You are on page 1of 4

Alat

Kertas Saring Mikropipet Mikroskop

Object Glass Tabung Reaksi


Prosedur
1. Uji Widal
Metode
1. Diambil 3 buah object glass dan pada masing-masing object glass dipipetkan
serum sebanyak 20l, 10l, dan 5l.
2. Masing-masing object glass ditetesi 1 tetes reagen S. typhii H, dicampur supaya
larutan menjadi homogen.
3. Object glass digoyang-goyang selama 1 menit. Tepat 1 menit, diamati ada
tidaknya aglutinasi.

Interpretasi Hasil :
1. Tidak ada aglutinasi, hasil negatif (-). Penderita tidak terinfeksi S. typhii H.
2. Ada aglutinasi, hasil positif (+). Penderita terinfeksi S.typhii H.
a) Pada serum 20 l, titer Ab (+) 1/80 = infeksi ringan
b) Pada serum 10 l, titer Ab (+) 1/160 = infeksi aktif
c) Pada serum 5 l, titer Ab (+) 1/320 = infeksi berat
(Olopoenia, 1999)

2. Uji Weil Felix


3. Penggolongan Darah ABO
Prosedur
a. Cara Manual
Campur 1 bagian volume Pereaksi golongan darah ABO yang sesuai dengan
1 bagian volume suspensi sel darah merah dalam tabung reaksi. Diamkan
tabung pada suhu kamar selama 1 jam sampai 2 jam dan goyang tabung
perlahan-lahan agar endapan terbagi merata. Amati aglutinasi secara
makroskopis.
b. Cara Otomatis
Lakukan uji dengan peralatan otomatis, sesuai ketentuan pabrik. Campur
suspensi sel darah merah dengan Pereaksi golongan darah ABO yang sesuai.
Diamkan agar terbentuk aglutinasi, tentukan tingkat aglutinasi secara visual
dengan menampung endapan/aglutinat di atas kertas saring atau dengan
detektor fotometrik yang sesuai dilengkapi alat penetapan otomatis.

( Depkes RI, 1995)


Interpretasi Hasil
1. Jika serum anti-A menyebabkan aglutinasi pada tetes darah,maka individu tersebut
memiliki aglutinogen tipe A (golongan darah A)
2. Jika serum anti-B menyebabkan aglutinasi, individu tersebut memiliki aglutinogen
tipe B (golongan darah B).
3. Jika kedua serum anti-A dan anti-B menyebabkan aglutinasi induvidu tersebut
memiliki aglutinogen tipe A dan tipe B (golongan darah AB).
4. Jika kedua serum anti-A dan anti-B tidak mengakibatkan aglutinasi,maka individu
tersebut tidak memiliki aglutinogen (golongan darah O).
(Wijaya, 2009)

4. Penentuan Tipe Darah Rh


Prosedur
a. Cara Manual atau Otomatis
Menggunakan IgM, pereaksi golongan darah anti D.
Campur 1 bagian volume pereaksi dengan 1 bagian volume suspensi sel
darah merah dalam tabung reaksi. Inkubasi tabung pada suhu 37 selama
30 menit dan ketuk perlahan-lahan hingga endapan sel tersebar merata.
Amati aglutinasi dalam tabung secara makroskopik.

Menggunakan IgG, pereaksi golongan darah anti D.


i. Campur 1 bagian volume pereaksi dengan 1 bagian volume suspensi
sel darah merah dalam tabung reaksi dan tambahkan sejumlah
suspensi sediaan papain teraktivasi yang sesuai 0,5% pada pH 5,4.
Inkubasi tabung pada suhu 37 selama 30 menit dan ketuk perlahan-
lahan hingga endapan sel tersebar merata. Amati aglutinasi dalam
tabung secara makroskopik.
ii. Campur 1 bagian volume pereaksi dengan 1 bagian volume suspensi
sel darah merah dalam tabung reaksi. Inkubasi tabung pada suhu 37
selama 1 jam, kemudian tambahkan 1 bagian volume larutan albumin
serum sapi P 30% untuk menggantikan beningan yang kontak dengan
endapan sel darah merah, dan jaga agar endapan sel darah merah tidak
terganggu. Inkubasi kembali tabung pada suhu 37 selama 30 menit
dan ketuk perlahan-lahan hingga endapan sel tersebar merata. Amati
aglutinasi dalam tabung secara makroskopik.
( Depkes RI, 1995)

Interpretasi Hasil
Hasil tes darah dinyatakan tidak memiliki antigen Rh, maka ia memiliki darah
dengan Rh negatif (Rh), sebaliknya bila ditemukan antigen Rh pada pemeriksaan, maka ia
memiliki darah dengan Rh positif (Rh+).
(Hoffbrand, 2005)

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Hoffbrand, dkk. 2005. Kapita Selekta Hematologi Edisi 4. EGC: Jakarta
Neal, Michael J. 2006. Proteus Antigen Reaction. Jakarta:Erlangga.

Olopoenia, L.A and A.L King. 1999. Widal Aglutination Test 100 Years Later : Still
Plaqued by Controversi. Washington : Howard University.

Wijaya, Gede Eka. 2009. Golongan Darah. Gramedia, Jakarta.