You are on page 1of 5

2.3.

Profil Usahatani

2.3.1 Karateristik Usahatani dan Petani di Indonesia Karakteristik Usahatani


A. Karakteristik usahatani di Indonesia
Karakteristik usahatani di Indonesia dicirikan oleh sifat usaha skala kecil dikelola
secara independen dan menyebar dalam kawasan yang luas (dispersal). Konsekuensinya
adalah volume produksi terbatas, kualitas produk dan waktu panen bervariasi serta biaya
pengumpulan produk relatif besar sehingga kurang kondusif bagi pengembangan
agroindustri dan sistem pemasaran yang efisien. Dampak integratifnya adalah tingginya
biaya pemasaran sehingga akan menekan pangsa harga yang diterima petani dan
mengangkat tingkat harga yang dibayar konsumen. Akibatnya adalah permintaan dan
penawaran produk usahatani akan menurun, sehingga menghambat perkembangan
agribisnis (Kasryno, F. 2000). Ciri-ciri dari Usahatani di Indonesia yaitu:
Merupakan pertanian rakyat.
Bersifat ekstensif Spesialisasi dalam pertanian sukar diterima.
Lebih banyak menggunakan TK manusia dan relatif sedikit menggunakan TK mesin.
Hasil pertanian sulit diprediksi/dikontrol
Pasar komoditi pertanian sifatnya monopsoni/oligopsoni
B. Karakteristik Petani di Indonesia
Hernanto (1984) mengemukakan bahwa partisipasi terhadap kegiatan yang
dijalankan dalam sebuah program dipengaruhi oleh karateristik sosial ekonomi.
Karakteristik sosial ekonomi merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat
partisipasi yang berasal dari petani itu sendiri Karateristik sosial ekonomi tersebut meliputi:
Pendidikan
Tingkat pendidikan petani baik formal maupun non formal akan mempengaruhi
cara berfikir yang diterapkan pada usahataninya yaitu dalam rasionalitas usaha dan
kemampuan memanfaatkan setiap kesempatan ekonomi yang ada.
Pendapatan
Sehubungan dengan pendapatan Soekartawi (1988) menyebutkan bahwa petani
dengan tingkat pendaptan tinggi ada hubungannya dengan penggunaan suatu inovasi.
Petani dengan pendapatan tinggi akan lebih mudah melakukan sesuatu yang diinginkan
sehingga akan lebih aktif dalam berpartisipasi.
Luas penguasaan lahan
Penguasaan lahan lahan petani di Indonesia sebagian besar adalah sempit sehingga
mempengaruhi petani dalam pengelolaannya, agar dapat mengoptimalkan produktifitas
usahatani dengan lahan yang tersedia.

2.3.2 Tinjauan Tentang Komoditas Pertanian


Menurut Badan Litbang (1986) Tanaman kubis merupakan tanaman sayur-sayuran
yang telah banyak diusahakan para petani di pedesaan Indonesia, karena banyak
mengandung vitamin A 200 IU, B 20 IU dan C 120 IU mgr. Vitamin-vitamin ini sangat
berperan dalam memenuhi kebutuhan manusia.
A. Jenis-jenis kubis
Kubis Krop (Brassica oleracea L. var. cagitata L)
Daunnya membentuk krop (telur) dan berwarna putih sehingga sering disebut kubis
telur atau kubis putih.
Kubis Kailan (Brassica oleracea L. Var. gennipera D.C)
Daunnya tidak membentuk krop dan berwarna hijau.
Kubis Tunas (Brassica oleracea L. var. gennipera D.C)
Tunas samping dapat membentuk krop, sehingga dalam satu tanaman terdapat
beberapa krop kecil.
Kubis Bunga (Brassica oleracea L. var. bathytis L)
Jenis ini akan bunganya mengembang, merupakan telur yang berbentuk kerucut dan
berwarna putih kekuning-kuningan yang bunganya berwarna hijau.2.4 Analisa Biaya,
Penerimaan dan Keuntungan Usahatani
Tanaman kubis dapat dipetik kropnya setelah besar, padat dan umur berkisar antara
3 - 4 bulan setelah penyebaran benih. Hasil yang didapat rata-rata untuk kubis telur 20 - 60
ton/ha dan kubis bunga 10 -15 ton/ha. Pemungutan hasil jangan sampai terlambat, karena
kropnya akan pecah (retak), kadang-kadang akan menjadi busuk. Sedangkan untuk kubis
bunga, jika terlambat bunganya akan pecah dan keluar tangkai bunga, hingga mutunya
menjadi rendah.
3.3. Profil Petani dan Usaha Tani

Dalam usaha tani berdasarkan hasil Survey lapang bertempatkan di RT.003, RW.006
Desa Bocek, Dusun Manggisan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Petani yang diwawancarai
bernama Bapak Supii berusia 61 tahun. Bapak Supii ini tidak pernah bersekolah, yang mana
pekerjaan utama dan satu-satunya dari Bapak Supii hingga sekarang adalah sebagai petani.
Di dalam rumah tangga Bapak SupiI berperan sebagai kepala rumah tangga yang memiliki
jumlah anggota keluarga sebanyak 6 jiwa. Untuk data anggota keluarga dapat dilihat pada
tabel berikut:
Hubungan Pekerjaan
No Nama dengan Umur Pendidikan keterangan
keluarga utama sampingan
Kepala
rumah 61 Tidak
1 Supii tangga tahun bersekolah Petani - -
Tidak
2 Sumarni Istri - bersekolah - - Alm
39 Pedagang
3 Kusman Ali Anak tahun SD Sayur - -
35 Sopir
4 Todji Anak tahun SD truk - -
Lilis 25
5 Andayani Anak tahun SMP - - -
Yuli 19
6 Purwanto Anak Tahun SD Petani - -

Dalam usaha tani yang dilakukan oleh Bapak Supii ini lahan yang dikelola adalah
seluas 1 hektar, akan tetapi luasan lahan tersebut dibagi menjadi 2 lahan penggunaan yaitu
lahan pertama ditanam secara monokultur yaitu kubis/brungkul, lahan kedua ditanam
monokultur cabai. Pengelolahan lahan yang dilakukan sudah modern yaitu dengan
menggunakan traktor, sama seperti pengolahan tanah lainnya setelah panen tanah yang ada
distirahatkan kemudian dilakukan pembalikan tanah sebelum mulai ditanami kembali.
Untuk benih yang digunakan Bapak Supii membeli dari kios pertanian dan disemaikan
sendiri sebelum penanaman. Selain itu, Bapak SupiI juga memiliki 1 ekor ternak sapi yang
diperoleh dari bagi hasil.
Dalam pemupukan yang dilakukan oleh Bapak Supii yaitu dengan menggunakan
pupuk organic dan pupuk anorganic. Untuk pupuk organic yang digunakan yaitu pupuk
kotoran sapi yang merupakan hasil dari ternak sendiri dan pupuk kotoran ayam yang
didapat dari membeli kepada ternak ayam di sekitar. Sedangkan untuk pupuk anorganic
yang digunakan adalah pupuk urea, ZA, dan Phonska yang semuanya didapat dari kios
pertanian. Dalam pemberantasan hama dan penyakit tanaman, Bapak Supii menggunakan
pestisida kimia dan pestisida organik. Untuk tenaga kerja, Bapak SupiI yang
menggunakan tenaga kerja yang berasal dari keluarga sendiri. Dalam melakukan
penanaman, biasanya Bapak SupiI menanam tanaman kubis pada akhir Desember
sehingga panen dapat dilakukan di awal bulan April.

3.6 Pemasaran Hasil Pertanian


Menurut hasil wawancara yang telah kami lakukan, Bapak SupiI menerangkan
bahwa pemasaran hasil produksi usahataninya dengan langsung menjual semua hasil panenan
ke pasar. Hal ini dilakukan karena salah satu alasan yakni anak dari Bapak SupiI yang
bernama Kusman Ali berprofesi sebagai pedagang sayur di Pasar Sayur Karangploso dan
selain itu, harga yang diberikan dinilai lebih tinggi daripada harga tengkulak.

3.7 Permasalahan Dalam Usahatani


Usaha tani yang dijalankan Bapak Supii dalam satu tahun terakir tidaklah mudah, beliau
menjumpai beberapa kendala diantaranya yaitu cuaca yang sering berkabut sehingga iklim
tersebut akan membuat tanaman membusuk dan harga komoditas yang sulit di prediksi serta
terkadang harga sangat rendah. Diantara kendala tersebut, bapak supiI berharap harga pasar
tetap stabil, karena apabila harga sudah sangat rendah, maka Bapak SupiI terpaksa menjualnya
dengan konsekuensi mendapat kerugian sehingga tidak memiliki modal untuk melakukan
kegiatan usahatani selanjutnya.

Hernanto, Fadholi. 1991, Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya: Jakarta


Kasryono, F.,Erwidodo,E.Fasandaran,i.w.Rusastra,A.M.Fagi dan T. Panji. 2000. Pemikiran
Mengenai Visi Pembanguanan Pertanian Indonesia 2020 dan Implikasinya Bagi Penelitian
Dan Pengembangan Pertanian. Prosising. Arah Kebijaksanaan Program dan Strategi
Operasional Litbang Pertanian 2003. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Jakarta.
Soekartawi,1988. Ilmu Usaha Tani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. UI
Press. Jakarta.
Badan Litbang, 1986
Ringkasan bercocok tanam, tanaman perkebunan dan industri,
buah-buahan dan sayuran.
BIPP Timor-Timur, 1997 Kubis Telur