You are on page 1of 30

ANALISIS RISIKO BENCANA

PADA DAERAH PARIWISATA PANTAI LOVINA KABUPATEN BULELENG

OLEH:
DIV KEPERAWATAN ANGKATAN II
TINGKAT III SEMESTER VI

1. NI MADE AYU LISNA PRATIWI (P07120214009)


2. PUTU EPRILIANI (P07120214010)
3. AYU PUTU EKA TUSNIATI (P07120214032)
4. NI PUTU AYU SAVITRI (P07120214033)
5. NGAKAN RAKA SAPUTRA (P07120214036)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bali merupakann salah satu pulau yang sering dan juga banyak sekali didatangi oleh para
wisatawan Domestik maupun wisatawan Internasional seperti dari negara tetangga maupun dari berbagai
penjuru dunia. Mereka sangat menyukai tepat-tempat wisata, suasana yang kental akan kebudayaan, dan
juga keramahan dari penduduk Indonesia. Maka tidak salah mereka memilih Bali untuk liburan bahkan
ada juga yang sampai tinggal di Bali dan berpindah kewarganegaraannya menjadi warga negara
Indonesia.Bali mempunyai banyak tempat wisata yang bagus seperti Pantai Kuta yang terkenal dengan
pasir putihnya, Pantai Tanjung Benoa yang terkenal dengan water sport, Tanah lot, Uluwatu, Patung
Garuda Wisnu Kencana (GWK) serta pantai Lovina di Kota Singaraja dan masih banyak lagi.

Kabupaten Buleleng terletak di belahan utara Pulau Bali memanjang dari Barat ke Timur dan

mempunyai pantai sepanjang 144 Km, secara geografis terletak pada posisi 8 o03'40"-8o23'00" Lintang

Selatan dan 114o25'55"-115o27'28" Bujur Timur. Kabupaten Buleleng berbatasan dengan Kabupaten
Jembrana di bagian Barat, Laut Jawa/Bali di bagian Utara, dengan Kabupaten Karangasem di bagian
Timur dan di sebelah Selatan berhadapan dengan 4 Kabupaten yaitu : Badung, Gianyar, Bangli, dan
Kabupaten Tabanan. Luas Kabupaten Buleleng secara keseluruhan 1.365,88 Km2 atau 24,25 persen
dari luas Provinsi Bali.

Kabupaten Buleleng merupakan daerah berbukit yang membentang di bagian Selatan, sedangkan
di bagian Utara merupakan dataran rendah. Di Kabupaten Buleleng juga terdapat gunung berapi dan
tidak berapi. Gunung yang tertinggi adalah Gunung Tapak (1903 M) berada di Kecamatan Sukasada.
Selain itu di Kabupaten Buleleng terdapat dua buah danau yaitu Danau Tamblingan (110 hektar) berada
di Kecamatan Banjar, sedangkan Danau Buyan (360 hektar) terletak di Kecamatan Sukasada.
Kabupaten Buleleng memiliki iklim tropis yang dipengaruhi oleh angin musim yang berganti setiap
enam bulan dengan curah hujan berkisar antara bulan Oktober-April, sedangkan musim panas berkisar
antara bulan April-Oktober.

Kabupaten Buleleng memiliki banyak lokasi wisata baik di wilayah dataran tinggi maupun
dataran rendah seperti air terjun, pantai penimbangan,pantai pelabuhan,pantai kerobokan dan pantai
Lovina. Membicarakan mengenai pantai kita tidak lepas dari pemandangan indah yang disajikan oleh
Pantai Lovina serta atraksi lumba-lumba di Kabupaten Singaraja,Bali. Di kawasan pantai Lovina ini
terdapat tempat untuk melestarikan terumbu karang sehingga pemandangan biota bawah lautnya
sungguh menawan hati dengan ikan hiasnya yang hidup dan berkembang biak dengan baik. Anda bisa
melakukan kegiatan menyelam untuk melihat keindahan taman laut Pantai Lovina ini secara dekat
dengan menyewa alat selam yang tersedia di sekitar kawasan pantai Lovina.Di Pantai Lovina Anda bisa
menyaksikan matahari tenggelam sama seperti pantai kuta, hanya saja pantai lovina perpasir hitam.
Denga berjalan-jalan disepanjang pesisir pantai sambil menikmati sunset dan pemandangan alam yang
indah. Anda juga bisa duduk-duduk di sekitar monumen pantai Lovina. Di mana di atas monumen
tersebut terdapat hewan lumba-lumba yang menjadi ikon pantai lovina.

Dibalik semua keindahan yang disajikan oleh Pantai Lovina di Kota Singaraja terdapat pula sisi
buruk dari lokasi wisata tersebut yaitu risiko bencana yang dapat terjadi kapan saja tanpa dapat diduga
sebelumnya. Mengingat keutuhan atau keberlangsungan industri pariwisata bergantung pada keindahan
alam, dan budaya disekitar destinasi pariwisata. Dari beberapa faktor tersebut seperti sektor pariwisata
merupakan sektor yang bergantung pada keindahan alam dan budaya yang ada, serta banyaknya orang
yang terlibat di dalamnya baik wisatawan maupun pekerja pariwisata, disisi lain terdapat ancaman
bencana yang sangat berpotensi terjadi di daerah wisata, maka dari itu sangat penting untuk industri
pariwisata khususnya di Pantai Lovina untuk mendapatkan perhatian dalam melakukan kesiapsiagaan
bencana dengan cara menganalisis terlebih dahulu risiko bencana yang dapat terjadi didaerah tersebut
atau sering disebut dengan DRR (Danger Risk Reduction) .

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah gambaran demografi ,topografi, dan social ekonomi di Kabupaten Buleleng dan
sejarah Pantai Lovina?
2. Apasajakah bencana yang pernah terjadi di Kabupateng Buleleng pada umumnya dan Pantai
Lovina pada khususnya?
3. Apasajakah elemen elemen kerentanan dan kapasitas yang ada terkait dengan jenis bencana
yang sering terjadi di Pantai Lovina pada khususnya?
4. Bagaimanakah gambaran risiko bencana yang ada di Pantai Lovina berdasarkan matrik
penilaian?
5. Bagaimanakah gambaran risiko bencana yang ada di Pantai Lovina berdasarkan scoring?
6. Bagaimanakah gambaran risiko bencana yang ada di Pantai Lovina berdasarkan pemetaan
wilayah risiko bencana?
7. Apasajakah tindakan yang dapat dirancang utuk menangani risiko bencana yang terdapat di
Pantai Lovina?
C. TUJUAN
1. Mengetahui gambaran demografi ,topografi, dan social ekonomi di Kabupaten Buleleng dan
sejarah Pantai Lovina
2. Mengetahui jenis bencana yang sering terjadi di Kabupaten Buleleng pada umumya dan Pantai
Lovina pada khususnya
3. Mengetahui elemen elemen kerentanan dan kapasitas yang ada terkait dengan jenis bencana
yang sering terjadi di Pantai Lovina
4. Mengetahui gambaran risiko bencana yang ada di Pantai Lovina berdasarkan matrik penilaian.
5. Mengetahui gambaran risiko bencana yang ada di Pantai Lovina berdasarkan scoring.
6. Mengetahui gambaran risiko bencana yang ada di Pantai Lovina berdasarkan pemetaan wilayah
risiko bencana.
7. Mengetahui tindakan yang dapat dirancang utuk menangani risiko bencana yang terdapat di
Pantai Lovina

D. MANFAAT
Manfaat dari makalah ini yaitu dapat dijadikan sebagai acuan analisis risiko bencana yang terdapat
di daerah wisata Pantai Lovina guna menurunkan risiko terjadinya bencana ataupun kerugian terhadap
suatu bencana yang terjadi di Pantai Lovina
BAB II
PEMBAHASAN

A. Gambaran demografi ,topografi, dan social ekonomi di Kabupaten Buleleng dan sejarah
Pantai Lovina.

1. Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik


Kabupaten Buleleng terletak di belahan utara Pulau Bali memanjang dari Barat ke Timur dan
mempunyai pantai sepanjang 144 Km, secara geografis terletak pada posisi 8 o03'40"-8o23'00" Lintang
Selatan dan 114o25'55"-115o27'28" Bujur Timur. Kabupaten Buleleng berbatasan dengan Kabupaten
Jembrana di bagian Barat, Laut Jawa/Bali di bagian Utara, dengan Kabupaten Karangasem di bagian
Timur dan di sebelah Selatan berhadapan dengan 4 Kabupaten yaitu : Badung, Gianyar, Bangli, dan
Kabupaten Tabanan. Luas Kabupaten Buleleng secara keseluruhan 1.365,88 Km2 atau 24,25 persen
dari luas Provinsi Bali. Kabupaten Buleleng merupakan daerah berbukit yang membentang di bagian
Selatan, sedangkan di bagian Utara merupakan dataran rendah. Di Kabupaten Buleleng juga terdapat
gunung berapi dan tidak berapi. Gunung yang tertinggi adalah Gunung Tapak (1903 M) berada di
Kecamatan Sukasada. Selain itu di Kabupaten Buleleng terdapat dua buah danau yaitu Danau
Tamblingan (110 hektar) berada di Kecamatan Banjar, sedangkan Danau Buyan (360 hektar) terletak di
Kecamatan Sukasada. Kabupaten Buleleng memiliki iklim tropis yang dipengaruhi oleh angin musim
yang berganti setiap enam bulan dengan curah hujan berkisar antara bulan Oktober-April, sedangkan
musim panas berkisar antara bulan April-Oktober.

Kabupaten Buleleng yang merupakan bagian dari Wilayah Provinsi Bali, dibentuk
berdasarkan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang pembentukan Daerah. Daerah Tingkat
II dalam Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, setelah Provinsi Sunda Kecil
dibagi menjadi 3 Wilayah Provinsi yaitu : Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Pemerintah Kabupaten Buleleng secara administrasi terdiri dari 9 Kecamatan, 129 Desa, 19 Kelurahan,
63 Lingkungan, 535 Dusun/Banjar, dan 168 Desa Adat. Kecamatan yang ada di kabupaten ini adalah
Kecamatan Tejakula, Kecamatan Kubutambahan, Kecamatan Seririt, Kecamatan Sawan, Kecamatan
Buleleng, Kecamatan Busungbiu, Kecamatan Sukasada, Kecamatan Banjar dan Kecamatan Gerokgak.

Jumlah penduduk berdasarkan hasil registrasi pada tahun 2009 berjumlah 786.972 jiwa
dari jumlah 210.739 Kepala Keluarga. Dari jumlah tersebut terdiri dari penduduk perempuan
sebanyak 390.863 jiwa atau 49,67 persen dan penduduk laki-laki sebanyak 396.109 jiwa atau 50,33
persen. Dari kondisi tersebut tercermin bahwa jumlah penduduk laki-laki relatif dominan jika
dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Sedangkan komposisi penduduk menurut
kelompok umur adalah sebagai berikut : Penduduk Usia 0-14 tahun sebanyak 181.405 jiwa atau 23,00
persen; Penduduk usia 15-64 tahun sebanyak 555.423 jiwa atau 70,43 persen; dan penduduk yang
berusia 65 tahun ke atas sebanyak 50.144 jiwa atau 6,37 persen. Komposisi penduduk berdasarkan
kelompok umur ini mencerminkan bahwa penduduk Kabupaten Buleleng sebagian besar (70,43
persen) merupakan usia produktif (usia kerja). Berdasarkan data tahun 2007, perkembangan sex ratio di
kabupaten ini adalah 101,34 persen dengan tingkat kepadatan penduduk 576,16 jiwa/Km2, sementara
laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,72 persen.

Kabupaten Buleleng secara ekonomi didukung dari berbagai sektor usaha, dan sektor
pertanian tanaman pangan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam pembentukan PDRB. Komoditi
tanaman pangan memberikan kontribusi terhadap sektor pertanian dalam arti luas sebesar 46,77
persen. Komoditi tanaman pangan yang terus dikembangkan dan ditingkatkan produksinya adalah :
padi dan palawijaya, sayur- sayuran (bawang merah, bawang putih, bawang daun, kentang, buncis,
kubis, petai/sawi, wortel, cabai, tomat, terong, mentimun, kangkung, bayam), dan buah-buahan
(advokat, mangga, rambutan, anggur, duku/langsat, jeruk, durian, sawo, jambu biji, pisang, pepaya,
nanas, salak, dan anggur).

Peternakan juga berkontribusi terhadap perekonomian daerah. Potensi peternakan di


Kabupaten Buleleng didukung oleh adanya sumber daya alam berupa lahan sawah, lahan kering, lahan
perkebunan sebagai sumber hijau makanan ternak (HMT). Populasi ternak maupun hewan besar
maupun kecil yang telah berkembang di Buleleng meliputi : sapi potong, sapi perah, kerbau, babi Bali,
babi sadliback, babi landrace, kambing kacang, kambing PE, domba, ayam buras, ayam ras, itik, dan
aneka ragam ternak lainnya.

Kabupaten Buleleng merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian utara
Pulau Bali berbatasan dengan Laut Jawa/Bali, sehingga sebagian besar wilayah kabupaten merupakan
kawasan pesisir dengan panjang pantai 157,05 Km dengan aneka ragam kekayaan laut serta potensial (
luas laut 319.680 Ha ) Atau + 1.166,75 km2 untuk radius 4 mil. Dari penduduk yang berjumlah
sebanyak 786.972 pada tahun 2009 sebanyak 4.314 orang (0,67 persen) bermata pencaharian sebagai
nelayan, sedangkan yang bekerja sebagai petani ikan (pembudidaya ) sebanyak 864 orang (0,13
persen). Perkembangan pembangunan di bidang perikanan dalam periode 2 tahun terakhir menunjukan
peningkatan, tercemin dari peningkatan produksi yang cukup pesat baik dalam budidaya ikan air tawar,
air deras, mina padi dan kegiatan budidaya di perairan umum lainnya.
Potensi areal lahan perkebunan tahun 2009 seluas 39.160 Ha atau 28,67 persen dari luas
wilayah Kabupaten Buleleng (136.588 Ha). Komoditi perkebunan yang menjadi produk andalan adalah
: kopi Robusta, kopi Arabika, jambu mete, cengkeh, kakao, kelapa dan tembakau Virgina. Sementara
itu, kawasan hutan di Kabupaten Buleleng sampai dengan tahun 2009 seluas 51.436,21 Ha
termasuk kawasan perairan Taman Nasional Bali Barat ( TNBB ) seluas 2.566 Ha. Kawasan hutan
yang ada meliputi berbagai fungsi dan sebagian besar didominasi oleh Hutan Lindung dengan
luas sebesar 31.936,32 Ha (62,09 persen).

Pada tahun 2009 sektor perindustrian telah mampu memberikan kontribusi PDRB Kabupaten
Buleleng sebesar Rp 660.229,54 juta atau 9,88 persen. Sementara itu sektor perdagangan dalam bentuk
kegiatan ekspor di Kabupaten Buleleng didominasi oleh 3 jenis komoditi yaitu : kopi, vanili, dan
garmen. Selain industri dan perdagangan, sektor pariwisata juga dikembangkan dengan potensi
kepariwisataan dalam cakupan yang luas tersebar hampir merata di Wilayah Kabupaten Buleleng, baik
dalam bentuk potensi alam, maupum potensi budaya, agro wisata, wisata spiritual, dan adventure.
Sampai tahun 2009 Kabupaten Buleleng telah dapat memperbaiki kondisi infrastruktur jalan sepanjang
86,31 Km dalam kondisi mantap terdiri dari :

Jalan Nasional sepanjang : 155,750 Km

Jalan Provinsi sepanjang : 105,880 Km

Jalan Kabupaten sepanjang : 674,940 Km

Disamping adanya fasilitas perhubungan darat, pemerintah penyediaan fasilitas dermaga


Pelabuhan Laut di Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak yang pembangunannya mendapat bantuan
pendanaan dari Pemerintah Pusat. Sementara itu, untuk perhubungan udara Pemerintah Kabupaten
Buleleng sejak Tahun 2000 berinisiatif membangun fasilitas perhubungan udara berupa pembangunan
Lapangan Terbang Perintis yang diberi nama "Lapangan Air Strip Kolonel Wisnu" yang terletak
di Dusun Pegametan, Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, dengan jarak 60 km dari Kota
Singaraja, dan 30 dari Kota Gilimanuk.
2. Sejarah Lovina

Pantai Lovina atau Lovina terletak sekitar 9 Km sebelah barat kotaSingaraja, ini
merupakan salah satu objek wisata yang ada di Bali Utara. Wisatawan baik asing
maupun lokal banyak yang berkunjung ke sana, selain untuk melihat pantainya yang
masih alami, juga untuk melihat ikan lumba-lumba yang banyak terdapat di pantai ini.
Dengan menyewa perahu nelayan setempat, kita dapat mendekati lumba-lumba.Berbagai
penginapan mulai dari Inn hingga Cottages tersedia dengan harga yang sangat
terjangkau.

Menyinggung sejarah Lovina, tentunya tidak bisa lepas dengan sosok Anak
Agung Panji Tisna.Nama Panji Tisna sering ditulis Pandji Tisna.Sekitar 1950-an, Anak
Agung Panji Tisna, pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa dan
Asia.Apa yang menarik perhatian dia terutama adalah kehidupan masyarakat di India.Dia
tinggal beberapa minggu di Bombay. Cara hidup dan kondisi penduduk di sana, serta
merta mempengaruhi cara pikir dan wawasan dia ke depan untuk Bali, terutama
pembangunan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Buleleng.

Sementara itu, Panji Tisna juga melihat suatu tempat yang ditata indah untuk
orang-orang berlibur di pantai.Tanah tersebut memiliki kesamaan dengan tanah miliknya
di Pantai Tukad Cebol, Buleleng yang juga terletak di antara dua buah aliran
sungai.Inspirasi Panji Tisna muncul untuk membangun sebuah peristirahatan seperti itu.

Kembali dari luar negeri pada tahun 1953, Anak Agung Panji Tisna segera
menyatakan inspirasinya dan mulai membangun di tanah miliknya, sebuah pondok
bernama "Lovina". Tempat itu dimaksud untuk para pelancong, istilah sekarang
turis, untuk berlibur. Dilengkapi dengan 3 kamar tidur utuk menginap dan sebuah
restoran kecil dekat di pinggir laut.
Waktu itu, beberapa pengamat bisnis mengkawatirkan, bahwa rencana Panji
Tisna tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. Terlalu awal waktunya untuk
membuat usaha sejenis itu di pantai terpencil seperti pantai di Tukad Cebol.Pengamat
budaya lokal menyatakan, "Lovina" adalah sebuah kata asing, bukan bahasa
Bali.Selanjutnya lagi, tidak ada huruf "v" dalam aksara Bali. Komentar lain mengatakan
dengan tegas, jangan menggunakan kata Lovina, sebaiknya dihapus saja.
Pada tahun 1959, Anak Agung Panji Tisna memindah-tangankan Penginapan
Lovina kepada saudara sepupunya yang lebih muda, Anak Agung Ngurah Sentanu yang
berusia 22 tahun yang dipercaya untuk meneruskan usaha rintisannya. Bisnis Pondok
Wisata Lovina berlanjut.Namun tidak banyak pelancong atau turis ke Lovina.Hanya
beberapa teman Panji Tisna yang datang.Mereka berasal dari Amerika dan Eropa, serta
pejabat pemerintah daerah dan para pengusaha untuk berlibur. Merasa beruntung juga,
karena pada hari-hari khusus seperti hari Minggu dan hari libur, juga pada hari raya
seperti Galungan dan Kuningan banyak orang termasuk pelajar yang datang menikmati
suasana alam pantai.
Namun pada Desember 1960 Kota Singaraja sebagai Ibu Kota Propinsi Bali
beralih ke Kota Denpasar.Ekonomi di Singaraja Buleleng terpuruk. Pengembangan
pariwisata di Bali yang pesat pada tahun 1980, mendorong pemerintah membentuk
kawasan-kawasan wisata, seperti Kawasan Wisata Kuta dan Sanur.Waktu itu di
kabupaten Buleleng, dibentuk dua Kawasan Wisata yaitu Kawasan Wisata Kalibukbuk
dan Kawasan Wisata Air Sanih. Kemudian ada arahan dari Gubernur Bali, agar nama
Lovina tidak dikembangkan lagi, karena nama itu tidak dikenal di Bali. Sebaiknya agar
dikembangkan pariwisata berakar budaya Bali. Karena itu, para pengusaha untuk
selanjutnya agar memakai nama-nama berbudaya Bali seperti contoh yang sudah ada
Manggala, Krisna, Angsoka, Nirwana, Lila Cita, Banyualit, Kalibukbuk, Aditya, Ayodia,
dan lainnya. Sedangkan Anak Agung Panji Tisna sendiri waktu itu tahun 1974 sudah
membangun hotel dengan nama Tasik Madu, terletak 100 meter di sebelah Barat lokasi
"Lovina", Namun sayang Hotel Tasikmadu rusak total terkena musibah "Gempa Seritit"
tahun 1976. Sedangkan usaha dengan nama"Lovina" tidak boleh dihadirkan. Nama
"Lovina" disimpan oleh pemiliknya, Anak Agung Ngurah Sentanu. Pada tahun 1980
"Pondok Lovina" selesai direnovasi.Namun mengingat pengarahan Bapak Gubernur
maka nama "Lovina" tidak dipakai. Selanjutnya memakai nama alias yaitu: "Pondok
Wisata Permata" atau "Permata Cottages".
Walaupun nama"Lovina" tidak dimunculkan, namun nama "Lovina" telah dikenal
dunia pariwisata secara luas sebagai sebuah destinasi di Bali Utara. Permintaan dari
pembisnis dan agen perjalanan pun menuntut agar "Lovina" dihadirkan kembali. Usaha
untuk mengangkat Bali Utara sebagai destinasi wisata antara lain adalah kembali dengan
cara mempopulerkan "Lovina". Oleh sebab itu nama Pondok Wisata "Lovina" yang
sudah berganti nama "Permata Cottages", kini kembali memakai nama aslinya "Lovina"
yang sampai sekarang bernama "Lovina Beach Hotel". Sejak itu nama"Lovina" dipakai
oleh tidak kurang dari 6 pantai desa-desa asli. Deretan Pantai tersebut berada di 2 (dua)
wilayah kecamatan bersebelahan, yaitu Kecamatan Buleleng dan Kecamatan Banjar.
Yang ada di Kecamatan Buleleng, yaitu Pantai Binaria di desa Kalibukbuk, pantai
Banyualit didesa Banyualit, Pantai Kubu Gembong di desa Anturan/Tukadmungga,
Panta Hepi di desa Tukadmungga, Pantai Penimbangan di desa Pemaron. Sedangkan di
Kecamatan Banjar, adalah Pantai Tukad Cebol di Kampung Baru (Kaliasem), pantai
Temukus didesa Temukus. Semua pantai tersebut bergabung dalam pemakaian
nama"Kawasan Wisata Pantai Lovina". Sedangkan, nama kawasan resmi adalah
"Kawasan Wisata Kalibukbuk". "Love" dan "Ina" oleh masyarakat diartikan sebagai
"Love Indonesia", Pengertian seperti itu tidak sesuai dalam konteks Panji Tisna. IIstilah
INA secara umum sudah dikenal sebagai singkatan untuk kontingen atau rombongan
atlet Indonesia untuk "Asian Games 1963".Sedangkan, "Lovina" didirikan pada tahun
1953. Menurut Panji Tisna, "Lovina" memiliki makna filosofis, campuran dua suku kata
"Love" dan "Ina". Kata "Love" dari bahasa Inggris berarti "kasih" yang tulus dan "Ina"
dari bahasa Bali atau bahasa daerah yang berarti "ibu". Menurut penggagasnya, Anak
Agung Panji Tisna, arti "Lovina" adalah "Cinta Ibu" atau arti luhurnya adalah "Cinta Ibu
Pertiwi".

Kawasan pantai Lovina memiliki potensi alam yang sangat indah, seperti
terumbu karang, taman laut serta lumba-lumba yang memiliki habitat di kawasan Pantai
Lovina, dan keindahan pantainya untuk menikmati sunrise maupun sunset, berenang dan
pemandangan alam bawah laut yang baik untuk menyelam (snorkeling). Permasalahan
yang timbul dalam upaya pengembangan potensi wisata kawasan Pantai Lovina ini,
adalah bagaimana upaya yang dilakukan Disbudpar dalam pengembangan potensi
Kawasan Wisata Pantai Lovina, serta faktor-faktor apa saja yang mendukung dan
menghambat pengembangan potensi wisata kawasan Pantai Lovina. Berdasarkan hasil
penelusuran penulis, Lovina sebagai kawasan wisata yang merupakan kawasan yang
sangat berpotensi untuk dikembangkan. Dalam pengembangan obyek wisata Pantai
Lovina ada beberapa faktor pendukung, yakni ditetapkannya Lovina sebagai kawasan
wisata, dengan dikeluarkannya SK Gubernur Propinsi Bali No.528 dan Perda No.4
Tahun 1999, bahwa Buleleng memiliki dua kawasan pariwisata yaitu Lovina dan Batu
Ampar dan keduanya merupakan kawasan wisata yang sama-sama berada di daerah
pesisir pantai.

Pantai Lovina termasuk obyek wisata di pesisir Bali Utara.Lokasinya di Desa


Kalibukbuk, Buleleng, Bali.Oleh sebab itu lebih dikenal dengan obyek wisata
Kalibukbuk.Pantai Lovina yang berpasir hitam masih sangat alami, sehingga menarik
dikunjungi wisatawan. Adanya obyek dan daya tarik wisata, seperti potensi alam lumba-
lumba, terumbu karang, taman laut, kesenian sapi gerumbungan, megangsing, seni tari dan
keindahan panorama bawah laut dan desa-desa unik yang masih asli yang merupakan
penduduk Bali aga, yakni keturunan Bali Mojopahit . Disamping adanya pendukung ada
juga kendala-kendala atau hambatan yang dihadapi oleh Disbudpar dalam upaya
pengembangan potensi Pantai Lovina, adalah belum optimalnya penataan &
pengembangan potensi pariwisata, dapat dilihat dengan adanya pencemaran lingkungan
yang dilakukan di sekitar kawasan wisata Pantai Lovina yang sangat mengganggu dan
mencemari lingkungan dan tentu saja jika dibiarkan akan membawa dampak yang buruk
bagi kawasan wisata Pantai Lovina.

Jika penataan dan pengembangan potensi Pantai Lovina dibalik kendala yang
dihadapi oleh Disbudpar Buleleng ini tidak segera dilakukan, ada kekhawatiran pelaku
pariwisata bahwa Pantai Lovina sebagai kawasan wisata lima tahun ke depan hanya
tinggal kenangan. Selain itu, aksebilitas/ jarak, disini yaitu jarak antara kawasan wisata
Pantai Lovina yang jauh dari pusat keramaian kunjugan wisatawan yang sentralnya
berada di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung yang tentu saja menghambat
pengembangan wisata karena wisatawan merasa enggan untuk berkunjung diakibatkan
jarak yang terlalu jauh. Dan yang terakhir, kurangnya sumber dana yang sebagai modal
utama dalam proses pembangunan dan pengembangan kawasan wisata Pantai Lovina,
karena tanpa adanya dana tentu saja proses tersebut tidak akan berjalan, sehingga
menghambat kelangsungan pembangunan dan pengembangan pariwisata.

3. Jenis bencana yang sering terjadi di Kabupaten Buleleng pada umumya dan
Pantai Lovina pada khususnya

Pada tahun 2010 gelombang pasang terjadi pada beberapa wilayah pesisir
Kabupaten Buleleng . Bencana gelombang pasang terjadi Kecamatan Seririt, Buleleng,
Sawan dan Kubutambahan.
Sejarah mencatat sebuah peristiwa gempa bumi besar di tahun 1815. Pusat gempa
bumi diperkirakan berada di laut sebelah utara kerajaan Buleleng di Bali utara. Ibukota
Buleleng yaitu Singaraja mengalami kerusakan parah. Gempa bumi tersebut menggetarkan
seluruh pulau Bali, sehingga disebut juga Gejer Bali yang artinya Bali bergetar. Selain di
Bali, getaran kuat juga dirasakan hingga Surabaya, Lombok, bahkan Bima.

Sebuah naskah yang disimpan oleh AAN Sentanu di Puri Ayodya Singaraja
memaparkan secara lebih rinci bahwa pada hari Rabu umanis kurantil tahun Saka 1737
yaitu 22 November 1815 Masehi menjelang tengah malam, gempa bumi besar
mengguncang. Getaran gempa bumi mengakibatkan pegunungan retak longsor dengan
suara menggelegar seperti guntur. Longsoran pegunungan lantas menimpa ibukota
Buleleng, Singaraja. Desa-desa turut tersapu hingga ke laut. Bencana ini mengakibatkan
10.523 orang meninggal. Kala itu pejabat-pejabat penting di kerajaan turut menjadi
korban, namun Raja Buleleng I Goesti Angloerah Gde Karang selamat. Hal serupa juga
dijelaskan di dalam Babad Ratu Panji Sakti dan Babad Buleleng yang tersimpan di
Museum Gedong Kirtya. Babad adalah catatan resmi kerajaan-kerajaan di Bali tentang
kejadian sejarah. Dalam kedua Babad tersebut, lebih dituturkan tentang bencana susulan
pasca gempa bumi yaitu longsor dan air bah.
Gempa bumi besar 22 November 1815 ini ditengarai juga menimbulkan Tsunami.
Laporan di dalam Catalogue of Tsunami on the Western Shore of the Pasific Ocean yang
disusun oleh S.L. Soloviev dan CH.N. Go mendeskripsikan adanya air laut yang naik dan
menerjang daratan dalam jangkauan yang luas pasca gempa bumi. Sebanyak 1.200 orang
lainnya menjadi korban akibat bencana susulan naiknya air laut ke daratan. Istilah
Tsunami belum dikenal ditelinga penduduk pulau Bali saat itu.Katalog lain milik Tsunami
Laboratory di Intitute of Computational Mathematics and Mathematical Geophysics,
Rusia menyatakan bahwa gempa bumi Gejer Bali 1815 memicu Tsunami. Mereka
meyakini peristiwa tersebut sebagai Tsunami dengan tingkat validitas 75% yang
disebabkan oleh aktivitas gempabumi tektonik dan longsoran tanah (Tectonic-Landslide).
BMKG yang bekerjasama dengan LIPI, BNPB dan TNI-AL melakukan kegiatan
pelatihan antisipasi bencana Tsunami di Buleleng pada tanggal 8-10 Desember 2010.
Kegiatan yang bertajuk Evakuasi Mandiri Bagi Masyarakat Pantai Terhadap Bahaya
Tsunami tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman akan Tsunami dan tindakan
apa yang harus diambil ketika bencana datang. Pada tahun 2015, BMKG memasang sirine
peringatan dini Tsunami di Lapangan Umum Seririt. Sirine ini diresmikan dan dicobakan
pertama kali pada tanggal 29 September 2015. Perintah pembunyian dilaksanakan dari
Ruang Pusdalops BPBD Provinsi Bali di Renon Denpasar. Sirine yang terintegrasi ke
sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) ini diharapkan dapat memberikan
peringatan kepada warga sebelum Tsunami menerjang. Terdapat celah waktu antara
gempabumi dan kedatangan Tsunami, celah waktu ini diharapkan dapat dimanfaatkan
dengan baik untuk menyelamatkan jiwa. 22 November 2015, tepat 200 tahun Gejer Bali
terjadi. Peringatan ini berusaha mengingatkan kembali potensi bencana yang dapat terjadi
dari patahan belakang busur kepulauan. Berusaha menceritakan ulang kisah lama dibalut
perspektif ilmu kebumian modern agar siapa saja yang hidup kini memahami
keseimbangan alam, ada bencana ada pula kertha masa. Peringatan dan diskusi akan
dilaksanakan di Puri Kanginan Singaraja pukul 15:00 WITA. Puri tersebut adalah saksi
Gejer Bali.

1. Bencana yang Pernah terjadi

Bencana alam merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau


serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan, badai ombak, tanah longsor dan sebagainya.

Ditinjau dari kondisi geografis, geologis dan hidrometeorologis, daerah


Kabupaten Buleleng termasuk wilayah berpotensi dan rawan mengalami bencana alam.
Beberapa kejadian bencana alam pernah terjadi di wilayah Kabupaten Buleleng adalah
gempa bumi, banjir bandang, kekeringan, tanah longsor, badai ombak, dan angin puting
beliung. Data perkembangan kejadian bencana alam sangat diperlukan untuk mengetahui
kecenderungannya sehingga dapat dilakukan langkah-langkah penanganannya.

a. Bencana Banjir
Kabupaten Buleleng merupakan daerah tergolong rawan bencana. Hal ini terlihat
dari kejadian bencana yang sering terjadi di wilayah Kabupaten Buleleng. Pada tahun
2010, bencana banjir terjadi di tiga kecamatan, yaitu Seririt, Banjar dan Sukasada, dengan
korban sebanyak 109 KK dan 382 jiwa. Bencana banjir yang terjadi telah merusak
sejumlah rumah, tempat ibadah, dan fasilitas umum lainnya (Tabel BA-1A). Belum ada
data pasti jumlah area yang terendam banjir, jumlah korban mengungsi ataupun
meninggal, dan perkiraan kerugian materi yang ditimbulkannya (Tabel 1.1).

Bencana Banjir dan Jumlah Terkena Musibah di


Kabupaten Buleleng Tahun 2010
N o . Kecamatan D e s a Jumlah Terkena Musibah Keterangan

K K Jiwa

1 . Gerokgak - - - -

2 . S e r i r i t Lokapaksa*) 0 0 Badan jalan dekat

saluran irigasi ambles

1 0 m

Sulanyah1 1 R u m a h r u s a k

3 . Busungbiu - - - -

4 . B a n j a r B a n j a r3 7 Rumah terendam air

Den cari k6 2 2 Rumah terendam air

T e m u k u s8 3 2 8 9 Rumah, kantor KUA dan

masjid terendam air

5 . S u k a s a d a Ambengan1 6 6 3 Rumah dan dapur rusak,

tertimbun lumpur

6 . B u l e l e n g - - - -

7 . S a w a n - - - -

b. Bencana Kekeringan
Kekeringan merupakan hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah
kebutuhan air, baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan.
Dampak kekeringan paling terasa pada pertanian yang membutuhkan banyak air, seperti
padi sawah. Bencana kekeringan sangat terkait dengan hujan di suatu wilayah pada kurun
waktu tertentu. Daerah beriklim kering seperti sebagian besar wilayah Kabupaten
Buleleng lebih mudah mengalami kekeringan karena waktu hujannya terbatas. Tidak ada
kejadian bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Buleleng selama tahun 2010 (Tabel
BA-2). Hal ini diperkirakan terkait dengan cukup lamanya periode hujan yang terjadi
selama kurun waktu tahun 2009/2010. Pada Tabel SD-22 dapat dilahat, hujan hampir
terjadi setiap bulan pada tahun 2009/2010 kecuali pada bulan Oktober 2009.
c. Bencana Tanah Longsor
Tanah longsor terjadi karena akumulasi berbagai kondisi lingkungan dan prilaku
manusia. Secara alamiah, longsor mudah terjadi pada lahan berlereng, struktur tanah
remah, curah hujan tinggi, drainase buruk, kemampuan meresapkan air rendah, dan
tutupan vegatasi rendah. Prilaku manusia juga mempunyai andil yang besar pada kejadian
tanah longsor. Kegiatan penduduk yang cenderung mengurangi kemampuan tanah
meresapkan air, terutama bada bagian hulu memicu terjadinya tanah longsor. Kabupaten
Buleleng merupakan daerah yang rawan mengalami bencana tanah longsor, terutama pada
lokasi-lokasi sepanjang perbukitan di sisi Selatan yang membentang dari Timur ke Barat.
Pada tahun 2010, bencana tanah longsor terjadi cukup luas, yaitu pada 8 kecamatan dari 9
kecamatan yang ada (Tabel BA-3). Tidak ada korban meninggal pada kejadian tersebut,
namun menyebabkan kerugian material hingga Rp. 2.786.919.000,-.

Jumlah Korban Meninggal Perkiraan Kerugian

No. K e c a m a t a n

( j i w a ) ( R p . )

1 .G e r o k g a k0 0

2 .S e r i r i t0 210.000.000

3 .B u s u n g b i u0 45.950.000

4 .B a n j a r0 522.450.000

5 .S u k a s a d a0 1.213.569.000

6 .B u l e l e n g0 40.000.000

7 .S a w a n0 400.000.000
8 . K u b u t a m b a h a n0 125.875.000

9 .T e j a k u l a0 229.075.000

J u m l a h0 2.786.919.000

K e t e r a n g a n : -

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Buleleng (2010)

d. Bencana Kebakaran Hutan/Lahan


Kebakaran hutan dapat merusak ekosistem hutan, mengurangi tutupan lahan, dan
pada kebakaran yang luas dapat menghancurkan keanekaragaman hayati di dalamnya,
mencemari udara serta menjadi sumber GRK. Kebakaran hutan dapat terjadi karena factor
alam, ulah manusia atau kombionasi keduanya. Kebakaran hutan karena faktor alam
biasanya terjadi pada musim kemarau dimana sebagian vegetasi layu/kering disertai udara
kering dan suhu udara tinggi. Kebakaran hutan juga sering terjadi akibat kecerobohan
manusia membuang puntung rokok, membuat perapian di hutan atau membuka ladang
dengan sistem tebang bakar. Kabupaten Buleleng dalam sejarahnya pernah mengalami
bencana kebakaran hutan/lahan. Namun pada tahun 2010 bencana itu tidak terjadi (Tabel
BA-4). Daerah yang rawan terjadi kebakaran hutan antara lain hutan di Kecamatan
Grokgak dan Tejakula. Kecamatan Grokgak dan Tejakula merupakan daerah yang
beriklim paling kering di Kabupaten Buleleng. Pada musim kemarau beberapa bagian
hutan di wilayah ini mengalami kekeringan sehingga mudah terbakar. Pada tahun 2010
periode waktu hujan cukup panjang disbanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga
tanaman hutan tidak sampai mengalami kekeringan. Hal inilah yang antara lain
menyebabkan tidak ada kejadian kebakaran hutan pada tahun 2010.

e. Bencana Alam Gempa Bumi


Gempa bumi adalah getaran yang terjadi pada permukaan bumi. Ada dua jenis
gempa bumi, yaitu gempa bumi tektonik dan vulkanik. Gempa bumi tektonik merupakan
getaran pada permukaan bumi akibat pelepasan tenaga yang terjadi karena subduksi
lempengan plat tektonik. Sedangkan gempa bumi vulkanik terjadi akibat aktivitas gunung
merapi. Kabupaten Buleleng merupakan daerah dengan potensi gempa tinggi (Bappeda
Provinsi Bali, 2006), baik yang disebabkan oleh akvitas tektonik maupun vulkanik. Kedua
jenis gempa ini pernah terjadi di Kabupaten Buleleng. Pulau Bali, termasuk Kabupaten
Buleleng merupakan kawasan yang terletak pada daerah pertemuan tiga lempeng, yaitu
Lempeng Eurasia, Lempeng Samudra Pasifik dan Lempeng India-Australia yang masing-
masing bergerak ke Barat dan ke Utara relatif terhadap Eurasia. Posisi ini yang
menyebabkan Kabupaten Buleleng rawan gempa tektonik. Selain itu, di Bali terdapat
beberapa gunung merapi yang masih aktif, yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur yang
berpotensi menyebabkan gempa vulkanik. Pada tahun 2010 tercatat tidak ada kejadian
gempa bumi di Kabupaten Buleleng (Tabel BA-5). Namun demikian, perlu selalu
dilakukan pemantauan terhadap gejala-gejala alam yang ada sebagai langkah antisipasi
karena gempa bumi dapat merusak hasil-hasil pembangunan dan menimbulkan korban jiw

f. Bencana Alam Gelombang Pasang


Selain rawan bencana gempa bumi, wilayah Kabupaten Buleleng juga
rawan bencana gelombang pasang, bahkan merupakan bencana yang paling
kerap menimpa Kabupaten Buleleng. Pada tahun 2010 gelombang pasang
terjadi pada beberapa wilayah pesisir Kabupaten Buleleng (Tabel BA-5A).
Bencana gelombang pasang terjadi Kecamatan Seririt, Buleleng, Sawan dan
Kubutambahan. Tidak ada korban jiwa, namun telah mengakibatkan kerugian
materi hingga Rp. 216.100.000,-.
Bencana Alam Gelombang Pasang, Korban, dan Kerugian di
Kabupaten Buleleng Tahun 2010

Jumlah Korban Meninggal Perkiraan Kerugian

N o . K e c a m a t a n

( j i w a )( R p . )

1 .G e r o k g a k0 -

2 .S e r i r i t0 52.500.000

3 .B u s u n g b i u0 -

4 .B a n j a r0 -

5 .S u k a s a d a0 -

6 .B u l e l e n g0 100.000.000

7 .S a w a n0 33.500.000

8 . K u b u t a m b a h a n0 30.100.000

9 .T e j a k u l a0 -

J u m l a h0 216.100.000

K e t e r a n g a n : -

Sumer : Dinas Sosial Kabupaten Buleleng (2010)

Ekosistem laut, pesisir dan pantai merupakan sumber daya yang sangat
penting untuk menopang kehidupan. Kabupaten Buleleng memiliki pantai
sepanjang 144 Km, sehingga pada radius 4 mil luas perairan laut adalah
1.166,75 Km2 membentang dari Barat ke Timur mulai dari Desa
Sumberkelampok di Kecamatan Gerokgak sampai Desa Tembok di Kecamatan
Tejakula (Diskanla, 2009). Hampir semua kecamatan memiliki pantai, kecuali
Kecamatan Busungbiu dan Sukasada. Kecamatan Gerokgak memiliki pantai
terpanjang, yaitu 72,40 Km, diikuti Kecamatan Tejakula sepanjang 19 Km,
kemudian Kecamatan Kubutambahan 16,6 Km, Kecamatan Buleleng 14 Km,
Kecamatan Seririt 10,20 Km, Kecamatan Banjar 6,60 Km, dan terahir
Kecamatan Sawan dengan pantai paling pendek, yaitu 5,20 Km (BPS
Kabupaten Buleleng, 2010).
Laut, pesisir dan pantai Kabupaten Buleleng memiliki: terumbu karang,
mangrove dan padang lamun. Pemanfaatan laut, pesisir dan pantai jangan
sampai merusak kekayaan ekosistem tersebut.
Pemantauan kualitas air laut tahun 2010 dilakukan pada lima lokasi, yaitu
Pantai Lovina, Pantai Pemuteran, Pantai Kampung Baru, Pantai Tembok, dan
Pantai Celukan Bawang. Hasil penilaian tersaji pada Tabel SD-18. Dari 18
parameter yang diuji, 4 parameter diantaranya menyimpang dari baku mutu air
laut (sebagai wisata bahari maupunbudidaya perikanan) sesuai Pergub Provinsi
Bali No. 8 Tahun 2007. Parameter dan lokasi sampling yang nilai parameternya
menyimpang itu adalah :
a. Nilai kecerahan di pantai Kampung Baru (0,5 M) menyimpang dari baku
mutu ( 6 M).
b. Nilai DO air laut di pantai Lovina (2,0 mg/l), pantai Kampung Baru (3,35
mg/l), dan pantai Tembok (3,95 mg/l) menyimpang dari nilai baku mutu
minimal 5 mg/l untuk wisata bahari dan 4 untuk budidaya perikanan.
c. Nilai PO4-P air laut di pantai Kampung Baru (0,3245 mg/l), pantai Tembok
(0,0725 mg/l) dan pantai Celukan Bawang (0,078 mg/l) melampaui nilai baku
mutu (0,015 mg/l).
d. Kadar deterjen air laut di pantai Kampung Baru (0,146 mg/l), pantai Tembok
(0,0365 mg/l) dan pantai Celukan Bawang (0,0475 mg/l) melampaui nilai baku
mutu sebesar 0,001 mg/l. Meskipun tidak bersifat toksik, keberadaan detergen
dapat menimbulkan rasa pada air dan dapat menurunkan absorbsi oksigen di
perairan.

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem spesifik, tempat hidup dan


berkembangnya berbagai makhluk hidup di pesisir pantai. Terumbu karang juga
sangat penting dalam menjaga ekosistem pantai secara keseluruhan. Keindahan
terumbu karang dengan berbagai jenis ikan hias yang ada merupakan modal bagi
daerah, seperti Kabupaten Buleleng dalam mengembangkan wisata pantai.
Terumbu karang di wilayah pesisir Kabupaten Buleleng menyebar hampir
sepanjang pantai pada 7 kecamatan yang memiliki pantai, mulai dari Desa
Tembok di ujung paling Timur sampai Desa Sumberkelampok di ujung Barat,
dengan luas tutupan sekitar 2.218,1 Ha. Kecamatan Gerokgak memiliki tutupan
terumbu karang terluas, yaitu 924,8 Ha (41,69%), diikuti Kecamatan Tejakula
912,3 Ha (41,13%). Tutupan terumbu karang paling sempit terdapat di
Kecamatan Kubutambahan, yaitu 20 Ha (0,9%).
Hasil evaluasi kondisi terumbu karang di Kabupaten Buleleng tahun 2010
(Tabel SD-19) menunjukkan, 40,67% dalam keadaan rusak berat dan 27,97%
rusak ringan. Terumbu karang yang kondisinya baik hanya 31,36%. Hal ini
meng-indikasikan, tekanan terhadap kelestarian terumbu karang di Kabupaten
Buleleng tergolong besar. Tekanan tersebut berasal dari alam maupun perilaku
manusia di laut maupun di darat yang kurang mem-perhatikan kelestarian
terumbu karang.

Luas Tutupan dan Kondisi Terumbu Karang di Kabupaten Buleleng Tahun 2010

Kecamatan Luas Tutupan P e r s e n t a s e L u a s T e r u m b u K a r a n g ( % )


No.
(di pesisir) ( H a ) Sangat Baik Baik S e d a n g * ) Rusak**)

1 . G e r o k g a k9 2 4 , 8 T i d a k a d a 3 5 , 8 92 9 , 9 03 4 , 2 1

2 . S e r i r i t1 1 0 , 4 T i d a k a d a 3 1 , 8 83 6 , 8 73 1 , 2 5

3 . B a n j a r9 5 , 7 T i d a k a d a 3 6 , 9 93 4 , 6 92 8 , 3 2

4 . B u l e l e n g9 8 , 7 T i d a k a d a 2 6 , 9 53 6 , 6 83 2 , 3 7

5 . S a w a n5 6 , 2 T i d a k a d a 2 9 , 1 84 0 , 0 43 0 , 7 8

6 . K u b u t a m b a h a n2 0 T i d a k a d a 2 0 , 0 04 5 , 0 03 5 , 0 0

7 . T e j a k u l a9 1 2 , 3 T i d a k a d a 2 6 , 9 92 2 , 1 75 0 , 8 4

J u m l a h2 . 2 1 8 , 1 T i d a k a d a 3 1 , 3 62 7 , 9 74 0 , 6 7
Keterangan : *) Rusak ringan; * * ) R u s a k B e r a t

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buleleng (2010)


4. Elemen elemen kerentanan dan kapasitas yang ada terkait dengan jenis
bencana yang sering terjadi di Pantai Lovina

1. Bahaya
Data bahaya merupakan ramuan paling penting dari suatu analisis resiko.
Tanpa adanya bahaya maka tidak ada resiko. Di Indonesia ada beberapa lembaga
pemerintahan yang diberi wewenang untuk mengeluarkan informasi bahaya.
Produk-produk umumnya menunjukan zona dengan intensitas berbeda atau
kemungkinan terjadi suatu bahaya. Peta bahaya dapat digunakan dalam berbagai
cara:
1) Sebagai informasi masyarakat tentang ancaman terhadap lingkungan hidupnya
2) Sebagai masukan untuk tata guna lahan, perencanaan strategi, dan bisnis
3) Sebagai dasar bagi insinyur sipil untuk membuat proyek bangunan dan
retrofitting (kode bangunan, kestabilan bukit) atau antara lain
4) Sebagai dasar bagi perusahaan asuransi untuk menghitung besarnya premi.
Praktisi analisis bahaya dan risiko biasanya membedakan antara peta rawan
dengan peta bahaya. Peta Rawan/Kerentanan memberi informasi spesial tentang
apakah suatu dataran rentan terjadi suatu bahaya. Istilah ini umum digunakan untuk
meneliti gerakan tanah/longsor. Tolok ukur statis seperti topografi/lereng, keadaan
tanah, dan curah hujan ratarata dapat digunakan untuk menghitung potensi
terjadinya gerakan tanah. Peta Bahaya juga mempertimbangkan kemungkinan
waktu terjadinya bahaya. Misalnya, peta tsunami biasanya dibuat berdasarkan luas
wilayah yang beresiko mengalami kerusakan akibat tsunami. Pada banyak kasus,
kemungkinan terulangnya suatu bahaya tidak dapat ditunjukkan dalam bentuk
angka. Interval pengulangan perlu diketahui, sehingga membutuhkan database
yang bagus dan menjangkau periode waktu yang lama. Perbedaan antara
istilahistilah ini agak rancu, jika informasi tentang bencana masa lalu, seperti
tsunami, gempa bumi,kebakaran dimasukkan dalam analisis untuk peta bahaya,
tanpa menghitung kemungkinan waktunya.

5. Gambaran risiko bencana yang ada di Pantai Lovina berdasarkan matrik


penilaian.
Tingkat risiko merupakan nilai yang dicari pada pemetaan risiko, yaitu seberapa
rendah, sedang atau tinggi risiko tersebut. Dengan mengetahui tingkat risiko pada
suatu daerah, akan dapat diperoleh gambaran seberapa besar risiko yang diperkirakan
akan dialami apabila terjadi bencana. Risiko merupakan fungsi dari Ancaman,
Kerentanan dan Kapasitas. Berikut ilustrasinya:
Semakin besar ancaman, maka tingkat risiko yang ditimbulkan juga akan semakin
besar. Semakin luas daerah genangan banjir menunjukkan tingkat risiko yang semakin
tinggi pula.
***
Semakin besar kerentanan, maka tingkat risiko yang ditimbulkan juga akan semakin
besar, karena semakin rentan suatu komunitas maka risiko timbulnya korban jiwa dan
kerugian materil juga akan semakin besar.
***
Semakin besar kapasitas, maka tingkat risiko akan semakin kecil, sebab semakin siap
sebuah komunitas dalam menghadapi bencana, maka kemungkinan timbulnya korban
jiwa maupun kerusakan materil akibat bencana juga akan semakin kecil.

Hubungan tersebut juga dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan matematis:

Risiko (R) = Ancaman (H) * Kerentanan (V)/Kapasitas(C)

dimana:
R : Disaster Risk : Risiko Bencana, potensi terjadinya kerugian
H : Hazard Threat : Ancaman bencana yang terjadi pada suatu lokasi.
V : Vulnerability : Kerentanan suatu daerah yang apabila terjadi bencana maka
akan menimbulkan kerugian
Coping Capacity : Kapasitas yang tersedia di daerah itu untuk melakukan
pencegahan atau pemulihan dari bencana.
Langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk menentukan penilaian risiko
diantaranya adalah pembuatan peta rawan, menetapkan jenis bahaya, menetapkan
variabel, penetapan cara penilaian, membuat matriks penilaian, melakukan penilaian
dan menetapkan hasil penilaian.
a. Pembuatan Peta Rawan
1) Ancaman
a) Melengkapi peta topografi (kota, sungai, danau, gunung berapi,
penambangan, pabrik, industry, dll)
b) Inventarisasi ancaman (banjir, gunung meletus, longsor, kebocoran pipa,
kecelakaan, transportasi, dll).
2) Kerentanan
Melengkapi peta rawan ancaman dengan kerentanan masyarakat:
a) Data demografi (jumlah bayi, balita, dll)
b) Sarana dan prasarana kesehatan (dokter, perawat, bidan, dll)
c) Data cakupan YANKES (imunisasi, KIA, gizi, dll)
b. Penetapan Jenis Bahaya
Penetapan jenis bahaya merupakan pengelompokan jenis bahaya yang dapat
dikelompokkan sebagai berikut :
1) Tsunami
2) Gempa bumi
3) Letusan gunung berapi
4) Angin Puyuh
5) Banjir
6) Tanah longsor
7) Kebakaran hutan
8) Kekeringan
9) KLB penyakit menular
10) Kecelakaan transportasi atau industry
11) Konflik dengan kekerasan

c. Penetapan Variabel
1) Karakteristik Bahaya
a) Frekuensi
Suatu bahaya/ancaman seberapa sering terjadi
b) Intensitas
Diukur dari kekuatan dan kecepatan secara kuantitatif/kualitatif

c) Dampak
Pengukuran seberapa besar akibat terhadap kehidupan rutin keluasan

d) Keluasan
Luasnya daerah yang terkena

e) Komponen uluran waktu


Rentang waktu peringatan gejala awal-hingga terjadinya dan lamanya
proses bencana berlangsung.

2) Kerentanan
a) Fisik
Kekuatan struktur bangunan fisik (lokasi, bentuk, material, kontruksi,
pemeliharaannya), dan system transportasi dan telekomunikasi (akses
jalan, sarana angkutan, jaringan komunikasi, dll)
b) Sosial
Meliputi unsure demografi (proporsi kelompok rentan, status kesehatan,
budaya, status sosek, dll)
c) Ekonomi
Meliputi dampak primer (kerugian langsung) dan sekunder (tidak
langsung)
3) Manajemen
a) Kebijakan
Telah ada/tidaknya kebijakkan, peraturan perundangan, Perda, Protap,dll
tentang penanggulangan bencana.

b) Kesiapsiagaan
Telah ada/tidaknya system peringatan dini, rencana tindak lanjut
termasuk pembiayaan

c) Peran serta masyarakat


Meliputi kesadaran dan kepedulian masyarakat akan bencana

d. Penetapan Cara Penilaian


1) Jenis bahaya/ ancaman
2) Penilaian sesuai dengan kelompok variable
3) Berdasarkan data, pengalaman dan taksiran
4) Saling terkait satu sama lain
5) Nilai berkisar antara 1 sampai 5
1 = tidak ada
2 = risiko rendah
3 = risiko sedang
4 = risiko tinggi
5 = risiko sangat tinggi

6) Untuk penilaian manajemen dinilai dengan skala :


1 = tidak ada
2 = kemampuan rendah
3 = kemampuan sedang
4 = kemampuan tinggi
5 = kemampuan sangat tinggi
a. Matriks Penilaian Risiko Bencana Pantai Lovina Kabupaten Buleleng

No V A R I A B E L T S U N A M I GEMPA BUMI ANGIN BADAI GELOMBANG PASANG


1 B AH A Y A
a. Frekuensi 1 3 3 3
b. Intensitas 1 3 3 3
c. Dampak 4 3 2 2
d. Keluasan 4 3 2 2
e.Uluran Waktu 4 3 2 2
T o t a l 1 4 1 5 1 1 2
2
2 KERENTANAN
a . F i s i k 5 5 3 4
b. Sosial 4 4 3 3
c. Ekonomi 4 4 3 3
T o t a l 9 9 9 1 0
3 MANAJEMEN
a. Kebijakan 3 3 3 3
b.Kesiapsiagaan 3 2 2 2
c . P S M 3 3 2 3
T o t a l 9 8 7 8
N I L A I 1 4 1 6 , 8 7 1 1 5
5
,
4
8
Melakukan Penilaian dan Menetapkan Hasil Penilaia
1) Masing-masing komponen yangada di beri nilai untuk masing-masing
jenis bahaya
2) Kemudian nilai tersebut dijumlahkan
a) Karakteristik bahaya, nilai dijumlah
b) Kerentanan, nilai dijumlah
c) Manajemen, nilai dijumlah
3) Setelah didapat nilai masing-masing variable, kemudian nilai tersebut
dijumlahkan(nilai karakteristik bahaya+ kerentanan +manajemen)
4) Ancaman/bencana (event) dengan nilai tertinggi merupakan yang harus
diprioritaskan
Dari tabel matrik diatas risiko bencana yang memiliki probabilitas terjadinya paling
tinggi menurut kelompok adalah gempa bumi karena letak pantai lovina berada di
kawasan yang terletak pada daerah pertemuan tiga lempeng, yaitu Lempeng Eurasia,
Lempeng Samudra Pasifik dan Lempeng India-Australia yang masing-masing
bergerak ke Barat dan ke Utara relatif terhadap Eurasia. Posisi ini yang menyebabkan
rawan terjadinya gempa tektonik.

6. Gambaran risiko bencana yang ada di Pantai Lovina berdasarkan scoring.

Sebagai langkah sederhana untuk pengkajian risiko adalah pengenalan bahaya/ancaman di


daerah yang bersangkutan. Semua bahaya/ancaman tersebut diinventarisasi, kemudian di
perkirakan kemungkinan terjadinya (probabilitasnya) dengan rincian :
1. 5 : Pasti (hampir dipastikan 80 - 99%).
2. 4 : Kemungkinan besar (60 80% terjadi tahun depan, atau sekali dalam 10 tahun mendatang)
3. 3 : Kemungkinan terjadi (40-60% terjadi tahun depan, atau sekali dalam 100 tahun)
4. 2 : Kemungkinan Kecil (20 40% dalam 100 tahun)
5. 1 : Kemungkian sangat kecil (hingga 20%).
Jika probabilitas di atas dilengkapi dengan perkiraan dampaknya apabila bencana itu memang
terjadi dengan pertimbangan faktor dampak antara lain: jumlah korban; kerugian harta
benda;kerusakan prasarana dan sarana;cakupan luas wilayah yang terkena bencana dampak sosial
ekonomi yang ditimbulkan, maka, jika dampak ini pun diberi bobot sebagai berikut:
1. 5 : Sangat Parah (80% - 99% wilayah hancur dan lumpuh total)
2. 4 : Parah (60 80% wilayah hancur)
3. 3 : Sedang (40 - 60 % wilayah terkena berusak)
4. 2 : Ringan (20 40% wilayah yang rusak)
5. 1 : Sangat Ringan (kurang dari 20% wilayah rusak).

Tabel Analisis Risiko Bencana Di Desa Songan Kecamatan Kintamani Bangli

NO JENIS ANCAMAN BAHAYA PROBABILITAS DAMPAK

1 Tsunami 4 4

2 Gempa Bumi 4 3

3 Gelombang Pasang 3 2

4 Angin Badai 3 2

Pemetaan Analisis Matriks Risiko Bencana Di Pantai Lovina Kabupaten Buleleng

1 2 3 4 5

Gempa Bumi Tsunami 4

Gelombang
3
Pasang

Angin Badai
2

1
Berdasarkan matriks diatas kita dapat memprioritaskan jenis ancaman bahaya yang
perlu ditangani. Ancaman dinilai tingkat bahayanya dengan skala (4-1) - Bahaya/ancaman
tinggi nilai 4 (merah) - Bahaya/ancaman sedang nilai 3 (kuning) - Bahaya/ancaman rendah
nilai 1(hijau).

7. Gambaran risiko bencana yang ada di Pantai Lovina berdasarkan pemetaan


wilayah risiko bencana.

8. Tindakan yang dapat dirancang utuk menangani risiko bencana yang


terdapat di Pantai Lovina
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
Untuk dapat melaksanakan tugas dalam penanganan bencana, perlu disiapkan dan
memahami Kebijakan Pemerintah daerah dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana
pada destinasi pariwisata untuk mengatur pengelolaan dan penanggulangan bencana,
serta penyediaan peralatan yang dapat dimanfaatkan untuk penanganan bencana sedini
mungkin.
Sebagai mahasiswa yg memiliki visi dan misi mengunggulkan keperawatan
pariwisata dan mengembangkan layanan keperawatan pariwisata maka kita sebaiknya
ikut berpartisipasi mengembangkan dan menjaga kualitas pariwista khususnya di Bali
dan tidak lupa mengajari masyarakat di daerah pariwisata untuk sigap jika terjadi
bencana.

DAFTAR PUSTAKA

Bagiada,Putu.2010. Buku laporan Status Lingkungan Hidup.Kab.Buleleng


(Online:Available)From:https://bulelengkab.go.id/assets/bankdata/BUKU%20L
APORAN%20SLHD%20TAHUN%202010_794024.pdf diakses tanggal 31
Mei 2017

PKPBM.2014. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Institut Pertanian


Bogor PKPBM Pembangunan Kawasan Pedesaan Berbasis Masyarakat
Buleleng (Online:Availabel) From http://psp3.ipb.ac.id/web/wp-
content/uploads/2014/09/401.pdf diakses tanggal 31 Mei 2017

DewataNews.2015. Kawasan Pantai Lovina. (Obline:Available) From


http://http//www.dewatanews.com/2015/11/kawasan-pantai-lovina-
dengan.html#ixzz4ioMYklWE diakses tanggal 31 Mei 2017