You are on page 1of 33

MAKALAH

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM


REPRODUKSI WANITA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK I

DIAN ARFI DEWI


A EKA REZKIYANI F
SRI WAHYUNI
SITTI HALIJA. N
HARFIN ASPHARI A
ASMI AMALIA
LA SUPARTO
MOH FIKRI
NINI SETIA NINGSIH
ZAININ ABDIWIJAYA

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI


MUHAMMADIYAH MAKASSAR

T.A 2013/2014
1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Taala atas segala

nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita semua termasuk terselesaikannya

Makalah Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita ini. Makalah ini

mengambil tema sistem reproduksi wanita, sebagaimana amanat yang diberikan

kepada kami dalam memenuhi tugas mata kuliah Anatomi Fisiologi.

Sebuah penghargaan bagi kami atas diberikannya tugas ini, karena dengan

begitu kita akan dapat mengkaji kembali tentang hal-hal yang berkaitan dengan sistem

reproduksi wanita yang pasti akan bermanfaat menambah keilmuan dan pengetahuan

akademis kita serta modal dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Kami pun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu

sumbang-saran maupun masukan sangat kami harapkan. Atas segala kekurangan

tersebut, kami mohon dibukakan pintu maaf seluas-luasnya.

Demikian dari kami, semoga segala tujuan baik dengan hadirnya makalah ini

dapat tercapai. Amiin

Makassar, 04 April 2014

Tim Penulis

2
DAFTAR ISI

SAMPUL ................................................................. 1

KATA PENGANTAR ................................................................. 2

DAFTAR ISI ................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah................................................................. 5

1.3 Tujuan Penulisan ................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Dasar teori ............................................................. 6

2.2 Sistem reproduksi pada wanita.............................................. 7

2.3 Proses fisiologis sistem reproduksi wanita............................ 16

2.4 Faktor yang mempengaruhi proses fisiologis sistem

Reproduksi ................................................................. 27

2.5 Hormon-hormon pada sistem reproduksi wanita................... 29

2.6 Ganguan dan Penyakit Pada Sistem Reproduksi Wanita....... 31

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ................................................................. 34

3.2 Saran ................................................................. 34

DAFTAR PUSTAKA ................................................................. 35

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak. Terdiri

dari testis, ovarium dan bagian alat kelamin lainnya. Pengetahuan tentang Anatomi dan

Fisiologi sistem reproduksi pada manusia merupakan ilmu yang paling dasar bagi setiap

pelaku kesehatan reproduksi khususnya para wanita. Dalam makalah ini akan

membahas hal tentang Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita.


Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal (fisiologi).

Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus

reproduksi suatu manusia berhenti, manusia tersebut masih dapat bertahan hidup,

sebagai contoh saat mencapai menopause dan andropouse tidak akan mati. Pada

umumnya reproduksi baru dapat berlangsung setelah manusia tersebut mencapai masa

pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan

hormon yang dihasilkan dalam tubuh manusia.

Reproduksi juga merupakan bagian dari proses tubuh yang bertanggung jawab terhadap

kelangsungan suatu generasi.


Dari tugas yang diberikan tentang sistem reproduksi wanita maka dibuatlah Makalah ini

dengan judul ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI WANITA.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem reproduksi wanita?
2. Bagaimana pembentukan ovum pada wanita?
3. Bagaimana terjadinya menstruasi pada wanita?
4. Bagaimana terjadinya pembuahan pada wanita?
5. Bagaimana terjadinya kehamilan pada wanita?
6. Bagaimana terjadinya menopouse pada wanita?

4
7. Apa saja penyakit pada sistem reproduksi wanita?

1.3 Tujuan Penulisan

1 Untuk memenuhi anatomi dan fisiologi sistem reproduksi wanita.

2 Untuk mengetahui bagaimana pembentukan ovum pada wanita

3 Untuk mengetahui bagaimana terjadinya menstruasi pada wanita.

4 Untuk mengetahui proses terjadinya pembuahan pada wanita.

5 Untuk mengetahui bagaimana terjadinya kehamilan pada wanita.

6 Untuk mengetahui bagaimana terjadinya menopouse pada wanita.

7 Untuk mengetahui apa saja penyakit pada sistem reproduksi wanita.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Dasar Teori


Organ kelamin luar wanita memiliki 2 fungsi, yaitu sebagai jalan

masuk spermake dalam tubuh wanita dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari

organisme penyebab infeksi.Saluran kelamin wanita memiliki lubang yang

berhubungan dengan dunia luar, sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa

5
masuk dan menyebabkan infeksi kandungan. mikroorganisme ini biasanya ditularkan

melalui hubungan seksual. (evelyn pearce, 2002).


Organ reproduksi perempuan terbagi atas organ genetalia eksterna dan organ

genetalia interna. Organ genatalia eksterna dan vagina adalah bagian untuk sanggama,

sedangkan organ genetalia interna untuk ovulasi,tempat pembuahan sel telur,translasi

blastokis,implantasi, dan tumbuh kembang janin. Endometrium adalah lapisan epitel

yang melapisi rongga rahim. Permukaannya terdiri atas selapis sel kolumnar yang

bersilia dengan kelenjar sekresi mukosa rahim yang berbentuk invaginasi ke dalam

stroma selular. Kelenjar dan stroma mengalami perubahan yang siklik, bergantian

antara pengelupasan dan pertumbuhan baru setiap sekitar 28hari. Dalam terjadi

kehamilan harus ada spermatozoa, ovum,pembuahan ovum(kontasepsi), dan nidasi

(implantasi) hasil konsepsi. Setiap spermatozoaterdiri atas tiga bagianyaitu

kaput(kepala) yang berbentuk lonjong agak gepeng dan mengandung bahan

nukleus,ekor dan bagian yang silindrik(leher) yang menghubungkan kepala dengan

ekor. Dengan getaran spermatozoa dapat bergerak cepat. (Sarwono Prawirohardjo,

2012)

2.2 Sistem Reproduksi Pada Wanita


Organ reproduksi wanita terdiri dari organ reproduksi luar dan organ reproduksi dalam.
Organ kelamin luar (Internal)

6
1. Mons Pubis/ Mons Veneris

a. Bagian yang menonjol yang banyak berisi jaringan lemak

yang terletak dipermukaan anterior simpisis pubis.

b. Setelah pubertas, kulit mons veneris ditutup oleh rambut-rambut.

c. Seiring peningkatan usia, jumlah jaringan lemak ditubuh wanita

akan berkurang dan rambut pubis akan menipis.

2. Labia Mayora

a. Berupa dua buah lipatan jaringan lemak, berbentuk lonjong

dan menonjol yang berasal dari mons veneris dan berjalan

kebawah dan ke belakang yang mengelilingi labia minora.

7
b. Terdiri dari 2 permukaan, yaitu bagian luar yang menyerupai

kulit biasa dan ditumbuhi rambut, dan bagian dalam

menyerupai selaput lendir dan mengandung banyak kelenjar sebacea.

c. Labia mayora kiri dan kanan bersatu di bagian belakang dan

batas depan dari perinium disebut Commisura posterior/ frenulum.

d. Homolog dengan skrotum pada laki laki.

3. Labia Minora

a. Merupakan dua buah lipatan jaringan yang pipih dan

berwarna kemerahan yang terlihat jika labia mayora dibuka.

b. Pertemuan lipatan labia minora kiri dan kanan di bagian

atas disebut - preputium klitoris, dan di bagian bawah disebut

frenulum klitori

c. Pada bagian inferior kedua lipatan labia minora

memanjang mendekati garis tengah dan menyatu dengan fuorchette.

4. Clitoris/ Klentit

a. Merupakan suatu tanggul berbentuk silinder dan erektil yang

terletak diujung superior vulva.

b. Mengandung banyak urat urat saraf sensoris dan pembuluh

pembuluh darah.

8
c. Jumlah pembuluh darah dan persyarafan yang banyak membuat

klitoris sangat sensitif terhadap suhu, sentuhan dan sensasi

tekanan. Fungsi utama klitoris adalah menstimulasi dan

meningkatkan keregangan seksual.

d. Ujung badan klitoris dinamai Glans dan lebih sensitif dari pada

badannya.

e. Panjang klitoris jarang melebihi 2 cm dan bagian yang terlihat adalah

sekitar 6x6 mm atau kurang pada saat tidak terangsang dan

akan membesar jjika secara seksual terangsang.

f. Klitoris analog dengan penis pada laki-laki.

5. Vestibulum

a. Merupakan rongga yang sebelah lateral dibatasi oleh kedua

labia minora, anterior oleh klitoris dan dorsal oleh fourchet.

b. Vestibulum merupakan muara-muara dari 6 buah lubang yaitu vagina,

urethra, 2 muara kelenjar bartolini yang terdapat di samping dan

9
agak ke belakang dari introitus vagina dan 2 muara kelenjar skene di

samping dan agak ke dorsal urethra.

6. Kelenjar Bartholini dan Skene


a. Kelenjar yang penting di daerah vulva karena

dapat mengeluarkan lendir.


b. Pengeluaran lendir meningkat saat hubungan seks.

7. Ostium Uretra

a. Walaupun bukan merupakan sistem reproduksi sejati, namun

dimasukkan ke dalam bagian ini karana letaknya menyatu dengan

vulva.

b. Biasanya terletak sekitar 2,5 cm dibawak klitoris.

8. Ostium Vagina

10
Liang vagina sangat bervariasi

bentuk dan ukurannya. Pada

gadis, kebanyakan vagina tertutup

sama sekali oleh labia minora dan

jika dibuka, terlihat hampir

seluruhnya tertutu oleh himen.

9. Hymen (Selaput dara)

a. Berupa lapisan yang tipis dan menutupi sebagian besar

introitus vagina.

b. Biasanya himen berlubang sebesar ujung jari berbentuk bulan

sabit atau sirkular sehingga darah menstruasi dapat keluar. Namun

kadang kala ada banyak lubang kecil (kribriformis),

bercelah (septata), atau berumbai tidak beraturan (fimbriata). Pada

tipe himen fimbriata, pada gadis sulit membedakannya dengan hymen

yang sudah mengalami penetrasi saat koitus.

11
10. Perineum Adalah daerah muskular yang dititupi kulit antara introitus vagina

dan anus.

Organ reproduksi dalam (eksternal)


Organ reproduksi dalam wanita terdiri dari ovarium dan saluran reproduksi

(saluran kelamin).

1. Ovarium
Ovarium (indung telur) berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan

panjang 3 4 cm. Ovarium berada di dalam rongga badan, di daerah

pinggang. Umumnya setiap ovarium menghasilkan ovum setiap 28 hari.

Ovum yang dihasilkan ovarium akan bergerak ke saluran reproduksi.

12
Fungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) serta hormon estrogen

dan progesteron.
Masing-masing ovarium terbungkus dalam kapsul pelindung yang

keras dan mengandung banyak flikel. Folikel terdiri atas satu sel telur yang

dikelilingi oleh satu atau lebih lapisan sel-sel folikel, yang memberikan

makanan dan melindungi sel telur yang sedang berkembang. Keseluruhan

dari 400.000 folikel yang dimiliki oleh seorang perempuan sudah terbentuk

sebelum kelahirannya. Dari jumlah tersebut, hanya beberapa ratus folikel

yang akan membebaskan sel telur selama tahun-tahun reproduksi seorang

perempuan. Mulai pada masa pubertas dan berlangsung sampai menopouse,

umumnya sebuah folikel matang dan membebaskan sel telurnya setiap satu

siklus menstruasi. Sel-sel folikel juga menghasilkan hormon seks utama

perempuan yaitu estrogen. Sel telur itu didorong dari folikel dalam proses

ovulasi. Jaringan folikel sisanya akan tumbuh di dalam ovarium untuk

membentuk massa padat yang disebut korpus luteum. Korpus luteum

mensekresikan tambahan estrogen dan progesteron. Jika sel telur tidak

dibuahi, maka korpus luteum akan lisis.


2. Saluran reproduksi
Saluran reproduksi (saluran kelamin) terdiri dari oviduk, uterus dan vagina.

a. Oviduk

13
Oviduk (tuba falopii) atau saluran telur berjumlah sepasang (di

kanan dan kiri ovarium) dengan panjang sekitar 10 cm. Bagian

pangkal oviduk berbentuk corong yang disebut infundibulum. Pada

infundibulum terdapat jumbai-jumbai (fimbrae). Fimbrae berfungsi

menangkap ovum yang dilepaskan oleh ovarium. Ovum yang

ditangkap oleh infundibulum akan masuk ke oviduk. Oviduk

berfungsi untuk menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus.

b. Uterus
Uterus (kantung peranakan) atau rahim merupakan rongga

pertemuan oviduk kanan dan kiri yang berbentuk seperti buah pir dan

bagian bawahnya mengecil yang disebut serviks (leher rahim).

Serviks (leher rahim) terletak di puncak vagina. Selama masa

reproduktif, lapisan lendir vagina memiliki permukaan yang berkerut-

kerut. Sebelum pubertas dan sesudah menopause, lapisan lendir

menjadi licin.
Rahim merupakan suatu organ yang berbentuk seperti buah pir

dan terletak di puncak vagina. Rahim terletak di belakang kandung

kemih dan di depan rektum, dan diikat oleh 6 ligamen. Rahim terbagi

menjadi 2 bagian, yaitu serviks dan korpus (badan rahim). Serviks

merupakan uterus bagian bawah yang membuka ke arah vagina.

Korpus biasanya bengkok ke arah depan.


Selama masa reproduktif, panjang korpus adalah 2 kali dari

panjang serviks. Korpus merupakan jaringan kaya otot yang bisa

melebar untuk menyimpan janin. Selama proses persalinan, dinding

ototnya mengkerut sehingga bayi terdorong keluar melalui serviks

dan vagina.

14
Sebuah saluran yang melalui serviks memungkinkan sperma

masuk ke dalam rahim dan darah menstruasi keluar. Serviks biasanya

merupakan penghalang yang baik bagi bakteri, kecuali selama masa

menstruasi dan selama masa ovulasi (pelepasan sel telur). Saluran di

dalam serviks adalah sempit, bahkan terlalu sempit sehingga selama

kehamilan janin tidak dapat melewatinya. Tetapi pada proses

persalinan saluran ini akan meregang sehingga bayi bisa melewatinya.


Saluran serviks dilapisi oleh kelenjar penghasil lendir. Lendir

ini tebal dan tidak dapat ditembus oleh sperma kecuali sesaat sebelum

terjadinya ovulasi. Pada saat ovulasi, konsistensi lendir berubah

sehingga sperma bisa menembusnya dan terjadilah pembuahan

(fertilisasi). Selain itu, pada saat ovulasi, kelenjar penghasil lendir di

serviks juga mampu menyimpan sperma yang hidup selama 2-3 hari.

Sperma ini kemudian dapat bergerak ke atas melalui korpus dan

masuk ke tuba falopii untuk membuahi sel telur. Karena itu, hubungan

seksual yang dilakukan dalam waktu 1-2 hari sebelum ovulasi bisa

menyebabkan kehamilan.
Uterus manusia berfungsi sebagai tempat perkembangan zigot

apabila terjadi fertilisasi. Uterus terdiri dari dinding berupa lapisan

jaringan yang tersusun dari beberapa lapis otot polos dan lapisan

endometrium. Lapisan endometrium (dinding rahim) tersusun dari

sel-sel epitel dan membatasi uterus. Lapisan endometrium

menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Lapisan

endometrium akan menebal pada saat ovulasi (pelepasan ovum dari

ovarium) dan akan meluruh pada saat menstruasi.


c. Vagina

15
Vagina merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi bagian

dalam pada wanita. Vagina bermuara pada vulva. Vagina memiliki

dinding yang berlipat-lipat dengan bagian terluar berupa selaput

berlendir, bagian tengah berupa lapisan otot dan bagian terdalam

berupa jaringan ikat berserat. Selaput berlendir (membran mukosa)

menghasilkan lendir pada saat terjadi rangsangan seksual. Lendir

tersebut dihasilkan oleh kelenjar Bartholin. Jaringan otot dan jaringan

ikat berserat bersifat elastis yang berperan untuk melebarkan uterus

saat janin akan dilahirkan dan akan kembali ke kondisi semula setelah

janin dikeluarkan.

2.3 Proses Fisiologis Sistem Reproduksi Wanita


1. Oogenesis

Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum di dalam ovarium. Di

dalam ovarium terdapat oogonium (oogonia = jamak) atau sel indung telur.

Oogonium bersifat diploid dengan 46 kromosom atau 23 pasang kromosom.

Oogonium akan memperbanyak diri dengan cara mitosis membentuk oosit

primer.

16
Oogenesis telah dimulai saat bayi perempuan masih di dalam kandungan,

yaitu pada saat bayi berusia sekitar 5 bulan dalam kandungan. Pada saat bayi

perempuan berumur 6 bulan, oosit primer akan membelah secara meiosis.

Namun, meiosis tahap pertama pada oosit primer ini tidak dilanjutkan sampai

bayi perempuan tumbuh menjadi anak perempuan yang mengalami pubertas.

Oosit primer tersebut berada dalam keadaan istirahat (dorman).

Pada saat bayi perempuan lahir, di dalam setiap ovariumnya mengandung

sekitar 1 juta oosit primer. Ketika mencapai pubertas, anak perempuan hanya

memiliki sekitar 200 ribu oosit primer saja. Sedangkan oosit lainnya mengalami

degenerasi selama pertumbuhannya.

Saat memasuki masa pubertas, anak perempuan akan mengalami perubahan

hormon yang menyebabkan oosit primer melanjutkan meiosis tahap pertamanya.

Oosit yang mengalami meiosis I akan menghasilkan dua sel yang tidak sama

ukurannya. Sel oosit pertama merupaakn oosit yang berukuran normal (besar)

yang disebut oosit sekunder, sedangkan sel yang berukuran lebih kecil disebut

badan polar pertama (polosit primer).

Selanjutnya , oosit sekunder meneruskan tahap meiosis II (meiosis kedua).

Namun pada meiosis II, oosit sekunder tidak langsung diselesaikan sampai tahap

akhir, melainkan berhenti sampai terjadi ovulasi. Jika tidak terjadi fertilisasi, oosit

sekunder akan mengalami degenerasi. Namun jika ada sperma masuk ke oviduk,

meiosis II pada oosit sekunder akan dilanjutkan kembali. Akhirnya, meiosis II

pada oosit sekunder akan menghasilkan satu sel besar yang disebut ootid dan satu

sel kecil yang disebut badan polar kedua (polosit sekunder). Badan polar pertama

juga membelah menjadi dua badan polar kedua. Akhirnya, ada tiga badan polar

17
dan satu ootid yang akan tumbuh menjadi ovum dari oogenesis setiap satu

oogonium.

Oosit dalam oogonium berada di dalam suatu folikel telur. Folikel telur

(folikel) merupakan sel pembungkus penuh cairan yang menglilingi ovum.

Folikel berfungsi untuk menyediakan sumber makanan bagi oosit. Folikel juga

mengalami perubahan seiring dengan perubahan oosit primer menjadi oosit

sekunder hingga terjadi ovulasi. Folikel primer muncul pertama kali untuk

menyelubungi oosit primer. Selama tahap meiosis I pada oosit primer, folikel

primer berkembang menjadi folikel sekunder. Pada saat terbentuk oosit sekunder,

folikel sekunder berkembang menjadi folikel tersier. Pada masa ovulasi, folikel

tersier berkembang menjadi folikel de Graaf (folikel matang). Setelah oosit

sekunder lepas dari folikel, folikel akan berubah menjadi korpus luteum. Jika

tidak terjaid fertilisasi, korpus luteum akan mengkerut menjadi korpus albikan.

2. Menstruasi (Haid)

Menstruasi (haid) adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus

yang disertai pelepasan endometrium. Menstruasi terjadi jika ovum tidak dibuahi

oleh sperma. Siklus menstruasi sekitar 28 hari. Pelepasan ovum yang berupa oosit

sekunder dari ovarium disebut ovulasi, yang berkaitan dengan adanya kerjasama

antara hipotalamus dan ovarium. Hasil kerjasama tersebut akan memacu

pengeluaran hormon-hormon yang mempengaruhi mekanisme siklus menstruasi.

Untuk mempermudah penjelasan mengenai siklus menstruasi, patokannya

adalah adanya peristiwa yang sangat penting, yaitu ovulasi. Ovulasi terjadi pada

pertengahan siklus ( n) menstruasi. Untuk periode atau siklus hari pertama

18
menstruasi, ovulasi terjadi pada hari ke-14 terhitung sejak hari pertama

menstruasi. Siklus menstruasi dikelompokkan menjadi empat fase, yaitu fase

menstruasi, fase pra-ovulasi, fase ovulasi, fase pasca-ovulasi.

Fase menstruasi

Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi oleh sperma, sehingga

korpus luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan

progesteron. Turunnya kadar estrogen dan progesteron menyebabkan

lepasnya ovum dari dinding uterus yang menebal (endometrium). Lepasnya

ovum tersebut menyebabkan endometrium sobek atau meluruh, sehingga

dindingnya menjadi tipis. Peluruhan pada endometrium yang mengandung

pembuluh darah menyebabkan terjadinya pendarahan pada fase menstruasi.

19
Pendarahan ini biasanya berlangsung selama lima hari. Volume darah yang

dikeluarkan rata-rata sekitar 50mL.

Fase pra-ovulasi
Pada fase pra-ovulasi atau akhir siklus menstruasi, hipotalamus

mengeluarkan hormon gonadotropin. Gonadotropin merangsang hipofisis

untuk mengeluarkan FSH. Adanya FSH merangsang pembentukan folikel

primer di dalam ovarium yang mengelilingi satu oosit primer. Folikel

primer dan oosit primer akan tumbuh sampai hari ke-14 hingga folikel

menjadi matang atau disebut folikel de Graaf dengan ovum di dalamnya.

Selama pertumbuhannya, folikel juga melepaskan hormon estrogen. Adanya

estrogen menyebabkan pembentukan kembali (proliferasi) sel-sel penyusun

dinding dalam uterus dan endometrium. Peningkatan konsentrasi estrogen

selama pertumbuhan folikel juga mempengaruhi serviks untuk

mengeluarkan lendir yang bersifta basa. Lendir yang bersifat basa berguna

untuk menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung

lingkungan hidup sperma.


Fase ovulasi
Pada saat mendekati fase ovulasi atau mendekati hari ke-14 terjadi

perubahan produksi hormon. Peningkatan kadar estrogen selama fase pra-

ovulasi menyebabkan reaksi umpan balik negatif atau penghambatan

terhadap pelepasan FSH lebih lanjut dari hipofisis. Penurunan konsentrasi

FSH menyebabkan hipofisis melepaskan LH. LH merangsang pelepasan

oosit sekunder dari folikel de Graaf. Pada saat inilah disebut ovulasi, yaitu

20
saat terjadi pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf dan siap dibuahi

oleh sperma. Umunya ovulasi terjadi pada hari ke-14.

Fase pasca-ovulasi
Pada fase pasca-ovulasi, folikel de Graaf yang ditinggalkan oleh oosit

sekunder karena pengaruh LH dan FSH akan berkerut dan berubah menjadi

korpus luteum. Korpus luteum tetap memproduksi estrogen (namun tidak

sebanyak folikel de Graaf memproduksi estrogen) dan hormon lainnya,

yaitu progesteron. Progesteron mendukung kerja estrogen dengan

menebalkan dinding dalam uterus atau endometrium dan menumbuhkan

pembuluh-pembuluh darah pada endometrium. Progesteron juga

merangsang sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada

payudara. Keseluruhan fungsi progesteron (juga estrogen) tersebut berguna

untuk menyiapkan penanaman (implantasi) zigot pada uterus bila terjadi

pembuahan atau kehamilan.

Proses pasca-ovulasi ini berlangsung dari hari ke-15 sampai hari ke-

28. Namun, bila sekitar hari ke-26 tidak terjadi pembuahan, korpus luteum

akan berubah menjadi korpus albikan. Korpus albikan memiliki

kemampuan produksi estrogen dan progesteron yang rendah, sehingga

konsentrasi estrogen dan progesteron akan menurun. Pada kondisi ini,

hipofisis menjadi aktif untuk melepaskan FSH dan selanjutnya LH,

sehingga fase pasca-ovulasi akan tersambung kembali dengan fase

menstruasi berikutnya.

21
3. Fertilisasi
Fertilisasi atau pembuahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung

ovum dibuahi oleh sperma. Fertilisasi umumnya terjadi segera setelah oosit

sekunder memasuki oviduk. Namun, sebelum sperma dapat memasuki oosit

sekunder, pertama-tama sperma harus menembus berlapis-lapis sel granulosa

yang melekat di sisi luar oosit sekunder yang disebut korona radiata. Kemudian,

sperma juga harus menembus lapisan sesudah korona radiata, yaitu zona pelusida.

Zona pelusida merupakan lapisan di sebelah dalam korona radiata, berupa

glikoprotein yang membungkus oosit sekunder.


Sperma dapat menembus oosit sekunder karena baik sperma maupun oosit

sekunder saling mengeluarkan enzim dan atau senyawa tertentu, sehingga terjadi

aktivitas yang saling mendukung.

Pada sperma, bagian kromosom mengeluarkan:

Hialuronidase, Enzim yang dapat melarutkan senyawa hialuronid pada

korona radiata.
Akrosin, Protease yang dapat menghancurkan glikoprotein pada zona

pelusida.
Antifertilizin, Antigen terhadap oosit sekunder sehingga sperma dapat

melekat pada oosit sekunder.

Oosit sekunder juga mengeluarkan senyawa tertentu, yaitu fertilizin yang

tersusun dari glikoprotein dengan fungsi :

Mengaktifkan sperma agar bergerak lebih cepat.


Menarik sperma secara kemotaksis positif.
Mengumpulkan sperma di sekeliling oosit sekunder.

22
Pada saat satu sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit di

bagian korteks oosit sekunder mengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan

zona pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lainnya. Adanya penetrasi

sperma juga merangsang penyelesaian meiosis II pada inti oosit sekunder ,

sehingga dari seluruh proses meiosis I sampai penyelesaian meiosis II dihasilkan

tiga badan polar dan satu ovum yang disebut inti oosit sekunder.

Segera setelah sperma memasuki oosit sekunder, inti (nukleus) pada kepala

sperma akan membesar. Sebaliknya, ekor sperma akan berdegenerasi. Kemudian,

inti sperma yang mengandung 23 kromosom (haploid) dengan ovum yang

mengandung 23 kromosom (haploid) akan bersatu menghasilkan zigot dengan 23

pasang kromosom (2n) atau 46 kromosom.

4. Gestasi (Kehamilan)
Zigot akan ditanam (diimplantasikan) pada endometrium uterus. Dalam

perjalannya ke uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Hasil

pembelahan tersebut berupa sekelompok sel yang sama besarnya, dengan bentuk

seperti buah arbei yang disebut tahap morula.


Morula akan terus membelah sampai terbentuk blastosit. Tahap ini disebut

blastula, dengan rongga di dalamnya yang disebut blastocoel (blastosol). Blastosit

terdiri dari sel-sel bagian luar dan sel-sel bagian dalam.


1. Sel-sel bagian luar blastosit
Sel-sel bagian luar blastosit merupakan sel-sel trofoblas yang akan

membantu implantasi blastosit pada uterus. Sel-sel trofoblas membentuk

tonjolan-tonjolan ke arah endometrium yang berfungsi sebagai kait. Sel-sel

trofoblas juga mensekresikan enzim proteolitik yang berfungsi untuk

mencerna serta mencairkan sel-sel endometrium. Cairan dan nutrien

tersebut kemudian dilepaskan dan ditranspor secara aktif oleh sel-sel

trofoblas agar zigot berkembang lebih lanjut. Kemudian, trofoblas beserta

23
sel-sel lain di bawahnya akan membelah (berproliferasi) dengan cepat

membentuk plasenta dan berbagai membran kehamilan.


Berbagai macam membran kehamilan berfungsi untuk membantu proses

transportasi, respirasi, ekskresi dan fungsi-fungsi penting lainnya selama

embrio hidup dalam uterus. Selain itu, adanya lapisan-lapisan membran

melindungi embrio terhadap tekanan mekanis dari luar, termasuk

kekeringan.
Sakus vitelinus
Sakus vitelinus (kantung telur) adalah membran berbentuk kantung

yang pertama kali dibentuk dari perluasan lapisan endoderm (lapisan

terdalam pada blastosit). Sakus vitelinus merupakan tempat

pembentukan sel-sel darah dan pembuluh-pembuluh darah pertama

embrio. Sakus vitelinus berinteraksi dengan trofoblas membentuk

korion.
Korion
Korion merupakan membran terluar yang tumbuh melingkupi embrio.

Korion membentuk vili korion (jonjot-jonjot) di dalam endometrium.

Vili korion berisi pembuluh darah emrbrio yang berhubungan dengan

pembuluh darah ibu yang banyak terdapat di dalam endometrium

uterus. Korion dengan jaringan endometrium uterus membentuk

plasenta, yang merupakan organ pemberi nutrisi bagi embrio.

Amnion
Amnion merupakan membran yang langsung melingkupi embrio

dalam satu ruang yang berisi cairan amnion (ketuban). Cairan amnion

dihasilkan oleh membran amnion. Cairan amnion berfungsi untuk

menjaga embrio agar dapat bergerak dengan bebas, juga melindungi

embrio dari perubahan suhu yang drastis serta guncangan dari luar.
Alantois

24
Alantois merupakan membran pembentuk tali pusar (ari-ari). Tali

pusar menghubungkan embrio dengan plasenta pada endometrium

uterus ibu. Di dalam alantois terdapat pembuluh darah yang

menyalurkan zat-zat makanan dan oksigen dari ibu dan mengeluarkan

sisa metabolisme, seperti karbon dioksida dan urea untuk dibuang

oleh ibu.
2. Sel-sel bagian dalam blastosit
Sel-sel bagian dalam blastosit akan berkembang menjadi bakal embrio

(embrioblas). Pada embrioblas terdapat lapisan jaringan dasar yang terdiri

dari lapisan luar (ektoderm) dan lapisan dalam (endoderm). Permukaan

ektoderm melekuk ke dalam sehingga membentuk lapisan tengah

(mesoderm). Selanjutnya, ketiga lapisan tersebut akan berkembang menjadi

berbagai organ (organogenesis) pada minggu ke-4 sampai minggu ke-8.


Ektoderm akan membentuk saraf, mata, kulit dan hidung. Mesoderm akan

membentuk tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limpa dan

kelenjar kelamin. Endoderm akan membentuk organ-organ yang

berhubungan langsung dengan sistem pencernaan dan pernapasan.


Selanjutnya, mulai minggu ke-9 sampai beberapa saat sebelum kelahiran,

terjadi penyempurnaan berbagai organ dan pertumbuhan tubuh yang pesat.

Masa ini disebut masa janin atau masa fetus.


5. Laktasi
Kelangsungan bayi yang baru lahir bergantung pada persediaan susu dari

ibu. Produksi air susu (laktasi) berasal dari sepasang kelenjar susu (payudara) ibu.

Sebelum kehamilan, payudara hanya terdiri dari jaringan adiposa (jaringan

lemak) serta suatu sistem berupa kelenjar susu dan saluran-saluran kelenjar

(duktus kelenjar) yang belum berkembang.


Pada masa kehamilan, pertumbuhan awal kelenjar susu dirancang oleh

mammotropin. Mammotropin merupakan hormon yang dihasilkan dari hipofisis

ibu dan plasenta janin. Selain mammotropin, ada juga sejumlah besar estrogen

25
dan progesteron yang dikeluarkan oleh plasenta, sehingga sistem saluran-saluran

kelenjar payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan kelenjar payudara

dan jaringan lemak disekitarnya juga bertambah besar. Walaupun estrogen dan

progesteron penting untuk perkembangan fisik kelenjar payudara selama

kehamilan, pengaruh khusus dari kedua hormon ini adalah untuk mencegah

sekresi dari air susu. Sebaliknya, hormon prolaktin memiliki efek yang

berlawanan, yaitu meningkatkan sekresi air susu. Hormon ini disekresikan oleh

kelenjar hipofisis ibu dan konsentrasinya dalam darah ibu meningkat dari minggu

ke-5 kehamilan sampai kelahiran bayi. Selain itu, plasenta mensekresi sejumlah

besar somatomamotropin korion manusia, yang juga memiliki sifat laktogenik

ringan, sehingga menyokong prolaktin dari hipofisis ibu.

6. Menopause
Menopause adalah berhentinya secara fisiologis siklus menstruasi yang

berkaitan dengan tingkat lanjut usia perempuan. Seorang wanita yang mengalami

menopause alamiah sama sekali tidak dapat mengetahui apakah saat menstruasi

tertentu benar-benar merupakan menstruasinya yang terakhir sampai satu tahun

berlalu. Menopause kadang-kadang disebut sebagai perubahan kehidupan. Sekitar

80 persen wanita mulai melompat-lompat menstruasinya.

2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Proses Fisiologis Sistem Reproduksi Manusia

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap reproduksi manusia yang dapat

dikelompokkan sebagai berikut

a. Faktor Organobiologik
Reproduksi manusia yang bersifat biseksual, dipengaruhi oleh faktor

organobiologik, baik pada pria maupun pada wanita. Faktor organobiologik

ini mencakup berbagai kelainan anatomis maupun fungsional dari pada alat

26
tubuh manusia, terutama kelainan alat dan fungsi reproduksi, yang dapat

mengakibatkan kelainan pada kualitas dan kuantitas reproduksi manusia.


Dalam kelompok faktor oganobiologik ini, termasuk :
1. Umur manusia.
Diketahui bahwa puncak kesuburan umumnya berada pada usia

sekitar 24 - 25 tahun. Fungsi reproduksi menurun setelah usia itu.


2. Faktor gizi.
3. Penyakit infeksi, seperti radang kelenjar parotis pada mulut

(gondongan), tuberkulosis, kencing nanah, radang prostat, kusta,

cacar dan sebagainya.


4. Alergi dan gangguan imunologik.
5. Gangguan metabolisme umum, seperti kencing manis dan sebagainya.
6. Kegagalan ginjal menahun.
7. Kelumpuhan bagian bawah anggota badan (papaplegia).
8. Kelainan endoktrim pada kelenjar hipofise otak.
9. Kelainan kromosom.
10. Pengaruh dari luar : obat, zat kimia, radiasi, suhu lingkungan sekitar,

dan sebagainya.
b. Faktor Psikoedukatif
Reproduksi manusia juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang

tergolong psikoedukatif, yaitu faktor kejiwaan dan pendidikan atau

pengetahuan manusia. Kesadaran akan gawatnya masalah kependudukan

suatu negara, merupakan motivasi untuk upaya pentingnya memelihara

kesehatan ibu dan anak serta keluarga, membuat para pasutri

mempraktekkan keluarga berencana. Dalam banyak hal, pendidikan kaum

wanita berpengaruh positif terhadap pengendalian reproduksinya.


c. Faktor Sosiokultural
Faktor yang tergolong dalam kelompok sosial budaya memberi

pengaruh pula terhadap reproduksi manusia. Pandangan bahwa anak laki-

laki lebih berharga daripada wanita, banyak anak banyak rejeki seringkali

menjadi pendorong pemacuan terhadap fungsi reproduksi, bahkan

seringkali dengan melupakan akibat buruk terhadap kesehatan ibu dan anak.

27
2.5 Hormon-Hormon Pada Sistem Reproduksi Wanita
Pada wanita, peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan

reproduksi jauh lebih kompleks dibandingkan pada pria. Salah satu peran hormon pada

wanita dalam proses reproduksi adalah dalam siklus menstruasi.


a. Estrogen

Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari estrogen tapi yang

paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen berguna untuk

pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada wanita yaitu pembentukan

payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan,dll. Estrogen juga berguna pada siklus

menstruasi dengan membentuk ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan

kuantitas cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma.
b. Progesterone

Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesterone mempertahankan

ketebalan endometrium sehingga dapat menerima implantasi zygot. Kadar

progesterone terus dipertahankan selama trimester awal kehamilan sampai

plasenta dapat membentuk hormon HCG.


c. Gonadotropin Releasing Hormone
GNRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus diotak.

GNRH akan merangsang pelepasan FSH (folikl stimulating hormone) di

hipofisis. Bila kadar estrogen tinggi, maka estrogen akan memberikan

umpanbalik ke hipotalamus sehingga kadar GNRH akan menjadi rendah,

begitupun sebaliknya.

d. FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing Hormone)


Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin hormon yang diproduksi oleh

hipofisis akibat rangsangan dari GNRH. FSH akan menyebabkan pematangan

dari folikel. Dari folikel yang matang akan dikeluarkan ovum. Kemudian folikel

ini akan menjadi korpus luteum dan dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH.
e. HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)

28
Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas

(plasenta). Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu

(sampai sekitar 100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar

1000 mU/ml), kemudian naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar

10.000 mU/ml). Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus

luteum dan produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa

kehamilan awal. Mungkin juga memiliki fungsi imunologik. Deteksi HCG pada

darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan

(tes Galli Mainini, tes Pack, dsb).


f. LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin
Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan

produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut

mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum.

Pada kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental

Lactogen). Fungsi laktogenik / laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa

laktasi / pascapersalinan. Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH

hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat terjadi

gangguan pematangan follikel, gangguan ovulasi dan gangguan haid berupa

amenorhea.
2.6 Gangguan dan Penyakit Pada Sistem Reproduksi Wanita
1. Gangguan menstruasi
Gangguan menstruasi pada wanita dibedakan menjadi dua jenis, yaitu

amenore primer dan amenore sekunder. Amenore primer adalah tidak terjadinya

menstruasi sampai usia 17 tahun dengan atau tanpa perkembangan seksual.

Amenore sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 6 bulan atau

lebih pada orang yang tengah mengalami siklus menstruasi.


2. Kanker genitalia
Kanker genitalia pada wanita dapat terjadi pada vagina, serviks dan ovarium.
3. Kanker vagina

29
Kanker vagina tidak diketahui penyebabnya tetapi kemungkinan terjadi

karena iritasi yang diantaranya disebabkan oleh virus. Pengobatannya antara lain

dengan kemoterapi dan bedah laser.


4. Kanker serviks
Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel abnormal tumbuh di seluruh

lapisan epitel serviks. Penanganannya dilakukan dengan mengangkat uterus,

oviduk, ovarium, sepertiga bagian atas vagina dan kelenjar limfe panggul.
5. Kanker ovarium
Kanker ovarium memiliki gejala yang tidak jelas. Dapat berupa rasa berat

pada panggul, perubahan fungsi saluran pencernaan atau mengalami pendarahan

vagina abnormal. Penanganan dapat dilakukan dengan pembedahan dan

kemoterapi.

6. Endometriosis
Endometriosis adalah keadaan dimana jaringan endometrium terdapat di

luar uterus, yaitu dapat tumbuh di sekitar ovarium, oviduk atau jauh di luar

uterus, misalnya di paru-paru.


Gejala endometriosis berupa nyeri perut, pinggang terasa sakit dan nyeri

pada masa menstruasi. Jika tidak ditangani, endometriosis dapat menyebabkan

sulit terjadi kehamilan. Penanganannya dapat dilakukan dengan pemberian obat-

obatan, laparoskopi atau bedah laser.


7. Infeksi vagina
Gejala awal infeksi vagina berupa keputihan dan timbul gatal-gatal. Infeksi

vagina menyerang wanita usia produktif. Penyebabnya antara lain akibat

hubungan kelamin, terutama bila suami terkena infeksi, jamur atau bakteri.
8. Keputihan (Fluor Albus)
Penyakit yang dialami perempuan ini disebabkan oleh berbagai parasit,

antara lain jamur Candida albicans, Protozoa dari jenis Trichomonas vaginalis,

bakteri, dan virus. Candida albicans menyukai lingkungan yang mengandung gula

30
dan hangat. Jamur ini sering ditemukan pada perempuan hamil dan penderita

diabetes melitus (kencing manis).


9. AIDS
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immttne Deficiency Syndrome

(sindrom hilangnya kekebalan karena bentukan). Penyakit ini disebabkan oleh

virus HIV (Human Immtmodeficiency Virus). Sampai sekarang, penyakit

mematikan ini belum ada obatnya. Orang yang terinfeksi virus HIV tidak

langsung menderita AIDS. Penyakit ini baru terlihat setelah enam bulan sampai

lima tahun, bergantung pada ketahanan tubuh seseorang. Penyakit ini menyerang

sel-sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Akibatnya, jika terinfeksi kuman tertentu yang bagi orang biasa tidak

membahayakan. penderita AIDS dapat meninggal.


10. Kista

Kista ovarium adalah kantung kecil berisi cairan yang berkembang dalam

ovarium (indung telur) wanita. Kebanyakan kista tidak berbahaya. Namun,

beberapa dapat menimbulkan masalah, mulai dari nyeri haid, kista pecah,

perdarahan, hingga penyakit serius, seperti: terlilitnya batang ovarium, gangguan

kehamilan, infertilitas hingga kanker endometrium.


11. Myom

Myom adalah bungkus otot rahim yang berubah menjadi tumor jinak. Istilah

mudahnya, daging tumbuh di rahim.

Gejala-gejala myom:
Nyeri perut atau pinggul.
Perut terasa penuh dan kadang membesar seperti wanita hamil.
Nyeri saat bersenggama.
Gejala anemia karena kehilangan darah haid.
Sering berkemih karena miom menekan kandung kemih.
Tekanan pada panggul.
Gangguan haid seperti tidak teratur, nyeri, dan pendarahan tidak normal

(lebih banyak atau lebih lama).

31
Gejala tersebut dapat dirasakan apabila kondisi myom sudah membesar.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Anatomi sistem reproduksi wanita terbagi menjadi 2 bagian yaitu: Organ-organ

eksternal, berfungsi kopulasi, terdiri dari: Vulva, mons pubis, labia mayora, labia

minora, clitoris, vestibulum, introitus/orificium vagina, vagina, prineum. Organ-organ

interna berfungsi untuk ovulasi, fertilisasi ovum, transpoertasi blastocyst, implantasi,

pertumbuhan fetus, dan kelahiran terdiri dari: Uterus, servik uteri, corpus uteri,

ligamentum penyangga uterus. Oogenesis adalah proses pembentukan ovum (sel telur)

yang terjadi didalam ovarium. Hasil dari oogenesis yaitu ovum dan tiga badan polar.
Sel benih testis pada orang laki-laki, maupun sel benih ovarium pada perempuan

tampak pada awal kehidupan janin. Kejadian, bagaimana sel reproduksi ini digerakkan

ke daerah tempat yang telah ditentukan, yaitu ovarium dan testis, merupakan suatu

rahasia agung dan indah.


3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan

pengetahuan serta kekurangan dalam penulisan. Hal tersebut terjadi karena penulis

masih dalam tahap pembelajaran sehingga diharapkan untuk kritik dan saran dari rekan-

rekan sekalian untuk dapat membimbing dan membantu pembelajaran lebih lanjut.

32
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, dkk. 2004. Biologi Jilid III. Jakarta: Erlangga.

http://www.crayonpedia.org/mw/Sistem_Reproduksi_Dan_Penyakit_Yang_Berhubun

gan_Dengan_Sistem_Reproduksi_Pada_Manusia_9.1
http://dahlanforum.wordpress.com/2009/08/25/kelainan-dan-penyakit-pada-sistem-

reproduksi/
http://dahlanforum.wordpress.com/2009/08/23/organ-reproduksi-pria/
http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/08/organ-reproduksi-wanita.html
http://biologimediacentre.com/sistem-reproduksi-2-reproduksi-pada-manusia/

Nangsari, Nyanyu Syamsiar. 1988. Pengantar Fisiologi Manusia. Jakarta: Depdikbud.

Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia.

Pratiwi, dkk. 2006. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Syaifuddin. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:

EGC.

33