You are on page 1of 4

Gunung Lawu diduga memiliki potensi panas bumi sekitar 275 MW (API News, 2011).

Pencemaran air terjadi karena larutan hidrothermal mengandung kontaminan seperti Arsenik,
Antimon, dan Boron. Arsenik (As) adalah penyebab terjadinya kanker pada manusia. Ia
berkontribusi terhadap tingginya penyakit kulit dan kanker di lokasi pemukiman yang tepapar
terhadap kandungan As yang tinggi dalam air minum. Antimon (Sb) memiliki tingkat beracun
yang memperlihatkan karakter yang sama dengan As. Boron (B) dalam konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan permasalahan pada kesehatan manusia seperti menurunnya tingkat kesuburan.
As, Sb, dan B, adalah material yang terdapat secara alamiah, namun proses ekstraksi panas
dalam produksi energi di pembangkit geothermal, menyebabkan ia termobilisasi dan
mengkontaminasi perairan.

Peristiwa adanya aktivitas seismik ini dipicu oleh aktivitas pada sebuah proyek geothermal
yang mengekstraksi panas dari suatu kedalaman tertentu di perut bumi dan kemudian
menyalurkannya menjadi energi. Untuk mengetahui bagaimana terjadinya gempa bumi karena
adanya sistem energi panas bumi. Sumur produksi berfungsi mengalirkan gas/fluida panas dari
dalam Bumi ke permukaan. Di permukaan, panas tersebut berfungsi menggerakkan turbin yang
menghasilkan energi. Di sisi lain, karena diambil terus-menerus, tentu saja fluida dalam batuan
suatu ketika akan habis. Untuk mengantisipasinya maka dibuatlah sumur injeksi. Melalui
sumur injeksi, fluida dialirkan ke dalam perut Bumi, bersentuhan dengan batuan panas,
mengalami kenaikan suhu, dan kemudian dialirkan kembali ke permukaan melalui sumur
produksi, biasanya dalam bentuk uap. Uap inilah yang dipakai memutar turbin untuk
menghasilkan energi. Uap air yang telah dingin berubah menjadi fluida dan kembali
disuntikkan ke dalam perut Bumi melalui sumur injeksi. Begitu seterusnya berputar. Itu
sebabnya mengapa energi panas bumi disebut energi yang renewable (terbarukan).
Masalah bermula ketika cadangan sistem panas bumi yang ada tidak mencukupi untuk
diproduksi dengan skala komersial. Untuk memproduksi energi geothermal dalam skala
komersial, tentu saja kuantitas menjadi penting. Kuantitas pada energi geothermal ini
tergantung pada setidaknya dua hal. Pertama, fluida yang cukup dalam siklus injeksi produksi.
Dan kedua, tentu saja kemampuan batuan yang panas di dalam Bumi untuk melalukan fluida
(permeability). Dalam beberapa kasus proyek energi panas bumi ini ada kebutuhan untuk
meningkatkan kapasitas alami sebuah sistem geothermal (Enhanced Geothermal System/EGS).
Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan permeabilitas batuan dan volume fluida
yang berada dalam siklus. Teknologi EGS pada dasarnya dikembangkan untuk menjawab
kekurangan kapasitas sebuah sistem geothermal alami. Atau dengan kata lain, membuat sebuah
sistem geothermal yang tidak ekonomis menjadi ekonomis dengan meningkatkan kapasitas
sistem bawah tanah sebuah sistem energi panas bumi melalui rekayasa sebuah kondisi bawah
permukaan menjadi sistem energi geothermal komersial. Peningkatan kapasitas sistem
geothermal alami secara teknis dapat dilakukan dengan pusparagam cara. Kalau berhadapan
dengan reservoir (batuan tempat fluida di bawah tanah) yang panas tetapi memiliki
permeabilitas yang rendah, maka para engineer merekayasa teknik yang disebut hydraulic
fracturing. Teknik ini berguna untuk membuat rekahan pada reservoir dengan tujuan akhir
meningkatkan permeabilitas batuan sarang. Ini hanyalah salah satu teknik yang sering dipakai
untuk meningkatkan permeabilitas.

Pencemaran air
Sistem energi geothermal juga berdampak negatif terhadap kualitas air. Pencemaran ini dapat
menimpa air tanah dan kemudian bisa lebih lanjut juga menimpa air permukaan.

Penyebab paling masuk akal dari amblesan ini adalah adanya


ekstraksi fluida dari sumur ekstraksi geothermal. Teori konsolidasi
sederhana Terzhagi memperlihatkan bahwa tekanan pori yang
menurun dengan tekanan efektif yang naik adalah proporsional
dengan kompresibilitas dan ketebalan lapisan yang mengkompaksi
(Allis, 2000). Artinya, dengan beban yang tetap sementara tekanan
di dalam pori menurun, maka amblesan akan terjadi.

Pembangkit listrik panas bumi tidak membakar bahan bakar untuk menghasilkan listrik, sehingga
tingkat emisi mereka sangat rendah. Mereka melepaskan kurang dari 1% emisi karbon dioksida dari
yang dihasilkan pembangkit bahan bakar fosil. Pembangkit listrik geothermal menggunakan sistem
scrubber untuk membersihkan udara dari hidrogen sulfida yang secara alami ditemukan dalam uap
dan air panas. Pembangkit listrik geothermal memancarkan 97% lebih sedikit senyawa belerang
penyebab hujan asam dibandingkan yang dipancarkan oleh pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Dan juga, setelah uap dan air dari reservoir panas bumi selesai digunakan, mereka disuntikkan kembali
ke dalam Bumi.

Di luar manfaat yang sangat besar itu, proses penambangan panas bumi menyimpan bom waktu.
Sewaktu-waktu akan meledak dan memberi dampak yang merugikan bagi masyarakat.
penambangan panas bumi tersebut tidak hanya mengancam sumber air, akan tetapi dampak dari
program tersebut akan mengakibatkan kerusakan tanah. Jika struktur tanah rusak, maka bisa
berdampak pada krisis pangan.

Panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air
panas,uap air dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara
genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi. Panas
bumi (geotermal) terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi. Sumber
energi tersebut berasal dari pemanasan batuan dan air bersama unsur-unsur lain
yang tersimpan di dalam kerak bumi. Energi panas bumi adalah energi diekstrasi
dari panas yang tersimpan di dalam bumi. Energi panas bumi berasal dari inti bumi. Inti bumi terdiri atas
berbagai jenis logam dan batuan berbentuk cair, yang memiliki suhu sangat tinggi (Maskoeri Jasin:242).
Energi panas bumi berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi yang terjadi sejak planet ini diciptakan. Panas
bumi juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh permukaan bumi. Energi panas bumi cukup ekonomis
dan ramah lingkungan,tetapi terbatas hanya pada dekat area perbatasan lapisa tektonik. Dikatakan ramah
lingkungan karena unsur-unsur yang berasosiasi dengan energi panas tidak membawa dampak lingkungan atau
berada dalam batas yang berlaku. Pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya dapat dibangun di sekitar
lempeng tektonik yang bertemperatur tinggi dari sumber panas bumi tersedia di dekat permukaan.
Pengembangan dan penyempurnaan teknologi pengeboran serta ekstrasi telah memperluas jangkauan
pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi dari lempeng tektonik terdekat. Energi panas bumi
memiliki beberapa keunggulan dibandingkan energi sumber lain yang dapat diperbaharui, di antaranya: (1)
hemat ruang dan pengaruh dampak visual yang minimal, (2) mampu memproduksi secara terus- menerus selasa
24 jam, sehingga tidak membutuhkan tempat penyimpanan energi, serta (3) tingkat ketersediaan yang sangat
tinggi, yaitu di atas 95%. Sekalipun demikian, pemulihan energi panas bumi memakan waktu yang relatif lama
yaitu beberapa ratus tahun. Selain untuk tenaga listrik panas bumi dapat langsung dimanfaatkan untuk kegiatan
usaha pemanfaatan energi atau fluida.

Masa Depan Energi Panas Bumi.

Pergerakan lapisan bumi yang saling bertumbukan menyebabkan terjadinya proses radioaktif di
kedalaman lapisan bumi sehingga menyebabkan terbentuknya magma dengan temperatur lebih dari
2000 C. Setiap tahun air hujan serta lelehan salju meresap ke dalam lapisan bumi, dan tertampung
di suatu lapisan batuan yang telah terkena arus panas dan magma. Lapisan batuan itu disebut
dengan geothermal reservoir yang mempunyai kisaran temperatur antara 200 - 300 C. Siklus air
yang setiap tahun berlangsung menyebabkan lapisan batuan reservoir sebagai tempat penghasil
energi panas bumi yang dapat terus menerus diproduksi dalam jangka waktu yang sangat lama.
Itulah sebabnya mengapa panas bumi disebut sebagai energi terbarukan.
Penggunaan panas bumi sebagai salah satu sumber tenaga listrik memiliki banyak keuntungan di
sektor lingkungan maupun ekonomi bila dibandingkan sumber daya alam lainnya seperti batubara,
minyak bumi, air dan sebagainya. Tidak seperti sumber daya alam lainnya. Sifat panas bumi sebagai
energi terbarukan menjamin kehandalan operasional pembangkit karena fluida panas bumi sebagai
sumber tenaga yang digunakan sebagai penggeraknya akan selalu tersedia dan tidak akan
mengalami penurunan jumlah.
Pada sektor lingkungan, berdirinya pembangkit panas bumi tidak akan mempengaruhi persediaan air
tanah di daerah tersebut karena sisa buangan air disuntikkan ke bumi dengan kedalaman yang jauh
dari lapisan aliran air tanah. Limbah yang dihasilkan juga hanya berupa air sehingga tidak mengotori
udara dan merusak atmosfer. Kebersihan lingkungan sekitar pembangkit pun tetap terjaga karena
pengoperasiannya tidak memerlukan bahan bakar, tidak seperti pembangkit listrik tenaga lain yang
memiliki gas buangan berbahaya akibat pembakaran.
Sedangkan di sektor ekonomi, pengembangan energi panas bumi dapat meningkatkan devisa
negara. Penggunaannya dapat meminimalkan pemakaian bahan bakar yang berasal dari fosil
(minyak bumi, gas dan batubara) di dalam negeri sehingga, mereka dapat diekspor dan menjadikan
pemasukan bagi negara. Hal ini mengingat sifat energi panas bumi yang tidak dapat diangkut jauh
dari sumbernya. Dengan mengembangkan panas bumi, kapasitas sebesar 330 MW yang dihasilkan
energi panas bumi, negara dapat menghemat pemakaian minyak bumi sebesar 105 MM BBL.
Selain sebagai sumber listrik, energi panas bumi juga bisa dimanfaatkan dalam dunia agroindustri.
Sejumlah lapangan panas bumi Indonesia berdekatan bahkan berada di daerah pertanian,
peternakan, kehutanan dan perkebunan yang membutuhkan energi panas dalam proses produksi
maupun pengolahan hasil. Energi panas memang paling dibutuhkan dalam proses pengeringan,
pengawetan, sterilisasi, pasteurisasi, pemanasan dan sebagainya. Selama ini, petani menggunakan
bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut. Semakin besar industri
yang mereka garap, semakin besar pula BBM yang diperlukan.