You are on page 1of 23
LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bebas

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bebas

2016

Balai Penelitian Teknologi Bahan (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Bebas dari Korupsi, Bersih, Melayani

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bebas
LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bebas
LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bebas
LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bebas
LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bebas

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." Q.S Al-Baqarah ayat 188

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil

Pic :https://id.pinterest.com/pin/96968198197394238/

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI (IPK)

2016

Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Tim Penyusun
Tim Penyusun
LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI (IPK) 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan

Ema Damayanti

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI (IPK) 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan

Lupna Diana

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI (IPK) 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan

Dedy Rachmadi

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI (IPK) 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan

Andri Frediansyah

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI (IPK) 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan

Wahyu Anggo Rizal

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI (IPK) 2016 Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan

Muslih Anwar

DAFTAR ISI

Lembar Pegesahan

1

Kata Pengantar

2

Latar Belakang

3

Tujuan, Metodologi

5

Jenis Layanan yang diterima Responden

7

Nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK)

9

Rekomendasi

11

Da ar Pustaka

12

Contact Person Dan Informasi Lembaga

13

lembar pengesahan

K eperc aya a n Publi k K u n ci Utama

Pel aya n a n

P A STI

LAPORAN INDEKS PERSEPSI KORUPSI (IPK)

Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA), Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Disahkan Tanggal

:

Januari 2017

Berlaku Tanggal

:

Januari 2017

Kepala BPTBA LIPI,

Hardi Julendra, S.Pt., M.Sc.

NIP. 196907041997031001

1
1

kata pengantar

S ebagai upaya pencegahan dan

pemberantasan korupsi Presiden

Re p u b l i k I n d o n e s i a t e l a h

dalam penyelenggaraan kegiatan khususnya kegiatan layanan kepada masyarakat. Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA LIPI)

menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2012 tentang Stranas PPK Jangka Panjang 2012 - 2025 dan
menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55
Tahun 2012 tentang Stranas PPK Jangka
Panjang 2012 - 2025 dan Stranas PPK Jangka
Menengah tahun 2012 - 2014. Sebagai
tindak lanjut atas rumusan strategi
sebagai salah satu satuan kerja LIPI di daerah
yang mempunyai fungsi layanan kepada
masyarakat telah berupaya melakukan
p e n c e g a h a n
k o r u p s i
d e n g a n
t e r s e b u t
P e m e r i n t a h
m
e n
y u
s u n
A k
s
i
P e n c e g a h a n
d a n
P e m b e r a n t a s a n
K o r
u
p s i
y a n g
menciptakan layanan yang bersih,
tranparan dan akuntabel.
Pada tahun 2016, BPTBA
LIPI melakukan survei
untuk mengukur indeks
persepsi korupsi dari
diimplementasikan
r e s p o n d e n
y a n g
d
a n
d i e v a l u a s i
s e t i a p
t a h u n .
Dalam rencana
aksi pencegahan
d
a
pembe rantasan
n
m e n d a p a t k a n
layanan. Penilaian
indeks persepsi
korupsi di BPTBA
LIPI diharapkan
s
e
m
a
k
i
n
korupsi (Renaksi
m e n i n g k a t k a n
P P K )
t e r s e b u t .
Pr e s i d e n
s e c a r a
kualitas layanan
kepada masyarakat.
t
e
g
a
s
m
e n g i n s t r u k s i k a n
kepada semua jajaran
pemerintahan baik di tingkat
Laporan ini
menyajikan sejauh
mana fungsi layanan
BPTBA akuntabel dan
nasional maupun tingkat
t r a n s p a r a n
d i
m a t a
d
a e r a h
( G u b
e r
n u r
B u
p a t
i
/
W a l
i
k o t
a )
d a n
u
n t u
k
m
e n g i m p l e m e n t a s i k a n
S tr a n a s P PK
(Transparency International, 2016).
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) sebagai salah satu lembaga negara juga
berupaya terus mencegah terjadinya korupsi
masyarakat. Terimakasih atas
dukungan semua pihak. Semoga laporan
Indeks Persepsi Korupsi ini berguna untuk kita
semua.
2
2

Hormat Kami

,

Tim Penyusun

latar belakang

Indonesia menunjukkan kenaikan konsisten dalam pemberantasan korupsi, namun terhambat oleh masih tingginya korupsi di sektor penegakan hukum dan politik. Tanpa k e p a s t i a n h u k u m d a n p e n g u r a n g a n penyalahgunaan kewenangan politik, kepercayaan publik terhadap pemerintah akan turun dan memicu memburuknya iklim usaha di Indonesia. Demikian temuan Transparency International (TI) dalam Corruption Perception Index (CPI) 2015. Kondisi korupsi yang masih tinggi tersebut menyebabkan pemerintah Indonesia melakukan perbaikan-perbaikan dalam tatakelola pelayanan publik dan ternyata mampu menaikkan skor Indonesia menjadi 36 dan menempati urutan 88 dari 168 negara yang diukur. Skor Indonesia naik 2 poin, dan naik cukup tinggi 19 peringkat dari tahun sebelumnya. Skor CPI berada pada rentang 0- 100. 0 berarti negara dipersepsikan sangat korup, sementara skor 100 berarti dipersepsikan sangat bersih.

Kenaikan tersebut belum mampu menandingi skor dan peringkat yang dimiliki oleh Malaysia (50), dan Singapura (85), dan sedikit di bawah Thailand (38). Indonesia lebih baik dari Filipina (35), Vietnam (31), dan jauh di atas Myanmar (22) (Transparency internasional Indonesia, 2015) Corruption Perception Index (CPI) merupakan indeks komposit yang mengukur persepsi pelaku usaha dan pakar terhadap korupsi di sektor publik, yaitu korupsi yang dilakukan oleh pegawai negeri, penyelenggara negara dan politisi. Sejak diluncurkan pada tahun 1995, CPI telah digunakan oleh banyak negara sebagai rujukan tentang situasi korupsi dalam negeri dibandingkan dengan negara lain.

Tabel 1. Peringkat dan Skor Corruption Perception Index 2015
Tabel 1.
Peringkat dan
Skor Corruption
Perception
Index 2015
latar belakang Indonesia menunjukkan kenaikan konsisten dalam pemberantasan korupsi, namun terhambat oleh masih tingginya korupsi di
3
3

Untuk mencapai cita-cita Indonesia bebas korupsi bukan persoalan yang mudah, karena selain banyak berbagai masalah yang tengah membelit kehidupan bangsa Indonesia juga di warnai persoalan di bidang ekonomi, sosial politik, pertahanan dan keamanan, hukum serta permasalahan kebudayaan yang mesti diselesaikan. Tampaknya perilaku korupsi di negara kita sudah menjadi persoalan yang mengkhawatirkan sejak lama, dampaknyapun cukup dahsyat karena bisa merusak stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal mana dampak tindak korupsi tersebut akan merongrong kemandirian semua aspek kehidupan negara. Akhir-akhir ini berita di berbagai media baik melalui online (internet), televisi, radio, surat kabar dan media cetak lain banyak mengulas dan memperbincangkan terjadinya tindak pidana korupsi yang masif. Pelaku korupsi pun beragam mulai dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pusat maupun PNS Daerah. Demikian juga Pejabat Negara di Pusat dan Pejabat di daerah bahkan beberapa pengusaha pusat dan daerah pun juga telah tersangkut korupsi. LIPI sebagai lembaga pemerintah sampai saat ini belum diketahui oleh masyarakat seberapa besar penyelenggaraan layanan yang tidak atau kurang esien dan bahkan kemungkinan seberapa tinggi layanan yang tidak sesuai dengan ketentuan. Oleh karena itu, kiranya perlu dilakukan kajian tentang persepsi masyarakat terhadap tingkat tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh LIPI (Inspektorat LIPI, 2015). LIPI wajib mendukung dan berperan aktif dalam kegiatan pencegahan dan pemberantasan korupsi. Anggaran harus dikelola dengan baik untuk mencegah terjadinya tindak korupsi. Pengelolaan yang baik perlu didukung dengan sistem dan sumber daya manusia yang kompeten dan berintegritas. Interaksi LIPI dengan masyarakat perlu dibangun agar memberikan suasana yang saling menghargai antara kedua pihak dan saling memanfaatkan terutama bagi masyarakat atas jasa pelayanan LIPI. Oleh karena itu terkait dengan maksud seperti tersebut diatas maka pertanyaan penelitiannya adalah Bagaimana pendapat atau persepsi masyarakat terhadap penyelenggaran pelayanan publik yang dilakukan oleh LIPI ? (Inspektorat LIPI, 2015).

Untuk mencapai cita-cita Indonesia bebas korupsi bukan persoalan yang mudah, karena selain banyak berbagai masalah yang
Untuk mencapai cita-cita Indonesia bebas korupsi bukan persoalan yang mudah, karena selain banyak berbagai masalah yang

Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) LIPI merupakan salah satu satuan kerja di daerah yang banyak berhubungan dengan layanan masyarakat seperti jasa layanan produksi, sewa alat, pelatihan, jasa konsultasi, kunjungan ilmiah, bimbingan siswa dan mahasiswa juga berupaya terus menciptakan layanan terbaik, bersih, akuntabel dan transparan. Dengan demikian penting dilakukan survei indeks persepsi korupsi dalam rangka melaksanakan upaya pemerintah dalam pemberantasan korupsi seperti tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pencegahan Dan Pemberantasan Korupsi Jangka Panjang Tahun 2012-2025 dan Jangka Menengah Tahun 2012-2014. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode survei. Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat yang mempunyai kaitan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kegiatan pelayanan publik LIPI. Survei langsung dilakukan saat responden datang ke BPTBA LIPI dan metode tidak langsung melalui online (layanan internet).

4
4

TUJUAN

Tujuan survey persepsi korupsi ni untuk mendapatkan informasi tentang persepsi korupsi dari pengguna layanan di BPTBA LIPI sebagai bahan untuk menetapkan kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas layanan secara berkesinambungan serta mewujudkan pelaksanaan penyelenggaraan negara yang

bebas korupsi. Sasaran survey ini adalah terselenggaranya pelayanan yang bersih, akuntabel dan transparan.

TUJUAN Tujuan survey persepsi korupsi ni untuk mendapatkan informasi tentang persepsi korupsi dari pengguna layanan di

METODOLOGI

Pengumpulan Data

Penyusunan nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) didasarkan pada hasil survey persepsi korupsi masyarakat terhadap pelayanan di BPTBA LIPI tahun 2016. Metode ini meliputi unsur layanan, teknik pengumpulan data dan analisis data. Unsur penilaian mencakup 5 unsur (lima) unsur dan satu bagian prol responden. Jumlah responden survey persepsi korupsi pada tahun 2016 sebesar 366 responden. Untuk

menghindari bias, maka pemilihan responden adalah responden yang telah mendapatkan layanan selama dalam waktu refensi survei. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan 2 metode yaitu menggunakan alat bantu kuesioner dan menggunakan metode pengisian eletronik dengan internet. Unsur penilaian persepsi korupsi terdiri dari 5 unsur yaitu :

5
5
Tabel 2. Unsur Pertanyaan Kuesioner Persepsi Korupsi di BPTBA LIPI
Tabel 2.
Unsur
Pertanyaan
Kuesioner
Persepsi Korupsi
di BPTBA LIPI

Unsur

KeteranganPertanyaan

1

Jenis layanan yang didapatkan oleh responden (Profil Layanan)

 

Unsur Persepsi Korupsi

2

Persepsi responden terhadap tarif yang ditetapkan di BPTBA LIPI

3

Persepsi responden terhadap kesesuain tarif yang diminta dengan tarif yang ditetapkan

4

Persepsi responden terhadap kemungkinan adanya permintaan biaya tambahan untuk layanan di luar biaya yang ditentukan oleh petugas

5

Persepsi responden terhadap kemungkinan adanya tanda terima kasih kepada petugas (meskipun tidak diminta)

6

Persepsi responden terhadap informasi kejadian korupsi di BPTBA LIPI

Pengolahan dan Analisis Data

Survey persepsi korupsi disajikan dalam bentuk skoring / angka absolut agar diketahui peningkatan /penurunan indeks persepsi korupsi masyarakat atas pelayanan yang diberikan di setiap tahunnya. Teknik analisis perhitungan Indeks Persepsi Korupsi pada kuesioner dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  • Ÿ Setiap unsur penilaian persepsi terdiri dari 3 pilihan dengan konversi nilai 0, 1 dan 2

  • Ÿ Jumlah nilai total persepsi korupsi dijumlahkan dan dianalisis sebagai Indeks Persepsi Korupsi dengan cara berikut :

Nilai Persepsi Tiap Unsur

=

Nilai Persepsi Korupsi Tiap Unsur

=

Indeks Persepsi Korupsi

=

Jumlah Total Nilai Persepsi Tiap Unsur

Jumlah Responden

 

1

Nilai Persepsi Tiap Unsur

 

2

2

Jumlah total nilai persepsi korupsi tiap unsur

3

  • Ÿ Skala indeks tiap unsur berkisar antara 0 – 1

  • Ÿ Skala indeks persepsi korupsi antara 0 – 5 yang artinya mendekati nilai 5 maka persepsi korupsi makin baik.

Beberapa konsep dan denisi terkait dengan

Survei Persepsi Korupsi 2015 adalah sebagai berikut:

a )

K o r u p s i

a d a l a h

s e g a l a

b e n t u k

penyalahgunaan wewenang untuk memperoleh manfaat pribadi. Denisi korupsi dalam Survei Persepsi Korupsi

2015 mengacu pada dimensi – dimensi pengukuran korupsi yang ada dalam

Corruption Perception Index (CPI).

b) Persepsi adalah penafsiran dan penilaian seseorang terhadap fenomena sosial tertentu. Persepsi tidak hanya dihasilkan melalui penilaian subjetif yang cenderung personal, namun dihasilkan melalui penilaian objektif yang bersumber dari pengalaman langsung atau tidak langsung, dan/atau pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang (International Tranparency,

2016)

6
6

Jenis Layanan yang Diterima Responden

Tabel 3. Responden Berdasarkan Jenis Layanan
Tabel 3.
Responden
Berdasarkan
Jenis Layanan

No.

Pekerjaan

Jumlah

Persentase

1

Pela han (1)

7

1,94%

2

Pengukuran dan pengujian (2)

 
  • 22 6,09%

3

Kalibrasi dan servis (3)

 
  • 73 20,22%

4

Magang (praktek kerja) (4)

141

39,06%

5

Kontrak /kerjasama (riset dll) (5)

 
  • 34 9,42%

6

Pemanfaatan sarana prasarana (6)

 
  • 10 2,77%

7

Layanan edukasi (7)

8

2,22%

8

Narasumber (8)

66

18,28%

9

Ser fikasi (peneli , personil) (9)

0

0,00%

10

Jasa wisata (10)

0

0,00%

11

Jasa informasi (11)

0

0,00%

12

Konsultasi (12)

0

0,00%

13

Bimbingan teknis dan akademik (13)

0

0,00%

14

ISSN (14)

0

0,00%

15

Rekomendasi/usulan kebijakan (15)

0

0,00%

16

Lainnya (16)

0

0,00%

 

Jumlah

361

100,00%

 

Tidak Mengisi (0)

5

1,36%

 

Total Responden

366

 

Jenis layanan utama yang diterima responden IPK di BPTBA LIPI dengan persentase terbanyak adalah layanan magang (praktek kerja) sebanyak 39,06%, kalibrasi dan servis sebanyak 20,22%, narasumber sebanyak 18,28%, kontrak /kerjasama (riset dll) sebanyak 9,42%, pengukuran dan pengujian sebanyak 6,09%, pemanfaatan sarana prasarana sebanyak 2,77%, layanan edukasi sebanyak 2,22% dan pelatihan sebanyak 1,94%, sedangkan sebanyak 1,36% memilih tidak mengisi.

Tabel diatas menunjukkan informasi mengenai representasi prol responden IPK di BPTBA LIPI berdasarkan jenis layanan yang diterima. Jenis layanan yang mendominasi adalah magang (kerja praktek), kalibrasi dan servis serta permintaan narasumber. Hal ini menujukkan bahwa BPTBA LIPI memiliki peran selain sebagai wahana pembelajaran dan sumber informasi bagi pelajar, mahasiswa maupun masyarakat, juga sekaligus sebagai pintu bagi pemanfaatan hasil inovasi LIPI di daerah. Layanan di BPTBA LIPI dikategorikan menjadi 2 yaitu :

7
7

Layanan berbayar

Tarif dan ketentuan layanan berbayar ditetapkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2016 tentang tarif dan jasa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Layanan berbayar antara lain layanan produksi, layanan kerjasama riset, pelatihan, uji laboratorium, jasa konsultasi, penggunaan / sewa alat dan lainnya. Kerjasama produksi berbungan dengan layanan penggunaan sarana produksi seperti pengalengan makanan tradisional dan pembuatan produk herbal. Pengemasan makanan tradisional dengan kemasan kaleng ditetapkan Rp. 3.000,- / kaleng. Kerjasama riset / kelembagaan berhubungan dengan kegiatan riset pengembangan produk mitra, riset kegiatan penelitian (sharing in kind / in cash) dan lainnya. Kerjasama riset / kelembagaan ditetapkan sebesar Rp. 5.000.000,- / paket kegiatan.

Layanan pelatihan berhubungan dengan kegiatan pelatihan nutrisi makanan ternak, pelatihan pengalengan, pelatihan pembuatan sabun herbal transparan dan pelatihan lainya. Kegiatan pelatihan ditetapkan dengan pilihan paket pelatihan Rp. 3.000.000,- / orang atau paket layanan teknologi sebesar Rp. 300.000,- / jam. Tarif pelatihan turun sebesar dari angka Rp. 5.000.000,- / orang pada tahun sebelumnya. Layanan uji laboratorium berhubungan dengan layanan analisa dengan parameter biologi, mikrobiologi, dan kimia. Tarif layanan uji mikrobiologi ditetapkan sesuai dengan tarif PNBP yang nilainya bervariasi tergantung pada jenis uji dan tingkat kesulitan metode serta biaya bahan. Layanan jasa konsultasi berhubungan dengan jasa narasumber dan konsultasi. Jasa konsultas i (dalam skema pelatihan / narasumber) ditetapkan sebesar Rp. 40.000,- / orang.

Layanan berbayar Tarif dan ketentuan layanan berbayar ditetapkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2016
Layanan berbayar Tarif dan ketentuan layanan berbayar ditetapkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2016
Layanan berbayar Tarif dan ketentuan layanan berbayar ditetapkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2016
Layanan berbayar Tarif dan ketentuan layanan berbayar ditetapkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2016
Layanan berbayar Tarif dan ketentuan layanan berbayar ditetapkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2016
Layanan berbayar Tarif dan ketentuan layanan berbayar ditetapkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2016
8
8

Layanan tidak berbayar

Layanan tidak berbayar yang difasilitasi di BPTBA LIPI antara lain layanan kunjungan ilmiah (edukasi dan outing class), bimbingan ilmiah (siswa / mahasiswa PKL / Skripsi / magang) tidak dikenakan dan harus memenuhi syarat dan ketentuan yang di BPTBA LIPI seperti kunjungan di jam dan hari kerja, mahasiswa /

siswa harus memiliki kompetensi yang sesuai untuk melakukan proses bimbingan baik di ruang proses produksi maupun laboratorium. Layanan lain yang tidak berbayar adalah jasa konsultasi untuk UKM binaan program IPTEKDA LIPI.

Layanan tidak berbayar Layanan tidak berbayar yang difasilitasi di BPTBA LIPI antara lain layanan kunjungan ilmiah
Layanan tidak berbayar Layanan tidak berbayar yang difasilitasi di BPTBA LIPI antara lain layanan kunjungan ilmiah
Layanan tidak berbayar Layanan tidak berbayar yang difasilitasi di BPTBA LIPI antara lain layanan kunjungan ilmiah
Layanan tidak berbayar Layanan tidak berbayar yang difasilitasi di BPTBA LIPI antara lain layanan kunjungan ilmiah

NILAI INDEKS PERSEPSI KORUPSI

Nilai indeks persepsi korupsi dihitung berdasarkan rumus yang dijelaskan dalam metodologi. Nilai total Indeks Persepsi Korupsi adalah 4,43 dalam skala 0 – 5. Dengan

demikian IPK BPTBA LIPI dinilai baik. Tahun 2016 merupakan tahun pertama dilakukannya survei persepsi korupsi sehingga tidak ada nilai pembanding pada tahun sebelumnya.

Gambar 2. Nilai persepsi korupsi berdasarkan analisa per unsur
Gambar 2.
Nilai persepsi
korupsi
berdasarkan
analisa per
unsur
Layanan tidak berbayar Layanan tidak berbayar yang difasilitasi di BPTBA LIPI antara lain layanan kunjungan ilmiah
9
9

Gambar 2 menampilkan nilai per unsur pertanyaan dengan nilai persepsi korupsi. Pada gambar 2 nilai tertinggi didapatkan pada kategori unsur 3, 4 dan 6 yaitu sebesar 0,99 yang artinya dari hampir 366 orang responden menilai bahwa petugas layanan di BPTBA LIPI 99% tidak pernah meminta tarif melebihi tarif yang telah ditetapkan (Unsur 3) dan semua responden menilai mutlak tidak pernah (99%) ada petugas yang meminta biaya tambahan untuk pelayanan di luar biaya yang telah ditetapkan (Unsur 4) serta semua responden belum pernah mendengar informasi terjadinya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di lembaga BPTBA LIPI (Unsur 6). Nilai terendah berada pada unsur 2 yaitu yang terkait dengan persepsi responden

terhadap tarif yang ditetapkan di BPTBA LIPI sebesar 0,64 yang artinya ada sekitar 36% responden masih beranggapan bahwa tarif yang dibayarkan terlalu mahal. Nilai yang cukup rendah tersebut dimungkinkan karena responden sendiri kurang paham atau tidak mengetahui terkait rincian penggunaan sehingga keluar tetapan tarif yang resmi berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 2016. Oleh karena itu perlu dilakukan sosialisasi yang lebih gencar lagi terkait rincian penggunaan dan tetapan tarif PNBP di BPTBA LIPI baik itu melalui web resmi, media sosial maupun secara langsung (tim front desk) dan juga diarahkan melalui layanan online (layanan.lipi.go.id). Uraian mengenai unsur lainnya ditampilkan pada Gambar 3

Gambar 2 menampilkan nilai per unsur pertanyaan dengan nilai persepsi korupsi. Pada gambar 2 nilai tertinggi
Gambar 3. Distribusi nilai persepsi berdasarkan per unsur yang dinilai
Gambar 3.
Distribusi nilai
persepsi
berdasarkan per
unsur yang
dinilai
Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2 Jumlah responden Nilai IPK per unsur
Nilai 0
Nilai 1
Nilai 2
Jumlah responden
Nilai IPK per unsur

Berdasarkan distribusi nilai persepsi pada Gambar 6, unsur 3; 4 dan 6 memiliki nilai tertinggi yaitu 0,99 yang artinya masih ada sekitar 1,6 – 2,4% responden yang tidak memberikan nilai mutlak. Unsur 5, yaitu terkait persepsi responden terhadap kemungkinan adanya tanda terima kasih kepada petugas meskipun tidak diminta memiliki nilai 0,83. Berdasarkan nilai tersebut, ada beberapa responden (sekitar 0,8%) yang menyatakan selalu memberikan tanda terimakasih kepada petugas meskipun tidak diminta dan sebanyak 45% r e s p o n d e n me n y a t a k a n p e r n ah memberikan tanda terimakasih kepada petugas meskipun tidak diminta baik berupa oleh-oleh, plakat maupun dalam bentuk yang lain. Hal ini tidak terlepas dari budaya Indonesia khususnya

di pulau jawa yang suka untuk memberikan oleh-oleh ketika berkunjung. Unsur berikutnya yaitu unsur 2 memiliki indeks persepsi korupsi paling kecil yaitu sebesar 0,64. Indeks ini berkaitan dengan besaran tarif yang ditetapkan di BPTBA LIPI baik tarif produksi /pelatihan / narasumber / jasa analisa dan sewa. Nilai persepsi yang rendah pada Unsur 2 disebabkan hanya sebagian responden yaitu sebanyak 33% yang menyatakan tarif yang ditetapkan di BPTBA LIPI dinilai murah atau wajar, sedangkan sebagian besar responden yaitu sebanyak 60% menyatakan bahwa tarif yang ditetapkan di BPTBA LIPI dinilai sedang (tidak mahal dan tidak murah), sedangkan sebanyak 6,28% responden menyatakan bahwa tarif yang ditetapkan di BPTBA LIPI dinilai mahal.

10
10

REKOMENDASI

Berdasarkan hasil analisa penilaian persepsi pada setiap unsur diketahui bahwa unsur terkait kesesuaian tarif yang diberikan dengan yang ditetapkan dan unsur layanan bersih dan unsur pencegahan korupsi merupakan unsur dengan nilai maksimal. Dengan demikian secara umum petugas pelayanan di BPTBA LIPI dalam pemberian layanan sudah dilakukan dengan baik, transparan, bersih dan akuntabel. Unsur yang pe rlu ditingkatkan kualitasnya yaitu unsur pemberian tanda terimakasih yang memungkinkan terjadinya gratikasi yang mengarah pada peluang Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Masih ditemukan adanya pemberian tanda terima kasih dari responden meskipun tidak diminta dengan persentase yang sangat kecil. Dengan demikian, ke depan dalam rangka upaya perbaikan dan peningkatan kualitas layanan maka semua petugas tidak diperkenankan menerima tanda terimakasih dalam bentuk apapun baik barang maupaun

uang dengan nilai berapapun. Apabila ada paksaan untuk menerima sekedar oleh-oleh atau kenang-kenangan, harus tertelusur dan ada surat pernyataan yang ditandatangani oleh pemberi. Unsur lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah unsur besaran tarif yang ditetapkan. Sebagian besar responden menyatakan besaran tarif di BPTBA LIPI adalah sedang, sebagian kecil menilai mahal dan murah. Penyesuaian tarif sudah dilakukan dan diusulkan dalam Rancangan Peraturan Pemerintah terkait tarif PNBP LIPI yang sedang dalam proses pengesahan. Penyesuaian tarif diharapkan akan dapat meningkatkan kepuasan pengguna layanan di BPTBA LIPI. BPTBA LIPI juga terus melalukan upaya perbaikan kinerja layanan dengan meluncurkan pusat informasi layanan, buku tamu online dan e-layanan (sistem layanan online) yang dalam prosesnya diharapkan proses kegiatan layanan akan lebih cepat, transparan, akuntabel, tidak ada ucapan terimakasih atau gratikasi dan tertelusur serta terdokumentasi dengan baik.

REKOMENDASI Berdasarkan hasil analisa penilaian persepsi pada setiap unsur diketahui bahwa unsur terkait kesesuaian tarif yang
REKOMENDASI Berdasarkan hasil analisa penilaian persepsi pada setiap unsur diketahui bahwa unsur terkait kesesuaian tarif yang
REKOMENDASI Berdasarkan hasil analisa penilaian persepsi pada setiap unsur diketahui bahwa unsur terkait kesesuaian tarif yang
REKOMENDASI Berdasarkan hasil analisa penilaian persepsi pada setiap unsur diketahui bahwa unsur terkait kesesuaian tarif yang
11
11

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Presiden RI Nomor 55 tahun 212 tentang Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Jangka Panjang Tahun 2012-2025 dan Jangka Menengah Tahun 2012-

2014

https://www.ti.or.id/media/documents/2015/09/16/i/p/ipk_2015_laporan_akhir.pdf : Survei Persepsi Korupsi 2015

http://www.ti.or.id/index.php/publication/2016/01/27/corruption-perceptions-index-2015 :

Corruption Perception Index 2015, perbaiki penegakan hukum, perkuat KPK, benahi layanan publik

http://inspektorat.lipi.go.id/2015/12/02/survei-persepsi-korupsi/ : Pembahasan laporan survei persepsi korupsi

12
12

CONTACT PERSON

CONTACT PERSON Hardi Julendra S.Pt., M.Sc (Kepala) Telp : 081802746669 Fax : 0274-391168 email : Julendra2000@yahoo.com
CONTACT PERSON Hardi Julendra S.Pt., M.Sc (Kepala) Telp : 081802746669 Fax : 0274-391168 email : Julendra2000@yahoo.com
CONTACT PERSON Hardi Julendra S.Pt., M.Sc (Kepala) Telp : 081802746669 Fax : 0274-391168 email : Julendra2000@yahoo.com

Hardi Julendra S.Pt., M.Sc (Kepala) Telp : 081802746669 Fax : 0274-391168 email : Julendra2000@yahoo.com

Ema Damayanti M.Bi ech (Kasie Layanan Jasa dan Informasi) Telp : 08156899205 Fax : 0274-391168 email : emadamayanti80@gmail.com

Hendra Herdian S.Pt., M.Sc. (Kasie Pemanfaatan Teknologi) Telp : 085228074802 Fax : 0274-391168 email : hendravit@yahoo.com

INFORMASI LEMBAGA

Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl. Jogja-Wonosari Km 31.5, Gunungkidul, Yogyakarta 55861 PO. Box : 174 WNO Phone/Fax: +62 274 392570 / +62 274 391168

CONTACT PERSON Hardi Julendra S.Pt., M.Sc (Kepala) Telp : 081802746669 Fax : 0274-391168 email : Julendra2000@yahoo.com
  • www.bptba.lipi.go.id

  • BptbaLipi

www.bptba.lipi.go.id BptbaLipi bptba.lipi

bptba.lipi

  • bptba@mail.lipi.go.id

  • BPTBA LIPI Yogyakarta

13
13

lampiran

Kuesioner survei eksternal persepsi korupsi

lampiran Kuesioner survei eksternal persepsi korupsi 14
14
14

poster & banner anti korupsi

poster & banner anti korupsi 15
poster & banner anti korupsi 15
poster & banner anti korupsi 15
15
15

SOSIALISASI ZONA INTEGRITAS

SOSIALISASI ZONA INTEGRITAS 16
SOSIALISASI ZONA INTEGRITAS 16
16
16
Scan To Discover
Scan
To Discover

Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl. Jogja-Wonosari Km 31.5, Gunungkidul, Yogyakarta 55861 PO. Box : 174 WNO Phone/Fax: +62 274 392570 / +62 274 391168

  • www.bptba.lipi.go.id

  • BptbaLipi

www.bptba.lipi.go.id BptbaLipi bptba.lipi

bptba.lipi

  • bptba@mail.lipi.go.id

  • BPTBA LIPI Yogyakarta