You are on page 1of 12

Makalah Tauhid dan Urgensi-nya bagi Kehidupan Muslim

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK)

Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan II

Disusun oleh :

Mochammad Bagas Prayoga (201610370311096)


Hasbul Barri (201610370311079)
Fahmi Dwi Arianto (201610370311066)
Abdul Azis (201610370311106)

Kelas : Mubtadiin (B)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan
hidayah-Nya, sehingga penyusun mampu menyelesaikan makalah yang berjudul IBADAH
DAN PEMBENTUKAN PERILAKU POSITIF tanpa suatu halangan yang berarti.

Makalah yang berjudul IBADAH DAN PEMBENTUKAN PERILAKU POSITIF ini disusun
dengan tujuan supaya mahasiswa mampu memahami dengan benar tentang makna Ibadah dan
Perilaku positif dalam islam.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata
sempurna, untuk itu segala saran dan kritik yang membangun akan penyusun terima dengan
senang hati.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan semua pihak yang
memerlukannya.

Malang, Maret 2017

Penyusun
Pengertian Tauhid

Tauhid, yaitu seorang hamba meyakini bahwa Allah SWT adalah Esa, tidak ada sekutu
bagi-Nya dalam rububiyah (ketuhanan), uluhiyah (ibadah), Asma` dan Sifat-Nya.

Urgensi Tauhid: Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah SWT semata, Rabb
(Tuhan) segala sesuatu dan rajanya. Sesungguhnya hanya Dia yang Maha Pencipta, Maha
Pengatur alam semesta. Hanya Dia lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya. Dan setiap
yang disembah selain-Nya adalah batil. Sesungguhnya Dia SWT bersifat dengan segala sifat
kesempurnaan, Maha Suci dari segala aib dan kekurangan. Dia SWT mempunyai nama-nama
yang indah dan sifat-sifat yang tinggi.

Pembagian Tauhid

Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan diturunkan kitab-kitab karenanya ada dua :

1) Tauhid dalam pengenalan dan penetapan, dan dinamakan dengan Tauhid Rububiyah dan
Tauhid Asma dan Sifat. Yaitu menetapkan hakekat zat Rabb SWT dan mentauhidkan
(mengesakan) Allah SWT dengan asma (nama), sifat, dan perbuatan-Nya. Pengertiannya :
seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah SWT sematalah Rabb yang Menciptakan,
Memiliki, Membolak-balikan, Mengatur alam ini, yang sempurna pada zat, Asma dan Sifat-sifat,
serta perbuatan-Nya, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang Meliputi segala sesuatu, di
Tangan-Nya kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia SWT mempunyai asma
(nama-nama) yang indah dan sifat yang tinggi. Dalam QS. QS. Asy-Sura ayat 11 :

Artinya : (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri
pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya
kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-
lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Sura : 11)
2) Tauhid dalam tujuan dan permohonan, dinamakan tauhid uluhiyah dan ibadah, yaitu
mengesakan Allah SWT dengan semua jenis ibadah, seperti: doa, shalat, takut, mengharap, dll.
Pengertiannya : Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah SWT saja yang memiliki
hak uluhiyah terhadap semua makhlukNya. Hanya Dia SWT yang berhak untuk disembah, bukan
yang lain. Karena itu tidak diperbolehkan untuk memberikan salah satu dari jenis ibadah seperti:
berdoa, shalat, meminta tolong, tawakkal, takut, mengharap, menyembelih, bernazar dan
semisalnya melainkan hanya untuk Allah SWT semata. Siapa yang memalingkan sebagian dari
ibadah ini kepada selain Allah SWT maka dia adalah seorang musyrik lagi kafir. Firman Allah
SWT (QS. Al-Mukminun : 117) yang Artinya : Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di
samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya
perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.

Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ibadah; kebanyakan manusia mengingkari tauhid ini. Oleh sebab
itulah Allah SWT mengutus para rasul kepada umat manusia, dan menurunkan kitab-kitab
kepada mereka, agar mereka beribadah kepada Allah SWT saja dan meninggalkan ibadah kepada
selain-Nya.

1) sebagaimana dalam firman allah surat Al-Anbiya` :25 .yang artinya: Dan Kami tidak
mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya :
Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian
akan Aku.

2) sebagaimana Firman surat an - nahl 36Allah SWT yang artinya : Dan sungguhnya Kami telah
mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
Thaghut itu, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada
pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu
dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-
rasul).(QS. An-Nahl :36). Thaghut adalah syaitan dan apa saja yang disembah kecuali selain dari
Allah SWT.
Makna Kaliat Laa Ilaaha ill al-Allah dan Konsekuensinya dalam Kehidupan

Kalimat laailaaha illallah adalah bentuk kesaksian seorang muslim yang terformulasi
dalam kalimat syahadat. Sebuah kalimat pendek namun esensial dalam kehidupan seorang
muslim. kalimat yang menjadikannya masuk dalam komunitas muslim dan mengantarkannya
kepada Allah dalam keadaan tunduk patuh kepadaNya. kalimat ini adalah ruh mkati dan
hidupnya seorang muslim ( walatamuutunna illa waantum muslimun )

Menurut Muhammad Said Al Qathani (1994 :30-1 ), kalimat laailaaha illallahu mencakup
beberapa pengertian.

a. Hanya Allah yang patut disembah ( La Mabuda Illallah )

b. Hukum mutlak bersumber dariNya ( La Hukma Illallah )

c. Tiada penguasa mutlak kecuali Allah, Dia lah Rabb semesta alam, penguasa

dan pengatur ( La Malika Illallah )

d. Tiada pencipta kecuali Allah ( La Kholiqo Illallah )

e. Tidak ada yang memberikan rizki selain Allah ( La Raziqo Illallah )

f. Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan kecuali Allah

g. Tidak ada yang dapat mendatangkan kemanfaatan dan kemedharatan kecuali Allah

h. Tidak ada daya dan upaya kecuali Allah

i. Tidak bertawakal kecuali kepada Allah

j. Allah sebagai pusat orientasi dan kerinduannya.


Melihat pengertian Laailaaha illallah ini dapat dipahami bahwa seluruh pusat orientasi
kehidupan seorang muslim adalah Allah. namun kesaksian yang benar dalam Islam tidak hanya
terhenti pada pengucapan lisan dan pembenaran dalam hati, begitu juga tidak hanya memahami
maknanya secara benar, tapi harus disertai dengan mengamalkan segala ketentuannya, baik
secara lahiriyah maupun bathiniyyah. Dengan Laailaaha illallah seoarang muslim tidak hanya
meniadakan sesembahan selain Allah semata. kalimat tauhid ini sekaligus mencakup loyalitas
dan bersih diri ( Al wala wal bara ) serta negasi dan afirmasi ( Al Nafy wal itsbat ).

Konsep Al Wala dalam kalimat tauhid adalah aspek kepatuhan dan kesetiaan secara tulus
( loyal ) terhadap Allah, kitab, sunnah dan nabiNya, sedangkan al bara adalah bersih diri dari
segala kendali thagut dan hukum jahiliyyah. Adapun An Nafiy ( peniadaan atau negasi )
bermakna meniadakan sesuatu yang menyaingi pengesaan kepada Allah, misalnya sesembahan
perantara, tuan, tandingan dan thagut. dan Itsbat ( penetapan, afirmasi ) terhadap empat perkara
yaitu tujuan akhir ( yang kita tuju adalah Allah ), kecintaan kepada Allah, takut dan
berpengharapan kepadaNya (al Qathani, 1994:6-8 )

1- Berilmu dan memahami kandungan makna dan rukun syahadat ini sehingga hilang
kebodohan terhadap kandungan makna dan rukun kalimat ini. Rasulullah Shallallahu alahi wa
sallam bersabda yang artinya:Barangsiapa yang mati dalam keadaan ia mengetahui (kandungan
makna) laa ilaha illallah (bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah), pasti masuk surga
(HR. Muslim).

2- Meyakini segala yang ditunjukkan oleh kalimat ini tanpa ada keraguan sedikitpun.
Allah Taala berfirman yang artinya:Sesungguhnya orang mukmin itu hanyalah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu. (QS. Al-Hujurat:15).
3- Menerima konsekuensi (tuntutan) kalimat ini berupa beribadah hanya kepada Allah
semata dan meninggalkan beribadah kepada selain-Nya tanpa adanya penolakan yang didasari
keengganan, pembangkangan,dan kesombongan. Allah Taala berfirman yang
artinya:Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) apabila diucapkan kepada mereka laa ilaha
illallah (Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah) maka merekapun
menyombongkan diri(35). Dan mereka berkata,Apakah kita akan meninggalkan sesembahan-
sesembahan kita karena penyair yang gila.(QS. Ash-Shaffat:35-36).

4- Tunduk dan berserah diri terhadap segala tuntutan kalimat ini tanpa mengabaikannya.
Allah Taala berfirman yang artinya:Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dalam
keadaan berbuat kebajikan, maka sungguh dia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat
(kalimat Laa ilaha illallah). (QS.Luqman:22)

5- Jujur dalam mengucapkan kalimat ini dengan disertai hati yang membenarkannya. Jika
seseorang mengucapkan kalimat ini namun hatinya mengingkari dan mendustai nya, maka dia
orang munafik tulen. Allah Taala berfirman yang artinya:Dan diantara manusia ada yang
mengucapkan,Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka tidak beriman(8).
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beiman. Tidaklah mereka menipu kecuali
diri mereka sendiri sementara mereka tidak meyadari(9). Dalam hati mereka ada penyakit, maka
Allah menambah penyakit mereka. Dan mereka mendapat azab yang pedih karena kedustaan
yang mereka lakukan. (QS. Al-Baqarah:8-10).

6- Ikhlas dalam mengucapkannya dan memurnikan amal dari segala kotoran syirik, bukan
karena riya, atau untuk ketenaran, maupun tujuan-tujuan duniawi. Rasulullah Shallallahu alahi
wa sallam bersabda yang artinya:Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang
mengucapkanlaa ilaha illallah dengan tujuan mengharap wajah Allah.(HR. Bukhari dan
Muslim)
7- Mencintai kalimat ini dan segala tuntutannya serta mencintai orang yang
melaksanakan tuntutannya. Allah Taala berfirman yang artinya:Dan diantara manusia ada yang
menjadikan selain Allah sebagai tandingan yang mereka mencintainya seperti mencintai Allah.
Sedangkan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.(QS. Al-Baqarah:165). Orang
orang yang benar dalam imannya mencintai Allah dengan cinta yang tulus dan murni. Adapun
para pelaku kesyirikan memiliki cinta ganda. Mereka mencintai Allah sekaligus mencintai
tandingan-Nya.

Konsekuensi (tuntutan) syahadat ini adalah meninggalkan peribadatan dan penyembahan


kepada selain Allah Taala.

Dewasa ini,banyak orang yang megucapkan kalimat ini namun menyalahi tuntutannya.
Mereka menujukan ibadah (beribadah) atau memberikan persembahan kepada makhluk, seperti
menyembelih dan bernadzar untuk kuburan dan penghuninya, meletakkan sesajian sebagai
tumbal di tempat-tempat keramat dan angker, di sekitar pepohonan, dan bebatuan, serta bentuk-
bentuk persembahan lainnya. Mereka menyakini tauhid sebagai hal yang baru dan mereka juga
mencela orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Mereka juga mengingkari
serta memusuhi orang-orang yang mendakwahi mereka, padahal ajakan dan dakwah yang
dilakukan orang-orang tersebut adalah sebagai wujud kecintaan, perhatian dan kepedulian serta
keprihatinan mereka terhadap saudara seagama mereka. Mereka tidak ingin sesuatu yang buruk
menimpa saudaranya disebabkan ketidaktahuan saudaranya tersebut terhadap sesuatu yang
berbahaya bagi mereka. Untuk itu,-dengan didasari kecintaan- mereka bangkit mengingatkan
saudara-saudara seagama mereka dari bahaya-bahaya yang bisa menimpa. Sikap mereka ini
merupakan bentuk implementasi dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa sallam yang
maknanya: Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk
saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Tauhid sebagai landasan bagi semua aspek kehidupan

Seseorang yang bertauhid dengan benar akan mendapatkan rasa aman dan petunjuk.
Allah Taala menegaskan dalam firman-Nya,


{82}

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman
(syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk. (QS. Al Anam:82)

Kezaliman meliputi tiga perkara :

1. Kezaliman terhadap hak Allah yaitu dengan berbuat syirik


2. Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri yaitu dengan berbuat maksiat
3. Kezaliman seseorang terhadap orang lain yaitu dengan menganiaya orang lain

Kezaliman adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kesyirikan disebut


kezaliman karena menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya. Ini merupakan
kezaliman yang paling zalim. Hal ini karena pelaku syirik menujukan ibadah kepada yang tidak
berhak menerimanya, mereka menyamakan Al Khaaliq (Sang Pencipta) dengan makhluk,
menyamakan yang lemah dengan Yang Maha Perkasa. Manakah kezaliman yang lebih parah dari
ini.

Yang dimaksud dengan kezaliman dalam ayat di atas adalah adalah syirik, sebagaimana
dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salaam ketika menafsirkan ayat ini. Ibnu Masud
radhiyallahu anhu mengatakan, Ketika ayat ini turun, terasa beratlah di hati para sahabat,
mereka mengatakan siapakah di antara kita yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri (berbuat
maksiat), maka Rasulullah shalallahu alaihi wa salaam bersabda, Tidak demikian, akan tetapi
yang dimaksud (dengan kezaliman pada ayat tersebut) adalah kesyirikan. Tidakkah kalian pernah
mendengar ucapan Lukman kepada anaknya, Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada
anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar (QS Lukman: 13)[2.] [3]

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan


kezaliman (kesyirikan), merekalah ahli tauhid. Mereka akan mendapatkan rasa aman di dunia
dan akhirat seta mendapatkan petunjuk baik di dunia maupun di akhirat. Mereka akan
mendapatkan keamanan di dunia berupa ketenangan hati, dan juga keamanan di akhirat dari hal-
hal yang ditakuti yang akan terjadi di hari akhir. Petunjuk yang mereka dapatkan di dunia berupa
ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, sedangkan petunjuk di akhirat berupa petunjuk menuju
jalan yang lurus. Tentunya kadar keamanan dan petunjuk yang mereka dapatkan sesuai dengan
kadar tauhidnya. Semakin sempurna tauhid seseorang, semakin besar keamanan dan petunjuk
yang akan diperoleh.

Jaminan Allah bagi orang yang bertauhid


Rasulullah shalallahu alaihi wa salaam bersabda,

Barangsiapa yang bersyahadat (bersaksi) bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak
disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan rasul-Nya, dan Isa adalah hamba dan rasul-Nya, dan kalimat yang
disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga dan neraka
benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, sesuai amal yang telah
dikerjakakannya

Ini merupakan janji dari Allah Taala untuk ahli tauhid bahwa Allah akan memasukkan
mereka ke dalam surga. Ahlu tauhid adalah mereka yang bersyahadat (bersaksi) dengan
persaksian yang disebut dalam hadist di atas. Maksud syahadat yang benar harus terkandung tiga
hal yaitu mengucapkannya dengan lisan, mengilmui maknanya, dan mengamalkan segala
konsekuensinya, tidak cukup hanya sekadar mengucapknnya saja.

Yang dimaksud dengan alaa maa kaana minal amal (sesuai amal yang telah
dikerjakannya) ada dua tafsiran:

Pertama: Mereka akan masuk surga walaupun memiliki dosa-dosa selain syirik karena dosa-dosa
selain syirik tersebut tidak menghalanginya untuk masuk ke dalam surga, baik masuk
surgasecara langsung maupun pada akhirnya masuk surga walau sempat diadzab di neraka. Ini
merupakan keutamaan tauhid yang dapat menghapuskan dosa-dosa dengan izin Allah dan
menghalangi seseorang kekal di neraka.

Kedua: Mereka akan masuk surga, namun kedudukan mereka dalam surga sesuai dengan amalan
mereka, karena kedudukan seseorang di surga bertingkat-tingkat sesuai dengan amal shalihnya.