You are on page 1of 9

Nama :Fadillah Pahmi

Kelas :3b

Semester :v

Mata Kuliah :system endokrin 1

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Hipertiroid

A. Konsep Dasar Peyakit

1. Pengertian

Hipertiroidisme merupakan kelainan endokrin yang dapat dicegah, seperti kebanyakan


kondisi tiroid, kelainan ini merupakan kelainan yang sangat menonjol pada wanita. Kelainan ini
menyerang wanita empat kali lebih banyak daripada pada pria, terutama wanita muda yang
berusia antara 20 dan 40 tahun. Disini dapat dikarenakan karena dari proses menstruasi,
kehamilan dan menyusui itu sendiri menyebabkan hipermetabolisme sebagai akibat peningkatan
kerja daripada hormone tiroid .(Hotma R, 2006).

Jumlah penderita hipertiroid terus meningkat. Hipertiroid merupakan penyakit hormon


yang menempati urutan kedua terbesar di Indonesia setelah diabetes. Posisi ini serupa dengan
kasus di dunia.

Lebih dari 90 % hipertiroidisme adalah akibat penyakit graves dan nodul tiroid toksik.

2. Penyebab hipertiroidisme

Nodul tiroid toksik : multinodular dan mononodular toksik.


Biasa Tiroiditis.

hipertiroidisme neonatal, hipertiroidisme faktisius, sekresi TSH yang


tidak tepat oleh hipofisis, tumor, nontumor (syndrome resistensi
Tidak biasa hormone tiroid), yodium eksogen

Jarang
metastasis kanker tiroid, koriokarsinoma dan mola hidatidosa,
struma ovarii, karsinoma testicular embrional

3. Gejala kinis

Hipertiroidisme pada penyakit Graves adalah akibat antibody reseptor thyroid stimulating
hormone (TSH ) yang merangsang aktivitas tiroid, sedang pada Goiter multinodular toksik
berhubungan dengan autonomi tiroid itu sendiri.

Perjalanan penyakit hipertiroidisme biasanya perlahan- lahan dalam beberapa bulan sampai
beberapa tahun. Manifestasi klinis yang paling sering adalah penurunan berat badan, kelelahan,
tremor, gugup, berkeringat banyak, tidak tahan panas, palpitasi dan pembesaran tiroid

Gambaran klinis hipertroidisme

BB turun, keletihan, apatis, berkeringat, tidak tahan panas.


Emosi : gelisah, iritabilitas, gugup, emosi labil, perilaku mania
Umum dan perhatian menyempit.

palpitasi, sesak nafas, angina, gagal jantung, sinus takikardi,


Kardiovaskuler disritmia, fibrilasi atrium, nadi kolaps.

gugup, agitasi, tremor, korea atetosis, psikosis, kelemahan otot,


Neuromuskuler miopati proksimal, paralisis periodik, miastenia gravis.

Gastrointestinal BB turun, nafsu makan meningkat, diare, steatore, muntah

Reproduksi oligomenore, amenore, libido meningkat, infertilitas

Kulit pruritus, eritema Palmaris, miksedemia pretibial, rambut tipis

Struma difus dengan atau tanpa bising, nodosa

periorbital puffiness, lakrimasi meningkat dan grittiness of eyes,


kemosis ( odema konjungtiva), proptosis, ulserasi kornea,
Mata oftalmoplegia, diplopia, edema papil, penglihatan kabur.

4. Pathofisiologi

Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga
kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyaknya hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel di
dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat berapa kali dibandingkan dengan
pembesaran kelenjar. Setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat.
Perubahan pada kelenjar tiroid ini mirip dengan perubahan akibat kelebihan TSH. Pada
beberapa penderita ditemukan adaya beberapa bahan yang mempunyai kerja mirip dengan TSH
yang ada di dalam darah. Biasanya bahan-bahan ini adalah antibodi imunoglobulin yang
berikatan dengan reseptor membran yang sama degan reseptor membran yang mengikat TSH.
Bahan-bahan tersebut merangsang aktivasi terus-menerus dari sistem cAMP dalam sel, dengan
hasil akhirnya adalah hipertiroidisme. Dimana ada peningkatan produksi T3 dan T4
mengakibatkan peningkatan pembentukan limfosit oleh karena efek dari auto imun yang akan
mengilfiltrasi kejaringan orbita dan otot mata sehingga terjadi edema jaringan retro orbita
mengakibatkan eksoftalmus. Pada beberapa keadaan dapat menjadi sangat parah sehingga
protusi bola mata dapat menarik saraf optik sehingga mengganggu penglihatan penderita. Yang
lebih sering yaitu kerusakan pada kelopak mata yang menjadi sulit menutup sempurna pada
waktu penderita berkedip atau tidur akibatnya permukaan epitel mata menjadi kering dan mudah
mengalami iritasi dan seringkali terinfeksi sehingga timbul luka pada kornea penderita.

Peningkatan produksi T3 dan T4 juga mengakibatkan aktivitas simpatis berlebih, adanya


peningkatan aktivitas medula spinalis yang akan menyebabkan gangguan pengeluaran tonus otot
sehingga menimbulkan tremor halus. Peningkatan kecepatan serebrasi mengakibatkan gelisah,
apatis, paranoid, dan ansietas

Selain itu dapat mengakibatkan hipermetabolisme yang berpengaruh pada peningkatan


sekresi getah pencernaan dan peningkatan peristaltik saluran cerna dimana salah satunya akan
ada peningkatan nafsu makan dan juga timbulnya diare. Bila terjadi peningkatan metabolisme
KH dan lemak mengakibatkan proses oksidasi dalam tubuh meningkat yang akan meningkatkan
produksi panas ditandai dengan berkeringat dan tidak tahan panas dan penurunan cadangan
energi mengakibatkan kelelahan dan penurunan berat badan. Karena hipermetabolisme sehingga
penggunaan O2 lebih cepat dari normal dan adanya peningkatan CO2 menyebabkan peningkatan
kecepatan nafas sehingga terjadi sesak nafas.

5. Pemeriksaaan Fisik

Eksoftalmus : bulbus okuli menonjol keluar

Tanda stellwags : mata jarang berkedip

Tanda Von Graefes : jika klien melihat kebawah maka palpebra superior sukar atau sama sekali
tidak dapat mengikuti bola mata.

Tanda Mobieve : sukar mengadakan atau menahan konvergensi

Tanda Joffroy : tadak dapat mengerutkan dahi jika melihat keatas

Tanda Rosenbagh : tremor palpebra jika mata menutup

6. Pemeriksaan Penunjang
Tes ambilan RAI : meningkat

T4 dan T3 serum : meningkat

TSH : tertekan dan tidak berespon pada TRH (tiroid releasing hormon)

Tiroglobulin : meningkat

Stimulasi TRH : dikatakan hipertiroid jika TRH dari tidak ada sampai meningkat setelah
pemberian TRH

Ambilan tiroid131: meningkat

Ikatan proein iodium : meningkat

Fosfat alkali dan kalsium serum : meningkat.

Pemeriksaan fungsi hepar : abnormal

Elektrolit : hiponatremi mungkin sebagai akibat dari respon adrenal atau efek dilusi dalam
terapi cairan pengganti, hipokalsemia terjadi dengan sendirinya pada kehilangan melalui
gastrointestinal dan diuresis.

Katekolamin serum : menurun.

Kreatinin urine : meningkat

Skanning tyroid

USG thyroid

Pemeriksaan elektrokardiografi ( EKG) : fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek,


kardiomegali.

7. Diagnosis

Sebagian besar pasien memberikan gejala klinis yang jelas, tetapi pemeriksaan laboratorium
tetap perlu untuk menguatkan diagnosis. Pada kasus kasus subklinis dan pasien usia lanjut
perlu pemeriksaan laboratorium yang cermat untuk membantu menetapkan diagnosis
hipertiroidisme. Diagnosis pada wanita hamil agak sulit karena perubahan fisiologis pada
kehamilan seperti pembesaran tiroid serta manifestasi hipermetabolik, sama seperti
tirotoksikosis. Menurut Bayer MF, pada pasien hipertiroidisme akan didapatkan TSHs ( Thyroid
Stimulating Hormone Sensitive ) tak terukur atau jelas subnormal dan Free T4 ( FT4 ) meningkat.
Terapy / Penanganan

1. Obat antitiroid

Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormone tiroid yang berlebihan
dengan cara menekan produksi ( obat antitiroid ) atau merusak jaringan tiroid ( yodium
radioaktif, tiroidektomi sub total)

Digunakan dengan indikasi :

Obat diberikan dalam dosis besar pada permulaan sampai eutiroidisme lalu diberikan dosis
rendah untuk mempertahankan eutiroidisme.

Tabel obat antitiroid yang sering digunakan :

Obat Dosis awal ( mg/ hari) Pemeliharaan (mg /hari)

Karbimazol 30-60 5-20

Metimazol 30-60 5- 20

Propiltiourasil 300-600 50- 200

Ketiga obat ini mempunyai kerja imunosupresif dan dapat menurunkan konsentrasi thyroid
stimulating antibody ( TSAb) yang bekerja pada sel tiroid. Obat- obat ini umumnya diberikan
sekitar 18- 24 bulan. Pemakaian obat- obat ini dapat menimbulkan efek samping berupa
hipersensitifitas dan agranulositosis. Apabila timbul hipersensitivitas maka obat diganti, tetapi
bila timbul agranulositosis maka obat dihentikan.

Pada pasien hamil biasanya diberikan propiltiourasil dengan dosis serendah mungkin yaitu 200
mg/ hari atau lebih lagi. Hipertiroidisme kerap kali sembuh spontan pada kehamilan tua sehingga
propiltiourasil dihentikan. Obat- obat tambahan sebaiknya tidak diberikan karena T4 yang dapat
melewati plasenta hanya sedikit sekali dan tidak dapat mencegah hipertiroidisme pada bayi yang
baru lahir. Pada masa laktasi juga diberikan propiltiourasil karena hanya sedikit sekali yang
keluar dari air susu ibu. Dosis yang dipakai 100-150 mg tiap 8 jam. Setelah pasien eutiroid,
secara klinis dan laboratorium, dosis diturunkan dan dipertahankan menjadi 2 x 50 mg/hari.
Kadar T4 dipertahankan pada batas atas normal dengan dosis propiltiourasil < 100 mg/hari.
Apabila tirotoksikosis timbul lagi, biasanya pascapersalinan, propiltiourasil dinaikkan sampai
300 mg/hari.
2. Pengobatan dengan yodium radioaktif

Digunakan Y131 dengan dosis 5-12 mCi peroral. Dosis ini dapat mengendalikan
tirodotoksikosis dalam 3 bulan, namun pasien menjadi hipotiroid pada tahun pertama. Efek
samping pengobatan dengan yodium radioaktif adalah hipotiroidisme, eksaserbasi hipotiroidisme
dan tiroiditis.

3. Tindakan operatif

Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroidisme. Indikasi operasi adalah :

Sebelum operasi, biasanya pasien diberi obat antitiroid sampai eutiroid kemudian diberi cairan
kalium yodida 100-200 mg/hari atau cairan lugol 10-15 tetes/hari selama 10 hari sebelum
dioperasi untuk mengurangi vaskularisasi pada kalenjar tiroid.

Obat ini diberikan untuk mengurangi gejala dan tanda hipertiroidisme. Dosis diberikan 40-200
mg/hari yang dibagi atas 4 dosis. Pada orang lanjut usia diberi 10 mg/6jam.

Yodium terutama digunakan untuk persiapan operasi, sesudah pengobatan dengan yodium
radioaktif dan pada krisis tiroid. Biasanya diberikan dalam dosis 100-300 mg/hari.

Ipodat kerjanya lebih cepat dibanding propiltiourasil dan sangat baik digunakan pada keadaan
akut seperti krisis tiroid. Kerja ipodat adalah menurunkan konversi T4 diperifer, mengurangi
sintesis hormone tiroid serta mengurangi pengeluaran hormone dari tiroid.

Litium mempunyai daya kerja seperti yodium, namun tidak jelas keuntungannya dibandingkan
dengan yodium. Litium dapat digunakan pada pasien dengan krisis tiroid yang alergi terhadap
yodium.

B. Konsep Dasar Perawatan

1. Pengkajian

DS : insomnia, keletihan / kelelahan

DO : takikardia

DS : nyeri dada

DO : takikardia, disritmia (fibrilasi atrium), palpitasi.

DS : adanya riwayat factor stress yang baru dialami, termasuk sakit fisik / pembedahan,
ketidakmampuan mengatasi stress.
DO : tanda ansietas misalnya gelisah, pucat, berkeringat, tremor / gemetar, suara gemetar, emosi
labil , depresi.

DS : diare

DO : konsistensi feses cair,

DS : anoreksia, mual, BB menurun, nafsu makan meningkat, makan banyak, kehausan

DO : muntah, pembesaran tiroid, goiter, edema nonpitting terutama daerah pretibial

DS : tidak tahan panas

DO : bicara cepat dan parau

Gangguan status mental dan prilaku seperti: bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang,
delirium, psikosis, stupor. Koma.

Tremor halus pada tangan

DS : nyeri orbital, fotofobia

DO : kelopak mata sulit menutup

DS : mengeluh nafas terasa sesak

DO : frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea

DS : nafsu seks menurun

DO : penurunan libido, hilangnya tanda tanda seks sekunder misalnya : berkurangnya rambut
rambut pada tubuh terutama pada wanita

Hipomenore,amenore dan impoten

2.Diagnosa Keperawatan yang Muncul

1. Penurunan curah jantung b/d hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme;


peningkatan beban kerja jantung; perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik;
perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung.

2.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan metabolisme (peningkatan
nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan); mual muntah, diare

3.Resti terhadap kerusakan integritas jaringan kornea b/d perubahan mekanisme perlindungan
dari mata : kerusakan penutupan kelopak mata / eksoftalmus
4.Resti terhadap perubahan proses pikir b/d pola tidur

5.Cemas b.d faktor fisiologis, status hipermetabolik (stimulasi SSP), efek pseudokatekolamin
dari hormon tiroid

6.Perubahan Body image b.d perubahan fisik dan persepsi negative terhadap penyakitnya

7.Intoleransi aktivitas b.d penurunan cadangan energy akibat hipermetabolik, kelelahan.

8.Resiko cedera b.d penurunan tonus otot, tremor

9.Resiko hipertermia b.d peningkatan produksi panas akibat hipermetabolik

10.Resiko kerusakan integritas kulit b.d peningkatan pengeluaran keringat, eritema, pruritus

11.Perubahan sensori-persepsi : Visual b.d exoptalmus, optalmopati

12.Diare b.d hiperperistaltik sekunder akibat hipermetabolisme

13.Gangguan Pola Tidur b.d hiperaktivitas saraf simpatis


3. Rencana Perawatan

Dari beberapa diagnose Perawatan yang mungkin muncul pada pasien hipertiroid, kelompok
menyusun Perencanaan terhadap 4 diagnosa perawatan yaitu ;Penurunan curah jantung,
Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan, Resti kerusakan integritas jaringan kornea, dan resti
terhadap perubahan proses pikir. Terlampir.

4. Implementasi

Dilaksanakan sesuai dengan rencana Tindakan.

5. Evaluasi

Pasien dapat mempertahankan curah jantung yang adekut sesuai dengan kebutuhan tubuh yang
ditandai dengan tanda vital stabil, denyut nadi perifer normal, pengisian kapiler normal, status
mental baik, tidak ada disritmia.

Nutrisi pasien adekuat, menunjukkan BB yang stabil disertai dengan nilai laboratorium yang
normal dan terbebas dari tanda-tanda malnutrisi.

Pasien mampu memperthankan kelembaban membrane mukosa mata, terbebas dari ulkus,
mampu mengidentifikasikan tindakan untuk memberikan perlindungan pada mata dan
pencegahan komplikasi.

Pasien mampu mempertahankan orientasi realita umumnya, mengenali perubahan dalam berpikir
/perilaku dan factor penyebab.