber et al.,2012)
Fenomena pembuktian kebenaran hubungan antara orang tua dan anak
akhir- akhir ini sering terjadi di masyarakat. Beberapa kasus yang
memerlukan pembuktian paternitas diantaranya tentang ragu ayah, hasil buah
perselingkuhan, kasus bayi tertukar, dan anak dari kasus pemerkosaan (Junitha,

6
2012). Pada setiap kasus tersebut membutuhkan kepastian dari orang tua si anak. Hal
tersebut dapat dibuktikan melalui tes paternitas, yaitu dengan tes DNA sehingga dapat
memberikan bukti yang akurat hubungan biologis antara orangtua dan anak (Ma et al.,
2006).
Di laboratorium akan dianalisa urutan untaian STR ini apakah
urutannya sama dengan seseorang yang dijadikan pola dari seorang anak.
Urutan tidak hanya satu-satunya karena pemeriksaan seorang anak ditemukan bahwa
pada kromosom nomor tiga memiliki urutan kode AGACT dengan pengulangan dua
kali. Bila ayah atau ibu yang mengaku orang tua kandungnya juga memiliki
pengulangan sama pada nomor kromosom yang sama, maka dapat disimpulkan antara
dua orang itu memiliki hubungan keluarga (Goodwin et al.,2004). Seseorang dapat
dikatakan memiliki hubungan darah jika memiliki urutan dan pengulangan
setidaknya pada 16 STR yang sama dengan keluarga kandungnya, maka
kedua orang yang dicek memiliki ikatan saudara kandung atau hubungan darah yang
dekat. Jumlah ini cukup kecil dibandingkan dengan keseluruhan ikatan spiral DNA
dalam tubuh kita yang berjumlah miliaran (Krenke et al., 2002).

2.1 EKSTRAKSI DNA


Ekstraksi DNA merupakan suatu kegiatan untuk memisahkan
DNA dari kandungan lain dari sebuah sampel sehingga didapatkan DNA
murni. DNA yang diekstraksi dapat bersumber dari darah, sperma, tulang,
gigi, rambut, air liur, urine, feses, atau kuku (Butler, 2005). Ada beberapa
metode ekstraksi DNA yang umum digunakan, namun prinsip dasar dari
semua metode tersebut sama yakni memisahkan protein serta materi-
materi lainnya dari molekul DNA. Selain itu langkah-langkah dasar pada
ekstraksi DNA adalah, pertama pelisisan sel untuk melepas molekul DNA,
kedua memisahkan molekul DNA dari materi seluler lainnya, ketiga
pengisolasian DNA sehingga memungkinkan untuk dilakukan amplifikasi
Polymerase Chain Reaction (PCR) (Butler et al., 2003; Lapian, 2008).
Beberapa metode yang umum dalam ekstraksi DNA terutama pada
laboratorium forensik diantaranya adalah metode fenol-kloroform,
metode chelex dan metode FTA (Flitzco/Flinder Technology Agreement)
(Mullen et al., 2009). Prosedur dari tiap metode juga bisa bervariasi
tergantung dari mana sumber DNA akan diekstraksi. Misalnya, sampel

7
darah dapat diperlakukan berbeda dengan sampel noda darah atau
sampel tulang (Butler and Hill, 2012)
Metode yang paling umum dan telah dikenal sejak lama dalam
ekstraksi DNA adalah metode organik atau metode fenol- kloroform
(Sambrook and Russel, 2001). Beberapa bahan kimia digunakan dalam
metode ini diantaranya sodium dedosilsulfat (SDS) dan proteinase-K yang
digunakan untuk menghancurkan membran sel dan protein yang menyelimuti
molekul DNA di dalam kromosom. Selanjutnya, campuran fenol- kloroform
ditambahan untuk memisahkan protein dari DNA itu sendiri. Proses
berikutnya adalah sentrifugasi yaitu pemisahan molekul DNA dengan
molekul lainnya dengan memberikan gaya sentrifugal sehingga molekul-
molekul akan terpisah berdasarkan berat jenisnya. Metode ini memiliki
beberapa kelemahan diantaranya memakan waktu yang lama sampai
mendapatkan DNA murni, menggunakan banyak zat-zat kimia berbahaya, dan
memerlukan proses pemindahan sampel dari satu mikrotube ke mikrotube
lain berkali-kali sehingga meningkatkan resiko kontaminasi DNA dari zat-zat
lain (Butler and Hill, 2012).
Salah satu metode yang dapat menjadi alternatif dan tidak mahal
adalah metode chelex. Metode ini menggunakan suspense resin
pengikat ion yang langsung dicampurkan ke dalam sampel. Suspensi resin
pada chelex merupakan larutan difinil benzena yang mengandung ion
imino diasetat yang dapat mengikat ion-ion metal seperti magnesium
dengan mengikat magnesium, enzim penghancur DNA akan tidak aktif
sehingga molekul DNA akan tetap terlindungi (Rudin and Crim, 2002). Hasil
yang didapat dari metode ini merupakan DNA single strand, sehingga perlu
dilanjutkan dengan analisis PCR. Metode ini sangat baik digunakan untuk
analisis PCR, karena dapat menghilangkan inhibitor PCR serta hanya
memerlukan satu mikrotube yang kemungkinan adanya kontaminasi sangat
kecil. Selain itu, metode chelex tidak memerlukan sampel dalam jumlah
besar dan langkah kerja yang banyak dibandingkan dengan metode organik
(Butler and Hill, 2012).
Flitzco atau Flinder Technology Agreement (FTA) merupakan sebuah
kertas yang mengandung empat substansi kimia yang dapat melindungi
molekul DNA dan mencegah pertumbuhan bakteri. Sampel yang diletakkan

8
pada kertas FTA akan mengalami lisis pada membran sel dan mengering.
Selanjutnya, setitik sampel dari kertas diambil dan dimasukkan ke dalam
mikrotube yang sudah terisi dengan reagen penjernih khusus dari inhibitor
PCR (Butler and Hill, 2012). Kertas FTA yang sudah berisi sampel dapat
disimpan pada suhu ruangan dalam waktu yang cukup lama sampai delapan
tahun dan menghasilkan hasil PCR dengan kualitas yang baik (Mullen et al.,
2009).

2.1.1 AMPLIFIKASI DNA


Amplifikasi DNA merupakan suatu proses perbanyakan
DNA sehingga dapat dianalisis secara kualitatif. Perbanyakan DNA
dilakukan dengan teknik PCR, yaitu suatu proses enzimatis pada
suatu DNA yang spesifik yang direplikasi secara berulang-
ulang sehingga didapatkan banyak kopian urutan DNA yang sama.
Proses PCR mencakup proses pemanasan dan pendinginan berulang
yang dilakukan sampai sekitar 30 siklus (Stansfield et al., 2002).
Ketika pemanasan, ikatan hidrogen pada polinukleotida akan terputus,
sedangkan pada pendinginan DNA akan membentuk kembali pasangan
basanya, sehingga dalam proses anneling ketika suhu diturunkan dalam
mesin PCR, maka primer akan menempel pada template DNA untuk
suhu optimalnya (Suryo, 2011).
Amplifikasi adalah suatu penerapan bioteknologi untuk
memperbanyak DNA pada kromosom. DNA dapat diperbanyak hingga
ratusan bahkan ribuan kali. Amplifikasi dapat dilakukan dengan
berbagai metode, salah satunya dengan metode PCR (Polymerase
Chain Reaction) yang ditemukan Karry Mullis pada tahun 1983.
Amplifikasi dengan metode PCR membutuhkan primer. Primer adalah
sekuen oligonukleotida (umumnya 10-20 nukleotida) khusus yang
akan berikatan dengan DNA pada daerah yang spesifik (Sujana,
2007).
Keberhasilan amplifikasi dengan metode PCR dipengaruhi
oleh kesesuaian primer dengan bahan ekstraksi dan optimalisasi
PCR. Apabila primer tidak sesuai dengan bahan ekstraksi akan
menyebabkan daerah lain (bukan daerah sasaran) yang teramplifikasi

9
atau bahkan tidak ada daerah yang diamplifikasi. Optimalisasi PCR
juga diperlukan untuk menghasilkan pita DNA yang diinginkan.
Optimalisasi ini menyangkut suhu denaturasi dan penempelan
(anneling) DNA dalam mesin PCR (Yuwono, 2006).

2.2 PROSES PEMBUSUKAN


Pembusukan adalah salah satu tanda pasti dari kematian, proses
kerusakan jaringan akibat bakteri yang berasal dari usus, terutama
Clostridium welchii dan proses autolisis akibat kerja digestif enzim-enzim
tertentu yang dilepaskan sel setelah kematian. Proses pembusukan
dipengaruhi oleh faktor interna dan eksterna. Faktor interna yang
berpengaruh antara lain umur, sebab kematian dan keadaan jenazah.
Sedangkan, faktor eksterna yang berpengaruh adalah mikroorganisme,
suhu di sekitar jenazah, kelembaban udara dan medium tempat
jenazah berada (Wahyu,2009).
Tanda-tanda pembusukan jenazah secara klinis yang mulai tampak
pada 24 48 jam kematian, yaitu warna kehijauan pada perut kanan
bawah, pelebaran vena superfisial, muka bengkak, perut mengembung,
skrotum atau vulva membengkak, kulit menggelembung atau melepuh, bola
mata melunak, lidah dan bola mata menonjol, dinding perut dan dada
pecah, kuku dan rambut lepas, organ-organ membusuk dan hancur
(Haefner et al., 2004). Pertumbuhan dan perkembangan setiap
organisme tentu dipengaruhi oleh suhu/temperatur. Namun, pada organisme
yang dapat mempertahankan suhu tubuh, pengaruh suhu/temperatur
lingkungan tidak terlalu besar (Laksmita, 2013).

2.2.1 PEMBUSUKAN DI DARAT


Menurut Sykes (2012), pembusukan jenazah dibagi
menjadi lima tahap, yakni tahap pertama adalah Initial
Decay (fresh stage), dimulai beberapa saat setelah
kematian, berlangsung selama 24-72 jam. Tahap kaku
mayat dan lebam mayat baru dimulai. Perubahan-perubahan
yang terjadi belum nampak secara klinis. Bakteri mulai

10
menyebar ke seluruh tubuh dan menyebarkan enzim digestif.
Beberapa serangga mulai tertarik untuk datang dan berkoloni
pada jenazah, salah satu yang muncul pertama adalah lalat
dari famili calliphoridae. Kemudian, disusul oleh famili
sarcophagidae, piophilidae dan muscidae.
Tahap kedua adalah Putrefaction (bloat stage),
berlangsung selama 4-10 hari pasca kematian. Pada tahap ini
terjadi pembengkakan pada jenazah akibat gas yang dihasilkan
oleh metabolisme bakteri anaerob. Gas yang terdiri atas
hydrogen sulphide dan methane itu mulai menimbulkan bau
busuk yang nyata. Perut mengembung, lidah dan bola mata
menonjol, keluarnya cairan melalui lubang tubuh, warna
kehijauan pada kulit yang dimulai dari abdomen adalah tanda-
tanda yang terlihat pada tahap ini.
Tahap ketiga adalah Black Putrefaction (active
decay), berlangsung selama 10-25 hari pasca kematian. Tanda
dari tahap ini adalah bau yang sangat menyengat dan warna
kehitaman pada jenazah. Bagian- bagian tubuh jenazah terbuka
dan semakin memudahkan larva lalat untuk masuk. Pada tahap

ini biasanya larva lalat telah mencapai 3rd instar, kemudian


mulai meninggalkan jenazah untuk menjadi pupa.
Tahap keempat adalah Butyric Fermentation
Stage (advance decay), berlangsung selama 20-25 hari
pasca kematian. Pada tahap ini jenazah terlihat lebih kering dari
sebelumnya. Terjadi fermentasi menghasilkan gas asam butirat
(berbau seperti keju) yang menarik serangga dari spesies lain,
seperti kumbang dari famili carcass, trogidae dan dermestidae.
Bila jenazah berada di tempat yang basah atau lembab,
mungkin famili kumbang tidak akan muncul dan larva dapat
bertahan lebih lama.
Tahap kelima adalah Dry or Remains Decay,
berlangsung selama 25-50 hari pasca kematian. Pada tahap
ini jenazah menjadi sangat kering, tertinggal kulit yang

11
mengering, rambut dan tulang, serta lalat atau larva sudah tidak
tampak pada jenazah.
Kecepatan masing-masing tahap pembusukan
jenazah sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh banyak
faktor seperti temperatur udara, iklim, penyebab kematian,
pakaian, obat-obatan, kandungan lemak dan ukuran tubuh
jenazah.

2.2.2 PEMBUSUKAN DI AIR


Pembusukan pada jenazah yang berada di air
terjadi lebih lambat daripada yang berada di darat.
Berdasarkan penelitian terhadap hewan coba babi (Sus scrofa)
pada bulan Juni November di sungai Indiana Selatan,
proses pembusukan jenazah di medium air dapat dibagi
dalam enam tahap (Voss et al., 2008). Tahap pertama adalah
Submerged Fresh, berlangsung selama 2-6 hari. Tahap
rentang waktu antara jenazah tenggelam di dalam air
hingga jenazah terlihat mulai terapung di air.
Tahap kedua adalah Early Floating, berlangsung
selama 6-8 hari. Gas yang diproduksi oleh bakteri-bakteri
anaerob dalam tubuh jenazah meningkat, sehingga membuat
jenazah terangkat sampai ke permukaan air. Bau busuk
yang dihasilkan dari proses pembusukan jenazah ini akan
menarik bagi serangga, seperti blow flies untuk datang dan
meletakkan telur pada bagian tubuh jenazah yang tidak
terendam air.
Tahap ketiga adalah Floating Decay, berlangsung
selama 8-24 hari. Terjadi peningkatan aktivitas larva lalat
pada bagian jenazah yang tampak di permukaan air,
menyebabkan banyak luka terbuka pada jenazah. Kulit
jenazah mulai mengelupas dan warnanya menjadi kehitaman
Tahap keempat adalah Bloated Deterioration,
berlangsung selama 8-12 hari. Sebagian besar tubuh jenazah
telah muncul ke permukaan air. Cairan-cairan dalam tubuh

12
keluar dari berbagai lubang pada tubuh jenazah, bahkan gas
yang terbentuk pada tahap sebelumnya, mampu membuat
bagian perut jenazah menjadi pecah.
Tahap kelima adalah Floating Remains, berlangsung
selama 4-20 hari. Aktivitas larva lalat famili calliphoridae
mulai menurun, disebabkan karena terjatuh dan tenggelam,
atau bermigrasi atau dimangsa oleh predator lain.
Bagian-bagian tubuh jenazah juga telah banyak terurai.
Tahap keenam adalah Sunken Remains, hanya
tulang dan sedikit kulit dari jenazah yang tersisa dan bau busuk
telah menghilang. Kecepatan masing-masing tahap
pembusukan dalam air juga sangat bervariasi karena
dipengaruhi oleh banyak faktor seperti temperatur air, kadar
garam, konsentrasi oksigen, aquatic organism, pakaian jenasah,
ukuran tubuh jenasah, tenggelam atau terapung (Wahyu,
2009).

3. METODE PENELITIAN
3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorik untuk
membuktikan ada pengaruh media tanah dan air laut terhadap kualitas DNA
dari jaringan otot psoas jenazah yang disimpan selama 1, 7, dan 20 hari pada lokus
D13S317 dan D18S51. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental
time series yang dilakukan di laboratorium Human Genetic Study Group, Institute
of Tropical Disease Universitas Airlangga.

3.2 BAHAN
Bahan penelitian yang digunakan untuk penelitian ini antara lain yaitu,
jaringan otot psoas yang berasal dari satu jenazah tipe T4, yaitu jenazah yang
terlantar tanpa identitas dan tidak memiliki tempat tinggal yang tidak tetap di Instalasi
Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya. Jenazah tipe T4
yang tidak teridentifikasi tersebut, apabila setelah 2x24 jam tidak ada keluarga
yang datang untuk mengambilnya, maka sesuai Undang- Undang dalam KUHP Pasal
133 jenazah tipe T4 tersebut menjadi milik Negara (Yudianto, 2010). Pengambilan

13
sampel dilakukan secara acak (random sampling). Sebelum melakukan sampling
sampel penelitian, sampel harus mendapatkan kelaikan etik (ethical clearance) dari
Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya.
Mengambil sampel jaringan otot psoas jenazah menggunakan alat, seperti
pisau bedah, gunting dan sonde steril. Pipa Paralon PVC 20 mm x 1,5 meter yang
steril untuk menyimpan hasil pengambilan potongan jaringan otot psoas jenazah
agar sampel jenazah segar terlindungi dari hewan atau serangga. Pipa paralon
dilabel menggunakan drawing pen permanen untuk memberikan label sesuai
sampel pada media air laut maupun tanah regosol berdasarkan perbedaan waktu.
Potongan sampel jaringan otot psoas yang telah diambil dari satu jenazah
dimasukkan ke dalam Pipa Paralon PVC 20 mm x 1,5 meter yang telah terisi air
laut dan tanah regosol, kemudian didiamkan selama rentang waktu periode 1 hari, 7
hari dan 20 hari. Pada hari ke-1, hari ke-7 dan hari ke-20, potongan jaringan otot
psoas jenazah diambil menggunakan sonde steril kemudian dimasukkan ke dalam
tabung steril untuk mencegah kontaminasi. Isolasi DNA dari jaringan otot psoas
jenazah mulai dilakukan setelah pengambilan sampel pada setiap waktu periodenya,
yaitu hari ke-1 sebanyak 6 sampel, pada hari ke-7 sebanyak 6 sampel dan pada
hari ke-20 sebanyak 6 sampel.
Bahan untuk ekstraksi DNA adalah DNAzol reagent. Bahan untuk
PCR adalah PCR Mix (12,5l) yang terdiri dari dNTP (ATP, CTP, TTP, GTP),
MgCl2, dan Taq Polimerase, DW Sigma (DNA atau nuclease free water), primer:
D13S317 (5 ATTACAGAAGTCTGGGATGTGGAGGA-3 dan 5-
GGCAGCCCAAAAAGACAGA-3) dan D18S51 (5-
TTCTTGAGCCCAGAAGGTTA-3 dan5
ATTCTACCAGCAACAACACAAATAAAC-3).
3.3 EKSTRAKSI DNA DARI JARINGAN OTOT PSOAS JENAZAH
DENGAN DNAZOL REAGENT (INVITROGEN TECH-LINESM)
Sampel jaringan otot psoas jenazah di haluskan dengan mortar,
dimasukkan ke dalam tabung conical dan dicampur dengan DNA free water,
selanjutnya dilakukan sonikasi selama semalam. Cairan yang masih berada di
tabung, dipipet ke tabung yang baru kemudian disentrifus (10.000 g) selama
10 menit. Pellet diambil kemudian dicampur dengan 1ml DNAzol. Keduanya
dicampur dengan cara vortexing lalu diinkubasi selama 5 menit pada suhu

14
kamar. Campuran kemudian disentrifus (10.000 g) selama 10 menit pada suhu

40C, kemudian viscous supernatant diambil dan dimasukkan ke dalam


tabung baru. 0,5 ml etanol absolut ditambahkan, dibolak-balik, kemudian
diinkubasi selama 1-3 menit, disentrifus (4.000 g) selama 1-2 menit pada suhu

40C, kemudian supernatan dibuang secara hati-hati agar DNA tidak ikut
terbuang. Pellet dicuci dengan 0,8-1 ml etanol 75% sebanyak 2 kali dan setiap
kali dicuci dibolak- balik selama-3-6 kali. Tabung diletakkan dengan posisi
tegak selama 0,5-1 menit, setelah itu etanol 75% dibuang dengan cara
pippeting atau decanting. Pellet kemudian dikeringkan dengan cara
membiarkan tabung terbuka selama 5-15 detik sesudah etanol 75% dibuang.
Pellet yang berisi DNA tersebut kemudian dilarutkan dengan larutan NaOH 8
mM sebanyak 0,2-0,3 ml, divorteks secukupnya, kemudian disimpan pada

suhu -200C.

3.4 AMPLIFIKASI PCR


Amplifikasi DNA melalui PCR dilakukan dengan protokol
sebagai berikut: D13S317 (Gene Ampr. PCR System 9700 Thermal

Cycler, Promega Corp.2001): tahap I: initial denaturation 960C selama 2


menit; tahap II: siklus 1 (10 kali) yang terdiri dari subsequent denaturation

940C selama 1 menit, annealing 640C selama 1 menit, extension 700C


selama 1 menit 30 detik dan siklus 2 (20 kali) yang terdiri dari

denaturation 900C selama 1 menit, annealing 640C selama 1 menit,

extension 700C selama 1 menit 30 detik; tahap III: hold step 40C.
D18S51 (Gene Ampr. PCR System 9700 Thermal Cycler, Promega

Corp.2001): tahap I: initial denaturation 960C selama 2 menit; tahap II: siklus

1 (10 kali) terdiri dari subsequent dena- turation 940C selama 1 menit,

annealing 640C selama 1 menit, extension 700C selama 1 menit 30 detik

dan siklus 2 (20 kali) terdiri dari denaturation 900C selama 1 menit,

15
annealing 640C selama 1 menit, extension 700C selama 1 menit 30
detik; tahap III: hold step 40C.

3.5 ELEKTROFORESIS
Dalam tahap ini dengan menggunakan Polyacrylamid Agarose
Composite Gel Electrophoresis (PAGE) dengan pewarnaan silver
staining. Prosedur PAGE (Edvotek,2001) dilakukan sebagai berikut:
agarose gel dibuat dari 30 ml Tris Boric EDTA 0,5X dan agarose 0,15 gram,
dipanaskan dalam microwave sampai jernih kemudian didinginkan sampai

suhu 500C. Kemudian ditambah Acrylamid Bis 4,5 ml dan Temed 15 l.


Selanjutnya ditambahkan amonium persulfat 100 l, lalu dituangkan pada
cetakan (gel bed), ditunggu sampai dingin/membeku. Selanjutnya DNA hasil
PCR 12,5 l dengan loading 2 l dimasukkan dan di-running pada voltase 70
volt selama 2 jam.
Prosedur Silver Staining PAGE (Edvotek, 2001) yang terdiri
dari: drying: (metanol 20% + gliserol 2%) dalam 100 ml aquades selama 5
menit, fiksasi: (etanol 10% + gliserol asam asetat 5%) dalam 100 ml
aquades selama 20 menit, dicuci/ bilas dengan aquades 1x dengan cepat,
staining: AgNO3 0,1% dalam aquades 100 ml selama 50-80 menit,
developing: (NaOH 1,5% + Formalin 100 l) dalam 100 ml aquades, lalu
dilihat di lampu sampai terlihat jelas.
Analisis DNA menggunakan ultracentrifuge (Gyrozen
Co., Ltd.), vortex mixer, refrigerator untuk menyimpan sampel, pipet mikro
(eppendorf pippet) P10, P100, dan P1000, Thermal cycler PCR
Machine (Boeco), elektroforator (Mini Run Gel Electrophoresis System GE-
100), UV transilluminator (BioRad), ice box, microwave, inkubator,
autoclave dan kamera digital untuk mengambil foto dari hasil
elektroforesis.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Enam sampel jaringan otot psoas jenazah yang homogen telah
diambil DNAnya. Kadar dan kemurnian DNA dari sampel jaringan otot psoas
ditemukan berbeda antara media tanah dan air laut pada lama waktu paparan
hari ke-1, hari ke-7, dan hari ke-20. Dalam penelitian ini diawali dengan

16
perlakuan pada sampel jaringan otot psoas jenazah, yakni pemaparan lama
waktu. Adapun waktu paparan dalam penelitian ini: hari ke-1, 7 dan 20.
Tabel 1. Kadar dan kemurnian DNA sampel jaringan otot psoas jenazah.
Kode Sampel Kadar Kemurnian
DNA DNA
Tanah hari ke-1 (g/ml
5411 1,11
Air Laut hari ke-1 1060,5 1,29
Tanah hari ke-7 808,5 1,01
Air Laut hari ke-7 752,5 1,15

Kemudian dilanjutkan dengan isolasi DNA sampel jaringan otot psoas


dengan metode DNAzol. Hasil isolasi DNA sampel tersebut dilanjutkan dengan
pengukuran kadar DNA dengan menggunakan spektrofotometer uv-vis pada panjang
gelombang 260/280 nm. Hasil pengukuran kadar DNA setelah isolasi DNA dari
sampel jaringan otot psoas jenazah sebelum dilakukan amplifikasi Polymerase
Chain Reaction (PCR) disajikan pada Tabel 1. Dari Tabel 1 terlihat adanya
penurunan kadar dan kemurnian DNA dari jaringan otot psoas pada sampel yang
terpapar lama waktu baik pada media tanah maupun air laut. Semakin lama waktu
yang dipaparkan semakin turun kadar dan kemurnian DNAnya, yaitu pada hari ke-1,
7, dan 20 berturut-turut pada media tanah adalah 5411 g/ml dan 1,11;
808,5 g/ml dan 1,01; dan 773,5 g/ml dan 0,99. Sedangkan, kadar dan
kemurnian DNAnya, yaitu rerata pada hari ke 1, 7, dan 20 berturut- turut pada media
air laut adalah 1060,5 g/ml dan 1,29; 752,5 g/ml dan 1,15; dan 703,5 g/ml dan
1,04. Adanya penurunan kadar DNA dalam penelitian ini menunjukkan
adanya pengaruh lama waktu paparan, sehingga mengakibatkan adanya kerusakan
struktur DNA tersebut. Kerusakan DNA yang disebabkan oleh paparan-paparan yang
abnormal contohnya temperatur yang tinggi tersebut menurut Watson (1986),
disebabkan oleh rusaknya ikatan hidrogen DNA yang irreversible. Kondisi ini
mengakibatkan kerusakan pasangan purin-primidin pada DNA, dimana pasangan
purin-primidin ini merupakan komponen utama pada struktur DNA.
Dari hasil penelitian ini membuktikan adanya pengaruh efek lingkungan
dalam hal ini lama waktu paparan terhadap pengukuran kadar DNA yang
terkandung. Hal tersebut terlihat dari hasil pengukuran kadar dan kemurnian

17
DNA melalui spektrofotometer menunjukkan penurunan kadar dan kemurnian pada
sampel jaringan otot psoas yang terkubur di dalam tanah dan ditenggelamkan di
dalam air laut tempat dari hari ke-1, 7 sampai hari ke-20 terdapat adanya
penurunan. Namun dengan adanya penurunan kadar tersebut, bukan
merupakan suatu hambatan sebab kadar DNA yang tersisa masih memungkinkan
untuk dilakukan pemeriksaan DNA profiling yakni minimal 50 ng (Notosoehardjo,
1999).
Kadar minimal DNA yang dapat digunakan pada analisis DNA pada
prinsipnya tergantung pada kebutuhan dan jenis pemeriksaan yang
dilakukan. Pada pemeriksaan DNA forensik yang berbasis Restriction
Fragment Length Polymorphism (RLFP) misalnya, kadar DNA yang dibu- tuhkan
relatif besar yakni sekitar 100 ng, masih segar dengan maksud untuk
meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam penatalaksanaan DNA profiling.
Menurut Notosoehardjo (1999), kadar DNA minimal yang dibutuhkan pada
pemeriksaan DNA forensik masing-masing sebesar 50 ng dan 20 ng, sedangkan
menurut Butler (2001), kadar DNA dalam pemeriksaan STR minimal 0,5-2,5 ng.
Dalam penelitian ini kadar DNA yang didapat dari sampel jaringan otot psoas
jenazah pada media tanah antara rentang 5411-773,5 g/ml, sedangkan
kadar DNA yang didapat dari sampel jaringan otot psoas jenazah pada media air
laut antara rentang 1060,5-703,5 g/m, sehingga masih mencukupi untuk
dilakukan pemeriksaan analisis DNA.
Tabel 2. Hasil penguji
Parameter Satuan Tanah Air
Laut

pH - 8,75 5,50
NaCl mg/L 314,20 1.652,93

Sampel jaringan otot psoas jenazah di tanah regosol pada hari ke-20
mengalami penurunan kemurnian DNA yang sangat signifikan yaitu 0,99, namun
sampel jaringan otot psoas jenazah di air laut pada hari ke-20 tetap stabil memiliki
kemurnian DNA yang baik, yaitu 1,04. Contoh hasil uji kemurnian DNA sampel
pada hari ke-20 di media tanah dan air laut ini, didukung oleh Voss et al.
(2008), yang menyatakan bahwa kemurnian DNA dipengaruhi oleh mikroba,

18
suhu, dan kelembaban pada proses pembusukan jenazah yang berada di air laut
terjadi lebih lambat daripada proses pembusukan di darat (di dalam tanah).
Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter, seperti parameter
fisika yaitu suhu, kekeruhan, padatan terlarut, dan sebagainya, parameter kimia
yaitu pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam, dan sebagainya dan parameter
biologi yaitu keberadaan plankton dan bakteri (Effendi,2003). Hal tersebut
didukung oleh hasil pengujian kandungan pH dan NaCl terhadap kedua media
tersebut di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya menyatakan media air
laut memiliki kadar NaCl yang cukup tinggi yakni 5,50 dan 1.652,93 mg/L,
dibandingkan media tanah regosol memiliki kandungan pH di atas 7,00 yakni
8,75 dan NaCl 314,20 mg/L (Tabel 2).

Gambar 1. Grafik penurunan kadar DNA dan waktu paparan.

Hal ini diperkuat dengan adanya sebuah grafik yang menunjukkan


penurunan kadar DNA dan waktu paparan pada kedua media secara jelas
(Gambar 1). Garis biru pada grafik diatas menyatakan penurunan kadar
DNA yang sangat signifikan menurun pada media tanah mulai hari ke-1, hari ke-
7, sampai hari ke-20. Garis hitam menyatakan penurunan kadar DNA pada media
air laut mulai hari ke-1, hari ke-7, sampai hari ke-20.

Menurut Kodoatie (1996), konsentrasi khlorida (Cl -) dapat mempengaruhi


kualitas air tanah, dimana berdasarkan pembagian kualitas air tanah yaitu air
payau -gara m (Brackish -salt) mengandung khlorida 1000-10000 mg/L.
Purwanto (2003) menyatakan kandungan NaCl yang cukup tinggi tersebut
yang membuat sampel jaringan otot psoas jenazah khususnya di air laut dalam lama

19
waktu paparan pada hari ke-1, hari ke-7, dan hari ke-20, kadar dan kemurnian
DNAnya tetap bagus, yaitu diatas 1,00 (Sambrook et al., 1989). Kemurnian DNA
menjadi persyaratan dalam pemeriksaan Polimerase Chain Reaction (PCR)
dimana kemurnian DNA 1-2 (ideal 1,8-2) memungkinkan dilakukan amplifikasi
(Kusumadewi dkk., 2012).
Kadar DNA merupakan faktor penting dalam pemeriksaan DNA forensik
yakni berpengaruh terhadap keberhasilan STR-PCR pada sampel-sampel DNA.
Penurunan kadar DNA hingga 1 ng berpotensi terhadap penurunan kemampuan
deteksi STR hingga 95% (Sosiawan, 2007). Jumlah kadar DNA yang dibutuhkan
dalam analisis DNA forensik berbeda-beda tergantung dari kebutuhan dan jenis
pemeriksaan. Pada pemeriksaan Short Tandem Repeat (STR) hanya membutuhkan
konsentrasi DNA minimal antara 125 ng. Selain tergantung dari kadar DNA dari
bahan pemeriksaan juga dibutuhkan kualitas DNA yang mencukupi yaitu DNA yang
digunakan harus dalam kondisi terdegradasi seminimal mungkin (Kusuma dan
Yudianto, 2010). Apabila DNA dalam kondisi terdegradasi parah, maka dapat
mengakibatkan primer tidak dapat menempel pada DNA target yang akan
digandakan (Sosiawan, 2007).
Degradasi DNA pada jenasah dapat disebabkan oleh 2 faktor, yaitu
endogenous dan exogenous. Faktor endogenous berasal pada sel sendiri, yang juga
dikenal sebagai kerusakan spontan. Faktor exogenous berasal dari lingkungan.
Perusakan postmortem pada tubuh manusia adalah proses yang sangat kompleks,
dimulai dengan autolysis dan pembusukan serta diikuti oleh penguraian aerobik
dan bakterial (pembusukan) dari bahan organik. Faktor lingkungan seperti
halnya kelembaban serta temperatur lingkungan sangatlah berpengaruh terhadap
kondisi DNA yang digunakan sebagai bahan identifikasi DNA di bidang forensik,
sebagaimana pada pemeriksaan DNA dibidang lainnya (Sosiawan, 2007). Pada
umumnya sampel-sampel forensik yang dilakukan pemeriksaan DNA, 40% sudah
mengalami degradasi atau kontaminasi, sehingga dengan analisis Short Tandem
Repeat (STR) yang mempunyai core sequences kurang 1 kb (kilobase) sangat
efektif dan nilai ke- berhasilannya cukup tinggi, terutama pada DNA yang
mengalami degradasi akan terfragmented (terpotong-potong) dengan menghasilkan
fragmen yang pendek-pendek (Notosoehardjo, 1999).

20
Hasil pemeriksaan efek perlakuan lama waktu paparan pada media tanah
dan air laut terhadap DNA dari jaringan otot psoas jenazah dalam lokus-lokus
STR CODIS (D13S317 dan D18S51) dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil deteksi efek perlakuan lama waktu paparan pada media tanah dan air
laut terhadap DNA dari jaringan otot psoas jenazah pada lokus STR CODIS
(D13S317 dan D18S51).
Media dan lama D13S317 D18S51
T TT T TT
waktu
Tanah Hari 1 6 0 6 0
Air Laut Hari 1 6 0 6 0
Tanah Hari 7 6 0 6 0
Air Laut Hari 7 6 0 6 0
Tanah Hari 20 6 0 6 0
Air Laut Hari 20 6 0 6 0
Keterangan:
T: terdeteksi
TT: tidak terdeteksi
Dari Tabel 3, pada seluruh sampel dalam penelitian ini yang dilakukan
pemeriksaan melalui DNA profiling pada lokus D13S317, dan D18S51 dari
DNA hasil isolasi jaringan otot psoas jenazah semua terdeteksi dan
penampakan pita band-nya sama karena sampel homogen. Pada lokus D13S317
pada hari ke-1, hari ke-7, dan hari ke-20 semua sampel menunjukkan pita band
yang tipis/samar. Namun, pada lokus D18S51 pada hari ke-1, hari ke-7, dan hari
ke-20 semua sampel menunjukkan pita band yang tebal/jelas.

Gambar 2. Hasil visualisasi PCR lokus D13S317 (169-201 bp)

21
Gambar 3. Hasil visualisasi PCR lokus D18S51 (290-366bp)
Keterangan:
H1T: Sampel hari ke-1 dalam tanah
H1A: Sampel hari ke-1 dalam air laut
H7T: Sampel hari ke-7 dalam tanah
H7A: Sampel hari ke-7 dalam air laut
H20T: Sampel hari ke-20 dalam tanah
H20A: Sampel hari ke-20 dalam air laut
M: Marker ladder 100 bp
Visualisasi hasil PCR dengan PAGE pada Gambar 2, menunjukkan semua
sampel terdeteksi dengan pita band yang tipis/samar pada semua perlakuan lama
waktu terhadap lokus D13S317 (rentang antara 169 bp - 201 bp). Visualisasi hasil
PCR dengan PAGE Gambar 3, menunjukkan semua sampel terdeteksi dengan pita
band yang tebal/jelas pada semua perlakuan lama waktu terhadap lokus D18S51
(rentang antara 290 bp - 366 bp).
Dalam penelitian menunjukkan perlakuan lama waktu paparan yakni hari ke-1,
hari ke-7, dan hari ke-20 pada lokus (D13S317, dan D18S51) semua
sampel dalam visualisasi hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan silver
staining PAGE Nampak pita/band-nya terdeteksi). Namun hanya lokus D18S51
semua sampelnya (100%) nampak pita/band-nya (terdeteksi tebal/jelas), sedangkan
lokus D13S317 hanya (50%) yang nampak jelas pita/band-nya, (terdeteksi namun
tipis/samar). Hal ini menunjukkan bahwa pada pemeriksaan DNA bahan jaringan otot
psoas jenazah melalui deteksi lokus STR (D13S317 dan D18S51) didapatkan respon
deteksi yang berbeda pada berbagai waktu lama paparan yang telah diberikan pada
sampel jaringan otot psoas jenazah.
Disamping kadar DNA sampel, pada pemeriksaan DNA berbasis Polymerase
Chain Reaction (PCR) juga dibutuhkan kualitas DNA yang mencukupi. Kualitas
DNA yang dimaksud yakni bahwa DNA yang digunakan dalam analisis harus dalam

22
kondisi yang terdegradasi. Jika DNA mengalami degradasi parah mengakibatkan
primer tidak dapat menempel atau annealing pada DNA target yang akan digandakan
(Muladno, 2002).
Menurut Muladno (2002), untuk mendapatkan hasil visualisasi yang adekuat
dibutuhkan kemurnian DNA yang adekuat dan kadar DNA yang memadai, sehingga
DNA dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan DNA termasuk dalam hal ini
adalah identifikasi dan tes paternitas. Oleh karena itu, kualitas DNA yang bagus
menjadi prasyarat fundamental bagi keberhasilan reaksi PCR secara keseluruhan.
Sensitivitas PCR merupakan fungsi dari jumlah siklus dan kadar serta integritas dari
DNA.
Penelitian ini menggunakan sampel jaringan otot psoas. Jaringan otot
merupakan jaringan yang menunjukkan kerja mekanis dengan cara berkontraksi.
Serabut-serabut otot itu pada hakikatnya merupakan sel-sel otot. Serabut-serabut
otot berkumpul menjadi berkas-berkas otot. Beberapa berkas otot berkumpul
membentuk otot atau daging. Bagian tengah dari daging ini menyambung dan
kedua ujungnya mengecil dan keras, disebut urat atau tendon. Tendon inilah yang
menempel pada daging atau otot. Otot manusia adalah setengah dari berat tubuh
manusia yang mencapai lebih dari 600 jenis, yaitu salah satunya adalah otot psoas.
Musculus psoas major merupakan otot-otot dinding posterior
abdomen. Fungsi dari otot ini adalah sebagai fleksi tungkai atas terhadap tubuh,
jika tungkai atas difiksasi, maka otot ini mengfleksikan badan terhadap tungkai
atas, seperti jika waktu duduk dari posisi berbaring. Musculus psoas major
diambil dengan mengiris bagian pinggul jenazah tipe T4 pada bagian distantia
intercristalis setinggi vertebra lumbali IV. Jaringan otot psoas dikubur di
dalam tanah dan ditenggelamkan di dalam air laut selama maksimal 20 hari
(sesuai KUHAP, lama masa penahanan dalam proses penyidikan). Dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan berpengaruh terhadap kadar DNA.
Seperti diketahui faktor lingkungan seperti halnya kelembaban serta temperatur
lingkungan sangatlah berpengaruh terhadap kondisi DNA yang digunakan sebagai
bahan identifikasi DNA di bidang forensik, sebagaimana pada pemeriksaan DNA di
bidang lainnya.
Sejauh ini pemeriksaan DNA jenazah menggunakan teknik STR banyak
digunakan di Indonesia. STR lokus yang diperiksa pada penelitian ini adalah

23
D13S317 dan D18S51, karena lokus-lokus tersebut memiliki daya deskriminasi
besar pada populasi Indonesia (Untoro et al., 2009). Adanya perbedaan waktu
paparan dari kedua media yang digunakan menyebabkan penurunan kadar DNA dan
kemurniannya. Sedangkan untuk hasil elektroforesis, lokus D13S317 dan D18S51
bagus untuk analisis DNA dari jaringan otot psoas jenazah.

5. KESIMPULAN DAN SARAN


Kualitas DNA dari jaringan otot psoas jenazah pada media tanah dan air laut
yang dikubur dan ditenggelamkan dalam kurun waktu paparan hari ke-1, hari ke-7,
dan hari ke-20 masih dapat diekstraksi, namun terjadi penurunan kuantitas DNA
sejalan dengan lama waktu paparan jaringan otot psoas jenazah. Terdapat
kemampuan lokus STR D18S51 290-366 bp (semua sampel) 100% masih bisa
mendeteksi DNA dari jaringan otot psoas jenazah sampai hari ke-20, sedangkan lokus
STR D13S317 169-201 bp hanya 50% sampel yang masih bisa mendeteksi DNA
jaringan otot psoas jenazah.

UCAPAN TERIMA KASIH


Terimakasih kami sampaikan kepada Indah Nuraini dan Ida Kumala Sari selaku
teknisi di Laboratorium Human Genetic Study Group Institute of Tropical Diseases
(ITD) Universitas Airlangga serta semua pihak yang telah membantu dalam penelitian ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 MUSCULUS PSOAS
2.1.1 ANATOMI

24
Gambar 4. Otot Psoas
Psoas mayor merupakan otot panjang fusiformis yang terletak di samping
kolum vertebra region lumbal. Bergabung dengan otot ilakus mejadi otot iliopsoas.
Psoas mayor dibagi menjadi superficial dan profunda. Bagian profunda berasal dari
prosesus transversus dari vertebra lumbal I-V. Sedangkan yang bagian superfsial
berasa dari permukaan lateral vertebra thoraks terakhir, vertebra lumbal 1-IV dan dari
diskus intervetrebralis. Persarafan psoas mayor berasal dari ramus anterior dari saraf
L1-3.

2.1.2 HISTOLOGI DAN EMBRIOLOGI


Sel otot adalah sel organisme multiseluler yang menyebabkan pergerakan pada
organisme. Kontraksi dari sel otot beserta dengan komponene ekstraselulernya
membuat organisme dapat melakukan berbagai aktivitas fisik. Untuk memahami
bagaimana mekanisme kontraksi otot sehingga dapat menghasilkan gerakan tersebut,
perlu kita ketahui bagaimana struktur jaringan otot.

2.1.2.1 PENGGOLONGAN JARINGAN OTOT


Sel otot dapat dibagi menjadi 2, yaitu striated muscle cells dan smooth
muscle cells (sel otot polos).1
1. Striated muscle cells

25
Se-sel striated muscle cells memiliki ciri khas terdapatnya
pita-pita gelap dan terang yang saling bersebelahan. Striated muscle
cells terbagi menjadi 2 tipe:
a. Skeletal
Sel ini merupakan sel striated muscle cells yang paling
banyak mengisi otot volunteer tubuh. Kebanyakan otot skelet
berasal dari mesoderm somatis.1
b. Kardiak
Sel ini bersifat involunter dan yang terbatas hampir pada jantung
saja. Otot ini berasal dari splanchnopleuric mesoderm.
2. Sel otot polos
Sel otot polos dapat ditemukab pada dermis kulit, dinding
pembuluh darah dan dinding rongga tubuh. Kebanyakan otot polos
berasasl dari mesoderm splanchnic dan somatik.1
2.1.2.2 PEMBENTUKAN OTOT RANGKA
Pembentukan otot rangka dimulai dari terbentuknya myotube dari
myoblast pada perkembangan embrional. Myoblast mula-mula berbaris dari
ujung ke ujung dan berfusi satu sama lain dan membentuk myotube. Serat otot
tidak bisa terbagi lagi setelah mengalami fusi ini. Pertumbuhan otot setelah
lahir berlangsung secara hipertrofi ( perbesaran sel yang sudah ada ). Myotube
ini membentuk konstituen pada sitoplasma dan elemen-elemen kontraktil yang
disebut myofibril. Myofibril berukuran 1-2 mikrometer. Komposisi myofibril
adalah protein-protein bernama myofilamen yang merupakan penyebab
kontraktilitas sel.1
Sebagian myoblast tidak berfusi dengan serat otot yang sedang
berkembang tetapi bertahan pada jaringan otot dewasa sebagai sel
satelit/myosatelit. Sel myosatelit dapat membesar membagi diri, dan berfusi
dengan serat otot yang rusak dalam rangka reparasi jaringan bila terjadi
kerusakan.1,2,3 Akan tetapi, regenerasi serat otot bersifat terbatas karena jumlah
serat yang baru dibentuk tidak cukup untuk menutupi kerusakan atau
degenrasi. Pada kasus seperti ini, jaringan otot rangka akan menggangti serta-
serat otot dengan jaringan parut.2
Susunan serat-serat otot bersifat parallel. Ruang antarsel berisi
continuous capillaries yang juga tersusun secara parallel. Setiap otot skelet
tampak panjang, silindris, memiliki banyak inti dan lurik (bergaris-garis).
Diameter ini mempengaruhi kemampuan kontraksi serat otot, sedangkan

26
kemampuan kontraksi otot secara keseluruhan dipengaruhi oleh ketebalan dan
jumlah serat-seratnya.

2.1.2.3 JARINGAN IKAT PADA OTOT RANGKA


Otot dipisahkan dari kulit oleh hypodermis atau lapisan subkutan.
Lapisan ini terdiri dari jaringan ikat areolar dan jairngan adipose. Lapisan ini
juga memberikan jalur keluar-masuk pembuluh darah, saraf dan pembuluh
limfe. Jaringan adipose pada lapisan subkutan membentu menangkal
hilangnya panas dan melindungi otot dari trauma fisik. Kebanyakan
trigliserida pada tubuh disimpan pada jaringan adipose ini. Otot dikelilingi
oleh fascia, jaringan ikat padat yang juga mengelilingi organ lain pada tubuh.
Terdapat tiga lapisan jaringan ikat yang memperkuat dan melindungi
otot rangka di luar fascia. Lapisan paling luar adalah epimisum yang
membungkus seluruh otot. Turunan epimisum, perimysium, mengelilingi
berkas fasikulus serat otot yang berisi 10 sampai 100 serat otot. Setiap sel otot
dikelilingi oleh lamina eksternal dan endomisium. Endomisium terdiri dari
lapisan tipis jaringan ikat areolar, berbeda dengan perimysium dan epimisium
yang merupakan jaringan ikat padat irregular. Kontraksi otot dapat timbul
karena saling terhubungnya semua jaringan ikat ini. Jaringan pengikat otot
berkelanjutan pula dnegan tendon (sekumpulan jaringan ikat padat yang
tersusun atas serat kolagen yang membuat otot menempel pada tulang) dan
aponeurosis (perluasan jaringan ikat menjadi datar dan lebar).

27
Gambar 5. Struktur otot rangka
Bebebrapa jenis tendon dikelilingi oleh jaringan ikat yang bernama
tendon sheaths. Jaringan ini memiliki ruang antara dua lapis yang berisi cairan
synovial dan berguna untuk mengurangi gesekan. Contoh tendon yang
memiliki ciri-ciri ini adalah tendon pada pergelangan tangan dan kaki.

2.1.2.4 PENAMPAKAN MIKROSKOPIS SERAT OTOT


Serat otot memiliki diameter mulai 10-100 mikrometer dan biasanya
memiliki panjang 10 cm, walaupun ada juga yang panjangnya 30 cm. Serat
otot memiliki banyak inti sel (100 atau lebih) karena berasal dari banyak
myoblast yang bergabung. Inti-inti serat otot terletak langsung di dalam
membrane sel. Pada permukaan sel terdapat depresi dangkal yang ditempati
oelh sel satelit/myosatelit yang hanya memilki satu nucleus.
Serat otot dapat berkontraksi secara bersamaan berkat distribusi sinyal
yang cepat di sepanjang sel. Konduksi sinyal ini diperantarai oleh tubulus T
atau tubulus transversus yang merupakan hasil invaginasi sarkolema. Letak
tubulus T adlah diantara pita A dan pita I sehingga setiap sarkomer memiliki 2
tubulus T. Tubulus T berisi cairan ekstraseluler dan membentuk jalan di dalam
serat otot. Karena tubulus T memiliki struktur umum yang sama dengan

28
sarkolema, impuls elektrik yang sampai di sarkolema dapat diteruskan ke
tubulus T.
Retikulum sarkoplasma adalah sebuah membrane kompleksa yang
membentuk jaringan tubular pada setiap myofibril. Struktur ini mirip dengan
reticulum endoplasma halus. Retikulum sarkoplasma merupakan tempat
penyimpanan ca2+ dan memiliki kanal ion ca2+. Dengan rangsangan
gelombang depolarisasi dari tubulus T, kanal akan terbuka dan ca 2+ akan
dilepaskan ke sitolos dekat myofibril. Dengan mekanisme ini, reticulum
sarkoplasma mengatur kontraksi melalui ca2+. Ujung reticulum sarkoplasma
yang berdilasi membentuk kantung di dekat tubulus T disebut dengan sisterna
terminal. Struktur yang terdiri dari 2 sisterna terminal dan tubulus transversus
di antaranya disebut dengan triad.
Di dalam sarcolemma terdapat sarkoplasma berisi glikogen yang dpaat
digunakan untuk sintesis ATP. Sarkoplasma juga memiliki myoglobin, protein
berwarna merah yang mengikat oksigen dan berdifusi ke dalam otot melalui
cairan interstitial. Oksigen akan dilepaskan myoglobin saat produksi ATP.
Mitokondia yang juga terlibat dalam produksi ATP terletak di sepanjang serat
otot di dekat protein-protein otot yang menggunakan ATP.

Gambar 7. Struktur myofibril4


Myofibril tersusun atas struktur yang lebih kecil yaitu filament yang
dapat berupa filament tipis maupun tebal. Kedua tipe filament ini dapat
diamati menggunakan mikroskop electron. Filamen tidak berada di seluruh
panjang serat otot, melainkan tersusun dalam kompartemen-kompartemen
yang disebut sarkomer. Pada otot rangka mamalia, setiap filament tebal
dikelilingi oleh filament tipis dalam jarak yang sama. Potongan cross-sectional

29
akan menunjukkan pola-pola heksaginal pada daerah bertumpuknya filament
tebal dan tipis. Bagian tengah dari heksagon ini diisi oleh filament tebal dan
ujung-ujungnya oleh filament tipis.
Pada potongan longitudinal, terlihat garis-garis berisi pita-pita gelap
dan terang yang dihasilkan oleh myofibril yang tersusun sangat parallel. Pita
yang gelap disebut pita A ( anisotropic bila diberi cahaya terpolarisasi) dan
pita yang terang adlah pita I (isotropic terhadap cahaya terpolarisasi). Pita I
dibagi menjadi dua bagian sama rata oleh garis gelap yang disebut disk Z. Di
tengah pita A terdapat daerah yang pucat yaitu pita H. Pita H dipertengahi oleh
garis M yang gelap. Garis M adalah protein yang membantu stabilisasi posisi
filament tebal.

Gambar 8. Pita-pita pada myofibril dan penampakan heksagonnya.


Sarkomer adalah sebutan untuk satu unit kontraktil pada serat oto
rangka yang diperantarai dua garis Z. Panjang sarkomer biasanya 2,5
mikrometer. Pita-pita serat otot rnagka akan berprilaku secara khas pada saat
kontraksi otot.
Myofibril dapat saling merespons satu sama lain berkat bantuan
filament intermediate desmin dan vimentin yang mengamankan bagian pinggir
garis Z. Berkas-berkas myofibril dapat menempel pada sitoplasma
sarcolemma melalui beerbagai protein, contohnya protein distrofin yang dapat
berikatan dengan aktin.

30
2.1.2.5 PROTEIN PADA OTOT RANGKA
Filamen Tebal
Sebanyak 200-300 myosin II menyusun setiap filament tebal. Myosin
II terdiri atas 2 rantai berat (heavy chains) identic dan 4 rantai ringan (light
chain) yang terdiri atas 2 jenis ( masing-masing memiliki dua rantai ringan).
Rantai berat memiliki bentuk seperti ujung stik golf yang tangkainya
merupakan rantai polipeptida yang mengikat satu sama lain dalam bentuk alfa-
heliks. Bagian-bagian rantai berat dibagi menggunakan tripsin menjadi:
a. Meromyosin ringan, memiliki ekor seperti tangkai yang terdiri atas
kebanyakan ikatan dua rantai polipeptida.
b. Meromyosin berat, yaitu kepala globuler ditambah dengan bagian
proksimal dua tangkai yang saling mengikat. Dengan menggunakan papain,
struktur ini dapat dibagi lagi menjadi:
i. Subfragmen S1 yaitu 2 gugus fungsi globuler yang mengikat ATP
dan membentuk cross bridge antara filament tipis dan filament tebal.
Setiap subfragmen S1 memiliki dua rantai ringan dan jenis yang
berbeda.
ii. Subfregmen S2, yaitu segmen helical pendek berbentuk tangkai.

Gambar 9. Struktur myosin II


Myosin memiliki dua daerah yang fleksibel. Daerah pertama yang
terletak di antara meromyosin dan meromyosin ringan mengakibatkan
filament tebal dapat bersentuhan dnegan filament tipis. Fleksibilitas pada
daerah yang kedua, yaotu pada hubungan antara subframen S1 dan S2,
mengakibatkan filament tebal dapat menarik filament tipis menuju sarkomer.

Filamen Tipis

31
Filamen tipis terdiri atas polimer F-actin yang tersusun atas unit
globular G-actin. Susunan molekul G aktin menhasilkan kutub positif )yang
terikat pada garis z) dan kutub negative ( yang berada di dekat daerah tengah
sarkomer pada filament tipis. Setiap molekul G-actin mempunyai situs tempat
subfragmen S1 dan myosin II berikatan. Situs ini dinamakan situs aktif (active
site). Di sepanjang aktin terdapat polimer panjang molekul tropomyosin yang
menutupi situs aktif pafa aktin. Pada filament tipis juga terdapat troponin yang
terdiri atas tiga polipeptida globular:
a. TnT: submit yang mengikat tropomyosin dengan troponin
b. TnC: submit yang memiliki afinitas besar terhadap calcium. Ikatan
calcium dengan submit ini akan mengubah konformasi tropomyosin
sehingga situs aktif kembali terbuka.
c. TnI: submit yang mencegah interaksi antara myosin II dan aktin1

Gambar 10. Aktin dan myosin II1


Klasifikasi protein
Terdapat 3 jenis protein penyusun myofibril:
1. Protein kontrakti, yaitu protein yang menimbulkan gaya pada saat
kontraksi. Terdiri atas:
a. Aktin. Molekul-molekul individu aktin bergabung menjadi filament
tipis berbentuk heliks. Filamen ini bersangga pada garis Z. Pada
setiap molekul aktin terdapat situs perlekatan myosin (myosin-
binding site)2
b. Myosin. Myosin berfungsi sebagai motor protein yang menarik atau
mendorong struktur sel tertentu untuk menghasilkan pergerakan.
Hal ini dicapai dengan mengubah energy kimia dari ATP menjadi
energy mekanik. Sebanyak 300 molekul myosin membentuk satu
filament tebal pada otot rangka. Bentuk myosin menyempit dua
tongkat golf yang dimiringkan bersama-sama. Filamen tebal, paling
banyak berisi myosin II.
2. Protein regulator, yaitu protein yang membantu
menjalankan/menonaktifkan proses kontraksi. Protein regulator di
antaranya adalah:
a. tropomyosin

32
b. troponin
3. Protein structural, yautu protein yang mengatur agar filament tebal
dan tipis berada dalam posisi yang tepat, mengaitkan myofibril ke
sarcolemma dan matriks ekstraseluler, serta memberikan elastisitas
dan ekstensibilitas pada myofibril. Berikut adalah protein-protein
struktural:
a. titin: protein yang panjang. lurus dan elastis berperan dalam
memposisikan filament tebal dalam sarkomer.
b. alfa-aktininL komponen garis Z yang mengikat filament tipis
secara parallel dnegan mengaiktkan ujung positif filament tipis
ke garis Z.
c. cap Z: protein yang menjaga panjang filament tipis dengan cara
memegang ujung positif filament tipis shingga dapat memblok
adiksi atau subtraksi molekul G-aktin.
d. nebulin: protein garis Z, protein tidak elastis yang mengelilingi
sepanjang filament, mengaitkan filament tipis dengan garis Z,
juga berfungsi sebagai penggaris yang memastikan panjang
filament.
e. tropomodulin: protein yang membantu fungsi penggaris nebulin
dengan menjadi cap untuk ujung negative filament.
f. myomesin: protein penyusun garis M pada sarkoemer yang
berikatan dengan titin dan menyambungkan satu filament tebal
dengan filament tebal yang lain.
g. distrofin: protein yang mengaitkan filament tipis dengan protein
membrane sarkolema, diduga membantu memperkuat
sarcolemma dan membantu transmisi tegangan dari sarkomer ke
otot.

Warna
Karakteristik Serat Otot Merah Serat Otot Putih
Diameter serat Lebih kecil Lebih besar
Vaskularisasi Kaya Lebih sedikit
Inervasi Serat saraf lebih kecil Serat saraf lebih besar
Kontraksi Lambat tapi repetitive, lebih Cepat tetapi gampang lelah,
lemah, tidak mudah lelah. kontraksi lebih kuat
Reticulum sarkoplasma Tidak ekstensif Ekstensif
Mitokondria Banyak Sedikit
Myoglobin Banyak Sedikit
Enzim Miskin adenosine Kaya akan enzim adenosine
trifosfatase, kaya enzim trifosfatase dan fosforilase,

33
oksidatif miskin enzim oksidatif

2.2 PEMBUSUKAN
2.2.1 DEFINSI
Pembusukan merupakan suatu keadaan dimana tubuh mengalami dekomposisi
yang terjadi akibat proses autolisis dan putrefaksi. Autolisis merupakan perlunakan
dan pencairan sel dan organ tubuh yang terjadi pada proses kimia steril yang
disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler yang dilepaskan oleh sel yang sudah mati.
Proses ini dipercepat oleh suhu tinggi, diperlambat oleh suhu rendah, dan dihambat
oleh pendinginan dan hilangnya aktivitas enzim tersebut. Pada organ yang memiliki
banyak enzim maka proses ini akan terjadi lebih cepat.
Putrefaksi terjadi dikarenakan fermentasi oleh flora normal dari sistem
pencernaan yang menyebar ke seluruh tubuh setelah mati dan menyebabkan
pembusukan. Pembusukan merupakan proses penghancuran jaringan tubuh yang
terutama disebabkan oleh bakteri Clostridium Welchii yang sering ditemukan pada
saluran pencernaan. Pembusukan terjadi dalam waktu kurang lebih 48 jam.

2.2.2 FISIOLOGI
Sistem pertahanan tubuh hilang pada orang yang sudah meninggal sehingga
kuman-kuman pembusuk dapat dengan mudah memasuki pembuluh darah dan
menggunakan darah sebagai media untuk berkembang biak. Kuman tersebut dapat
menyebabkan hemolisa, pencairan bekuan darah yang terjadi sebelum atau sesudah
mati, pencairan thrombus dan emboli, perusakan jarigan-jaringan dan pembentukan
gas-gas pembusukan. Proses ini akan mulai tampak kurang lebih 48 jam setelah mati.
Tanda awal dari pembusukan akan tampak diskolorasi pewarnaan hijau pada
kuadran bawah abdomen yang muncul pada 24-36 jam setelah kematian, bagian
kanan lebih sering daripada bagian kiri. Hal ini disebabkan karena usus besar di
daerah tersebut banyak mengandung cairan dan bakteri serta letaknya yang dekat
dengan dinding perut. Pewarnaan kehijauan juga akan terjadi pada daerah kepala,
leher, dan bahu. Warna hijau tersebut ditimbulkan oleh terbentuknya sulf-Hb, saat
H2S yang berasal dari pemecahan protein akan bereaksi dengan Hb yang akan
membentuk Hb-S dan Fe-S.
Bakteri yang masuk dan berkembang biak pada pembuluh darah menyebabkan
hemolisa melalui reaksi hemoglobin dan hydrogen sulfide yang kemudian mewarnai
dinding permbuluh darah dan jaringan sekitarnya menjadi hitam kehijauan, yang

34
disebut dengan marbling. Bakteri ini memproduksi gas-gas pembusukan yang mengisi
pembuluh darah dan menyebabkan pelebaran pada pembuluh darah vena superfisial
sehingga pembuluh darah dan cabang-cabangnya nampak lebih jelas seperti pohon
gundul (aborescent pattern atau aborescent mark).
Awal minggu kedua terjadi pembentukan gas dalam tubuh yang dimulai dari
lambung dan usus. Pembentukan gas ini menyebabkan naiknya tegangan abdomen
dan perut akan tampak menggelembung. Tekanan intra abdominal dapat
menyebabkan pengeluaran urin dan feses, serta prolaps uteri dan pengeluaran fetus
setelah kematian pada wanita hamil. Tekanan pada rongga dada meningkat karena
adanya gas pembusukan didalam rongga abdomen, sehingga menyebabkan udara dan
cairan pembusukan yang berasal dari trakea dan bronkus terdorong keluar, bersama
dengan keluarnya cairan darah melalui mulut dan hidung. Pembengkakan yang terjadi
pada seluruh tubuh mengakibatkan peningkatan berat badan mayat sesudah mati. Gas
dalam jaringan tubuh akan menimbulkan kesan seperti krepitasi, yaitu apabila daerah
tersebut diraba akan teraba derik udara. Pada daerah scrotum, penis dan buah dada
gelembung pembusukan biasanya akan tampak jelas.
Setelah tiga atau empat minggu rambut akan mudah dicabut, kuku-kuku akan
terlepas, wajah akan tampak menggembung dan pucat dengan pewarnaan kehijauan
dan akan berubah menjadi hitam kehijauan yang akhirnya akan bewarna hitam, mata
akan tertutup erat oleh karena penggembungan pada kedua kelopak mata serta bola
mata akan menjadi lunak, bibir akan menggembung dan mencucur, lidah akan
menggembung dan terjulur keluar, dan cairan dekomposisi dapat keluar dari hidung.
Proses pembusukan akan berlanjut dengan menciutnya organ-organ dalam
dengan kecepatan yang berbeda-beda. Salah satu faktor yang berperan dalam
kecepatan pembusukan adalah banyak sedikitnya darah yang terdapat pada organ
dalam tersebut. Organ dalam yang paling cepat membusuk ialah otak, hati, lambung,
usus halus, limpa, rahim wanita hamil atau nifas. Pada hati dapat dilihat gambaran
honey combs appearance, limpa menjadi sangat lunak dan mudah robek, serta otak
menjadi lunak.
Organ yang lambat membusuk ialah esofagus, jantung, paru-paru, difragma,
ginjal dan kandung kemih. Organ yang paling lambat mengalami pembusukan adalah
prostat pada laki-laki dan rahim pada wanita yang tidak dalam keadaan hamil atau
nifas, karena strukturnya yang berbeda yaitu jaringan fibrous. Kedua organ dalam
tersebut dapat dipakai sebagai petunjuk menentukan jenis kelamin mayat pada
keadaan pembusukan lanjut.

35
Tahap terakhir dari pembusukan adalah skeletonization, yaitu menyisakan
sedikit atau bahkan tidak ada jaringan lunak, sehingga hanya terlihat tulang. Proses ini
dapat bertahan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, hingga akhirnya terjadi
penghancuran tulang. Skeletonization lebih tergantung pada keadaan lingkungan
daripada pembusukan secara alami. Mikrooganisme dalam tanah, cuaca dan keasaman
tanah berpengaruh terhadap keutuhan tulang. Ketika pembusukan tubuh sampai pada
tahap ini, penentuan waktu kematian bisa sangat sulit.

2.2.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PEMBUSUKAN


Pembusukan dapat dipengaruhi oleh faktor tertentu yang dapat mempercepat
atau memperlambat proses pembusukan. Faktor yang mempengaruhi lamanya
pembusukan ada dua yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar adalah faktor
yang dapat mempengaruhi lamanya pembusukan dari luar, sedangkan faktor dalam
dari tubuh mayat itu sendiri.
A. Faktor Luar, yaitu:
1. Suhu disekitar mayat
Proses pembusukan yang paling optimal terjadi pada suhu 700F-
1000F(21C-38C). Suhu yang optimal akan membantu pemecahan proses
biokimiawi dan sangat menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri sehingga
proses pembusukan dapat terjadi lebih cepat. Pada suhu dibawah 500F(10C)
atau diatas 1000F(38C) proses pembusukan akan menjadi lebih lambat, proses
pembusukan menjadi lebih lambat akibat terhambatnya pertumbuhan
mikroorganisme.
2. Kelembapan udara
Pada proses pembusukan memerlukan kelembapan udara, lingkungan
yang lembab akan mendorong proses pembusukan sedangkan lingkungan yang
kering akan memperlambat proses pembusukan. Mayat yang dikeringkan atau
berada ditempat yang kering akan menyebabkan mummifikasi.
3. Ketersediaan Oksigen
Kandungan oksigen yang berkurang pada lingkungan akan
memperlambat proses pembusukan, karena oksigen diperlukan oleh bakteri
aerob yang berperan dalam proses pembusukan. Pada penelitian Mnat (1987)
yang mengamati sebuah kuburan masal, dimana salah satu mayat dibuka dari
atas dada sampai bawah perut, menunjukkan hilangnya semua organ dada dan
jaringan lunak yang terkait.

36
4. Lingkungan
Pada medium udara proses pembusukan lebih cepat dibandingkan
dengan pada medium air, sedangkan pada medium air proses pembusukan
lebih cepat terjadi dibandingkan pada medium tanah. Tanah permukaan
memiliki bakteri lebih banyak dan kondisi yang lebih lembab dibandingkan
tanah dalam sehingga pada tanah permukaan pembusukan lebih cepat terjadi
dibanding tanah dalam. Mayat yang berada dipermukaan proses pembusukan
akan terjadi lebih cepat daripada mayat yang dikubur dalam tanah. Jika tubuh
terendam air, kecepatan dekomposisi akan melambat karena pendinginan pada
tubuh. Sementara jika diangkat dari air dekomposisi akan meningkat karena
sudah diencerkan oleh air dan tekanan atmosfer yang tinggi yang akan
membantu proses dekomposisi.
5. Pakaian
Fungsi pakaian bisa mempercepat atau memperlambat fungsi
pembusukan. Pakaian akan mencegah mikroorganisme masuk kedalam tubuh
melalui udara sehingga proses pembusukan dapat dihambat. Akan tetapi
apabila keadaan udara dingin, maka pakaian akan membantu mempertahankan
temperatur menyebabkan tubuh dapat ditinggali oleh beberapa jenis
mikroorganisme, sehingga proses pembusukan akan dipercepat.

6. Serangga
Aktivitas serangga merupakan faktor penting dalam proses
pembusukan, yaitu dapat mempercepat proses pembususkan. Lalat akan
hinggap pada mayat karena tertarik oleh bau yang dikeluarkan, kemudian akan
meletakan telurnya pada mayat tersebut. Serangga ini senang bertelur didaerah
yang tidak terkena sinar matahari, yaitu disekitar lubang mulut, hidung, mata
alat kelamin. Telur ini kemudian akan menetas menjadi belatung dalam waktu
8-14 jam. Belatung akan merusak jaringan lunak dan otot, dengan cara protein
yang ada dalam jaringan dibusukkan sehingga menyebabkan sebagian besar
daerah mencair. Belatung dapat menyebarkan bakteri keseluruh tubuh dalam
perjalanannya, sehingga dapat merusak jaringan lunak dalam waktu singkat.
Belatung juga menghasilkan banyak panas sehingga akan merangsang proses
pembusukan selanjutnya. Aktivitas serangga dipengaruhi oleh suhu
lingkungan dan paparan sinar matahari. Paparan sinar matahari langsung akan

37
mempercepat aktivitas serangga dalam proses pembusukan tetapi populasinya
kecil, sedangkan pada daerah yang teduh menunjukkan populasi serangga
besar tetapi onsetnya kecil.
B. Faktor internal, yaitu:
1. Umur
Pada mayat dari orang-orang tua, pembusukan terjadi lebih lambat
karena komposisi lemak tubuh yang lebih sedikit, selain itu pembusukan juga
lebih lambat terjadi pada mayat bayi yang belum pernah diberi makan karena
kuman pembusuk belum masuk kedalam tubuh.
2. Jenis kelamin
Pada wanita, komposisi tubuh dengan lemak subkutan lebih banyak
sehingga dapat sedikit mempercepat terjadinya pembusukan, akan tetapi tidak
ditemukan perbedaan lain yang mempengaruhi jenis kelamin.
3. Kondisi tubuh
Pada tubuh yang berlemak proses pembusukan terjadi lebih cepat
karena jumlah air pada tubuh yang brlemak lebih banyak sehingga
memberikan tempat untuk mikroorganisme dapat berkembang.

4. Penyebab kematian
Mayat pada pendererita penyakit kronis akan lebih cepat membusuk
dibandingkan dengan mayat yang mati secara mendadak. Pada mayat yang
mati karena infeksi atau septicemia akan lebih cepat membusuk juga
dikarenakan adanya bakteri.
5. Perlukaan luar pada tubuh
Perlukaan pada tubuh dapat mempercepat proses pembusukan karena
adanya mikroorganisme tambahan yang masuk kedalam tubuh melalui luka
luar tubuh.

2.2.4 TEORI PEMBUSUKAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN MEDIA


Menurut rule of thumb (Caspers dictum) pembusukan satu minggu pada
medium udara setara dengan pembusukan dua minggu pada medium air,sedangkan
delapan minggu pada medium tanah pada suhu lingkungan yang sama.

38
a. Pembusukan pada medium tanah
Tanda-tanda pembusukan jenazah secara klinis yang mulai tampak pada
24-48 jam kematian yaitu warna kehijauan pada perut kanan bawah, pelebaran
vena superfisial, muka bengkak, perut mengembung, skrotum atau vulva
membengkak, kulit menggelembung atau melepuh, bola mata melunak, lidah dan
bola mata menonjol, dinding perut dan dada pecah, kuku dan rambut lepas, organ-
organ membusuk dan hancur.
Sumber lain membagi pembusukan menjadi 5 tahap:
1. Initial Decay (fresh stage).
Dimulai beberapa saat setelah kematian, berlangsung
selama 24-72 jam.11,13 Tahap kaku mayat dan lebam mayat baru
dimulai.Perubahan-perubahan yang terjadi belum nampak secara
klinis. Bakteri mulai menyebar ke seluruh tubuh dan menyebarkan
enzim digestif. Beberapa serangga mulai tertarik untuk datang dan
berkoloni pada mayat, salah satu yang muncul pertama adalah lalat
famili calliphoridae. Kemudian disusul oleh famili sarcophagidae,
piophilidae, dan muscidae.
2. Putrefaction (bloat stage).
Berlangsung selama 4-10 hari pasca kematian.Pada tahap
ini terjadi pembengkakan pada mayat akibat gas yang dihasilkan oleh
metabolisme anaerob bakteri. Gas yang terdiri atas hydrogen
sulphide dan methane itu mulai menimbulkan bau busuk yang nyata.
Perut mengembung, lidah dan bola mata menonjol, keluarnya cairan
melalui lubang tubuh, warna kehijauan pada kulit yang dimulai dari
abdomen adalah tanda-tanda yang terlihat pada tahap ini.
3. Black Putrefaction (active decay).
Berlangsung selama 10-25 hari pasca kematian. Tanda dari
tahap ini adalah bau yang sangat menyengat dan warna kehitaman
pada mayat. Bagian-bagian tubuh mayat terbuka dan semakin
memudahkan larva lalat untuk masuk. Pada tahap ini biasanya larva
lalat telah mencapai 3rd instar, kemudian mulai meninggalkan
jenazah untuk menjadi pupa.
4. Butyric Fermentation Stage (advance decay).
Berlangsung selama 20-25 hari pasca kematian. Pada tahap
ini mayat terlihat lebih kering dari sebelumnya. Terjadi fermentasi
menghasilkan gas asam butirat (berbau seperti keju) yang menarik

39
serangga spesies lain, seperti kumbang dari famili carcass, trogidae
dan dermestidae.11 Bila mayat berada di tempat yang basah atau
lembab, mungkin famili kumbang tidak akan muncul, dan larva lalat
dapat bertahan lebih lama.
5. Dry or Remains Decay.
Dapat berlangsung selama 25-50 hari pasca kematian.Pada
tahap ini mayat menjadi sangat kering, tertinggal kulit yang
mengering, rambut dan tulang, serta lalat atau larva sudah tidak
nampak pada mayat.Kecepatan masing-masing tahap pembusukan
sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh banyak faktor seperti
temperatur udara, iklim, penyebab kematian, pakaian, obat-obatan,
kandungan lemak dan ukuran tubuh mayat.
Penguburan mayat pada medium tanah merupakan media yang paling umum
ditemukan. Jenazah dapat disimpan pada permukaan atau dikuburkan mempengaruhi
terjadinya pembusukan. penguburan jenazah dapat menghalangi kerusakan pada
mayat yang terjad karena aktivitas serangga atau hewan lainnya. Suhu yang berada di
atas tanah biasanya lebih tinggi daripada suhu dibawah permukaan tanah
menyebabkan pada mayat yang dikuburkan terlindungi dari aktivitas dari cuaca yang
dapat merusak jaringan tubuh. Kedalaman dari penguburan mayat juga merupakan
faktor yang mempengaruhi proses pembusukan, lebih dalam mayat dikuburkan akan
menjaga mayat pada suhu yang stabil dan perlindungan dari faktor-faktor yang
mempercepat pembusukan yang berasal dari permukaan tanah. Pada mayat yang
dikuburkan dapat menjadikan mayat tersebut lebih susah untuk dikenali.
b. Pembusukan pada medium air
Pembusukan pada jenazah yang berada di air terjadi lebih lambat
daripada yang berada di darat. Berdasarkan penelitian terhadap hewan coba babi
(Sus scrofa) pada Juni-November di sungai Indiana Selatan, proses pembusukan
jenazah di medium air dapat dibagi dalam 6 tahap, yaitu:
1. Submerged Fresh.
Tahap rentang waktu antara jenazah tenggelam di dalam air
sampai terlihat mulai terapung. Pada penelitian ini didapatkan waktu
2-6 hari.
2. Early Floating.
Gas yang diproduksi oleh bakteri-bakteri anaerob dalam
tubuh meningkat, membuat jenazah terangkat sampai permukaan

40
air. Bau busuk yang dihasilkan proses pembusukan akan menarik
bagi serangga seperti blow flies untuk datang dan meletakkan telur
pada bagian tubuh jenazah yang tidak terendam air. Pada penelitian
ini didapatkan waktu 6-8 hari.
3. Floating Decay.
Terjadi peningkatan aktivitas larva lalat pada bagian
jenazah yang nampak di permukaan air, menyebabkan banyak luka
terbuka pada jenazah. Kulit jenazah mulai mengelupas dan warnanya
menjadi kehitaman. Pada penelitian ini didapatkan waktu 8-24 hari.
4. Bloated Deterioration.
Sebagian besar tubuh jenazah telah muncul ke permukaan
air. Cairan-cairan dalam tubuh keluar dari berbagai lubang pada
tubuh jenazah, bahkan gas yang terbentuk pada tahap sebelumnya
dapat sampai membuat bagian perut pecah. Pada penelitian ini
didapatkan waktu 8-12 hari.
5. Floating Remains.
Aktivitas larva lalat (calliphoridae) mulai menurun
disebabkan karena terjatuh dan tenggelam, atau bermigrasi, atau
dimangsa oleh predator lain. Bagian-bagian tubuh jenazah juga telah
banyak tercerai. Pada penelitian ini didapatkan waktu 4-20 hari.
6. Sunken Remains.
Hanya tulang dan sedikit kulit dari jenazah yang tersisa, dan
bau busuk pun telah menghilang.Kecepatan masing-masing tahap
pembusukan dalam air ini juga sangat bervariasi karena dipengaruhi
oleh banyak faktor seperti temperatur air, kadar garam, konsentrasi
oksigen, aquatic organisme, pakaian jenazah, ukuran tubuh jenazah,
tenggelam atau terapung.

2.3 DNA
2.3.1 DEFINISI
Deoxyribonucleic acid (DNA) adalah suatu materi yang terdapat pada
tubuh manusia dan semua makhluk hidup yang diwarisi secara turun menurun.
Semua sel pada tubuh memiliki DNA yang sama dan sebagian besar terdapat
pada nukleus. DNA juga dapat ditemukan pada mitokondria. Struktur dari
DNA terdiri dari gugus fosfat, gula deoksiribosa dan basa nitrogen. Informasi
yang dibawa oleh DNA bergantung pada urutan basa nitrogen yang terdiri

41
dari Adenin (A), Timin (T), Guanin (G) dan Sitosin (C). Basa pada DNA
selalu berpasangan yaitu A-T dan G-C. Masing-masing pasangan basa melekat
pada molekul gula (deoksiribosa) dan fosfat membentuk unit nukleotida.
Nukleotida tersusun berpasangan pada baris panjang yang berbentuk spiral
yang sering disebut double helix.

2.3.2 STR
2.3.2.1 DEFINISI
Short Tandem Repeats (STR) atau yang dikenal juga sebagai
mikrosatelit atau Simple Sequences Repeats (SSRs), adalah rantai DNA
yang berbentuk seperti akordion yang berisi inti unit yang berulang
dari dua sampai tujuh nukleotida dengan panjang yang secara tandem
berulang kira-kira setengah sampai beberapa lusin kali.
2.3.2.2 CARA PENGAMBILAN
Gen manusia terdiri dari beribu-ribu marker STR, namun hanya
sekelompok kecil inti lokus yang dipilih untuk digunakan dalam ilmu
DNA forensik dan tes identitas manusia.4 Menggunakan satu inti lokus
yang dianalogikan seperti mata uang dalam keuangan, inti lokus
memperkenankan kesetaraaan informasi genetik untuk dibagikan dan
dibandingkan. Commercial kits saat ini tersedia untuk menghasilkan
profil DNA yang mengandung unsure inti-inti lokus STR (Tabel 1.)

42
STR kits menyediakan tangga alel yang berisi alel STR umum
yang sudah dikarakteristikan dengan nomor dari unit yang diulang
melalui pengurutan DNA. Alel-alel tangga ini digunakan untuk
mengkalibrasi ukuran produk PCR menjadi nomor STR berulang
dengan tujuan genotyping.

2.3.2.3 CARA PEMERIKSAAN DAN ANALISA HASIL


Dikembangkan oleh Kary Mullis pada tahun 1983, sebuah
proses yang dilaporkan oleh bagian tertentu dari sampel DNA dapat
diperkuat hampir tanpa batas. Hal ini telah merevolusi seluruh bidang
studi DNA. Ada beberapa teknologi DNA yang digunakan dalam
penyeidikan forensic, antara lain:
a. Polimorfisme Panjang Fragmen estriksi (RFLP)
RFLP adalah teknik menganalisis variable panjang
fragen DNA yang dihasilkan dari mencerna sampai DNA
dengan jenis kelamin dari enzim. Enzim ini, sebuah
endonuklease pembatasan, memotong DNA pada pola urutan
tertentu tahu sebagai situs endonuklease pembatasan
pengakuan. Ada atau tidak adanya pengakuan situs tertentu
dalam sampel DNA menghasilkan variable panjang fragmen

43
DNA, yang dipisahkan menggunakan elektroforesis. Gel.
Mereka kemudian hidridisasi dengan probe DNA yang
mengikat urutan DNA komplementer dalam sampel. RFLP
adalah salah satu aplikasi pertama analisis DNA untuk
penyidikan forensic. Dengan perkmbangan baru, teknik DNA
analisis yang lebih efisien, RFLP tidak digunakan sebanyak
dulu karena membutuhkan julah yang relative besar DNA.
Selain itu, sampel rusak oleh faktor lingkungan, seperti kotoran
atau cetakan, tidak bekerja baik dengan RFLP
b. Analisis PCR
Reaksi berantai polymerase (PCR) digunakan untuk
membuat jutaan salinan tepat DNA dari sampel biologis,
amplifikasi DNA dengan PCR memungkinkan analisis DNA
pada sampel biologis sekecil beberapa sel sel kulit. Dengan
RFLP, sampel DNA harus tentang ukuran seperempat.
Kemampuan PCR untuk memperkuat jumlah kecil seperti DNA
memungkinkan bahkan sampel yang sudah terdegrasi untuk di
analisis. Great perawatan, bagaimanapun harus diambil untuk
mencegah kontaminasi dengan bahan biologis lain selam
mengidentifikasi, mengupulkan, dan memelihara sampel.
c. STR analisis
Short tandem repeat (STR) teknologi yang digunakan
untuk mengevaluasi daerah daerah tertentu (lokus) dalam
DNA nuklir. Variabilitas di daerah STR dapat digunakan untuk
membedakan satu profil DNA dari yang lain. Federal Bereau of
Investigation (FBI) menggunakan satu set standar 13 daerah
STR khusus untuk COIDS. COIDS adalah sebuah program
perangkat lunak yang beroperasi local, Negara, dan database
nasional profil DNA dari oelaku hokum, bukti TKP belum
terpecahkan, dan orang hilang. Kemungkinan bahwa dua
individu akan memiliki profil DNA yang sama 13-lokus adalah
sekitar saty dalam satu miliyar
d. Analisis DNA mitokondria
Analisis DNA mitokondria (mtDNA) apat digunakan
untuk menguji DNA dari sampel yang tidak dapat dianalisis
dengan RFLP atau STR, DNA nuklir harus diekstrak dari

44
sampel untuk digunakan dalam RFLP, PCR, dan STR, namun
hasil analisis mtDNA menggunakan DNA yang diekstrasi dari
organel seluler lain yang disebut mitokondria. Sedangkan
sampel biologis yang lebih tua yang kekurangan bahan
bernukleus seluler, seperti rambut, tulang, dan gigi, tidak dapat
di analisis dengan STR dan RFLP, mereka dapat dianalisis
dengan mtDNA. Alam penyelidikan kasus yang sudah
terpecahkan selama bertahun-tahun, mtDNA sangat baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gartner LP, Hiatt JL. Color Textbook of Histology, Third Edition. Philadelphia:
Saunders; 2007.
2. Tortora GJ, Derrickson BH. Principles of Anatomy and Physiology: Organization,
Support and Movement, and Control Systems of the Human Body, Twelfth
Edition, Volume I. John Wiley & Sons;2009.
3. Martini FH, Nath JL, Bartholomew EF. Fundamentals of Anatomy & Physiology,
Ninth Edition. SanFrancisco: Pearson Benjamin Cummings; 2012.
4. Jusuf AA. Aspek Histologis Sistem Muskuloskeletal [unpublished lecture notes].
MD04600205: Kulit,Jaringan Penunjang & Muskuloskeletal. Fakultas Keodkteran
Universitas Indonesia; lecture given 2013 Oct 16.
5. Stryer, L. 1988, Biochemistry, thrid edition. Stanford University, W.H. Freeman and
Company, New York.

45
6. Wolf, L.S., 1993, Molecular and cellular Biology. California: Wardsworth
Publishing Company.
7. Butler, J.M. 2005. Forensic DNA Typing: Biology, Technology, and Genetics of STR
Markers. 2nd ed. Elsevier Academic Press, New York.
8. Butler, J.M. 2006. Genetics and genomics of core STR loci used in human identity
testing. J. Forensic Sci. 51:253-265.
9. Collins, P.J., L.K. Hennessy, C.S. Leibelt, R.K. Roby, D.J. Reeder, and P.A. Foxall.
2004. Developmental validation of a single-tube amplification of the 13 CODIS STR
loci, D2S1338, D19S433, and amelogenin: the AmpFlSTR Identifiler PCR
Amplification Kit. J. Forensic Sci. 49:1265-1277.
10. Yeung, S.H., S.A. Greenspoon, A. McGuckian, C.A. Crouse, C.A. Emrich, J. Ban,
and R.A. Mathies. 2006. Rapid and high-throughput forensic short tandem repeat
typing using a 96-lane microfabricated capillary array electrophoresis microdevice. J.
Forensic Sci. 51:740-747
11. DNA Forensik sebagai National Security.
http://www.ristek.go.id/indeks.php/module/News+news /id/9161. Accessed on
November 2nd, 2013

46