You are on page 1of 12

PENGETAHUAN SIKAP DAN TINDAKAN PENDERITA TB PARU

TERHADAP PENCEGAHAN KONTAK SERUMAH DI PUSKESMAS


AIRTIRIS KECAMATAN KAMPAR KABUPATEN KAMPAR PROVINSI

Alvishenna Martin
dr. Rohani Lamaria Simbolon,Sp.P(K)
drg. Tuti Restuastuti,M.Kes
alvishenna@gmail.com

ABSTRACT

Tuberculosis (TB) is a pulmonary contagious infectious disease caused by


Mycobacterium tuberculosis that attacks the lungs. The high level of pulmonary
TB cases in Indonesia indicate that measure is necessary to decrease the rate of
transmission. Transmission of pulmonary TB disease can be prevented if the
patient had pulmonary TB good behavior towards prevention of the spread of
pulmonary tuberculosis disease. Behavior is composed of three, namely
knowledge, attitudes and measure. The purpose of this study was to determine the
level of knowledge, attitudes and measure pulmonary TB patient to prevention
household contacs in community health centers of Airtiris District Kampar
Province Riau. The study was conducted in February-May 2015. Samples are 39
respondents pulmonary TB patients who have met the inclusion criteria. The
instrument used was a questionnaire. The results showed that the respondents
have a poor knowledge of as many as 25 people (64.1%) negative attitudes / not
good as many as 28 people (28.2%) and measure quite as many as 20 people
(51.3%).
Keywords: Pulmonary tuberculosis, knowledge, attitude and preventive measures of
pulmonary TB disease, pulmonary TB patients.

PENDAHULUAN Association of Southeast Asian


Nations (ASEAN) pada tahun 2012
Tuberkulosis (TB) paru adalah Kamboja dengan 817 per
adalah penyakit menular langsung 100.000 penduduk, Laos dengan 540
yang disebabkan oleh kuman per 100.0000 penduduk, dan
Mycobacterium tuberculosis.1 Myanmar dengan 506 per 100.000.
Mycobacterium tuberculosis Indonesia berada di posisi keenam
disebarkan secara primer dari orang untuk prevalensi TB dengan 281 per
ke orang melalui droplet yang 100.000 penduduk. Angka kematian
mengandung basil Mycobacterium akibat TB paru pada tahun 2011
tuberculosis. Setiap orang yang tertinggi di ASEAN terjadi di
menderita TB paru dapat Kamboja yaitu 63 per 100.000
menyebarkan penyakitnya ke 10 penduduk. Indonesia merupakan
sampai 15 orang penderita baru.4 peringkat kelima untuk angka
Data WHO tahun 2013 kematian akibat TB paru di ASEAN
menyebutkan Tiga negara dengan sebesar 27 per 100.000 populasi.6
prevalensi TB paru tertinggi di

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 1


Tingginya tingkat kasus TB pengetahuan sikap dan tindakan
paru di Indonesia ini menunjukkan penderita TB paru terhadap
bahwa diperlukan adanya tindakan pencegahan kontak serumah di
menurunkan angka penularan. Puskesmas Airtiris Kecamatan
Penelitian Sabar Manullang Kampar Kabupaten Kampar Provinsi
mengatakan bahwa pengetahuan, Riau.
sikap dan tindakan masyarakat
memiliki hubungan terhadap METODE PENELITIAN
penularan penyakit TB paru yang
dipengaruhi lingkungan fisik rumah.7 Rancangan penelitian ini
Penelitian Sedar Malem Sembiring menggunakan penelitian deskriptif
juga mengatakan bahwa adanya observasional dengan pendekatan
hubungan pengetahuan, sikap dan cross sectional untuk mengetahui
tindakan terhadap penularan penyakit pengetahuan sikap dan tindakan
TB paru, Sedar berasumsi bahwa penderita TB paru terhadap
tingkat pengetahuan dan sikap yang pencegahan kontak serumah.
baik tidak menjamin bahwa tindakan Penelitian ini telah dilaksanakan
akan baik juga.8 pada bulan Februari 2015 sampai
Angka penemuan penderita dengan April 2015 di Puskesmas
kasus baru TB paru dengan BTA Airtiris Kecamatan Kampar
positif untuk tahun 2011 di provinsi Kabupaten Kampar Provinsi Riau.
Riau sebesar 33,41% atau 3.154 Cara pengambilan sampel
kasus. Berdasarkan data tahun 2011 pada penelitian ini dengan
angka penemuan kasus baru dengan menggunakan teknik consecutive
BTA positif di kabupaten Kampar sampling yang memenuhi kriteria
sebanyak 22,55 % dan di kota inklusi dan ekslusi. Kriteria inklusi
Pekanbaru sebanyak 32,57 %. Pada dari penelitian ini adalah pasien yang
tahun 2009 sampai 2011 mengalami didiagnosis TB paru yang bersedia
kenaikan, masing-masingnya 52 %, ikut penelitian dan menandatangani
55,9 %, dan 56,39 %.9 surat informed concern. Serta pasien
Pada tahun 2012 angka yang memiliki alamat lengkap.
kejadian TB paru per 100.000 Sedangkan kriteria ekslusi pada dari
penduduk Provinsi Riau sebesar penelitian ini adalah Pasien yang
51,1%. PencapaianCase Detection tidak bersedia mengikuti penelitian
Rate (CDR) di Provinsi Riau tahun dan menandatangani surat informed
2012 sebesar 31,7 % menurun bila concern. Pasien TB paru yang
dibandingkan dengan tahun 2011 memiliki keterbatasan, gangguan
sebesar 33,4%. Angka penemuan mental dan atau tidak bisa membaca.
kasus TB paru BTA positif tahun Instrumen penelitian yang
2012 di kabupaten Kampar digunakan pada penelitian ini adalah
danPekanbaru masing-masing 23,3% kuesioner yang terdiri dari sejumlah
dan 23,5%. Angka penemuan kasus pertanyaan dan pernyataan tertulis
BTA positif ini menurun yang digunakan untuk memperoleh
dibandingkan dengan tahun 2011 informasi dari responden mengenai
tetapi belum mencukupi target hal-hal yang ingin diketahui.
sebesar 70 %.10 Instrumen ini terdiri dari 6 bagian
Berdasarkan uraian di atas yaitu : bagian pertama mengenai
peneliti tertarik untuk meneliti penjelasan penelitian, bagian kedua

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 2


informed consent, bagian ketiga Kabupaten Kampar Provinsi
terdiri dari identitas yang meliputi Riau.
(tanggal wawancara, nama, umur, 2. Coding, adalah hasil jawaban
jenis kelamin, alamat, pendidikan, dimana setiap jawaban diberi
pekerjaan, keluarga yang pernah kode sesuai dengan petunjuk
menderita TB paru), bagian keempat coding.
berisi tentang kuesioner pengetahuan 3. Scoring, setelah semua
penderita TB paru dalam mencegah variabel diberi kode
penularan kontak serumah yang selanjutnya masing-masing
terdiri dari pertanyaan-pertanyaan komponen variable
yang diadopsi dari Manullang (2011) dijumlahkan. Untuk
dan telah dimodifikasi oleh peneliti, menentukan pengetahuan dan
bagian kelima berisi tentang sikap tindakan pasien dikatakan baik
penderita TB paru dalam mencegah apabila hasil nilai 76-100,
penularan kontak serumah yang cukup apabila hasil nilai 56-76
berisi pernyataan yang diadopsi dari dan kurang apabila hasil nilai
Sembiring SM (2012) yang telah <56. Sedangkan untuk
dimodifikasi oleh peneliti, bagian menentukan sikap pasien
keenam berisi tentang tindakan dikatakan positif jika hasil
penderita TB paru dalam mencegah ukur >51,49 dan negatif jika
penularan kontak serumah yang
hasil ukur <51,49.
terdiri dari pertanyaan tertutup yang
diadopsi dari Sembiring SM (2012)
yang telah dimodifikasi oleh peneliti.
Penelitian ini telah lolos kaji
Pengolahan data terdiri dari
etik dengan nomor surat keterangan
editing, coding dan scoring adalah
lolos kaji etik
sebagai berikut:29
55/UN19.1.28/UEPKK/2015 oleh
1. Editing, adalah penyuntingan
unit etika penelitian kedokteran dan
dilakukan peneliti secara
kesehatan Fakultas Kedokteran
langsung terhadap kuesioner
Universitas Riau.
pengetahuan sikap dan
tindakan penderita TB paru
dalam mencegah kontak
serumah di Puskesmas Airtiris
Kampar Kecamatan Kampar

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian meliputi karakteristik, pengetahuan


yang telah dilakukan di Puskesmas dan sikap pasien TB paru terhadap
Airtiris Kecamatan Kampar penyakit TB paru.
Kabupaten Kampar Provinsi Riau
Harapan Raya Kota Pekanbaru
periode Februari 2015 hingga April
2014, diperoleh hasi penelitian yang

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 3


Tabel 1 Distribusi karakteristik sosio-demografi pasien TB paru yang
teregister pada form TB 06 (BTA +) diwilayah kerja Puskesmas Airtiris
Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar Provinsi Riau (n=67)

Jumlah
Karakteristik sosio-demografi Frekuensi Persentase
(n) (%)
Umur
15-24 tahun 8 20,5
25-34 tahun 8 20,5
35-44 tahun 11 28,2
45-54 tahun 7 18
>54 tahun 5 12,8
Total 39 100,0
Jenis kelamin
Laki-laki 28 71,8
Perempuan 11 28,2
Total 39 100,0
Tingkat pendidikan
Tidak sekolah - -
Tamat SD 13 33,3
Tamat SMP 17 43,6
Tamat SMA/SMK 9 23,1
Tamat akademi/sarjana - -
Total 39 100,0
Pekerjaan
PNS/pensiun PNS - -
POLRI/TNI/pensiunan - -
Pegawai swasta - -
Pedagang 13 33,3
Petani 13 33,3
Buruh 5 12,8
Lain-lain 8 20,6

Total 39 100,0

Hasil penelitian pada Tabel. 1 sampel di puskesmas yang sebagian


menunjukkan bahwa umur terbanyak besar pasien yang berobat berusia
responden TB paru berada pada dewasa. Sarwono mengatakan bahwa
rentang umur 35-44 tahun yang masa dewasa digolongkan saat
berjumlah 11 orang (28,8%). seseorang mulai berusia 21
Penelitian ini hampir bersamaan tahun. Dewasa merupakan individu
dengan penelitian yang dilakukan yang telah selesai tumbuh dan
oleh Manullang yang karakteristik memiliki perilaku yang lebih
umur terbanyak yaitu umur rentang konseptual sehingga berpengaruh
31-40 sebanyak 31 orang (33,3%).28 dalam pencegahan penularan
Berdasarkan hasil penyakit TB paru. Semakin
wawancara, pasien yang menjadi bertambahnya umur seseorang, juga
responden terbanyak adalah usia akan meningkatkan pengetahuan,
dewasa 35-44 tahun. Hal ini sikap dan tindakan seseorang
dikarenakan peneliti mengambil terhadap pencegahan penularan

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 4


penyakit TB paru yang diperolehnya Pendidikan merupakan suatu usaha
terhadap orang lain.34 dasar untuk mengembangkan
Berdasarkan hasil penelitian, kemampuan dan kepribadian yang
karakteristik jenis kelamin terbanyak berlangsung seumur hidup. Semakin
pada penderita TB paru adalah laki- tinggi pendidikan seseorang, semakin
laki, yaitu sebanyak 28 orang banyak pengetahuannya dan tinggi
(71,8%). Hal ini dikarenakan laki- kesadarannya tentang hak yang
laki lebih banyak beraktifitas diluar dimilikinya untuk memperoleh
rumah dan terpapar langsung dengan informasi tentang pencegahan
penyakit yang dapat menyebabkan penularan penyakit TB paru pada
penurunan sistem imun seperti dirinya sehingga menuntut manusia
penyakit TB paru. agar memperoleh keselamatan
26
Sesuai dengan penelitian jiwanya. Rendahnya tingkat
yang dilakukan oleh Tasmin bahwa pendidikan akan berpengaruh pada
jenis kelamin laki-laki lebih banyak, pemahaman mengenai pencegahan
yaitu sebanyak 872 responden penularan penyakit TB paru.
(55,6%).36,37 Penelitian Sembiring Sedangkan pasien dengan tingkat
juga menyebutkan bahwa jenis pendidikan yang lebih tinggi akan
kelamin terbanyak pada pasien TB mempengaruhi perilakunya, sehingga
paru yaitu laki-laki sebanyak 38 kewaspadaan pasien lebih tinggi
orang, sedangkan yang paling sedikit terhadap pencegahan penularan
adalah perempuan yaitu 20 orang penyakit TB paru.
Menurut WHO jumlah laki-laki yang
\
meninggal akibat kasus TB paru Berdasarkan hasil penelitian,
dalam 1 tahun sedikitnya 1 juta didapatkan bahwa karakteristik
orang, hal ini dapat terjadi pekerjaan pasien TB paru terbanyak
dikarenakan laki-laki lebih mudah adalah pedagang dan petani yaitu
terpapar penyakit akibat penurunan
sebanyak 26 orang(66,7%). Hal ini
sistem imun seperti penyakit TB paru
akibat dari merokok dan minum dikarenakan aktifitas pedagang dan
alkohol.4 petani yang banyak dilakukan diluar
rumah dan kontak langsung dengan
Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat menyebabkan mudahnya
didapatkan bahwa karakteristik terkena ataupun tertular penyakit
tingkat pendidikan pasien TB paru seperti penyakit TB paru.
terbanyak adalah tamat SMP yaitu
sebanyak 17 orang (43,6%). Hal ini Berbeda dengan penelitian
dikarenakan pendidikan dipengaruhi
yang dilakukan oleh Gusti yang
oleh faktor lingkungan, ekonomi dan
kesadaran orang tua akan pentingnya menyatakan bahwa pekerjaan yang
pendidikan tinggi. banyak pada orang-orang adalah
Berbeda dengan penelitian tidak bekerja atau sebagai ibu rumah
Manullang yang mengatakan bahwa tangga sebanyak 43 penderita
tingkat pendidikan pasien TB paru (50%).36 Keadaan ini diduga ada
terbanyak yaitu tamat SD.25 Tingkat
hubungannya dengan tingkat
pendidikan merupakan salah satu
faktor resiko terhadap pencegahan aktivitas yang memungkinkan
penularan penyakit TB paru. penularan yang lebih mudah dengan

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 5


kuman TB dari penderita TB paru. menderita TB paru dan minum obat
Responden yang tidak bekerja lebih sampai 6 bulan. Hal ini ditanyakan
mudah untuk memperoleh informasi karena keluarga yang tinggal satu
rumah dengan pasien mendapat
tentang upaya pencegahan penularan
resiko penularan yang lebih tinggi,
penyakit TB paru dari pada karena kontak berlama-lama
responden yang bekerja. dengan pasien TB paru dan
menambah resiko terjadinya
Berdasarkan hasil penelitian, penularan, maka dari itu diharapkan
didapatkan bahwa karakteristik
pasien memiliki pengetahuan tentang
sebagian besar keluarga responden pencegahan kontak serumah penyakit
yang menyatakan bahwa tidak TB paru, sehingga ketika pasien
adanya keluarga yang pernah terdiagnosis TB paru maka dapat
menderita TB paru yaitu sebanyak 27 melakukan pencegahan penularan
orang (69,2%). penyakit TB paru dengan baik.
Dari hasil wawancara Keadaan ini diakibatkan oleh volume
didapatkan bahwa, pada saat udara yang semakin menurun delam
penelitian terdapat beberapa ruangan kecil menyebabkan
responden yang tidak mengakui peningkatan droplet yang
bahwa keluarganya pernah menderita mengandung kuman TB.36
TB paru, namun pada saat
ditanyakan kepada keluarga yang
tinggal serumah dengan pasien
didapatkan ada yang pernah
1. Gambaran pengetahuan penderita TB paru dalam mencegah
penularan kontak serumah di Puskesmas Airtiris Kecamatan Kampar
Kabupaten Kampar Provinsi Riau.

Tabel 2. Distribusi frekuensi pengetahuan penderita TB paru dalam


mencegah penularan kontak serumah (n=39)

Pengetahuan Jumlah
Frekuensi Persentase (%)
(n)
Baik 1 2,6
Sedang 13 33,3
Kurang 25 64,1
Total 39 100,0

Hasil pengukuran (33,3%), dan kurang sebanyak 25


pengetahuan penderita TB paru orang (64,1%). Hal ini bisa dikaitkan
dalam mencegah penularan kontak dengan tingkat pendidikan
serumah di Puskesmas Airtiris responden. Pengetahuan yang baik
Kecamatan Kampar Kabupaten juga dipengaruhi dengan pendidikan
Kampar Provinsi Riau menunjukkan yang baik pula, semakin tinggi
tingkat pengetahuan yang baik yaitu pendidikan seseorang, maka semakin
sebanyak 1 orang (2,6%), diikuti banyak pula ilmu yang didapat.
dengan cukup sebanyak 13 orang

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 6


Berbeda dengan penelitian menambah kepercayaan seseorang
yang dilakukan oleh Sembiring yang dalam berperilaku.7,26 Menurut
menyebutkan bahwa tingkat Ariani dan Isnanda bahwa perilaku
pengetahuan yang cukup yaitu yang didasari pengetahuan akan
sebanyak 37,9% dan penelitian ini bertahan lebih lama dibandingkan
berbeda dengan penelitian yang perilaku yang tidak berdasarkan
dilakukan oleh Manullang yaitu pengetahuan.35 Hal ini dapat peneliti
sebanyak 49,4% memiliki tingkat simpulkan bahwa perilaku yang
pengetahuan yang baik.4,25 berdasarkan pengetahuan akan
berdampak baik daripada perilaku
Pengetahuan pasien TB paru yang tidak berdasarkan pengetahuan
adalah semua informasi yang yang baik maksudnya disini pasien
diterima pasien TB paru mengenai lebih menjaga kesehatan, jika sudah
upaya pencegahan penyakit TB paru. terkena penyakit TB paru dapat
Meningkatnya pengetahuan bisa melakukan pencegahan penularan
menimbulkan perubahan persepsi terhadap keluarganya dan sekitarnya.
dan kebiasaan seseorang serta

2. Gambaran sikap penderita TB paru dalam mencegah penularan


kontak serumah di Puskesmas Airtiris Kecamatan Kampar
Kabupaten Kampar Provinsi Riau.
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi sikap penderita TB paru dalam mencegah
penularan kontak serumah (n=39)

Sikap Jumlah
Frekuensi Persentase (%)
(n)
Positif/Baik 11 28,2
Negatif/Tidak baik 28 71,8

Total 39 100,0

Hasil pengukuran sikap orang dan yang cukup sebanyak 4


penderita TB paru dalam mencegah orang.4
penularan kontak serumah di Sikap seseorang dapat
Puskesmas Airtiris Kecamatan berubah dengan diperolehnya
Kampar Kabupaten Kampar tambahan informasi tentang objek
Provinsi Riau menunjukkan bahwa tertentu melalui persuasive serta
pasien TB paru memiliki sikap yang tekanan dari kelompok sosialnya.
positif/baik yaitu sebanyak 11 orang Sehingga dapat disimpulkan bahwa
(28,2%) dan diikuti dengan seseorang yang memiliki
negatif/tidak baik sebanyak 28 orang pengetahuan yang baik maka akan
(71,8%). Hal ini berbeda dengan memperoleh sikap yang baik
penelitian yang dilakukan oleh terhadap upaya pencegahan
Sembiring, sebagian besar pasien penyebaran penyakit TB paru.
memiliki sikap yang baik yaitu 54

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 7


3. Gambaran tindakan penderita TB paru dalam mencegah penularan
kontak serumah di Puskesmas Airtiris Kecamatan Kampar
Kabupaten Kampar Provinsi Riau.
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi tindakan penderita TB paru dalam mencegah
penularan kontak serumah

Tindakan Jumlah
N %
Baik 4 10,2
Cukup 20 51,3
Kurang 15 38,5
Jumlah 39 100,0
petugas-petugas kesehatan dan peran
kader.7
Hasil pengukuran tindakan
Hasil penelitian ini sesuai
penderita TB paru dalam mencegah
dengan teori Green tersebut bahwa
penularan kontak serumah di
walaupun tingkat pengetahuan dan
Puskesmas Airtiris Kecamatan
sikap responden kurang baik, namun
Kampar Kabupaten Kampar Provinsi
hal ini tidak berpengaruh pada
Riau menunjukkan bahwa pasien TB
tindakan responden karena
paru memiliki tindakan yang baik
lingkungan responden didukung oleh
yaitu sebanyak 4 orang (10,2%)
fasilitas kesehatan seperti puskesmas
diikuti dengan cukup sebanyak 20
dan rumah sakit, serta faktor
orang (51,3%) dan kurang sebanyak
ekonomi yang cukup baik sehingga
15 orang (38,5%). Berbeda dengan
memudahkan responden berkunjung
penelitian yang dilakukan oleh
ke fasilitas yang ada.
Sembiring, sebagian besar pasien
Tindakan merupakan hasil
memiliki tindakan yang kurang yaitu
akhir dari perilaku, sehingga
sebanyak 96,6% dan menyimpulkan
tindakan sangat dipengaruhi oleh
bahwa pengetahuan dan sikap yang
tingkat pengetahuan dan sikap
baik tidak selamanya menciptakan
pasien. Tindakan baik yang
tindakan yang baik.4
dilakukan oleh pasien dalam
Ada beberapa faktor yang
mencegah penularan kontak serumah
mempengaruhi perilaku manusia dari
penyakit TB paru adalah melakukan
tingkat kesehatan. Green
pemerikasaan dahak, menutup mulut
mengatakan perilaku dapat
ketika batuk, tidak membuang
dipengaruhi oleh 3 faktor
dahak disembarang tempat, tidak
predisposisi utama yaitu mencakup
berbicara terlalu dekat, menjaga
lingkungan, pengetahuan, sikap dan
sistem kekebalan tubuh, dan
tindakan masyarakat terhadap
sebagainnya. Maka dapat
kesehatan, tingkat pendidikan,
disimpulkan bahwa gambaran
tingkat sosial ekonomi dan status
perilaku penderita TB paru dalam
pekerjaan, faktor pemungkin yaitu
mencegah penularan kontak serumah
mencakup keterjangkauan fasilitas
dalam kategori cukup.
kesehatan bagi masyarakat dan faktor
jarak, faktor penguat yaitu meliputi
dukungan tokoh masyarakat,

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 8


KESIMPULAN DAN SARAN diikuti dengan kurang baik
sebanyak 15 orang (38,5%)
Berdasarkan penelitian yang dan baik sebanyak 4 orang
telah dilakukan pada penderita (10,2%).
TB paru dalam mencegah
penularan kontak serumah di Berdasarkan penelitian yang
Puskesmas Airtiris Kecamatan telah dilakukan, maka peneliti
Kampar Kabupaten Kampar memberikan saran sebagai berikut:
Provinsi Riau, dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut : 1. Bagi kepala puskesmas dan
petugas kesehatan.
1. Pada penelitian ini a. Meningkatkan edukasi pasien
didapatkan pengetahuan TB paru terhadap upaya
penderita TB paru dalam pencegahan penularan kontak
mencegah penularan kontak serumah serta pemakaian
serumah di Puskesmas masker pada penderita dan
Airtiris Kecamatan Kampar bagaimana cara penularan
Kabupaten Kampar Provinsi penyakit TB paru.
Riau, sebagian besar masuk
kedalam kategori kurang baik 2. Bagi pasien TB paru
yaitu sebanyak 25 orang a. Menambah dan
(64,1%), diikuti dengan meningkatkan wawasan
cukup sebanyak 13 orang mengenai penyakit TB paru
(33,3%), dan baik sebanyak agar dapat mencegah
1 orang (2,6%). penularan kepada orang lain.
2. Sikap penderita TB paru
dalam mencegah penularan 3. Bagi peneliti lain
kontak serumah di Puskesmas a. Dapat menggunakan hasil
Airtiris Kecamatan Kampar penelitian sebagai acuan
Kabupaten Kampar Provinsi untuk melakukan penelitian
Riau, menunjukkan sebagian selanjutnya tentang mencegah
besar pasien TB paru TB paru dalam penularan
memiliki sikap yang kurang kontak serumah penyakit.
baik yaitu sebanyak 28 orang
(71,8%) memiliki tingkat
sikap yang negatif/tidak baik DAFTAR PUSTAKA
dan diikuti dengan
positif/baik yaitu sebanyak 11 1. Sub Direktorat TB
orang (28,2%). Departemen kesehatan RI
3. Tindakan penderita TB paru dan World Health
dalam mencegah penularan Organization. Lembar Fakta
kontak serumah di Puskesmas Tuberkulosis. [diakses
Airtiris Kecamatan Kampar tanggal 5 Desember 2013]
Kabupaten Kampar Provinsi http://tbindonesia.or.id/pdf/Le
Riau, sebagian besar pasien mbar_f akta_TB.pdf.
TB paru memiliki tindakan
yang cukup baik yaitu 2. Kementerian Kesehatan
sebanyak 20 orang (51,3%) Republik Indonesia,

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 9


Direktorat Jenderal Keluarga Di Kecamatan
Pengendalian Penyakit Dan Pandan Kabupaten Tapanuli
Penyehatan Lingkungan. Tengah. (Skripsi,
Pedoman Nasional diterbitkan). Medan; 2012.
Pengendalian Tuberkulosis
hlm 1-21: 2011. 9. Dinas Kesehatan Provinsi
Riau. Profil Kesehatan
3. Depkes RI. Pedoman Provinsi Riau Tahun 2011.
Nasional Penanggulangan Pekanbaru; 2012.
Tuberkulosis, Depkes. RI
Jakarta: 2002. 10. Dinas Kesehatan Provinsi
Riau. Profil Kesehatan
4. Gupta RB, Majumdar Provinsi Riau Tahun 2012.
Piyusha, Maharishi Raghu, Pekanbaru; 2013.
Bahl Ridhima..KAP of Study
Tuberculosis in India. New 11. Sudowo AW, Setiyohadi B,
Delhi:110016. Alwi I, Simdibrata M, Setiati
S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
5. Price SA, Wilson LM. Dalam. Ed 5. Jilid 3. Jakarta.
Patofisiologi Konsep Klinis Interna publishing; 2009:
Proses-Proses Penyakit.. alih 2240-2248.
bahasa Pendit BU, et. al.
editor edisi bahasa Indonesia, 12. Fibriana LP. Hubungan
Hartanto H. Ed 6. Vol 2. Antara Sikap Dengan
Jakarta. EGC; 2004: 853-857. Perilaku Keluarga Tentang
Pencegahan Penyakit
6. Kementrian Kesehatan Menular Tuberkulosis. Jurnal
Republik Indonesia. Profil keperawatan. Vol 1. Gresik;
Kesehatan Indonesia 2012. 2011.
Jakarta; 2013. 13. Retnaningsih E, Yahya TY.
7. Manullang S. Hubungan Model Prediksi Faktor Risiko
Pengetahuan, Sikap Dan Infeksi TB Paru Kontak
Tindakan Masyarakat Serumah Untuk Perencanaan
Tentang Faktor Lingkungan Program di Kabupaten OKU
Fisik Rumah Terhadap Provinsi Sumatera Selatan
Kejadian Tuberculosis Paru tahun [skripsi] 2010.
Di Wilayah Kerja Puskesmas
Sukarame Kecamatan Kualuh 14. Notoadmodjo S. Kesehatan
Hulu Kabupaten Labuhan Masyarakat Ilmu dan Seni.
Batu Utara. Medan. Jakarta: Rineka Cipta; 2007:
Universitas Sumatera Utara; hlm 3-322.
2011.
15. Kholid A. Promosi Kesehatan
8. Sembiring SM. Perilaku Dengan Pendekatan Teori
Penderita TB Paru Positif Perilaku, Media, dan
Dalam Upaya Pencegahan Aplikasinya Untuk
Penularan Tuberkulosis Pada Mahasiswa dan Praktisi

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 10


Kesehatan. Jakarta: PT. 22. Departemen Kesehatan RI.
RajaGrafindo Persada: 2012: Buku Pedoman Program
hlm 23. Penanggulangan
Tuberkulosis.
16. Raviglion MC, OBrien RJ. http://www.tbcindonesia.or.id
Tuberculosis. In: Harrisons [Diakses 12 Maret 2012]
Principles of internal
th
medicine. 15 Edition. USA: 23. WHO. Standar Internasional
McGraw-Hill, 2001. Penanganan Tuberkulosis.
Jakarta: Departemen
17. Bahar A, Amin Z. Kesehatan RI, 2006.
Tuberkulosis Paru. Dalam:
Buku Ajar Ilmu Penyakit 24. Yunus F. Diagnosis
Dalam, Jilid 2. Jakarta: Pusat Tuberkulosis.
Penerbitan Ilmu Penyakit http://www.kalbe.co.id/files/c
Dalam FKUI, 2007. 988-993 dk [Diakses 12 Maret 2012]

18. Isbaniyah F, et al. Pedoman 25. Permatasari A.


Diagnosis dan Pemberantasan Penyakit TB
Penatalaksanaan Paru dan Strategi DOTS.
Tuberkulosis di Indonesia. http://www.Adln.lib.unair.ac.
Jakarta: Perhimpunan Dokter id/go.php.id=jiptunair
Paru Indonesia, 2011. [Diakses 12 Maret 2012]

19. Alsagaff H, Mukty A. 26. Kementerian Kesehatan


Tuberkulosis Paru. Dalam: Republik Indonesia
Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Direktorat Jenderal
Paru. Jakarta: Airlangga, Pengendalian Penyakit dan
2002. 73-108 Penyehat lingkungan. Buku
Saku Kader Program
20. Jawetz E, Melnick JL, Penanggulangan TB. Jakarta.
Adelberg EA, Brooks GF, 2009: 31-33.
Butel JS, Ornston LN.
Mikrobiologi Kedokteran, 27. Notoatmodjo S. Ilmu
Buku II Edisi I Jakarta: Kesehatan Masyarakat
Salemba Medika, 2005. Prinsip-Prinsip Dasar.
Jakarta. Rineka cipta; 2003:
21. Kementerian Kesehatan 118-145.
Republik Indonesia
Direktorat Jenderal 28. Notoatmodjo S. Ilmu
Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Ilmu
Penyehat Lingkungan. Dan Seni. Jakarta. Rineka
Strategi Nasional cipta; 2007: 143-150.
Pengendalian TB Di
Indonesia 2010-2014. 29. Riyanto A. Aplikasi
Jakarta; 2011: 12-13. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Cetakan 2.

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 11


Yogyakarta. Nuha medika; 37. Sarwono S. Prinsip dasar
2011:132-185. ilmu perilaku. Jakarta. Rineka
cipta; 2004.
30. Widoyono. 2008. Penyakit
Tropis Epidemiologi,
Penularan, Pencegahan, Dan
Pemberantasannya.
Jakarta:Erlangga.

31. Achmadi,U.F., 2008.


Manajemen Penyakit
Berbasis Wilayah. Jakarta:UI

32. Achmadi, U.F., 2011. Dasar-


dasar Penyakit Berbasis
Lingkungan. Jakarta:
Rajawali Press.
33. Price SA, Wilson LM.
Patofisiologi konsep klinis
proses-proses penyakit.. alih
bahasa Pendit BU, et. al.
editor edisi bahasa Indonesia,
Hartanto H. Ed 6. Vol 2.
Jakarta. EGC; 2004: 853-857.

34. Kementerian kesehatan


Republik Indonesia. Pedoman
nasional pengendalian
tuberkulosis. Edisi 2. Jakarta;
2011: 1-49.

35. Ariani Y, Isnanda CD.


Hubungan pengetahuan TB
paru dengan kepatuhan dalam
program pengobatan TB paru
di puskesmas Teladan
Medan. Medan.

36. Gusti A. Kekerapan


tuberculosis paru pada
pasangan suami-isteri
penderita tuberculosis paru
yang berobat di bagian paru
RSUP H Adam Malik.
Medan; 2003.

JOM FK VOL. 3 NO. 1 FEBRUARI 2016 12