You are on page 1of 8

KEPERAWATAN JIWA

ANALISA JURNAL

PENGARUH TERAPI KOGNITIF PERILAKU TERHADAP


PENINGKATAN KONTROL DIRI PADA RESIDIVIS

OLEH

MARIA RAMBU KUBA LONGA


NIM: 1502115015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM B


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015 / 2016
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing tingkah laku


sendiri,kemampuan untuk menekan impuls-impuls atau tingkah laku impulsif.Kontrol
diri pada setiap individu tidaklah sama karna setiap individu mempunyai tingkat toleransi
pengendalian terhadap diri berbeda-beda.Kegagalan pembentukan kontrol diri dapat
berakibat individu dengan mudah terlibat dalam tindakan kriminal atau perilaku
menyimpang (Chaplin (2005)
Residivis merupakan salah satu kasus yang beresiko menyebabkan terjadinya
pengulangan tindak kejahatan yang dilakukan.Hal ini disebabkan oleh rendahnya kontrol
diri(Gottfredson & Hirschi, 2004).Residivisme adalah kembalinya seseorang ke tindak
kriminal setelah dinyatakan bersalah melakukan tindakan pidana.Residive juga terjadi
saat seseorang melakukan tindak pidana dengan suatu keputusan hakim yang telah
berkekuatan hukum tetap dan kemudian melakukan tindak pidana lagi.
Para pelaku residivis dapat dilakukan pembinaan agar pelaku tidak mengulang
kejahatan berulang dengan cara memperkenalkan Cognitive Beharvior Therapy (CBT)
guna untuk meningkatkan kontrol pengendalian diri.Terapi kognitif perilaku (CBT)
merupakan program untuk para pelaku kejahatan menekankan pada tanggung jawab
individu dan berusaha mengajarkan pada para pelaku kejahatan untuk memahami
bagaimana proses berpikir mendahului perilaku kriminal mereka dan bagaimana mereka
memantau pikiran sendiri serta membantu pelaku kejahatan untuk mengidentifikasi dan
memperbaiki bias,resiko,atau pola pikir yang keliru.
Terapi kognitif perilaku dianggap berpengaruh dalam meningkatkan kontrol
pengendalian diri pada para pelaku kejahatan agar tidak melakukan pengulangan tindak
kejahatan.Untuk itu analisa jurnal ini akan membahas tentang pengaruh terapi kognitif
perilaku terhadap peningkatan kontrol diri pada para pelaku residivis.
1.2 Tujuan
Tujuan dari analisa jurnal ini adalah:
a. Mengetahui pengaruh terapi kognitif perilaku terhadap peningkatan kontrol diri pada
residivis
b. Mengetahui keuntungan dan kerugian tentang aplikasi jurnal dalam praktik
keperawatan
c. Memberikan rekomendasi praktik bagi perawat dalam asuhan keperawatan jiwa
untuk membantu para residivis dalam peningkatan kontrol diri.
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Ringkasan Jurnal


1. Judul Jurnal
Pengaruh Terapi Kognitif Perilaku terhadap Peningkatan Kontrol Diri pada
Residivis Di LAPAS Kelas 1 Sukamiskin Bandung.
2. Peneliti
Umar Yusuf,Raissa Patrisia
3. Latar belakang peneliti
Peneliti tidakmenjelaskan latar belakang peneliti tetapi jurnal ini diterbitkan oleh
Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung
4. Kata kunci
Kontrol diri, Cognitive Beharvior Therapy (CBT)
5. Latar belakang jurnal
Residivis dianggap sebagai salah satu kasus yang mempunyai kadar resiko tinggi
sebagai penyebab terjadinya pengulangan tindak kejahatan yang dilakukan.Hal ini
disebabkan oleh rendahnya kontrol diri.Pemberian Cognitive Beharvior Therapy
(CBT) atau terapi kogntif perilaku berpengaruh dalam meningkatkan kontrol diri.
6. Tujuan jurnal
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran seberapa besar pengaruh
Cognitive Beharvior Therapy (CBT) dalam meningkatkan kontrol diri pada
residivis.
7. Metode yang digunakan
Penelitian ini menggunakan metode Quasi Experiment dengan desain The One
Group Pretest-Postest Design Using a Double Pretest.
8. Waktu dan tempat penelitian
Tempat penelitian adalah LAPAS Kelas 1 Sukamiskin Bandung Desember 2011
9. Instrument/Intervensi penelitian yang digunakan
Pengambilan data dilakukan dengan cara pretest-postest design using a double
pretest
10. Metode pengumpulan data
Dalam penelitian ini pengambilan sampel dengan menggunakan variabel kontrol
diri diukur dengan menggunakan skala kontrol diri.
11. Hasil penelitian
Di LAPAS Kelas 1 Sukamiskin Bandung sebanyak 2 responden residivis yang
diteliti dengan menggunakan skala kontrol diri mengacu pada enam aspek kontrol
diri dari Gottfredson dan Hirschi yaitu:
1. Impulsivity
Kecenderungan untuk bertindak spontan dalam rangka memenuhi keinginan
sesaat dan dengan tujuan jangka pendek.
2. Preference for Simple Task:
Kurangnya ketekunan, keuletan, atau kegigihan dalam melakukan sesuatu.
Sebagai akibatnya, individudengan kontrol diri yang rendah lebih memilih tugas
yang mudah dan sederhana.
3. Risk Seeking Potential:
Individu dengan kontrol diri yang rendah cenderung untuk menjadi petualang,
aktif dan mengutamakan fisik yang menentang peringatan, pikiran dan ucapan.
Individu dengan kontrol diri yang rendah terlibat dalam kegiatan yang
menyenangkan, berbahaya, dan menegangkan.
4. Preference for physical activities:
Individu dengan kontrol diri yang rendah lebih menyukai kegiatan dengan
aktivitas fisik diripada pikiran atau dialog.
5. Self Centeredness:
Kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku yang mengakibatkan penderitaan
atau ketidaknyamanan bagi orang lain. Individu dengan kontrol diri yang rendah
cenderung menjadi egois, tidak peka dan tidak peduli terhadap orang lain serta
mementingkan diri sendiri.
6. Possession of a volatile temper:
Kontrol diri yang rendah berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap
frustrasi dan kecenderungan untuk menyelesaikan konflik melalui konfrontasi
dan aktivitas fisik.
Terdapat berbagai bentuk program terapi kognitif perilaku untuk para pelaku kejahatan,
di antaranya adalah sebagai berikut:
1. The Reasoning and rehabilitation program (Ross & Fabiano, dalam Lipsey dkk,
2007). Program ini dilakukan melalui latihan (seperti critical thinking, social
perspectivetaking) yang berfokus pada upaya memodifikasi impuls, sifat
egosentris, pikiran yang tidak logis dan kaku pada pelaku dan kemudian
mengajarkan mereka berhenti dan berpikir sebelum bertindak, untuk
mempertimbangkan konsekuensi dari perilaku mereka, untuk
mengkonseptualisasikan cara lain dalam menanggapi masalah interpersonal dan
untuk mempertimbangkan dampak perilaku mereka terhadap orang lain, terutama
pada korban kejahatannya.
2. Moral Reconation Therapy (Little & Robinson, dalam Lipsey dkk, 2007). Terapi
ini didasarkan pada tahap perkembangan moral Kohlberg dan menggunakan
serangkaian kelompok dan latihan buku kerja yang dirancang untuk meningkatkan
tingkat penalaran moral pelaku kejahatan melalui 16 tahap moral dan penilaian
kognitif.
3. Aggression Replacement Training (Goldstein & Glick, dalam Lipsey dkk, 2007).
Training ini terdiri dari tiga komponen, yaitu skill streaming, anger control
training, dan moral education. Skill streaming mengajarkan perilaku prososial
melalui pemodelan dan bermain peran. Anger control training mengajarkan klien
untuk mengendalikan diri dengan meminta mereka mencatat pengalaman yang
membangkitkan kemarahan mereka, mengidentifikasi pikiran yang memicu dan
menerapkan teknik mengontrol kemarahan. Moral education menghadapkan
pelaku pada dilema moral, disajikan dalam bentuk diskusi yang bertujuan untuk
meningkatkan penalaran moral mereka.
4. Thinking for a Change (Bush dkk, dalam Lipsey dkk, 2007) terdiri dari 22 sesi
latihan kelompok dan pekerjaan rumah yang diorganisasi seputar; (a) pemahaman
bahwa pikiran mengontrol perilaku, (b) memahami dan menanggapi perasaan diri
dan orang lain, dan (c) keterampilan memecahkan masalah.
5. Cognitive Intervension Program (National Institute of Corrections, dalam Lipsey
dkk, 2007) adalah 15 pelajaran restrukturisasi kognitif yang memandu pelaku
kriminal untuk melihat perilaku mereka sebagai hasil langsung dari pilihan yang
mereka buat. Program ini membuat peserta untuk mengenali bagaimana distorsi
dan kesalahan dalam berpikir (misalnya, sikap korban, optimisme yang besar,
kegagalan untuk mempertimbangkan cedera pada orang lain) dan sikap antisosial
yang mempengaruhi pilihan-pilihan mereka. Berpikir alternatif akan diperkenalkan
dan dipraktekkan untuk menciptakan lebih banyak pilihan yang akan mereka pilih.
6. Relapse Prevention approach to substance abuse (Marlatt & Gordon, dalam Lipsey
dkk, 2007) telah disesuaikan untuk menangani agresi dan kekerasan. Program ini
melibatkan keterampilan kognitif dan elemen restrukturisasi kognitif ke dalam
kurikulum yang membangun strategi perilaku untuk mengatasi situasi beresiko
tinggi dan menghentikan siklus kambuh sebelum penyimpangan berubah menjadi
kambuh total.

2.2 Analisa Jurnal SWOT


1. Strengths (S)
a) Penelitian ini sudah mampu menggambarkan sample penelitiaan yang
akurat yaitu pada narapidana residivis.
b) Penelitian ini mampu menggambarkan pengaruh Cognitive Beharvior
Therapy (CBT) dapat meningkatkan kontrol diri.
c) CBT efektif untuk meningkatkan kontrol diri pada residivis
2. Weakness (W)
Penelitian ini tidak menggambarkan CBT untuk pelaku residivis dalam berbagai
macam kasus kriminal hanya mengacu pada kontrol diri rendah.
3. Opportunity (O)
a) Penelitian ini akan menjadi masukan bagi tempat penelitian untuk
membantu dalam menghadapi para pelaku residivis.
b) Penelitian ini akan menjadi masukan bagi para psikolog dalam menghadapi
para pelaku residivis.
4. Threaten
a) Perlunya pengawasan pada para pelaku residivis terhadap tindakan dan pola
pikir agar tidak merugikan orang disekitarnya.
b) Perlunya dukungan masyarakat dan keluarga dalam menghadapi pelaku
residivis.
BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri atau
kemampuan untuk menekan tingkah laku impulsif.Kegagalan pembentukan kontrol diri
atau Kontrol diri yang rendah dapat berakibat individu dengan mudah terlibat dalam
tindak kriminal atau perilaku menyimpang.Kontrol diri yang rendah sering ditemukan
pada kasus residivisme.Cognitive Beharvior Theraphy (CBT) atau terapi kognitif
perilaku dapat digunakan untuk membantu para perilaku residivis untuk meningkatkan
kontrol diri agar tidak terjadi pengulangan pada tindak kriminal.

B. SARAN
Perilaku residivis perlu mendapat perhatian khusus untuk meningkatkan kontrol
pengendalian,melalui penelitian ini Cognitive Beharvior Therapy (CBT) merupakan
salah satu cara untuk meningkatkan kontrol diri pada para pelaku residivis agar tidak
ada pengulangan tindak kriminal.Perawat sebagai care giver yang memberikan
pelayanan secara komprehensif baik bio,psiko,sosial perlu untuk mengetahui dan
memahami cara meningkatkan kontrol pengendalian diri dengan Cognitive Beharvior
Therapy (CBT) karna sebagai perawat bukan tidak mungkin akan merawat atau
menjumpai pasien dengan perilaku residivis baik di rumah sakit atau di rumah sakit
jiwa.