You are on page 1of 3

Contoh monobaktam adalah aztreonam, yang merupakan antibiotik yang

mencegah efek penisilinase. Antibiotik jenis ini merupakan antibiotik sintetik


dengan 1 cincin sehingga disebut monobaktam. Antibiotik ini berefek pada
bakteri Gram negatif termasuk E. Coli dan Pseudomonas.
Sefalosporin memiliki inti serupa dengan penistilin, dan resisten terhadap
penisilinase. Sefalosporin lebih efektif terhadap bakteri Gram negatif. Contohnya
adalah sefalostin, sefamandol, sefpodoksim, dan sefiksim.
Karbapenem merupakan antibiotik berspektrum luas. Contohnya adalah
Primaxin yang merupakan antibiotik kombinasi imipenem dan silastatin nutrium.
Silastatin natrium mencegah degradasi impenem pada ginjal.
Basitrasin berasal dari Bacillus. Antibiotik jeni ini efektif terhadap bakteri
Gram positif Staphylococcus dan Streptococcus.
Vankomisin memiliki spektrum sempit, digunakan bagi Staphylococcus
aureus yang resisten terhadap penisilin termasuk metisilin. Untuk bakteri yang
resisten terhadap vankimisin, digunakan Synercid yang diproduksi tahun 1999.
Synercid ini merupakan kombinasi 2 peptida siklik yang diproduksi oleh
Streptomyces spp, yaitu quinupristin dan dalfopristin. Synercid bekerja pada
ribosom bakteri dengan merusak sintetis protein. Isinya adalah antibiotik 2 agen
bakteriostatik yang bersifat bakterisidal dalam keadaan berkombinasi. Namun
Synercid ini mahal dan efek sampingnya cukup besar.
Isoniazid (INH) merupakan bahan antimikroba yang sangat efektif
terhadap Mycobacterium tuberculosis. Isoniazid bekerja dengan menghambat
sintetis asam mikolat yang merupakan komponen dinding sel Mycobacteria. Akan
tetapi, antibiotik jenis ini memiliki efek yang rendah pada mkroorganisme non-
Mycobacteria. Akan tetapi, antibiotik jenis ini memiliki efek yang rendah pada
mikroorganisme non-Mycobacteria. INH digunakan untuk mengobati penyakit
TBC dan digunakan secara simultan dengan obat lain seperti rifampin atau
etambutol dengan tujuan untuk meminimalkan resistensi obat. Bakteri TBC
umumnya terdapat dalam makrogaf atau dalam bentuk yang dikelilingi oleh
kapsul pada jaringan, sehingga obat-obat anti-TBC harus dapat mempenetrasi jauh
ke dalam.
Etambutol hanya efektif terhadap Mycobacteria. Antibiotik ini bekerja
dengan menghambat penyatuan asam mikolat (mycolic acid) ke dalam dinding
sel. Etambutol digunakan sebagai obat sekunder untuk mencegah resistensi
bakteri terhadap obat anti-TBC.

9.2.2 Antibiotik yang merusak membran plasma


Membran plasma bersifat semipermeabel dan mengendalikan transpor berbagai
metabolit ke dalam dan ke luar sel. Adanya gangguan atau kerusakan struktur
pada membran plasma dapat menghambat atau merusak kemampuan membran
plasma sebagai penghalang (barrier) osmosis dan mengganggu sejumlah proses
biosintetis yang diperlukan dalam membran.
Antibiotik yang bersifat merusak membran plasma umum terdapat pada
antibiotik golongan polipeptida yang bekerja dengan mengubah permeabilitas
membran plasma sel bakteri. Contohnya adalah polimiksin B yang melekat pada
fosfolipid membran, amfoterisin B, mikronazol, dan ketokoanzol yang ketiganya
merupakan antifungsi yang bekerja dengan cara berkombinasi dengan sterol pada
membran plasma fungsi.
Polimiksin merupakan suatu peptida yang di dalamnya terdapat satu ujung
molekul lipid dan ujung molekul yang lain larut air. Masuknya polimiksin dalam
membran plasma fungsi akan menyebabkan gangguan antara lapisan-lapisan
membran plasma. Ujung larut air polimiksin akan tertinggal di luar membran,
sedangkan ujung larut lemak akan berada di dalam membran dan menyebabkan
gangguan antara lapisan-lapisan membran yang memungkinkan lalu-lintas
substansi bebas keluar-masuk sel.
Nistatin dan amfoterisin B (Gambar 9.2) memiliki struktur lingkar yang
besar disebabkan adanya sejumlah ikatan ganda dan sering disebut sebagai
antibiotik polien. Antibiotik ini bergabung dengan ergosterol yang terdapat pada
membran sel fungsi dengan menimbulkan gangguan dan kebocoran sitoplasma.
9.2.3 Antibiotik yang menghambat sintesis protein
Aminoglikosa merupakan kelompok antibiotik yang gula aminonya tergabung
dalam ikatan glikosida. Antibiotik ini memiliki spektrum luas dan bersifat
bakterisidal dengan mekanisme penghambatan pada sintesis protein. Antibiotik ini
berikatan pada subunit 30S ribosom bakteri (beberapa terikat juga pada subunit
50S ribosom) dan menghambat