You are on page 1of 88

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN


KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA IBU H
(88 TAHUN) DENGAN MASALAH KERUSAKAN MEMORI DI
WISMA CEMPAKA SASANA TRESNA WERDHA
KARYA BHAKTI CIBUBUR

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

ASTY NOFIKA UTAMI


0806456953

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI KEPERAWATAN
DEPOK
JULI 2013
UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN


KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA IBU H (88
TAHUN) DENGAN MASALAH KERUSAKAN MEMORI DI
WISMA CEMPAKA SASANA TRESNA WERDHA
KARYA BHAKTI CIBUBUR

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

ASTY NOFIKA UTAMI


0806456953

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI KEPERAWATAN
DEPOK
JULI 2013
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS

Karya ilmiah akhir ners ini adalah hasil karya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah penulis nyatakan dengan benar.

Nama : Asty Nofika Utami

NPM : 0806456953

Tanda Tangan :

Tanggal : 08 Juli 2012

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Karya Ilmiah Akhir Ners ini diajukan oleh:


Nama : Asty Nofika Utami
NPM : 0806456953
Program Studi : Profesi Keperawatan
Judul Karya Ilmiah Akhir : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan
Masyarakat Perkotaan pada Ibu H (88 tahun)
dengan Masalah Kerusakan Memori di Wisma
Cempaka Sasana TresnaWerdha Karya Bhakti
Cibubur

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners
Keperawatan pada Program Profesi Keperawatan, Fakultas Ilmu
Keperawatan, Universitas Indonesia

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Ns. Dwi Nurviyandari K.W., S.Kep., MN.

Penguji : Ns. Ibnu Abas, S.Kep.

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 08 Juli 2012

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
rahmat dan karunia-Nya, penyusun dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ini
tepat pada waktunya. Penulisan karya ilmiah akhir ini ini dilakukan dalam rangka
memenuhi tugas akhir mata ajar karya ilmiah akhir ners. Saya menyadari bahwa
tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sampai penyusunannya,
sangatlah tidak mudah bagi saya untuk menyelesaikan karya ilmiah akhir ini. Oleh
karena itu, pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan rasa terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dwi Nurviyandari K.W, S.Kep., MN, selaku dosen pembimbing yang
telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan saya
dalam penyusunan KIAN ini, serta yang telah meminjamkan referensi yang
sangat luar biasa informasinya dan bagus dalam penyusunan KIAN ini;
2. Bapak Ns. Ibnu Abas, S.Kep, selaku pembimbing lapangan yang telah
menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan dan
memberikan informasi terkait masalah yang sering terjadi pada lanjut usia
serta pemeriksaan yang terkait;
3. Seluruh Pihak Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Cibubur yang telah
memberikan kesempatan untuk melakukan asuhan keperawatan kepada
lanjut usia;
4. Keluarga saya yang selalu setia memberikan bantuan luar biasa baik secara
moril terlebih dalam hal materil yaitu Bapak, Ibu dan Mas Rio;
5. Teman-teman peminatan profesi keperawatan gerontik yang telah
memberikan banyak pengalaman bersama kalian dan informasi mengenai
penyusunan KIA ini;
6. Dara Malahayati, Fallah Adi Wijayanti dan Rizki Dwi Asmaranti, selaku
sahabat saya yang telah memberikan semangat dan motivasi kepada saya
dan memberikan masukan kepada saya;
7. Teman-teman FIK UI reguler angkatan 2008 yang sedang mengerjakan KIA
dan telah memberikan semangat kepada saya;

iv
8. Seluruh pihak yang telah membantu saya dari awal sampai akhir
penyelesaian KIA ini sehingga semua proses dapat saya jalani.
Saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan karya ilmiah akhir ini. Semoga karya
ilmiah akhir ini di terima dan bermanfaat bagi perkembangan dan pelayanan
kesehatan khususnya asuhan keperawatan gerontik.

Depok, Juli 2012


Penulis

v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama : Asty Nofika Utami


NPM : 0806456953
Program Studi : Profesi Keperawatan
Fakultas : Fakultas Ilmu Keperawatan
Jenis karya : Karya Ilmiah Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul Analisis Praktik Klinik
Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Ibu H (88 tahun) dengan
Masalah Kerusakan Memori di Wisma Cempaka Sasana Tresna Werdha Karya
Bhakti Cibubur.

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihkan/
formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan
mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/ pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 08 Juli 2013
Yang Menyatakan

( Asty Nofika Utami)


vi
ABSTRAK

Nama : Asty Nofika Utami


Program Studi : Profesi Keperawatan
Judul : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Perkotaan pada Ibu H (88 tahun) dengan Masalah Kerusakan
Memori di Wisma Cempaka Sasana Tresna Werdha Karya
Bhakti Cibubur.

Perubahan Psikososial pada lanjut usia salah satunya yaitu gangguan kognitif.
Kerusakan Memori merupakan salah satu gejala yang dialami oleh penderita
demensia. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan
memori dengan stimulasi terapi kognitif, meliputi orientasi realita, terapi gambar,
terapi ingatan dan terapi aktivitas. Penulisan ini bertujuan memaparkan hasil
asuhan keperawatan pada ibu H di Wisma Cempaka STW Karya Bhakti. Hasil
yang didapatkan menunjukkan bahwa residen mampu menyebutkan nama hari,
dan bulan, mampu mengingat individu dari ciri-ciri yang digunakan, mampu
menjelaskan maksud gambar yang diperlihatkan, mampu menjelaskan objek yang
ditunjuk dan residen terlihat nyaman setelah melakukan terapi aktivitas. Stimulasi
terapi kognitif ini dapat membantu untuk meningkatkan fungsi kognitif walaupun
tidak semua dapat diingat. Stimulasi terapi kognitif seharusnya dilakukan secara
teratur untuk mencegah perkembangan lebih lanjut dari gangguan memori pada
lansia dengan demensia.

Kata Kunci:
Demensia, Kerusakan Memori, Stimulasi Terapi Kognitif

vii Universitas Indonesia


ABSTRACT

Name : Asty Nofika Utami


Study Program : Nursing Profession
Title : Analysis of clinical practice public health nursing in urban on
Mrs. H (88 years old) with impaired memory in Wisma Cempaka
Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Cibubur

One of psychosocial changes in elderly people is memory impairment. Impaired


memory is one of the symptoms from dementia people. One of way to prevent
impaired memory is stimulation cognitive therapy including reality orientation,
art therapy, reminiscence therapy, and activity therapy. The aim of this paper was
to describe the result of nursing care plan to Mrs. H in Wisma Cempaka Sasana
Tresna Werdha Karya Bhakti Cibubur. The result show resident could recall
name of day and month, remember other people from characteristic, explain
picture, explain object, and feel comfortable after activity therapy. Stimulation
cognitive therapy can help to increase cognitive function although not all can
remember. Stimulation cognitive therapy should be done regularly to prevent
further development of memory impairment on elderly people with dementia.

Key Words:
Dementia, Impaired memory, Cognitive Stimulation Therapy

viii Universitas Indonesia


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ........................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... . iii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.................. . vi
ABSTRAK....................................................................................................... vii
ABSTRACT.................................................................................................... . viii
DAFTAR ISI ............................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN . xi

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................. 4
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................. 5
1.3.1 Tujuan umum ................................................................ 5
1.3.2 Tujuan khusus ............................................................... 5
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia ......................... 5
1.4.2 Bagi Pendidikan ............................................................ 6
1.4.3 Bagi Penelitian Keperawatan......................................... 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kebutuhan Dasar Manusia ........................................................ 7
2.2 Demensia ................................................................................. 8
2.2.1 Pengertian Demensia ..................................................... 8
2.2.2 Klasifikasi Demensia .................................................... 9
2.2.3 Tahapan Demensia ........................................................ 10
2.2.4 Penatalaksanaan Demensia ............................................ 12
2.2.4.1 Stimulasi Terapi Kognitif 14
2.3 Pelayanan Kesehatan Pada Lanjut Usia ..................................... 16

BAB 3 LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA


3.1 Pengkajian ................................................................................ 20
3.1.1 Indentitas Residen ........................................................ 20
3.1.2 Riwayat Kesehatan Residen .......................................... 21
3.1.3 Kebiasaan Sehari-hari Residen ...................................... 22
3.1.4 Pemeriksaan Fisik dan Penunjang ................................ 23
3.2 Analisis Data ............................................................................ 24
3.3 Diagnosa Keperawatan................................................................... 25
3.4 Rencana Keperawatan............................................................... 26
3.5 Implementasi ........................................................................... 27
3.5.1 Implementasi Kerusakan Memori .................................. 28
3.5.2 Implementasi Defisi Perawatan Diri; Mandi ................. 31
3.5.3 Implementasi Risiko Jatuh ........................................... 31

ix Universitas Indonesia
3.6 Evaluasi .................................................................................... 33

BAB 4 ANALISIS SITUASI


4.1 Analisis Profil Pelayanan Sasana Tresna Werdha .................. 39
4.2 Analisis Asuhan Keperawatan Kerusakan Memori dengan
Penatalaksanaan Demensia .................................................... 43
4.3 Analisis Intervensi Stimulasi Kognitif dengan Konsep dan
Penelitian Terkait ................................................................... 45
4.4 Alternative Intervensi Lain..................................................... 48

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan ................................................................................. 50
5.2 Saran ...................................................................................... 50

DAFTAR REFERENSI

x Universitas Indonesia
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Analisa Data


Lampiran 2 Rencana Asuhan Keperawatan Kerusakan Memori
Lampiran 3 Rencana Asuhan Keperawatan Defisit Perawatan Diri; Mandi
Lampiran 4 Rencana Asuhan Keperawatan Risiko Jatuh
Lampiran 5 Lembar Hasil Pemeriksaan MMSE
Lampiran 6 Lembar Hasil Pemeriksaan CDR
Lampiran 7 Lembar Hasil Pemeriksaan FMS
Lampiran 8 Lembar Hasil Pemeriksaan BBT
Lampiran 9 Lembar Hasil Pemeriksaan GDS
Lampiran 10 Lembar Hasil Indeks Katz (Tingkat Kemandirian)
Lampiran 11 Daftar Riwayat Hidup

xi Universitas Indonesia
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses menua dapat mempengaruhi segala macam aspek kehidupan, baik sosial,
ekonomi, maupun kesehatan lanjut usia itu sendiri. Dengan peningkatan usia
tersebut maka lanjut usia mengalami perubahan organ tubuh, baik penurunan
fisiologis, psikososial dan spiritual. Perubahan Psikososial oleh lanjut usia salah
satunya yaitu gangguan kognitif seperti memori, orientasi, rasa hati dan
pembentukan pikiran konseptual. Gangguan atau kerusakan fungsi kognitif yang
umum terjadi pada lanjut usia dikenal dengan demensia (Stanley & Beare, 2002).
Data survei dari WHO didapatkan bahwa jumlah penderita demensia di seluruh
dunia diperkirakan akan naik dua kali lipat menjadi 65,7 miliar pada tahun 2030
dan tahun 2050 kemungkinan akan meningkat hingga 70 % di atas jumlah
penderita saat ini yakni 35,6 milliar (Destriyana, 2012).

Demensia merupakan kondisi dimana seseorang mengalami gejala penurunan


fungsi intelektual, umumnya ditandai dengan penurunan bahasa, memori,
visuospasial, dan emosional (Mace, Nancy L., Rabinds, Peter V, 2006). Di
Indonesia, prevalensi demensia pada lanjut usia yang berumur 65 tahun adalah 5
persen dari populasi lansia. Prevalensi ini akan meningkat menjadi 20 persen
pada lansia berumur 85 tahun ke atas. Penduduk yang berumur 65 tahun ke atas
pada tahun 2000 sebanyak 11,28 juta. Jumlah tersebut diperkirakan akan
meningkat menjadi 29 juta jiwa pada 2010 atau 10 persen dari populasi penduduk
(Amirullah, 2011). Gangguan atau kerusakan kognitif dapat menimbulkan
dampak pada kehidupan lanjut usia, diantaranya yaitu aktivitas dan komunikasi.

Gangguan kognitif berupa dimensia dapat berakibat pada kehidupan lansia dari
berbagai aspek, diantaranya yaitu berhubungan dengan lingkungan, dalam
menerima informasi dan dalam mengingat sesuatu (Stanley & Beare, 2002).
Penurunan fungsi kognitif ini dapat mengakibatkan masalah antara lain memori
jangka panjang dan memori jangka pendek. Nugroho (2008) menyebutkan resiko

1 Universitas Indonesia
2

dari penyakit ini adalah usia, riwayat penyakit, jenis kelamin, penggunaan obat,
aktivitas fisik, kurangnya dukungan keluarga serta pendidikan. Stres dan depresi
juga salah satu faktor resiko yang mempengaruhi memori individu sehingga
individu tersebut mengalami gangguan kognitif (Wade & Travris, 2007).

Stres dan aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu
fungsi memori atau kognitif individu. Kawasan perkotaan merupakan kawasan
dengan aktivitas fisik yang sangat tinggi dan banyak sehingga individu
mendapatkan stressor yang membuat stres. Namun, lansia saat ini sangat kurang
dalam melakukan aktivitas. Lubis (2009) menyatakan bahwa lansia berada pada
tahap perkembangan emosi yang mempunyai masalah seperti masalah kesehatan,
dan kesepian karena anak-anak tidak mempunyai waktu untuk mengurusnya yang
akhirnya ditempatkan di panti werdha dan memicu terjadinya stres bahkan
depresi. Yaffe (2001) mengatakan bahwa usia lanjut yang mengalami kesulitan
melakukan pergerakan fisik atau gangguan gerak sehingga terjadi perbedaan
dalam jumlah skor fungsi kognitif. Survei Depsos (2007) menunjukkan bahwa
jumlah penduduk lansia yang tinggal di perkotaan diperkirakan sebesar 9,58%
dari total jumlah lansia. Survei Festi (2010) didapatkan bahwa di Panti Werdha
yaitu Karang Wherda peneleh Surabaya dengan 10 responden, didapatkan hasil
sebanyak 30% dengan kognitif yang bagus dan 70% pada responden yang
mengalami penurunan atau kerusakan kognitif.

Panti werdha merupakan suatau lembaga pelayanan yang didirikan untuk


meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memenuhi kebutuhan hidupnya
secara mandiri (Kemensos, 2012). Panti werdha merupakan tempat tinggal khusus
untuk lansia yang terdapat di tengah perkotaan yang umumnya memiliki fasilitas
pelayanan kesehatan, kenyamanan dan keamanan demi meningkatkan
kesejahteraan lanjut usia. Jakarta memiliki panti werdha yang cukup banyak, salah
satunya yaitu Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti yang berlokasi di daerah
Cibubur.

Universitas Indonesia
3

Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan


bagi penghuninya. Sasana tresna werdha memiliki sarana tersendiri bagi lansia
yang sakit dan lansia yang ingin memeriksakan kondisi kesehatannya kepada
tenaga kesehatan. Selain itu, penghuni STW juga disediakan fasilitas untuk
memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit sehingga lansia tersebut dapat
mengetahui kondisi kesehatannya secara lengkap. Sasana Tresna Werdha Karya
Bhakti juga memiliki program kegiatan yang dapat diikuti oleh seluruh penghuni
STW diantaranya senam, terapi musik, berlatih angklung, dan aktivitas lainnya.
Senam yang diadakan STW tersebut salah satunya yaitu senam GLO (gerak latih
otak) yang melatih fungsi otak untuk membantu meningkatakan fungsi kognitif.

Ibu H (88 tahun) merupakan residen yang mengalami penurunan kognitif di


Wisma Cempaka STW Karya Bhakti. Hasil wawancara dengan perawat WK
didapatkan residen memiliki masalah gangguan kognitif sejak sebelum masuk ke
STW Karya Bhakti sekitar tahun 2008 tetapi tidak separah seperti sekarang ini.
Salah satu penyebab dari kasus demensia di wisma Cempaka tersebut yaitu
adanya penurunan fungsi kognitif. Data pengkajian MMSE ditemukan bahwa
hasil dari ibu H (88 tahun) yaitu 14. Hal tersebut menyatakan bahwa residen
tersebut mengalami gangguan kognitif. Dari aktifitas residen juga terlihat bahwa
residen terlihat bingung dan sering menanyakan tanggal dan waktu, serta sering
berulang-ulang menanyakan hal yang sama serta benda (anomia), kemampuan
mengenali objek yang umum. Hal tersebut membuat lansia yang terdapat STW
mengalami gangguan dalam aktivitas harian.

Sasana tresna werdha memiliki program kegiatan untuk membantu melakukan


latihan senam otak dalam upaya mencegah terjadi gangguan kognitif. Gangguan
kognitif yang dialami ibu H telah mendapatkan penanganan dengan memberikan
latihan senam GLO dan pemberian kalender pada setiap kamar residen dan
ruangan yang terdapat di wisma Cempaka, akan tetapi ternyata masih kurang
efektif bagi Ibu H karena setelah di observasi Ibu H tidak mengikuti dengan benar
dan kalender yang terdapat di kamar tidak di evaluasi oleh perawat atau PJ wisma
sehingga kalender tersebut jarang di ganti atau dirobek. Lansia di STW Karya

Universitas Indonesia
4

Bhakti yang mengalami gangguan kognitif belum ada yang melakukan


penanganan khusus terkait masalah tersebut. Gangguan kognitif pada lansia
merupakan suatu hal yang memerlukan penanganan karena mempengaruhi
aktivitas harian lansia (Nugroho, 2008).

Penanganan gangguan kognitif diawali dengan melakukan suatu pengkajian


secara lengkap kepada lansia sampai ditemukannya rencana intervensi
keperawatan. Intervensi keperawatan yang dilakukan dengan masalah gangguan
kognitif yaitu dengan melakukan stimulasi kognitif. Stimulasi atau terapi kognitif
adalah upaya untuk mengoptimalkan kualitas kesehatan inteligensi pada penderita
gangguan otak, saraf dan otot yang dilakukan melalui stimulasi atau latihan agar
memiliki atau meningkatkan kemampuan inteligensi (Depkes, 2010). Terdapat
beberapa metode stimulasi kognitif yang terdiri dari latihan orientasi, terapi
ingatan, terapi aktivitas, serta terapi cahaya yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kemampuan memori dalam menangkap informasi, kegiatan
tersebut seperti terapi gambar dan menonton televisi. Berdasarkan gambaran latar
belakang diatas, penulis mencoba menganalisis asuhan keperawatan dengan
menggunakan teori dan konsep keperawatan gerontik untuk mengatasi masalah
kerusakan memori pada ibu H dengan menggunakan stimulasi kognitif di STW
Karya Bhakti Cibubur.

1.2 Rumusan Masalah


Gangguan kognitif berupa demensia dapat berakibat pada kehidupan lansia dari
berbagai aspek, diantaranya yaitu berhubungan dengan lingkungan, dalam
menerima informasi dan dalam mengingat sesuatu (Stanley & Beare, 2002).
Lanjut usia yang mengalami demensia memerlukan suatu penanganan karena
mempengaruhi aktivitas harian lansia. Penanganan yang digunakan lanjut usia
untuk meningkatkan fungsi kognitif yaitu dengan stimulasi kognitif. Stimulasi
atau terapi kognitif adalah upaya untuk mengoptimalkan kualitas kesehatan
inteligensi pada penderita gangguan otak, saraf dan otot yang dilakukan melalui
stimulasi atau latihan agar memiliki atau meningkatkan kemampuan inteligensi
(Depkes, 2010). Perawat atau tenaga kesehatan sebagai pemberi asuhan

Universitas Indonesia
5

keperawatan pada lansia mempunyai peran dalam memberikan edukasi serta


promosi kesehatan untuk menungkatkan kualitas hidup lansia. Oleh karena itu,
karya ilmiah ini dibuat untuk mengetahui pengaruh stimulasi kognitif dan latihan
orientasi dalam asuhan keperawatan bagi lansia dengan demensia di STW Karya
Bhakti Cibubur.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis Asuhan Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Ibu H
dengan masalah kerusakan memori selama 7 minggu di Wisma Cempaka, Sasana
Tresna Werdha Karya Bhakti Cibubur.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan ini adalah:
a. Menggambarkan profil pelayanan lansia di Sasana Tresna Werdha Karya
Bhakti;
b. Menggambarkan pengaruh terapi kognitif pada Ibu H dengan masalah
kerusakan memori di Wisma Cempaka Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti;
c. Menggambarkan hasil pengkajian Ibu H dengan masalah kerusakan memori di
Wisma Cempaka Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti;
d. Menggambarkan rencana asuhan keperawatan pada Ibu H di Wisma Cempaka
Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti;
e. Menggambarkan implementasi pada Ibu H dengan masalah kerusakan memori
di Wisma Cempaka Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti;
f. Menggambarkan hasil evaluasi dari implementasi pada Ibu H dengan Masalah
kerusakan memori di Wisma Cempaka Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti;

1.4 Manfaat Penelitian


Karya Ilmiah Akhir ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang
terlibat dalam pengembangan pelayanan keperawatan gerontik, terutama yang
berpusat pada pelayanan STW.

Universitas Indonesia
6

1.4.1 Bagi Pelayanan Kesehatan Untuk Lanjut Usia


Karya ilmiah ini dapat dijadikan sebagai data awal terhadap asuhan keperawatan
yang sudah di implementasikan kepada Ibu H dengan diagnosa kerusakan
memori. Data awal ini dapat memudahkan pihak STW dalam melakukan
intervensi terhadap lansia lainnya sehingga dapat meningkatkan daya ingat lansia
yang memiliki penurunan kognitif. Selain itu, dengan adanya penulisan karya
ilmiah ini diharapkan dapat meningkatkan peran perawat dan tenaga sosial dalam
memantau kesehatan dan melaksanakan intervensi secara komprehensif yang
berhubungan dengan penurunan kognitif yang mendukung sebagai data penyebab
terjadinya kerusakan memori pada lansia.
1.4.2 Bagi Pendidikan
Hasil karya ilmiah ini diharapkan bisa menjadi data penguat bahwa kerusakan
memori pada lansia ialah masalah yang sering terjadi sehingga membutuhkan
usaha pencegahan yang tepat. Selain itu, hasil karya ilmiah ini diharapkan dapat
menjadi data dasar bagi karya ilmiah selanjutnya yang berkaitan dengan
pengembangan intervensi keperawatan pada lansia untuk mencegah terjadinya
penururnan kognitif dan terwujudnya penerapan praktek keperawatan dengan
memanfaatkan hasil karya ilmiah sebagai upaya promotif dan preventif untuk
mengantisipasi kerusakan memori.
1.4.3 Bagi Penelitian Keperawatan
Hasil karya ilmiah ini dapat dijadikan data dasar selanjutnya dalam area
keperawatan gerontik yang berkaitan dengan stimulasi kognitif. Selain itu, hasil
karya ilmiah ini diharapkan dapat membantu penelitian yang lain dalam mengatasi
masalah demensia.

Universitas Indonesia
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kebutuhan Dasar Manusia


Penuaan pada setiap individu merupakan sesuatu yang normal yang akan terjadi
pada setiap individu. Proses penuaan ini diiringi dengan adanya perubahan fisik
dan psikologis. Penuaan tersebut juga mempengaruhi kebutuhan biologi dan
psikologis (Ebelsor, 2005). Kebutuhan tersebut dipengaruhi oleh stimulus yang
datang dari dalam maupun dari luar. Pada lansia yang mengalami gangguan
kognitif atau kerusakan memori maka setiap tingkatan kebutuhan akan mengalami
masalah atau gangguan. Menurut Maslow Hierarki kebutuhan dasar manusia
terbagi menjadi lima tingkatan dalam mengatur kebutuhan dasar (Delaune &
Ladner, 2002; Potter & Perry, 2005). Maslow mengatakan bahwa individu yang
kebutuhan dasarnya terpenuhi maka orang tersebut mengalami kondisi yang sehat
dan apabila salah satu kebutuhan dasar tersebut tidak terpenuhi maka termasuk
individu yang mengalami kondisi berisiko dan sakit.

Maslow menyatakan terdapat lima tingkatan kebutuhan dasar manusia. Tingkatan


yang paling dasar meliputi kebutuhan fisiologis atau basic needs, seperti udara,
air dan makanan, temperature, eliminasi, tempat tinggal, istirahat dan seks.
Tingkatan yang kedua meliputi kebutuhan keselamatan dan kemanan yang
meliputi keamanan fisiologis dan psikologis. Tingkatan yang ketiga meliputi
kebutuhan cinta dan rasa memiliki termasuk hubungan sosial. Tingkatan keempat
meliputi kebutuhan rasa berharga dan harga diri yang melibatkan percaya diri,
pengamatan, merasa berguna, penerimaan dan kepuasan diri. Tingkatan terakhir
yaitu kebutuhan aktualisasi diri berupa pernyataan dari penerimaanyang penuh
potensi dan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan mengatasinya
dengan cara realistis yang berhubungan dengan situasi hidup.

Tingkat kebutuhan (Hierarki Maslow) lansia yang mengalami penurunan memori


tidak hanya difokuskan kepada pemenuhan kebutuhan dasar tetapi juga dalam
menciptakan lingkungan dan hubungan dengan perkembangan, aktualisasi diri dan

7 Universitas Indonesia
8

kualitas hidup (Ebersol, 2005). Penderita dimensia sering kali tidak dapat
menyelesaikan kebutuhan dasar secara mandiri. Orang yang mengalami gangguan
kognitif diakibatkan karena terjadinya kerusakan pada memori jangka pendek
individu tersebut sehingga penderita demensia tidak ingat dengan apa yang sudah
dilakukannya seperti makan, mandi dan sebagainya. Individu yang tidak
melakukan kebersihan tentu saja mengakibatan gangguan pada pemenuhan rasa
nyaman. Penderita gangguan kognitif tidak mampu untuk mengungkapkan
perasaan dan pikirannya seperti rasa kasih sayang, harga diri dan hidup yang
berarti (Ebersol, 2005). Individu yang mengalami gangguan kognitif juga
membutuhkan perawatan untuk kualitas hidupnya. Perawatan, rasa kasih sayang,
harga diri serta hidup yang berarti merupakan kebutuhan dasar manusia. Masalah
kesehatan yang terjadi pada individu dapat terjadi apabila kebutuhan dasar tidak
terpenuhi.

2.2 Demensia
2.2.1 Pengertian
Demensia merupakan suatu sindrom penurunan kemampuan intelektual progresif
yang menyebabkan penurunan kualitas kognitif dan fungsional sehingga
mempengaruhi terjadinya gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-
hari (Siahaan, Marlin M, 2008). Menurut Nancy L dan Peter V. R (2006) juga
menyatakan bahwa demensia adalah kondisi dimana seseorang mengalami gejala
penurunan fungsi intelektual, umumnya ditandai dengan penurunan bahasa,
memori, mengenal orang, dan emosional. Demensia merupakan kondisi yang
menggambarkan keseluruhan berbagai gejala yang berhubungan dengan
kerusakan memori atau kerusakan fungsi kognitif yang mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari (Alzheimers
Association, 2013; Stanley & Beare, 2008).

Kerusakan memori merupakan ketidakmampuan mengingat, mengulang beberapa


informasi atau keterampilan perilaku (Herdman, 2012; Wilkinson & Ahern,
2011). Batasan karakteristik dari masalah kerusakan memori dapat dilihat dari
ketidakmampuan individu dalam memepelajari informasi baru, dan keterampilan

Universitas Indonesia
9

baru, ketidakmampuan melakukan keterampilan yang telah dipelajari


sebelumnya, ketidakmampuan mengingat peristiwa, ketidak mampuan
menyimpan infornasi baru. Selain itu, batasan karteristik yang lain dapat dilihat
dari ketidakmampuan mengingar perilaku tertentu yang pernah dilakukan dan
mengeluh mengalami lupa.

Kerusakan memori merupakan salah satu tanda gejala yang sering terjadi pada
penderita demensia. Penderita yang mengalami demensia memiliki fungsi
intelektual yang terganggu sehingga menyebabkan gangguan dalam aktivitas
sehari-hari maupun interaksi dengan orang lain. Individu yang menderita
demensia dengan derajat ringan biasanya masih mempertahankan daya tarik
sosialnya dan dapat menutupi gangguan intelektualnya dengan sikap yang riang
dan kooperatif sehingga pemeriksa harus mengobservasi isi pikirannya. Cara
untuk medeteksi penderita dengan demensia yaitu kesulitan dalam kemampuan
untuk mengingat peristiwa yang baru saja terjadi dan kemampuan mengingat
semua hal tersebut sesudah 5 menit dilakukan. Gejala-gejala seperti itu
mempengaruhi perubahan fisik, sosial dan emosional baik dari penderita demensia
maupun keluarga. Munculnya gejala demensia tersebut dapat terjadi dengan
beberapa faktor pemicu.

Faktor risiko yang memiliki hubungan dengan penyakit demensia Alzheimer yaitu
agregasi familial dari sindrom down, usia individu yang sudah lanjut, genetik
riwayat depresi, trauma kepala, dan pendidikan rendah (Alzheimers Association,
2013; Stanley & Beare, 2007). Faktor risiko lain yang dikaitkan dengan demensia
vaskuler adalah atrial fibrilasi (gangguan irama jantung), diabetes mellitus
(kencing manis), stroke, gangguan fungsi kognitif sebelumnya (premorbid
cognitive impairment).

2.2.2 Klasifikasi Demensia


Pengklasifikasian demensia dibagi berdasarkan perjalanan penyakit atau penyebab
umur dan kerusakan otak. Berdasarkan perjalanan penyakit yaitu dimensia
irreversible diantaranya karena infeksi, atau sindrom demensia akibat stres serta

Universitas Indonesia
10

depresi, hidrosefalus komunikans serta subdural hematom dan reversibel


diantaranya defisiensi nutrisi (misalnya defisiensi vitamin B12 atau defisiensi
asam folat), efek samping obat, asupan alkohol akut dan tumor atau trauma,
penyakit cerebro kardiovaskuler, penyakit- penyakit metabolik, gangguan nutrisi,
akibat intoksikasi menahun (Hoffman & Constance, 2001). Selain itu,
berdasarkan umur dibagi menjadi dimensia senilis yaitu demensia yang terjadi
pada usia > 65 tahun dan dimensia prasenilis yaitu dimensia yang terjadi < 65
tahun.

Klasifikasi dimensia selanjutnya yaitu berdasarkan kerusakan otak, diantaranya


tipe Alzheimer yang disebabkan karena kondisi sel syaraf yang mati, demensia
vaskuler yang disebabkan karena gangguan sirkulasi darah di otak seperti
hipertensi, arteriosklerosis, dan ateroklerosis, penyakit Parkinson, dan penyakit
pick. Selain itu, berdasarkan kerusakan otak yaitu dimensia terkait HIV-AIDS
yang dapat menyerang system saraf pusat, menyebabkan ensefalopati HIV atau
komlek demensia AIDS, multiple sklerosis, serta neurosifilis dan penyakit
Huntington.

2.2.3 Tahapan Demensia


Penyakit Alzheimer dan penyakit lain yang menyebabkan demensia dikenal
dengan keanekaragamn gejala demensia. Penyakit demensia alzheimer dibagi
menjadi 3 tahapan yaitu tahap awal, pertengahan dan akhir (Nugroho, 2008;
Stanley & Beare, 2007).

Tahapan awal atau demensia ringan ditandai dengan gejala yang sering diabaikan
dan disalah artikan sebagai usia lanjut atau sebagai bagian normal dari proses
menua. Pada umumnya klien menunjukkan gejala kesulitan dalam berbahasa,
mengalami kemunduran daya ingat secara bermakna. Jika seseorang mengalami
kesulitan atau tidak bisa mengingat 3 benda setelah 5 menit, maka orang tersebut
dapat dianggap mengalami kerusakan memori jangka pendek (American
Psychiatric Asosiation, 1994 dalam Hoffman & Constance, 2001). Dalam
kehidupan sehari-hari dapat dilihat bahwa biasanya lansia dengan dementia

Universitas Indonesia
11

mengalami kesulitan untuk mengingat kejadian yang baru dilakukannya misalnya


tidak ingat tadi pagi kegiatan yang diikuti apa saja, apa saja yang di makan saat
sarapan, ataupun kesulitan untuk mempraktekan kembali gerakan senam yang
baru saja diajarkan serta disorientasi orang, waktu dan tempat. Individu dengan
masalah kognisi dan fungsi dimanifestasikan apabila indivudu tersebut dalam
situasi yang dapat menimbulkan stres sehingga individu tersebut cenderung
menarik diri atau depresi.

Tahap pertengahan atau demensia sedang ditandai dengan proses penyakit


berlanjut dan masalah menjadi semakin nyata. tahap pertengahan ini juga
mengalami kehilangan memori yaitu memori mengenai kejadian saat ini dan
masa lalu. Memori jangka panjang yang biasanya sering terlupa dapat dilihat dari
ketidakmampuan residen mengingat kapan dia lahir, kapan dia menikah, kapan
residen mulai tinggal di wisma. Gangguan lain dari fungsi otak seperti
kemampuan bahasa, gerak motorik, kemampuan untuk mengikuti arahan,
mengatur keuangan, mengenali objek menjadi gejala dari demensia. Adanya
perubahan personal dari penderita juga menjadi salah satu gejala demensia. Pada
stadium ini, klien mengalami kesulitan melakukan aktivitas kehidupan sehari-
hari, sangat bergantung pada orang lain, membutuhkan bantuan untuk kebersihan
diri (ke toilet, mandi dan berpakaian), dan terjadi perubahan perilaku, serta adanya
gangguan kepribadian sehingga menyebabkan kekhawatiran terhadap
keselamatan. Tahap ini penderita demensia mengalami disorientasi yang semakin
memburuk. Disorientasi dapat dartikan sebagai ketidakmampuan seseorang
memperhatikan atau mengingat fakta kehidupan yang ada disekelilingnya.
Disorientasi biasanya berhubungan dengan orang, waktu dan tempat. Tahap ini
merupakan tahap dimana terjadi penurunan ambang stress, kurangnya
pengendalian impuls dan kesulitan dalam mengenali lingkungan.

Tahap akhir atau dimensia berat dimana ditandai dengan ketidakmandirian dan
inaktif total, tidak mengenali lagi anggota keluarga (disorientasi personal), sukar
memahami dan menilai peristiwa, tidak mampu menemukan jalan di sekitar
rumah sendiri, kesulitan berjalan, mengalami inkontinensia (berkemih atau

Universitas Indonesia
12

defekasi), menunjukkan perilaku tidak wajar dimasyarakat, akhirnya bergantung


dikursi roda atau tempat tidur. Pada tahap ini penderita demesia mengalami
penurunan nafsu makan sehingga terjadi penurunan berat badan. Tahap ini siklus
tidur bangun mengalami perubahan dan individu tersebut menghabiskan waktu
dengan mengantuk dan tampak menarik diri secara sosial dan lebih tidak peduli
terhadap lingkungan sekitar. Karakteristik lain dari demensia yaitu frustasi,
menarik diri, curiga, mudah marah, dan gelisah serta sulit untuk membuat
keputusan.

2.2.4 Penatalaksanaan Demensia


Menangani kasus demensia langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan
pengkajian kognisi, perilaku dan status fungsional serta riwayat penyakit pada
lansia yang dicurigai atau dipastikan menderita demensia. Perawat juga harus
melakukan identifikasi faktor risiko lingkungan untuk membantu mengarahkan
intervensi yang tepat untuk penyakit ini. Perawat juga melakukan pemeriksaan
kognisi menggunakan instrument berdasarkan tahapan demensia, situasi hidup dan
masalah yang muncul. Pemeriksaan kognisi menggunakan test MMSE ( Mini
Mental State Exam) CDR (Clinical Dementia Rating) dengan tujuan untuk
mengukur orientasi dan fungsi kognitif pada lansia (Stanley & Beare, 2007).
Pemeriksaan terhadap individu yang di curigai demensia juga harus dilakukan
pemeriksaan penunjang seperti CT scan dan MRI dengan tujuan untuk
menggambarkan masalah vaskuler sebagai faktor penyebab demensia, biasanya
pada CT Scan dapat memperlihatkan adanya ventrikel otak yang melebar serta
adanya atrofi kortikal.

Perawat juga melakukan kolaborasi untuk melakukan verifikasi diagnosis.


Diagnosis yang akurat sangat penting mengingat progresifitas penyakit dapat
dihambat atau bahkan disembuhkan dengan memberikan terapi yang tepat.
Perawat juga melakukan pengukuran sebagai suatu pencegahan pada penderita
demensia vaskuler. Pengukuran tersebut dapat berupa pengaturan diet, olahraga,
dan pengontrolan terhadap diabetes dan hipertensi. Obat-obatan yang diberikan
dapat berupa antihipertensi, antikoagulan, atau antiplatelet. Pengontrolan terhadap

Universitas Indonesia
13

tekanan darah harus dilakukan sehingga tekanan darah seseorang dapat dijaga
agar berada dalam batas normal. Hal ini didukung oleh adanya perbaikan fungsi
kognitif pada seseorang yang mengalami demensia vaskuler.

Penggunaan obat antihipertensi dalam hal ini adalah sangat penting mengingat
antagonis reseptor b-2 dapat memperburuk kerusakan fungsi kognitif.
Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dan diuretik telah dibuktikan
tidak berhubungan dengan perburukan fungsi kognitif dan diperkirakan hal itu
disebabkan oleh efek penurunan tekanan darah tanpa mempengaruhi aliran darah
otak. Pendekatan terapi secara umum pada klien dengan demensia bertujuan untuk
memberikan perawatan medis suportif, dukungan emosional untuk pasien dan
keluarganya, serta terapi farmakologis untuk gejala-gejala yang spesifik, termasuk
perilaku yang merugikan.

Mencegah efek merusaknya fungsi kognitif maka kebutuhan primer pun harus
dipenuhi. Pada individu dengan demensia kebutuhan primer yang harus terpenuhi
diantaranya yaitu kebutuhan fisik dasar manusia kebutuhan rasa nyaman dan
kebutuhan akan rasa aman. Hal tersebut dikarena individu dengan demensia sering
kali tidak dapat menyelesaikan tugas secara mandiri. Menurut Model
progressively lowered stress threshold menyatakan dengan memberikan kerangka
kerja yang bermanfaat dapat mencegah banyak perilaku yang berkaitan dengan
demensia. Tekanan lingkungan merupakan suatu stressor dari individu di dalam
lingkungan. Individu dengan demensia karena rusaknya kemampuan untuk
menerima, memproses serta merespon terhadap stimuli sehingga mengalami
penurunan ambang untuk bertoleransi dan beradaptasi terhadap stress dari
lingkungan.

Tekanan lingkungan dapat menyeimbangkan antara pengalaman yang


menyenangkan sensori dengan pengalaman yang menstimulasi sensori juga
merupakan asuhan keperawatan yang efektif untuk individu dengan demensi
(Stanley & Beare, 2007). Tekanan lingkungan yang harus diperhatikan pada
penderita demensia yaitu tekanan lingkungan dari stimulus auditori, visual, serta

Universitas Indonesia
14

taktil. Perawat juga harus menggunakan kata-kata yang sesuai dengan usia dan
latar belakang lanjut usia. Individu tersebut harus didektai dengan cara yang tenag
dan ceria. Perawat harus menggunakan sentuhan yang lembut dan meyakinkan
saat berinteraksi dengan penderita demensia. Alzheimer Australia (2012)
menyatakan penderita demensia terkadang mengalami perubahan tingkah laku dan
perubahan emosi secara tiba-tiba. Sehingga pemberian hal-hal yang humoris dapat
meningkatkan kestabilan emosi (Doenges, 2000). Demensia bukan suatu penyakit
tetapi merupakan sebuah sindrom yang mempengaruhi kognitif individu.
Demensia tidak dapat disembuhkan tapi dapat dicegah kerusakan kognitifnya.
Salah satu cara untuk mencegah kerusakan kognitifnya dengan melakukan
stimulasi terapi kognitif.

2.2.4.1 Stimulasi Terapi Kognitif


Stimulasi terapi kognitif adalah upaya untuk mengoptimalkan kualitas kesehatan
inteligensi pada penderita gangguan otak, saraf dan otot yang dilakukan melalui
stimulasi atau latihan agar memiliki atau meningkatkan kemampuan inteligensi
(Depkes, 2010). Terapi atau stimulasi kognitif ini bertujuan untuk membantu
individu mengembangkan pola pikir yang rasional, terlibat dalan uji realitas, dan
membentuk kembali perilaku dengan mengubah pesan-pesan internal (Copel,
2007). Stimulasi kognitif juga bertujuan untuk menerapkan strategi dalam
meningkatkan fungsi kognitif bagi penderita dimensia, terutama Alzheimer
(Orell, Spector, & Woods, 2008).

Prinsip dalam pelaksanaan stimulasi terapi kognitif yaitu terapi ini tidak bisa
menyembuhkan dimensia secara total tetapi hanya mengurangi atau
memperlambat kerusakan kognitif , terapi kognitif ini menekankan kondisi realita
yang ada pada individu, stimulasi kognitif ini berkaitan erat dengan proses belajar
dengan penekanan pada fungsi-fungsi yang hilang, stimulasi kognitif selalu
terstruktur dan terencana dengan membangun aktivitas individu dan merespon
kebutuhan evaluasi objektif untuk melihat evektifitas terapi. Selain itu, prinsip
dari stimulasi kognitif adalah menggunakan berbagai bentuk dan teknik untuk
merubah cara berfikir, perasaan dan perilaku lansia serta terapi ini mengajarkan

Universitas Indonesia
15

lansia untuk berespon terhadap apa yang dipikirkan. Hal ini membantu lansia
untuk mengenal setiap pikiran negative dan mengganti dengan pikiran yang
positif.

Intervensi ini terdiri dari berbagai tindakan diantaranya yaitu terapi standar seperti
orientasi realita (waktu, tempat dan orang), dan terapi ingatan atau kenangan.
Selain itu, stimulasi kognitif juga menggunakan alternative terapi diantaranya
yaitu terapi gambar dan, terapi aktivitas. Orientasi realita merupakan suatu
tindakan intervensi yang banyak digunakan untuk penderita dimensia, terutama
yang berkaitan dengan gangguan memori dan disorientasi waktu, dan tanggal dan
warna. Orientasi realita ini menggunakan daya ingat terhadap lingkungan atau
informasi penting. Orientasi lingkungan dapat menggunakan alat bantu apabila
kemampuan memori untuk mengingat sulit, misalnya, orang , tempat, penggunaan
kalender atau buku harian, buku dengan informasi penting pribadi, stiker atau
tanda-tanda di pintu dan lemari yang menunjukkan fungsi dari benda tersebut
(Droes, et al, 2011). Penelitian Davies, Orrel, Spector & Woods (2000)
menunjukkan bahwa orientasi realita dapat meningkatkan fungsi kognitif dan
perilaku pada penderita demensia.

Tindakan selanjutnya yaitu terapi kenangan atau ingatan yang melibatkan


penderita demensia untuk memunculkan kembali pengalaman masa lalunya,
terutama pengalaman yang positif. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki daya
ingat dan juga menimbulkan rasa senang saat mereka mengingatnya seperti hobi
mereka terdahulu, liburan bersama keluarga. Terapi ini terkadang bersamaan
dengan aktivitas yang lain misalnya sambil mendengarkan musik.

Tindakan selanjutnya yaitu melakukan terapi aktifitas dengan melibatkan orang


lain, misalnya bermain, olahraga dan menari. Penelitian menunjukkan bahwa
aktifitas fisik membantu dalam meningkatkan fungsi kognitif, memperbaiki
kesehatan mental, pola tidur dan mood individu (Douglas, 2004). Penelitian Festi
(2010) menyatakan bahwa terdapat perbedaan fungsi kognitif sebelum dan setelah
diberikan brain gym. Peneliti juga menyatakan bahwa latihan senam dapat

Universitas Indonesia
16

membantu mengatasi damapak buruk dari demensi (Hughes,2011). Selain itu,


penggunaan cahaya redup juga sebagai terapi untuk membantu memperbaiki
disorientasi waktu. Terapi ini juga memperbaiki gangguan dalam tidur. Penderita
dengan demensia juga dapat dilakukan tindakan dengan terapi gambar. Terapi ini
direkomendasikan sebagai suatu terapi untuk meningkatkan stimulus, interaksi
sosial serta memperbaiki rasa percaya diri pada lansia. Lansia akan diberikan
kesempatan untuk mengekspresikan apa yang dilihatnya dengan menggunakan
sebuah gambar seperti binatang atau benda. Dengan media gambar penderita
demensia dapat mengatasi masalah kerusakan memori pada tahap awal demensia.

2.3 Pelayanan Kesehatan Pada Lanjut Usia


Lansia saat ini diperlukan adanya motivasi serta pelayanan kesehatan yang
membuat kebutuhan dasar terpenuhi. Peningkatan jumlah lansia harus di dukung
dengan peningkatan perawatan kesehatan khusus lanjut usia. Lansia saat ini
beresiko terhadap perubahan yang terjadi akibat proses menua serta penilaian
yang berubah akibat perubahan diet, latihan fisik, kebiasaan saat lansia,
mekanisme koping, lingkungan dan faktor psikososial (Stanley & Beare, 2007).
Lansia yang produktif dan sehat dibutuhkan faktor yang mempengaruhi nya yaitu
kondisi biologis, lingkungan serta akses pmendapatkan pelayanan kesehatan.

Perawatan dan pelayanan kesehatan lanjut usia yang berkualitas dapat


meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup lanisa. Pelayanan kesehatan untuk
lanjut usia berkembang dengan cepat dan memiliki program yang semakin
inovasi. Adanya institusi layanan kesehatan pada lansia memerlukan adanya
tenaga kesehatan yang membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar lanjut usia.
Pelayanan lanjut usia tersebut antara lain social residens, home care, adult day
care, hospice care dan nursing home.

Pelayanan pada lanjut usia tidak hanya dipanti atau nursing home saja tetapi ada
beberapa layanan yang digunakan untuk lanjut usia (Miller, 2012). Sosial
residence merupakan pelayanan yang digunakan untuk mengatasi permasalah

Universitas Indonesia
17

pada kelompok lanjut usia atas pengambilan keputusan dan kebutuhan sehari-hari
(Scourfield, 2006). Pelayanan ini ditujukan bagi lanjut usia yang mandiri.

Home care merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan
yang didukung oleh asuransi kesehatan serta memiliki kualifikasi tertentu.
Pelayanan home care meliputi asuhan keperawatan di rumah, kerja sosial, terapi
wicara, terapi fisik, konseling nutrisi, dan dukungan pelayanan jangka panjang
(Miller, 2012). Pelayanan kesehatan di rumah bagi lansia tergantung dari
kebutuhan lansia. Semua bentuk asuhan keperawatan dapat diberikan dalam
bentuk perawatan kesehatan di rumah (Stanley & Beare, 2007).

Adult day care merupakan program atau fasilitas tambahan yang ada di
masyarakat yang berada di lingkungan lansia. Terdapat dua tingkatan yaitu social
day care dan adult day health. Lansia dengan social day care tidak memerlukan
perawatan langsung oleh perawat. Dalam adult day care, perawatan didasarkan
atas program kesehatan. Program tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
serta keamanan lanjut usia ketika anggota keluarga lansia bekerja atau sedang
tidak dapat membantu lanjut usia tersebut (Miller, 2012). Beberapa pelayanan
perawatan yang disediakan untuk lanjut usia adalah pemeriksaan tanda-tanda
vital, latihan atau terapi fisik seperti senam atau latihan ROM, pemberian obat,
serta kegiatan positif untuk meningkatkan kesehatan lansia (Stanley & Beare,
2007).

Hospice care merupakan suatu program pelayanan bagi lanjut usia yang
membutuhkan perawatan paliatif dan suportif. Perawatan ini ditujukan pada klien
dan keluarga dengan penyakit terminal yang bertujuan menyediakan kenyamanan
dalam menghadapi kematian. Dengan diberikannya perawatan tersebut, lanjut
usia dengan penyakit terminal dapat berkonsentrasi dengan kebutuhan emosional
maupun spiritual di akhir hidupnya.

Nursing home merupakan sebuah tempat tinggal dengan berbagai fasilitas


kesehatan maupun fasilitas sosial yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan

Universitas Indonesia
18

dasar lanjut usia seperti makan, berpakaian dan merawat kebersihan diri
(Tennessee Health Care Association, 2013). Namun, nursing home berbeda
dengan fasilitas Panti werdha lainnya. Nursing home menyediakan perawatan
medis untuk lansia yang sakit. Selain itu, Nursing Home juga memberikan
perawatan yang terampil juga mencakup layanan yang berikan oleh perawat yang
terlatih seperti terapi aktivitas, serta terapi okupasi. Populasi lansia yang
membutuhkan perhatian pada nursing home sangat meluas terutama pada kondisi
medis. Nursing home juga memberikan pelayanan yang lebih memuaskan.
Pelayanan tersebut menyediakan perawatan dalam jangka waktu yang panjang
dengan pengawasan perawatan selama 24 jam. Selain pelayanan kesehatan,
nursing home juga memiliki standar tertentu yang telah ditetapkan dalam
penyediaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi lanjut usia.

Tujuan didirikannya nursing home care dan long-term care adalah untuk
mencapai dan memelihara kesehatan dan kemandirian fungsional yang optimal.
Pada masa sekarang ini, terdapat 50% kesempatan bagi seorang wanita di atas
umur 65 tahun akan menghabiskan waktu dalam fasilitas nursing home care and
long-term care pada beberapa titik di dalam kehidupannya. Kesempatan untuk
pria pada usia yang sama adalah 30% (Kaeser, 1991 dalam Stanley, & Beare,
2005). Pelayanan kesehatan di nursing home juga terdapat lansia yang memiliki
tingkat kemandirian partial care sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk
memenuhi sebagian kebutuhannya, sedangkan lansia yang memiliki tingkat
kemandirian total care sangat memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi
kebutuhan dirinya. Salah satu fasilitas yang tersedia dalam menunjang kebutuhan
lanjut usia dengan adanya care giver untuk membantu lansia dalam memenuhi
kebutuhan dirinya.

Pada tatanan nursing home, lansia mendapatkan layanan dalam perawatan


berkelanjutan dan pemeliharaan kesehatan yang optimal. Lansia yang datang ke
PSTW tidak selalu dengan keterbatasan, tetapi lansia yang sehat juga menempati
nursing home. Nursing home dalam pandangan masyarakat Indonesia merupakan
panti werdha yang mempunyai kegiatan atau program yang berbeda. Lansia yang

Universitas Indonesia
19

tinggal di nursing home tentunya ingin mendapatkan fasilitas yang menunjang


kebutuhan kondisi lanjut usia tersebut. Lanjut usia tersebut akan mendapatkan
fasilitas seperti (1) kebersihan akan kamar baik lantai maupun kamar mandi, (2)
Fasilitas yang disediakan yaitu makanan. Makanan yang disajikan oleh petugas
Nursing home tentunya yang sehat dan bergizi, serta pola makan yang teratur.
Fasilitas yang ke (3) Aktivitas atau kegiatan. Nursing home menyediakan
aktivitas yang dapat membantu untuk meningkatkan kondisi kesehatan pada setiap
lansia. Fasilitas yang ke (4) Perawatan darurat 24 jam dan pemantauan Obat.

Pelayanan nursing home harus memenuhi standar nursing home yang bersertifikat
dari California Advocates Health Nursing Reform (2012), diantaranya yaitu
kebutuhan akomodasi untuk residen, karyawan atau tenaga kesehatan yang
memadai untuk memenuhi kebutuhan residen, kebutuhan cairan untuk mengatasi
lanjut usia yang mengalami dehidrasi, kebutuhan nutrisi memenuhi standar diet
yang bagus, makanan yang menarik, gizi yang seimbang dan pola makan yang
teratur serta peralatan makanan untuk residen, pemberian obat secara benar yang
diberikan oleh petugas di nursing home, petugas apoteker yang berlisensi dalam
sistem pengobatan untuk residen, pelayanan fisioterapi, pelayanan mata, telinga
dan gigi, pencegahan kecelakaan pada residen, program pengendalian infeksi
serta pemeriksaan kesehatan pada dokter.

Universitas Indonesia
BAB 3
DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas Residen
Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti khususnya wisma cempaka terdiri dari 19
residen yang salah satunya yaitu residen kelolaan. Residen kelolaan utama yaitu
Eyang H. Residen merupakan seorang lansia yang berusia 88 tahun yang tinggal
di Wisma Cempaka, STW Karya Bhakti dengan latar belakang pendidikan
terakhir yaitu SD. Residen ada seorang janda dengan 1 orang anak perempuan dan
saat ini anaknya tersebut telah dikaruniai 2 orang putra. Sebelum Residen masuk
ke STW, Residen tidak memiliki pekerjaan. Beliau hanya seorang ibu rumah
tangga. Residen memiliki kesukaan menjahit dan membuat baju. Residen
memeluk agama islam. Residen masih aktif melakukan ibdah shalat 5 waktu dan
berpuasa. Residen berasal dari suku jawa (Surabaya). Sebelum tinggal di STW,
Residen bertempat tinggal di rumah anaknya di Jln. Tebet Barat Dalam VII No. 76
Jakarta Timur.

Residen saat ini memilih tinggal di STW Karya Bhakti karena tidak ingin
merepotkan keluarga dan ingin memiliki banyak teman serta residen merasa aman
tinggal di STW apabila terjadi sesuatu dengan dirinya. Hasil pengkajian
didapatkan bahwa Residen mengatakan mempunyai keluarga di Jakarta, yaitu di
daerah Tebet dan Kota Wisata. Residen hanya tinggal sendiri di ruma anaknya.
Hal tersebut dikarenakan anaknya dipindahkan bekerja diluar kota. Hubungan
dengan anak, menantu dan cucu sangat baik. Keluarga dan saudara selalu
mendukung keputusan beliau. Terkadang anak dan cucu residen mengunjungi
residen di STW. Residen juga mengaku senang apabila ada Penulis atau
mahasiswa yang sedang praktik di wisma tersebut, karena residen ada temen buat
diajak mengobrol dan tertawa sehingga beliau tidak merasa kesepian. Residen
juga baik dengan petugas panti dan care giver, petugas panti dan tamu yang
berkunjung ke panti tersebut.

20 Universitas Indonesia
21

Kondisi emosi residen di STW stabil dan residen merupakan residen yang baik
kepada orang lain, tetapi karena residen mengalami gangguan pendengaran dan
gangguan kognitif terkadang emosi residen suka tidak terkontrol. Salah paham
juga pernah terjadi antara residen dengan orang lain atau dengan penghuni STW.
Hal tersebut dikarenakan residen memiliki gangguan pendengaran dan gangguan
kognitif.

3.1.2 Riwayat Kesehatan Residen


Residen memiliki diagnosa medis yaitu osteoporosis serta hipertensi. Residen juga
mempunyai riwayat penyakit gastritis. Residen memiliki hipertensi karena pola
makan residen yang tidak teratur dan residen suka makan yang asin-asin. Saat ini,
residen mendapatkan terapi obat dari STW yaitu amlodipin 2x sehari.

Hasil wawancara Penulis wijaya kusuma dan PJ wisma Cempaka, residen


mengalami jatuh di STW sebanyak 3 kali sehingga menyebabkan kaki sebelah
kanan sakit serta sulit untuk berjalan. Residen juga mengalami gangguan kognitif
atau sering lupa semenjak sebelum masuk ke STW kira-kira pada tahun 2008 dan
belum separah seperti sekarang ini. Menurut perawat WK dan anak residen,
residen mengalami penurunan kognitif sebelum masuk ke STW. Residen juga
sering mengatakan lupa apabila ditanya sesuatu baik tentangg dirinya maupun
tentang hal yang lain seperti tanggal dan makanan yang dimakan. Hasil observasi
penulis kepada residen didapatkan residen lupa dengan apa yang dibicarakan
setelah 5 menit, residen lupa dengan apa yang sudah dikerjakan, residen selalu
mengulang pertanyaan yang sama. Perilaku residen saat ini sering curiga dengan
orang sekitar, mudah marah, menarik diri dari lingkungan dan sering lupa. Pada
bulan April 2013 residen mengalami jatuh kembali di STW dan mengalami
hematom di sekitar hidung. Hasil pengkajian dan rekam medis juga didapatkan
keluarga residen tidak memiliki riwayat keluarga yang serius dan penyakit
menular. Kelurga residen tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi, jantung,
ginjal, DM, dan masalah pernapasan.

Universitas Indonesia
22

3.1.3 Kebiasaan Sehari-hari Residen


Hasil observasi didapatkan bahwa sehari hari pola makan residen yaitu 3x/hari,
makan pagi pukul 06.30, makan siang 12.00, dan makan sore pukul 17.00. Menu
makanan yang dihidangkan di STW yaitu nasi, sayur (sayur sop, tumis), lauk-
pauk (ayam, ikan, tahu, tempe), dan buah (semangka/pisang). Residen terlihat
jarang menghabiskan 1 porsi makan yang diberikan petugas panti. Hal tersebut
dikarenakan residen tidak terlalu suka dengan sayur yang dimasak oleh STW.
Residen setiap pagi memiliki rutinitas minum teh hangat dan sore hari minum
kopi. Residen terlihat minum air putih hanya sedikit, 1 hari hanya minum 500cc.

Residen sehari-harinya melakukan aktifitas secara mandiri. Aktifitas yang


dilakukan residen yaitu mandi, shalat, menonton TV, senam pagi dan main
angklung yang diadakan di STW, kadang-kadang mencuci baju sendiri. Hasil
observasi penulis bahwa residen terlihat jarang tidur siang sehingga residen sering
melakukan aktifitas dengan duduk sendiri diteras depan kamar atau berinteraksi
dengan mahasiswa praktik. Care giver penghuni lain juga mengatakan residen
sering terbangun pada malam hari dan berjalan keluar. Residen tampak
mengantuk saat sedang duduk di teras depan kamar atau sedang duduk di ruang
kreasi bersama mahasiswa praktik.

Residen melakukan BAK secara mandiri dengan frekuensi 6x/hari, dan beliau
mengatakan tidak mengalami kesulitan pada saat BAK. Residen juga mengatakan
BAB biasanya 1x/hari pada pagi hari. Saat melakukan BAK dan BAB, residen
tidak pernah mengeluh sakit. Residen mengatakan melakukan kebersihan diri atau
mandi sebanyak sehari 2 atau 3x tetapi dari hasil observasi penulis tercium bau
yang tidak sedap serta baju yang dikenakan kemarin belum ganti. Hasil
wawancara dengan residen, residen mengatakan ingin menjalani hari tuanya
dengan tenang dan sehat walaupun sekarang sudah mengalami penurunan
pendengaran dan sudah mulai pelupa.

Universitas Indonesia
23

3.1.4 Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Pemeriksaan yang dilakukan kepada residen dimulai dari pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan menggunakan FMS, BBT, MMSE, CDR, GDS serta Katz Indeks.
Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh. Pada bagian kepala pemeriksaan
yang dilakukan pada bagian mata, hidung, mulut, dan telinga didapatkan hasil
kepala bulat, simetris (normocephalic), tidak terdapat lesi. Rambut residen tipis,
model pendek, berwarna putih, kering, tidak bercabang, terdistribusi secara merata
pada kulit kepala, tidak ada lesi pada kulit kepala. Pergerakan bola mata simetris,
konjuntiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, terdapat sekresi mata (belek),
mengalami penglihatan yang berkurang, tidak terdapat edema di sekitar mata (area
preorbital) serta sekitar lensa agak putih dan terdapat kantung mata. Posisi lubang
hidung sama, tidak ada sekresi, tidak ada polip atau atau tidak ada hambatan
dalam bernafas. Mulut residen tercium bau yang tidak sedap, gigi terlihat kotor
dan terdapat banyak gigi yang sudah tanggal, tidak terlihat adanya stomatitis,
terdapat karies gigi, serta membran mukosa kering. Pemeriksaan pada bagian
telinga didapatkan bahwa telinga sedikit kotor, posisi kedua telinga simetris dan
tidak ada benjolan pada telinga serta residen mengalami gangguan pendengaran.

Pemeriksaan selanjutnya pada bagian leher, didapatkan bahwa tidak adanya lesi,
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, dan tidak terdapat gangguan proses menelan.
Pada pemeriksaan bagian dada atau thorax terlihat tidak ada lesi, perkembangan
dada simetris dan tidak ada retraksi dinding dada. Pemeriksaan auskultasi dinding
dada didapatkan bunyi nafas vesikuler dan bronkovesikuler, tidak adanya bunyi
whezzing dan ronkhi serta bunyi jantung S1& S2 Normal, tidak adanya murmur
dan gallop. Pada pemeriksaan abdomen tidak terdapat ada lesi, tidak terdapat
benjolan pada perut, tidak ada nyeri tekan, dan terdapat bunyi bising usus saat di
auskultasi. Pada pemeriksaan musculoskeletal terdapat kelemahan pada otot kaki
residen. Hasil kekuatan otot yaitu residen pada lengan kanan seluruh gerakan otot
dapat dilakukan dengan benar dan dapat melawan gravitasi atau tahanan ringan
dan sedang dari pemeriksa, lengan kiri seluruh gerakan otot dapat dilakukan
dengan benar dan dapat melawan tahanan ringan kecuali jari telunjuk sebelah kiri
mendapat nilai 3 karena tidak mampu melawan tahanan. Pada otot kaki kanan

Universitas Indonesia
24

gerakan sendi penuh, mampu melawan gravitasi dan menahan tekanan ringan.
Pada kaki kiri, gerakan otot mampu melawangravitasi dan menahan tahanan
ringan dan ketika diminta mengangkat kaki hanya mampu menahan sebentar.
Gaya berjalan residen terlihat seperti pincang dan tubuh sedikit membungkuk.
Pada pemeriksaan integument terlihat tidak terdapat lesi, warna kulit kuning
langsat, kulit terlihat kering serta didapatkan turgor kulit lambat.

Pemeriksaan penunjang lainnya yaitu Pemeriksaan GDS (Geriatric Depression


Scale) dengan nilai 6 (normal), pemeriksaan Resiko Jatuh (FMS) dengan nilai 65
(resiko jatuh tinggi). Selain itu, didapatkan hasil dari pemeriksaan BBT (Berg
Balance Test) dengan nilai 52, dan pemeriksaan Indeks Kemandirian dengan nilai
6 (Kemandirian penuh). Pada pemeriksaan MMSE (Mini Mental State
Examinantion) dapat dilihat bahwa residen tidak mampu menyebutkan tahun,
bulan, tanggal, hari serta musim, serta residen hanya mampu menyebutkan tempat
dan wisma yang sekarang beliau tempati. Dalam menyebutkan 3 objek, residen
mampu menyebutkan kembali. Residen tidak mampu dalam berhitung atau
menyebutkan bacaan terbalik. Residen juga tidak mampu mengulang kembali 3
objek yang disebutkan tadi. Dalam aspek bahasa, residen belum mampu
menyebutkan 2 benda di atas meja sehingga didapatkan nilai 14 dengan gangguan
kognitif berat. Pada pemeriksaan CDR (Clinical Dementia Rating) didapatkan
hasil bahwa pada pemeriksaan memori, orientasi, pengambilan keputusan,
aktivitas sosial serta pekerjaan rumah atau hoby mendapatkan nilai 2 yang berarti
gangguan ringan, dan pemeriksaan perawatan diri mendapatkan nilai 1 yang
berarti gangguan ringan yang membutuhkan dorongan atau motivasi dalam
melakukan pemenuhan kebutuhan.

3.2 Analisis Data


Hasil pengkajian yang telah dipaparkan diatas didapatkan masalah keperawatan
berdasarkan klasifikasi NANDA (2012) yaitu (1) kerusakan memori, adalah
ketidakmampuan mengingat beberapa informasi atau keterampilan perilaku
dengan data pendukung bahwa residen selalu mengatakan lupa atau tidak ingat
ketika ditanya tanggal, bulan, tahun dan hari, residen terlihat berpikir keras saat

Universitas Indonesia
25

akan menjawab, residen tidak mampu menjawab umur residen sendiri, residen
tidak mampu mengingat sesuatu, residen telihat bingung, dan hasil pemeriksaan
MMSE= 14 dan CDR dengan nilai yaitu pada pemeriksaan Memori=2,
Orientasi=2, Pengambilan keputusan=2, Aktivitas Sosial=2, Pekerjaan rumah dan
hobi=2, serta Perawatan diri= 1 (nilai 2 berarti gangguan sedang dan 1 berarti
gangguan ringan). Masalah keperawatan residen yang ke-(2) yaitu defisit
kebersihan diri; mandi, adalah hambatan kemampuan untuk melakukan atau
menyelesaikan aktivitas perawatan diri untuk diri sendiri dengan data pendukung
diantaranya residen mengatakan mandi sehari 2x, residen mengatakan
pepsodentnya habis, serta residen mengatakan menggosok gigi saat mandi. Data
observasi selanjutnya yaitu mulut residen terlihat kotor, kuku tangan dan kaki
residen terlihat panjang, gigi residen terlihat kotoran yang menempel, tercium bau
yang tidak enak dari mulut residen rambut resdien terlihat lepek dan lembab serta
kulit residen terlihat kering.

Masalah keperawatan yang terjadi pada residen yaitu (3) Risiko jatuh, adalah
peningkatan kerentanan untuk jatuh yang dapat menyebabkan bahaya fisik dengan
data pendukung yaitu residen berusia diatas 65 tahun, hidup seorang diri dan tidak
ada care giver, tekanan darah residen yaitu 140/80 mmHg, mengalami penurunan
kekuatan ekstermitas bawah, residen mengatakan pendengarannya berkurang,
gaya berjalan residen sedikit pincang, postur tubuh residen yaitu sedikit bungkuk,
residen berjalan terlihat pelan dan berpegang dengan tembok serta hasil
pemeriksaan FMS= 65 (risiko tinggi jatuh) dan BBT= 52 (risiko jatuh rendah).

3.3 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa yang dapat ditegakkan pada residen dari data pengkajian yang sudah
ditemukan adalah kerusakan memori, defisit kebersihan diri; mandi, serta risiko
jatuh. Dari ke-3 diagnosis keperawatan yang ditemukan, maka di dalam karya
ilmiah ini penulis memfokuskan pada 1 diagnosa keperawatan yang dapat
membantu residen untuk meningkatkan kondisi kesehatan residen yaitu masalah
kerusakan memori.

Universitas Indonesia
26

3.4 Rencana Keperawatan


Rencana asuhan keperawatan pada residen berdasarkan ketiga diagnosis
keperawatan dari Doenges (2000) diantaranya, kerusakan memori, defisit
perawatan diri; mandi dan risiko jatuh. Tujuan dari asuhan keperawatan kepada
residen telah disesuaikan dengan masing-masing diagnosis keperawatan yang
muncul. Diagnosa pertama yaitu kerusakan memori dengan tujuan agar setelah
dilakukan asuhan keperawatan, residen mampu mengenal atau berorientasi
terhadap waktu, orang, dan tempat serta menyatakan dapat mengingat lebih baik.
Intervensi yang akan dilakukan untuk meningkatkan fungsi kognitif residen yaitu
panggil nama residen saat memulai interaksi, tatap wajah residen saat melakukan
interaksi, pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang seperti matikan
TV apabila menggangu residen, lakukan pendekatan secara perlahan pada saat
berinteraksi dengan penderita gangguan kognitif, mengggunakan suara yang
rendah dan berbicara dengan perlahan, serta menggunakan kata-kata atau kalimat
yang sederhana saat berinteraksi dengan residen.

Intervensi lainnya yaitu menggunakan hal-hal yang humoris saat berinteraksi


dengan residen, berikan residen kesempatan untuk mengingat kembali masa lalu
seperti menanyakan kembali data-data pribadi, residen berikan stimulasi kognitif
kepada residen berupa terapi gambar dengan menggunakan berbagai media
gambar pengingat memori (misal foto atau gambar binatang), beri kesempatan
residen untuk menjelaskan maksud gambar tersebut, serta berikan stimulasi
kognitif dengan menggunakan media warna, beri kesempatan pada residen untuk
mengenal waktu dengan menggunakan jam besar, kalender, yang mempunyai
lembar perhari dengan tulisan besar dan beri reinforcement positif atas apa yang
residen utarakan. Penulis juga harus mengevaluasi resdien dalam
mengorientasikan waktu, tanggal dengan menggunakan kalender sobek. Tanyakan
kepada residen apakah kalender sudah disobek dan tanya sekarang tanggal berapa,
bulan serta tahun seta buat aktivitas yang bermanfaat dan gerakan yang berulang
seperti menyapu lantai dan senam. Intervensi yang diajarkan maka harus diberikan
evaluasi terhadap apa yang di latih.

Universitas Indonesia
27

Diagnosa kedua yaitu defisit perawatan diri; mandi. Tujuan dari diagnosa tersebut
yaitu menunjukkan perawatan diri residen seperti mandi, kebersihan gigi agar
residen terlihat wangi dan bersih. Intervensi yang akan dilakukan yaitu identifikasi
kesulitan dalam perawatan diri, identifikasi kebutuhan akan kebersihan diri
residen, diskusi bersama residen pentingnya menjaga kebersihan diri, kuku, mulut
serta kulit residen, mendiskusikan bersama residen tujuan dan prosedur tindakan
merawat kebersihan diri, mempraktikkan cara merawat kebersihan diri; mandi dan
menggosok gigi, berikan bantuan sesuai dengan perawatan yang dibutuhkan
residen kuku, kulit dan gosok gigi, serta berikan jadwal lansia melakukan
perawatan kebersihan diri.

Diagnosa ketiga yaitu risiko jatuh yang bertujuan untuk mencegah terjadinya jatuh
pada residen. Tujuan khusus dari diagnosa tersebut yaitu meningkatkan
pengetahuan residen tentang risiko jatuh, menilai ketakutan residen tentang jatuh,
meningkatkan kekuatan otot dan keseimbangan residen, meningkatkan kebersihan
dan kerapihan kamar serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko jatuh pada
eyang. Intervensi yang akan diberikan pada residen yaitu meliputi identifikasi
bersama residen lingkungan yang dapat menyebabkan jatuh, identifikasi bersama
residen alat kaki yang menyebabkan jatuh, membantu residen membersihkan
kamar dan memfasilitasi mengikuti aktivitas. Memotivasi untuk melakukan
latihan-latihan yang dapat meningkatan kekuatan otot dan keseimbangan, serta
bantu residen dalam melakukan latihan fisik atau kekuatan otot.

Intervensi selanjutnya yang dapat diberikan yaitu memperhatikan kondisi


lingkungan residen. Penulis juga berkerja sama dengan pihak wisma khususnya
caregiver dan cleaning service agar selalu memberikan lingkungan yang aman
pada kamar residen serta lingkungan disekitar wisma seperi pencahayaan yang
terang, lantai yang tidak licin, kamar mandi, tersedianya hand rail dikamar serta
tersedianya alas anti selip untuk di kamar mandi. Penulis memberi tanda
menggunakan warna yang terang dan ukuran besar pada lantai yang sedang dip el
atau lantai yang basah, bekerja sama dengan residen untuk merapikan kamar dan
menganjurkan residen untuk selalu wapada apabila ada tanda peringatan jatuh

Universitas Indonesia
28

yaitu garis warna merah. Mengidentifikasi pemilihan tentang alat bantu berjalan,
memberikan arahan cara berjalan menggunakan alat bantu jalan. Secara lengkap
rencana keperawatan dengan tiga diagnosis yang dialami oleh residen dapat
dilihat pada Lampiran.

3.5 Implementasi
Implementasi asuhan keperawatan pada residen dilakukan dalam kurun waktu 7
minggu. Pertemuan terkait implementasi dilakukan sebanyak seminggu 4-5 kali
yaitu pada jam residen sedang santai duduk di ruang kreasi wisma Cempaka
selama kurang lebih 15-45 menit. Total pertemuan dengan residen selama tujuh
minggu mendapat 21 kali interaksi terakit dengan pengkajian dan intervensi
ketiga diagnosis tersebut. Permberian intervensi terkadang dilakukan bersama
dengan masalah keperawatan yang lain. Hal tersebut disebabkan karena residen
saat dilakukan intervensi selalu tidak fokus sehingga dibutuhkan intervensi lain
untuk membuat residen fokus dan mengeluh pusing dan capek.

Pertemuan pertama hingga keempat, penulis melakukan pengkajian terkait


kebutuhan dasar residen, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan terkait status mental
dan kognitif yaitu Geriatric Depression Scale (GDS) dan Mini Mental Status
Examination (MMSE) serta CDR (Clinical Dementia Rating). Penulis juga
melakukan pengkajian Fall Morse Scale (FMS), Berg Balance Test (BBT) dan
tingkat kemandirian (Katz Indeks).
3.5.1 Implementasi Masalah Kerusakan Memori
Pelaksanaan diagnosa kerusakan memori dilakukan selama 21 kali pertemuan.
Intervensi yang dilakukan kepada residen terlebih dahulu dengan memanggil
nama residen pada setiap interaksi yang dilakukan. Dengan memanggil nama
residen dapat menimbulkan pengenalan terhadap realita dan individu. Pendekatan
secara perlahan dilakukan oleh penulis kepada residen agar dapat memberikan
hubungan saling percaya. Saat melakukan interaksi, penulis menatap wajah
residen sehingga penulis dapat mengobservasi rekasi non verbal yang diberikan
oleh residen. Sebelum melakukan stimulus kognitif, penulis tidak lupa
memberikan lingkungan yang menyenangkan dan tenang seperti mematikan TV.

Universitas Indonesia
29

Penulis juga menggunakan suara yang rendah dan berbicara yang jelas dan
perlahan saat berinteraksi dengan residen. Tindakan yang dilakukan penulis
kepada residen dengan memberikan stimulus kognitif. Stimulasi kognitif yang
dilakukan dengan melatih orientasi realita, terapi ingatan atau kenangan, terapi
aktivitas, terapi warna dan terapi gambar.

Penulis memberikan stimulasi terapi kognitif. Dalam memberikan stimulasi


kognitif, adapun proses atau langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam
melakukan stimulasi terapi kognitif yaitu penulis menyiapkan media yang akan
digunakan untuk melatih stimulasi kognitif residen seperti menyiapkan kalender
atau memperkenalkan orang lain disekitar residen sebagai terapi orientasi realita,
media gambar sebagai terapi gambar dan ingatan serta mempersiapkan diri saat
ingin mempraktikan senam latih otak. Saat melalukan interaksi atau memberikan
stimulasi terapi kognitif penulis dan residen duduk saling berhadapan atau duduk
bersebelahan, penulis tidak lupa memperkenalkan diri kepada residen dan
memanggil nama residen sebagai cara untuk mengorientasikan nama residen. Saat
melakukan interaksi, gunakan suara yang rendah atau pelan dan berbicara yang
jelas. Kemudian, penulis menjelaskan maksud dan tujuan penulis berinteraksi
dengan residen.

Penulis memulai pembicaraan dengan menanyakan tentang tanggal, bulan dan


tahun serta hari. Jika residen mengatkan lupa, penulis memberikan kata kunci
untuk menyatakan hari, dan bulan apa serta penulis menyediakan kalender sebagai
medianya. Penulis bersama residen juga mendiskusikan kejadian pada hari itu
secara perlahan-lahan dan ditanyakan kembali setelah 5 menit. Pada Terapi
gambar dan ingatan, penulis mendekatkan media gambar yang telah disediakan.
Residen diberikan gambar binatang lucu yaitu gambar kucing dan kupu-kupu serta
gambar mesin jahit dan penulis meminta residen untuk mengemukakan maksud
dari gambar yang dilihat seperti gambar apa, warna apa, dahulu pernah
menggunakan. Saat residen terlihat kurang fokus, penulis menggunakan hal-hal
yang humoris dalam melakukan interaksi terkait stimulasi kognitif. Apabila

Universitas Indonesia
30

residen dapat menjelaskan maksd gambar tersebut, penulis memberikan


reinforcement positit atas usaha yang dilakukan residen.

Penulis juga melakukan terapi dengan menggunakan gambar yang berwarna


sebagai terapi warna untuk memperbaiki kerusakan memori residen. Penulis
memberikan pertanyaa warna apa yang di tunjuk oleh penulis secara perlahan dan
menggunakan kata-kata yang jelas dan sederhana kepada residen. Residen sempat
salah dan lupa warna yang penulis tunjuk pada gambar, lalu penulis memberi tahu
warna apa tersebut dan meminta residen utnuk menyebutkan kembali. Penulis
melaih terapi aktivitas dengan senam latih otak. Penulis memberi kesempatan
kepada residen untuk melakukan senam latih otak yang pernah diajarkan di STW
sesuai kemampuan residen. Residen lupa dengan gerakan senam tersebut, penulis
member contoh senam tersebut lalu residen mangikuti gerakan tersebut. Residen
terkadang terlihat kesulitan dalam melakukan senam tersebut sehingga penulis
membantu residen dalam gerakan tersebut. Penulis melakukan evaluasi pada
setiap terapi yang dilakukan. Terkadang, penulis menanyakan kembali nama
penulis kepada residen.

Pada setiap pertemuan, penulis melatih orientasi realita terkait tanggal, bulan, hari
dan tahun. Residen sangat sulit dalam mengingat tanggal, bulan, hari dan tahun,
lalu penulis memberi tahukan sekarang tanggal, bulan, tahun dan hari apa kepada
residen. Kemudian, residen diminta kembali untuk mengulanginya. Residen
mengalami kesulitan dalam latihan orientasi waktu tersebut. Penulis juga
megontrol kalender sobek yang dimiliki residen. Penulis juga mengajukan
pertanyaan tentang hiasan yang terdapat dikamar atau ruang kreasi di STW
kepada residen dan meminta residen untuk menjawabnya. Pertemuan selanjutnya,
penulis melakukan evaluasi mengenai orientasi realita terkait waktu, tanggal,
tahun, bulan dan hari.

Pertemuan terakhir, penulis melakukan evaluasi suamtif. Evaluasi sumatif ini


bertujuan untuk mengetahui keefektifan stimulasi kognitif yang diberikan dalam
menyelesaikan masalah kerusakan memori pada Ibu H. Evaluasi yang dilakukan

Universitas Indonesia
31

meliputi orientai realita, terapi ingatan, senam gerak latih otak sebagai terapi
aktivitas, terapi gambar dan terapi warna.

3.5.2 Implementasi Masalah Defisit Perawatan Diri; Mandi


Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan defisit perawatan diri; mandi dilakukan
sebanyak delapan kali pertemuan. Implementasi yang dilakukan yaitu
mengidentifikasi kesulitas residen dalam melakukan kebersihan diri. Residen
terlihat mengalami kesulitan dalam melakukan kebersihan diri, terlihat dari
adanya belek mata yang masih menempel setelah mandi, dan gigi yang masih
terlihat kotor. Penulis melakukan interaksi dengan menatap wajah residen dan
berbicara secara perlahan dan jelas. Penulis bersama residen melakukan diskusi
terkait pentingnya menjaga kebersihan diri dan alat apa saja yang dibutuhkan saat
membersihkan diri atau mandi. Residen tidak mengalami kesulitan dalam
menyebutkan alat perlengkapan untuk membersihkan diri. Penulis bersama
residen mendiskusikan urutan atau tindakan mandi dan gosok gigi. Saat residen
dapat menjawab pertanyaan dari penulis, penulis memberikan reinforcement
positif kepada residen. Penulis menawarkan kepada residen untuk mambantu
residen dalam membersihkan diri karena residen belum mandi, namun residen
menolak karena residen bisa sendiri.

Implementasi selanjutnya yaitu penulis membantu residen dalam perawatan


memotong kuku. Sebelum dipotong kuku kaki dan tangan residen direndam dalam
air hangat selama 10 menit. Penulis juga membantu residen dalam membersihkan
mulut residen dengan cara mnggosok gigi residen dan berkumur menggunakan
mouthwash. Pertemuan terakhir, perawat melakukan evaluasi sumatif dengan
tujuan untuk mengetahui keefektifan asuhan keperawatan yang diberikan dalam
menyelesaikan maslah defisit perawatan diri; mandi pada Ibu H.

3.5.3 Implementasi Masalah Risiko Jatuh


Pelaksanaan rencana asuhan kepeprawatan risiko jatuh dilakukan sebanyak
delapan kali pertemuan. Implementasi yang dilakukan dengan mengidentifikasi
bersama residen lingkungan yang dapat menyebabkan jatuh. Residen melakukan

Universitas Indonesia
32

interaksi dengan menatap wajah residen sambil berbicara perlahan dan jelas.
Residen menggunakan kata-kata yang sederhana dalam berinteraksi. Penulis
menganjurkan kepada residen untuk menggunakan sandal yang tidak licin. Penulis
membantu residen dalam membersihkan kamar residen dan juga penulis bekerja
sama dengan cleaning service dan caregiver dalam menjaga kebersihan
lingkungan wisma dengan mengepel lantai apabila basah terkena hujan.

Penulis melatih ROM (range of Motion) kepada residen. Latihan ROM yang
dilakukan meliputi bagian kepala, tangan, kaki, serta pinggul. Awalnya penulis
memperagakan ROM aktif sesuai kemampuan residen. Hal tersebut dikarenakan
STW mengadakan senam seperti ROM. Penulis meminta residen untuk mengikuti
gerakan yang penulis lakukan seperti gerakan pada sendi yang mengalami
penurunan kekuatan otot misalnya fleksi dan ekstensi pada lutut.

Implementasi yang dilakukan penulis dengan memberikan tanda saat lantai sedang
basah dan memasang line atau garis berwarna merah pada setiap undakan
walaupun undakan kecil. Sebelum memasang garis berwarna merah penulis
meminta ijin kepada residen dan PJ wisma. Hal tersebut untuk menandakan
bahwa daerah tersebut risiko untuk jatuh. Penulis bersama residen mendiskusikan
pemakaian alat bantu untuk residen serta residen memotivasi residen untuk
menggunakan alat bantu jalan yaitu tongkat agar residen tidak jatuh dan jalan
menjadi seimbang. Penulis mengajarkan penggunakaan alat bantu jalan; tongkat
kepada residen. Hal tersebut sulit di terapkan saat residen berjalan dengan tongkat.
Penulis mempraktekan cara berjalan menggunakan tongkat dengan cara menaruh
tongkat sejajar kaki kemudian angkat tongkat lalu letakkan 15 cm dari titik awal.
Setelah penulis mempraktikan, lalu penulis meminta residen untuk
mempraktikannya kembali. Penulis memberikan reinforcement positif atas usaha
residen dalam mempraktikan cara berjalan. Penulis juga memotivasi residen untuk
menggunakan tongkat tersebut setiap melakukan aktivitas di lingkungan STW.

Pertemuan terakhir, penulis melakukakn evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif ini


bertujuan untuk mengetahui keefektifan asuhan keperawatan yang diberikan

Universitas Indonesia
33

dalam menyelesaikan masalah risiko jatuh pada Ibu H. Evaluasi yang dilakukan
meliputi modifikasi lingkungan, latihan ROM dan penggunaan alat bantu jalan.

3.6 Evaluasi
Penulis menguraikan tiga diagnosis keperawatan utama yaitu kerusakan memori,
defisit perawatan diri; mandi dan risiko jatuh. Penulis menggunakan hasil evaluasi
dengan analisis SOAP. Analisis SOAP terdiri dari emoat bagian yaitu sebjektif
yang merupakan respon yang dipaprkan oleh residen, sedangkan objektif
merupakan respon yang ditunjukkan melalui tindakan atau perilaku residen.
Selain itu terdapat pula analisa yang merupakan analisis terhadap respon subjektif
dan objektif serta implementasi yang dilakukan dan perencanaan yaitu rencana
tindak lanjut yang akan dilakukan residen. tersebut merupakan respon subjektif
dan objektif dari residen dan dianalisis kemudian diberikan rencana tindak lanjut
untuk residen. Evaluasi dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan dari
implementai yang sudah penulis lakukan.

Pada awal pertemuan, residen masih terlihat bingung dengan kehadiran


mahasiswa tetapi residen bersedia berinteraksi dengan mahasiswa. Setelah
berinteraksi selama satu minggu, hubungan bina saling percaya antar residen dan
mahasiswa sudah terlaksana dengan baik. Upaya tersebut dengan cara menyapa
residen, memberikan perhatian kepada residen dan melakukan interaksi secara
rutin dengan residen. Residen mengatakan tidak mempunyai keluhan tetapi
setelah melakukan pemeriksaan MMSE dan observasi kepada residen, residen
mengalami gangguan kognitif. Implementasi diagnosa utama yaitu kerusakan
memori dilakukan dari minggu kedua sampai minggu ke tujuh.

Diagnosa pertama yaitu kerusakan memori. Intervensi yang telah dilakukan


selama 7 minggu dilakukan sebanyak seminggu 4 kali pertemuan. Intervensi
diberikan untuk mengatasi masalah kerusakan memori. Tindakan yang dilakukan
yaitu dengan menciptakan lingkungan yang tenang, menggunakan suara yang
rendah dan kata-kata yang sederhana, menggunakan hal-hal yang humoris saat
berinteraksi serta latihan stimulasi kognitif yaitu terapi gambar (tema: binatang

Universitas Indonesia
34

lucu dan kebiasaan sehari-hari) serta melakukan stimulasi kognitif dengan


orientasi realita (tanggal, bulan dan tahun serta orang/ individu). Pada saat
orientasi tanggal, bulan dan tahun, penulis menggunakan media kalender. Selain
itu, penulis memberikan terapi ingatan dengan memberikan gambar benda yang
dahulu residen sering gunakan yaitu mesin jahit. Posisi yang dilakukan penulis
saat melakukan stimulasi kognitif dengan residen yaitu saling berhadapan untuk
mengatasi masalah tersebut.

Intervensi yang telah dilakukan mendapatkan respon positif setelah dilakukannya


terapi gambar binatang lucu dan kebiasaan sehari-hari serta warna. Setelah
dilakukan terapi selama lima kali pertemuan, efek pada residen yaitu residen
mengatakan pada gambar pertama ada 3 ekor kucing berwarna hitam, dan coklat,
residen mengatakan kucing tersebut berkaki 4 dan mempunyai bulu serta matanya
melotot dan sedang duduk semua. Residen juga mengatakan ada 1 ekor kupu-
kupu yang berwarna hitam, residen mengatakan ciri-ciri kupu-kupu yaitu
memiliki sayap dan berkaki 4, residen mengatakan pada gambar kedua adalah
anak laki-laki yang sedang makan, residen mengatakan warna baju anak tersebut
berwarna merah dan rambutnya hitam, residen mengatakan gambar tersebut anak
sedang makan nasi, dan ayam. Selain itu, residen terlihat berfikir keras saat akan
menjawab, residen sering lupa saat ditanya terhadap kejadian yang baru saja
terjadi, residen mampu menjawab gambar yang dilihat ke residen meskipun
terkadang residen dibantu dalam menjawab, dan residen terlihat mampu
menyebutkan warna yang ada digambar tersebut. Stimulasi terapi kognitif selama
7 minggu belum mampu meningkatkan tetapi penulis sudah mampu
meningkatkan hubungan saling percaya kepada residen serta residen mampu
mengenal suatu objek yang diperlihatkan dengan gambar. Dengan stimulasi terapi
kognitif dapat membantu masalah kerusakan memori dengan cara latihan terapi
gambar secara teratur yang didampingi oleh penulis dan mahasiswa keperawatan
yang lain.

Intervensi selanjutnya juga mendapatkan respon positif setelah dilakukan orientasi


realita (tanggal, bulan, tahun serta mengenal individu). Setelah dilakukan orientasi

Universitas Indonesia
35

tanggal, bulan, tahun dan hari selama lima minggu pertemuan, residen
mengatakan nama hari dan bulan secara berurutan, residen mengatakan
mengatakan lupa kembali sekarang tanggal berapa. Perubahan signifikan terlihat
pada minggu ke empat, residen mengatakan lupa tanggal berapa tetapi residen
mengatakan sekarang bulan mei. Setelah dilakukan orientasi realita; orang selama
4 minggu, residen mengatakan kalau yang menggunakan list kuning dari
Pontianak dan yang menggunakan list biru dari UI. Dan, setelah dilakukan
orientasi realita pada bulan yang baru yaitu bulan juni, residen mengatakan
sekarang bulan mei, residen juga mengatakan sering lupa dengan tanggal, bulan
dan tahun, dan residen mengatakan sekarang hari jumat.

Residen terlihat berfikir keras saat akan menjawab, residen sering lupa saat
ditanya terhadap kejadian yang baru saja terjadi, residen sering mengulang
pertanyaan yang sama, residen mampu menjawab bulan meskipun terkadang suka
lupa dan kalender yang berada di kamar residen terkadang belum disobek.
Stimulasi terapi kognitif selama 7 minggu belum mampu meningkatkan orientasi
realita pada residen tetapi residen mampu menyebutkan bulan, dan hari dan
mengenal perbedaan individu meskipun tidak semua dapat diingat oleh residen.
Maka stimulasi terapi kognitif dilanjutkan dengan cara orientasi realita, terapi
gambar, terapi ingatan, terapi warna dan terapi ativitas secara teratur yang
didampingi oleh penulis dan mahasiswa keperawatan yang lain.

Terapi ingatan atau kenangan dilakukan selama tujuh minggu. Setelah dilakukan
intervensi pada minggu ke lima, residen mengatakan bahwa dahulu dirinya suka
menjahit baju yang dipakainya, serta membuat pakaian untuk anaknya, residen
juga mengatakan hasil jahitannya terkadang di titipkan ke orang untuk di jual ke
pasar, residen juga mengatakan dahulu pernah jalan-jalan di alun-alun surabaya.
Selain itu, residen mengatakan dahulu pakaian yang sering dibuatnya seperti batik
dan residen mengatakan paling suka membuat kemeja untuk wanita, residen juga
mengatakan dahulu pernikahan yang dijalaninya karena dijodohi oleh orang
tuanya. Hasil observasi didapatkan residen terlihat berkonsentrasi keras, residen
tampak berfikir sejenak saat menjawab menyampaikan maksd gambar tersebut.

Universitas Indonesia
36

Stimulasi terapi kognitif mampu meningkatkan ingatan residen pada masa lalunya
terhadap hobynya, namun tidak semua dapat diingat oleh residen. Maka stimulasi
terapi kognitif dapat dilanjutkan dengan cara orientasi realita, terapi gambar,
terapi ingatan, terapi warna dan terapi aativitas secara teratur dengan memberikan
benda-benda yang residen sukai dengan didampingi oleh penulis dan mahasiswa
keperawatan yang lain.

Intervensi selanjutnya yang telah dilakukan terkait masalah kerusakan memori


dengan memberikan latihan aktivitas seperti senam latih otak yang dilakukan
hanya 5 kali selama 7 minggu. Setelah dilakukan intervensi tersebut, residen
mengatakan nyaman setelah melakukan senam, residen juga mengatakan sedikit
capek. Hasil obeservasi didapatkan bahwa residen terlihat senang saat melakukan
senam, residen terlihat mempraktikan senam yang diajarkan oleh penulis. Setelah
5 kali melakukan senam residen menolah untuk melakukan senam dengan alasan
pusing. Stimulasi terapi kognitif yaitu latihan senam belum belum berhasil
diterapkan secara teratur karena residen terkadang menolak untuk dilakukan
intervensi. Maka stimulasi terapi kognitif dilanjutkan dengan cara orientasi realita,
terapi gambar, terapi ingatan, terapi warna dan terapi ativitas secara teratur yang
didampingi oleh penulis dan mahasiswa keperawatan yang lain.

Tindakan selanjutnya yang dilakukan yaitu masalah defisit perawatan diri; mandi.
Intervensi yang telah dilakukan selama 7 minggu. Pertemuan terkait intervensi
dilakukan seminggu 4 kali. Intervensi yang dilakukan dengan diskusi terkait
gosok gigi dan membantu membersihkan gigi dan mulut serta memotong kuku.
Setelah dilakukan intervensi selama dua minggu terkait masalah defisit perawatan
diri; mandi, residen mengatakan perlengkapan untuk kebersihan diri yaitu sabun,
sikat gigi dan sampo, residen mengatakan kukunya terlihat bersih, dan residen
senang kukunya digunting oleh mahasiswa, residen juga mengatakan segar setelah
melakukan kumur-kumur menggunakan mouthwash, residen mengatakan gosok
gigi dilakukan saat mandi saja. Kuku residen terlihat bersih, rapi dan tidak kotor,
dan tidak tercium bau dari mulut.

Universitas Indonesia
37

Pada minggu ke empat, residen mengatakan enak dan segar setelah berkumur-
kumur menggunakan mouthwash dan Tidak tercium bau dari mulut residen. Pada
minggu ke enam, residen mengatakan enak setelah dibersihkan gigi dan mulutnya
dan segar setalah berkumur-kumur. Gigi residen terlihat bersih dan sudah tidak
ada sisa kotoran, dan tidak tercium bau dari mulutnya, Residen sering kali
mengatakan tidak mau untuk dibantu membersihkan gigi dan mulutnya. Akan
tetapi, terkadang residen mau untuk dibantu membersihkan gigi dan mulut.
Masalah defisit perawatan diri selama 7 minggu belum berhasil diterapkan secara
teratur karena residen terkadang menolak untuk dilakukan intervensi. Maka
dilakukannya perawatan diri seperti gosok gigi dan perawatan kuku dapat
membantu masalah defisit perawatn diri; mandi dengan melakukan kebersihan
gigi dan mulur secara teratur.

Tindakan selanjutnya yang dilakukan yaitu masalah risiko jatuh. Intervensi


dilakukan selama 7 minggu. Pertemuan terkait intervensi dilakukan seminggu 5
kali. Intervensi yang telah diberikan yaitu membantu residen membersihkan
kamar, berkerja sama dengan pihak wisma dalam menjaga kebersihan lingkungan
kamar dan wisma, memfasilitasi mengikuti aktivitas, melatih ROM dan bekerja
sama dengan pihak STW untuk memfasilitasi alat bantu jalan. Setelah dilakukan
intervensi pada minggu ketiga tersebut, residen mengatakan kamarnya sudah
bersih, residen mengatakan sandalnya yang untuk di wisma hanya ini saja, residen
mengatakan badan terasa enak setelah senam, residen mengatakan alat bantu jalan
berfungsi untuk membantu dalam berjalan dan agar tidak jatuh, dan residen
mengatakan mau menggunakan alat bantu jalan. Residen terlihat mengikuti
senam, residen terlihat menyapu kamarnya.

Setelah intervensi pada minggu ke empat, residen mengatakan pusing saat diajak
mengikuti senam, dan residen mengatakan senang setelah mendapatkan alat bantu
jalan. Residen tidak mengikuti senam setelah jatuh pada minggu ke 3, residen
mengatakan bersedia latihan ROM di sekitar kamarnya saja. Residen terlihat
merapikan kamarnya, residen terlihat bersemangat saat berlatih ROM, residen
terlihat tidak bersemangat untuk mengikuti kegiatan di pendopo seperti senam,

Universitas Indonesia
38

dan bermain angklung. Residen terlihat bersemangat dan mengikuti gerakan saat
berlatih ROM, cleaning service membantu dalam membersihkan kamar residen.
Setelah dilakukan intervensi pada minggu ke lima dan enam, residen mengatakan
tidak mau mengikuti kegiatan di pendopo karena pusing, residen mengatakan
badan terasa nyaman setelah berlatih ROM. Residen terlihat mempraktikan cara
menggunakan alat bantu jalan atau tongkat, residen terkadang tidak menggunakan
alat bantu jalan, residen terlihat berlatih ROM di depan kamar, terlihat tanda
merah pada setiap undakan. Masalah risiko jatuh selama 7 minggu belum efektif
diterapkan secara teratur karena residen terkadang lupa menggunakan tongkatnya
dan menolak untuk senam. Maka penggunaan alat bantu jalan, latih ROM dan
modifikasi lingkungan dapat dilanjutkan dalam membantu masalah risiko jatuh
secara teratur.

Universitas Indonesia
BAB 4
ANALISIS SITUASI

4.1 Analisis Profil Pelayanan Sasana Tresna Werdha


Kawasan perkotaan merupakan kawasan yang mengalami perkembangan
penduduk maupun kegiatan masyarakat yang semakin sulit utnuk dikontrol
sehingga banyak menimbulkan persoalan bagi fasilitas maupun penduduk atau
penghuninya. Perkembangan yang pesat tentunya memiliki banyak masalah tidak
hanya pada lingkungan fisik tetapi juga pada lingkungan psikologis individunya
tersebut. Lanjut usia di perkotaan sangat membutuhkan suatu pelayanan yang
dapat memnuhi kebutuhan dirinya khususnya lansia yang ingin memperoleh
kesehatan dan kemandirian secara optimal di hari tuanya. Sasana Tresna Werdha
Karya Bhakti merupakan salah satu hunian yang tepat untuk lanjut usia dan
tempatnya pun berada di tengah perkotaan.

Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti dimiliki dan dikelola oleh Yayasan RIA
Pembangunan yang diresmikan oleh Ibu Hj. Siti Hartinah Soeharto pada tanggal
14 Maret 1984. Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti merupakan institusi yang
bergerak di bidang pelayanan kesejahteraan khusus kepada generasi lanjut usia.
STW Karya Bhakti memiliki visi yaitu pengabdian pada sesama dengan
memberikan pelayanan secara terpadu dan menyeluruh baik fisik, mental, sosial,
maupun spiritual pada lanjut usia serta misi dari STW Karya Bhakti antara lain
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas pelayanan
sesuai kebutuhan, melengkapi sarana dan prasarana seiring dengan perkembangan
kebutuhan masyarakat, bermitra dengan dunia pendidikan dan pemerintah,
menjadi tempat keterpaduan fasilitas dan pemberian pelayanan kepada masyarakat
khusus usa lanjut, bekerja sama dengan institusi terkait regional maupun global,
dan berperan aktif di dalam gerakan peduli lansia dan lansia peduli.

Pelayanan yang terdapat di Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti bagi para lanjut
usia bertujuan untuk menjaga kualitas hidup meliputi pelayanan kesehatan,
pelayanan sosial serta kegiatan bincang-bincang. Pelayanan kesehatan yang

39 Universitas Indonesia
40

terdapat di Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti meliputi konsultasi ahli, asuhan
keperawatan, fisioterapi, farmasi, rawat jalan, rawat inap, rujukan RS dan
kegawatdaruratan, pemeriksaan tanda-tanda vital secara rutin. Pelayanan sosial
yang terdiri dari pembinaan mental spiritual seperti tadarus, pengajian, serta
kebaktian dan program kesenian seperti seni tradisional (angklung), bernyanyi,
kegiatan keterampilan membuat anyaman atau menyulam, merajut, menonton
film, mendengarkan musik, serta berkebun. Kegitan yang lain di STW yaitu
kegiatan BAKI atau bincang-bincang dengan beberapa tokoh atau instansi. Sasana
tresna werdha ini dapat dimanfaatkan oleh lansia untuk menyalurkan hobi yang
dimilikinya dan serta hiburan bagi lanjut usia untuk memnuhi kebutuhan fisik
maupun psikologisnya.

Sasana tresna werdha merupakan model pelayanan long term care yang
menggabungkan antara nursing home dan adult day care. Pada STW Karya
Bhakti aspek nursing home yang diterapkan pada wisma Wiajaya Kusuma yang
menyediakan pelayanan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada lanjut
usia baik masalah makan, fisik, kesehatan maupun psikologis bagi lanjut usia.
Hal tersebut sesuai Tennesse Health Care Association (2013) yang menyatakan
bahwa nursing home merupakan sebuah tempat tinggal yang memiliki berbagai
fasilitas kesehatan dan sosial yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar
lanjut usia seperti makan, berpakaian, dan merawat diri. Pelayanan STW terkait
aspek nursing home juga terdapat tingkat pelayanan kemandirian minimal care,
partial care dan total care sehingga memerlukan care giver atau orang lain dalam
memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pelayanan yang diberikan di Wisma Wijaya
Kusuma lebih berfokus pada asuhan keperawatan baik medis maupun non medis.
Pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan di wisma Wijaya Kusuma cukup
untuk memenuhi kebutuhan residen dengan penurunan kesehatan. Pelayanan
tersebut juga difasilitasi dengan adanya pemberian medikasi dan fisioterapi.

STW Karya Bhakti juga memilik konsep adult day care dengan adanya
pelayanan harian lanjut usia (PHLU). Pelayanan ini ditunjukkan bagi lansia yang
tinggal bersama keluarga dan membutuhkan kegiatan yang bermanfaat dengan

Universitas Indonesia
41

lansia lainnya pada siang hari. Kegiatan PHLU yang biasanya dilakukan yaitu
senam, bermain angklung, merajut, menyulam serta menganyam. Selain kegiatan
rutin yang sering dilakukan, kegiatan lain STW yang melibatkan PHLU yaitu
apabila terdapat acara yang besar seperti HALUN (Hari Lanjut Usia Nasional).
Pada kegiatan senam atau merajut, meyulam serta menganyam di pendopo
terdapat pula pemeriksaan tanda-tanda vital yang di periksa oleh perawat wijaya
kusuma. Pelayanan tersebut sesuai dengan Stanley & Beare (2007) yang
menyatakan pelayanan yang disediakan lanjut usia adalah pemeriksaan tanda-
tanda vital, latihan atau terapi fisik seperti senam atau latihan ROM, pemberian
obat, serta kegiatan positif untuk meningkatkan kesehatan lansia.

Lanjut usia yang ingin menetap atau tinggal di STW Karya Bhakti harus memiliki
berbagai persyaratan, antara lain berusia di atas 60 tahun, sehat jasmani maupun
rohani, mandiri, ingin tinggal di STW atas keinginan sendiri, memiliki
penanggung jawab keluarga, dan paling penting adalah tidak ada paksaan dari
pihak manapun. STW Karya Bhakti dilengkapi oleh fasilitas yang dapat
memenuhi kebutuhan lanjut usia antara lain fasilitas hunian, klinik werdha,
fasilitas penunjang kesehatan lansia, dan fasilitas lain yang mendukung. Fasilitas
hunian meliputi wisma Aster kapasitas 18 kamar VIP, Wisma Bungur kapasitas
25 kamar, Wisma Cempaka kapasitas 26 kamar, dan Wisma Dahlia kapasitas 8
kamar. Fasilitas klinik werdha antara lain Wisma Wijaya Kusuma kapasitas 3
kamar VIP, bangsal rawat inap 15 tempat tidur, pelayanan 24 jam. Fasilitas
penunjang pelayanan lansia antara lain Wisma Soka, Wisma Melati, dan Wisma
Kamboja. Fasilitas lain pendukung bagi kehidupan lansia antara lain dapur, ruang
cuci, ruang serba guna, perpustakaan, pendopo, ruang pemeriksaan kesehatan
serta pelayanan kondisi kesehatan yang ingin berobat ke RS.

Fasilitas hunian di STW Karya Bhakti salah satunya yaitu wisma cempaka.
Wisma Cempaka merupakan salah satu hunian yang memiliki kapasitas 26 kamar
tidur, 1 ruang makan bersama, 2 pantry, serta ruang kreasi. Saat ini residen yang
berada di wisma cempaka berjumlah 19 residen. Jumlah caregiver yang berada di
wisma cempaka berjumlah 5 orang dan jumlah perawat ada 2 orang serta terdapat

Universitas Indonesia
42

seorang penanggung jawab wisma. Pembagian kamar residen berdasarkan pilihan


residen saat awal masuk ke STW serta kondisi kesehatan residen. Kondisi residen
yang berada di wisma cempaka pun beragam, meliputi residen dengan tingkat
kemandirian minimal care dan partial care. Perawatan total care tidak terdapat di
wisma cempaka.

STW Karya Bhakti merupakan hunian yang bersifat private pada setiap
residennya. Residen hanya tinggal sendiri di kamar tanpa ada keluarga maupun
teman yang menemaninya. Kawasan perkotaan yang merupakan kawasan yang
memiliki rutinitas yang padat serta polusi yang tinggi dapat menyebabkan
menurunya kulaitas hudup lanjut usia. Sasana tresna werdha merupakan solusi
yang baik bagi pelayanan lanjut usia untuk meningkatkan kualitas hidup lanjut
usia. Residen yang tinggal di STW Karya Bhakti tersebut berasal dari daerah dan
latar belakang pendidikan yang berbeda.

Adanya STW Karya Bhakti di tengah perkotaan tersebut dapat meningkatakan


dampak postif bagi lanjut usia tersebut. Kegiatan yang dapat meningkatkan
dampak positif diantaranya kegiatan senam, bermain angklung, menonton film,
merajut serta menyulam.Tidak hanya kegiatan yang bermanfaat yang residen
dapatkan di STW. Residen juga dapat mendapatkan banyak teman serta
bersosialisasi dengan residen lainnya. STW tersebut banyak memiliki manfaat
pada lanjut usia dalam meningkatkan kebutuhan fisik maupun psikologis.
Manfaatnya tersebut sangat dirasakan oleh lanjut usia dengan adanya pelayanan
yang terdapat di STW. Pelayanan tersebut yaitu pelayanan pada bidang sosial
maupun dalam bidang kesehatan.

Keunggulan dari STW Karya Bhakti yaitu menggabungkan model long term care
dengan konsep nursing home dan adult day care. Sasana tresna werda memiliki
wisma wijaya kusuma yang menerapkan konsep nursing home dan ditujukan
kepada lanjut usia yang memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi dan
penurunan kondisi kesehatan. Keunggulan lain dari STW Karya Bhakti yaitu
berdasarkan standar nursing home dari California Advocates Health Nursing

Universitas Indonesia
43

Reform (2012), STW Karya Bhakti memenuhi standar nursing home diantaranya
sudah tersedianya kebutuhan akomodasi untuk residen, karyawan atau tenaga
kesehatan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan residen, kebutuhan cairan
untuk mengatasi lanjut usia yang mengalami dehidrasi, kebutuhan nutrisi untuk
residen, pemberian obat secara benar yang diberikan oleh petugas, pelayanan
fisioterapi, pengendalian infeksi di wisma wijaya kusuma, tersedianya pencegahan
kecelakaan untuk residen, dan pemeriksaan pada dokter.

Kekurangan yang terapat pada STW Karya Bhakti belum adanya petugas apoteker
yang berlisensi untuk memeriksa obat secara benar, serta belum adanya pelayanan
kesehatan terkait mata, telinga dan gigi. STW Karya Bhakti juga belum
menentukan manajeman panti yang sesuai untuk STW. Dengan menggabungkan
konsep pelayanan lanjut usia, STW Karya Bhakti kesulitan dalam menerapkan
masing-masing konsep sehingga pelayanan yang diberikan belum optimal.

4.2 Anlisis Asuhan Keperawatan Kerusakan Memori dengan


Penatalaksanaan Demensia
Fenomen peningkatan jumlah lanjut usia saat ini mengakibatkan juga peningkatan
perubahan pada kesehatan dan psikososial lanjut usia tersebut. Perubahan
psikososial yang terjadi pada lanjut usia yaitu kerusakan memori. Gangguan atau
kerusakan fungsi kognitif yang umum terjadi pada lanjut usia dikenal dengan
demensia (Stanley & Beare, 2002). Demensia merupakan suatu sindrom
penurunan kemampuan intelektual progresfi yang menyebabkan penurunan
kualitas kognitif dan fungsional sehingga mempengaruhi terjadinya gangguan
fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari (Siahaan, Marlin M, 2008).
Faktor risiko terjadinya kerusakan memori yaitu agregasi familial dari sindrom
down, usia individu yang sudah lanjut, genetik, riwayat depresi, trauma kepala,
dan pendidikan rendah, serta daktor risiko demensia vaskuler meliputi riwayat
penyakit vaskuler, stroke, dan gangguan irama jantung (Alzheimers Association,
2013; Stanley & Beare, 2007).

Universitas Indonesia
44

Demensia yang terjadi pada residen dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko yang
meliputi usia residen yang sudah lanjut, riwayat penyakit terdahulu yaitu
hipertensi serta pendidikan yang rendah (SD). Usia residen yang sudah lanjut dan
pendidikan residen yang rendah dapat mempengaruhi kemampuan fungsi
kognitifnya (Stanley & Beare, 2007)

Karakteristik dari masalah kerusakan memori yaitu kesulitan untuk mengingat


kejadian yang baru saja terjadi, tidak ingat kegiatan tadi pagi yang dilakukan,
tidak mengingat makanan apa yang telah dimakan , disorientasi orang dan waktu,
serta terjadinya perubahan perilaku pada individu yang memiliki masalah
kerusakan memori (NANDA, 2012, Stanley & Beare, 2007). Pada kasus Ibu H
didapatkan residen memiliki gejala seperti lupa dengan yang di makan,
disorientasi tanggal, waktu dan tahun, lupa dengan kegiatan yang baru saja
dilakukan.

Residen mengalami beberapa perilaku yang membuat interaksi dengan penghuni


lainnya menjadi berubah seperti menarik diri dari komunitas, mudah curiga
apabila ada penghuni yang sedang berkumpul, mudah marah, serta gelisah.
Ebersole (2005) mengatakan karakteristik dari demensia yaitu frustasi, menarik
diri, curiga, mudah marah, dan gelisah serta sulit dalam membuat keputusan.
Dengan perilaku seperti itu maka dibutuhkan adanya motivasi atau dukungan dari
perawat terutama keluarga dalam membantu residen untuk mengingat memorinya.

Kondisi lanjut usia yang memiliki masalah gangguan kognitif, maka diberikan
adanya intervensi yang membantu dalam mengurangi kerusakan memori residen.
Intervensi yang diberikan penulis dengan memanggil nama residen ketika
memulai interaksi. Hal tersebut dilakukan agar residen menimbulkan pengenalan
realita individu (Doenges, 2000). Penulis mempertahankan lingkungan yang
menyenangkan dan tenang saat melakukan interaksi dengan residen. Hal tersebut
dikarenakan agar residen dapat fokus saat berinteraksi. Stanley & Beare (2007)
juga menyatakan bahwa tekanan lingkungan merupakan suatu stressor bagi
penderita demensia sehingga tekanan lingkungan yang harus diperhatikan pada

Universitas Indonesia
45

penderita demensia yang meliputi stimulus auditori, visual maupun taktil. Dan
juga, dengan lingkungan yang tenang dan nyaman dapat mempengaruhi pikiran
sehingga tidak meningkatkan gangguan neuron (Doenges, 2000). Dalam
memberikan terapi dan berinteraksi dengan residen, penulis juga menggunakan
nada suara yang tidak terlalu keras dan berbicara secara perlahan. Hal tersebut
dikarenakan akan menimbulkan stress bagi penderita demensia sehingga
menimbulkan kekacauan pada pola pikirnya. Doenges (2000) menyatakan bahwa
ucapan yang keras dapat menimbulkan stress yang dapat mencetuskan memori
mengalami kekacauan dan ketidakpahaman bagi individu tersebut. Sehingga
diperlukannya suara dengan nada yang rendah untuk berinteraksi dengan
penderita demensia.

Intervensi yang dilakukan penulis dengan menggunakan kata atau kalimat yang
sederhana ketika berinteraksi atau melakukan terapi dengan residen. Hal tersebut
agar residen dapat menangkap maksd dari perkataan penulis. Hal ini juga seperti
pada Doenges (2000) menyatakan penderita dengan demenisa mengalami
gangguan pada fungsi kognitifnya sehingga menghilangkan kemampuan individu
dalam memproses dan menerima pesan secara keseluruhan. Saat berinteraksi
dengan residen, penulis menggunakan hal-hal yang humoris. Tertawa dan hal
yang humoris dapat membantu dalam meningkatkan kestabilan emosi (Doenges,
2000). Intervensi lain yang dilakukan penulis dengan melakukan stimulasi
kognitif yang dapat membantu dalam meningkatkan fungsi kognitif. Penelitian
Orell, Spector, & Woods (2008) menyatakan stimulasi kognitif juga bertujuan
untuk menerapkan strategi dalam meningkatkan fungsi kognitif bagi penderita
dimensia, terutama Alzheimer.

4.3 Analisis Intervensi Stimulasi Kognitif yang Dilakukan dengan Konsep


dan Penelitian Terkait
Stimulasi terapi kognitif merupakan suatu cara dalam promosi kesehatan yang
dapat dilakukan oleh penderita dengan gangguan kognitif. Stimulasi terapi
kognitif berupaya untuk mengoptimalkan kualitas kesehatan inteligensi pada

Universitas Indonesia
46

penderita gangguan otak, saraf dan otot yang dilakukan melalui stimulasi atau
latihan agar memiliki atau meningkatkan kemampuan inteligensi (Depkes, 2010).
Stimulasi kognitif ini juga memiliki manfaat untuk mengurangi atau
memperlambat kerusakan pada memori penderita demensia, sehingga penderita
demenisa dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Stimulasi terapi kognitif
tersebut terdiri dari berbagai macam terapi diantaranya orientasi realita, terapi
ingatan atau kenangan, terapi gambar, terapi warna dan terapi aktivitas (Douglas,
2004).

Penderita demensia memiliki masalah pada kognitifnya. Dengan penurunan


kemampuan kognitif, penderita demensia memiliki gangguan dalam pemenuhan
kebutuhan dasar dirinya, mulai dari makan, mandi bahkan sampai perasaan yang
dialaminya. Stimulasi kognitif tersebut diberikan dengan tujuan untuk
menerapkan strategi dalam meningkatkan fungsi kognitif bagi penderita dimensia,
terutama Alzheimer (Orell, Spector, & Woods, 2008).

Pada kondisi residen saat ini, residen diberikan orientasi realita. Orientasi realita
tersebut merupakan terapi yang mambantu dalam meningkatkan daya ingat serta
banyak dilakukan oleh penderita dimensia. Berdasarkan residen yang dikelola
penulis, residen dapat mengingat bulan dan hari setelah diberikan orientasi realita
yang diberikan tetapi tidak secara menyeluruh residen ingat. Hal tersebut sesuai
dengan Douglas (2004) yang menyatakan bahwa orientasi realita merupakan suatu
tindakan intervensi yang banyak digunakan untuk penderita dimensia, terutama
yang berkaitan dengan gangguan memori dan disorientasi waktu, dan tanggal dan
warna.

Orientasi realita ini menggunakan media seperti kalender untuk membantu


mengingat tanggal, bulan, tahun serta hari yang residen tidak ingat. Residen
tersebut membalikkan atau merobek kalender saat pergantian tanggal untuk
membantu menunjukkan tanggal, bulan dan hari saat ini. Hal tersebut sesuai
dengan teori Droes (2011) yang mengatakan bahwa orientasi realita dapat
menggunakan alat bantu apabila kemampuan mengingat sulit dengan

Universitas Indonesia
47

menggunakan kalender. Orientasi realita juga dapat meningkatkan memori residen


terhadap lingkungan yang terdapat disekitarnya.

Orientasi realita ini juga dapat meningkatkan kognitif residen dengan


memperlihatkan bahwa residen mengingat nama benda atau objek yang terdapat
dilingkungan serta membantu residen dalam memenuhi kebutuhan dasar residen.
Hal tersebut sesuai dengan Yu, Rose & Burgener (2009) bahwa pelatihan
orientasi realita dapat meningkatkan kognitif, aktivitas sehari-hari serta dalam
pengmbilan keputusan. Residen kelolan juga diberikan terapi ingatan atau
kenangan dalam mengingat memori masa lalunya.

Kondisi residen terkait gangguan memori terhadap masa lalunya, penulis


memberikan sebuah gambar mengenai meja jahit. Residen memberikan hal positif
setelah memberikan gambar meja jahit. Residen dapat mengingat pengalaman
masa lalunya dan menimbulkan rasa senang saat mengingatnya. Hal tersebut
sesuai dengan Douglas (2004) yang menyatakan bahwa terapi tersebut dapat
memunculkan kembali pengalaman masa lalu sehingga menimbulkan rasa senang
saat mengingatnya. Dengan terapi tersebut, residen dapat mengingat pengalaman
positif yang sering residen lakukan dengan keluargamya.

Media gambar dapat meningkatkan kognitif lansia untuk mengingat kembali apa
yang dilihatnya saat itu. Gambar yang dilihat oleh residen mampu meningkatkan
kognitif residen dengan mengenal objek atau benda yang dilihat. Hal tersebut
sesuai dengan Clare dalam Van Der Roest et all (2011) bahwa melalui media
gambar dapat membantu dalam mengatasi masalah memori pada tahap awal
demensia.

Latihan aktivitas juga merupakan suatu terapi yang dapat membantu dalam
meningkatkan rasa percaya diri. Latihan ini dilakukan residen untuk mengatasi
masalah gangguan kognitif yang dialaminya. Hal tersebut sesuai dengan
penelitian bahwa aktifitas fisik membantu dalam meningkatkan fungsi kognitif,
memperbaiki kesehatan mental, pola tidur dan mood individu (Douglas, 2004).

Universitas Indonesia
48

Latihan terebut untuk membantu dalam memperbaiki fungsi kognitif yang dialami
lanjut usia.

Hasil observasi dari asuhan keperawatan oleh residen menunjukkan stimulasi


kognitif dapat membantu dalam memperbaiki gangguan kognitif pada penderita
lanjut usia. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Orell, Spector, & Woods (2008)
bahwa stimulasi kognitif dapat membantu dalam mengatasi gejala demensia.
Dengan diberikannya stimulasi kognitif tersebut, residen dapat mengingat kembali
memori yang terjadi maupun masa lalu. Tetapi stimulasi kognitiif tersebut juga
harus dibantu dengan adanya perhatian dari keluarga maupun teman dekat yang
dapat membantu residen dalam mengingat memorinya.

4.4 Alternative Intervensi Lain


Kerusakan memori atau dikenal dengan demensia terdapat berbagai strategi
intervensi dalam pencegahannya. Intervensi pencegahan pada masalah kerusakan
memori selain stimulasi kognitif (orientasi realita, terapi aktivitas, terapi gambar,
dan terapi ingatan atau kenangan) yaitu dengan terapi kognitif perilaku untuk
membantu penderita demensia dalam berprasangka buruk, serta kesulitan dalam
berkomunikasi (Douglas, 2004). Dengan menurunnya fungsi kognitif pada
residen, diharapkan rasa curiga dan komunikasi residen dengan penghuni wisma
serta caregiver dapat meningkat dan berdampak pula pada pertemanan atau
persaudaraan yang diinginkan. Rasa curiga yang dimiliki residen kepada para
penghuni wisma dapat menimbulkan permusuhan bahkan omongan diantara
penghuni wisma, seperti saat penghuni wisma sedang mengobrol dengan
mahasiwa perawat maka residen memanggil mahasiswa tersebut dan menanyakan
mereka ngomongin saya. Hal ini menunjukkan rasa curiga yang dimiliki residen
memberikan dampak yang tidak baik terhadap dirinya sendiri. Dengan
memberikan terapi kognitif perilaku diharapkan rasa curiga dan komunikasi
residen dapat teratasi.

STW Karya Bhakti juga dapat menerapkan terapi aroma atau aromatherapy.
Terapi tersebut merupakan bagian dari terapi komplementer. Terapi ini membantu

Universitas Indonesia
49

dalam memperbaiki fungsi sensorik penderita demensia ( Douglas, 2004). Minyak


yang paling sering digunakan untuk terapi aroma yaitu ekstrak lavender dan
balsam melissa. Penelitian Ballard et all dalam Douglas (2004) menyatakan terapi
aroma dapat memperbaiki gangguan agitasi pada penderita demensia. Terapi
aroma tersebut juga dapat dilakukan STW pada masing-masing kamar residen.
Selain itu membantu masalah kerusakan memori, terapi tersebut juga dapat
membantu untuk rileksasi dengan harum yang wangi.

Intervensi lain yang dapat dilakukan STW dalam meningkatkan fungsi kognitif
bagi residen yaitu dengan melibatkan residen dalam kegiatan kelompok. Dengan
melibatkan residen dalam kegiatan kelompok diharapkan residen memiliki
aktivitas yang dapat memberikan terapi pada residen untuk berpikir bersama
sehinga dapat menghindari terjadinya kerusakan memori yang lebih parah.

Universitas Indonesia
BAB 5

PEMBAHASAN

5.1 Kesimpulan
Hasil karya ilmiah ini dapat disimpulkan bahwa Sasana tresna werdha merupakan
institusi yang menggunakan model long term care dengan menggabungkan antara
nursing home dan adult day care yang mempunyai pelayana kesehatan, serta
pelayanan sosial. Sasana tresna werdha tersebut memiliki bebrapa wisma tempat
residen tinggal. Salah satunya yaitu wisma Cempaka, pada wisma cempaka
terdapat lanjut usia yang berumur 88 tahun yang bernama Ibu H. Ibu H
merupakan lanjut usia yang memiliki masalah dengan kerusakan memori.
Keruskaan memori merupakan salah satu tanda gejala yang dialami penderita
demensia. Pengkajian terkait Ibu H dengan masalah kerusakan memori meliputi
pengkajian pengkajian fisik, serta pengkajian MMSE dan CDR. Hasil pengkajian
yang diperoleh mendapatkan diagnosis kerusakan memori, defisit perawatan diri;
mandi dan risiko jatuh.

Rencana asuhan keperawatan yang diberikan pada masalah kerusakan memori


yaitu dengan melakukan stimulasi terapi kognitif. Selain itu, residen diberikan
lingkungan yang tenang dan nyaman. Stimulasi terapi kognitif merupakan suatu
upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan fungsi kognitif seseorang.
Stimulasi terapi kognitif yang dilakukan dengan cara orientasi realita, terapi
gambar dengan menggunakan media, terapi ingtan serta terapi aktivitas. Stimulasi
kognitif ini dapat membantu individu dengan masalah gangguan kognitif atau
demensia untuk meningkatkan daya ingat atau fungsi kognitif. Selain itu, dapat
mengurangi kerusakan memori yang dialami individu dengan masalah gangguan
kognitif atau dimensia.

5.2 Saran
Hasil karya ilmiah ini perlu diperhatikan bahwa pada lansia dengan demensia
pemeriksaan yang dilakukan tidak harus percaya sepenuhnya pada data subjektif
dan wawancara. Hal tersebut dikarenakan lanjut usia dengan demensia mengalami

50 Universitas Indonesia
51

keruskan pada memorinya, baik memori jangka panjang maupun jangka pendek.
Pengkajian lanjut usia dengan masalah keruskan memori diperlukan pemeriksaan
secara menyeluruh diantaranya riwayat penyakit terkait dengan masalah syaraf,
pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang yang terdiri dari foto rotgen otak
atau CT scan serta MRI.

Intervensi yang diberikan kepada lanjut usia dengan demensia atau keruskan
memori harus memerlukan waktu yang cukup lama sehingga lanjut usia tersebut
mengalami peningkatan fungsi kognitif. Intervensi yang diberikan kepada lanjut
usia dengan masalah kerusakan memori atau demensia sangat tidak disarankan
untuk memberikan penjelasan atau edukasi secra lisan. Sehingga, diperlukan
perawatan langsung dalam memberikan tindakan untuk meningkatkan fungsi
kognitif.

Universitas Indonesia
DAFTAR REFERENSI

Alzheimers association. (2013). What is dementia. Diunduh pada 27 Juni 2013


dari http://www.alz.org/what-is-dementia.asp.
Amirulliah. (2011). Jumlah orang pikun Indonesia meningkat. Diunduh pada 29
Juni 2013 dari
http://www.tempo.co/read/news/2011/12/06/060370238/Jumlah-Orang-
Pikun-Indonesia-Meningkat.
California Advocates Health Nursing Reform. (2012). Nursing home care
standards. Diunduh pada 4 July 2013 dari http://www.canhr.org/index.html.
Copel, L.C. (2007). Kesehatan jiwa & Psikiatri, pedoman klinis perawat
(psychiatric and mental health care: nurses clinical guide). Edisi Bahasa
Indonesia (Cetakan kedua). Alihbahasa: Akemat. Jakarta: EGC.
Davies, S., Orrell, M., Spector, A., et al (2000). Reality orientation for dementia.
Cochrane Library, issue 3. Diunduh pada 04 Juli 2013 dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11034699.
Delaune, S., Ladner, P. (2002). Fundamental of nursing; standars & practice,
second edition. Thomson Learning: United States of America.
Depkes. (2010). Stimulus Rehabilitasi Kognitif. Diunduh pada 27 Juni 2013 dari
http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%20263
%20Th%202010%20ttg%20Rehabilitasi%20Kognitif.pdf.
Depsos. (2007). Penduduk lanjut usia di indonesia dan masalah
kesejahteraannya. Diunduh pada 15 25 Juni 2013 dari
http://www.kemsos.go.id//modules.php?name=News&file=article&sid=522.

Destriyana. (2012). WHO: Tahun 2030 penderita demensia naik 2 kali lipat.
Diunduh tanggal 30 Juni 2013 dari http://www.merdeka.com/sehat/who-
tahun-2030-penderita-demensia-naik-2-kali-lipat.html.
Doenges, M., Moorhouse, F., Geissler, A. (2000). Nursing care plans, guidelines
for planning and documenting patient care. Terjemahan: I made Kariasa &
Ni Made S. Jakarta: EGC.

Universitas Indonesia
Douglas, S., James, I., Ballard, C. (2004). Non-pharmacological interventions in
dementia. Diunduh pada 26 Juni 2013 dari
http://apt.rcpsych.org/content/10/3/171.full.
Droes, R.M et al. Memory problems in dementia: adaptation and coping
strategies and psychosocial treatments. Diunduh pada 28 Juni 2013 dari
Expert Review of Neurotherapeutics 11.12 (Dec 2011): 1769-81; quiz 1782.
Ebersol et all. (2001). Gerontological nursing & healthy aging; second edition.
Elseiver Mosby: St. Louis.
Festi, P. (2010). Pengaruh Brain Gym terhadap peningkatan fungsi kognitif lansia
di Karang Werdha Peneleh Surabaya. Diunduh pada 25 Juni 2013 dari
http://www.fik.umsurabaya.ac.id/jurnal/PENGARUH-BRAIN-GYM-
TERHADAP-PENINGKATAN-FUNGSI%20KOGNITIF-LANSIA-
DIKARANG-WERDHA-PENELEH-SURABAYA.pdf
Herdman, T. (2012). Nursing diagnoses; definition & classification 2012-2014.
Nanda International.
Hoffman, Stephanie B., Platt, Constance A. (2001). Comforting the confused:
strategi for managing dementia.; Second edition. Springer Publishing
Company: New York.
Hughes, M. (2011). How exercise is helping people living with dementia. Diunduh
pada 06 July 2013 dari http://www.bbc.co.uk/news/health-12920308.
Kemensos. (2012). Pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia terlantar dalam
panti dan luar panti. Diunduh pada tanggal 5 July 2013dari
http://beta.kemsos.go.id/users/wendy/pdf/spm-sosial/LANSIA-
TERLANTAR-KERTAS-KEBIJAKAN-TH-2012.pdf.
Lubis, N. (2009). Depresi: Tinjauan psikologis, edisi ke- I. Jakarta: Kencana.
Mace, Nancy L., Rabinds, Peter V. (2006). The 36-hour day: a family guide to
caring for people with Alzheimer disease, other dementias, and memory loss
in later life. A Johns Hopkins Press Health Book: Baltimore.
Miller, C.A. (2012). Nursing care of older adults theory and practice. Australia:
Mosby.
Nugroho, W. (2008). Keperwatan gerontik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Universitas Indonesia
Orell, M et al. Cognitive stimulation for the treatment of Alzheimer's disease.
Diunduh tanggal 27 Juni 2013 dari Expert Review of Neurotherapeutics 8.5
(May 2008): 751-7.
http://search.proquest.com/docview/889788806/13EE9927A5C7BC064C4/7
?accountid=17242.
Potter, P.A. & Perry, A.G. (2005). Fundamentals nursing: concepts, process, and
practice. 6th Ed. St. Louis: Mosby Year Book.
Scourfield, P. (2006). Helping older people in residential care remain full
citizens. British Journal of Social Work.
Siahaan, Marlin M. (2008). Lajang lebih cepat pikun. Diunduh pada 3 July 2013
dari http://www.tempo.co.id/hg/kesehatan/2008/08/25/brk,20080825-
132177,id.html.
Stanley &Beare, (2007). Buku ajar keperawatan gerontik. Edisi ke-2. Jakarta:
EGC.
Tennessee Health Care Association . (2013). Nursing home. Diunduh pada 28 Juni
2013 dari http://www.thca.org/forconsumers/selectanursinghome.html
Wade. C., Travis, C. (2007). Psikologi, jilid 2 (terjemahan) edisi ke 9. Jakarta:
Erlangga.
Wilkinson, J. M & Ahern, N. R. (2011). Buku saku diagnosis keperawatan:
diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC ; alih bahasa, Esti
Wahyuningsih. Edisi 9. Jakarta: EGC.
Yaffe, K., Barnes, D., Nevitt, M., Lui, Y. L and Covinsky, K. (2001). A
prospective study of physical activity and cognitive decline in elderly
women. Arch Intem Med, 161(14):1703-1708.

Universitas Indonesia
Lampiran 1 Analisa Data

ANALISA DATA

Data-Data Pengkajian Masalah Keperawatan


DS: Kerusakan Memori
- Saat ditanya sekarang tanggal, bulan,
tahun dan hari apa, residen selalu
mengatakan lupa atau tidak ingat
- Residen selalu mengatakan lupa
DO:
- Residen terlihat lupa saat
ditanyakan kembali TDnya
- Residen terlihat berpikir keras saat
akan menjawab
- Residen tidak mampu menjawab
umur residen sendiri
- Residen terlihat bingung
- MMSE = 65 Gangguan Kognitif
- CDR dengan nilai Memori=2,
Orientasi=2, Pengambilan
keputusan=2, Aktivitas Sosial=2,
Pekerjaan rumah dan hobi=2, serta
Perawatan diri= 1 ( nilai 2 berarti
gangguan sedang dan 1 berarti
gangguan ringan)
DS: Defisit Perawatan Diri; Mandi
- Residen mengatakan mandi sehari 2
x
- Residen mengatakan menggosok gigi
saat mandi
- Residen mengatakan pepsodentnya
habis

Universitas Indonesia
DO:
- Tercium bau yang tidak enak dari
mulut residen
- Mulut residen terlihat kotor
- Gigi residen terlihat kotoran yang
menempel
- Rambut residen terlihat lepek dan
lembab.
- Kuku tangan dan kaki residen terlihat
panjang
- Kulit residen terlihat kering
Faktor Resiko: Risiko Jatuh
- Usia diatas 65 tahun
- Hidup seorang diri dan tidak ada
care giver
- TD: 140/80 mmHg
- Penurunan kekuatan ekstermitas
bawah
- Gangguan pendengaran
- Gaya berjalan residen sedikit
pincang
- Postur tubuh residen yaitu sedikit
bungkuk
- Residen berjalan terlihat pelan dan
berpegang dengan tembok atau
- FMS= 65, risiko tinggi jatuh
- BBT=52 ( risiko jatuh rendah)

Universitas Indonesia
Lampiran 2- Rencana Asuhan Keperawatan

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Diagnosa Batasan Tujuan Intervensi Rasional


Keperawatan Karakteristik
Umum Khusus

Kerusakan 1. Tidak ingat Setelah Residen mampu: 1. Kaji derajat gangguan 1. Memberikan dasar untuk
Memori
dengan dilakukan 1. Mengenal kognitif, seperti perubahan perbandingan yang akan
perilaku yang tindakan asuhan atau orientasi terhadap orang, datang dan mempengaruhi
dijadwalkan keperawatan berorientasi tempat, waktu, rentang terhadap intervensi yang
2. Ketidakmamp selama terhadap perhatian, kemampuan akan diberikan
uan untuk 21 x 30 menit, waktu, orang, berpikir. Bicarakan dengan
mengingat residen tidak dan tempat orang terdekat mengenai
perilaku yang memperlihatkan 2. Menyatakan perubahan dari tingkah laku
dilakukan kerusakan dapat yang biasa atau lamanya
3. Ketidakmamp memori mengingat masalah yang telah ada
uan untuk lebih baik 2. Panggil residen dengan 2. Memberikan pengenalan

Universitas Indonesia
melakukan 3. Menggunaka namanya terhadap realita individu
keahlian yang n teknik 3. Tatap wajah residen ketika 3. Menimbulkan perhatian,
dipelajari untuk sedang berbicara dengan terutama pada penderita
sebelumnya membantu residen dengan gangguan
4. Ketidakmamp memperbaiki perseptual
uan untuk memori 4. Pertahankan lingkungan 4. Membantu residen untuk
mengingat 4. Secara akurat yang menyenangkan dan fokus dalam berpikir dan
kembali mengingat tenang agar tidak meningkatkan
peristiwa, baru informasu gangguan neuron.
ataupun terkini, saat 5. Gunakan suara yang agak 5. Meningkatkan konsentrasi
lampau ini dan rendah dan berbicara dengan dan pemahaman residen
5. Ketidakmamp lampau perlahan pada residen dan tidak menimbulkan
uan mengingat 5. Melakukan stres.
pengalaman aktivitas 6. Gunakan kata-kata yang 6. Sesuai dengan
sehari-hari pendek dan kalima yang perkembangan penyakit,
secara sederhana dan berikan gangguan fungsi kognitif
optimal instruksi sederhana. mungkin saja mengganggu
sesuai kemampuan individu pada
kemampuan proses penerimaan

Universitas Indonesia
informasi secara
keseluruhan.
7. Gunakan hal-hal yang 7. Membantu meningkatkan
humoris saat berinteraksi kestabilan emosi
8. Berikan latihan orientasi 8. Meningkatkan kemampuan
realita seperti menanyakan orientasi.
waktu, tanggal,bulan serta
tahun sekarang serta orang.
9. Berikan terapi ingatan atau 9. Meningkatkan kemampuan
kenangan, seperti memori residen
menanyakan kembali data-
data pribadi residen
10. Beri kesempatan pada 10. Memberikan stimulasi
residen untuk mengenal kognitif
waktu dengan menggunakan
jam besar, kalender, yang
mempunyai lembar perhari
dengan tulisan besar
11. Kenang kembali masa 11. Memberikan stimulasi

Universitas Indonesia
lalu Residen seperti kegiatan kognitif
atau hoby yang residen suka
lakukan
12. Implementasikan teknik 12. Memberikan stimulasi
memori yang tepat, seperti kognitif
imajinasi visual, peralatan
yang, membantu ingatan
membuat daftar,
menggunakan label, atau
melatih ulang informasi
13. Berikan gambar 13. Memberikan stimulasi
pengingat memori (misal kognitif
foto)
14. Berikan pujian jika 14. Meningkatkan rasa
residen dapat menjawab percaya diri residen.
dengan benar

Universitas Indonesia
Lampiran 3 - Rencana Asuhan Keperawatan

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Rencana Intervensi Rasional


Keperawatan

Defisit Perawatan Setelah dilakukan 1. Kuku residen 1. Kaji kesulitan residen dalam 1. Memahami penyebab yang
diri; mandi tindakan tampak bersih perawatan diri, seperti mempengaruhi residen dalam
Definisi: keperawatan dan pendek keterbatasan gerak, penurunan melakukan perawatan diri
Hambatan selama 21x 30 2. Residen tidak kognitif.
kemampuan untuk menit, tubuh klien menggaruk- 2. Identifikasi kebutuhan akan 2. Sesuai dengan perkembangan
melakukan atau tampak bersih dan garuk tubuhnya kebersihan kerusakan kogntiif, kebutuhan
menyelesaikan wangi. lagi akan kebersihan dasar mungkin
perawatan diri 3. Mulut residen dilupakan.
sendiri terlihat bersih 3. Perhatikan adanya tanda-tanda 3. Penurunan fungsi kognitif
dan wangi nonverbal yang fisiologis mungkin menyebabkan residen
4. Residen terlihat sulit mengungkapkan kebutuhan
nyaman perawatan diri dengan cara
nonverbal.
4. Diskusikan dengan residen 4. Membantu residen dalam

Universitas Indonesia
tentang pentingnya menjaga menjaga kebersihan diri residen
kebersihan diri meliputi kuku,
mulut dan kulit
5. Jelaskan kepada residen 5. Membantu residen dalam
prosedur dan tujuan tindakan melakukan tindakan kebersihan
merawatan kebersihan diri diri
6. Bantu residen untuk 6. Membantu kebutuhan akan
melakukan perawatan diri (oral kebersihan diri residen dan
hygiene, perawatan kuku, meningkatkan kepercayaan diri
perawatan kulit) residen
7. Berikan jadwal untuk residen 7. Mempertahankan kebutuhan
kedalam kegiatan sehari-hari. rutin yang dapat mencegah
kebingungan karena kerusakann
fungsi kognitif residen

Universitas Indonesia
Lampiran 4 - Rencana Asuhan Keperawatan

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan Rencana Keperawatan Rasional


Keperawatan
Umum Khusus

Resiko jatuh Setelah dilakukan Setelah dilakukan


tindakan tindakan
keperawatan keperawatan
selama 21 x 30 selama 21 x 30
menit, menit
resiko jatuh tidak diharapkan:
terjadi. 1. Meningkatnya 1.1 Berikan penjelasan pada residen 1.1 Meningkatkan pengetahuan
pengetahuan tentang resiko jatuh dan kondisi tentang resiko jatuh sehingga
residen tentang ruangan yang menyebabkan meningkatkan kerjasama
risiko jatuh. resiko jatuh. residen dalam mencegah jatuh.

1.2 Identifikasi bersama residen 1.2 Untuk menentukan


lingkungan yang dapat meningkatkan kewaspadaan
meningkatkan kemungkinan jatuh residen terhadap resiko jatuh

1.3 Diskusikan dengan residen 1.3 Melibatkan residen dalam


pemilihan alas kaki yang tidak memutuskan suatu pilihan
menyebabkan resiko jatuh. meningkatkan hubungan saling
percaya.

Universitas Indonesia
1.4 Demonstrasikan cara penggunaan 1.4 Meningkatkan keterampilan
alat bantu jalan dan cara lansia dalam menggunakan alat
berpegangan pada handrail dan bantu jalan.
furniture yang kuat dan stabil
untuk mencegah jatuh.

2.1 Motivasi residen mengikuti 2.1 Otot yang kuat meningkatkan


senam lansia di STW Karya kemampuan untuk menopang
2. Meningkatnya Bhakti untuk meningkatkan tubuh sehingga menurunkan
kekuatan otot kekuatan otot dan keseimbangan. resiko jatuh.
dan
keseimbangan 2.2 Motivasi residen untuk 2.2 Latihan mandiri meningkatkan
pada residen. melakukan latihan ROM di kamar kekuatan otot dan
baik dalam keadaan berbaring meningkatkan rasa percaya diri
atau duduk. pada residen.

3. Meningkatnya 3.1 Bekerjasama dengan caregiver/ 3.1 Lingkungan yang aman


kebersihan dan clening service dalam menurunkan resiko jatuh
kerapihan kamar. memberikan lingkungan yang
aman pada kamar residen dan
lingkungan wisma Cempaka
(pencahayaan yang cukup pada
gang dan kamar mandi, lantai
tidak licin, keset tidak tertekuk
dan tersedianya handraill di
kamar dan kamar mandi)

Universitas Indonesia
3.2 Bekerjasama dengan residen 3.2 Kamar yang rapi memudahkan
untuk merapikan kamar. residen berjalan dan
mengurangi resiko tersandung.

3.3 Motivasi cleaning service untuk 3.3 Lantai kamar mandi yang bersih
menyikat lantai kamar mandi dan tidak licin mencegah jatuh.
setiap hari tanpa menggunakan
detergen, namun diganti dengan
larutan desinfektan.

3.4 Sarankan pada residen agar 3.4 Keset kaki yang telah aus
mengganti keset kaki lama yang bagian karetnya cenderung
telah aus dengan keset kaki yang mudah bergeser dan tertekuk
memiliki alas karet dibawahnya. sehingga meningkatkan resiko
jatuh.

4. Meningkatnya 4.1 Beri tanda pada ambang pintu, 4.1 Meningkatkan kewaspadaan
kewaspadaan pintu kamar mandi residen, lantai pada area yang beresiko
terhadap resiko yang tidak rata dan area tangga menimbulkan jatuh pada lansia.
jatuh pada disekitar wisma dengan warna
residen. yang cerah

4.2 Beri tanda area licin dan basah 4.2 Menghindari jatuh akibat
dengan warna terang dan ukuran tergelincir
yang besar pada lantai yang
sedang di pel atau pada lantai
yang tergenang air akibat hujan.

Universitas Indonesia
Lampiran 5 Hasil Pemeriksaan MMSE

Pengkajian Aspek Kognitif

Dengan menggunakan MMSE (Mini Mental Status Examination)

No. Aspek kognitif Nilai Nilai Kriteria


Maksimal Klien

1. Orientasi 5 0 Menyebutkan dengan benar


Tahun
Musim
Tanggal
Hari
Bulan
Orientasi 5 2 Dimana sekarang kita berada?
Negara
Propinsi
Kabupaten
2. Registrasi 3 3 Sebutkan 3 nama objek (kursi, meja,
kertas)
Kemudian ditanyakan kepada klien,
setelah kita menyebutkan 3 benda
tersebut. Beri nilai 1 untuk masing-
masing jawaban yang benar. Ulangi
sampai lanisa dapat menyebutkan
semuanya.Hitung berapa kali lansia
mencoba menyebutkan.

3. Perhatian dan 5 1 Meminta klien berhitung mulai dari


kalkulasi 100, kemudian dikurangi 7 sampai 5
tingkat:............

4. Mengingat 3 0 Meminta klien untuk menyebutkan


kembali 3 objek pada poin 2.

5. Bahasa 9 1 Menanyakan pada klien tentang


benda (sambil menunjuk benda
tersebut)

1 Meminta klien untuk mengulangi


kata berikut tak ada jika, dan, atau,
tetapi.
Klien menjawab........

3 Minta klien untuk mengikuti


perintah berikut yang terdiri dari 3
langkah. Ambil ballpoint di tangan

Universitas Indonesia
Anda, ambil kertas, menulis saya
mau tidur.

1 Perintahkan klien untuk hal berikut


(Bila aktivitas sesuai perintah nilai 1
poin)
tutup mata Anda

1 Perintahkan pada klien untuk


menulis atau kalimat

1 Gambarkan kembali gambar berikut


(yang dinilai jumlah sisi dan ada
yang beririsan)

Total Nilai 30 14

Interpretasi Hasil:

Eyang H memiliki hasil nikai pengkajian MMSE yaitu 14. Hal tersebut berarti
Eyang H memiliki masalah pada daya ingatnya atau yang disebut gangguan
kognitif atau kerusakan memori.

Universitas Indonesia
Lampiran 6 Hasil Pemeriksaan CDR

CLINICAL DEMENTIA RATING


Nilai CDR : 0, 0,5, 1, 2, 3

Nama Pasien : Eyang H (Lk / Pr), Umur : 88 tahun, Pendidikan: SD


Riwayat Penyakit : Hipertensi, gastritis
Alasan diperiksa: Residen lupa dengan waktu dan tanggal, Tanggal : 30 Mei 2013
Gangguan
Tidak Ada Questionable Ringan Sedang Berat
0 0,5 1 2 3
Memori Tidak ada Gangguan Gangguan Ganggguan Gangguan
gangguan memori memori sedang; memori berat; memori berat;
memori atau ringan yang terutama kejadian hanya materi hanya
kelupaan yang konsisten; yang highly learned fragmen-
tidak konsisten mengingat baru(recent); yang tersisa, fragmen
kembali keadaan ini materi yang memoriyang
sebagian mengganggu baru dipelajari tertinggal
kejadian; aktivitas sehari- cepat
benign hari dilupakan
forgetfulness
Orientasi Orientasi penuh Orientasi Gangguan Gangguan Hanya dapat
penuh kecuali orientasi sedang berat mengenal
sedikit terhadap tempat hubungan orang
kesulitan pemeriksaan; antar
dalam dapat mengalami kejadian;
hubungan disorientasi pada sering juga
waktu antar tempat lain terhadap
kejadian tempat
Pengambilan Dapat Kesulitan Gangguan sedang Ganggguan Tidak dapat
memecahkan ringan dalam dalam berat dalam membuat
keputusan/ masalah sehari- aktivitas- pemecahan pemecahan keputusan
pemecahan hari; menangani aktivitas ini masalah, masalah, atau
binis dan persamaan dan persamaan, memecahkan
masalah keuangan dengan pembedaan, penilaian masalah
baik; kemamapuan sosial
pengambilan penilaian sosial biasanya
keputusan baik biasanya masih terganggu
sama seperti utuh
sebelumnya
Aktivitas Mandiri Tinggal Walaupun masih Tidak ada Tidak ada
sosial/ sebagaimana dirumah, dapat terlibat keinginan keingginan
sebelumnya minat yang dalam beberapa untuk untuk mandiri
masyarakat dalam kegiatan; bersifat kegiatan ini aktivitas di luar rumah.
pekerjaan, intelektual namun tidak mandiri di Sulit untuk
belanja,kegiataan dan hobi mandiri. Masih luar rumah. dibawa
sukarela dan sedikit kelihatan normal Kelihatan aktivitas
sosial lainnya terganggu secara umum cukup sehat keluar rumah
untuk dibawa
keluar rumah

Universitas Indonesia
Pekerjaan Tinggal di Tinggal di Gangguan ringan Hanya Tidak dapat
rumah dan rumah dan rumah dan namun pasti pekerjaan melakukan
minat yang minat fungsi di rumah; sederhana pekerjaan
hobi intelektual pekerjaan rumah yang masih rumahsecara
bersifat
terganggu yang kompleks dapat signifikan
intelektual
ringan tidak disenangi, dilakukan;
tetap hobi dan minat minat sangat
terpelihara kompleks tidak terbatas dan
diminati sulit
dipertahankan

Perawatan diri Dapat merawat Dapat Memerlukan Membutuhkan Membutuhkan
diri merawat diri dorongan bantuan banyak
sepenuhnya sepenuhnya dalam bantuan
berpakaian, dalam
kebersihan, perawatan
dan diri; sering
penampilan ngompol
diri

Interpretasi:

1. Memori, orientasi, pengambilan keputusan, aktivitas sosial, serta pekerjaan


rumah dan hobi : residen mendapat nilai 2 yang berarti residen mengalami
gangguan sedang.

2. Perawatan diri: residen mendapatkan nilai 1 yang berarti gangguan ringan,


resdien memelukan dorongan atau motivasi dalam pemenuhan kebutuhan
dasar.

Universitas Indonesia
Lampiran 7 Hasil Pemeriksaan FMS

Pengkajian Resiko Jatuh; Fall More Scale (FMS)

No Item Skala Skor


1 Riwayat jatuh Tidak : 0 25
Ya : 25
2 Diagnosis sekunder Tidak : 0 15
Ya : 15
3 Bantuan Berjalan 30
Bedrest/bantuan perawat 0
Kruk/tongkat/walker 15
Furnitur 30
4 Terapi intravena/heparin lock Tidak : 0 0
Ya : 20
5 Gaya berjalan 10
Normal/bedrest/immobile 0
Lemah 10
Dengan bantuan 20
6 Status mental 0
Orientasi terhadap kemampuan 0
diri sendiri
Melebih-lebihkan/melupakan 15
keterbatasan
TOTAL 65

Interpretasi Hasil:
Nilai 0-24 :Tidak memiliki risiko jatuh
Nilai 25-50 : Risiko Jatuh rendah
Nilai 51 : Risiko Jatuh Tinggi

Kesimpulan:
Eyang H memiliki score nilai FMS yaitu 65. Hal tersebut berarti Eyang H
memiliki nilai risiko jatuh yang tinggi.

Universitas Indonesia
Lampiran 8 Hasil Pemeriksaan BBT

Pengkajian Berg Balance Test

Perintah dalam Berg Balance Test


1. Duduk ke berdiri
Instruksi: tolong berdiri, cobalah untuk tidak menggunakan tangan sebagai
sokongan
( ) 4mampu berdiri tanpa menggunakan tangan
( ) 3 mampu untuk berdiri namun menggunakan bantuan tangan
( ) 2 mampu berdiri menggunakan tangan setelah beberapa kali
mencoba
( ) 1 membutuhkan bantuan minimal untuk berdiri
( ) 0 membutuhkan bantuan sedang atau maksimal untuk berdiri
2. Berdiri tanpa bantuan
Instruksi: berdirilah selama dua menit tanpa berpegangan
( ) 4 mampu berdiri selama dua menit
( ) 3 mampu berdiri selama dua menit dengan pengawasan
( ) 2 mampu berdiri selama 30 detik tanpa bantuan
( ) 1 membutuhkan beberapa kali untuk mencoba berdiri selama 30
detik tanpa bantuan
( ) 0 tidak mampu berdiri selama 30 detik tanpa bantuan
3. Duduk tanpa sandaran punggung tetapi kaki sebagai tumpuan di lantai
Instruksi: duduklah sambil melipat tangan Anda selama dua menit
( ) 4 mampu duduk dengan aman selama dua menit
( ) 3 mampu duduk selama dua menit di bawah pengawasan
( ) 2 mampu duduk selama 30 detik
( ) 1 mampu duduk selama 10 detik
( ) 0 tidak mampu duduk tanpa bantuan selama 10 detik
4. Berdiri ke duduk
Instruksi: silahkan duduk
( ) 4 duduk dengan aman dengan pengguanaan minimal tangan
( ) 3 duduk menggunakan bantuan tangan
( ) 2 menggunakan bantuan bagian belakan kaki untuk turun
( ) 1 duduk mandiri tapi tidak mampu mengontrol pada saat dari berdiri
ke duduk
( ) 0 membutuhkan bantuan untuk duduk
5. Berpindah
Instruksi: buatlah kursi bersebelahan. Minta klien untuk berpindah ke kursi
yang memiliki penyagga tangan kemudian ke arah kursi yang tidak
memiliki penyangga tangan
( ) 4 mampu berpindah dengan sedikit penggunaan tangan
( ) 3 mampu berpindah dengan bantuan tangan
( ) 2 mampu berpindah dengan isyarat verbal atau pengawasan
( ) 1 membutuhkan seseorang untuk membantu
( ) 0 membutuhkan dua orang untuk membantu atau mengawasi

Universitas Indonesia
6. Berdiri tanpa bantuan dengan mata tertutup
Instruksi: tutup mata Anda dan berdiri selama 10 detik
( ) 4 mampu berdiri selama 10 detik dengan aman
( ) 3 mampu berdiri selama 10 detik dengan pengawasan
( ) 2 mampu berdiri selama 3 detik
( ) 1 tidak mampu menahan mata agar tetap tertutup tetapi tetap berdiri
dengan aman
( ) 0 membutuhkan bantuan agar tidak jatuh
7. Berdiri tanpa bantuan dengan dua kaki rapat
Instruksi: rapatkan kaki Anda dan berdirilah tanpa berpegangan
( ) 4 mampu merapatkan kaki dan berdiri satu menit
( ) 3 mampu merapatkan kaki dan berdiri satu menit dengan
pengawasan
( ) 2 mampu merapatkan kaki tetapi tidak dapat bertahan selama 30
detik
( ) 1 membutuhkan bantuan untuk mencapai posisi yang diperintahkan
tetapi mampu berdiri selama 15 detik
( ) 0 membutuhkan bantuan untuk mencapai posisi dan tidak dapat
bertahan selama 15 detik
8. Meraih ke depan dengan mengulurkan tangan ketika berdiri
Instruksi: letakkan tangan 90 derajat. Regangkan jari Anda dan raihlah
semampu Anda (penguji meletakkan penggaris untuk mengukur jarak
antara jari dengan tubuh)
( ) 4 mencapai 25 cm (10 inchi)
( ) 3 mencapai 12 cm (5 inchi)
( ) 2 mencapai 5 cm (2 inchi)
( ) 1 dapat meraih tapi memerlukan pengawasan
( ) 0 kehilangan keseimbangan ketika mencoba/memerlukan bantuan
9. Mengambil objek dari lantai dari posisi berdiri
Instruksi: Ambilah sepatu/sandal di depan kaki Anda
( ) 4 mampu mengambil dengan mudah dan aman
( ) 3 mampu mengambil tetapi membutuhkan pengawasan
( ) 2 tidak mampu mengambil tetapi meraih 2-5 cm dari benda dan
dapat menjaga keseimbangan
( ) 1 tidak mampu mengambil dan memerlukan pengawasan ketika
mencoba
( ) 0 tidak dapat mencoba/membutuhkan bantuan untuk mencegah
hilangnya keseimbangan atau terjatuh
10. Melihat ke belakang melewati bahu kanan dan kiri ketika berdiri
Instruksi: tengoklah ke belakang melewati bahu kiri. Lakukan kembali ke
arah kanan
( ) 4 melihat ke belakang dari kedua sisi
( ) 3 melihat ke belakang hanya dari satu sisi
( ) 2 hanya mampu melihat ke samping tetapi dapat menjaga
keseimbangan
( ) 1 membutuhkan pengawasan ketika menengok
( ) 0 membutuhkan bantuan untuk mencegah ketidakseimbangan atau
terjatuh

Universitas Indonesia
11. Berputar 360 derajat
Instruksi: berputarlah satu lingkaran penuh, kemudian ulangi lagi dengan
arah yang berlawanan
( ) 4 mampu berputar 360 derajat dengan aman selama 4 detik atau
kurang
( ) 3 mampu berputar 360 derajat hanya dari satu sisi selama empat
detik atau kurang
( ) 2 mampu berputar 360 derajat, tetapi dengan gerakan yang lambat
( ) 1 membutuhkan pengawasan atau isyarat verbal
( ) 0 membutuhkan bantuan untuk berputar
12. Menempatkan kaki secara bergantian pada sebuah pijakan ketika beridiri
tanpa bantuan
Instruksi: tempatkan secara bergantian setiap kaki pada sebuah pijakan.
Lanjutkan sampai setiap kaki menyentuh pijakan selama 4 kali.
( ) 4 mampu berdiri mandiri dan melakukan 8 pijakan dalam 20 detik
( ) 3 mampu berdiri mandiri dan melakukan 8 kali pijakan > 20 detik
( ) 2 mampu melakukan 4 pijakan tanpa bantuan
( ) 1 mampu melakukan >2 pijakan dengan bantuan minimal
( ) 0 membutuhkan bantuan untuk mencegah jatuh/tidak mampu
melakukan
13. Berdiri tanpa bantuan satu kaki di depan kaki lainnya
Instruksi: tempatkan langsung satu kaki di depan kaki lainnya. Jika merasa
tidak bisa, cobalah melangkah sejauh yang Anda bisa
( ) 4 mampu menempatkan kedua kaki (tandem) dan menahan selama
30 detik
( ) 3 mampu memajukan kaki dan menahan selama 30 detik
( ) 2 mampu membuat langkah kecil dan menahan selama 30 detik
( ) 1 membutuhkan bantuan untuk melangkah dan mampu menahan
selama 15 detik
( ) 0 kehilangan keseimbangan ketika melangkah atau berdiri
14. Berdiri dengan satu kaki
Instruksi: berdirilah dengan satu kaki semampu Anda tanpa berpegangan
( ) 4 mampu mengangkat kaki dan menahan >10 detik
( ) 3 mampu mengangkat kaki dan menahan 5-10 detik
( ) 2 mampu mengangkat kaki dan menahan >3 detik
( ) 1 mencoba untuk mengangkat kaki, tidak dapat bertahan selama 3
detik tetapi dapat berdiri mandiri
( ) 0 tidak mampu mencoba

Rentang nilai BBT : 0 20 : klien memiliki risiko jatuh tinggi dan perlu
menggunakan alat bantu jalan berupa kursi roda.
21 40: klien memiliki risiko jatuh sedang dan perlu
menggunakan alat bantu jalan seperti tongkat, kruk,
dan walker.
41 56: klien memiliki risiko jatuh rendah dan tidak
memerlukan alat bantu
Kesimpulan: Residen mendapatkan nilai 52 yang berarti risiko jatuh rendah.

Universitas Indonesia
Lampiran 9 Hasil Pemeriksaan GDS

Pemeriksaan Geriatric Depression Scale (GDS)

Beri tanda ceklist () antara jawaban ya atau tidak pada tiap pertanyaan.
Beri tanda silang ( ) di Kolom yang telah diberikan Ya Tidak
1. Apakah anda puas dengan kehidupan anda?
2. Apakah anda mengurangi banyak aktivitas dan hobi anda?
3. Apakah anda merasa kehidupan anda terasa hampa?
4. Apakah anda senantiasa bosan?
5. Apakah anda memiliki harapan pada masa depan?
6. Apakah anda terganggu dengan pikiran yang tidak dapat dilupakan?
7. Apakah anda bersemangat setiap waktu?
8. Apakah anda takut tentang sesuatu yang buruk yang akan menimpa
anda?
9. Apakah anda merasa bahagia setiap waktu?
10. Apakah anda merasa tidak berdaya?
11. Apakah anda merasa gelisah dan gugup?
12. Apakah anda lebih memilih di dalam rumah daripada berjalan-jalan ke
luar dan melakukan sesuatu yang baru?
13. Apakah anda selalu khawatir akan masa depan anda?
14. Apakah anda memiliki masalah pada ingatan?
15. Apakah anda berfikir bahwa luar biasa anda diberikan kehidupan
sampai sekarang?
16. Apakah anda selalu merasa kecewa dan sedih?
17. Apakah anda merasa tidak berguna?
18. Apakah anda mengkhawatirkan masa lalu anda?
19. Apakah anda menemukan kehidupan yang menyenangkan?
20. Apakah anda memiliki kesulitan untuk memulai hal yang baru?
21. Apakah anda memiliki energi maksimal?
22. Apakah anda merasa situasi anda saat ini tidak tertolong?
23. Apakah anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari anda?
24. Apakah anda selalu menangisi hal-hal kecil?
25. Apakah anda selalu merasa ingin menangis?
26. Apakah anda memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi?
27. Apakah anda menikmati suasana bangun di pagi hari?
28. Apakah anda lebih memilih untuk menghindari perkumpulan sosial?
29. Apakah anda mudah untuk membuat keputusan?
30. Apakah pikiran anda jernih?
Interpretasi Hasil
Nilai 0-9 : normal
Nilai 10-19 : depresi ringan
Nilai 20-30 : depresi berat
Kesimpulan: Residen mendapatkan total skor 6 yang berarti normal.

Universitas Indonesia
Lampiran 10 Hasil Pemeriksaan Indeks Katz

Pengkajian Tingkat Kemandirian: Indeks Katz


Aktivitas Mandiri Tergantung
Skor (1 atau 0)
(Skor 1) Tanpa pengawasan, (Skor 0) Dengan
pengarahan, atau bantuan orang Pengawasan, pengarahan,
lain. dan bantuan orang lain.
MANDI (Skor 1) Melakukan mandi secara (Skor 0) Perlu bantuan lebih
Skor: 1 mandiri atau memerlukan dari satu bagian tubuh, perlu
bantuan hanya untuk bagian bantuan total.
tertentu saja misalnya punggung
atau bagian yang mengalami
gangguan.
BERPAKAIAN (Skor 1) Bisa memakai pakaian (Skor 0) Perlu bantuan lebih
Skor: 1 sendiri, kadang perlu bantuan dalam berpakaian atau
untuk menalikan sepatu. bahkan perlu bantuan total.
KE TOILET (Skor 1) Bisa pergi ke toilet (Skor 0) Perlu bantuan
Skor: 1 sendiri , membuka melakukan dalam eliminasi
BAB BAK sendiri.
BERPINDAH (Skor 1) Bisa berpindak tempat (Skor 0) Perlu bantuan
Skor: 1 sendiri tanpa bantuan, alat bantu dalam berpindah dari bed ke
gerak diperkenankan kursi roda, bantuan dalam
berjalan.
KONTINEN (Skor 1) Bisa mengontrol (Skor 0) inkontinensia
Skor: 1 eliminasi sebagian atau total baik
bladder maupun bowel.
MAKAN (Skor 1) bisa melakukan makan (Skor 0) Perlu bantuan
Skor: 1 sendiri. Makanan dipersiapkan dalam makan, nutrisi
oleh orang lain diperbolehkan. parenteral

Total Skor: 6, Hal tersebut diartikan bahwa tingkat kemandirian residen yaitu
kemandirian penuh

Interpretasi Hasil
Nilai 6 : Kemandirian penuh
Nilai 4: Gangguan fungsional sebagian (kemandirian sebagian)
Nilai 0-2 : Gangguan fungsional berat (Ketergantungan tinggi)

Universitas Indonesia
Lampiran 11- Daftar Riwayat Hidup

DATA RIWAYAT HIDUP

1. Nama Lengkap : Asty Nofika Utami


2. Agama : Islam
3. Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 15 Februari 1990
4. Suku : Jawa
5. Alamat : Komplek Yon Hub Mabad 006/ 04 Kelapa Dua,
Kebon Jeruk, Jakarta Barat
6. Hp : 087884899448
7. Email : ndhutlucu@gmail.com
8. Riwayat Pendidikan :
a. Fakultas Ilmu Keperawatan (2008-2013)
b. SMA N 85 Kembangan (2005-2008)
c. SMP N 189 Jakarta Barat (2002-2005)
d. SDS Kartika XI-6 (1996-2002)
e. TK Kartika XI-11 (1995-1996)

Universitas Indonesia