You are on page 1of 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tahu merupakan salah satu makanan sehat karena kandungan

proteinnya yang tinggi dan mutunya setara dengan mutu protein

hewani. Tahu juga mengandung zat gizi yang penting lainnya, seperti

lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi, harganya

juga murah sehingga relatif lebih terjangkau. Dari penelitian, diperoleh

data bahwa 10% penduduk Indonesia mengkonsumsi tahu sebanyak

100 gram perhari. Berarti sekitar 2 juta kilogram tahu dibutuhkan

setiap harinya. Tahu sebagai bahan makanan yang murah dan praktis

memiliki keunggulan sebagai bahan makanan yang bagus untuk

peningkatan kesehatan intelektual (geist), akal (verstand), semangat

dan sikap (gessinung). Tahu juga mempunyai khasiat sebagai anti

stress menurunkan nervositas dan mengurangi depresi (Karyasa,

2000).
Kadar air yang tinggi dalam tahu dapat membuat tahu mudah

rusak karena mudah di tumbuhi mikroba. Oleh karena itu, tahu banyak

beredar di pasaran adalah tahu yang telah ditambahkan dengan

pengawet dan pewarna. Pengawet dan pewarna yang digunakan

kebanyakan merupakan bahan berbahaya bagi kesehatan dan

penggunaannya sudah dilarang oleh Departemen Kesehatan. Hanya

karena tidak mau merugi dan ingin memperoleh keuntungan sebanyak

mungkin. Para pengusaha tidak peduli pada akibat dari penggunaan

1
pengawet dan pewarna berbahaya yang sebenarnya bukan untuk

makanan. Penambahan formalin biasanya dilakukan saat tahu siap

jual dengan cara merendam tahu dengan air yang sudah mengandung

formalin (Republika, 2005).


Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air

dengan kadar 30 - 40 persen. Formalin merupakan bahan beracun

dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Formalin sudah umum

digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sektor industri formalin

sangat banyak manfaatnya seperti anti bakteri atau pembunuh kuman.

Berdasarkan manfaat tersebut ternyata disalahgunakan untuk

pengawetan industri makanan. Hal ini sering ditemukan di industri

makanan, industri rumah tangga, karena tidak terdaftar dan tidak

terpantau oleh Departemen Kesehatan (Depkes) dan Balai Besar

Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) setempat. Bahan makanan

yang diawetkan dengan formalin biasanya adalah mi basah, bakso,

tahu, ikan asin, dan beberapa makanan lainnya. (Widodo, 2007).


Meningkatnya pemakaian formalin sebagai bahan pengawet

beberapa olahan produk bahan pangan dipicu oleh selera pasar dan

kebutuhan pasar. Formalin digunakan agar tahu dapat bertahan lama

dan tidak cepat bau, tidak mudah hancur dan kenyal sehingga lebih

menarik konsumen. Produsen tahu yang tidak menggunakan formalin

biasanya sulit menembus supermarket yang biasa mensyaratkan tahu

harus dapat tahan selama 4 hari. Selain itu penurunan daya beli

2
masyarakat mendorong produsen untuk menggunakan pengawet

yang lebih banyak namun tetap murah.


Berbagai hasil survey dan penelitian di Indonesia

memperlihatkan bahwa banyak produsen atau pedagang makanan

yang menggunakan formalin untuk mengawetkan bahan makanan.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88

tentang bahan tambahan makanan.(Alsuhendra,Ridawati, 2013)


Formalin pada dosis rendah dapat menyebabkan sakit perut

akut disertai muntahmuntah, timbulnya depresi susunan syaraf, serta

kegagalan peredaran darah. Pada dosis tinggi, formalin menyebabkan

kejangkejang, kencing darah, tidak bisa kencing serta muntah darah,

dan akhirnya menyebabkan kematian.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya

sebagai berikut : Apakah tahu yang beredar di beberapa pasar di

Makassar mengandung formalin ?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui adanya pemakaian formalin pada tahu yang

beredar dibeberapa pasar tradisional di Makassar

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan

dan merupakan salah satu bahan referensi bagi peneliti berikutnya.


2. Manfaat praktisi
Sebagai media pembelajaran dan menambah pengetahuan dalam

mengaplikasikan ilmu khususnya dibidang kimia.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Tahu
1. Defenisi

4
Tahu adalah makanan hasil olahan kacang kedelai yang

berasal dari China dan dikenal sebagai keju asia, tahu memiliki

rasa yang gurih dan lezat, selain itu tahu juga memiliki manfaat

bagi kesehatan. Pada tahu terdapat berbagai macam kandungan

gizi seperti protein. Dimana, kualitas protein tahu hampir sama

dengan daging dan susu. Tidak seperti banyak sumber protein

lainnya tahu memiliki kandungan lemak jenuh rendah

dan bebas kolestrol. Tiap 100 gram tahu dapat mengandung

sekitar 6-10 gram kandungan protein yang memenuhi 18 %

kebutuhan tubuh akan protein (www.wordpress/2013).


Tahu juga mengandung lemak tak jenuh, karbohidrat, kalori,

mineral, fosfor, vitamin B komplex seperti thiamin, riboflavin,

vitamin E, vitamin B12, kalium dan kalsium yang bermanfaat

mendukung terbentuknya kerangka tulang dan yang paling

penting dengan kandungan sekitar 80 % asam lemak tak jenuh

tahu tidak banyak mengandung kolestrol sehingga sangat aman

bagi kesehatan jantung. Bahkan kandungan hidrat arang dan

kalorinya yang rendah, tahu merupakan salah satu menu diet

rendah kalori.
Selain memiliki kelebihan, tahu juga mempunyai kelemahan,

yaitu kandungan airnya yang tinggi sehingga mudah rusak karena

mudah ditumbuhi mikroba. Untuk memperpanjang masa simpan,

kebanyakan industri tahu yang ada di Indonesia menambahkan

pengawet. Bahan pengawet yang ditambahkan tidak terbatas

5
pada pengawet yang diizinkan, tetapi banyak pengusaha yang

nakal dengan menambahkan formalin. Selain itu, banyak juga

menambahkan pewarna methanyl yellow.


Tahu yang mengandung formalin dapat ditandai dengan :
1. Semakin tinggi kandungan formalin, maka tercium bau obat

yang semakin menyengat, sedangkan tahu tak berformalin

akan tercium bau protein kedelai yang khas.


2. Tahu yang berformalin mempunyai sifat kenyal jika ditekan

terasa kenyal, sedangkan yang tak berformalin jika ditekan

akan hancur.
3. Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan yang tak

berformalin paling hanya tahan 1 2 hari.


2. Nilai Gizi Tahu
Sebagai bahan makanan, kedelai sangat berkhasiat bagi

pertumbuhan dan menjaga kondisi sel sel tubuh. Kedelai banyak

mengandung unsur dan zat makanan penting seperti terlihat pada

tabel berikut :

Tabel 2.1 Kandungan zat-zat makanan pada kedelai

Unsur zat-zat makanan Kedelai (%)


Air 13,75
Protein 41,00
Lemak 15,80
Karbohidrat 14,85
Mineral 5,,25
Sumber : Sarwono, 2003

Mutu protein pada tahu setara dengan hewan, protein tahu

lebih tinggi jika dibandingkan dengan protein pada kedelai,

perbandingan protein dan zat gizi lainnya dapat dilihat pada tabel

2.2 berikut ini :

6
Tabel 2.2 Nilai gizi tahu dan kedelai (berdasarkan berat kering)

Zat Gizi Satuan Tahu Kedelai


Protein Gram 0,49 0,39
Lemak Gram 0,27 0,20
Karbohidrat Gram 0,14 0,36
Serat Gram 0,00 0,05
Abu Gram 0,04 0,06
Kalsium Mg 9,13 2,53
Natrium Mg 0,38 0,00
Fosfor Mg 6,56 6,51
Besi Mg 0,11 0,09
Vitamin B1 Mg 0,001 0,01 (B Komp)
Vitamin B2 Mg 0,001
Vitamin B3 Mg 0,003
Sumber : Sarwono, 2003

3. Mengetahui Kualitas Tahu


Tahu yang bermutu baik harus memenuhi standar kualitas

yang memadai. Standar kualitas tahu meliputi, kandungan protein,

bebas dari logam berbahaya, serat kadar abu, kadar air, bakteri

coli, serta menggunakan zat pewarna dan bahan pengawet yang

dianjurkan SK Menteri K3 (Salimin, SE, 2007).


a. Protein
Komponen penting tahu adalah kandungan proteinnya.

dalam standar mutu ditetapkan kandungan protein sebesar

9 % minimal dari berat tahu.


b. Logam Berbahaya
Kandungan logam berbahaya seperti, As, Pb, Mg, Zn dapat

berasal dari kualitas air yang rendah atau dari peralatan alat

penggilingnya.
c. Serat Kasar

7
Serat kasar terbentuk dari ampas kedelai dan bahan

pewarna kunyit. Kadar yang diperbolehkan 0,1% dari berat

tahu.
d. Abu
Unsur mineral abu terdapat dalam kedelai. Jika terlalu tinggi

ada kemungkinan kedelai tercemar oleh kotoran seperti

tanah, pasir atau kotoran lain. Kemungkinan ada kesalahan

dalam penggunaan batu tahu. Kadar abu yang

diperbolehkan adalah 1% dari berat tahu.


e. Kadar Air
Tahu sebagi ekstrak kedelai dalam keadaan basah, maka

komponen yang paling banyak adalah kandungan protein

dan air. Tetapi kadar air tidak sebagai penentu kualitas

produk.
f. Bakteri Coli
Jika menggunakan air dibawah standar, kemungkinan tahu

yang dihasilkan mengandung bakteri coli.


g. Jamur dan Lendir
Adanya jamur dan lendir pada tahu pertanda adanya

kerusakan atau pembusukan.


h. Zat Pewarna
Bahan pewarna yang diperbolehkan tentu bahan pewarna

untuk makanan yang berasal dari alam, seperti kunyit. Dapat

juga menggunakan pewarna diproduksi secara bebas untuk

makanan yang aman.


i. Bau dan Rasa
Jika bau dan rasa tahu berbeda dari sewajarnya, itu

menandakan telah terjadi kerusakan atau pencemaran oleh

bahan lain.

8
j. Bahan Pengawet
Ada beberapa bahan pengawet yang dianjurkan dan

diperbolehkan sebagai berikut : Asam propionate maksimal

0,3%, Nipagin maksimal 0,08 %, Natrium (Sodium) benzoate

maksimal 0,1 %.
4. Beberapa Hal yang Menentukan Mutu Tahu
Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan kualitas

produk tahu yang menghasilkan yaitu tingkat kepadatan, adanya

bau asam, penampilan dan cita rasa.


a. Tingkat Kepadatan
Tahu yang padat seperti tahu kediri membutuhkan lebih

banyak bahan bubur kedelai dari pada tahu gembur, tahu

yang padat lebih tahan lama.


b. Adanya Bau Asam
Bau asam terjadi pada tahu gembur atau kurang padat.
c. Penampilan
Penampilan tahu yang menarik menyangkut keseragaman

bentuk dan ukuran serta warnanya. Pada umumnya warna

tahu adalah putih, tetapi juga ada yang berwarna kuning.

Sedangkan untuk memperoleh bentuk dan ukuran yang sama

dapat dilakukan dengan percetakan atau pemotongan yang

rapi. Untuk memperoleh penampilan dapat dilakukan dengan

cara pengemasan yang baik.


d. Cita Rasa Tahu
Menyangkut cita rasa menjadi daya tarik tersendiri.

Pemakaian penyedap rasa dapat meningkatkan cita rasa

tahu. Untuk bumbu dapat dipakai garam dan rasa buatan

(flavour buatan), misalnya rasa ayam atau daging sapi.

9
Flavour buatan dicampur pada bakal tahu untuk mendapatkan

cita rasa yang diinginkan.


5. Pendukung Daya Tahan Tahu

Untuk memperoleh tahu yang berdaya tahan lama, ada

beberapa cara yang dapat digunakan sebagai berikut :

1. Menggunakan bahan pengawet


a. Natrium Benzoat
Bahan ini dapat dicampurkan pada bahan dasar tahu

sebelum dicetak atau pada larutan penawar.


b. Garam
Dilarutkan pada bakal tahu sebelum dicetak atau larutan

pada pewarna dengan dosis 2,5% - 5%.


c. Kunyit
Disamping sebagai pewarna, kunyit juga dipakai sebagai

bahan pengawet alami.


2. Cara pengawetan yang lain
Cara pengawetan yang lain yang biasa digunakan

adalah tahu dikemas dalam kantong plastik dan pasteurisasi.

Pasteurisasi adalah sterilisasi kuman melalui pemanasan

pada suhu 80C selama 30 menit dengan tujuan membunuh

bakteri pathogen, sehingga tahu dapat bertahan lebih lama.


B. Proses Pembuatan Tahu
Produk tahu berasal dari sari kedelai yang disampaikan

kemudian disaring dan dipadatkan. Secara umum, proses

pembuatan tahu terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap

produksi, dan tahap akhir. (Sadimin, SE,2007)


1. Tahap Persiapan
Kegiatan pokok pada tahap persiapan meliputi persiapan bahan

baku dan bahan penggumpal.


a) Persiapan Bahan Baku

10
Bahan baku yang digunakan untuk proses pembuatan tahu

sebagai berikut :
- Kedelai 100 kg
- Air untuk proses 4.000 Lt
- Larutan biang 350 Lt
Pembersihan Kedelai
Biji - biji kedelai dari gudang biasanya tercampur

berbagai kotoran, misalnya kerikil, butiran tanah, kulit,

ataupun batang kedelai. Agar tidak ikut tergiling, kotoran

tersebut harus disisihkan (dibersihkan), kotoran yang

kering dan ringan (kulit dan batang-batang kedelai) dapat

dipisahkan dengan cara ditampi. Sementara,

pembersihan kotoran yang berat, misalnya kerikil dan

butiran tanah, harus dilakukan secara manual dengan

tangan.

b). Perendaman

Kedelai yang sudah dibersihkan dimasukkan pada

baskom plastik atau tong yang diisi air bersih dengan

perbandingan 1:2 perendaman sekitar 3-5 jam.

Kemudian kedelai dibersihkan dari kotoran yang tersisa,

lalu dibilas dengan air bersih dan tiriskan. Pelunakan biji

kedelai dengan cara lain yaitu dengan merendam kedelai

kering pecah-pecah dalam larutan pelunak yang masih

panas selama 6-24 jam atau sampai kedelai cukup

lunak. Apabila diperlukan, kedelai dapat dimasukkan

11
pada saat larutan pelunak masih mendidih dan dibiarkan

beberapa saat hingga mendidih kembali.


c). Pencucian - Penirisan
Setelah kedelai mengembang dan cukup lunak,segera

diangkat dari dalam larutan pelunak,dicuci, serta dibilas

beberapa kali agar benar-benar bersih. Soda kue yang

masih tersisa akan dapat menyebabkan rasa pahit, maka

kedelai tersebut harus ditiriskan. Kedelai tanpa kulit yang

telah lunak akan menghasilkan tahu yang kenyal dan

dalam jumlah yang maksimal dengan limbah berupa

ampas yang minimal. Bahkan, dimungkinkan tanpa

menyisakan ampas sama sekali


d) Persiapan bahan menggumpal
Proses pembuatan tahu memerlukan bahan

penggumpal untuk menggumpalkan protein yang masih

tercampur didalam sari kedelai. Dengan demikian, akan

diperoleh bubur tahu yang dapat dicetak. Bahan penggumpal

dapat berupa asam cuka encer, batu tahu (sioh koo) atau

kalsium sulfat, ataupun cairan sisa (whey) untuk memilih

bahan penggumpal yang tepat, perlu mengetahui terlebih

dahulu mengenai daya gunanya, kemudahan penyediaan

dan penggunaannya, serta keuntungan dari sisi ekonominya.


Bahan menggumpal yang dipakai adalah asam cuka

pekat atau asam cuka keras. Asam cuka ini perlu diencerkan

terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan agar

penggumpalan berjalan lancar dan merata.

12
Sebenarnya, asam cuka pekat juga dapat digunakan

untuk menggumpalkan protein namun digunakan dalam

volume yang sangat kecil yaitu hanya 0,5 ml untuk 1 liter sari

kedelai. Mengingat volume yang sangat kecil

tersebut,dikhawatirkan akan terjadi penggumpalan pada saat

pencampuran belum merata, sehingga sisa asam cuka

terperangkap dalam gumpalan protein (tahu).


Berikut ini beberapa cara pembuatan bahan penggumpal.
a. Asam cuka
1. Ambil asam cuka 200 ml, tuang dalam gelas atau

baskom plastik.
2. Tuang air bersih 500 ml sedikit demi sedikit, sambil

diaduk hingga rata. Bahan penggumpal ini siap

digunakan.
3. Gunakan bahan penggumpal dari cuka ini dengan

takaran per 3 ml untuk 1 liter sari kedelai.


b. Batu tahu
1. Batu tahu yang menyerupai pecahan kaca lalu

dibakar, kemudian ditumbuk hingga halus

(menyerupai serbuk gips)


2. Ambil wadah plastik, serbuk gips dilarutkan dengan air

bersih tunggu hingga warna air menjadi putih susu.


3. Endapkan sebentar, ambil bagian atas permukaan air.

Cairan ini digunakan untuk bahan penggumpal sari

kedelai.

13
c. Cairan Biang (Whey)
Air sisa penggumpalan yang telah diendapkan

semalam, besoknya baru dapat digunakan untuk bahan

penggumpal.
Dari ketiga cara ini pilihan banyak yang menggunakan air

biang (whey) karena tidak rumit dan sudah tersedia.


2. Tahap Produksi
Urutan proses pengolahan kedelai menjadi produk tahu

sebagai berikut :
a. Kedelai lunak siap pakai
Kedelai yang telah diproses pada tahap persiapan

telah menjadi kedelai lunak siap giling. Dalam pembuatan

tahu ada yang melakukan pemrosesan kedelai secara

langsung tanpa mengalami tahap persiapan terlebih dahulu.

Kedelai hanya direndam beberapa saat dan kemudian

langsung digiling. Tetapi cara ini kurang menguntungkan,

sebab ampas yang diperoleh akan relatif lebih banyak

dibandingkan dengan sarinya. Hasil tahu menjadi lebih

sedikit.
b. Pembuatan bubur kedelai
Untuk mendapatkan sari kedelai, kedelai lunak harus

dilumatkan terlebih dahulu melalui proses penggilingan.

Proses pembuatan bubur kedelai sebagai berikut :


1. Penggilingan
Kedelai dapat digiling dengan menggunakan

mesin penggilingan atau dengan gilingan batu. Selama

proses penggilingan berlangsung harus selalu dikucuri

air panas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam

14
pembuatan bubur kedelai yaitu penggilingan kedelai

dilakukan setelah proses pengupasan kulit kedelai.

Dengan demikian penggilingan dapat dilakukan dengan

lebih mudah dan hasil yang diperoleh lebih halus/lembut,

serta rendemen lebih tinggi. Di saat penggilingan

berlangsung perlu ditambah air panas pada bubur sari

kedelai hingga kekentalan tertentu.


2. Pengukuran volume bubur kedelai
Hasil penggilingan berupa bubur kedelai

ditampung, kemudian diukur volumenya dengan

menggunakan alat ukur pengganti, misalnya bak plastik.


3. Pengenceran.
Pengenceran bubur kedelai dilakukan dengan air

bersih. Volume air bersih yang ditambahkan sama

dengan volume bubur kedelai yang akan diencerkan.

Pengadukan perlu dilakukan agar pencampuran terjadi

secara merata.
c. Perebusan bubur kedelai
Perebusan bubur kedelai memerlukan api besar

sehingga digunakan kompor brander. Dalam perebusan ini,

dilakukan proses pendidihan sebanyak dua kali.


Pada saat terbentuk busa pada permukaan bubur

kedelai (pendidihan pertama), segera disiramkan air bersih

dingin secukupnya secara merata di seluruh permukaan.

Dengan demikian, busa tersebut tidak akan meluap keluar

namun akan turun kembali, sementara api tetap menyala

besar. Pada saat timbul busa lagi untuk yang kedua kalinya

15
( pendidihan kedua), berarti perebusan bubur kedelai sudah

di anggap cukup. Api dapat dimatikan.


d. Penyaringan
Bubur kedelai dalam kondidi panas segera disaring

dengan saringan gantung yang terbuat dari kain. Cairan sari

kedelai hasil penyaringan akan tertampung dalam bak

penggumpalan. Ampas diperoleh setelah dibilas dan diperas

kuat kuat (saringan dipuntir).


Ampas tersebut masih mengandung 10% - 17%

protein, sehingga sayang apabila tidak dimanfaatkan. Ampas

yang dihasilkan dikumpulkan menjadi satu dan masih dapat

dimanfaatkan untuk membuat tempe (gembus dan enjes),

oncom, makanan ternak, tepung bubur kedelai (subsitusi

terigu kurang lebih 20%).


e. Penggumpalan protein sari kedelai
Cairan sari kedelai yang masih panas (kurang lebih

70oC) dicampur pelanpelan dan sedikit demi sedikit dengan

bahan penggumpal yang sudah disiapkan sebelumnya.

Bahan penggumpal mulamula ditempatkan dalam sendok

besar yang digerakkan ke seluruh bagian permukaan sari

kedelai dengan posisi agak miring, sehingga akan tumpah

sedikit demi sedikit.


Cairan sari kedelai yang semula berwarna putih susu

akan pecah dan di dalamnya terbentuk butiranbutiran

protein yang akhirnya akan bergabung membentuk

gumpalan dan mengendap ke dasar bak inilah yang

16
merupakan bakal tahu. Setelah itu, cairan akan menjadi

bening. Jika keadaan sudah demikian, berarti seluruh protein

sudah menggumpal dan mengendap. Secepatnya cairan

bening dipindahkan ke tempat penyimpanan cairan bekas.

Agar bubur tahu tidak terbawa serta, perlu diletakkan alat

dari anyaman bambu atau kain saring untuk membatasinya,

sehingga seluruh cairannya dapat dipindahkan dengan

aman.

f. Pencampuran Bahan Tambahan


Bahan tambahan yang akan dicampurkan garam,

pengawet, dan flavour sintetis segera dituangkan sedikit

demi sedikit kedalam bubur kedelai sambil diaduk agar

tercampur rata. Kegiatan pencampuran bahan tambahan ini

harus dilakukan secara cepat sebelum suhu bubur kedelai

mengalami penurunan. Suhu bubur kedelai harus

dipertahankan tetap berada di atas 600C agar bubur tetap

dapat dicetak dengan mudah.


g. Pencetakan Tahu
Dalam keadaan panas, pencetakan bubur harus

segera dilakukan. Pencetakan tersebut dilakukan dengan

proses sebagai berikut :


1. Cetakan disiapkan.
2. Kain saring diletakkan di atas cetakan secara merata

hingga seluruh permukaan cetakan tertutup kain sarung.


3. Bubur tahu dalam keadaan panas dituangkan hingga

penuh ke atas cetakan yang telah dilapisi kain saring.

17
4. Setelah penuh, sisa kain saring ditangkupkan hingga

menutup permukaan bubur tahu dalam cetakan.

Kemudian ditutup atasnya dengan kayu.


5. Alat kempa (pemberat) diletakkan di atas kayu cetakan

tahu dalam cetakan agar sebagian dari cairan tahu

terperas keluar dan tahu yang dihasilkan cukup keras.


6. Biarkan bubur tahu berada dalam cetakan selama 10

15 menit atau sampai cukup keras dan tidak hancur

apabila diangkat (biasanya pemberat yang diletakkan di

atasnya disesuaikan dengan ukuran/kekerasan tahu

yang didinginkan).
7. Selanjutnya, pemberat diambil dan kain saring dibuka,

tahu segera dipotongpotong sesuai ukuran yang

dikehendaki (jika cetakannya berupa lempengan).

Potonganpotongan tahu ditempatkan dalam bak yang

terbuat dari logam tahan karat untuk selanjutnya

dipasarkan/didistribusikan. Dengan demikian, proses

pembuatan tahu telah selesai dan dapat diteruskan ke

tahap pengemasan.
3. Tahap Pengemasan dan Pemasaran
Tahu putih mentah yang berada dalam bak atau tong

dapat dikemas dalam kantong plastik. Setiap kantong berisi 10

potong tahu putih. Sebagian dari tahu putih ada yang digoreng

menjadi tahu cokelat atau tahu pong.


Para bakul atau pembeli ada juga yang memesan per

tong untuk digoreng dan dijual lagi. Pemasaran dapat dilakukan

18
di restoran atau supermarket dengan kemasan khusus yang

lebih baik. Kemasan yang bagus menjadikan tahu lebih menarik

dan dapat meningkatkan penjualan tahu.


C. Tinjauan Umum tentang Formalin
1. Defenisi
Larutan formaldehid atau larutan formalin mempunyai nama

dagang formalin, formol, atau mikrobisida dengan rumus molekul

CH20 mengandung kirakira 37% gas formaldehid dalam air.

Biasanya ditambahkan 10--15 % metanol untuk menghindari

polimerase. Larutan ini sangat kuat dan dikenal dengan formalin

100% atau formalin 40%, yang mengandung 40 gram formaldehid

dalam pelarut 100ml .(Cahyadi, 2009)


Senyawa ini di pasaran dikenal dengan nama formalin.

Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10

40 % dari formaldehid. Penggunaan yang sebenarnya bukan

untuk makanan, melainkan sebagai antiseptik, germisida, dan

pengawet non makanan. Formalin mempunyai banyak nama kimia

yang biasa kita dengar dimasyarakat, diantaranya formol,

methylene aldehyde, paraforin, morbicid, oxomethane, poly-

oxymethylene, glcols, methanol, formoform, superlysoform, formic

aldehyde, formalith, tetraoxymethylene, methyloxide, karsan,

triaxone, oxymethylen, dan methylene glycol (Handayani, 2009).

Di pasaran formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah

diencerkan, dengan kandungan formaldehid 1040 persen.


Menurut Reynolds formaldehid adalah gas dengan titik didih

210C sehingga tidak dapat disimpan dalam keadaan cair ataupun

19
gas. Dalam perdagangan dijumpai formalin, yaitu larutan

formaldehid yang mengandung 3438 % b/b CH 20 dengan metal

alkohol sebagai stabilisator untuk memperlambat polmerase

formaldehid menjadi paraformaldehid yang padat.


Formalin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna atau

hampir tidak berwarna dengan bau yang menusuk, uapnya

merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan, dan rasa

membakar. Bobot tiap mililiter adalah 1.08 gram. Dapat bercampur

dalam air dan alkohol, tetapi tidak bercampur dalam kloroform dan

eter. Sifatnya yang mudah larut dalam air dikarenakan adanya

elektron sunyi pada oksiden sehingga dapat mengadakan ikatan

hidrogen molekul air (Fessenden dalam Cahyadi, 2009).


Formaldehid murni tidaklah tersedia secara komersil, tetapi

dijual dalam 30 50 % (b/b) larutan mengandung air. Formalin

(37% CH2O) adalah larutan yang paling umum pada umumnya,

methanol atau unsur unsur lain ditambahkan ke dalam larutan

sebagai alat penstabil untuk mengurangi polimerase formaldehid,

dalam bentuk padat, formaldehid dijual sebagai trioxine {(CH 2O)3}

dan polimernya paraformaldehid, dengan 8 100 unit

formaldehid.
Larutan formaldehid adalah desinfektan yang efektif

melawan bakteri vegetatif, jamur, atau virus, tetapi kurang efektif

melawan spora bakteri. Formaldehid bereaksi dengan protein, dan

hal tersebut mengurangi aktivitas mikroorganisme. Efek

sporosidnya yang meningkat tajam dengan adanya kenaikan

20
suhu. Larutan formaldehid 0.5% dalam waktu 6 12 jam dapat

membunuh bakteri dan dalam waktu 2 4 hari dapat membunuh

spora (Cahyadi, 2009).


Berdasarkan sumbernya, formaldehid untuk pengawet

berasal dari hasil sintesis secara kimia. Formaldehid adalah gas

yang biasanya tersedia dalam bentuk larutan 40% (formalin).

Merupakan cairan jernih, tidak berwarna dengan bau menusuk.

Uapnya merangsang/bereaksi cepat dengan selaput lendir hidung,

tenggorokan, dan saluran pencernaan. Selain itu, dapat

menyebabkan iritasi mata. Jika disimpan formaldehid akan

dimetabolisme menjadi asam formiat dan methanol. Asam formiat

kemudian dikonveni menjadi metilformat. Pada suhu yang sangat

rendah akan terbentuk trioksimetilin. Titik didih formaldehid pada 1

atm adalah 950C, PH 2,8 4,0 dan dapat bercampur dengan air,

aseton, dan alkohol.

2. Struktur Molekul Formaldehid (Formalin)


Formaldehid sebagai bahan utama dari formalin merupakan

bentuk senyawa aldehid yang paling sederhana. Formaldehid

memiliki rumus molekul H2CO atau HCOH dan berat molekul

sebesar 30.03.
O

H C H

Gambar 2.1 Struktur molekul formaldehid.


(Sumber : Cahyadi, 2009)

21
3. Sifat - sifat dari Formalin
Beberapa sifat dari formalin adalah :
a. Formalin adalah gas dengan titik didih 21 0C sehingga tidak

dapat disimpan dalam keadaan cair ataupun gas.


b. Formalin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna denagn

bau yang menusuk, uapnya merangsang selaput lendir hidung

dan tenggorokan, dan rasa membakar.


c. Dapat bercampur dalam air dan alkohol tetapi tidak dapat

bercampur dalam kloroform dan eter, dikarenakan adanya

elektron sunyi pada oksigen sehingga dapat mengadakan

ikatan hidrogen molekul.


d. metanal dapat berpolimerase dengan bantuan asam sulfat

membentuk paraformaldehid (Dep Kes, 1989).


e. Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak

berwarna, dengan bau tajam menyesakkan, sehingga

merangsang hidung, tenggorokan, dan mata.


f. Formalin bisa dihasilkan dari membakar bahan yang

mengandung karbon. Dikandung dalam asap dari kebakaran

hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau.


g. Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi

cahaya matahari dan oksigen terhadap metana

dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehide

dalam kadar kecil juga dihasilkan sebagai

metabolit kebanyakan organime termasuk manusia

(www.google.co.id/wikipedia/formaldehid)
4. Penggunaan Formalin yang Sebenarnya
Formalin merupakan senyawa kimia yang memiliki aktivitas

antimikroba karena dapat membunuh bakteri, bahkan juga virus.

22
Oleh sebab itu, formalin digunakan sebagai pengawet berbagai

produk, terutama untuk mengawetkan produk non pangan.karena

kemampuannya menghambat pertumbuhan mikroba, maka

formalin juga dapat digunakan sebagai desinfektan yang efektif

melawan bakteri vegetatif, jamur, atau virus. Meskipun kurang

efektif melawan spora bakteri. Formaldehid yang ada dalam

formalin bereaksi dengan protein sehingga mengurangi aktivitas

mikroba (Alsuhendra, Ridawati, 2013).


Kegunaan umum formalin adalah sebagai berikut :
a. Pembasmi atau pembunuh kuman sehingga dapat

dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan

pakaian.
b. Dalam bentuk gas, formalin sering digunakan pedagang tekstil

untuk mencegah tumbuhnya jamur dan rengat.


c. Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain.
d. Bahan pembuatan zat pewarna, kaca, dan bahan peledak.
e. Untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas.
f. Bahan pembuatan pupuk.
g. Bahan pengawet produk kosmetik.
h. Pencegah korosi untuk sumur minyak.
i. Bahan untuk insulasi busa bahan perekat untuk produk kayu

lapis.
j. Dalam konsentrasi yang sangat kecil ( < 1 % ) digunakan

sebagai desinfektan untuk rumah, perahu, gudang, kain,

pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampo, lilin, dan

karpet (Yankes, 2006.www.yahoo.co.id).


k. Sebagai antiseptik untuk mensterilkan peralatan kedokteran.
l. Sebagai germisida dan fungisida pada tanaman dan sayuran.
m. Mengawetkan spesimen biologi, termasuk mayat dan kulit.

23
Di dunia kedokteran, formalin digunakan dalam pengawetan

mayat yang akan dipelajari dalam pendidikan mahasiswa

kedokteran maupun kedokteran hewan. Untuk pengawetan,

biasanya digunakan formalin dengan konsentrasi 10%

(Yuliarti, 2007).

5. Penyalahgunaan Formalin pada Makanan.


Penggunaan formalin dalam makanan bertujuan untuk

memperpanjang umur simpan makanan tersebut. Dengan kata

lain, makanan menjadi lebih awet jika diberi formalin sebab

formalin akan membunuh bakteri yang akan merusak makanan.

Menurut WHO (2002), larutan formaldehid 0,5% dalam waktu 6

12 jam dapat membunuh bakteri dan dalam waktu 2-4 hari dapat

membunuh spora. Sementara itu, larutan formaldehid 8% dapat

membunuh spora dalam waktu 18 jam (Alsuhendra, Ridawati,

2013).
Ada beberapa alasan masih digunakannya formalin sebagai

bahan tambahan untuk makanan oleh produsen atau pedagang

makanan, alasan tersebut adalah sebagai berikut :


a. Harga formalin lebih murah dibandingkan dengan pengawet

lain.
b. Jumlah formalin yang digunakan lebih sedikit dibandingkan

dengan pengawet lainnya.


c. Formalin mudah digunakan karena bentuknya larutan.
d. Waktu yang diperlukan untuk proses pengawetan relatif

singkat.
e. Formalin mudah didapatkan dalam jumlah besar.

24
f. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang

bahaya formalin.
6. Bahaya Formalin Terhadap Kesehatan.
Formalin bukanlah bahan tambahan makanan karena

penggunaannya untuk makanan telah dilarang oleh pemerintah

melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

722/Men.Kes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan

karena berbahaya bagi kesehatan. Namun karena berbagai

alasan, formalin ditambahkan oleh produsen atau pedagang yang

tidak bertanggung jawab kedalam bahan makanan sebagai zat

pengawet. Akibatnya, konsumen yang tidak mengetahui adanya

formalin di dalam makanan tersebut akan menjadi korban

keracunan makanan.
Efek negatif dari mengkonsumsi makanan mengandung

formalin dalam jumlah kecil memang tidak dirasakan langsung,

tetapi efek tersebut akan dirasakan setelah beberapa tahun atau

puluhan tahun yang akan datang. Apabila kandungan formalin

dalam tubuh tinggi setelah terakumulasi, maka formalin akan

bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat yang ada di

dalam sel. Hal ini karena sifat sebagai oksidator terhadap sel

(Alsuhendra dan Ridawati, 2013). Selain itu, kandungan formalin

yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi,

bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker ) dan bersifat

mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan), serta

orang yang mengkonsumsinya akan muntah, diare bercampur

25
darah. Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak

berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan sehingga

merangsang hidung, tenggorokan, dan mata (Cahyadi,2009).


Gejala gejala yang ditunjukkan akibat masuknya formalin

melalui berbagai cara tersebut dijelaskan di bawah ini :


a. Masuk melalui pernapasan
Adanya rasa terbakar dan iritasi pada hidung dan

tenggorokan, gangguan bernapas, batuk batuk, napas

pendek, sakit dada yang berlebihan, lelah, sakit kepala,

jantung berdebar, mual, muntah, luka pada ginjal, gangguan

tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan

konsentrasi dan daya ingat, gangguan haid, radang paru

paru, pembengkakan pada paru paru, dan kanker paru

paru.
b. Kontak melalui kulit.
Warna kulit menjadi kemerahan, rasa gatal, kulit mengeras,

mati rasa, rasa terbakar, kerusakan pada jari tangan, dan

radang kulit yang menimbulkan gelembung.

c. Kontak melalui mata.


Iritasi mata, mata kemerahan, gatal mata berair, pandangan

kabur, kerusakan pada lensa, radang selaput mata, dan

kebutaan.
d. Masuk melalui saluran pernafasan
Mual, muntah, tenggorokan dan perut rasa terbakar, sakit

ketika menelan, diare, sakit perut, hipotensi, sakit kepala,

pusing, gangguan jantung, kulit membiru, hilangnya

pandangan, kejang, koma, dan kematian.

26
Formalin yang masuk dalam jumlah sedikit kedalam tubuh

akan larut dalam air dan dibuang ke luar bersama cairan tubuh.

Karena itu, keberadaan formalin sulit di deteksi didalam darah.

Batas toleransi formalin yang dapat diterima oleh tubuh orang

dewasa dalam satu hari adalah 1,5 14 mg. Nilai tersebut

didasarkan pada kemampuan hampir semua jaringan tubuh untuk

mengubah formalin menjadi asam format yang kemudian dapat

dikeluarkan oleh tubuh melalui urine dan gas CO 2. Jika formalin

yang masuk kedalam tubuh secara oral berkisar antara 0,5

5g/kg berat badan, maka hal tersebut merupakan dosis letal

formalin secara oral.


7. Uji Kualitatif dengan Fenilhidrazin
Uji ini didasarkan pada reaksi pembentukan Osazon. Aldehid atau

keton dengan fenilhidrazin dan difenil akan membentuk

fenilhidrazin atau osazon. Senyawa ini terjadi karena gugus aldehid

atau keton berikatan dengan fenilhidrazin (Fassenden, 1997).


Reaksi :

O H
H+
NH NH2 + HC H2C = N - N + H2 O

Fenilhidrazine Formalin Fenilhidrazon (merah)

Gambar 3.1 Reaksi Uji Fenilhidrazine


( Sumber : Fassenden, 1997)
D. Kerangka Pikir
Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi

kesehatan manusia. Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan

27
bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel

sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan keracunan pada

tubuh. Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga

menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik dan bersifat

mutagen, serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare,

bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang

disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Formalin bila

menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang

tajam menyesakkan sehingga merangsang hidung, tenggorokan dan

mata.

Formalin

Tahu

Konsumen (Masyarakat)

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir

Gangguan Kesehatan

28
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif

analitik dengan menggambarkan adanya formalin pada tahu di

beberapa pasar tradisional di Makassar.

B. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua tahu yang beredar di

beberapa pasar tradisional di Makassar


2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah tahu yang diambil secara

random sebanyak 10 sampel di beberapa pasar tradisional di

Makassar.

3. Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah random

sampling, dimana dari 20 pasar tradisional yang ada di Makassar,

29
dipilih 5 pasar telah ditentukan dengan mengambil 2 sampel tiap

pasar.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan di beberapa pasar tradisional di

Makassar.

2. Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di Balai Besar Laboratorium

Kesehatan (BBLK) Makassar.


3. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan16 sampai 26 Mei 2014.
D. Variabel penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah tahu yang mengandung formalin

E. Definisi Operasional
1. Tahu adalah makanan yang bahan bakunya kedelai yang

dihancurkan menjadi bubur dan sarinya digumpalkan, yang

kebanyakan dijual dalam bentuk kotak basah berwarna putih.


2. Formalin adalah larutan tak berwarna, dengan bau khas dan dapat

dianalisa secara kimia dengan metode fenilhidrazin.


F. Bahan Penelitian
Bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :Tahu

(sampel), Larutan formalin standar 10 ppm, Asam phospat (H 3PO4)

pekat, Fenilhidrazin 1 % dalam alkohol, Aquadest, Asam Khlorida

(HCl) pekat, K3 (Fe(CN)6) 1 %, Etanol 96 %


G. Instrumen Penelitian
Peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :

blender, alat destilasi, labu lod 500 ml, Gelas ukur, erlenmeyer , pipet

volume 1 ml, 2 ml, dan 20 ml, timbangan, corong, labu ukur 50 ml.

H. Prosedur Kerja Penelitian


1. Persiapan Sampel

30
a. Sampel (tahu) ditimbang sebanyak 50 gram, ditambahkan 200

ml aquadest
b. Dihancurkan, kemudian ditambahkan H3PO4 pekat sebanyak 20

ml
c. Dimasukkan ke dalam labu lod, kemudian didestilasi.
d. Destilasi dilakukan sampai didapatkan destilat 50 ml.
2. Menyiapkan Larutan Standar Sebagai Blanko Positif
a. 5 ml standar formalin 10 ppm, dimasukkan ke dalam labu ukur

100 ml, kemudian ditambahkan dengan aquadest sampai tanda

(0,5 ppm)
b. Diambil 10 larutan yang sudah diencerkan ditambahkan

fenilhidrazin 1 % sebanyak 2 ml
c. Ditambahkan K3 (Fe(CN)6) 1 % sebanyak 1 ml, kemudian

ditambahkan HCl pekat sebanyak 5 ml. Larutan akan berwarna

merah (Blanko)
3. Melakukan Pemerikasaan Sampel
a. 10 ml destilat diambil, kemudian ditambahkan fenilhidrazin 1 %

sebanyak 2 ml
b. Ditambahkan K3 ( Fe (CN) 6), 1 % sebanyak 1 ml dan HCl pekat
Pedagang Tahu
sebanyak 5 ml.
c. Adanya formalin (HCHO) ditandai dengan perubahan larutan

menjadi merah seperti blanko.


I. Analisa Data
Analisa data dilakukan secara deskriptif
Tahu dan disajikan dalam bentuk
tabel disertai narasi.
J. Kerangka Operasional

Identifikasi formalin dengan uji fenilhidrazin 1%

Larutan berubah menjadi merah


(formalin positif)

31

Analisa Data
Gambar 3.2 Skema Kerangka Operasional
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil analisis kualitatif yang dilakukan dengan menggunakan uji

fenilhidrazin menunjukkan hasil sebagai berikut :


Tabel 4.1: Hasil Analisis Formalin Pada Tahu

No. Hasil Pemeriksaan


No. Lab Kode Sampel
Urut Formalin
1 14107183 A Negatif ( - )
2 14107184 B Negatif ( - )
3 14107185 C Negatif ( - )
4 14107186 D Positif ( + )
5 14107187 E Negatif ( - )
6 14107188 F Positif ( + )
7 14107189 G Positif ( + )
8 14107190 H Positif ( + )
9 14107191 I Positif ( + )
10 14107192 J Positif ( + )

Pada penelitian ini enam sampel yang berasal dari 6 pedagang

yang berbeda yaitu pedagang D di pasar Terong, pedagang F di pasar

Kalimbu, pedagang G di Pasar Panampu, pedagang H di pasar

Panampu, pedagang I di pasar Cidu, pedagang J di pasar Cidu

teridentifikasi adanya formalin pada tahu yang mereka jual kepada

masyarakat sekitar yang dibuktikan dengan terbentuknya larutan

berwarna merah pada saat penelitian.

32
B. Pembahasan.
Analisis bahan pengawet formalin pada tahu dilakukan terhadap

10 sampel yang diambil dari beberapa pasar di Makassar.

Pemeriksaan bahan pengawet formalin dari 10 sampel dilakukan

secara kualitatif dengan menggunakan pereaksi fenilhidrazin 1%,

K3(Fe(CN)6) 1% dan HCL pekat, adanya formalin pada sampel yang

ditandai dengan warna merah pada larutan sampel. Analisis formalin

dengan metode Fenilhidrazin cukup peka terhadap adanya formalin

pada makanan, karena metode ini dapat bereaksi positif pada

konsentrasi formalin 0,05 ppm.


Hasil analisis dari yang dilakukan terhadap 10 sampel tahu

berasal dari beberapa pasar di Makassar didapatkan 6 sampel

mengandung bahan pengawet formalin, hal ini dibuktikan dengan

terbentuknya warna merah pada larutan sampel, sedangkan sampel

yang lain tidak menunjukkan hasil yang positif.


Penggunaan formalin sebagai pengawet pada makanan dapat

membahayakan kesehatan manusia, formalin merupakan bahan

pengawet untuk mayat dan sampel biologi lainnya serta digunakan

sebagai antiseptic pada alat alat kedokteran. Makanan yang

mengandung formalin dapat menyebabkan keracunan dengan gejala

sukar menelan, mual, sakit perut yang akut disertai muntah muntah,

muntah darah, kencing darah, depresi susunan syaraf, gangguan

pendarahan serta dapat menyebabkan kematian, meskipun

kandungan formalin dalam makanan kurang, akan tetapi setelah

33
banyak tertimbun dapat menyebabkan keracunan dan kanker terutama

kanker hati.

34
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap kandungan

formalin pada tahu yang beredar di beberapa pasar di Makassar, dapat

disimpulkan sebagai berikut : Dari 10 sampel tahu yang dianalisis

didapatkan hasil 6 sampel yang positif mengandung bahan pengawet

formalin dan 4 sampel yang negatif.


B. Saran
Dari hasil penelitian ini, saran saran yang dapat peneliti berikan

sebagai berikut :
1. Untuk instansi terkait agar lebih meningkatkan pengawasan dan

pembinaan terhadap pedagang tahu agar dapat mengetahui

pengawet yang diizinkan dan dilarang oleh pemerintah pada

makanan,
2. Kepada peneliti selanjutnya yang berminat meneliti tentang bahan

pengawet yang dilarang khususnya formalin pada tahu, dapat

melanjutkan ke uji kuantitatifnya.

35
DAFTAR PUSTAKA

Alsuhendra, Ridawati. 2013. Bahan Toksik Dalam Makanan.Bandung : PT.


Remaja Rosdakarya

Anonim. 1989. Kedelai, Jogyakarta. Kanisius (Anggota IKAPI). Hal.12


Harmoni, D. 2006. Seluk Beluk Formalin. www.hd.co.id

Anonim, 1989. Ilmu Kimia Organik Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan.


Jakarta : Depkes RI

Cahyadi. 2009. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.


Jakarta : PT. Bumi Aksara

Fassenden. RJ, Fesenden JS. 1997. Kimia Organik,Edisi Kedua.Jakarta :


Erlangga

Handayani. 2006. Bahaya Kandungan Formalin pada Makanan.


(www.katamutiara.info/tulisan.pbp)

Hardjito, L. 2007. Chitozon Sebagai Bahan Pengganti Formalin Lebih


Aman Sebagai Pengawet Makanan. Departemen Teknologi Hasil
Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor : Bogor

Karyasa. 2000. Bangga Makan Tahu Tempe Forum Diskusi Indonesia,


Berlin : Jakarta

Republika. 2005. Hindarkan Pemakaian Legal Formalin Untuk Pangan.


Sarwono, B dan Saragih, Y.P. 2003. Membuat Aneka Tahu. PT.
Penebar Suradaya : Jakarta http://www.republika.co.id

Salimin, SE. 2007. Proses Pembuatan Tahu. CV. Sinar Cemerlang Abadi

Sarwono, S.Pd, Arif Fadholi, W.A. Najullah. 2003. Analisis Formalin pada
Tahu, Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisuryo :
Semarang

Widodo, D. 2007. Pengaruh Formalin Bagi Sistem Tubuh. Rumah Sakit


Bunda Jakarta. www.google.co.id/07/mei/2007

Yankes S, 2006. Mengenal Formalin dan Bahayanya.


www.yahoo.co.id/08/mei/2008

Yuliarti dan Nurheti. 2007. Awas Bahaya Di Balik Lezatnya Makanan.


Yogyakarta.

36
Lampiran-lampiran

37