You are on page 1of 27

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Gambaran Umum PT. Catalist Integra Prima Sukses Cabang Karangasem


A. Hasil Penelitian dan Uji Hipotesis

1. Hasil Penelitian

1.1 Karakteristik Responden

Dalam bagian ini dibahas mengenai Pengaruh Komunikasi dan

Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan di PT. Catalist Integra Prima Sukses

Cabang Karangasem.

Untuk mempermudah dalam mengklasifikasikan data Komunikasi yang

diberikan simbol (X1), variabel Kepemimpinan diberikan simbol (X2), dan

variabel Kinerja Karyawan yang disimbolkan dengan (Y) diperoleh dari hasil

penyebaran kuisioner. Dengan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

karyawan yang ada di perusahaan PT. Catalist Integra Prima Sukses Cabang

Karangasem yang berjumlah 35 (tiga puluh lima) orang.

Adapun karakteristik responden penelitian ini adalah ditinjau dari jenis

kelamin, umur, pendidikan. Karakteristik tersebut dapat dilihat seperti berikut.

Tabel 4.1
Karakteristik Responden Dilihat dari Jenis Kelamin

No Karakteristik Pilihan Frekuensi Prosentase

(orang) (%)
1 Jenis Kelamin a. Laki laki
b. Perempuan

Jumlah

Dilihat dari jenis kelamin, responden yang berjenis kelamin laki

laki adalah sebanyak .orang atau % dan berjenis kelamin perempuan


sebanyak ..orang atau %. Sedangkan dilihat dari umur dapat

dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.2
Karakteristik Responden Dilihat dari Umur
No Karakteristik Pilihan Frekuensi Prosentase

(orang) (%)
1 Umur a. <21 tahun
b. 21 25 tahun
c. 26 30 tahun
d. 31 35 tahun
e. 36 40 tahun
f. >40 tahun
Jumlah
Dilihat dari segi umur, tidak ada responden yang memiliki umur

dibawah 21 tahun, umur 21 25 tahun adalah sebanyak . orang atau

.%, umur 26 30 tahun adalah sebanyak .. orang atau .. %,

umur 31 35 tahun adalah sebanyak . orang atau %, umur 36

40 tahun adalah sebanyak orang atau .%, umur diatas 40

tahun adalah sebanyak . orang atau .%. Sedangkan dari segi

pendidikan karakter responden dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.3
Karakteristik Responden Dilihat dari Pendidikan
No Karakteristik Pilihan Frekuensi Prosentase

(orang) (%)
1 Pendidikan a. SD
b. SMP
c. SMA
d. Diploma
e. S1
f. S2
Jumlah
Dilihat dari segi pendidikan, responden yang memiliki pendidikan SD

tidak ada, berpendidikan SMP sebanyak . orang atau . %,

berpendidikan SMA sebanyak . orang atau . %, dan berpendidikan

berpendidikan S1 sebanyak . orang atau . %.

Setelah mengumpulkan hasil penyebaran kuisioner, kemudian dilakukan

pencatatan selanjutnya melakukan uji instrument penelitian.

1.2 Karakteristik Variabel

Seperti yang dikemukakan di atas, jumlah klasifikasi kelas terdiri dari 5

kelas dengan nilai tertinggi adalah 5 dan nilai terendah adalah 1. Panjang interval

kelas dapat diukur dengan rumus:

51
=
5

= 0,8

Dan diperoleh batasan klasifikasi seperti Tabel 4.2 sebagai berikut:

Tabel 4.5
Batasan Klasifikasi

Rata-rata Klasifikasi

4,21 5 Sangat baik


3,41 4,2 Baik
2,61 3,4 Cukup
1,81 2,6 Tidak baik
1 1,80 Sangat tidak baik

Data dalam penelitian ini merupakan suatu skala pengukuran yang

dikuantifikasikan dengan pemberian skor, dimana angka- angka tersebut


menunjukkan suatu posisi berdasarkan atas tanggapan para responden terhadap

masing-masing item indikator pernyataan sebagai berikut:

1) Komunikasi (X1)

Berdasarkan penyebaran kesioner dari Komunikasi (X1) terhadap 35

responden dapat diketahui sebagai berikut:

Table 4.6
Ringkasan Hasil Penyebaran Kusioner
Variabel Komunikasi

No. Kriteria Jumlah Persentase (%)


1 Sangat baik 3 8,57%
2 Baik 23 65,71%
3 Cukup 9 25,71
4 Tidak baik 0 0%
5 Sangat tidak baik 0 0%
Jumlah 35 100%
Sumber : Data primer yang diolah, 2017

Berdasarkan table 4.6 di atas, kriteria Komunikasi yang meliputi 5

kriteria, yaitu: sangat baik, baik, cukup, tidak baik, dan sangat tidak baik.

Kriteria sangat baik dicapai oleh 3 orang atau 8,57%, sedangkan kriteria baik

sebanyak 23 orang atau 65,71%, kemudian criteria cukup sebanyak 9 orang

atau 25,71% dan tidak ada yang memperoleh kriteria tidak baik dan sangat

tidak baik.

2) Kepemimpinan (X2)

Berdasarkan penyebaran kesioner dari Kepemimpinan (X2) terhadap 35

responden dapat diketahui sebagai berikut:

Table 4.6
Ringkasan Hasil Penyebaran Kusioner
Variabel Kepemimpinan

No. Kriteria Jumlah Persentase (%)


1 Sangat baik 2 5,71%
2 Baik 20 57,14%
3 Cukup 13 37,14%
4 Tidak baik 0 0%
5 Sangat tidak baik 0 0%
Jumlah 35 100%
Sumber : Data primer yang diolah, 2017

Berdasarkan table 4.6 di atas, kriteria Kepemimpinan yang meliputi 5

kriteria, yaitu: sangat baik, baik, cukup, tidak baik, dan sangat tidak baik.

Kriteria sangat baik dicapai oleh 2 orang atau 5,71%, sedangkan kriteria baik

sebanyak 20 orang atau 57,14%, kemudian criteria cukup sebanyak 13 orang

atau 37,14% dan tidak ada yang memperoleh kriteria tidak baik dan sangat

tidak baik.

3) Kinerja Karyawan (Y)

Berdasarkan penyebaran kesioner dari Kinerja Karyawan (Y) terhadap 35

responden dapat diketahui sebagai berikut:

Table 4.6
Ringkasan Hasil Penyebaran Kusioner
Variabel Kinerja Karyawan

No. Kriteria Jumlah Persentase (%)


1 Sangat baik 10 28,57%
2 Baik 20 57,14%
3 Cukup 4 11,43%
4 Tidak baik 1 2,86%
5 Sangat tidak baik 0 0%
Jumlah 35 100%
Sumber : Data primer yang diolah, 2017

Berdasarkan table 4.6 di atas, kriteria Kinerja Karyawan yang meliputi 5

kriteria, yaitu: sangat baik, baik, cukup, tidak baik, dan sangat tidak baik.

Kriteria sangat baik dicapai oleh 10 orang atau 28,57%, sedangkan kriteria

baik sebanyak 20 orang atau 57,14%, kemudian criteria cukup sebanyak 4


orang atau 11,43% , memperoleh kriteria tidak baik sebanyak 1 orang atau

2,86%, dan tidak ada yang memperoleh sangat tidak baik.

1.3 Uji Instrumen Penelitian

Uji instrument penelitian yaitu dengan melakukan uji validitas dan reabilitas,

untuk untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Adapun hasil yang

dijelaskan sebagai berikut:

1.3.1 Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu

kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan sah jika pertanyaan pada kuesioner

mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.

Uji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung (untuk setiap

butir dapat dilihat pada kolom corrected item-total correlations) dengan r

tabel untuk degree of freedom (df)=n-k, dalam hal ini n adalah jumlah sampel

dan k adalah jumlah item. Jika r hitung > r tabel, maka pertanyaan tersebut

dikatakan valid (Ghozali, 2005: 45).

Setelah diolah dengan menggunakan SPSS V.21, selanjutnya

dilakukan perbandingan antara r hitung dengan r tabel, dimana tes atau

kuisioner dinyatakan valid apabila r hitung > r tabel. Dengan jumlah subyek

penelitian 35 dan taraf signifikansi 5% maka r tabel dalam penelitian ini

(terlampir) adalah 0,33 Adapun perbandingannya yaitu :

Tabel 4.8
Perbandingan r hitung dan r tabel
Uji Validitas Variabel Komunikasi, Kepemimpinan dan Kinerja Karyawan
No Variabel R hitung R tabel Keterangan
1 Komunikasi (X1)
Pernyataan1 0.727** 0,33 Valid
Pernyataan2 0.797** 0,33 Valid
Pernyataan3 0.743** 0,33 Valid
Pernyataan4 0.782** 0,33 Valid
Pernyataan5 0.836** 0,33 Valid
2 Kepemimpinan (X2)
Pernyataan1 0.618** 0,33 Valid
Pernyataan2 0.605** 0,33 Valid
Pernyataan3 0.521** 0,33 Valid
Pernyataan4 0.781** 0,33 Valid
Pernyataan5 0.667** 0,33 Valid
3 Kinerja Karyawan (Y)
Pernyataan1 0.651** 0,33 Valid
Pernyataan2 0.425* 0,33 Valid
Pernyataan3 0.708** 0,33 Valid
Pernyataan4 0.708** 0,33 Valid
Pernyataan5 0.643** 0,33 Valid

Dilihat pada tabel di atas, semua item pertanyaan memeiliki r hitung

di atas r tabel atau dengan kata lain r hitung > r tabel. Sehingga dapat

disimpulkan semua item pertanyaan variabel Komunikasi, Kepemimpinan

dan Kinerja Karyawan dinyatakan valid.

1.3.2 Uji Reabilitas

Uji Reliabilitas merupakan alat untuk mengukur suatu kuisioner yang

merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuisioner dikatakan

reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan konsisten

atau stabil dari waktu ke waktu. SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur

reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (). Suatu variabel dikatakan
reliabel jika memberikan nilai > 0,6 (Nunnally, 1967 dalam Ghozali,

2005:42).

Melalui SPSS V.21 diperoleh reliabilitas dengan uji statistik

Cronbach Alpha () sebagai berikut :

Tabel 4.9
Hasil Reabilitas Variabel Komunikasi

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.830 5

Dari analisis reabilitas di atas diperoleh Alpha () untuk Komunikasi

adalah 0,830 yang tentunya melebihi dari 0,6 sehingga semua kuisioner untuk

insentif finansial diakui kehandalannya (reability sangat baik).

Tabel 4.9
Hasil Reabilitas Variabel Kepemimpinan

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.641 5

Dari analisis reabilitas di atas diperoleh Alpha () untuk

Kepemimpinan adalah 0,641 yang tentunya melebihi dari 0,6 sehingga semua

kuisioner untuk insentif finansial diakui kehandalannya (reability baik).

Tabel 4.9
Hasil Reabilitas Variabel Kinerja Karyawan
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.617 5

Dari analisis reabilitas di atas diperoleh Alpha () untuk Kinerja

Karyawan adalah 0,617 yang tentunya melebihi dari 0,6 sehingga semua

kuisioner untuk insentif finansial diakui kehandalannya (reability baik).

1.4 Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis menggunakan regresi linier berganda,

ada beberapa uji asumsi klasik yang harus dipenuhi agar kesimpulan dari regresi

tersebut tidak bias, yaitu uji normalitas, Uji Multikolineritas dan uji

heterokedastisitas

1.4.1 Hasil Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diambil

dalam penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.

Model regresi yang baik adalah yang datanya berdistribusi normal atau

mendekatai normal. Jika data tidak tidak berada disekitar wilayah garis diagonal

dan tidak mengikuti garis diagonal atau tidak mengikuti pola sebaran distribusi

normal maka akan diperoleh taksiran yang bias. Pengujian normalitas dalam

penelitian ini yaitu melalui normal probability plot dengan menggunakan spss

21.0 dan diperoleh hasil sebagai berikut:


Gambar 4.2
Uji Normalitas

Uji normalitas dengan normal probability plot mensyaratkan bahwa

penyebaran data harus berada disekitar wilayah garis diagonal dan mengikuti

arah garis diagonal. Berdasarkan gambar di atas dapat disimpulkan bahwa data

dalam penelitian ini memenuhi syarat normal probability plot sehingga model

regresi dalam penelitian memenuhi asumsi normalitas (berditribusi normal).

Artinya data dalam penelitian ini berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

1.4.2 Uji Multikolineritas

Uji multikolineritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Jika variabel bebas

saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal. Variabel


orthogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas

sama dengan nol. Multikoloneritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan Variance

Inflation Factor (VIF). Regresi bebas dari multikoloneritas apabila nilai

toleransinya di atas 0,0001 dan VIF kurang dari 5 (Santoso, 2009: 281). Ghozali

(2013:64) mengatakan bahwa nilai VIF multikoloneritas adalah kurang dari 10

dan tolerance mendekati 1.

Untuk dapat menentukan apakah terdapat multikolinearitas dalam model

regresi pada penelitian ini adalah dengan melihat nilai VIF (Variance Inflation

Factor) dan tolerance serta menganalisis matrix korelasi variabel-variabel bebas.

Adapun nilai VIF dapat dilihat pada tabel 4.12 dibawah ini:

Unstandardized Coefficients Collinearity Statistics

Model B Std. Error t Sig. Tolerance VIF

1 (Constant) -1.252 2.581 -.485 .631

X1 1.058 .287 3.689 .001 .136 7.359

X2 .080 .355 .225 .824 .136 7.359

a. Dependent Variable: Y
Tabel 4.12 terlihat bahwa tidak ada variabel yang memiliki nilai VIF

lebih besar dari 10 dan nilai tolerance yang lebih kecil dari 10%, yang berarti

bahwa tidak terdapat korelasi antar variabel bebas yang lebih besar dari 95%.

Sehingga dari hal-hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

multikolinearitas antar variabel bebas dalam model regres

1.4.3 Uji Heterokedastisitas

Uji Heteroskedastisitas ini bertujuan menguji apakah dalam model


regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan lain. Jika variance dari satu residual satu pengamatan ke

pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut

heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas

atau tidak heteroskedastisitas. Dasar analisis :

1.4.3.1 Jika ada pola tertentu, seperti titik titik yang ada membentuk pola

tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian

menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas

1.4.3.2 Jika tidak ada pola yang jelas serta titik titik menyebar di atas dan di

bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Gambar 4.3

Uji Heterokedastisitas

Dari hasil Grafik Scatterplot, tidak ada pola yang jelas serta titik

titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak

terjadi heteroskedastisitas.
1.5 Uji Hipotesis

1.5.1 Analisis Regresi Linier Berganda

Dengan mempergunakan jumlah bobot jawaban produk sebagai variabel

bebas (X) dan jumlah bobot jawaban penjualan sebagai variabel terikat (Y), maka

selanjutnya dilakukan analisis data mnggunakan SPSS V.21. Data masukan pada

Berdasarkan hasil-hasil perhitungan tersebut, maka dapat dikemukakan pembahasan

yang berkaitan dengan pengaruh Komunikasi (X1) dan Kepemimpinan (X2) terhadap

Kinerja Karyawan (Y).

Pengaruh Komunikasi (X1) dan Kepemimpinan (X2) terhadap Kinerja

Karyawan (Y) dapat diketahui dengan menggunakan analisis regresi, dalam hal ini

digunakan regresi linier berganda. Hal ini dilakukan mengingat jumlah variabel

berjumlah tiga variabel. Dengan bantuan program SPSS for windows 21,0 diperoleh

hasil sebagai berikut:

Tabel 4.11
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Coefficientsa

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients Collinearity Statistics

Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF

1 (Constant) -1.252 2.581 -.485 .631

X1 1.058 .287 .834 3.689 .001 .136 7.359

X2 .080 .355 .051 .225 .824 .136 7.359

a. Dependent Variable: Y

a = -1,252
b1 = 1,058

b2 = 0,080

Dengan demikian persamaan regresinya adalah :

Y = -1,252+ 1,058X1+ 0,080X2

Berdasarkan hasil regresi ini dapat dijelaskan bahwa :

Persamaan regresi diatas mempunyai arti :

a) a = -1,252, jika nilai Komunikasi dan Kepemimpinan sebesar nol atau

tidak memiliki nilai sama sekali, maka Kinerja Karyawan (Y) akan

memiliki nilai sebesar 1,252

b) b1 = 1,058, merupakan koefisien arah regresi linier yang positif, artinya

bahwa setiap Komunikasi (X1) sebesar satu, maka Kinerja Karyawan (Y)

cenderung bertambah sebesar 1,058 dengan asumsi Kepemimpinan (X2)

dianggap konstan.

c) b2 = 0,080, merupakan koefisien arah regresi linier yang positif, artinya

bahwa setiap Kepemimpinan (X2) sebesar satu, maka Kinerja Karyawan

(Y) cenderung bertambah sebesar 0,080 dengan asumsi Komunikasi (X1),

dianggap konstan.

1.5.2 Analisis Korelasi Berganda

Hubungan analisis-analisis yang akan dianalisis ini adalah jumlah

variabel Komunikasi, Kepemimpinan dan variabel Kinerja Karyawan. Oleh

karena ketiga variabel yang akan dihubungkan telah diketahui, yakni variabel

Komunikasi sebagai variabel X1, Kepemimpinan sebagai variabel X2 dan


variabel Kinerja Karyawan sebagai variabel Y, dengan kriteria korelasi

sebagai berikut :

Tabel 4.12
Tabel Koefesien Korelasi

Besarnya nilai r Interprestasi


Antara 0,000 sampai dengan 0,199 Korelasi sangat rendah
Antara 0,200 sampai dengan 0,399 Korelasi rendah
Antara 0,400 sampai dengan 0,599 Korelasi sedang
Antara 0,600 sampai dengan 0,799 Korelasi tinggi
Antara 0,800 sampai dengan 1,199 Korelasi sangat kuat

Dengan bantuan program SPSS for windows 21.0 diperoleh hasil korelasi

untuk pengaruh Komunikasi (X1) dan Kepemimpinan (X2) terhadap Kinerja

Karyawan (Y) seperti pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.13
Hasil Analisis Korelasi Berganda

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .882a .778 .764 1.35972 1.621

a. Predictors: (Constant), X2, X1

b. Dependent Variable: Y

r = 0,882. Hal ini sesuai dengan kriteria yang diterangkan sebelumnya : Jika r

> 0 artinya telah terjadi hubungan yang linier positif, yaitu makin besar nilai variabel

X, maka makin besar pula nilai variabel Y atau makin kecil nilai variabel X makin

pula nilai variabel Y.


Dengan panduan tabel koefisien korelasi, dapat dijelaskan bahwa terdapat

hubungan positif antara pengaruh Komunikasi (X1) dan Kepemimpinan (X2)

terhadap Kinerja Karyawan (Y) yaitu terdapat hubungan yang tinggi atau sangat

kuat, karena terletak antara 0,800 sampai dengan 1,199. Artinya semakin besar

strategi pemasaran yang diberikan, maka tinggi pula penjualannya.

1.6 Analisis Determinasi

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Komunikasi dan Kepemimpinan

terhadap Kinerja Karyawan, maka perlu dicari dengan analisis determinasi. Dengan

analisis determinasi ini akan diketahui seberapa besar pengaruh pengaruh Komunikasi

dan Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan.

Melalui persamaan determinasi sebagai berikut.

D = r2 x 100%

1.6.1 Pengaruh Komunikasi terhadap Kinerja Karyawan

Dari perhitungan persamaan determinasi tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut :

D = r2 x 100%

= 0,777 x 100%

= 77,7%

D = 77,7%, ini menunjukan bahwa Komunikasi mempunyai pengaruh yang kuat,

yaitu 77,7%, dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan.

1.6.2 Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan

Dari perhitungan persamaan determinasi tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut :

D = r2 x 100%
= 0,683 x 100%

= 68,3%

D = 68,3%, ini menunjukan bahwa Kepemimpinan mempunyai pengaruh yang

cukup kuat, yaitu 68,3%, dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan.

1.6.3 Pengaruh Komunikasi dan Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan

Dari perhitungan persamaan determinasi tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut :

D = r2 x 100%

= 0,778 x 100%

= 77,8%

D = 77,8%, ini menunjukan bahwa komunikasi dan kepemimpinan mempunyai

pengaruh yang cukup kuat, yaitu 77,8%, dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan.

1.7 Uji F

Dengan bantuan program SPSS for windows 21,0 diperoleh f-test = 55,937 sesuai

dengan table berikut

Tabel 4.11
Hasil Analisis F-test

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 206.837 2 103.419 55.937 .000a

Residual 59.163 32 1.849

Total 266.000 34

a. Predictors: (Constant), X2, X1

b. Dependent Variable: Y

Dengan perhitungan df1 dan df2 sebagai berikut :


Df1 = k-1

= 3-1

=2

Df2 = n-2

= 35-2

= 33

Keterangan :

Df1 = derajat kebebasan penyebut

Df2 = derajat kebebasan pembilang

k = Jumlah variable

n = jumlah sampel

(Sugiyono, 2007 : 192)

Dengan level signifikan sebesar 5% dengan df = 2 dan df2 = 33, maka f-

tabel adalah 3,2317

Melihat Ftest > F tabel dan nilai signifikansinya < 0,05, maka ada pengaruh

antara bebas terhadap variabel terikat. Dengan demikian pengujian model tersebut

dikatakan baik.

Dengan melihat hasil dari analisis di atas, maka diperoleh f-test sebesar

55,937 pada daerah penolakan Ho. Dimana f-test lebih besar daripada f-tabel.

Dengan demikian Hipotesis menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif

antara komunikasi dan kepemimpinan terhadap kinerja karyawan dengan

hubungan yang kuat.


1.8 Uji t

Dalam pembahasan ini, hasil kuisioner yang telah disebarkan kepada responden

kemudian dikumpulkan, dan diadakan pengujian hipotesis dianalisis data untuk

membahas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.

Analisis t-test (uji t) adalah suatu analisis untuk menguji apakah koefisien korelasi

yang diperoleh di atas telah signifikan atau tidak. Adapun langkah langkah pengujian

tersebut adalah sebagai berikut:

a. Perumusan hipotesis

Hipotesis yang diuji adalah Pengaruh Komunikasi (X1) dan Kepemimpinan (X2)

Terhadap Kinerja Karyawan (Y) di PT. Catalist Integra Prima Sukses Cabang

Karangasem. Sesuai dengan hipotesis tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis

kerjanya sebagai berikut :

1) Ho : b = 0 artinya Komunikasi (X1) tidak berpengaruh terhadap Kinerja

Karyawan (Y) PT. Catalist Integra Prima Sukses Cabang Karangasem

Hi : b > 0 artinya Komunikasi (X1) berpengaruh terhadap Kinerja

Karyawan (Y) PT. Catalist Integra Prima Sukses Cabang Karangasem

2) Ho : b = 0 artinya Kepemimpinan (X2) tidak berpengaruh terhadap

Kinerja Karyawan (Y) PT. Catalist Integra Prima Sukses Cabang

Karangasem

Hi : b > 0 artinya Kepemimpinan (X2) berpengaruh terhadap Kinerja

Karyawan (Y) PT. Catalist Integra Prima Sukses Cabang Karangasem

b. Penentuan statistik tabel


Sesuai dengan hipotesis alternatif (Ha) yang diajukan, maka dalam pengujian ini

digunakan uji satu pihak yaitu uji pihak kanan dengan t tabel = t(,df). (tingkat

kesalahan) yang digunakan adalah 5% dan df (derajat kebebasan) adalah n k.

Perhitungan untuk derajat kebebasan (db) yaitu dapat dicari dengan rumus:

df =N-2

= 30 2

= 28

Dengan df = 73 dalam taraf signifikasi 5% maka diperoleh t tabel = 1,980.

c. Kriteria penolakan atau penerimaan hipotesis

Adapun kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis yang diajukan diatas adalah

sebagai berikut :

Ho diterima dan Hi ditolak apabila t hitung < t tabel

Ho ditolak dan Hi diterima apabila t hiutng > t tabel

1.8.1 Pengaruh Pengaruh Komunikasi (X1) Terhadap Kinerja Karyawan (Y)

Dalam analisis t-test ini bertujuan untuk mengetahui secara parsial pengaruh

Komunikasi (X1) terhadap Kinerja Karyawan (Y) sudah signifikan atau tidak.

Berdasarkan hasil perhitungan SPSS version 21.0 for windows dengan derajat

kebebasan sebesar 33, diperoleh hasil seperti tabel berikut

Tabel 4.14
Hasil t test

Unstandardized Coefficients

Model B Std. Error t Sig.

1 (Constant) -.882 1.959 -.450 .656


X1 1.118 .104 10.730 .000

a. Dependent Variable: Y

t-test = 10,730

Dengan jumlah df = 33 artinya t-tabel adalah Untuk dapat membuktikan Ho

diterima atau ditolak maka dapat digunakan kriteria uji :

Terima Ho jika t-test < 2,021 atau t-hitung < t-tabel

Ditolak Ho jika t-test > 2,021 atau t-hitung > t-tabel

Hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

Ho Ditolak

Ho Diterima

0t-tabel t-hitung
2,021 10,730

Gambar 4.3
Kurve Distribusi t

Dengan melihat hasil dari analisis di atas, maka diperoleh t-test sebesar 10,730 pada

daerah penolakan Ho. Dimana t-hitung lebih besar daripada t-tabel. Dengan demikian

Hipotesis menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara Komunikasi terhadap

Kinerja Karyawan dengan hubungan yang kuat. Berdasarkan atas keseluruhan hasil

pengujian dan uraian gambar diatas maka dapat disimpulkan bahwa Komunikasi (X1)

secara parsial berpengaruh positif terhadap Kinerja Karyawan (Y) positif dan signifikan

karena t hitung > t tabel yaitu 10,730 >2,021. Sehingga Ho ditolak dan Hi diterima.

1.8.2 Pengaruh Kepemimpinan (X2) terhadap Kinerja Karyawan(Y)


Dalam analisis t-test ini bertujuan untuk mengetahui secara parsial pengaruh

Kepemimpinan (X2) terhadap Kinerja Karyawan (Y) sudah signifikan atau tidak.

Berdasarkan hasil perhitungan SPSS version 21.0 for windows dengan derajat

kebebasan sebesar 33, diperoleh hasil seperti tabel berikut

Tabel 4.14
Hasil t test

Unstandardized Coefficients Collinearity Statistics

Model B Std. Error t Sig. Tolerance VIF

1 (Constant) -4.211 2.884 -1.460 .154

X2 1.298 .154 8.432 .000 1.000 1.000

a. Dependent Variable: Y

t-test = 8,432

Dengan jumlah df = 33 artinya t-tabel adalah Untuk dapat membuktikan Ho

diterima atau ditolak maka dapat digunakan kriteria uji :

Terima Ho jika t-test < 2,021 atau t-hitung < t-tabel

Ditolak Ho jika t-test > 2,021 atau t-hitung > t-tabel

Hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

Ho Ditolak

Ho Diterima

0t-tabel t-hitung
2,021 8,432

Gambar 4.3
Kurve Distribusi t
Dengan melihat hasil dari analisis di atas, maka diperoleh t-test sebesar 8,432 pada

daerah penolakan Ho. Dimana t-hitung lebih besar daripada t-tabel. Dengan demikian

Hipotesis menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara Kepemimpinan

terhadap Kinerja Karyawan dengan hubungan yang kuat. Berdasarkan atas keseluruhan

hasil pengujian dan uraian gambar diatas maka dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan

(X2) secara parsial berpengaruh positif terhadap Kinerja Karyawan (Y) positif dan

signifikan, karena t hitung > t tabel yaitu 8,432>2,021. Sehingga Ho ditolak dan Hi

diterima.

Dari kedua analisis t-test di atas, dapat dijelaskan bahwa komunikasi dan

kepemimpinan memiliki pengaruh yang kuat terhadap kinerja karyawan.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini yaitu :

1. Data dalam penelitian ini memenuhi syarat normal probability plot sehingga

model regresi dalam penelitian memenuhi asumsi normalitas (berditribusi

normal), tidak ada variabel yang memiliki nilai VIF lebih besar dari 10 dan

nilai tolerance yang lebih kecil dari 10%, yang berarti bahwa tidak terdapat

korelasi antar variabel bebas yang lebih besar dari 95%. Sehingga tidak

terdapat multikolinearitas antar variabel bebas dalam model regresi. Dari hasil

Grafik Scatterplot, tidak ada pola yang jelas serta titik titik menyebar di atas

dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

2. Dari hasil regresi berganda diperoleh a = -1,252, b1 = 1,058 dan b2= 0,080.

Dengan demikian persamaan regresinya adalah : Y = -1,252+ 1,058X1+

0,080X2. Persamaan regresi diatas mempunyai arti : a = -1,252, jika nilai

Komunikasi dan Kepemimpinan sebesar nol atau tidak memiliki nilai sama

sekali, maka Kinerja Karyawan (Y) akan memiliki nilai sebesar 1,252. b1 =

1,058, merupakan koefisien arah regresi linier yang positif, artinya bahwa

setiap Komunikasi (X1) sebesar satu, maka Kinerja Karyawan (Y) cenderung

bertambah sebesar 1,058 dengan asumsi Kepemimpinan (X2) dianggap

konstan. b2 = 0,080, merupakan koefisien arah regresi linier yang positif,

artinya bahwa setiap Kepemimpinan (X2) sebesar satu, maka Kinerja

135
Karyawan (Y) cenderung bertambah sebesar 0,080 dengan asumsi Komunikasi

(X1), dianggap konstan.

3. r = 0,882. Dengan panduan tabel koefisien korelasi, dapat dijelaskan bahwa

terdapat hubungan positif antara pengaruh Komunikasi (X1) dan

Kepemimpinan (X2) terhadap Kinerja Karyawan (Y) yaitu terdapat hubungan

yang tinggi atau sangat kuat, karena terletak antara 0,800 sampai dengan

1,199. Artinya semakin besar strategi pemasaran yang diberikan, maka tinggi

pula penjualannya.

4. Dari perhitungan persamaan determinasi tersebut, diperoleh D = 77,8%, ini

menunjukan bahwa komunikasi dan kepemimpinan mempunyai pengaruh

yang cukup kuat, yaitu 77,8%, dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan.

5. Dengan level signifikan sebesar 5% dengan df = 2 dan df2 = 33, maka f-tabel

adalah 3,2317. Dengan melihat hasil dari analisis di atas, maka diperoleh f-test

sebesar 55,937 pada daerah penolakan Ho. Dimana f-test lebih besar daripada

f-tabel. Dengan demikian Hipotesis menyatakan bahwa terdapat hubungan

yang positif antara komunikasi dan kepemimpinan terhadap kinerja karyawan

dengan hubungan yang kuat.

6. Pengaruh Pengaruh Komunikasi (X1) Terhadap Kinerja Karyawan (Y)

diperoleh t-test = 10,730. Dengan demikian Hipotesis menyatakan bahwa

terdapat hubungan yang positif antara Komunikasi terhadap Kinerja Karyawan

dengan hubungan yang kuat.

7. Pengaruh Kepemimpinan (X2) terhadap Kinerja Karyawan(Y) diperoleh t-test

= 8,432. Dengan demikian Hipotesis menyatakan bahwa terdapat hubungan


yang positif antara Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan dengan

hubungan yang kuat. Berdasarkan atas keseluruhan hasil pengujian dan uraian

gambar diatas maka dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan (X2) secara

parsial berpengaruh positif terhadap Kinerja Karyawan (Y) positif dan

signifikan, karena t hitung > t tabel yaitu 8,432>2,021. Sehingga Ho

ditolak dan Hi diterima.

8. Dari kedua analisis t-test di atas, dapat dijelaskan bahwa komunikasi dan

kepemimpinan memiliki pengaruh yang kuat terhadap kinerja karyawan.

B. Saran

Dalam kesempatan ini disarankan kepada pihak perusahaan hendaknya tetap

memperhatikan komunikasi dan bagaimana pola kepemimpinan untuk meningkatkan kinerja

karyawan. Mengingat pentingnya fungsi kinerja karyawan dalam upaya meningkatkan

kinerja perusahaan dalam menambah membangun perusahaan.