You are on page 1of 6

Anatomi dan Fisiologi Integumen (Kulit)

Kulit adalah selimut yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki fungsi utama
sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Luas kulit pada manusia
rata-rata + 2 meter persegi, dengan berat 10 kg jika dengan lemaknya atau 4 kg jika tanpa lemak
(Tranggono, 2007). Kulit terbagi atas dua lapisan utama, yaitu epidermis (kulit ari) sebagai
lapisan yang paling luar dan dermis (korium, kutis dan kulit jangat). Sedangkan subkutis atau
jaringan lemak terletak di bawah dermis.

Ketebalan epidermis berbeda-beda pada berbagai bagian tubuh, yang paling tebal
berukuran 1 milimeter, misalnya pada telapak kaki dan telapak tangan, dan lapisan yang tipis
berukuran 0,1 milimeter terdapat pada kelopak mata, pipi, dahi, dan perut. Karena ukurannya
yang tipis, jika kita terluka biasanya mengenai bagian setelah epidermis yaitu dermis. Dermis
terdiri dari bahan dasar serabut kolagen dan elastin. Serabut kolagen dapat mencapai 72 persen
dari keseluruhan berat kulit manusia bebas lemak (Tranggono, 2007).

Pada bagian dalam dermis dapat adneksa-adneksa kulit. Adneksa kulit merupakan
struktur yang berasal dari epidermis tetapi berubah bentuk dan fungsinya, terdiri dari folikel
rambut, papilla rambut, kelenjar keringat, slauran keringat, kelenjar sebasea, otot penegak
rambut, ujung pembuluh darah, dan serabut saraf, juga sebagian serabut lemak yang terdapat
pada lapisan lemak bawah kulit (subkutis/hypodermis).

a. Epidermis

Epidermis merupakan lapisan terluar kulit yang terdiri dari epitel berlapis bertanduk,
mengandung sel malonosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada
berbagai tempat di tubuh, paling tebal terdapat pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan
epidermis hanya sekitar 5% dari seluruh ketebalan kulit.

Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam)
yaitu stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum
basale (stratum Germinatum) (Perdanakusuma, 2007).

b. Dermis
Dermis tersusun oleh sel-sel dalam berbagai bentuk dan keadaan, dermis terutama terdiri
dari serabut kolagen dan elastin. Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen akan
berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Sedangkan serabut elastin terus meningkat dan
menebal, kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa.
Pada usia lanjut kolagen akan saling bersilang dalam jumlah yang besar dan serabut elastin akan
berkurang mengakibatkan kulit terjadi kehilangan kelenturanannya dan tampak berkeriput
(Perdanakusuma, 2007).

Di dalam dermis terdapat folikel rambut, papilla rambut, kelenjar keringat, saluran
keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah dan ujung saraf dan
sebagian serabut lemak yang terdapat pada lapisan lemak bawah kulit (Tranggono dan Latifah,
2007).

c. Lapisan Subkutan

Lapisan subkutan merupakan lapisan dibawah dermis yang terdiri dari lapisan lemak.
Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di
bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah tubuh dan keadaan nutrisi
individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi (Perdanakusuma, 2007).

Gambar 1 Struktur Kulit Manusia (Perdanakusuma, 2007)


Anatomi dan Fisiologi Rambut

Rambut merupakan adneksa kulit (kelenjar kulit atau lapisan dermis) yang tumbuh pada
hampir seluruh permukaan kulit mamalia kecuali telapak tangan dan telapak kaki
(Wasitaatmadja, 1997). Rambut tumbuh pada bagian epidermis kulit, terdistribusi merata pada
tubuh. Komponen rambut terdiri dari keratin, asam nukleat, karbohidrat, sistin, sistein, lemak,
arginin, sistrulin, dan enzim (Rook dan Dawber, 1991). Rambut terdiri dari 2 bagian yaitu batang
rambut dan akar rambut seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1. Anatomi Rambut

Rambut mempunyai peranan yang penting dalam sejarah kehidupan manusia. Rambut
tidak hanya berfungsi sebagai pelindung sekujur tubuh dari panas, dingin, atau sebab-sebab lain
yang dapat melukai tetapi juga berpengaruh pada segi estetika seperti untuk diurai, diikat,
dibando, dikepang, diluruskan, dikeriting, dan lain-lain. Rambut yang sehat akan cenderung
memberikan kesan positif pada seseorang misalnya tampak lebih cantik, tampan, muda, atau
percaya diri. Oleh karena itu banyak orang baik pria maupun wanita tidak segan-segan
melakukan perawatan rambut untuk menjaga kesehatan rambutnya (Trancik, 2000).

Rambut terdapat hampir seluruh bagian tubuh. Jenis rambut digolongkan menjadi 2 jenis:
1. Rambut terminal

Rambut kasar yang mengandung banyak pigmen (berwarna). Terdapat di kepala, alis,
bulu mata, ketiak, dan genitalia eksterna. Diameter rambut > 0,03 mm

2. Rambut velus
Rambut halus sedikit mengandung pigmen, diameternya < 0,03 mm. Sebagian besar
ada pada tubuh

Rambut dapat dibedakan menjadi folikel rambut, otot arektor pili, dan batang rambut.
Folikel Rambut merupakan suatu tonjolan epidermis ke dalam dermis berupa tabung yang
meliputi:

Ujung Rambut berbentuk runcing terdapat pada rambut yang baru saja tumbuh
Batang rambut merupakan bagian rambut yang berada diluar kulit, berupa benang-benang
halus terdiri dari keratin / sel-sel tanduk.
Akar rambut merupakan bagian rambut yang berada di dalam kulit dan tertahan di dalam
folikel/ kantong rambut

Sedangkan otot arektor pili merupakan pita tipis otot polos yang berhubngan dengan
folikel rambut. Kontraksi otot ini menyebabkan ujung-ujung rambut berdiri dan mengakibatkan
keluarnya sekresi kelenjar sebasea. Batang rambut tersusun dari tiga lapisan epitelium :

1. Kutikula adalah lapisan terluar yang tersusun dari sel-sel mati yang bersisik

2. Korteks adalah lapisan tengah yang terkreatinisasi, membentuk bagian utama batang
rambut. Bagian ini mengandung jumlah pigmen beragam yang menentukan warna rambut

3. Medula tersusun dari 2-3 lapisan sel kubis yang berisi keratohialin,badan lemak dan
rongga udara. Pertumbuhanya buruk.

(Sloane, 1994)

Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa masa hidup atau daur tiap helai rambut berbeda
dengan helai rambut lainnya, oleh karena itu secara berulang mengalami pertumbuhan,
kerontokan, dan pertumbuhan kembali. Daur ini dibagi menjadi tiga bagian: anagen
(pertumbuhan), katagen (terhentinya pertumbuhan), dan telogen (periode istirahat)
mekanismenya dijelaskan dalam Gambar 2. (Mitsui, 1992).

Gambar 2. Siklus Pertumbuhan Rambut

Mekanisme atau proses kerontokan rambut dapat terjadi melalui kerontokan atau
efluvium (telogen efluvium (TE) adalah kerontokan rambut berlebih yang disebabkan karena
peningkatan proporsi folikel rambut fase telogen dan anagen effluvium (AE) adalah kerontokan
rambut yang disebabkan oleh perawatan medis untuk kanker, penyebab rambut rontok parah
paling sering oleh kemoterapi), patahnya batang rambut yang rusak serta kebotakan atau alopecia
(sikatrik artinya permanen dan non sikatrik artinya masih ada harapan untuk tumbuh).

Rambut yang rontok karena faktor lingkungan (ekstrinsik) memiliki tahapan yaitu
patahnya batang rambut yang rusak, kemudian telogen efluvium, setelah itu anagen efluvium,
dan terakhir terjadi alopecia sikatrikalis. Faktor lingkungan (ekstrinsik) bisa menyebabkan
kerontokkan karena polusi lingkungan yang ada di udara dan air, begitu juga dengan paparan
klorin, logam, dan mineral berat bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang bisa
berkontribusi dalam rambut rontok. Paparan sinar UV dan radikal bebas juga bisa membuat sel
kulit kepala menua sebelum waktunya, dan merusak cabang rambut (Trancik, 2000).
Daftar Pustaka

Mitsui, T. 1992. New Cosmetics Science. Amsterdam.: Elsevier Science. Halaman: 81-82.

Perdanakusuma, D.S. 2007. Anatomi Fisiologi Kulit Dan Penyembuhan Luka. Surabaya:
Airlangga University School Of Medicine Dr. Soetomo General Hospital.
Hal.1-8.Sloane, E. 1994. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Rook, A. dan R. Dawber. 1991. Disease of The Hair and Scalp (2nd ed.). London: Blackwell
Scientific Pub. Halaman: 41-49.

Trancik, R. J,. 2000. Hair Growth Enhancers. Dalam: Elsner, Peter; Maibach, Howard I.,
Cosmeuticals, 58, 59.

Tranggono. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengantar Kosmetik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.

Wasitaatmadja, S.M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Universitas Indonesia. Jakarta. Hal.:
26-30, 117-120.