You are on page 1of 9

PEMBAKAR BAHAN BAKAR CAIR

OIL BURNER

Oil burner berfungsi untuk mengatomisasi bahan bakar cair. Alat ini dapat mengubah
bahan bakar cair menjadi partikal-partikel kecil yang cepat menguap dan dengan
cepat pula terbakar. Sehingga proses pembakaran dapat sempurna hanya dengan
memakan sepersekian detik.
Ada beberapa macam oil burner, yakni:
Vaporizing burner
Mechanical atomizing burner
Oil pressure atomizing burner
Low pressure air atomizing burner
High pressure steam or air atomizing burner
Pada makalah ini hanya akan dibahas tentang high pressure steam.

HIGH PRESSURE STEAM OR ATOMIZING BURNER


Pada industry digunakan untuk boiler yang telah dilengkapi dengan relief
valve (Safety valve) pada burner headerya (untuk membuang kelebihan tekanan ke
lokasi yang aman) maka tidak diperlukan fasilitas tripping bila terjadi burner pressure
high.
Dalam kehidupan sehari-hari yang menggunakan prinsip ini ditemui pada
injeksi kendaraan bermotor,petromaks,kompor minyak penjual mie ayam dan lain-
lain.
Berikut ini adalah skema high pressure steam yang digunakan pada injeksi
kendaraan bermotor.
Fuel inlet berfunsi sebagai masuknya bahan bakar cair kedalam injector
Filter berfungsi umtuk menyaring bahan bakar cair yang hanya bisa dilewati oleh
bahan cair berukuran 20 mikron
Electrical connection sebagai penerima masukan dari sensor kemudian mengolahnya
lalu memberikan ke injector untuk proses pembakaran. Dalam hal ini adalah gas O2
Return string alat ini berbentuk seperti pir yang dapat digunakan sebagai pensirkulasi
proses pembakaran, sehingga dapat berlangsung terus menerus.
Solenoid
Valve needle atau jarum nozzle mengatur besar kecilnya atomisasi
Pinle head and seat untuk menyemburkan hasil atomisasi agar dapat keluar sebagai
partikel-partikel kecil yang kemudian masuk ke dalam mesin kendaraan bermotor

Prinsip Kerja
Fuel inlet menerima bahan bakar bertekanan tinggi dan menginjeksikannya ke dalam
ruang pembakaran. Saat tekanan bahan bakar yang dipompakan oleh pompa injeksi
menjadi lebih besar daripada beban pegas tekanan, maka tenaganya mendorong jarum
nozzle ke atas. Hal ini menyebabkan pegas tekanan menjadi mampat dan bahan bakar
diinjeksikan ke ruang pembakaran.
1. Bahan bakar yang disuplai lewat pemindahan pada tekanan yang terbatas ke
injektor, dihantarkan melewati injektor dan memasuki sistem saluran balik dengan
lobang pengatur tekanan yang mengontrol tekanan bahan bakar.
2. Rak atau batang pengontrol menghubungkan injektor ke governor
3. Injektor unit menggunakan prinsip pengukur heliks lobang
4. Injektor unit diaktuasi oleh perangkat lengan rocker.
5. Injektor menginjeksi bahan bakar langsung memasuki ruang pembakaran tanpa
segala pompa atau saluran bertekanan tinggi eksternal.
6. Injektor yang biasanya disuplai pada setelan kalibrasi ditentukan lewat pengujian
kompresor
7. Injektor dapat disuplai dengan rentangan penghantaran bahan bakar yang berbeda
agar sesuai dengan aplikasi yang berbeda.
8. Penyesuaian sebaiknya dibuat setiap pengerjaan manual.
Gas burner dapat diklasifikasikan menjadi premixed burner dan non-premixed burner.
Jenis flame stabilizer yang digunakan diperlihatkan pada gambar berikut:

Banyak flame stabilizer yang diterapkan pada gas burner. Bluff body, swin dan
kombinasinya merupakan mekanisme stabilisasi yang dominan.

1. Fully Premixed Burner


Suatu fully premixed burner terdiri atas suatu bagian untuk pengadukan sempurna
bahan bakar dan udara upstream dari burner. Burner tertentu terdiri dari flame
holder khusus. Penempatan yang memungkinkan campuran menuju combustion
chamber dirancang untuk menghasilkan kecepatan yang tinggi melalui sejumlah
besar orifice untuk menghindari kemungkinan api menyala kembali melewati flame
holder dan menyalakan campuran upstream burner. Pembakaran pada permukaan alat
dirancang untuk bahan bakar gas dan udara yang telah tercampur seluruhnya dan
membakarnya pada permukaan radian yang berpori. Suatu peletakan yang dekat
antara proses pembakaran dengan permukaan burner menghasilkan temperatur api
yang rendah dan akibatnya emisi NOx rendah. Permukaan dapat berupa ceramic
fiber, reticulated ceramics dan metal alloy mats. Hal ini memungkinkan bentuk
burner untuk dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan profil transfer panas.

2. Partially Premixed Burner


Burner jenis ini memiliki tempat untuk pencampuran yang flammable. Udara
Pembakaran sekunder disuplai di sekitar flame holder. Contohnya bisa dilihat pada
gambar berikut
3. Nozzle-Mix Burner
Burner jenis ini adalah jenis burner yang paling banyak digunakan di industri. Udara
dan bahan bakar yang terpisah sampai akhirnya dicampurkan secara cepat dan
bereaksi setelah meninggalkan bagian pemasukkan. Gambar 7 c, d, e, f, h
menunjukkan contoh berbagai macam desain nozzle-mix yang digunakan. Burner
jenis ini dapat digunakan pada

rentang rasio bahan bakar dan udara yang lebar, pada bentuk api yang bermacam-
macam dan kemampuan membakar berbagai jenis bahan bakar. Burner jenis ini dapat
digunakan pada berbagai kondisi dengan cara membakar pada kondisi yang kaya
akan bahan bakar (50% excess bahan bakar) atau pada kondisi yang minim bahan
bakar (1000% excess udara). Dengan mengubah bentuk nozzle dan derajat putaran
udara, profil api dan kecepatan pencampuran bisa divariasikan secara luas. Misalnya
dari pencampuran secara cepat dengan api pendek (L/D=1) menjadi api konvensional
(L/D=5 sampai 10) menjadi pencampuran secara lambat menggunakan api panjang
(L/D=20 sampai 50)

4. Staged Burner
Cara yang tepat untuk meminimalisasi emisi NOx adalah dengan
menggunakan staged burner.
a. Air-Staged Burners
Pada desainnya, air-staging and external flue-gas recirculation keduanya digunakan
untuk memperoleh emisi NOx yang sangat rendah (hampir 90% di bawah burner
konvensional). Bahan bakar gasnya diresirkulasi menggunakan pompa jet yang
digerakkan oleh udara pembakaran primer.

b. Fuel-Staged Burners
Penggunaan fuel-staged burner adalah pembakaran yang berlebih untuk mengontrol
NOx karena bahan bakar gas hanya mengandung sedikit nitrogen.

Gambar 27-36 menggambarkan fuel staged natural draft pada proses refinery yang
menggunakan burner sebagai pemanas. Bahan bakar dibagi menjadi arus primer
(30%-40%) dan udara sekunder (60%-70%). Gas furnace dapat di resirkulasi
menggunakan jet udara primer untuk meningkatkan kontrol NOx. Emisi NOx turun
80% - 90% jika menggunakan pembakaran jenis ini.

Fungsi Burner
Mencampurkan pasokan bahan bakar dan udara
Mewujudkan terjadinya reaksi pembakaran antara
bahan bakar dengan udara untuk memenuhi
kriteria fungsi dan lingkungan
Menjaga api (flame) yang terbentuk stabil
Menciptakan karakteristik api yang diperlukan
Mendistribusikan panas pembakaran sesuai
dengan karakteristik perpindahan panas yang
diinginkan
Kelengkapan Burner
Perangkat pemasokan dan pendistribusian udara
untuk pencampuran yang baik dengan bahan bakar
Perangkat pemasokan dan pendistribusian bahan
bakar untukmendapatkan pencampuran yang baik
dengan udara
Perangkat pemulaan pengapian (Ignitor)
Sumber api yang kontinu (pilot flame)
Ruang/alat penambatan api untuk mendapatkan
api yang stabil
Ruang penciptaan pencampuran bahan bakar dan
udara untuk enghasilkan karakteris api yang
diinginkan
Alat monitoring api (nyala atau mati)
Konsideran pada Operasi dan
PerancanganBurner
Geometri dan ukuran burner ditentukan oleh faktor-
faktor yang menjadi konsideran sehingga burner
berfungsi sesuaidengan keperluan proses.
Faktor-faktor konsideran tersebut adalah:
1. Metoda pencampuran bahan bakar dan udara yaitu
dengan
pencampuran sempurna sebelum terjadi reaksi
pembakaran (premixed), menghasilkan premixed
flame.
pencampuran diikuti langsung dengan reaksi
pembakaran menghasilkan diffusion flame.
2. Fasa bahan bakar berupa gas, cair atau padat
yang memerlukan teknik pendistribusian bahan
bakar yang berbeda menghasilkan rancangan
burner berbeda pula
3. Ruang keberadaan api dari burner yang dapat pada
ruang terbuka tanpa dinding menghasilkan api
dalam ruang bebas.
ruang tertutup dibatasi dinding menghasilkan
api terkungkung.
4. Panjang api yang diiinginkan akan memberikan
burner dengan flame pendek atau api panjang
5. Aplikasi burner untuk industri atau domestik
6. Susunan api yang memberikan klasifikasi burner
flame tunggal atau flame jamak dalam bentuk
matrik seperti matrik burner
7. Bentuk flame berupa burner api selinder api
lebar dan tipis
8. Operasi dan perancangan burner dikendalikan
oleh fenomena pembakaran bahan bakar dan
fenomena pembakaran bergantung pada jenis
bahan bakar