You are on page 1of 21

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................1
DAFTAR ISI......................................................................................................II
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................1

1.LATAR BELAKANG...................................................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................2

BAB III ISI PEMBAHASAN MASALAH.......................................................................3

A.CIRI KARAKTERISTIK EKOSISTEM PESISIR......................................................3

-.POTENSi sumberdaya ekosistem pesisir........................................................4

B.JENIS DAN PERILAKU YANG TERKAIT DENGAN HABITAT PESISIR................................................5

C.POTENSI VEGETASI/TUMBUHAN PESISIR.......................................................................................... .....6

-NAMA JENIS TUMBUHAN.........................................................................................................................6

-EKOLOGIS DAN MANFAAT TUMBUHAN NYA.......................................................................................6

-MANFAAT EKOSISTEM PESISIR,................................................................................................................5

-MASALAH ..................................................................................................................... ...................................3

-PENGELOLAAN EKOSISTEM PESISIR......................................................................................................4

BAB III PENUTUP................................................................................................................7


A.KESIMPULAN.................................................................................................................................................7
B.SARAN...................................................................................................................... .........................................7
BAB IPENDAHULUAN

Latar Belakang

Pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah daratmeliputi bagian daratan, baik kering
maupun terendam air, yang masihdipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan
airasin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi olehproses-proses alami yang
terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar,maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di
darat seperti penggundulanhutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et al, 2001).Wilayah pesisir
memiliki keunikan ekosistem. Wilayah ini sangat rentanterhadap perubahan, baik karena diakibatkan oleh
aktifitas daerah hulu maupunkarena aktifitas yang terjadi di wilayah pesisir itu sendiri.Berdasarkan Keputusan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor:KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan
Pengelolaan PesisirTerpadu, Wilayah Pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antaraekosistem darat
dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil darigaris pantai untuk propinsi dan sepertiga dari
wilayah laut itu (kewenanganpropinsi) untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas
administrasikabupaten/kota.Ekosistem pesisir merupakan dearah peralihan antara ekosistem daratdengan
ekosistem laut, dimana organisme penghunimya berbaur antara organismedari darat dan dari laut. Organisme
tersebut berkumpul dalam suatu tempat untuk saling berinteraksi, seperti pada daerah estuary, pantai berbatu,
pantai berpasir,hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang.
1.2
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kawasan Pesisir

Penjelasan umum mengenai kawasan pesisir yang meliputi definisi dan


karakteristik wilayah merupakan hal yang sangat penting, hal ini bertujuan agar
pemahaman mengenai wilayah pesisir dapat dimengerti dan merupakan awal
pemahaman dari studi ini. Pengertian tentang pesisir sampai saat ini masih menjadi suatu
pembicaraan, terutama penjelasan tentang ruang lingkup wilayah pesisir yang secara batasan
wilayah masih belum jelas. Berikut ini adalah definisi dari beberapa
sumber mengenai wilayah pesisir.
Kay dan Alder (1999) The band of dry land adjancent ocean space (water
dan submerged land) in wich terrestrial processes and land uses directly affect
oceanic processes and uses, and vice versa. Diartikan bahwa wilayah pesisir adalah wilayah
yang merupakan tanda atau batasan wilayah daratan dan wilayah perairan yang mana proses
kegiatan atau aktivitas bumi dan penggunaan lahan masih mempengaruhi proses dan fungsi
kelautan.
Pengertian wilayah pesisir menurut kesepakatan terakhir internasional adalah
merupakan wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang
masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang surut, dan ke arah laut meliputi daerah
paparan benua (continental shelf) (Dahuri, dkk, 2001).
Menurut Suprihayono (2007) wilayah pesisir adalah wilayah pertemuan antara
daratan dan laut ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun
terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan
perembesan air asin. Sedangkan ke arah laut wilayah pesisir
mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti
sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan karena kegiatan
manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa
wilayah pesisir merupakan wilayah yang unik karena merupakan tempat percampuran antara
daratan dan lautan, hal ini berpengaruh terhadap kondisi fisik dimana pada umumnya daerah
yang berada di sekitar laut memiliki kontur yang relatif datar.
Adanya kondisi seperti ini sangat mendukung bagi wilayah pesisir dijadikan daerah yang
potensial dalam pengembangan wilayah keseluruhan. Hal ini menunjukan garis batas nyata
wilayah pesisir tidak ada. Batas wilayah pesisir hanyalah garis khayalan
yang letaknya ditentukan oleh kondisi dan situasi setempat. Di daerah pesisir yang landai
dengan sungai besar, garis batas ini dapat berada jauh dari garis pantai.
Sebaliknya di tempat yang berpantai curam dan langsung berbatasan dengan laut dalam,
wilayah pesisirnya akan sempit. Menurut UU No. 27 Tahun 2007 Tentang
batasan wilayah pesisir, kearah daratan mencakup wilayah administrasi daratan dan kearah
perairan laut sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau
kearah perairan kepulauan.

Ekosistem wilayah pesisir dan lautan dipandang dari dimensi ekologis


memiliki 4 fungsi/peran pokok bagi kehidupan umat manusia yaitu

(1) sebagai penyedia sumberdaya alam sebagaimana dinyatakan diatas,


(2) penerima limbah,
(3) penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan manusia
(4) penyedia jasa-jasa kenya
BAB 3. ISI PEMBAHASAN MASALAH

A.CIRI KARAKTERISTIK EKOSISTEM PESISIR

Ciri- Ciri Ekosistem Pesisir

Ekosistem pesisir mempunyai ciri- ciri yang menarik. Ekosistem ini terdiri dari beberapa
ekosistem berbeda, diantaranya yakni estuaria, hutan mangrove, padang lamun dan terumbu
karang. Keanekaragaman ekosistem tersebut masih berada di lingkup wilayah pesisir. Berikut
adalah ciri- ciri dari masing- masing ekosistem yang tergabung dalam ekosistem pesisir.

1. Estuaria

Estuaria ialah bentang alam berupa muara pasang surut dari sebuah sungai yang besar. Muara
ini biasanya menjadi pusat pemukiman masyarakat pesisir karena dapat digunakan untuk
jalur transportasi, tempat mencari ikan, serta sebagai sumber air bagi masyarakat .
Karakteristik dari estuaria adalah tubuh perairan pantainya bersifat semi tertutup, terhubung
dengan laut terbuka, dan mempunyai air laut yang tercampur dengan air tawar yang berasal
dari saluran drainase daratan.

2. Hutan Mangrove

Hutan mangrove merupakan suatu hutan yang sering digunakan untuk mengatasi abrasi
pantai. Ciri dari hutan mangrove yakni berada pada daerah yang mempunyai air payau atau
air tawar. Ciri lainnya adalah terdiri dari semak dan pohon yang tingginya dapat mencapai 30
meter. Selain itu, dalam suatu area hutan mangrove biasanya mempunyai 20 sampai 40
species mangrove yang berbeda. (baca : Fungsi Hutan Mangrove dan Manfaat Hutan
Mangrove)

3. Padang Lamun

Padang lamun atau sea grass beds dapat dijumpai pada perairan dangkal atau eustaria jika
sinar matahari cukup banyak. Karakteristik dari sea grass beds adalah mempunyai habitat di
perairan laut dangkal yang bersuhu subtropis atau tropis, memiliki pertumbuhan yang cepat
yakni antara 1.300 sampai 3.000 gram berat kering per meter persegi per tahun. Binatang
yang hidup di padang lamun juga mempunyai ciri tersendiri, antara lain habitatnya di daun
lamun, mencari makan di akar kanopi daun, beraktivitas di bawah kanopi daun dan
berlindung di padang lanun.

4. Terumbu Karang

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keragaman terumbu karang yang
tinggi. Sekitar 18 persen terumbu karang dunia berada di wilayah Indonesia. Banyaknya
keragaman terumbu karang menjadi habitat yang baik bagi berbagai macam biota laut. Selain
itu, terumbu karang juga bermanfaat sebagai pemecah gelombang alami sehingga dapat
mengurangi terjadinya erosi pantai (baca : Macam Macam Erosi). Ciri dari ekosistem
terumbu karang adalah adanya proses fotosintesis sehingga membutuhkan cahaya matahari
yang cukup, berada pada perairan dangkal dengan kedalam 50 meter, batas salinitas
habitatnya sekitar 30 sampai 35 ppt. (baca : Fungsi Ekosistem Terumbu Karang)

Komponen Ekosistem Pesisir

Ekosistem pesisir terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik penyusun
ekosistem pesisir terbagi menjadi empat, yakni produsen, konsumen primer, konsumen
sekunder dan dekomposer.

1. Produsen yang berperan sebagai produsen dalam ekosistem pesisir adalah mereka
yang mempunyai klorofil dan berfotosintesis sehingga dapat menghasilkan zat
organik kompleks dari zat anorganik sederhana, atau disebut dengan vegetasi autotrof.
Contohnya algae dan fitoplankton.
2. Konsumen primer biota laut yang memakan tumbuhan (herbivora) merupakan
konsumen primer atau konsumen pertama dari suatu ekosistem pesisir.
3. Konsumen sekunder semua organisme yang memakan hewan (karnivora) berperan
sebagai konsumen sekunder dalam ekosistem pesisir. Konsumen sekunder ini
selanjutnya bisa menjadi mangsa bagi konsumen tersier. Mereka umumnya tergolong
dalam predator.
4. Dekomposer pengurai dalam ekosistem pesisir ialah organisme avertebrata dan
bakteri yang memakan materi organik mati seperti dedaunan yang mati dan bangkai
biota laut.

Selanjutnya komponen abiotik dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :

1. Unsur dan senyawa anorganik Unsur- unsur penyusun ekosistem yang terlibat
dalam ekosistem pesisir tersebut merupakan unsur hara atau substansi biogenik yang
penting bagi kehidupan biota. Contohnya : nitrogen, fosfor, karbon, mangnesium,
besi, seng dan air.
2. Bahan organik Senyawa atau bahan organik yang mengikat komponen abiotik dan
biotik terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Jika bahan organik terurai, maka
bahan tersebut akan menjadi humus atau zat humik. Contoh senyawa tersebut adalah
karbohidrat, lemak dan protein.
3. Faktor fisik Komponen abiotik ini membatasi kondisi kehidupan Faktor-faktor ini
selalu berada dalam satu seri gradien. Kemampuan menyesuaikan diri organisme
berubah secara bertahap sepanjang gradien tersebut, akan tetapi ada juga titik
perubahan yang berbaur yang disebut dengan ekoton. Contoh faktor fisik tersebut
seperti iklim, suhu, kelembapan dan curah hujan.

Fungsi Ekosistem Pesisir

Ekosistem pesisir yang terdiri dari berbagai ekosistem lain di bawahnya serta kaya akan biota
dan vegetasi tentu mempunyai banyak fungsi bagi kehidupan. Fungsi- fungsi tersebut
diantaranya adalah :

Sebagai penyedia sumber daya alam, baik sumber daya alam hayati seperti terumbu
karang dan rumput laut, maupun sumber daya alam non-hayati seperti minyak bumi dan
gas alam. (baca : Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Cara Melestarikan Sumber Daya
Alam di Bumi)
Sebagai penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan, misalnya ruang untuk aktivitas
manusia dan air bersih. Fungsi tersebut bergantung pada fungsi penyedia sumber daya
alam. Jika sumber daya alam tidak dilindungi maka akan berdampak pada kehidupan
masyarakat itu sendiri. (baca : Pemanfaatan Sumber Daya Alam)
Sebagai penampung limbah dari aktivitas manusia. Fungsi ini tentu harus disesuaikan
dengan jenis dan volume limbah yang dibuang. Jika limbah tersebut melebihi batas
kemampuan ekosistem pesisir dalam menampung limbah, maka akan terjadi kerusakan
atau pencemaran lingkungan ekosistem. (baca : Pencemaran yang Mengakibatkan
Perubahan Alam)

Sebagai penyedia jasa-jasa kenyamanan, seperti kenyamanan memandang keindahan


pesisir yang sering dijadikan tempat wisata atau rekreasi. Fungsi ini sangat bergantung
pada fungsi penampung limbah. Jika ekosistem pesisir tidak mampu menampung limbah
maka fungsi sebagai penyedia jasa kenyamanan juga akan hilang.

POTENSI SUMBERDAYAEKOSISTEM PESISIR

Ekosistem pesisir merupakan suatu ekosistem yang dipengaruhi oleh ekosistem laut dan
ekosistem daratan. Ekosistem ini sangat unik karena terdiri dari ekosistem
terestrial(daratan) dan ekosistem akuatik (perairan), namun juga sangat rentan
akan kerusakan.Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ekosistem terestrial yang rusak
terutama ekosistemmangrove, dan banyaknya ekosistem akuatik yang rusak
seperti habitat udang, kerangdan kepiting. Kabupaten bengkalis merupakan
kabupaten pesisir yang memiliki potensi e k o s i s t e m p e s i s i r y a n g
lengkap mulai dari ekosistem mangrove, ekosistem
l a u t , ekosistem muara sungai dan estuarian dan ekosistem rawa baik rawa air
tawar maupun payau.
Jenis fauna yang terdapat di perairan air tawar
a d a l a h i k a n s i p a k u (Cyclocheilichthys apogon), pitulu Barbichthyslaevis),
barau ( Hampala macrolepidota), p a w e h ( Osteochiluskahajanens), s e d a n g k a n j e n i s
f a u n a l a u t d i a n t a r a n ya a d a l a h i k a n tenggiri (Scomberomorussp), senangin
( Eleutheronemaisp), kerapu ( Epnephelusspp.).k a k a p ( Lates
sp.) Potensi plankton memiliki jenis antara 12 40 jenis. Potensi floram a n g r o v e
adalah Alstonia sholaris, Avicennia alba, Avicennia marina,
B r u g u i e r a gymnorrhiza, Bruguiera praviflora, Bruguiera sp,, Oncosperma
tiggilarium, Pandanustectorius, Rhizophora apiculata, Rhi zophora mucronata,
Satiria lawigata, Sonneratiaalba, Sonneratia caseolaris, Thespesia sp., dan Xylocarpus
granatum,
Potensi ekonomi adalah dijadikannya sumberdaya pesisir untuk potensi
cerucuk,a r a n g b a k a u , n i b u n g d a n p o t e n s i s a t w a . S e d a n g k a n p o t e n s i
ekonomi untuk sektor p e r i k a n a n d a r i p o t e n s i s u m b e r d a y a i k a n ,
d e n g a n m e n g h i t u n g p e l u a n g u s a h a d a n produktivitasnya.A n a l i s i s
pilihan priotitas dilakukan untuk semua sumberdaya alam
d e n g a n memperhatikan fungsi terutama fungsi fisik yang terdiri dari
kemampuan mencegaherosi, aberasi, banjir, sedimentasi, interusi, kemudian
fungsi ekologi yang terdiri darihabitat ikan, burung, dan tanaman mangrovem serta
fungsi sosial yang terdiri dari potensilapangan pekerjaan, pemukiman dan akses
wilayah. Dari analisis ini apakah sebaiknya potensi pesisir dijadikan sebagai areal jalur
hijau, konservasi atau hutan produksi.

B.JENIS DAN PERILAKU YANG TERKAIT DENGAN HABITAT NYA


-Terumbu Karang : Habitat, Jenis, dan Manfaatnya
Sebagian besar dari kita tentu sudah mengenal atau pernah mendengar kata terumbu karang.
Terumbu karang memang kerap kali didengar oleh orang- orang apabila berada di lingkungan laut
(baca: macam-macam laut). Terumbu karang memang identik dengan laut dan juga pemadangan
yang ada di bawah air (baca: jenis jenis air). Hal ini karena memang terumbu karang letaknya di
bawah laut. Lalu, apa yang dimaksud dengan terumbu karang ini? Terumbu karang adalah
sekumpulan dari hewan karang yang melakukan simbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang
disebut dengan zooxanthellae.

Dalam kelas tumbuhan, terumbu karang merupakan termasuk jenis filum Cnidaria kelas
Anthozoa yang mempunyai tentakel- tentakel. Koloni terumbu karang ini terbentuk oleh
beribu- ribu hewan yang kecil- kecil yang dinamakan Polip. Apabila dijelaskan secara
sedernaha, karang ini terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh unik, yakni
seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh tentakel.
Apabila kita melihat dari kebanyakan spesies yang ada, satu individu polip dapat berkembang
menjadi jumlah yang banyak dan disebut dengan koloni. Hewan ini memiliki warna yang
beragam, dan hewan ini juga dapat menghasilkan CCO.

Habitat Terumbu Karang


Biasanya kita mengetahui bahwa terumbu karang merupakan sekumpulan hewan kecil yang
berada di bawah laut. Namun, terumbu karang ini ternyata mempuyai habitat sendiri.
Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai (baca: manfaat pantai) atau di daerah
yang masih mendapat sinar matahari, yakni kurang lebih 50 meter di bawah permukaan air
laut (baca: bahaya gunung api dibawah laut). Namun, ada pula spesies terumbu karang yang
dapat hidup di dasar lautan dengan cahaya yang sangatlah minim, bahkan tanpa cahaya sama
sekali. Namun terumbu karang hidup di dasar lautan ini tidak melalukan simbiosis dengan
zooxanhellae sekaligus tidak membentuk karang.

Sebagian besar ekosistem terumbu karang terdapat di perairan yang terdapat di daerah tropis
(baca: iklim di Indonesia). Ekosistem terumbu karang ini sangatlah sensitif dengan perubahan
lingkungan hidupnya, terutama pada suhu, salinitas, dan juga sedimentasi (baca: batuan
sedimen), serta eutrifikasi. Agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, terumbu karang
membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang yang optimal. Lingkungan hidup yang optimal
bagi terumbu karang adalah lingkungan yang memiliki suhu hangat yakni sekitar di atas 20
Celcius. Selain itu terumbu karang juga lebih menyukai berada di lingkungan perairan yang
jernih dan tidak mengandung banyak polusi. Lingkungan yang demikian ini sangat berperan
pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang. Ada beberapa hal yang sangat mempengaruhi
terumbu karang. Beberapa hal yenga dapat mempengaruhi terumbu karang ini adalah:

Cahaya matahari

Terumbu karang memerlukan bantuan cahaya matahari (baca: bagian- bagian matahari)untuk
dapat melakukan fotosintesis (meskipun beberapa terumbu karang tidak selalu membutuhkan
cahaya matahari untuk melakukan proses fotosintesis). Polip- polip yang saling bersusunan
dan membentuk terumbu karang dan terletak di bagian atas ini dapat menangkap makanan
yang terbawa arus laut dan juga melakukan fotosintesis. Hasil fotosistesis yang berupa
oksigen ini akan dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup lainnya.

Suhu
Suhu juga merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh pada terumbu karang.
Terumbu karang membutuhkan lingkungan dengan suhu yang hangat, yakni diatas 20
Celcius.

Tingkat kebersihan lingkungan

Tingkat kebersihan air laut juga menjadi faktor yang sanagat mempengaruhi terumbu karang.
Apabila kita melakuan dyfing atau semacamnya, pasti akan menemukan terumbu karang pada
lingkungan perairan yang bersih dan jernih. Hal ini karena memang terumbu karang lebih
menyukai lingkungan laut yang bersih, jernih, dan tidak mengandung polusi (baca: cara
menjaga kelestarian air).

Proses Fotosintesis pada Termbu Karang

Meskipun dikategorikan sebagai sekumpulan hewan, namun terumbu karang ini melakukan
proses simbiosis dengan tumbuhan alga, sehingga melakukan proses fotosintesis. Proses
fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan alga dapat menyebabkan bertambahnya jumlah
prosuksi kalsium karbonat dengan cara menghilangkan karbondioksida dan juga merangsang
sebuah reaksi kimia. Berikut merupakan reaksi kimia yang dihasilkan dari proses fotosintesis
alga:

C(HCO)CCO+HCOHO+CO

Itulah hasil dari proses fotosintesis yang dilakukan oleh alga. Proses fotosintesis yang
dilakukan oleh alga yang melakukan simbiosis akan membuat karang pembentuk terumbu
menghasilkan cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat. Pembentukan cangkang ini akan
berlangsung kira- kira 10x lipat lebih cepat daripada yang terjadi pada karang yang tidak
membentuk terumbu dan tidak melakukan simbiosis dengan zooxanthellae.

Jenis- jenis Terumbu Karang


Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya terumbu karang merupakan sekumpulan
binatang- binatang kecil yang mempunyai bentuk seperti tabung dengan mulut di bagian atas,
yang bersimbiosis dengan tanaman alga. Meskipun definisi tersebut lengkap dan mampu
mendeskripsikan terumbu karang dengan sangat baik, sehingga cukup membuat kita
berimajinasi dengan bentuk terumbu karang, namun ternyata terumbu karang ini terdiri dari
beberapa jenis. Beberapa jenis dari terumbu karang adalah sebagai berikut:

1. Mycedium elephantotus

Jenis terumbu karang ini dapat kita jumpai pada kedalaman laut sekiar 3 hingga 20 meter.
Terumbu karang ini memiliki ciri-ciri, yaitu:

Koralit lamina Tentakel hanya muncul atau terdapat m=pada malam hari saja Koenestrum
tidak mengalami pembintikan

Terumbu karang jenis ini tersebar di peraoiran Inodnesia, Filiphina, Papua Nugini, dan juga
Australia. Habitat karang ini adalah di perairan yang dangkal.

2. Oxypora Lacera

Jenis terumbu karang ini banyak dijumpai di laut yang mempunyai kedalaman 3 hingga 15
meter. Terumbu karang jenis ini mempunyai ciri- ciri khusus yaitu:

Mempunyai koralit yang tipis berupa keping laminar


Bisa menjadi berubah menjadi tebal ketika berada di kondisi lingkungan turbulen
Memiliki kosta yang selalu bergigi
Kebanyakan atau sebagian besar berwarna coklat

Keberadaan karang ini dapat kita jumpai di seluruh perairan Indonesia, Filiphina, Papua
Nugini dan juga Australia. Sama seperti Mycedium elephantotus, karang ini juga berada di
perairan dangkal.

3. Pectinia Paeonia

Jenis terumbu karang ini akan banyak kita jumpai di laut yang emmpunyai kedalaman 5
hingga 15 meter. Sama seperti terumbu karang yang lainnya, terumbu karang ini juga
memiliki ciri- ciri khusus. ciri- ciri yang miliki oleh terumbu karang ini adalah:

Kolumella berkembang secara lambat


Memiliki septa yang halus dan lembut
Pada umumnya mempunyai warna dan bintik coklat, keabu- abuan, dan juga hijau.

Terumbu karang jenis ini terdapat di perairan Indonesia, Filiphina, Papua Nugini, dan juga
Australia. Terumbu karang jenis ini akan dapat kita jumpai di banyak perairan dangkal pada
umumnya, sekaligus mempunyai arus yang deras.
4. Pectinia Lactuca

Jenis terumbu karang ini adalah terumbu karang yang berbentuk seperti bunga, indah sekali.
Terumbu karang jenis ini akan banyak kita jumpai di laut yang memiliki kedalan 3 hingga 15
meter. Terumbu karang ini memiliki ciri- ciri sebagai berikut:

Koloni submasif, yang membentuk dinding- dinding dengan tinggi yang relatif seragam.
Pada umumnya dilihat dari koloni di tengah sampai pinggir.
Biasanya berwarna abu- abu, hijau dan juga coklat

Sama seperti jenis terumbu karang lainnya, terumbu karang ini juga terdapat di perairan
Indonesia, Filiphina, Papua Nugini, dan juga Australia.sama seperti Pectinia Paeonia,
terumbu karang ini dapat kita jumpai di banyak perairan dangkal pada umumnya, sekaligus
mempunyai arus yang deras.

5. Galaxea Fascicularis

Jenis terumbu karang ini akan banyak kita jumpai di lau dengen kedalaman 3 hingga 15
meter. Terumbu karang ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Mempunyai koloni kecil yang membentuk seperti bantal


Koloni yang besar mempunyai ukuran 5 meter yang berbentuk seperti kolumnar atau masif
Koralit memiliki ukuran yang bervariasi atau berbeda- beda
Terdapat tentakel di siang hari
Pada umumnya berwarna coklat, putih, hijau, dan keabu- abuan

Jenis terumb krang ini tersebar di wilayah perairan Indonesia, Filiphina, Papua Nugini, dan
juga Australia.sama seperti Pectinia Paeonia, terumbu karang ini dapat kita jumpai di banyak
perairan dangkal pada umumnya, sekaligus mempunyai arus yang deras.

6. Lobophyllia Hemprichii
Jenis terumbu karang ini akan banyak kita jumpai di lau dengen kedalaman 3 hingga 15
meter. Terumbu karang ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Mempunyai koloni kecil yang membentuk seperti helm


Koloni yang besar mempunyai ukuran 5 meter
Koralit paseloid sampai flabellomeanroid.
Septa menempel pada dinding dan kolumella, serta memiliki gigi yang tajam
Polip tebal dan menyerupai seperti daging

Jenis terumb krang ini tersebar di wilayah perairan Indonesia, Jepang, Madagaskar,
Tanzania, Filiphina, Papua Nugini, dan juga Australia.sama seperti Pectinia Paeonia,
terumbu karang ini dapat kita jumpai di banyak perairan dangkal pada umumnya, sekaligus
mempunyai arus yang deras.

7. Lobophyllia Corymbosa

Jenis terumbu karang ini akan banyak kita jumpai di lau dengen kedalaman 3 hingga 15
meter. Terumbu karang ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Mempunyai koloni kecil yang membentuk plat


Koloni yang besar mempunyai ukuran 2 meter
Mempunyai kalik yang dalam dengan dinding yang halus
Septa terletak di dekat dinding umumnya tebal, sementara yang di dalam kalik tipis, dan
septa yang berada di dekat dinding tebal
Polip tebal dan menyerupai seperti daging

Jenis terumb krang ini tersebar di wilayah perairan Indonesia, Jepang, Solomon, Tanzania,
Filiphina, Papua Nugini, dan juga Australia.sama seperti Pectinia Paeonia, terumbu karang
ini dapat kita jumpai di reef slopes bagian atas.

8. Acropora Cervicornis
Jenis terumbu kranga ini akan banyak kita jumpai di lau dengen kedalaman 3 hingga 15
meter. Terumbu karang ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Mempunyai yang panjang terhampar hingga beberapa meter


Koloni arborescens, tersusun atas cabang- cabang yang silindris
Mempunyai koralit yang berbentuk pipa
Aksial koralit dapat dibedakan septa yang berada di dekat dinding tebal
Mempunyai warna coklat muda

Jenis terumub karang ini tersebar di wilayah perairan Indonesia, Jamaika, dan Kep. Cayman.
Terumbu karang ini dapat kita jumpai lereng karang bagian tengah dan atas, dan juga di
perairan laguna yang jernih.

9. Acropora Elegantula

Jenis terumbu kranga ini akan banyak kita jumpai di lau dengen kedalaman 3 hingga 15
meter. Terumbu karang ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Koloni korimbosa seperti semak


Terdapat cabang horisontal tipis namun menyebar
Mempunyai aksial koralit yang jelas
Mempunyai warna abu- abu dengan warna ujung yang lebih muda.

Jenis terumub karang ini tersebar di wilayah perairan Indonesia dan Srilanka. Terumbu
karang ini dapat kita jumpai lereng karang bagian tengah dan atas, dan juga di fringing reefs
yang dangkal.

10. Acropora Acuminata

Jenis terumbu karang ini akan banyak kita jumpai di lau dengen kedalaman 3 hingga 15
meter. Terumbu karang ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Mempunyai koloni yang bercabang dengan ujuang cabangnya yang lancip
Mempunyai koralit dengan 2 ukuran
Mempunyai warna coklat atau biru muda

Jenis terumbu karang ini tersebar di wilayah perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua
Nugini dan juga Filiphina. Terumbu karang ini dapat kita jumpai pada bgain atas atu bawah
lereng karang yang jernih maupun keruh.

Itulah beberapa jenis terumbu karang. Selain jensi- jenis yang telah disebutkan di atas, masih
banyak lagi jenis terumbu karang yang dapat kita temukan di bawah laut.

Manfaat Terumbu Karang


Terumbu karang merupakan salah satu jenis sumber daya alam yang berada di pesisir laut,
selain adanya hutan bakau atau hutan mangrove dan juga padang lamun. Terumbu karang ini
mempunyai banyak sekali peran, kegunaan atau manfaat. Terumbu karang selama ini kita
kenal berperan sebagai rumah dari berbagai jenis ikan. Selain berperan sebagai rumah bagi
para ikan, terumbu karang juga memiliki manfaat yang lainnya.

Manfaat yang dimiliki oleh terumbu karang ini bisa dilihat dari sisi ekologi maupun sisi
ekonominya. Manfaat dari terumbu karang ini kebanyakan dirasakan oleh para biota- biota
laut atau makhluk yang hidup di dalam laut itu sendiri maupun dirasakan oleh manusia.
Fungsi ekosistem terumbu karang yang diperoleh dari terumbu karang ini dapat dirasakan
langsung maupun tidak langsung. Beberapa manfaat terumbu karang antara lain sebagai
berikut:

1. Sebagai rumah bagi para ikan dan juga binatang laut lainnya

Manfaat terumbu karang yang paling alami adalah sebagai tempat bernaungnya segala jenis
ikan dan juga hewan- hewan laut lainnya. Segala macam jenis ikan ini dibutuhkan oleh
manusia, yakni terutama sebagai bahan pangan. Beberapa jenis ikan yang bernaung di bawah
terumbu karang ini antara lain adalah ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning, batu
karang, dan lain sebagainya.

2. Sebagai sektor pariwisata

Terumbu karang terkenal akan keindahannya. Banyak orang yang mengenal terumbu karang
ini karena keindahan yang ditawarkannya. Oleh karena itulah terumbu karang sangat dikenal
sebagai pemandangan bawah laut yang selalu mempesona semua orang. Beberapa tempat
wisata di Indonesia sengaja menjadikan terumbu karang sebagai objek pemandangan yang
utama. Bahkan para wisatawan yang mempunyai minat terhadap terumbu karang ini
sangatlah banyak hingga ke manca negara. Oleh karena itulah terumbu karang ini memiliki
manfaat sebagai sektor pariwisata.

3. Sebagai objek penelitianSelain bermanfaat secara alamiah sebagai habitat beberapa jenis
ikan, dan juga memiliki fungsi untuk sektor pariwisata, ternyata terumbu karang juga
memiliki fungsi edukasi atau pendidikan. Fungsi yang dimiliki oleh terumbu karang dalam
bidang edukasi adalah sebagai tempat penelitian dan juga pengembangan dari berbagai
macam jenis biota laut. Penelitian yang dilakukan terhadap terumbu karang ini dapat
dijadikan sebagai sarana pengembangan dan juga evaluasi terhadap keadaan yang ada di
bawah laut. Bagaimanapun juga biota bawah laut ini merupakan kekayaan dan juga jenis
jenis sumber daya alam yang harus tetap dilestarikan keberadaannya.

itulah beberapa manfaat yang akan kita peroleh dari terumbu karang. Manfaat tersebut akan
kita rasakan baik langsung maupun tidak langsung.

C.POTENSI VEGETASI/TUMBUHAN PADA EKOSISTEM PESISIR

Hutan Mangrove

Arief (2003) menjelaskan kata mangrove digunakan untuk menyebut jenis pohon-pohon atau
semak-semak yang tumbuh di antara batas air tertinggi saat air pasang dan batas air terendah
sampai di atas rata-
rata permukaan laut.
Sebenarnya, kata mangrove digunakan untuk menyebut masyarakat tumbuh-tumbuhan dari
beberapa spesies yang mempunyai perakaran
Pneumatophores dan tumbuh diantara garis pasang surut, sehingga hutan mangrove juga
disebut hutan pasang.
Ruang lingkup sumberdaya mangrove secara keseluruhan terdiri
atas:
1.satu atau lebih spesies tumbuhan yang hidupnya terbatas di habitat
mangrove,
2.spesies-spesies tumbuhan yang hidupnya di habitat mangrove, namun
juga dapat hidup di habitat non
-mangrove,
3.biota yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut, lumut
kerak, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-
lain) baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali, biasa ditemukan, kebetulan
maupun khusus hidup di habitat mangrove,
.
Dampak kegiatan manusia terhadap mangrove

Dampak Potensial
Tebang habis
Berubahnya komposisi tumbuhan; pohon-pohon mangrove akandigantikan oleh spesie-
spesies yang nilai ekonominya rendah danhutan mangrove yang ditebang ini tidak lagi
berfungsi sebagai
daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pengasuhan \(nursery ground) yang
optimal bagi bermacam ikan dan udang stadium muda yang penting secara
ekonomi.Pengalihan aliran
air tawar, misalnya pada \pembangunan irigasi Peningkatan salinitas hutan (rawa) mangrove
menyebabkan dominasi dari spesies-spesies yang lebih toleran terhadap air yang
menjadi lebih asin; ikan dan udang dalam stadium larva dan juvenil
mungkin tak dapat mentoleransi peningkatan salinitas,
karenamereka lebih sensitive terhadap perubahan lingkungan.
Menurunnya tingkat kesuburan hutan mangrove karena pasokan zat -zat hara melalui aliran
air tawar berkurangKonversi menjadi lahanpertanian,perikanan Mengancam regenerasi stok
-
stok ikan dan udang di perairan lepas pantai yang memerlukan hutan (rawa) mangrove
sebagai
nursery ground \larva dan/atau stadium muda ikan dan udang.Pencemaran laut oleh bahan
bahan pencemar yang sebelum hutan mangrove dikonversi dapat diikat oleh substrat hutan
mangrove.Pendangkalan peraian pantai karena pengendapan sedimen yang
sebelum hutan mangrove dikonversi mengendap di hutan mangrove.
Intrusi garam melalui saluran-saluran alam yang bertahankankeberadaan
nya atau melalui saluran-saluran buatan manusia yang bermuara di laut.
Erosi garis pantai yang sebelumnya ditumbuhi mangrove.Pembuangan sampah cair
(Sewage)
Penurunan kandungan oksigen terlarut dalah air air, bahkan dapat terjadi keadaan anoksik
dalam air sehingga bahan organik yang terdapat dalam sampah cair mengalami dekomposisi
anaerobik yang antara lain menghasilkan hidrogen sulfida (H2S) dan aminia (NH3) yang
keduanya merupakan racun bagi organisme hewani dalam air. Bau H2S seperti te
lur busuk yang dapat dijadikan indikasi berlangsungnya dekomposisi anaerobik.
Pembuangansampah padat Kemungkinan terlapisnya pneumatofora dengan sampah padat
yang akan mengakibatkan kematian pohon-pohon mangrove.Perembesan bahan-bahan
pencemar dalam sampah padat yangkemudian larut dalam air ke perairan di sekitar
pembuangan
sampah.
Pencemaran minyak akibat terjadinya tumpahan minyak dalamjumlah besar.
Penambangan dan ekstraksi mineral.
Kematian pohon pohon mangrove akibat terlapisnya pneumatofora oleh lapisan minyak.
Kerusakan total di lokasi penambangan dan ekstraksi mineral
yang dapat mengakibatkan :
musnahnya
daerah asuhan (nursery ground) bagi larva dan bentuk-
bentuk juvenil ikan dan udang yang bernilai ekonomi penting di
lepas pantai, dan dengan demikian mengancam regenerasi ikan dan
udang tersebut.
Pengendapan sedimen yang berlebihan dapat mengakibatkan
:
Terlapisnya pneumatofora oleh sedimen yang pada akhirnya
dapat mematikan pohon mangrove

Pengelolaan kawasan pesisir

Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam rangka perlindungan terhadap
keberadaan hutan mangrove adalah dengan menunjuk suatu kawasan hutan
mangrove untuk dijadikan kawasan konservasi, dan sebagai bentuk sabuk hijau di sepanjang
pantai dan tepi sungai. Dalam konteks
diatas,berdasarkan karakteristik \lingkungan, manfaat dan fungsinya, status pengelolaan
ekosistem mangrove dengan didasarkan data Hutan Kesepakatan
Kawasan Lindung (hutan, cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional,
taman laut, taman hutan raya, cagar biosfir).

Kawasan
Budidaya (hutan produksi, areal penggunaan lain).
Perlu diingat di sini bahwa wilayah ekosistem mangrove selain terdapat
kawasan hutan mangrove juga terdapat areal/lahan yang bukan kawasan hutan, biasanya
status hutan ini dikelola oleh masyarakat (pemilik
lahan) yang
dipergunakan untuk budidaya perikanan, pertanian, dan sebagainya.
Pengelolaan wilayah pesisir diwujudkan untuk penggunaan, menikmati,
pembangunan, perawatan, konservasi dan perlindu ngan sumberdaya alam.
Tujuan utama dari Rencana Pengelolaan wilayah pesisir
adalah untuk membentuk kerangka kebijakan, prosedur dan tanggung jawab yang diperlukan
untuk pembuatan keputusan secara terus menerus pada pengalokasian dan penggunaan
\berkelanjutan sumberdaya pesisir. Rencana Pengelolaan harus menuntun pencapaian visi
yang telah dirancang sebagaimana digambarkan dalam Rencana
Strategis, melalui suatu sistem terkordinasi dan transparan untuk peninjauan ulang (telaah)
dan persetujuan atas penggunaan sumberdaya (perizinan) yang dikeluarkan dan
diadministrasikan oleh dinas sektoral (Bappedasu, 2007).
Perubahan garispantai terjadi sebagai akibat dari dua kejadian, akresi dan
abrasi. Parjaman (1977) manyebutkan bahwa akresi pantai adalah kondisi semakin majunya
pantai sebagai akibat dari pertambahan material dari hasi endapan dari sungai dan laut.
Sedangkan abrasi pantai adalah kerusakan pantai yang
mengakibatkan semakin mundurnya pantai akibat kegiatan air laut, seperti
hembusan air laut dan gelombang (Novrizal, 2004).
Selain karena proses alami perubahan pa
ntai juga dipengaruhi oleh
kegiatan manusia antara lain perubahan garis patai yang di sebabkan oleh
penggalian, pengerukan dan penambangan sendimen pantai dan laut, reklamasi (pengurungan
pantai), penanggu lan pantai (shore protection)
, pengundulan dan penanaman hutan pantai dan pengaturan pola aliran sungai (Ongkosono,
1979).Penginderaan Jarak jauh
(2003) menjelaskan Penginderaan jarak jauh adalah
Pengambilan atau pengukuran data / Contoh sistem PJ yang paling dikenal adalah satelit info
rmasi mengenai sifat dari sebuah fenomena, pemantauan cuaca bumi.
Dalam hal ini, target adalah obyek atau benda dengan menggunakan sebuah alat
permukaan bumi, yang melepaskan energi dalam bentuk perekam tanpa
berhubungan langsung dengan bahan radiasi infrared (atau ener
gi panas). Energi merambat stud
i. Empat komponen dasar dari sistem penginderaan jauh adalah target,
sumber energi, alur transmisi, dan senso
r. Komponen dalam sistem ini be\kerja
bersama untuk mengukur dan mencatat informasi mengenai target tan
pa menyentuh obyek tersebut. Sumber energi yang menyinari atau memancarkan energi
elektromagnetik pada target mutlak diperlukan. Energi berinteraksi dengan
target dan sekaligus berfungsi sebagai media untuk meneruskan informasi dari target kepada
sensor. Sensor adalah sebuah alat yang mengumpulkan dan mencatat radiasi elektromagnetik.
Setelah dicatat, data akan dikirimkan ke stasiun penerima dan diproses menjadi format yang
siap pakai, diantaranya berupa citra. Citra ini kemudian diinterpretasi untuk menyarikan
informasi mengenai target.
Proses interpretasi biasanya berupa gabungan antara visual dan automatic dengan bantuan
computer dan perangkat lunak pengolah citra (Puntodewo
Dkk 2003)
Penginderaan jauh vegetasi mangrove didasarkan pada dua
sifat penting
yaitu bahwa mangrove mempunyai zat hijau daun (Klorofil) dan mangrove
tumbuh di pesisir (Susilo, 1997). Sifat optic klorofil yang khas yaitu, menyerap spectrum
sinar merah dan memantulkan dengan kuat spectrum inframerah. Klorofil fitoplankton yang
berada di air laut dapat dibedakan dari klorofil mangrove, karena sifat air yang sangat kuat
menyerap spectrum inframerah. Tanah, pasir dan batuan juga memantulkan inframerah tetapi
tidak menyerap spectrum sinar merah sehingga tanah dan mangrove secara optic dapat
dibedakan, vegetasi mangrove dan vegetasi teresterial yang lain mempunyai sinar optic yang
hampir sama dan sulit dibedakan, tetapi karena mangrove hidup ditepi pantai (dekat air laut)
maka biasanya dapat dipisahkan dengan memperhitungkan jarak pengaruh air laut, atau
terpisah oleh lahan terbuka, padang rumput, daerah pertambakan danpemukiman (Lillesand
and Kiefer,1990).
Dalam pemantauan garis pantai
yang penting ketepatan interpretasi objek
-objek perubahan garis pantai dan pemetaannya. Pemantauan perubahan garis pantai yang
efektif yaitu dapat mencakup daerah yang luas dan bersamaan waktunya yang tepat adalah
penggunaan citra lansat dengan berbagai variasi band.
Tabel 2. Kemampuan citra lansat komposit berwarna untuk interpretasi objek-objek pa
ntai(Hermanto, 1986)ObjekKemudahanketerangan Laut
Sangat mudah Rona biru gelap Daratan Mudah Rona putih sampai biru terang sehingga
mudah dibedakan dengan laut, garis pantai mudah dipetakan EndapanMudahRona put ih
sampai biru terang hampir
sama dengan daratan, hanya saja endapan dapat dilihat dimana letaknya
Sungai Mudah Rona biru, bentuk memanjang berkelok-kelok Bukit
Berpasir sedang rona poting sampai kuning dan letaknya didekat pantai
Sistem Informasi Geografis Perencanaan dan pengelolaan sumber daya hutan yang baik
mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya. Untuk itu, diperlukan informasi yang
memadai yang bias dipakai oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya informasi
spasial. Sistem Informasi Geografis (SIG), Penginderaan Jauh (PJ) dan Global Posit ioning
System (GPS) merupa ka n t iga teknologi spasial yang sangat berguna(Ekadinata
dkk,2008).
Perubahan tutupan lahan, terutama mengingat besarnya luasan hutan yang
rusak, adalah aspek yang sangat memerlukan perhatian sekaligus sangat kompleks dengan
tingkat kesuksesan yang rendah. SIG bias membantu masalah rehabilitasi hutan dalam tahap
penelitian dan pemetaan lokasi, pemilihan species yang cocok, lokasi pembibitan dan
infrastruktur lain dan juga dalam tahap monitoring dan valuasi (Puntodewo dkk,2003).
Penggunaan teknologi SIG dapat mempertajam kemampuan
operasional agen pemerintah yang bertanggu ng jawab atas pengambilan
keputusan dalam pengelolaan wilayah pesisir. Kemampuan teknologi SIG
dalam pengelolaan wilayah
pesisir meliputi pananganan data spasial temporal,
membangun basis data untuk wilayah pesisir dan menyediakan alat untuk
analisis sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya yang harusdikeluarkan.
Secara kaidah, SIG harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1) Terdiri atas konsep dan
data geografis yang berhubungan dengan distribusi pasial; 2) Merupakan suatu informasi dari
data yang didapat, ide atau analisis, biasanya berhubungan dengan tujuan pengambilan
keputusan; 3) Suatu sistem yang terdiri dari komponen, masukan, proses dan keluaran; 4)
Ketiga hal ebelumnya difungsikan kedalam skenario berdasarkan pada teknologi tingg i
(Tarigan, 2007).
Dahuri (1997) menyatakan bahwa keuntungan penggu
naan SIG pada
perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam adalah: 1) Mampu
mengintegrasikan data dari berbagai format data (grafik, teks, analog, dan digital)
dari berbagai sumber; 2) Memiliki kemampuan yang baik dalam pertukaran data diantara
berbagai macam disiplin ilmu dan lembaga terkait; 3) Mampu memproses dan menganalisis
data lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan pekerjaan manual; 4) Mampu melakukan
pemodelan, pengujian dan perbandingan beberapa alternatif kegiatan sebelum dilakuka n
aplikasi lapangan; 5) Memiliki kemampuan
pembaruan data yang efisien terutama model grafik; 6) Mampu menampung data dalam
volume besar.Serikat ini dgunakan untuk kepentingan militer dan sipil (survei dan
pemetaan).GPS menerima dua jenis informasi dari satelit GPS, yang pertama disebut
almanakyaitu perakiraan satelit di luar angkasa yang ditransmisi secara terus menerus oleh
satelit.Informasi yang kedua yaitu tentang informasi mengenai jalur \orbit, ketinggian dan
kecepatan satelit, Informasi ini disebutephimeris. Dengan informasi ini GPS Receiver
menghitung jarak ke satelit dengan mempergunakan waktu tempuh sinyal yang diterima. Dari
sini informasi tersebut digunakan untuk
menghitung posisi dipermukaan bumi (Ekadinata dkk,2008).
Aplikasi Data Penginderaan Jarak Jauh dan Data Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan
Tutupan LahanData penginderaan jauh sangat lazim digunakan dalam kegiatan yang
berhubungan dengan pengelolaan sumber daya alam, karena data tersebut memuat kondisi
fisik dari permukaan bumi yang dapat dikuantifikasi/dianalisa sehingga
menghasilkan informasi faktual tentang sumber daya yang ada dalam skala luas dan
dilakukan berulang kali untuk keperluan pemantauan. Data penginderaan jauh merupakan
sumber paling utama data dinamis dalam SIG.Salah satu apliaksi yang dimungkinkan oleh
penginderaan jauh adalah pemetaan tutupan lahan (Puntodewo dkk,2003)
Sebagian besar data penginderaan jauh adalah hasil perekaman pantulan
sinar matahari oleh permukaan bumi. Pantulan sinar matahari ini direkam dalam bentuk
digital (Digital Number/DN). Ni
lai digital sangat bervariasi tergantung dari
permukaan bumi yang memantulkan sinar matahari. Sebagai contoh, pantulan dari atap
rumah di kawasan pemukiman sangat berbeda nilai digitalnya dengan pantulan dari kanopi
pohon di kawasan hutan. Perbedaan nilai pantulan dari masing-masing obyek di permukaan
bumi dikenal dengan istilah ciri spektral (spectral signature
perbedaan warna berbagai obyek di permukaan bumi yang ditampilkan melalui citra satelit.
Adanya perbedaan ni;ai pantulan inilah yang memungkinkan kita untuk melakukan pemetaan
tutupan lahan dengan membedakan dan mengenali
ciri spektral dari masing
-masing obyek. Dibutuhkan beberapa proses untuk dapat
menerjemahkan nilai spektral menjadi informasi tutupan lahan. Keseluruhan proses ini
disebut proses interpretasi citra satelit (Ekadinata dkk,2008).