You are on page 1of 12

A.

BIOMEKANIK

Vertebra Lumbalis

Verterbra lumbalis terbentuk dari 5 ruas tulang vertebra,

merupakan vertebra terpanjang dan terkuat. Bagian ini (L1-L5) merupakan

bagian paling tegap konstruksinya dan menanggung beban terberat dari

yang lainnya. Bagian ini memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi tubuh,

dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil.

Gerakan yang terjadi pada regio lumbal meliputi fleksi-ekstensi,

yang mempunyai luas gerak sendi sebesar 20/35 0 40/60 pada bidang

sagital posisi pasien berdiri anatomis. Pada gerak fleksi terjadi slide ke

anterior dari korpus vertebra sehingga terjadi penyempitan pada diskus

intervertebralis bagian anterior dan meluas pada bagian posterior. Gerak

lateral fleksi yang mempunyai luas gerak sendi sebesar 15/20 0 15/20

pada bidang frontal posisi pasien berdiri anatomis. Pada gerak lateral

fleksi, korpus pada sisi ipsilateral saling mendekat dan saling melebar pada

sisi kontralateral. Gerak rotasi yang mempunyai luas gerak sendi sebesar

45 0 45 pada bidang transversal, posisi pasien duduk anatomis dimana

gerak rotasi ini daerah lumbal hanya 2 derajat persegmen karena dibatasi

oleh sendi faset (Hall, 1953).

Mekanika columna vertebralis netral didefinisikan sebagai adanya

lordosis servikal dan lumbal yang normal dan kifosis torakal dan sakral.

Frytte dan Greenman menyatakan mekanika normal adalah saat sendi

faset tidak bekerja. Pada kondisi ini, gerakan lateral fleksi pada columna

vertebralis akan menghasilkan rotasi pada sisi yang berlawanan. Hal ini

dikenal dengan mekanika tipe 1 dan terjadi di regio torakal dan lumbal.
Jika gerakan fleksi atau ekstensi dilakukan pada region tersebut, sendi

faset akan bekerja dan akan mengontrol pergerakan vertebra. Pada saat

demikian, lateral fleksi dan rotasi berada pada satu sisi. Hal ini dinamakan

mekanika tipe 2 atau mekanika non-netral dan terjadi di regio torakal atau

lumbal saat fleksi atau ekstensi (Moore,1999; Seeley, 2003; Carola, 1990

dikutip oleh Yanuar, 2002).

Corpus tiap vertebra lumbalis bersifat massif dan berbentuk ginjal.

Pediculus kuat dan mengarah ke belakang. Laminae tebal, dan foramen

vertebrale berbentuk segitiga. Processus transversus panjang dan

langsing. Processus spinosus pendek, rata, dan berbentuk segiempat dan

terjalur lurus ke belakang. Facies articularis spinosus articularis superior

menghadap ke medial, dan facies processus articularis inferior menghadap

ke lateral. Vertebra lumbalis tidak mempunyai facies articularis dengan

costae dan tanpa foramen processus transversi

B. Anatomi Vertebra Lumbal

Vertebra lumbal atau tulang pinggang merupakan bagian dari

kolumna vertebralis yang terdiri dari lima ruas tulang dengan ukuran

ruasnya lebih besar dibandingkan dengan ruas tulang leher maupun tulang

punggung. Dibagian atas tulang lumbal terdapat tulang punggung, yang

pesendiannya disebut thoraco lumbal joint atau articulatio thoraco

lumbalis. Dibagian bawah tulang lumbal terdapat tulang sacrum dan

persendiannya disebut lumbo sacral joint atau articulatio lumbo sacralis (

Pearce C. Evelyn, 2000:58).

Vertebra lumbal adalah satu dari lima rangkaian kolumna vertebralis

yang terletak pada pertengahan tubuh bagian posterior. Pada umumnya


vertebra lumbalis mempunyai bentuk melengkung ke arah depan atau

disebut juga lordosis.

Dilihat dari lengkungannya vertebra lumbal termasuk kedalam

vertebra sekunder, karena lengkungan dari vertebra lumbal tumbuh

setelah lahir, yaitu pada saat seorang anak belajar berjalan pada usia satu

sampai satu setengah tahun (Ballinger W. Philip, 1995).

Vertebra lumbalis terdiri atas lima ruas tulang yang tersusun

memanjang ke arah bawah. Ruas-ruas vertebra lumbalis tersebut lebih

besar dari ruas vertebrae torakalis dan dapat dibedakan oleh karena tidak

adanya bidang untuk persendian dengan iga. Diantara rua-ruas vertebra

lumbalis tersebut terdapat penengah ruas tulang yang terdiri atau

tersusun dari tulang muda yang tebal dan erat, berbentuk seperti cincin

yang memungkinkan terjadinya pergerakan antara ruas-ruas tulang yang

letaknya sangat berdekatan. Bagian atas dari vertebra lumbalis

berbatasan dengan vertebra torakalis 12 dan pada bagian bawahnya

berbatasan dengan vertebra sakralis. Oleh karena tugasnya menyangga

bagian atas tubuh, maka bentuk dari vertebra lumbalis ini besar-besar dan

kuat.

C. Vertebra lumbalis memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Korpusnya besar, tebal dan berbentuk oval.

Mempunyai pedikel yang pendek dan tebal.

Foramen Intervertebralisnya kecil dan bentuknya menyerupai

segitiga.

Processus spinosusnya tebal dan luas serta arahnya agak

horizontal.

Processus transversusnya panjang dan tipis.

D. Bagian-bagian dari vertebra lumbal :

1. Korpus
Vertebra lumbal mempunyai korpus yang tebal, besar dan

berbentuk lonjong (oval) dengan garis poros yang terletak

transversal. Ukurannya lebih besar dari korpus pada servikal atau

daerah torakal dan pada bagian anterior sedikit lebih tinggi

dibanding dengan bagian posterior. Korpus vertebra lumbalis

mempunyai bentuk silinder, sehingga dapat berfungsi sebagai

penyangga dan pelindung dari bagian foramen intervertebralis.

2. Arkus

Arkus terletak pada bagian posterior dan dibentuk oleh dua

pedikel dan dua lamina. Pada bagian ini pedikelnya pendek tetapi

lebih tebal dan laminanya lebih besar yang mengarah ke belakang

dan ke tengah. Antara korpus vertebra dengan arkus vertebra

lumbalis berfungsi untuk menyokong prosessus spinosus yang

arahnya ke belakang, prosessus transversus yang arahnya ke

samping dan prosessus artikularis superior dan inferior.

3. Pedikel

Pedikel mempunyai dua buah tulang yang pendek dan kuat.

Timbul dari bagian atas korpus, sehingga cekungan insisura

vertebralis inferior yang terletak pada bagian bawah lebih dalam

dari cekungan insisura vertebralis superior yang letaknya pada

bagian atas dan keduanya akan membentuk foramen

intervertebralis yang merupakan bagian dari tempat keluarnya

sumsum saraf.

4. Lamina Arkus Vertebra

Lamina arkus vertebra merupakan susunan dari dua buah

tulang yang bentuknya berasal dari ujung pedikel.

5. Prosessus Spinosus
Vertebra lumbalis mempunyai bentuk prosessus spinosus yang

lebar dan besar, tumpul serta mendatar ke arah belakang dan

berbentuk persegi atau seperti kapak kecil dan lebih kecil pada

bagian vertebra lumbalis ke lima.

6. Prosessus Transversus

Prosessus transversus tipis dan mengarah ke belakang dan ke

samping. Prosessus transversus lumbal ketiga adalah yang

terpanjang, sedangkan prosessus transversus vertebra kelima lebih

pendek dan lebih tipis dari ruas yang lainnya. Pada bagian belakang

dari batas bawah pada setiap prosessus transversus dan dekat

korpusnya terdapat tonjolan tulang yang disebut prosessus

asesoris.

7. Prosessus Artikularis

Prosessus artikularis terletak pada bagian sisi dari persambungan

antara pedikel dengan lamina. Permukaan atasnya cekung dan mengarah ke

depan dan ke tengah. Fasies artikularis inferior bentuknya cembung dan

mengarah ke depan serta ke sisi samping. Ketika vertebra saling

bersambungan, maka fasies artikularis inferior berada di atas fasies

artikularis superior dari bagian bawah vertebra. Prosessus artikularis ini

berperan dalam pembentukan diskus artikularis yang membagi prosessus

artikularis menjadi prosessus artikularis inferior dan superior. Pada

bagian dari prosessus artikularis superior terdapat tonjolan tulang pada

permukaan belakangnya yang disebut prosessus mammilaris.


Ligamen-ligamen yang memperkuat persendian di kolumna vertebralis regio

lumbal adalah :

a. Ligamen flavum

Ligamen flavum merupakan ligamen yang menghubungkan lamina dari dua arkus

vertebra yang berdekatan. Ligamen ini panjang, tipis dan lebar diregio servikal,

lebih tebal di regio torakal dan paling tebal di regio lumbal. Ligamen ini mencegah

terpisahnya lamina arkus vertebralis dan juga mencegah terjadinya cidera di

diskus intervertebralis. Ligamen flavum yang kuat dan elastis membantu

mempertahankan kurvatura kolumna vertebralis dan membantu menegakkan

kembali kolumna veretbralis setelah posisi fleksi (Yanuar, 2002).

b. Ligamen interspinosus

Ligamen interspinosus merupakan ligamen yang menghubungkan prossesus

spinosus mulai dari basis hingga apex, merupakan ligamen yang lemah hampir

menyerupai membran (Yanuar, 2002)

c. Ligamen intertranversus

Ligamen intertranversus adalah ligamen yang menghubungkan prossesus

tranversus yang berdekatan. Ligamen ini di daerah lumbal tipis dan bersifat

membranosa (Yanuar, 2002).

d. Ligamen supraspinosus

Ligamen supraspinosus menghubungkan prosesus spinosus di

daerah apex vertebra servikal ke 7 (VC7) sampai dengan sakrum. Ligamen ini

dibagian kranial bergabung dengan ligamen nuchae. Ligamen supraspinosus ini

kuat, menyerupai tali (Yanuar, 2002).


Otot punggung bawah dikelompokkan kesesuai dengan fungsi gerakannya. Otot

yang berfungsi mempertahankan posisi tubuh tetap tegak dan secara aktif

mengekstensikan vertebrae lumbalis adalah : m. quadraus lumborum, m.

sacrospinalis, m. intertransversarii dan m. interspinalis. Otot fleksor lumbalis

adalah muskulus abdominalis mencakup : m. obliqus eksternus abdominis, m.

internus abdominis, m. transversalis abdominis dan m. rectus abdominis, m. psoas

mayor dan m. psoas minor. Otot latero fleksi lumbalis adalah m. quadratus

lumborum, m. psoas mayor dan minor, kelompok m. abdominis dan m.

Intertransversarii. Jadi dengan melihat fungsi otot punggung di bawah berfungsi

menggerakkan punggung bawah dan membantu mempertahankan posisi tubuh

berdiri (Kuntono, 2007).

Otot-otot Penggerak Vertebrae Lumbalis

Gerakan Otot yang bekerja Innervasi

Fleksi 1. Psoas major L1 L3

2. Rectus abdominis T6 T12

3. External abdominal oblique


T7 T12
4. Internal abdominal oblique

5. Transversus abdominis T7 L1

6. Intertransversarii
T7 L1
L1 L5

Ekstensi 1. Latissimus dorsi Thoracodorsal

(C6 C8)

1. Erector spine iliocostalis L1 L3

lumborum
L1 L3
2. Erector spine longissimus

thoracis L1 L3

3. Transversospinalis
L1 L5
4. Interspinalis

5. Quadratus lumborum L1 L5

6. Multifidus T12 L4
7. Rotatores
L1 L5
8. Gluteus maximus

L1- L5

Lateral fleksi 1. Latissimus dorsi Thoracodorsal

(C6 C8)

1. Erector spine iliocostalis L1 L3

lumborum
L1 L3
2. Erector spine longissimus

thoracis L1 L5

3. Transversalis
L1 L5
4. Intertransversarii

5. Quadratus lumborum T12 L4

6. Psoas major L1 L3
7. External abdominal oblique
T7 T12

Rotasi 1. Transversalia L1 L5

2. Rotatores L1 L5

3. Multifidus
L1 L5

Sumber: Magge, D.J., 2000, Orthopedic Physical Assessment, Edisi 4, W.B.

Saunders Co., Philadelphia.

E. Fisiologi Vertebra Lumbalis

Vertebra lumbalis merupakan bagian dari kolumna vertebralis, sehingga

fungsi dari vertebra lumbalis tidak terlepas dari fungsi kolumna vertebralis

secara keseluruhan.

Sesuai dengan anatomi vertebra lumbalis yang mempunyai bentuk yang

besar dan kuat, maka fungsi vertebra lumbalis adalah :

1. Menyangga tubuh bagian atas dengan perantaraan tulang rawan yaitu diskus

intervertebralis yag lengkungannya dapat memberikan fleksibilitas yang dapat

memugkinkan membungkuk ke arah depan (fleksi) dan kearah belakang (ekstensi),

miring ke kiri dan ke kanan pada vertebra lumbalis.


2. Diskus intervertebralisnya dapat menyerap setiap goncangan yang terjadi bila

sedang menggerakkan berat badan seperti berlari dan melompat.

3. Melindungi otak dan sumsun tulang belakang dari goncangan.

4. Melindungi saraf tulang belakang dari tekanan-tekanan akibat melesetnya

nukleus pulposus pada diskus intervertebralis. Namun apabila annulus fibrosus

mengalami kerusakan, maka nukleus pulposusnya dapat meleset dan dapat

meyebabkan penekanan pada akar saraf disekitarnya yang menimbulkan rasa

sakit dan ada kalanya kehilangan kekuatan pada daerah distribusi dari saraf yang

terkena.

F. Patologi Vertebra Lumbalis

1. Spondilosis

Spondilosis adalah penyakit degeneratif tulang belakang. Bila usia

bertambah, maka akan terjadi perubahan degeneratif pada tulang belakang, yang

terdiri dari dehidrasi dan kolaps nucleus pulposus serta penonjolan kesemua arah

dari annulus fibrosa. Annulus mengalami kalsifikasi dan perubahan hipertropik

terjadi pada pinggir tulang korpus vertebra, membentuk osteofit atau spur atau

taji. Dengan penyempitan rongga intervertebra, diskus intervertebralis dapat

mengalami subluksasi dan menyempitnya foramen intervertebralis yang dapat

juga ditimbulkan oleh osteofit.

2. Spondilolisthesis

Spondilolisthesis adalah pergeseran ke arah depan dari satu korpus

vertebra terhadap korpus vertebra di bawahnya. Hal ini sering terjadi pada

spondilosis yaitu suatu keadaan dimana bagian posterior unit verebra menjadi

terpisah, menyebabkan hilangnya kontinuitas antara prosessus artikularis

superior dan inferior. Spondilolisthesis diduga disebabkan oleh fraktur arkus


neural segera setelah lahir, walaupun ini jarang simtomatis sampai dewasa, usia

rata-rata pasien yang mencari pengobatan adalah 35 tahun. Lokasi yang paling

sering terjadi adalah vertebra lumbal terakhir (L5) yang mengalami subluksasi

terhadap sakrum.

https://griyodemak.wordpress.com/teknik-radiofrafi/

Defenisi

A. Thoraco lumbar junction

Merupakan daerah perbatasan fungsi antara lumbar dengan thorac spine

dimana th12 arah superior facet pada bidang frontalis dg gerak terbatas,

sedang arah inferior facet pada bidang sagital gerakan utamanya flexion-

extension yg luas. Pada gerak lumbar spine memaksa th12 hingga Th10

mengikuti. Pada atlit senam pada daerah ini dapat mencapai ROM fleksi

550 dan ekstensi 250

B. Lumbar spine

Vertebra lumbalis lebih besar dan tebal membentuk kurva lordosis

dengan puncak L3-4 sebesar 24 cm, menerima beban sangat besar dalam

bentuk kompresi maupun momen.

Stabilitas dan gerakannya ditentukan oleh facets, discus, ligamenta

dan otot disamping corpus itu sendiri

C. Lumbosacral.

L5-S1 merupakan daerah yg menerima beban sangat berat

mengingat lumbale mempunyai gerak yang luas sementara sacrum rigid.


Akibatnya menerima beban gerakan dan berat badan paling besar pada

lumbale.

http://slideplayer.info/slide/3050049/