You are on page 1of 6

BAB II

DASAR TEORI

2.1 Pengertian Limbah

Limbah industri adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses


produksi suatu pabrik. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari
bahan kimia senyawa organik dan senyawa anorganik. Dengan konsentrasi
dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap
lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan
penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan
oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.

Limbah nonekonomis adalah limbah yang diolah dalam proses bentuk


apapun tidak akan memberikan nilai tambah, kecuali mempermudah sistem
pembuangan. Limbah jenis ini yang sering menjadi persoalan pencemaran
dan merusakkan lingkungan. Dilihat dari sumber limbah dapat merupakan
hasil sampingan dan juga dapat merupakan semacam "katalisator". Karena
sesuatu bahan membutuhkan air pada permulaan proses, sedangkan pada
akhir proses air ini harus dibuang lagi yang ternyata telah mengandung
sejumlah zat berbahaya dan beracun. Di samping itu ada pula sejumlah air
terkandung dalam bahan baku harus dikeluarkan bersama buangan lain. Ada
limbah yang terkandung dalam bahan dan harus dibuang setelah proses
produksi. Tapi ada pula pabrik menghasilkan limbah karena penambahan
bahan penolong.

2.2 Jenis Limbah


Sesuai dengan sifatnya, limbah digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu:
limbah cair, limbah gas dan limbah padat. Ada industri tertentu menghasilkan
limbah cair dan limbah padat yang sukar dibedakan. Ada beberapa hal yang
sering keliru mengidentifikasi limbah cair, yaitu buangan air yang berasal dari
pendinginan. Sebuah pabrik membutuhkan air untuk pendinginan mesin, lalu

1
2

memanfaatkan air sungai yang sudah tercemar disebabkan oleh sektor lain.
Karena kebutuhan air hanya untuk pendinginan dan tidak untuk lain-lain,
tidaklah tepat bila air yang sudah tercemar itu dikatakan bersumber dari
pabrik tersebut.
Pabrik hanya menggunakan air yang sudah air yang sudah tercemar
pabrik harus selalu dilakukan pada berbagai tempat dengan waktu berbeda
agar sampel yang diteliti benar-benar menunjukkan keadaan sebenarnya.
Adapun jenis limbah dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Limbah gas adalah limbah yang memanfaatkan udara sebagai media.
Pabrik mengeluarkan gas, asap, partikel, debu melalui udara, dibantu
angin memberikan jangkauan pencemaran yang cukup luas. Gas, asap
dan lain-lain berakumulasi/bercampur dengan udara basah
mengakibatkan partikel tambah berat dan malam hari turun bersama
embun.
2. Limbah padat adalah limbah yang sesuai dengan sifat benda padat
merupakan sampingan hasil proses produksi. Pada beberapa industri
tertentu limbah ini sering menjadi masalah baru sebab untuk proses
pembuangannya membutuhkan satu pabrik pula. Limbah penduduk kota
menjadikan kota menghadapi problema kebersihan. Kadang-kadang
bukan hanya sistem pengolahannya menjadi persoalan tapi bermakna,
dibuang setelah diolah.
3. Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan
air dalam sistem prosesnya. Di samping itu ada pula bahan baku
mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya air harus
dibuang. Air terikut dalam proses pengolahan kemudian dibuang misalnya
ketika dipergunakan untuk pencuci suatu bahan sebelum diproses lanjut.
Air ditambah bahan kimia tertentu kemudian diproses dan setelah itu
dibuang. Semua jenis perlakuan ini mengakibatkan buangan air.

2.3 Limbah Cair

Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak


menggunakan air dalam sistem prosesnya. Di samping itu ada pula bahan
baku mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya air harus
3

dibuang. Air terikut dalam proses pengolahan kemudian dibuang misalnya


ketika dipergunakan untuk pencuci suatu bahan sebelum diproses lanjut.

Air ditambah bahan kimia tertentu kemudian diproses dan setelah itu
dibuang, semua jenis perlakuan ini mengakibatkan buangan air. Pada
beberapa pabrik tertentu, misalnya pabrik pengolahan kawat, seng, besi baja
sebagian besar air dipergunakan untuk pendinginan mesin ataupun dapur
pengecoran. Air ini dipompa dari sumbernya lalu dilewatkan pada bagian-
bagian yang membutuhkan pendinginan, kemudian dibuang.

Oleh sebab itu pada saluran pabrik terlihat air mengalir dalam volume
yang cukup besar. Air ketel akan dibuang pada waktu-waktu tertentu setelah
melalui pemeriksaan laboratorium, sebab air ini tidak memenuhi syarat lagi
sebagai air ketel dan karenanya harus dibuang. Bersamaan dengan itu
dibutuhkan pula sejumlah air untuk mencuci bagian dalam ketel Air pencuci
ini juga harus dibuang. Pencucian lantai pabrik setiap hari untuk beberapa
pabrik tertentu membutuhkan air dalam jumlah banyak. Pabrik pengalengan
ikan membutuhkan air pencuci dalam jumlah yang relatif harus banyak,
Jumlah air terus menerus diperlukan mencuci peralatan, lantai dan
lainlain,Karat perlu dicuci sebelum masuk pencincangan dan pada saat
dicincang air terus-menerus mengalir untuk menghilangkan pasir abu yang
terbawa.

Air dari pabrik membawa sejumlah padatan dan partikel baik yang larut
maupun mengendap. Bahan ini ada yangkasar dan halus. Kerap kali air dari
pabrik berwarna keruh dan temperaturnya tinggi. Air yang mengandung
senyawa kimia beracun dan berbahaya mempunyai sifat tersendiri. Air
limbah yang telah tercemar memberikan 577 ciri yang dapat diidentifikasi
secara visual dapat diketahui dari kekeruhan, warna air, rasa, bau yang
ditimbulkan dan indikasi lainnya. Sedangkan identifikasi secara laboratorium,
ditandai dengan perubahan sifat kimia air di mana air telah mengandung
bahan kimia yang beracun dan berbahaya dalam konsentrasi yang melebihi
batas dianjurkan. Jenis industri menghasilkan limbah cair di antaranya
adalah industri-industri pulp dan rayon, pengolahan crumb rubber, minyak
kelapa sawit, baja dan besi, minyak goreng, kertas, tekstil, kaustiksoda,
4

elektro plating, plywood, tepung tapioka, pengalengan, pencelupan dan


pewarnaan, daging dan lain-lain. Jumlah limbah yang dikeluarkan masing-
masing industri ini tergantung pada banyak produksi yang dihasilkan, serta
jenis produksi.

2.4 Karakter Limbah Cair


2.4.1 Karakter Fisika
Karakter fisika air limbah meliputi temperatur, bau, warna dan
padatan. Temperatur menunjukkan derajat atau tingkat panas air
limbah yang diterakan kedalam skala-skala. Skala yang dipakai yaitu
skala Fahrenheit ( ) dan skala Celcius ( ) dan merupakan
parameter yang penting dalam pengoprasian unit pengolahan limbah
karena berpengaruh terhadap proses biologi dan fisika.
Bau merupakan parameter yang subjektif. Kehadiran bau-bauan
yang lain menunjukkan adanya komponen-komponen lain didalam air.
Misalnya, bau seperti bau telur busuk menunjukkan adanya hidrogen
sulfida yang dihasilkan oleh permukaan zat-zat organik dalam kondisi
anaerobik. Pada air limbah, warna biasanya disebabkan oleh
kehadiran materi-materi dissolved, suspended, dan senyawa-senyawa
koloidal, yang dapat dilihat dari spektrum warna yang terjadi. Padatan
yang ada dalam limbah cair dapat diklasifikasikan menjadi floating,
settleable, suspended, atau dissolved.
2.4.2 Karakter Kimia
Karakter kimia air limbah meliputi organik dan senyawa anorganik.
Senyawa organik adalah karbon yang dikombinasikan dengan satu
atau lebih elemen-elemen lain (O, N, P, H). Saat ini terdapat lebih dari
dua juta jenis yang teleh diketahui.
Senyawa anorganik terdiri atas semua kombinasi elemen yang
bukan tersusun dari karbon organik.karbon anorganik dalam air limbah
pada umumnya terdiri atas sand, grit, dan mineral-mineral, baik
suspended maupun dissolved. Misalnya: klorida, ion hidrogen,
nitrogen, fosfor, logam berat, dan asam. Elemen-elemen yang terdapat
5

dalam jumlah berlebihan akan bersifat toksik dan menghalangi proses-


proses biologis. Gas yang terdapat dalam air limbah biasanya terdiri
atas oksigen, nitrogen, karbondioksida, hidrogen sulfida, amonia, dan
metana.

2.4.3 Karakter Biologis


Mikroorganisme ditemukan dalam jenis yang sangat bervariasi
hampir dalam semua bentuk air limbah, biasanya dengan konsentrasi
105-108 organisme/ml. Kebanyakan merupakan sel tunggal yang bebas
ataupun berkelompok dan mampu melakukan proses-proses
kehidupan (tumbuh, metabolisme, dan reproduksi).
Secara tradisional, mikroorganisme dibedakan menjadi binatang
dan tumbuhan. Namun, keduanya sulit dibedakan. Oleh karena itu,
mikroorganisme kemudian dimasukkan ke dalam kategori Protista,
status yang sama dengan binatang maupun tumbuhan. Virus
diklasifikasikan secara terpisah. Keberadaan bakteri dalam unit
pengolahan air limbah merupakan kunci efisiensi proses biologis.
Bakteri juga berperan penting untuk mengevaluasi kualitas air.

2.4 Analisis Laboratorium Limbah Cair


Karakteristik limbah cair yang biasanya diukur antara lain yaitu
temperatur, pH, alkalinitas, padatan-padatan, kebutuhan oksigen, nitrogen,
dan fosfor. Temperatur biasanya diukur dengan menggunakan termometer
air raksa dengan skala Fahrenheit dan Celcius. Instrumen lain yang dapat
digunakan adalah termometer bimetal, termistor, dan termokopel.
Nilai pH air digunakan untuk mengekspresikan kondisi keasaman
(konsetrasi ion hidrogen) air limbah. Skala pH berkisar antara 1-14; kisaran
nilai pH 1-7 termasuk kondisi asam, pH 7-14 termasuk kondisi basa, dan pH
7 adalah kondisi netral. Alkalinitas merupakan ukuran kemampuan air limbah
untuk di netralisasi. Kontributor utama alkanitas adalah ion bikarbonat,
karbonat, dan hidroksida. Meskipun demikian, borat, silikat, dan fosfat juga
dapat berperan sebagai konttributor alkalinitas. Penentuan tingkat alkalinitas
6

pada beberapa titik tertentu dalam IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
akan membantu untuk memahami dan menginterpretasikan unit pengolahan.
BOD (biochemical oxygen demand) adalah oksigen yang diperlukan
oleh organisme untuk mengoksidasi senyawa-senyawa kimia. Nilai BOD
bermanfaat untuk mengetahui apakah air limbah tersebutmengalami
biodegradasi atau tidak, yakni dengan membuat perbandingan antara nilai
BOD dan COD. Oksidasi berjalan sangat lambat dan secara teoritis
memerlukan waktu yang tak terbatas. Dalam waktu 5 hari (BOD 5), oksidasi
organik karbon akan mencapai 60% - 70% dan dalam waktu 20 hari akan
mencapai 95%.
COD adalah kebutuhan oksigen dalam proses oksidasi secara kimia.
Nilai COD akan selalu lebih besar daripada BOD karena kebanyakan
senyawa lebih mudah teroksidasi secara kimia daripada secara biologi.
Pengukuran COD membutuhkan waktu jauh lebih cepat, yakni dapat
dilakukan selama tiga jam, sedangkan pengukuran BOD paling tidak
membutuhkan waktu lima hari. Jika korelasi antara BOD dan COD sudah
diketahui, kondisi air limbah dapat diketahui.
Nitrogen terdapat dalam limbah organik dalam berbagai bentuk yang
meliputi empat spesifikasi, yaitu nitrogen organik, nitrogen amonia (ion
amonia dan amonia bebas), nitrogen nitrit, dan nitrogen nitrat. Dalam air
limbah yang dingin dan segar, biasanya kandungan nitrogen organik reltif
lebih tinggi daripada nitrogen amonia. Sebaliknya, dalam air limbah yang
hangat kandungan nitrogen organik relatif lebih rendah daripada nitrogen
amonia. Nitrit dan nitrat terdapat dalam air limbah dalam konsentrasi yang
sangat rendah.
Fosfor merupaka elemen penting dalam proses metabolisme
organisme-organisme biologis. Pada proses biologis, diperlukan konsentrasi
minimal untuk mencapai operasi yang optimal. Fosfor terdapat dalam air
limbah dalam berbagai bentuk, antara lain ortofosfat, pirofosfat, polifosfat,
dan metafosfat serta fosfor organik. Diantara ketiga bentuk fosfor tersebut,
ortofosfat merupakan bahan metabolisme organisme paling baik.