You are on page 1of 15

REFRESHING

INFEKSI HIV PADA KEHAMILAN

Disusun Oleh :

Nama :Selvie Fitria Pinandita


NIM : 2008730115

Dosen Pembimbing :

dr. Edy Purwanta, Sp.OG

Kepaniteraan Kinik Obstetri Gynecology


Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih
Periode 28 Mei – 4 Agustus 2012

Program Studi Pendidikan Dokter


Universitas Muhammadiyah Jakarta
INFEKSI HIV PADA KEHAMILAN

A. PENDAHULUAN
AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yaitu penyakit yang
disebabkan oleh virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus) yang merusak sel T, yaitu
sel yang membuat zat anti dalam tubuh manusia. Akibatnya tubuh tidak dapat menahan
serangan penyakit. AIDS adalah kumpulan berbagai gejala penyakit akibat melemahnya
daya tahan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV. Seseorang yang terinfeksi HIV
dengan mudah akan diserang oleh berbagai jenis penyakit yang lain karena daya tahan
tubuhnya yang sudah dilemahkan oleh HIV tidak mampu lagi melawan serangan
penyakit tersebut.
AIDS pertama kali dikenal pada tahun 1981, saat kasus-kasus Pneumocystis
carinii pneumonia dan sarkoma Kaposi dilaporkan di kalangan para homoseksual di
California dan New York. Infeksi pada wanita secara keseluruhan meningkat, dengan
proporsi pada wanita dan remaja meningkat tiga kali lipat dari 7 menjadi 23% dalam
kurun waktu ± 13 tahun , sejak tahun 1985 sampai 1998.
Masalah AIDS telah melanda dunia, telah mengancam ASIA dan sekarang telah
ada di Indonesia. Yang sangat mengkhawatirkan adalah bahwa sekitar 80% kasus di
Indonesia ditemukan di antara kelompok karyawan, manajer, perusahaan umum maupun
tenaga ahli. Dari angkatan kerja yang ada rata-rata berumur antara 18 - 24 tahun
merupakan usia produktif dan modal dasar yang paling berharga. Kenyataan ini tidak
dapat dielakkan, bahwa kepedulian terhadap masyarakat dan kualitas Sumber Daya
Manusia amat erat kaitannya dengan upaya pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS)
dan HIV/AIDS.
HIV dalam kehamilan merupakan salah satu masalah utama dalam bidang
obstetri. Transmisi heteroseksual dan penyalah gunaan obat intra vena meningkat
kejadiannya secara signifikan di antara wanita. Risiko infeksi bayi baru lahir dari ibu
HIV-seropositif diperkirakan 13 hingga 39 %. Kebanyakan anak-anak yang terinfeksi
bertahan hidup hingga usia 5 tahun. Pada tahun 1992, the Centers for Disease Control
and Prevention memperkirakan prevalensi HIV-seropositif diantara wanita usia
reproduksi adalah 1 sampai 2 per 1000.
Penularan infeksi HIV dari Ibu ke Anak merupakan penyebab utama infeksi HIV
pada anak usia di bawah 15 tahun. Sejak HIV menjadi pandemic di dunia, diperkirakan
5,1 juta anak di dunia terinfeksi HIV. Hampir sebagian besar penderita tersebut tertular
melalui penularan dari ibu ke anak. Setiap tahun diperkirakan lebih dari 800.000 bayi
menjadi terinfeksi HIV akibat penularan dari ibu ke anak. Dan diikuti adanya sekitar
610.000 kematian anak karena virus tersebut.
Di Indonesia menurut Ditjen PPM dan PL Departemen Kesehatan tercatat 4333
kasus HIV positif dan 5823 kasus AIDS dari 1 Januari 1987 s/d 31 maret 2006, dengan
jumlah kematian 1430 kasus. Sedangkan di Sulawesi Selatan menurut data terbaru yang
dilansir oleh Dinas Kesehatan bersama Komisi Penanggulangan AIDS Sulsel, selama 10
tahun terakhir penderita penyakit ini sudah mencapai 814 orang. 575 orang diantaranya
positif HIV dan 240 orang positif AIDS. Penelitian yang dilakukan Yayasan Pelita Ilmu
dan Bagian kebidanan FKUI/RSCM selama tahun 1999-2001 melakukan pemeriksaan
pada 558 ibu hamil di daerah miskin di Jakarta, menunjukkan hasil sebanyak 16 orang
(2,86%) mengidap infeksi HIV.

B. ETIOLOGI
Penyebab sindrom imunodefisiensi ini adalah DNA retrovirus yang dikenal
sebagai human immunodeficiency virus, HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar kasus yang
ada disebabkan oleh infeksi HIV-1 yang penularannya menyerupai penularan virus
Hepatitis B dan penularan seksual merupakan jenis penularan HIV-AIDS yang utama.
Virus juga dapat ditularkan melalui bahan yang terkontaminasi oleh darah dan ibu hamil
dapat menularkan infeksi HIV pada janin yang dikandungnya.
HIV adalah virus yang menyerang sistim kekebalan tubuh manusia dan kemudian
menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang
bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut ”sel
T-4” atau ”sel T-helper”, atau disebut juga ”sel CD-4”. Jumlah sel T-4 pada orang sehat
secara umum berkisar antara 500-1200 per mikroliter. Jika jumlah sel T-4 menurun di
bawah 200, maka ia dapat dikatakan sudah masuk pada fase AIDS.

C. PATOGENESIS

Proses imunosupresi menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan


neoplasma. Target utama adalah Thymus-derived lymphocytes (T-lymphocytes), yang
secara fenotipikal disebut sebagai CD4 surface antigen. CD4 site bertindak sebagai
reseptor virus. Sheffield dkk (2005) menyatakan bahwa agar dapat terjadi infeksi
diperlukan “co-receptor” dan untuk itu dikenal adanya 2 jenis chemokines receptor yaitu
CCR5 dan CXCR4. Setelah infeksi pertama, tingkat viremia segera merosot sampai titik
tertentu dan pasien dengan beban virus terbesar saat itu dengan cepat mengalami AIDS
dan meninggal. Selama beberapa waktu, jumlah sel T merosot secara tajam sehingga
terlihat gejala imunosupresi.

Kehamilan diperkirakan berakibat minimal terhadap CD4+, jumlah sel T, dan


jumlah HIV-RNA. Kenyataan adalah bahwa jumlah HIV-RNA meningkat pada 6 bulan
pasca persalinan dibandingkan dengan jumlah sebelum kehamilan. Makrofag-monosit
juga terinfeksi dan infeksi sel mikroglia otak dapat menyebabkan kelainan neuropsikiatri
pada pasien yang terinfeksi HIV. Selain itu tercatat pula kejadian Sarcoma kaposi,
Lymphoma B-cell dan non-Hodgkin dan sejumlah bentuk karsinoma lain.

D. MANIFESTASI KLINIS

Periode inkubasi berkisar dari beberapa hari sampai beberapa minggu. Infeksi
akut menyerupai sindroma infeksi virus lain dan umumnya berakhir dalam waktu 10 hari.

Gejala utama:

1. Demam,
2. Keringat malam hari,
3. Lesu,
4. Ruam,
5. Nyeri kepala,
6. Limfadenopati,
7. Faringitis,
8. Nyeri otot
9. Gejala GI tract: mual dan muntah serta diare.

Fauci (2003) menyatakan setelah gejala mereda, gejala viremia mulai terjadi.
Rangsangan yang dapat menyebabkan progresivitas dari viremia asimtomatik
menjadi simtomatik tidak jelas, tetapi diperkirakan memerlukan waktu sampai 10
tahun.

Infeksi oportunistik yang sering menyertai HIV-AIDS:

1. Kandidiasis paru dan esofagus,


2. Herpes zoster atau herpes simpleks persisten,
3. Kondiloma akuminata,
4. Tuberkulosis,
5. Pneumonia cytomegalovirus,
6. Rinitis,
7. Penyakit gastrointestinal,
8. Moluscum contagiosum
9. Pneumonia pneumocystis

Gejala lain yang sering menyertai AIDS adalah gangguan neuropsikiatrik.

E. DIAGNOSIS
Pemeriksaan standar yang dapat digunakan untuk mendiagnosis HIV seperti
enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA) dan analisa Western Blot.
Imunoglobulin G (IgG) tidak dapat dipakai untuk mendiagnosis HIV pada bayi di bawah
usia 18 bulan. Hal ini disebabkan karena masih ditemukannya IgG anti HIV ibu yang
melewati plasenta di darah bayi, bahkan kadang hingga usia 24 bulan. Sedangkan IgA
dan IgM anti HIV tidak dapat melalui plasenta sehingga dapat dijadikan konfirmasi
diagnosis bila ditemukan pada bayi. Namun sensitifitas kedua pemeriksaan tersebut
masih sangat rendah.
Pemeriksaan yang bisa dilakukan pada usia di bawah usia 18 bulan adalah
pemeriksaan kultur HIV, tehnik PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi
DNA atau RNA HIV dan deteksi antigen p24. Infeksi HIV pada bayi di bawah 18 bulan
dapat ditegakkan bila dua sampel dari dua kali pemeriksaaan yang berbeda dengan kultur,
DNA HIV atau RNA HIV menunjukkan hasil positif. Infeksi HIV bisa disingkirkan bila
2 macam sampel tes yang berbeda menunjukkan hasil negatif.
Pemeriksaan dengan PCR atau kultur virus dapat dilakukan sejak lahir dan usia
1 atau 2 bulan. Jika dengan PCR kultur virus positif, maka pemeriksaan harus diulang
segera untuk konfirmasi sebelum diagnosis HIV dibuat. Bila hasil PCR atau kultur virus
dilakukan saat lahir dan usia 1-2 bulan tidak menunjukkan hasil positif dan bayi tidak
menunjukkan gejala maka pemeriksaan diulang pada usia 4 bulan.

F. TRANSMISI PERINATAL
1. Mekanisme Transmisi Virus Perinatal
 Invasi langsung pada trofoblas dan vili korialis.
 Masuknya limfosit maternal yang terinfeksi ke dalam sirkulasi janin.
 Infeksi oleh sel dengan reseptor CD4 dalam vili korialis dan sel endotel vili.
2. Peran Plasenta dalam Proses Transmisi Virus
 Pemeriksaan invitro menunjukkan bahwa HIV-1 dapat melakukan infeksi
pada trofoblas manusia dan sel telur Hofbauer pada setiap usia kehamilan.
 Tidak jelas apakah infeksi HIV-1 dapat memfasilitasi infeksi HIV-1 pada
janin atau justru dapat mencegah infeksi terhadap janindengan melakukan
tindakan isolasi terhadap virus.
G. KECEPATAN PENULARAN HIV-1 DARI IBU KE JANIN

Transmisi vertikal tergantung sejumlah faktor:

1. Faktor yang meningkatkan penularan


 Ibu menderita AIDS
 CD4 rendah (< 200 sel/mm3)
 Adanya p24 antigenemia
 Adanya chorioamnionitis histologis
 Persalinan preterm
2. Faktor yang menurunkan penularan
 Adanya antibodi terhadap protein HIV gp 120
 Perawatan prenatal yang berkualitas
 Pemberian ZDV (zidovudine)

100 bayi terlahir pada ibu HIV+ 60-75 bayi


yang menyusui, tanpa intervensi: HIV-

5-10 bayi ±15 bayi 5-15 bayi


terinfeksi terinfeksi terinfeksi
dalam waktu lahir melalui ASI
kandungan

25-40 bayi terinfeksi HIV

Gambar Penularan HIV dari Ibu ke Bayi

H. PERAWATAN PASIEN HAMIL DENGAN HIV


1. Prinsip: pemeriksaan HIV merupakan bagian dari pemeriksaan antenatal yang
bersifat sukarela.
2. Konseling adalah bagian penting dari perawatan bagi penderita HIV.
3. Strategi perawatan bagi ibu hamil berbeda dengan strategi perawatan pada ibu
tidak hamil.
4. Tujuan terapi:
o Menekan jumlah virus
o Restorasi dan preservasi fungsi imunologis
5. Pada pasien tidak hamil, terapi ditawarkan bila jumlah CD4+ 350 sel/mm3atau
kadar HIV RNA plasma > 55.000 kopi/mL.
6. Pada wanita hamil, terapi harus lebih agresif oleh karena penurunan kadar RNA
sangat penting dalam penurunan transmisi perinatal tanpa memperhitungkan
kadar CD4+ atau kadar HIV-RNA plasma.

PENCEGAHAN OLEH DOKTER

1. Fokus pencegahan adalah pada PMS (Penyakit Menular Seksual).


2. Lakukan Pap smear.
3. Berikan vaksi hepatitis B.
4. “Sex aman”
5. Zidovudine 100 mg 5 kali sehari tanpa memperhitungkan kadar CD4+.
6. Berikan vaksin pneumovax.
7. Sulfa-trimethoprim diberikan bila kadar CD4+ < 200 sel/mm3 untuk mencegah
infeksi dari pneumonia pneumocystis carinii.
8. Berikan vaksin influenza pada bulan September – Maret.

PERAWATAN PRENATAL OLEH DOKTER

1. Dokter harus memiliki kecurigaan tinggi atas kejadian PMS dan infeksi
oportunistik pada penderita HIV-AIDS.
2. Pada populasi penderita HIV, kejadian Intra Uterine Growth Restriction (IUGR)
tinggi sehingga perlu dilakukan pemeriksaan periodik menggunakan USG.
3. Hitung kadar CD4+ setiap semester.
4. Kolposkopi bila hasil Pap smear abnormal.
5. Pemeriksaan prenatal umum harus dilakukan seperti biasa.
PERAWTAN INTRA PARTUM

1. Zidovudine intravena diberikan saat awal persalinan dengan dosis 200 mg i.v
selama 1 jam dan kemudian 100 mg/jam sampai anak lahir.
2. Hindari tindakan intrapartum yang menyebabkan janin terpapar secara langsung
dengan darah ibu/
3. Secsio Caesarea menurunkan angka kejadian penularan ibu ke anak.
4. Pasien hamil dengan CD4+ < 200 sel/mm3 memiliki resiko penularan lebih tinggi
bila persalinan berlangsung lebih lama (> 12 jam).

PERAWATAN PASCA PERSALINAN

1. Ditempatkan di ruang terpisah untuk menurunkan kemungkinan penularan ke


penderita lain.
2. Konsultasi mendenai pilihan kontrasepsi, IUD tidak boleh digunakan karena
status imuno-depresi akan mempermudah terjadinya infeksi panggul.
3. Kontrasepsi pilihan: sterilisasi tuba, kontrasepsi oral, Depo-provera, Norplant, dan
kondom.
4. Pengaturan jadwal tindak lanjut ibu dan anak.

I. PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK

Estimasi remaja dan anak-anak yang terinfeksi HIV pada akhir tahun 2007adalah
sebesar 33,2 miliar orang di dunia. Transmisi maternal ke janin atau bayi dapat dicegah
bila terdeteksi melalui VCT atau penapisan, perilaku yang terkendali baik mengenai obat,
ANC, maupun pencegahan infeksi, melakukan pemilihan cara melahirkan, pemlihan ASI
atau PASI, pemantauan bayi sampai balita, dan mendapatkan dukungan serta perhatian.
Transmisi HIV 1 dan HIV 2 memiliki kesamaan rute penularan dari ibu ke janin/ bayi,
namun HIV 2 (< 10%) jauh lebih rendah daripada HIV 1 (30%). Resiko transmisi akan
meningkat apabila terjadi kerusakan membran dan CD4 yang rendah.

Pada negara berkembang, 10-20% berkembang menjadi AIDS selama kurang dari 1
tahun karena dari penelitian yang dilakukan selama 10 tahun, hampir 50% Ibu tidak
minum ARV. Hal ini menyebabkan 80% kematian bayi di bawah umur 2 tahun. Apabila
gejala pada tahun pertama terdeteksi, maka akan meningkatkan umur survival bayi
kurang lebih 3 tahun. Epidemiologi penularan dapat terjadi secara vertikal (95%) melalui
saluran plasenta (10%), proses melahirkan (60%), dan pemberian ASI (30%), sexual
abuse, transfusi darah, dan keadaan yang tidak dapat dijelaskan seperti kesiapan alat
pelindung diri perawat, infeksi nosokomial, pengganti ASI, serta penyalahgunaan ilmu
dalam seksual.

Faktor resiko penularan HIV dari Ibu ke anak ada dua jenis, yaitu maternal dan
obstetrik. Pada maternal yaitu viral load yang tinggi (> 5000 copies/ml), karakterisktik
virus, CD4 < 200/t, defisiensi imun, infeksi virus, bakteri, parasit, defisiensi vitamin A,
dan banyak pasangan seksual. Sedangkan pada faktor obstetrik yaitu kelahiran
pervaginam, ketuban pecah dini yang terbengkalai, perdarahan intrapartum,
korioamnionitis, prosedur invasif, dan dari segi bayi yaitu prematur, BBLR, ASI, dan
luka di mulut bayi. Tingkat penerimaan plasma darah HIV RNA berhubungan dengan
transmisi kehamilan seperti pada data yang disajikan oleh Women and Infants
transmission study 1990-1939 yang menunjukkan peningkatan dari 1-35%.

Strategi pencagahan transmisi maternal ke janin yaitu dengan mengurangi jumlah


Ibu hamil dengan HIV (+) melalui kontrasepsi dan pemilihan pasangan, turunkan viral
load serendah-rendahnya melalui terapi ARV, hidup sehat, dan menggunakan kondom,
meminimalkan paparan janin/ bayi dengan cairan tubuh maternal melalui kelahisan
dengan cara operasi dan menggunakan pengganti ASI, serta optimalkan kesehatan bayi
dengan ibu HIV (+) dengan pemberian ARV dan pemantauan bayi yang beresiko.

CD4 < 350 sel/mm memiliki presentasi transisi paling besar yaitu 41%
dibandingkan dengan CD4 > 350 sel/mm yaitu 20%. Akibat dari model penerimaan
tersebut yaitu pada pembedahan cesar, transmisinya lebih kecil (5,7%) dibandingkan
dnegan kelahiran normal (20%). Operasi sesar merupakan tindakan untuk melindungi diri
yang memadai karena dapat mencegah infeksi, air ketuban tidak mengenai bayi, tidak
menggunakan vakum/foresep, dapat menghisap lendir, dan memilihi cara gunting tali
pusat yang berbeda.
Hubungan antara infeksi dini dan infeksi terlambat pada bayi dengan HIV yaitu
pada infeksi dini umur bayi kurang dari 2 b ulan dapat dideteksi bila terdapat viral load,
kelahiran normal, CD4 43000, mastitis, dan bisul pada puting susu. Bayi yang terinfeksi
HIV melalui kelahiran normal terjadi melalui transmisi ke mukosa intestinal bayi.
Dampak pada proses menyusui yaitu bahwa pemberianASI pada umur 12-24 bulan yaitu
32,3-36,7% untuk terinfeksi daripada pemberian susu formula (18,2-20,5%). Probabilitas
transmisi HIV 1 mealaui air susu yaitu 0,00064/L dan 0,00028/hari dari proses menyusui.
Satu bayi akan terinfeksi bila mendapat asi 1500L dan 10 dari 100 anak pertahunnya
yang mendapat ASI akan terinfeksi. Semakin lama menyusui, semakin besar resiko
penularannya.

Transmisi vertikal hanya dapat terjadi melalui proses menyusui karena dalan asi
mengandung antibodi dan vaksin yang dapat masuk kedalam tubuh bayi. Proses
terjadinya secara pasti belum dapat diketahui dengan jelas. Namun virus HIV dalam
darah akan masuk ke ASI sehingga bayi akan tertular HIV melalui jaringan mukosa yang
terbuka, jaringan limfa, luka dimulut, dan usus. Meskipun masa menyusui bayi dapat
mengkonsumsi >1500 viron maka lebih dari 25000 sel dapat terinfeksi perhari, sebagian
besar menjadi tidak terinfeksi. Faktor resiko transmisi setelah melahirkan adalah
kesehatan payudara sang ibu. Hal ini ditandai dengan adanya sub klinikal penyakit
mastitis yang menyebabkan viral load tinggi pada payudara ibu. Mastitis berhubungan
dengan meningkatnya resiko pada post natal. Luka pada puting susu dan bisul dada juga
berhubungan dengan meningkatnya transmisi.

Keuntungan menusui yaitu menyediakan banyak nutrisi yang sehat, mudah dicerna,
sedikit alergi pada bayi, memberikan proteksi dari penyakit infeksi sepeti diare dan
pneumoni, infeksi bayi pada proses melahirkan lebih rendah, membantu proses
melahirkan sela njutnya, dan biaya murah. Namun kekurangannya pada ibu HIV (+)
yaitu dapat terjadi transmisi HIV dan penyakit infeksi lainnya seperti sitomegalovirus.

ASI dapat digantikan tapi memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya yaitu
tidak terjadi transmisi HIV dan penyakit infeksi lainnya. Sedangkan kekurangannya yaitu
meningkatkan penyakit diare, alergi, dan in toleran terhadap susu, malnutrisi, dan tidak
mendapatkan efek kontrasepsi karena tidak menyusui. Rekomendasi yang diberikan
WHO/ UNICEF/ UNAIDS melalui petunjuk penyusuan bayi yaitu ketika penyusuan
dapat dilakukan, dapat terjadi, dapat diterima secara berkesinambungan dan aman maka
untuk semua proses menyusui diperbolehkan. ASI adalah sebuah pilihan yang dapat
dilakukan selama 4-6 bulan dan setelah itu penghentian pemberian ASI harus dilakukan
secepatnya. Penghentian pemberian ASI dilakukan saat bayi berumur 6 bulan, mengganti
nutrisi alami dengan makanan yang tinggi energi, protein, mikronutrien, kalsium, dan
ditambah susu. Selain itu juga perlu dilakukan konseling untuk menyediakan pelayana
dan perhatian yang berjalan untuk ibu dan bayi.

J. UPAYA PMTCT UNTUK IBU HAMIL

Dalam upaya PMTCT terdapat empat skenario yang dapat dilakukan dan akan
disesuaikan dnengan keadaan ibu. Pada skenario pertama dibagi menjadi 2 jenis yaitu
skenario 1 bila sudah ada indikasi ARV untuk Ibu (ODHA sudah masuk stadium AIDS
atau CD4<350 sel/uL). ARV akan diberikan setelah trimester 1 (minggu 12-14) paling
lambat minggu 36 yang selanjutnya dilakukan konseling ARV untuk penggunaan seumur
hidup dengan regimen AZT (Buviral) dan NVP (Neviral). Pemantauan dilakukan dnegan
mengukur Hb/ 2 minggu penggunaan dan fungsi hati setiap 2 minggu untuk memantau
hepatotoksisitas akibat NVP dan akibat erupsi alergi obat NVP. Pada masa intrapartum
ibu mendapat AZT dengan dosis obat lain seperti biasa. Persalinannya seksio dan bayi
pasca persalinan tidak mendapat ASI. Bayi juga mendapat AZT mulai usia 6 jam sampai
6 minggu dan NVP dosis tunggal pada usia 48-72 jam.

Pada skenario pertama yang kedua yaitu dimana ibu belum diindikasikan
menggunakan ARV, ODHA sudah masuk stadium AIDS atau CD4<350sel/uL yaitu
dilakukan konseling pemberian obat AZT dimulai pada minggu ke 28 maksimal minggu
ke 36, pemantauan dengan pemeriksaan Hb per 2 minggu untuk memantau anemia
karena AZT, pada fase intrapartum ibu mendapat AZT per 3 jam, dan NVP, dan
persalinan dilakukan secara sesar. Pasca persalinan, bayi tidak mendapat ASI dan
mendapat pengobatan ARV AZT per 6 jam mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP
dosis tunggal pada usia 48-72 jam. Ibu juga mengguanakan ARV selama 7 hari setelah
itu dihentikan. Selain itu juga harus dilakukan pemantauan CD4 setiap 3 bulan setelah
melahirkan.

Pada skenario dua, yaitu ODHA hamil menddapat ARV dan hamil dilakukan
dnegan melanjutkan terapi ARV dan sebaiknya ditambah AZT, lalu diberikan konseling
tentang keuntungan dan resiko ARV pada trimester pertama. Pada skenario 3 yaitu
ODHA hamil yang datang pada saat persalinan dan belum mendapat ARV yaitu pada
fase intrapartum, ibu diberikan AZT per 3 jam, persalinan dilakukan secara sesar. Pasca
persalinan, bayi tidak mendapat ASI dan mendapat pengobatan ARV AZT per 6 jam
mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP dosis tunggal pada usia 48-72 jam. Pada fase
post partum ibu diberikan ARV selama 7 hari dan sesudah itu ARV dihentikan. Segera
setelah persalinan, ibu menjalani pemeriksaan seperti CD4 untuk menentukan apakah
ARV akan dilanjutkan seumur hidup. Berbeda dengan skenario 4 yaitu ketika bayi dari
ibu ODHA datang dalam keadaan post partum dan tidak minum mARV selama
kehamilan, bayi tidak mendapatkan ASI dan diberikan AZT per 6 jam mulai usia 6 jam
sampai 6 minggu dan NVP dosis tunggal pada usia 48-72 jam. Selainitu ibu menjalani
pemeriksaan CD4 dan pemeriksan skrining infeksi oportunistik untuk mementukan
pengobatan selanjutnya dan apakah sudah mempunyai indikasi penggunaan ARV.

K. DIAGNOSIS HIV PADA BAYI

Diagnosis HIV pada bayi dinyatakan sebagai positif viral load terdeteksi sebanyak
400 kopi, dan diagnosis negatif apabila dalam 2 kali pemeriksaan viral load tidak
terdeteksi dan dikonfirmasi dengan pemeriksaaan anti HIV ELISA tiga kali dengan
reagen yang berbeda pada usia 18 bulan. Bayi berusia lebih dari 18 bulan dilakukan
pemeriksaan anti HIV ELISA 3 kali dengan reagen berbeda seperti pada ibu.

L. PENCEGAHAN PENULARAN HIV PADA PEREMPUAN USIA REPRODUKTIF

Terdapat 4 langkah dalam pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduktif
yang disingkat dengan “ABCD”, yaitu:
1. A adalah Abstaince, yaitu tidak melakukan hubungan seks bagi orang yang belum
menikah
2. B adalah Be Faithful, yaitu bersikap saling setia hanya pada 1 pasangan seks (tidak
berganti-ganti pasangan)
3. C adalah Condom, yaitu untuk mencegah penularan HIV yang terjadi melalui
hubungan seksual dengan menggunakan kondom bila salah satu dari pasangan
tersebut diketahui terinfeksi HIV
4. D adalah Drug no, yaitu tidak menggunakan narkoba yang dapat menjadi alur
transmisi HIV.
Daftar pustaka

1. Cunningham FG, Gant NF, Lereno KJ, Gilstrap III LC, Hanth JC, Wenstrom KD.
Editors. Infections. In : William obstetric. 21 st ed. New York: Mc Graw-Hill; 2001

2. Judarwanto W. HIV Mengancam anak Indonesia. Available from :


Http://www.depkes.com. Accessed March 18th,2006