You are on page 1of 1

1

Abstrak

Lesi reaktif dtemukan pada ginggiva adalah kasus biasa dan cendrung
merupakan pertumbuhan non-neoplastik. Kondisi ini biasanya tidak menyakitkan
dan sering diabaikan oleh pasien sampai mereka menjadi simtomatik atau
ditemukan oleh dokter gigi mereka. Karena kondisi ini mungkin hadir selama
berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, biasanya terjadi ulserasi jaringan
permukaan karena trauma. Kondisi ini memiliki tingkat rekurensi 5 - 20% setelah
eksisi tergantung pada diagnosis, kelengkapan pengangkatan saat operasi, dan
kemampuan untuk mengatasi faktor pengiritasi lokal yang terkait dengan
etiologinya. Dianjurkan untuk melakukan diagnosis histologist untuk lesi ini
karena penampakan klinis kasus ini serupa dengan berbagai lesi, namun tingkat
rekurensinya berbeda-beda. Tatalaksana untuk semua lesi rektif pada umumnya
mencakup eksisi bedah, dengan pisau bedah, laser, atau radial/elektrosurgeri.
Tatalaksana juga harus mencakup pengangkatan etiologi yang mendasai melalui
kuretase akresi gigi, penggantian restorasi yang tidak tepat, dan menghilangi
kebiasaan yang traumatis. Perawatan kebersihan gigi secara teratur dengan dokter
gigi dapat mengurangi kejadian rekurensi untuk sebagian besar jenis lesi ginggiva.
Ulasan mengenai identifikasi dan tatalaksana mengenai lesi ginggiva ini termasuk
juvenil hiperplasia spongiotik ginggiva yang baru dikenal, yang seharusnya
menjadi bagian dari diagnosis banding untuk lesi reaktif pada pasien anak-anak.

Kata kunci: Lesi reaktif, laser karbondioksida, defek mukoginggival,


pembedahan eksisi.

The Open Pathology Journal, Vol 5, 2011