You are on page 1of 12

TRANSPLANTASI

Disusun oleh:
Abulkhair Abdullah K11015R101

PROGRAM MAGISTER FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2016

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................................ i
Daftar Isi..................................................................................................................... ii
Daftar Gambar ............................................................................................................ iii
Pengantar .................................................................................................................... 1
Hubungan antara Pendonor dan Penerima ................................................................. 2
Histocompatibility Genetics Pada Manusia ............................................................... 3
Kategori Penolakan Allograft .................................................................................... 5
Intervensi Terapetik ................................................................................................... 7
Daftar Pustaka ............................................................................................................ 9

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Jenis-Jenis Transplantasi ......................................................................... 3


Gambar 2. Warisan HLA haplotypes dalam Keluarga.............................................. 5
Gambar 3. Agen Imunosupresif yang Relevan terhadap Transplantasi .................... 7
Gambar 4. Penggunaan Antibodi Monoklonal secara Klinik ................................... 8

iii
PENGANTAR
Alexis Carrel melaporkan studi sistematis transplantasi pertama pada tahun
1908, ia menukarkan ginjal pada kucing, beberapa di antaranya dipantau output
urin hingga 25 hari. Meskipun semua kucing akhirnya mati, percobaan
menetapkan bahwa organ yang ditransplantasi bisa melaksanakan fungsi normal
pada host. Transplantasi ginjal manusia pertama dilakukan pada tahun 1935 oleh
seorang ahli bedah Rusia gagal karena ketidakcocokan jenis darah antara donor
dan penerima yang disebabkan penolakan langsung dari ginjal. Kita sekarang tahu
bahwa respon imun yang cepat ini, disebut hyperacute rejection, dimediasi oleh
preformed antibodies. Akhirnya, pada tahun 1954 sebuah tim di Boston yang
dipimpin oleh Joseph Murray sukses melakukan transplantasi ginjal pertama pada
manusia kembar identik, diikuti 3 tahun kemudian oleh transplantasi pertama
antara individu yang tidak identik. Hari ini, transfer berbagai organ dan jaringan
antara individu dilakukan dengan terus meningkatnya frekuensi dan tingkat
keberhasilan, setidaknya untuk kelangsungan hidup jangka pendek mereka
(Owen, dkk, 2013).
Kemampuan untuk mengganti atau memperbaiki jaringan yang rusak, atau
bahkan seluruh bagian tubuh, telah lama menjadi impian profesi kesehatan.
Aplikasi yang luas dari transplantasi pada pengobatan manusia telah tersedia
hanya dalam lima atau enam dekade terakhir. Beberapa kendala yang harus diatasi
adalah pengendalian infeksi, pencocokan genetik donor dengan host, pemahaman
tentang proses imunologi yang terlibat, dan pengembangan agen yang dapat
menghambat sistem kekebalan tubuh. Pengembangan teknik antiseptik ditambah
dengan antibiotik mengurangi risiko infeksi, sedangkan tissue typing dan obat
imunosupresif meningkatkan probabilitas keberhasilan transplantasi (Doan, dkk,
2013).
Transplantasi sel hidup, jaringan atau organ telah menjadi praktek rutin. Sel
(misal sel darah merah, stem cells), jaringan (misalnya pencangkokan kulit pada
pasien luka bakar) atau berbagai organ (seperti ginjal, jantung, paru-paru,
pankreas atau hati) dapat berhasil dipindahkan antara individu dengan genetik
berbeda (allogeneic grafting). Hasilnya tergantung pada tingkat matching dari

1
antigen transplantasi yang relevan dari dua individu dan tindakan terapi
imunosupresif yang sukses untuk mencegah penolakan. Sebaliknya,
pencangkokan jaringan dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain
(autologous grafting) selalu berhasil, asalkan tidak ada procedural setbacks
(Chapel, dkk, 2014).
Keberhasilan jaringan dan organ transplantasi tergantung pada antigen donor
dan penerima manusia leukosit (HLA) dikodekan oleh gen HLA. Protein ini
alloantigens (yaitu, mereka berbeda antara anggota spesies yang sama). Jika
protein HLA pada sel donor berbeda dari pada sel-sel penerima, maka respon
imun terjadi pada penerima. Gen untuk protein HLA berkumpul di kompleks
utama histocompatibility (MHC), terletak pada lengan pendek kromosom 6
(Levinson, 2014).

HUBUNGAN ANTARA PENDONOR DAN PENERIMA


1. Autograft
Autograft adalah cangkok atau transplantasi dari satu daerah ke daerah
lain pada individu yang sama seperti pada transplantasi kulit normal dari satu
wilayah seseorang ke area yang terbakar dari individu yang sama. Cangkok
diakui sebagai autochthonous atau autologous, dan tidak ada respon imun
yang diinduksi untuk menolaknya (Coico dan Geoffrey, 2015).
2. Isograft
Isograft atau syngraft adalah cangkok atau transplantasi sel, jaringan,
atau organ dari satu individu ke individu lain yang syngeneic (genetik identik)
untuk ddionor. Contoh dari isograft adalah transplantasi ginjal dari satu
kembar identik (homozygotic) ke orang lain. Seperti dalam kasus autograft,
penerima yang secara genetik identik dengan donor MHC dan semua lokus
lainnya, mengenali jaringan donor sebagai self dan tidak meningkatkan
respon imun terhadapnya. Dua individu (pendonor dan penerima)
digambarkan sebagai histocompatible (Coico dan Geoffrey, 2015).

2
3. Allograft
Allograft adalah cangkok atau transplantasi dari satu individu dengan
individu MHC-disparate dari spesies yang sama. Karena tingginya tingkat
polimorfisme MHC, transplantasi allogeneic ini akan mengakibatkan
penolakan jaringan asing yang dicangkokkan. Pendonor dan penerima, dalam
hal ini, adalah nonhistocompatible atau histoincompatible (Coico dan
Geoffrey, 2015).
4. Xenograft
Xenograft adalah cangkok antara pendonor dan penerima dari spesies yang
berbeda. Transplantasi dianggap asing dan respon imun akan menghancurkan
atau menolak cangkok. Donor dan penerima juga disebut histoincompatible
(Coico dan Geoffrey, 2015).

Gambar 1. Jenis-Jenis Transplantasi

HISTOCOMPATIBILITY GENETICS PADA MANUSIA


Permukaan sel pada manusia mengekspresikan serangkaian molekul yang
diakui oleh orang lain sebagai antigen asing. Beberapa antigen, seperti orang-
orang dari golongan darah rhesus, tidak relevan dengan suksesnya transplantasi
dari organ tubuh manusia. Sebaliknya, ABO sistem golongan darah pada sel darah
merah dan human leucocyte antigens (HLAs) pada limfosit dan jaringan lain
sangat penting dalam transfusi darah dan transplantasi organ. Antigen HLA juga
disebut antigen histocompatibility karena mereka memainkan peran penting dalam

3
menentukan kelangsungan hidup organ transplantasi. Mereka dikodekan pada
manusia oleh segmen kromosom 6 yang dikenal sebagai major histocompatibility
complex (MHC). Sistem antigenik tambahan (minor histocompatibility systems)
hanya memainkan peran kecil dalam transplantasi dan sebagian besar diabaikan
dalam praktek klinis (Chapel, dkk, 2014).
Setidaknya enam HLA lokus telah ditemukan. HLA-A dan HLA-B adalah
yang pertama didefinisikan dan kode ini untuk sejumlah besar antigen. Sama
dengan HLA-C, gen MHC kelas I mengkode untuk produk dengan struktur
biokimia yang sama yang mempunyai fungsi yang sama. Mereka terdeteksi pada
semua sel berinti dalam tubuh (Chapel, dkk, 2014).
Berbeda dengan antigen dari HLA-ABC, antigen HLA-D terbatas pada B
limfosit, makrofag, sel-sel epidermis dan sperma. Antigen dari lokus D berbeda
dari antigen MHC kelas I dalam struktur kimianya dan interaksinya dengan
populasi sel imun, mereka disebut antigen MHC kelas II (Chapel, dkk, 2014).
Pada transplantasi ginjal, kecocokan antigen MHC kelas II lebih penting
daripada kompatibilitas antigen MHC kelas I dalam menentukan kelangsungan
hidup cangkok. Kecocokan sistem golongan darah ABO juga penting, alaminya
anti-A dan anti-B antibodi dapat menyebabkan penolakan hiperakut pada ABO
incompatible kidneys, karena antigen A dan B disajikan pada endotelium (Chapel,
dkk, 2014).
Pada transplantasi sumsum tulang, kecocokan secara lengkap kromosom 6
memberikan kelangsungan hidup terbaik, ini terjadi oleh autologous graft, kembar
identik atau HLA-identical saudara kandung. Serasi sumsum tulang selalu
menginduksi penyakit graft-versus-host (GVHD) dengan mengurangi
kelangsungan hidup graft. Kedekatan HLA artinya, bahwa produk antigenik
mereka cenderung diwariskan bersama sebagai HLA-haplotype. Karena salah satu
haplotype diwariskan dari setiap orangtua, ada kesempatan one-in-four di mana
dua saudara kandung akan memiliki pasangan yang identik haplotype (Chapel,
dkk, 2014).

4
Gambar 2. Warisan HLA haplotypes dalam Keluarga

KATEGORI PENOLAKAN ALLOGRAFT


Secara klinis, penolakan allograft dibagi ke dalam tiga kategori utama: (1)
hyperacute rejection, (2) acute rejection, dan (3) chronic rejection (Coico dan
Geoffrey, 2015).
1. Hyperacute Rejection
Hyperacute rejection terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam
saat transplantasi. Ini adalah hasil dari penghancuran transplantasi oleh
preformed antibodies untuk antigen MHC yang tidak kompatibel. Antibodi
tersebut telah diproduksi pada host sebelum transplantasi. Dalam beberapa
kasus, preformed antibodies dihasilkan sebagai hasil dari transplantasi
sebelumnya, transfusi darah, atau kehamilan. Cytotoxic antibodies
mengaktifkan sistem komplemen, diikuti oleh aktivasi trombosit dan deposisi,
menyebabkan pembengkakan dan perdarahan interstitial dalam jaringan
transplantasi, sehingga mengurangi aliran darah melalui jaringan. Trombosis
dengan cedera endotel dan nekrosis fibrinoid sering terlihat pada kasus
hyperacute rejection. Host mungkin mengalami demam, leukositosis, dan
akan menghasilkan sedikit atau bahkan tidak ada urin. Urin mungkin

5
mengandung berbagai elemen seluler, seperti eritrosit. Cell mediated
immunity tidak terlibat sama sekali dalam hyperacute rejection (Coico dan
Geoffrey, 2015).
2. Acute rejection
Acute rejection terlihat pada penerima yang sebelumnya belum pernah
peka terhadap transplantasi. Ada dua jenis penolakan akut untuk organ padat.
Salah satu jenis yang antibody mediated atau humoral acute rejection, dan
yang lainnya adalah cellular acute rejection (kadang-kadang disingkat
sebagai acute rejection). Acute rejection humoral biasanya terjadi dalam 3
bulan pertama setelah transplantasi. Dalam kasus transplantasi ginjal, gejala
ini sebagai tanda penurunan mendadak pada fungsi ginjal. Donor-specific
antibody (DSA) terdeteksi dan C4D diendapkan pada endotelium ginjal
akibat aktivasi komplemen. Pembesaran dan nyeri ginjal cangkok, kenaikan
kadar kreatinin serum, penurunan output urin, penurunan aliran darah ginjal,
dan terdapatnya sel-sel darah dan protein dalam urin merupakan ciri khas dari
acute rejection. Cellular acute rejection biasanya terjadi 1-6 minggu sampai
beberapa tahun setelah transplantasi ketika dosis obat imunosupresif
diturunkan. Secara histologi, cell-mediated immunity, dimanifestasikan oleh
infiltrasi intens limfosit dan makrofag, berlangsung di lokasi penolakan.
Perbedaan antara humoral acute rejection dan cellular acute rejection penting
karena pengobatannya mungkin berbeda. Jika acute rejection oleh antibody
mediated, pasien diobati dengan obat B-cell-directed seperti Rituxan dan/atau
Plasmaphoresis. Acute rejection dapat dikurangi dengan terapi
imunosupresif, misalnya dengan Siklosporin dan obat-obatan lainnya (Coico
dan Geoffrey, 2015).
3. Chronic rejection
Chronic rejection disebabkan oleh antibodi dan cell-mediated immunity
terjadi pada transplantasi allograft selama beberapa bulan atau tahun setelah
transplantasi jaringan telah diasumsikan berfungsi normal. Subclinical
(insidious) microvascular inflammation, terkait dengan penolakan antibody-
mediated, yang dapat dengan atau tanpa aktivasi komplemen, diprediksi

6
perkembangan chronic rejection, disfungsi transplantasi, dan kegagalan
(Coico dan Geoffrey, 2015).
Dalam kasus transplantasi ginjal, chronic rejection ditandai dengan gagal
ginjal progresif. Secara histologis, reaksi kronis disertai dengan lesi
proliferatif inflamasi dari arteri kecil, penebalan membran basal glomerulus,
dan fibrosis interstitial. Karena kerusakan yang disebabkan oleh cedera sistem
imun telah terjadi, terapi imunosupresif pada keadaan ini tidak berguna, dan
sedikit yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan graft (Coico dan Geoffrey,
2015).

INTERVENSI TERAPETIK
Upaya awal untuk meminimalkan risiko penolakan adalah kecocokan secara
genetik antara pendonor dan penerima sedekat mungkin. Namun, beberapa
ketidakcocokan terjadi pada sebagian transplantasi. Langkah berikutnya yang bisa
diambil adalah dengan menghambat kemampuan sistem imun host untuk
menyerang dan merusak jaringan engrafted. Penghambatan ini dilakukan dengan
dua cara (Doan, dkk, 2013):
- Toleransi imun spesifik
- Penekan imun (imunosupresi)

Gambar 3. Agen Imunosupresif yang Relevan terhadap Transplantasi

7
Antibodi monoklonal digunakan dalam rejimen imunosupresif, baik untuk
mencegah penolakan dan untuk mengobati episode penolakan (Levinson, 2014).

Gambar 4. Penggunaan Antibodi Monoklonal secara Klinik

8
DAFTAR PUSTAKA

Chapel, H., Mansel H., Siraj M., dan Neil S. 2014. Essentials of Clinical
Immunology 6th Edition. UK: John Wiley & Sons, Ltd.

Coico, R., dan Geoffrey S. 2015. Immunology A Short Course 7th Edition. UK:
John Wiley & Sons, Ltd.

Doan, T., Roger M., Susan V., dan Carl W. 2013. Lippincotts Illustrated
Reviews: Immunology 2nd Edition. Baltimore: Lippincott Williams &
Wilkins.

Levinson, W. 2014. Review of Medical Microbiology and Immunology 13th


Edition. USA: McGraw-Hill Education.

Owen, J. A., Jenni P., dan Sharon A. S. 2013. Kuby Immunology 77h Edition. New
York: W. H. Freeman and Company.