You are on page 1of 21

Makalah Anatomi Fisiologi Sistem

Pernapasan dan Oksigenisasi


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Ilmu Dasar Keperawatan I Semester I

Disusun oleh kelompok 4 :


1. Fitri Wulandari
2. Nano Desgarian
3. Roni Oktaviandi
4. Santi Wilamtika

AKADEMI KEPERAWATAN
STIK MUHAMMADIYAH PONTIANAK
2014/2015
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur hanya milik Allah SWT, Karena berkat rahmat, karunia serta
hidayah-Nya Penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ANATOMI DAN
FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN DAN OKSIGENISASI.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Dasar
Keperawatan I. Makalah ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan dari beberapa pihak yang
ikhlas bersedia meluangkan waktunya untuk membantu Penulis. Maka pada kesempatan ini
Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dosen pengajar Anatomi dan Fisiologi.

2. Orangtua tercinta yang selalu memberikan dorongan dan bantuan baik berupa materil
maupun moril yang tidak ternilai harganya.

3. Teman-teman Tingkat IB yang senantiasa memberikan semangat dan dorongan selama


penulisan Makalah ini.

4. Semua pihak yang telah ikut membantu baik secara langsung maupun tidak langsung
dalam pembuatan Makalah ini.

Penulis menyadari bahwa Makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, Penulis
mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan
Makalah ini.

Semoga Makalah ini dapat berguna bagi Penulis, pihak-pihak yang telah membantu
dan kepada siapa saja yang ingin memanfaatkannya sebagai referensi keilmuanya. Amiin..

Pontianak,13 Oktober 2014

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ..
Latar Belakang ...
Maksud dan Tujuan ...
Manfaat Penulisan..

BAB II
LANDASAN TEORI ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN.......
Pengertian Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan Manusia ..
Fungsi Sistem Pernapasan ...
Struktur Utama Sistem Pernapasan ...

BAB III TINJAUAN TEORITIS OKSIGENISASI......


Pengertian Oksigenisasi.......................................................
Faktor-Faktor yang memengaruhi kebutuhan oksigenisasi.......
Masalah Kebutuhan Oksigenisasi...........................................
Teknik Pemberian Oksigen.................................................

BAB IV PENUTUP............................................................
Kesimpulan .
DAFTAR PUSTAKA ..
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sagala puji bagi ALLAH SWT Tuhan seluruhan ala,atas rahmat dan hidayahnya
sehingga kami bisa dapat menyelesaikan materi ini yang mengenai Anatomo Fisiologi
Sistem Pernapasan dan Oksigenisasi. Setiap mahasiswa/mahasiswi keperawatan harus
mempunyai pengetahuan dasar tentang anatomi manusia beserta fisiologinya.jika
kalian mengerti bagaimana tubuhmu dibentuk serta berbagai fungsi yang
dilakukannya,kalian akan lebih menghargai tubuhmu lebih dari sebelumnya.

Tubuh manusia sangat rumit dan mempunyai banyak sistem.Pemahaman umum


tentang biologi sangat membantu untuk memahami anatomi,namun tidak
penting.pengetahuan umum tentang biologi sangat bermanfaat dalam mempelajari
fisiologi.

B. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari penulisan ini, yaitu:

Pengertian anatomi dan fisiologi

Memahami fungsi sistem pernapasan

Mengetahui struktur utama sistem pernapasan

Mengetahui Pengertian Oksigenisasi

Memahami Proses oksigenisasi


C. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan ini, yaitu:

Sebagai bahan pengetahuan untuk dikembangkan lebih jauh lagi.Dengan


mengetahui struktur organ dari alat-alat pernapasan pada manusia beserta fungsi dari
sistem pernapasan, maka setidaknya dapat mempermudah dalam pembelajaran.
Menambah wawasan dan pengetahuan Penulis.
Menambah daya kritis terhadap Penulis
BAB II

PEMBAHASAN

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN

Pengertian Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan

A. Pengertian

Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas dan paru- paru
beserta pembungkusnya ( pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Di dalam rongga
dada terdapat juga jantung di dalamnya. Rongga dada dipisahkan dengan rongga perut oleh
diafragma. Pernafasan ( respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang
mengandung (oksigen) ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak
mengandung CO2(karbondioksida) sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Penghisapan
udara ini disebut inspirasi dan menhembuskan disebut ekspirasi.
Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan hubungan antara bagian-bagian tubuh.
Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi bagian bagian tubuh dan tubuh secara
keseluruhan .

Mengeluarkan yang lama dan masukkan yang baru itulah yang dilakukan sistem
pernapasan,memasukkan udara ke paru-paru,mengangkut oksigen dalam tubuh,dan
mengeluarkan karbondioksida ke udara.memahami struktur dan seluk-beluk sistem
pernapasan sangat penting dalam anatomi manusia.

B. Fungsi Sistem Pernapasan

Fungsi sistem pernapasan adalah memasukkan udara ke paru-paru . Oksigen dalam udara
berdifusi ke luar paru-paru dan ke dalam darah , sedangkan CO2 berdifusi dengan arah yang
berlawanan , keluar dari darah dan masuk ke paru-paru. Pernapasan meliputi proses-proses
berikut ini ;

Ventilasi paru-paru adalah pernapasan inspirasi ( menghirup udara ) dan ekspirasi


(menghembuskan udara)
Pernapasan eksternal adalah pertukaran gas antara paru-paru dan darah . Oksigen
berdifusi ke dalam darah , sedangkan CO2 berdifusi dari darah ke paru paru

Transport gas , yang dilakukan oleh sistem jantungb dan pembuluh darah ., adalah
mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh dan mengumpulkan CO2 dan
mengembakikannya ke paru-paru .

Pernapasan internal adalah proses pertukaran gas antara darah , cairan selitan (cairan
disekitar sel), dan sel . Di dalam sel , pernapasan sel menghasilkan energi (ATP) ,
menggunakan O2 dan glukosa , dan membuang sampah CO2.

C. Struktur Utama Sistem Pernapasan

Sistem pernapasan ditunjukan oleh struktur berikut ;

Hidung terdiri atas hidung luar yang tampak dan rongga hidung dalam. Hidung
menghubungkan lubang-lubang sinus udara paranasalis yang masuk kedalam rongga-
rongga hidung,dan juga menghubungkan lubang-lubang nasolakrimal yang
menyalurkan air mata dari mata kedalam bawah bagian bawah rongga
nasalus,kedalam hidung.

Faring (tenggorokan) merupakan pipa yang memiliki otot , memanjang dari dasar
tengkorak sampai esofagus yang terletak dibelakang nasofaring(belakang hidung ) ,
dibelakang mulut (orofaring) , dan di belakang laring (laringofaring).

Laring merupakan saluran pernapasan setelah faring yang terdiri atas bagian tulang
rawan yang diikat bersama ligamen dan membran , terdiri atas dua lamina yang
bersambung di garis tengah . Laring terdiri atas sembilan tulang rawan yang disarukan
oleh membran dan ligamen.

Trakea (batang tenggrokan) disebut sebagai batang tenggorok , memiliki panjang


kurang lebih 9cm yang dimulai dari laring sampai kira-kira ketinggian
vetebratorakalis kelima .
Bronkus merupakan bentuk percabangan atau kelanjutan dari trakea yang terdiri atas
dua percabangan kanan dan kiri . Bagian kanan lebih pendek dan lebar daripada
bagian kiri yang memiliki tiga lobus atas , tengah , dan bawah . Sedangkan bronkus
kiri lebih panjang dari bagian kanan yang berjalan dari lobus atas dan bawah .

Bronkiolus merupakan saluran percabangan setelah bronkus .

Alveolus adalah cabang akhir pohon bronkiol. Setiap pembengkakan disebut


alveolus,dan kelompok alveolus yang bersebelahan disebut kantong alveolus.

Paru paru merupakan organ utama dalam sistem pernapasan . Paru paru terletak
dalam rongga torak setinggi tulang selangka sampai dengan diafragma .paru terdiri
atas beberapa lobus yang diselaputi oleh pleura parietalis dan pleura viseralis,serta
dilindungi oleh cairan pleura yang berisi cairan surfaktan.
BAB III
TINJAUAN TEORITIS OKSIGENISASI

A. Pengertian Oksigenisasi

A. Oksigenasi adalah pemenuhan akan kebutuhan oksigen (O2). Kebutuhan


fisiologis oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan
untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, untuk mempertahankan hidupnya,
dan untuk aktivitas berbagai organ atau sel. Oksigen memegang peranan
penting dalam semua proses tubuh secara fungsional. Tidak adanya oksigen
akan menyebabkan tubuh secara fungsional mengalami kemunduran atau
bahkan dapat menimbulkan kematian. Oleh karena itu, kebutuhan oksigen
merupakan kebutuhan yang paling utama dan sangat vital bagi tubuh.
Pemenuhan kebutuhan oksigen ini tidak terlepas dari kondisi sistem
pernapasan secara fungsional. Bila ada gangguan pada salah satu organ sistem
respirasi, maka kebutuhan oksigen akan mengalami gangguan. Sering kali
individu tidak menyadari terhadap pentingnya oksigen. Proses pernapasan
dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Banyak kondisi yang
menyebabkan seseorang mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan
oksigen, seperti adanya sumbatan pada saluran pernapasan. Pada kondisi ini,
individu merasakan pentingnya oksigen.

B. Proses pemenuhan kebuutuhan oksigenisasi tubuh terdiri atas tiga


tahap, yaitu :
a. Ventilasi
Merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dari atmosfer kedalam
alveoli atau dari alveoli ke atmosfer.proses ventilasi dipengaruhi oleh
beberapa hal,yaitu adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan
paru,semakin tinggi tempat maka tekanan udara semakin rendah,demikian
sebaliknya semakin rendah tempat tekanan udara semakin tinggi adanya
kemampuan torak dan paru pada alveoli dalam melaksanakan ekspansi atau
kembang kempis adanya jalan napas yang dimulai dari hidung hingga alveoli
yang terdiri atas berbagai otot polos yang kerjanya dipengaruhi oleh sistem
saraf otonom.
b. Difusi Gas
Merupakan petukaran antara oksigen di aveoli dengan kapiler paru dan co2 di
kapiler dengan alvioli.proses pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor,yaitu luasnya permukaran paruh,tebal membran respirasi atau
permeabilitas yang terdiri atas evitel alveoli dan interstisial,perbedaan tekanan
dan konsentraso o2,pCO2 dalam arteri vulmonalis akan berdifusi kedalam
alveoli,dan afinitas gas
c. Transportasi Gas
Merupakan proses pendistribusian O2 kapiler kejaringan tubuh dan CO2
jaringan tubuh ke kapiler.transportasi gas dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor,yaitu curah jantung(kardiak output),kondisi pembuluh
darah,latihan(exercise),perbandingan sel darah dengan darah secara
keseluruhan (hematokrit),serta eritrosit dan kadar Hb.

C. Faktor faktor yang memengaruhi kebutuhan oksigenisasi


a) Saraf otonomik
Rangsangan simpatis dan parasimpatis dari saraf otonomik dapat mempengaruhi
kemampuan untuk dilatasi dan kontriksi,hal ini dapat terlihat simpatis maupun
para simpatis.
b) Hormon dan obat
Semua hormon termasuk derivat catecholamine dapat melebarkan saluran
pernapasan obat yang tergolong para simpatis,seperti sulfasatropin dan ekstarak
belladona,dapat melebarkan saluran napas,sedangkan obat yang menghambat
adrenergik tipe beta(khususnya beta-2),seperti obat yang tergolong penyakit beta
non selektif dapat mempersempit saluran napas(bronkhokontriksi).
c) Alergi pada saluran napas
Banyak faktor yang dapat menimbulkan alergi,antara lain debu yang terdapat
dalam hawa pernapasan,bulu binatang,serbuk benang sari bunga,kapuk,makanan
dan lain-lain.
d) Perkembangan
Tahap perkembangan anak dapat mempengaruhi jumlah kebutuhan
oksigenisasi,karena usia organ dalam tubuh berkembang seiring usia
perkembangan.
e) Lingkungan
Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kebutuhan oksigenisasi,seperti faktor
alergi,ketinggian tanah,dan suhu.kondisi tersebut memengaruhu kemampuan
adaptasi.
f) Perilaku
Dapat memengaruhi kebutuhan oksigenisasi adalah perilaku dalam mengonsumsi
makanan(status nutrisi).sebagai contoh ,obsitas dapat memengaruhi proses
perkembangan paru,aktivitas dapat memengaruhi proses peningkatan kebutuhan
oksigenasi,merokok dapat menyebabkan proses penyempitan pada pembuluh
darah,dan lain-lain.

D. MASALAH KEBUTUHAN OKSIGENISASI

Permasalahan dalam hal pemenuhan kebutuhan oksigen tidak terlepas dari


adanya gangguan yang terjadi pada sistem respirasi baik pada anatomi maupun
fisiologis dari organ-organ respirasi. Permasalahan dalam pemenuhan tersebut
dapat disebabkan adanya gangguan pada sistem tubuh lain, misalnya sistem
kardiovaskuler.
Gangguan pada sistem respirasi dapat disebabkan diantaranya oleh
peradangan, obstruksi, trauma, kanker, degeneratif dan lain-lain. Gangguan
tersebut akan menyebabkan kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi
secara adekuat. Secara garis besar, gangguan-gangguan respirasi
dikelompokkan menjadi beberapa yaitu gangguan irama/frekuensi pernapasan,
insufisiensi pernapasan dan hipoksia.
1) Hipoksia
Hipoksia merupakan kondisi tidak tercukupnya pemenuhan kebutuhan
oksigen dalam tubuh akibat efisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan
oksigen dalam tingkat sel,ditandai dengan adanya warna kebiruan pada
kulit(sianosis).secara umum,terjadinya hipoksia disebabkan oleh menurunnya
kadar Hb,menurunya difusi O2 dari alveoli kedalam darah,menurunnya perfusi
jaringan,atau gangguan pentilasi yang dapat menurunkan konsentrasi oksigen.
Hipoksia dapat dibagi ke dalam empat kelompok yaitu hipoksemia, hipoksia
hipokinetik, overventilasi hipoksia dan hipoksia histotoksik.
1. Hipoksemia
Hipoksemia adalah kekurangan oksigen di darah arteri. Terbagi
atas dua jenis yaitu hipoksemia hipotonik (anoksia anoksik) dan
hipoksemia isotonik (anoksia anemik). Hipoksemia hipotonik
terjadi dimana tekanan oksigen arteri rendah karena
karbondioksida dalam darah tinggi dan hipoventilasi. Hipoksemia
isotonik terjadi dimana oksigen normal, tetapi jumlah oksigen
yang dapat diikat hemoglobin sedikit. Hal ini terdapat pada
kondisi anemia, keracunan karbondioksida.
2. Hipoksia Hipokinetik (stagnat anoksia/anoksia bendunagn)
Hipoksia hipokinetik yaitu hipoksia yang terjadi akibat adanya
bendunagn atau sumbatan. Hipoksia hipokinetik dibagi kedalam
dua jenis yaitu hipoksia hipokinetik ischemic dan hipoksia
hipokinetik kongestif. Hipoksia hipokinetik ischemic terjadi
dimana kekurangan oksigen pada jaringan disebabkan karena
kuarngnya suplai darah ke jaringan tersebut akibat penyempitan
arteri. Hipoksia hipokinetik kongestif terjadi akibat penumpukan
darah secara berlebihanatau abnormal baik lokal maupun umum
yang mengakibatkan suplai oksigen ke jaringan terganggu,
sehingga jarinagn kekurangan oksigen.
3. Overventilasi hipoksia
Overventilasi hipoksia yaitu hipoksia yang terjadi karena aktivitas
yang berlebihan sehingga kemampuan penyediaan oksigen lebih
rendah dari penggunaannya.
4. Hipoksia histotoksik
Hipoksia histotoksik yaitu keadaan dimana darah di kapiler jaringan
mencukupi, tetapi jaringan tidak dapat menggunakan oksigen karena
pengaruh racun sianida. Hal tersebut mengakibatkan oksigen kembali
dalam darah vena dalam jumlah yang lebih banyak daripada normal
(oksigen darah vena meningkat).

1. Perubahan pola pernapasan


Memiliki beberapa pola yaitu:
Tachypnea
Bradypnea
Hiperventilasi
Kusmaul
Hipoventilasi
Dispnea
Orthopnea
Cheyne stokes
Pernapasan paradoksial
Biot
Stridor

2. Obstruksi Jalan Napas


Obstruksi jalan napas(bersihan jalan napas) merupakan kondisi
pernnapasan yang tidak normal akibat ketidakmampuan batuk secara
efektif,dapat disebabkan oleh sekresi yang kental atau berlebihan
akibat penyakit infeksi,imobilisasi,statis sekresi,dan batuk tidak efektif
karena penyakit persarapan dan efek pengobatan sedatif.
3. Pertukaran Gas
Pertukaran gas merupakan kondisi penurunan gas,baik oksigen
maupun karbon dioksida antara alveoli paruh dan sisyten vaskuler
dapat disebabkan sekresi yang kental imobilisasi akibat penyakit
sistem saraf,depresi susunan saraf pusat,atau penyakit radang pada
paru.

E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OKSIGENISASI

Faktor yang mempengaruhi oksigenisasi dipengaruhi oleh empat tipe yaitu,1. fisiologis,2.
perkembangan,3. perilaku, dan 4. Lingkungan.

a. Faktor fisiologis
Setiap kondisi yang mempengaruhi fungsi kardiopulmonar secara
langsung atau mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memenuhi
oksigen.klasifikasi umum gangguan jantung meliputi ketidakseimbangan
konduksi,kerusakan fungsi valvular,hipoksia miokard kondisi-kondisi
kardiomiopatin dan hipoksia jaringan perifer.
b. Faktor perkembangan
Tahap perkembangan klien dan proses penuaan yang normal
mempengaruhi oksigenisasi jaringan. Berikut yang mempengaruhi faktor
perkembangan yaitu,1. Bayi prematur,2. Bayi dan todler,3. Anak usia
sekolah dan remaja,4. Dewasa muda dan dewasa pertengahan,5. Lansia
c. Faktor perilaku
Perilaku atau gaya hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung
mempengaruhi kemampuan hidup dalam memenuhi kebutuhan
oksigen.faktor-faktor gaya hidup yang mempengaruhi fungsi pernapasan
meliputi nutrisi, latihan fisik, merokok, menyalahgunaan subtansi, dan
strees .
d. Faktor lingkungan
Lingkungan juga mempengaruhi oksigenesasi. Insiden penyakit paru lebih
tinggi didaerah berkabut dan didaerah perkotaan dari pada didaerah
pedesaan.

F. Teknik Pemberian Oksigen Dengan Face Mask dan Nasal Kanul

Pemberian oksigen merupakan tindakan keperawatan dengan cara memberikan


oksigen ke dalam paru melalui saluran pernapasan dengan menggunakan alat
bantu oksigen.Pemberian oksigen pada pasien dapat dilakukan oleh tiga
cara,yaitu melalui kanula,nasal,dan masker dengan tujuan memenuhi
kebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia. Pemberian oksigen ke
dalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan menggunakan alat bantu
dan oksigen. Pemberian oksigen pada klien dapat melalui kanula nasal dan
masker oksigen.

Kontraindikasi
Tidak ada konsentrasi pada pemberian terapi oksigen dengan syarat pemberian
jenis dan jumlah aliran yang tepat. Namun demikan, perhatikan pada khusus
berikut ini.

1. Pada klien dengan PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun) yang mulai
bernafas spontan maka pemasangan masker partial rebreathing dan non rebreathing
dapat menimbulkan tanda dan gejala keracunan oksigen. Hal ini dikarenakan jenis
masker rebreathing dan non-rebreathing dapat mengalirkan oksigen dengan
konsentrasi yang tinggi yaitu sekitar 90-95%
2. Face mask tidak dianjurkan pada klien yang mengalami muntah-muntah
3. Jika klien terdapat obstruksi nasal maka hindari pemakaian nasal kanul.
a. Nasal kanula/Binasal kanula

Alatnya sederhana dapat memberikan oksigen dengan aliran 1-6lt/menit dan


konsentrasi oksigen sebesar 24%-44%.

Cara pemasangan :

Terangkan prosedur pada klien


Atur posisi klien yang nyaman(semi fowler)
Atur peralatan oksigen dan humidiflier
Hubungkan kanula dengan selang oksigen ke humidiflier dengan aliran oksigen yang
rendah,beri pelicin(jelly) pada kedua ujung kanula.
Masukan ujung kanula ke lubang hidung
Fiksasi selang oksigen
Alirkan oksigen sesuai yang diingiinkan

Keuntungan

Toleransi klien baik


Pemasangannya mudah
Klien bebas untuk makan dan minum
Harga lebih murah

Kerugian

Mudah terlepas
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%
Suplai oksigen berkurang jika klien bernafas lewat mulut
Mengiritasi selaput lender, nyeuri sinus

b. Sungkup muka / Masker

1. Sungkup muka sederhana

Aliran oksigen melalui alat ini sekitar 5-8lt/menit dengan koonsentrasi 40-60%.

Cara pemasangan :
Terangkan prosedur pada klien
Atur posisi yang nyaman pada klien (semi fowler)
Hubungkan selang oksigen pada sungkup muka sederhana dengan humidiflier.
Tepatkan sungkup muka sederhana, sehingga menutupi hidung dan mulut klien
Lingkarkan karet sungkunp kepada kepala klien agar tidak lepas
Alirkan oksigen sesuai kebutuhan.

Keuntungan

Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari nasal kanula


system humidifikasi dapat di tingkatkan

Kerugian

Umumnya tidak nyaman bagi klien


Membuat rasa panas, sehingga mengiritasi mulut dan pipi
Aktivitas makan dan berbicara terganggu
Dapat menyebabkan mual dan muntah, sehingga dapat menyebabkan aspirasi
Jika alirannya rendah dapat menyebabkan penumpukan karbondioksida

2. Sungkup muka dengan kantung rebreathing

Konsentrrasi ooksigen yang di berikan lebih tinggi dari pada sungkup muka sederhana yaitu
60-80% dengan aliran oksigen 8-12lt/menit. Indikasi penggunaan adalah pada klien dengan
kadar tekanan karbondioksida yang rendah, udara inspirasi sebagian tercampur dengan udara
ekspirasi sehingga konsentrasi karbondioksida lebih tinggi dari pada sungkup sederhana.

Cara pemakaian :

Terangkan prosedur pada klien


Hubungkan selang oksigen dengan humidiflier dengan aliran rendah
Isi oksigen kedalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantung dengan
sungkup
Atur tali pengikat sungkup sehingga menutup rapat dan nyaman. Bila perlu pakai kasa
pada daerah yang tertekan.
Sesuaikan aliran oksigen, sehingga kantung akan terisi waktu ekspirasi dan hampir
kuncup waktu inspirasi

Keuntungan

Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari pada sungkup muka sederhana


Tidak mengeringkan selaput lendir

Kerugian

Kantung oksigen bisa terlipat


Menyebabkan penumpukan oksigen jika aliran terlalu rendah

3. Sungkup muka non breathing

Memberikan konsentrasi oksigen sampai 99% dengan aliran yang sama pada kantong
rebreathing. Pada prinsipnya, udara inspirasi tidak tercampur dengan ekspirasi. Indikasi
penggunaan adalah pada klien dengan kadar tekanan karbondioksida yang tinggi.

Cara pemasangan sama dengan sungkup muka kantong rebreathing.

Keuntungan

Konsentrasi oksigen hampir diperoleh 100% karena adanya katup satu arah antara
kantong dan sungkup, sehingga kantung mengandung konsentrasi oksigen yang tinggi
dan tidak tercampur dengan udara ekspirasi.

Tidak mengeringkan selaput lender

Kerugian

Kantung oksigen bisa terlipat


Berisiko untuk terjadi keracunan oksigen.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pernafasan ( respirasi) merupakan suatu proses yang terjadi secara otomatis


walau dalam keadaan tertidur sekalipun karena sistem pernapasan dipengaruhi
oleh susunan saraf autonom.
Adapun anatomi dari sistem pernapasan itu meliputi hidung(nasal),
faring(tekak), laring(pangkal tenggorokan), trakea(batang tenggorokan),
bronkus(cabang tenggorokan), alveoli, paru-paru dan pleura.
Menurut tempat terjadinya pertukaran gas, maka pernapasan dapat dibedakan
atas dua jenis, yaitu pernapasan dalam dan pernapasan luar. Pernapasan dalam
adalah pernapasan yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel
tubuh, sedangkan pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara
udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler.
Daftar Pustaka

Perry Potter , 2006 . Buku Ajar Fundamental keperawatan ( konsep , proses , dan praktik .
Edisi 4 . Jakarta

Tarwoto dan Wartonah, 2010 . Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan . Edisi 4 .
Jakarta Salemba Medika

Hidayat,A.Aziz Alimul, 2009. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta :


Salemba Medika