You are on page 1of 69

A.

Anatomi

GINJAL

1.1 Pengertian
Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip
kacang. Sebagai bagian dari sistem urine, ginjal berfungsi menyaring kotoran
(terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam
bentuk urin. Cabang dari kedokteran yang mempelajari ginjal dan penyakitnya
disebut nefrologi.

Ginjal berjumlah 2 buah, berat + 150 gr (125 – 170 gr pada Laki-laki, 115
– 155 gr pada perempuan); panjang 5 – 7,5 cm; tebal 2,5 – 3
cm.Letakretroperitoneal sebelah dorsal cavum abdominale, ginjal kiri bagian
atas V.Lumbal I, bagian bawah V.Lumbal IV pada posisi berdiri letak ginjal
kanan lebih rendah.

ii
Ginjal mempunyai beberapa fungsi yaitu :
1. Mengatur volume cairan dalam tubuh
Kelebihan cairan dalam tubuh dikeluarkan sebagai urine encer dalam jumlah
besar.Kekurangan air atau kelebihan keringat menyebabkan urine
diekskresikan lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat
dipertahankan relative normal

2. Mengatur Keseimbangan osmotic dan keseimbangan ion


Ini terjadi jika plasma terdapat pemasukan atau pengeluaran abnormal dari
ion ion.Akibat pemasukan garam atau penyakit ginjal akan meningkatkan
eksresi ion ion penting urine : Na, K, Cl, Ca dan Fosfat.
3. Mengatur keseimbangan Asam basa dalm tubuh
Hal ini terjadi karena makanan yang dimakan.Apabila banyak makan
sayur urine akan basa.Jika asam terjadi karena campuran makanan.
4. Ekskresi sisa sisa hasil metabolisme
Bahan bahan yang diekskresikan oleh ginjal antara lain zat
toksik,obat,hasil metabolism hemoglobin dan bahan kimia.
5. Fungsi hormonal dan metabolisme
Ginjal akan mengeksresikan hormone rennin yang berfungsi dalam
mengatur tekanan darah.Serta hormone dihidroksi kolekalsifenol atau
vitamin D aktif untuk absorbs ion kalsium dalam usus.
6. Pengatur tekanan darah
Memproduksi enzim rennin,angiotensin dan aldosteron untuk mengatur
tekanan darah.
7. Pengeluaran zat beracun
Ginjal mengeluarkan polutan dan bahan kimia asing dari tubuh.

ii
1.2 Sistema Urinaria

1. Fisiologi Ginjal
a) Korteks renalis
Merupakan bagian luar Ginjal yang berwarna merah coklat terletak langsung
dibawah kapsula fibrosa dan berbintik bintik.Bintik bintik pada korteks renalis
karena adanya korpuskulus renalis dari Malphigi yang terdiri atas Kapsula
Bowmann dan Glomerulus.
1) Kapsula Bowmann
Kapsula Bowmann merupakan permulaan dari saluran ginjal yang meliputi
Glomerulus
2) Glomerulus
Glomerulus merupakan anyaman pembuluh pembuluh darah pada ginjal.Secara
fisiologis pada bagian Glomerulus terjadi filtrasi darah untuk mengeluarkan zat
zat yang tidak digunakan oleh tubuh.

ii
3) Tubulus renalis
Tubulus renalis merupakan bagian korteks yang masuk kedalam medula di antara
priramida renalis,sering disebut kolumna renalis.

a) Medula renalis
Medula renalis terletak dekat hilus,sering terlihat garis aris putih karena adanya
saluran yang terletak di piramida renalis.Tiap piramida renalis mempunyai
basis yang menjurus ke arah korteks dan apeksnya bermuara kedalam kaliks
miror sehingga menimbulkan tonjolan yang dinamakan papila renalis yang
merupakan dasar sinus renalis.Jaringan medula dari piramida renalis ada yang
menonjol masuk ke dalam jaringan korteks disebut fascilus radiatus ferreini.
1) Lengkung henle
2) Dukstus koligentes
3) Duktus Bellini/Duktus papilaris

1.3 Fisiologi Ureter


Ureter adalah saluran untuk urine yang berasal dadi ginjal (melalui pelvis
renalis) ke vesika urinaria (buli-buli). Saluran ureter dibagi atas dua bagian, yaitu :
pars abdominalis (pada dinding dorsal abdomen ) dan pars pelvina (pada dinding
pelvis).
1. Pars Abdominalis

Secara anatomi , pars abdominalis panjangnya kurang lebih 25-35 cm.


Terletak turun ke bawah ventral dari tepi medial muskulus spoas mayor yang
memisahkan dari ujung prosesus transvesus vertebra lumbalis 2-5 dan merupakan
lanjutan dari pelvis renalis yang terletak dorsal dari vasa renalis. Ureter dextra
berjalan dorsal dari pars desenden duodeni, arteri spermatika interna, arteri kolika
dextra, dan arteri iliokolika serta berada di sebelah kanan vena kava inferior.
Ureter sinistra berjalan dorsal dari arteri spermatika interna, arteri kolika sinistera,
dan kolon sigmoid.

ii
2. Pars Pelvica

Setelah masuk ke dalam kavum pelvis, ureter berjalan ke kaudal pada


dinding lateral pelvis yang tertutup oleh peritoneum. Mula-mula terletak ventro –
kaudal dari arteri venous iliaka interna kemudian menyilang medial dari (korda)
arteri umbinikalis dan arterivananervus obturatoria. Pada tempt yang setinggi
spina iskiadika ia membelok ke arah ventro medial, kemudian mencapai bagian
dorsal vesika urinaria kurang lebih setinggi 4 cm kranial dari tuberkulum
pubikum.

1.4 Fisiologi Vesica Urinaria

a) Mukosa

Mukosa merupakan jaringan ikat kedur sehingga dalam keadaan kosong mukosa
vesika urinaria membentuk lipatan-lipatan yang disebut sebagai Rugae vesikae.
Rugae ini menghilang bila vesika urinaria terisi penuh sehingga mukosanya
tampak licin.

b) Submukosa

Submukosa terdiri atas jaringan ikat kendur dengan serabut-serabut elastis kecuali
pada trigonum lieutodidi mana mukosanya melekat erat pada jaringan otot di
bawahnya.

c) Muskularis

Lapisan muskularis terdiri atas jaringan otot polos dengan jaringan ikat fibrous di
antaranya. Tebalnya tergantung dari vesika urinaria. Otot-otot ini semua
dinamakan muskuli detrussor. Pada trigonum lieutodi jaringan ototnya adalah
lanjutan dari stratum longitudinalis ureter, sedangkan tonus interureterikus
dibentuk di stratum sirkularis yang mengelilingi ureter. Muskularis vesika urinaria
tersusundari tiga lapisan. Lapisan paling luar berjalan longitudinal menebal pada
daerah kollum melanjutkan diri ke prostat (pada pria) dan ke uretra plika

ii
rektovesikalis, plika pubovesikalis (pada wanita). Lapisan tengah berjalan sirkular
dan paling tipis di antara dua lapisan sebelumnya.

1.5 Fisiologi Uretra


a) Uretra Pria
Uretra pada pria merupakan saluran fibromuskular untuk jalan urine dari vesika
urinaria keluar dan juga untuk jalan keluar sekret dari vesikula seminalis, glandula
prostata, dan glandula bulbo uretralis serta spermatozoa. Uretra pria lebih panjang
dari pada uretra wanita. Panjangnya kurang lebih 20 cm di mulai dari kallum
vesikae menembus kelenjar prostat difragma urogenital, kemudian melalui korpus
spongiosum penis berakhir di glans penis.
1. Pars Prostatika Uretrae

Pars prostatika uretrae adlah bagian dari uretra yang melalui prostat dimn
lumennya paling lebar dan palig elastis. Panjangnya kurang lebih 3cm, bentuknya
fusiformis, dan alam keadaan kosong dinding anterior dan posterior saling
berdekatan. Pad dinding posterior (bagian dalam) terdapat beberapa sruktur,
diantaranya sebagai berikut.
a. Krista uretralis : merupakan tonjolan memanjang dari mukosa
dinding dorsal di bagian medial ke arah kranial berhubungan
dengan uvula vesikae ke kaudal berhubungan dengan pars
membranasea uretrae.

b. Kolikus seminalis (verumontanum) : merupakan pelebaran krista


uretralis kira-kira pada pertengahannya.

c. Urtikulus protatikus (vagina maskulina) : lubang pada puncak


kollikulus seminalis yang sebetulnya merupakan muara dari
suatu suatu saluran yang berhubungan dengan lobus medius
prostat. Bagian ini homolog pada bagian vagina pada wanita.

d. Hiatus ejakulatorius : muara dektus ejakulatoris terdapat sebelah


kanan dan kiri urtikulus prostatikus (sedikit lebih distal).

ii
e. Sinus prostatikus : celah di sebelah kanan dan kiri krista uretralis.
Disini terdapat lubang-lubang orifisium dari granula prostata.

2. Pars membranasea uretra

Pars membranasea uretrae dimuali dari apeks prostat sampai setinggi


bulbus penis. Bagian ini adalah bagian uretra waktu menembus diafragma U.G.,
dan merupakan bagian yang pendek (panjang 2cm). Letak pars membranacea
uretrae 2 cm dorsal dari simfisis pubis. Pada bagisn ini terdapat muskulu sfingter
uretra eksternum. Kaudal dari difragma urogenitalis dinding posterior uretra
berhubungan dengan bulbus penis.

3. Pars kavernosa uretrae

Letaknya didalam korpus spongiosum penis berjalan melalui bulbus


korpus dan glans penis (pars navikularis) lumen uretra melebar pada bulbus (fossa
intrabulbar) dan pada glandula (fossa navikularis). Pada dinding ventralnya
bermuara duktuli dari glandula bulbouretralis kaudal dari difragma urogenitalis.

Vaskularisasi. Vaskularisasi arteri uretra pria dintaranya arteri haemorrhoidalis


media, arteri vesikalis kaudalis , arteri bulbi penis, dan arteri uretralis.
Vaskularisasi vena uretra pria berjalan melalui pleksus vesikopudendalis dialirkan
ke vena pudendalis inerna.nodus limfa iliaka interna dan eksterna. Dari pars
spongiosa ke nodus limfa inguinalis dan limfa iliaka eksterna.

Uretra Wanita
Uretra wanita lebih pendk dari pada uretra pria, memiliki panjang 4 cm berjalan
ke ventrokaudal mulai dari ofisium uretrae internum (pada kolum vesicae) sampai
pada vesicae uretrae eksternum pada vestibulum vaginae (antara intoitus vaginae
dan klitoris).
Bagian dalam adalah mukosa dimana terdapat lubang-lubang glandula uretralis
(lakuna uretralis)dan di bagian kaudalnya terdapat duktus parauretralis (homolog

ii
dengan prostat) yang bermuara pada sisi kanan dan kiri ofisium uretra eksrernum.
Lapisan luar adalah muskularis bagian kranial/proksimal sirkular (pada kollum
vesikae). Stratum longitudinalis dari vesika urinaria ikut memperrkuat bagian ini.
Bagian tengah erdiri atas jaringan otot plos yang bergaris yang berasal dari
muskulus pubovaginalis. Bagian distal tidak ada jaringan ototnya.

Vaskularisasi. Vaskularisasi arteri uretra wanita pada bagian kranial/proksimal


dari arteri vesikalis inferior, bagian tengah dari arteri vesikalis inferior dan arteri
uterina, serta bagian distal masuk dari arteri pudendalis interna. Vaskularisasi
vena uretra wanita masuk ke dalam pleksus venous vesikalis pudendalis interna.

Aliran limfa. Aliran limfa uretra pada wanita mengikuti arteri pudendalis interna
ke nodus limfa iliaka interna dan eksterna.

1.6 Sirkulasi pada Ginjal (Tahap Pembentukan Urine)


1. Filtrasi
Proses ini terjadi di glomerulus. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai
Bowman. Cairan tersebut tersusun oleh urea, glukosa, air, ion-ion anorganik
seperti natrium kalium, kalsium, dan klor. Darah dan protein tetap tinggal di
dalam kapiler darah karena tidak dapat menembus pori–pori glomerulus.Cairan
yang tertampung di simpai Bowman disebut urine primer. Selama 24 jam
darah yang tersaring dapat mencapai 170 liter.Penyaringan di glomerulus disebut
filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium,
kalium, dan garam-garam lainnya
2. Reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar
glukosa,natrium,klorida, fosfat, dan ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif
yang dikenal denga obligator reabsorbsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada
tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan natrium dan ion
bikarbonat. Bila diperlukan akan diserap kembali ke dalam tubulus bagian bawah.

ii
Penyerapanya terjadi secara aktif dikenal dengan reabsorbsi fakultatif dan sisanya
dialirkan pada papila renalis.

3. Sekresi
Sisanya penyerapan urine kembali yang pada tubulus dan diteruskan ke piala
ginjal selanjutnya diteruskan ke ureter masuk ke vesika urinaria.
4. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di
tubulus kontortus distal. Urine yg telah terbentuk (urine sekunder), dari tubulus
kontortus distal akan turun menuju saluran pengumpul (duktus
kolektivus), selanjutnya urine dibawa ke pelvis renalis. Dari pelvis renalis, urine
mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan
tempat penyimpanan sementara bagi urine. Jika kantong kemih telah penuh terisi
urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air
kecil. Urin akan keluar melalui uretra. Komposisi urine yang dikeluarkan meliputi
air, garam, urea, dan sisa substansi lainnya seperti pigmen empedu yang berfungsi
memberi warna dan bau pada urine. Warna urine setiap orang berbeda dan
biasanya dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi, aktivitas yang
dilakukan, ataupun penyakit. Warna normal urine adalah bening hingga kuning
pucat

Pemekatan Urine
Apabila permeabilitas terhadap air tinggi, maka sewaktu bergerak ke bawah
melalui interstisium yang pekat, air akan berdifusi keluar duktus pengumpul dan
kembali ke dalam kapiler peritubulus. Hasilnya adalah penurunan ekskresi air dan
pemekatan urin. Sebaliknya apabila permeabilizas terhadap air rendah, maka air
tidak akan berdifusi keluar duktus pengumpul melainkan akan diekskresikan
melalui urin, urin akan encer.
Permeabilizas duktus pengumpul terhadap air ditentukan oleh kadar hormone
hipofisis Posterior, hormon antidiuretik (ADH), yang terdapat di dalam darah.
Pelepasan ADH dari hipofisis posterior meningkat sebagai respons terhadap
penurunan tekanan darah atau peningkatan osmolalitas ekstrasel (penurunan

ii
konsentrasi air). ADH bekerja pada tubulus pengumpul untuk meningkatkan
permeabilizas air. Apabila tekanan darah rendah, atau osmolalitas plasma tinggi,
maka pengeluaran ADH akan terangsang dan air akan direasorbsi ke dalam
kapiler peritubulus sehingga volume dan tekanan darah naik dan osmolalitas
ekstrasel berkurang. Sebaliknya, apabila tekanan darah terlalu tinggi atau cairan
ekstrasel terlalu encer, maka pengeluaran ADH akan dihambat dan akan lebih
banyak air yang diekskresikan melalui urin sehingga volume dan tekanan darah
menurun dan osmolalitas ekstrasel meningkat. (Corwin, 2000).

2.5 Hormon pada Ginjal


1. Hormon yang bekerja pada Ginjal
a) Hormon antidiuretik ( ADH atau vasopressin )
Merupakan peptida yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis
posterior, hormon ini menngkatkan reabsorbsi air pada
duktus kolektifus.
b) Aldosteron
Merupakan hormon steroid yang diproduksi oleh korteks
adrenal, hormon ini meningkatkan reabsorbsi natrium pada
duktus kolektivus.
c) Peptida Natriuretik ( NP )
Diproduksi oleh sel jantung dan meningatkan ekskresi
natrium pada duktus kolektivus.
d) Hormon paratiroid
Merupakan protein yang diproduksi oleh kelenjar
paratiroid, hormon ini meningkatkan ekskresi fosfat, reabsorbsi
kalsium dan produksi vitamin D pada ginjal.

2. Hormon yang dihasilkan Ginjal


a) Renin

ii
Merupakan protein yang dihasilkan oleh apparatus
jukstaglomerular, hormon ini menyebabkan pembentukan
angiotensin II. Angiotensin II berfungsi langsung pada tubulus
proximal dan bekerja melalui aldosteron ada tubulus distal. Hormon ini
juga merupakan vasokonstriktor kuat.
b) Vitamin D
Merupakan hormon steroid yang dimetabolisme di ginjal, berperan meningkatkan
absorbsi kalsium dan fosfat dari usus.
c) Eritropoeitein
Merupakan protein yang diproduksi di ginjal, hormon ini meningkatkan
pembentukan sel darah merah di sumsum tulang.
d) Prostaglandin
Diproduksi di ginjal, memiliki berbagai efek terutama pada tonus pembuluh darah
ginjal.

ii
KULIT

Anatomi dan Fisiologi Kulit

Kulit Kulit dibagi 3 lapisan yaitu epidermis, dermis dan


hypodermis. Berikut gambar lapisan kulit

Gambar 1 : Kulit

ii
a. Lapisan Kulit Epidermis Epidermis sering kita sebut sebagai kulit luar. Kulit
luar ini jika dikumpulkan akan menjadi organ terbesar dari tubuh. Luas
permukaannya sendiri adalah sekitar 18 meter persegi. Epidermis memiliki
beberapa lapisan yang mengandung empat jenis sel. Jenis sel pertama disebut
keratinosit (memproduksi keratin, yaitu protein yang memberikan
kekuatan, fleksibilitas, dan anti air); jenis sel kedua dinamakan
melanosit (memproduksi melanin, yaitu pigmen gelap yang mem-berikan
warna kulit); jenis sel ketiga disebut sel Merkel yang berkaitan dengan indra
sentuhan); dan jenis sel keempat dinamakan sel Langerhans (membantu
sistem kekebalan tubuh). Sesuai dengan anatomi fisiologi sistem integumen,
lapisan terdalam dari epidermis adalah lapisan basal. Lapisan ini merupakan
lapisan sel tunggal yang menempati membran dasar (lapisan antara dermis
dan epidermis). Lapisan berikutnya adalah lapisan stratum spinosum. Stratum
spinosum terdiri atas sel-sel bergranul (sel kasar). Setelah lapisan stratum
spinosum dalam anatomi fisiologi sistem integumen bagian epidermis ini
terdapat stratum granulosum, yaitu lapisan yang juga bergranul dan lebih
kasar. Kemudian terdapat stratum lucidum yang berfungsi sebagai pelindung
terhadap kerusakan akibat sinar ultraviolet. Lapisan lucidum menurut anatomi
fisiologi sistem integumen hanya ada di daerah yang sering digunakan seperti
telapak tangan dan telapak kaki. Selain itu, dalam anatomi fisiologi sistem

ii
integumen bagian epidermis ini juga masih terdapat lapisan paling luar dari
epidermis yang disebut stratum corneum, yaitu lapisan sel-sel mati yang
membuat kulit elastis dan berfungsi sebagai pelindung sel-sel dasar yang
kering. Berikut gambar lapisan epidermis

Gambar 2 – struktur epidermis

ii
b. Lapisan Kulit Dermis Masih membahas anatomi fisiologi sistem integumen
bagian kulit, Lapisan kulit kedua dinamakan dermis. Dermis adalah lapisan
kulit yang berada di bawah epidermis. Penyusun utama dari dermis adalah
kolagen (protein penguat), serat retikuler (serat protein yang berfungsi
sebagai penyokong), dan serat elastis (protein yang berperan dalam
elastisitas kulit). Jenis lapisan kulit dermis terdiri atas dua macam, yaitu
lapisan papiler (lapisan jaringan ikat longgar) dan lapisan retikuler (lapisan
jaringan ikat padat). Kedua lapisan ini sangat sulit untuk dibedakan.

ii
Gambar 3 : Lapisan jaqringan ikat longgar & jaringan padat

di dalam lapisan kulit dermis terdapat:

1) Kelenjar keringat (yang berfungsi sebagai penghasil keringat untuk pencegah


kulit kering dan juga pengatur suhu tubuh)

2) Kelenjar minyak (yang berfungsi dalam menghasilkan minyak yang berperan


sebagai pelindung kulit dari kekeringan)

3) Folikel rambut (bagian akar rambut yang merupakan tempat membelahnya sel-
sel rambut)

4) Hipodermis atau subkutan (bagian kulit yang paling bawah), dan

5) Saraf-saraf penerima rangsang sentuhan (yang berfungsi sebagai sensor


penerima rangsang sentuhan yang kemudian akan dikirimkan ke
otak). Di dalam dermis juga terdapat jaringan lemak yang
merupakan tempat cadangan energi padat yang sewaktu-waktu

ii
digunakan tubuh untuk beraktivitas (ketika di dalam tubuh tidak ada
glukosa).

6) Lapisan kulit hipodermis (subkutis) lapisan kulit hipodermis adalah jaringan


ikat di bawah kulit yang mengandung jaringan lemak, pembuluh darah dan
limfia, serta saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit. Fungsi jaringan
ini sebagai penahan terhadap benturan ke organ tubuh bagian dalam, memberi
bentuk pada tubuh, mempertahankan suhu tubuh dan sebagai tempat
penyimpan cadangan makanan.

Berikut ini gambar hipodermis

ii
SISTEM PERNAFASAN

Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan

Pada Manusia Pernapasan adalah proses pertukaran gas yang berasal dari
makhluk hidup dengan gas yang ada di lingkungan sekitarnya. Respirasi adalah
proses pembakaran bahan makanan menggunakan oksigen sehingga diperoleh
energi dan gas sisa pembakaran berupa karbon dioksida. Proses respirasi yang
menggunakan oksigen disebut dengan respirasi aerob, sedangkan proses respirasi
yang tidak menggunakan oksigen disebut respirasi anaerob. Alat pernapasan
pada manusia terdiri dari hidung, tekak (Faring), pangkal tenggorokan (Laring),
tenggorokan (Trakea), cabang tenggorokan (Bronkus), dan paru-paru (Pulmo).

Dalam pernapasan selalu terjadi dua siklus, yaitu inspirasi (menhirup udara)
dan ekspirasi (menghembuskan udara). Berdasarkan cara melakukan inspirasi dan
ekspirasi, serta tempat terjadinya, manusia dapat melakukan dua mekanisme
pernapasan, yaitu pernapasa n dada dan pernapasan perut.

Mekanisme inspirasi pernapasan dada sebagai berikut: Otot antar tulang


rusuk (Muskulus intercostalis) berkontraksi -- tulang rusuk terangkat (posisi

ii
datar) -- paru-paru mengembang -- tekanan udara dalam paru-paru menjadi
lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar --udara luar masuk ke paru-paru.

Mekanisme ekspirasi pernapasan dada adalah sebagai berikut: Otot antar


tulang rusuk (Muskulus intercostalis) relaksasi -- tulang rusuk menurun --
paru-paru menyusut -- tekanan udara dalam paru-paru lebih besar dibandingkan
dengan tekanan udara luar -- udara keluar dari paru-paru.

Mekanisme inspirasi pernapasan perut sebagai berikut: Diafragma


berkontraksi -- posisi dari melengkung menjadi mendatar -- paru-paru
mengembang -- tekanan udara dalam paru-paru lebih kecil dibandingkan
tekanan udara luar -- udara masuk ke paru-paru

Mekanisme ekspirasi pernapasan perut sebagai berikut: Diafragma relaksasi --


posisi dari mendatar kembali melengkung --paru-paru mengempis -- tekanan
udara di paru-paru lebih besas dibandingkan tekanan udara luar -- udara keluar
dari paru-paru.

ii
Mekanisme Pertukaran O2 dan CO2 : Udara yang dihirup mengandung
oksigen dan juga gas-gas lain. Dari hidung, udara terus masuk ke hidung sampai
ke dalam paru-paru. Akhirnya, udara akan mengalir sampai ke alveolus. Oksigen
yang terkandung dalam alveolus bertukar dengan karbon dioksida yang
terkandung dalam darah melalui proses difusi.

Dalam darah, oksigen diikat oleh hemoglobin. Selanjutnya darah yang telah
mengandung oksigen mengalir ke seluruh tubuh. Oksigen diperlukan untuk proses
respirasi sel-sel tubuh. Gas karbon dioksida yang dihasilkan selama proses
respirasi sel tubuh akan ditukar dengan oksigen. Selanjutnya, darah mengangkut
karbon dioksida untuk dikembalikan ke alveolus paru-paru dan akan dikeluarkan
ke udara melalui hidung pada saat menghembuskan napas.

Cepat lambatnya manusia melakukan pernapasan dipengaruhi oleh beberap


faktor, yaitu umur, jenis kelamin, suhu tubuh, posisi tubuh. Beberapa penyakit
pada sistem pernapasan manusia antara lain yaitu:

ii
1. Faringitis, merupakan perdangan pada faring sehingga timbul rasa nyeri pada
waktu menelan makanan ataupun kerongkongan terasa kering.

2. Penumonia, merupakan peradangan paru-paru dimana alveolus biasanya berisi


cairan dan eritrosit yang berlebihan.

3. Asma, merupakan suatu penyakit yang dikenal dengan penyakit sesak napas
yang dikarenakan adanya penyempitan pada saluran pernapasan.

4. TBC (Tuberkulosis), merupakan penyakit yang menyebabkan proses difusi


oksigen yang terganggu karena adanya bintik-bintik kecil pada dinding
alveolus. Jika bagian paru-paru yang diserang meluas, sel-selnya mati dan
paru-paru mengecil. Akibatnya napas penderita terengah-engah.

ii
SISTEM ENDOKRIN

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN

Sistem endokrin meliputi sistem dan alat yang mengeluarkan hormon atau alat
yang merangsang keluarnya hormon yang berupa mediator kimia. Sistem
endokrin berkaitan dengan sistem saraf, mengontrol dan memadukan fungsi
tubuh. Kedua sistem ini bekerja sama untuk mempertahankan homeostasis.
Sistem endokrin bekerja melalui hormon, maka sistem saraf bekerja melalui
neurotransmiter yang dihasilkan oleh ujung-ujung saraf.

Kelenjar terdiri dari dua tipe yaitu endokrin dan eksokrin. Kelenjar endokrin
melepaskan sekresinya langsung ke dalam darah.Kelenjar endokrin terdapat pada
pulau Langerhans, kelenjar gonad (ovarium dan testis), kelenjar adrenal, hipofise,
tiroid dan paratiroid. Sedangkan kelenjar eksokrin melepaskan sekresinya ke
dalam duktus pada permukaan tubuh seperti kulit dan organ internal (lapisan
traktus intestinal-sel APUD).

Hormon berfungsi untuk membedakan sistem saraf pusat dan sistem reproduktif
pada janin yang sedang berkembang, merangsang urutan perkembangan,
mengkoordinasi sistem reproduksi, memelihara lingkungan internal secara
optimal dan melakukan respon korektif dan adaptif ketika terjadi kedaruratan.

ii
Gambar Sistem Endokrin Manusia

Terdapat dua klasifikasi pembagian hormon yaitu hormon yang larut dalam
air\dan lemak. Hormon yang larut dalam air yaitu insulin, glukagon, hormon
adrenokortikotropik (ACTH) dan gastrin. Hormon yang larut dalam lemak yaitu
steroid (estrogen, progesteron, testoteron, aldosteron, glukokortikoid) dan tironin
(tiroksin).

Yang termasuk kelenjar endokrin adalah :

- hipotalamus - pulau Langerhans

- hipofisis anterior dan posterior - anak ginjal,kortex dan medula

- tiroid - gonad (ovarium dan testis)

- paratiroid - sel APUD di lambung,usus,dan


pankreas

ii
HIPOTALAMUS

Hipotalamus terletak di batang otak (enchepalon). Hormon-hormon hipotalamus


terdiri dari :

1. ACRH : Adreno Cortico Releasing Hormon

ACIH : Adreno Cortico Inhibiting Hormon

2. TRH : Tyroid Releasing Hormon

TIH : Tyroid Inhibiting Hormon

3. GnRH : Gonadotropin Releasing Hormon

GnIH : Gonadotropin Inhibiting Hormon

4. PTRH : Paratyroid Releasing Hormon

PTIH : Paratyroid Inhibiting Hormon

5. PRH : Prolaktin Releasing Hormon

PIH : Prolaktin Inhibiting Hormon

6. GRH : Growth Releasing Hormon

GIH : Growth Inhibiting Hormon

7. MRH : Melanosit Releasing hormon

MIH : Melanosit Inhibiting Hormon.

Hipotalamus sebagai bagian sistem endokrin mengontrol sintesa dan sekresi


hormon-hormon hipofise.

ii
KELENJAR HIPOFISIS

Hipofisis atau disebut juga glandula pituitaria terletak di sella Tursika, lekukan os
spenoidalis basis cranii, berbentuk oval dengan diameter kira-kira 1 cm. Terbagi
menjadi lobus anterior dan posterior. Terdiri dari adenohipofisis yang berasal dari
orofaring dan neurohipofisis yang berasal dari sistem kantong Ratke. (Ratke
adalah seorang ahli anatomi asal Jerman).

Hipofise dikenal sebagai master of gland karena kemampuan hipofise dalam


mempengaruhi atau mengontrol aktivitas kelenjar endokrin lain.

KELENJAR TIROID

Kelenjar tiroid terletak di leher bagian depan tepat di bawah kartilago krikoid,
antara fasia koli media dan fasia prevertebralis. Di dalam ruang yang sama juga
terletak trakea, esofagus, pembuluh darah besar dan saraf. Kelenjar tiroid melekat
pada trakea dan melingkarinya dua pertiga sampai tiga perempat lingkaran.
Keempat kelenjar paratiroid umumnya terletak pada permukaan belakang kelenjar
tiroid.

Pada orang dewasa berat tiroid kira-kira 18 gram. Terdapat dua lobus kanan dan
kiri yang dibatasi oleh isthmus. Masing-masing lobus memiliki ketebalan 2 cm
lebar 2,5 cm dan panjang 4 cm. Terdapat folikel dan para folikuler. Mendapat
sirkulasi dari arteri tiroidea superior dan inferior dan dipersarafi oleh saraf
adrenergik dan kolinergik.

ii
Pembuluh darah besar yang terdapat dekat kelenjar tiroid adalah arteri karotis
komunis dan arteri jugularis interna. Sedangkan saraf yang ada adalah nervus
vagus yang terletak bersama di dalam sarung tertutup di laterodorsal tiroid.
Nervus rekurens terletak di dorsal tiroid sebelum masuk laring.

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin (T4) atau Tetra
Iodotironin. Bentuk aktif hormon ini adalah triyodotironin (T3) yang sebagian
besar berasal dari konversi hormon T4 di perifer dan sebagian kecil langsung
dibentuk oleh kelenjar tiroid. Yodida inorganik yang diserap dari saluran cerna
merupakan bahan baku hormon tiroid. Yodida inorganik mengalami oksidasi
menjadi bentuk organik dan selanjutnya menjadi bagian dari tirosin yang terdapat
dalam tiroglobulin sebagai monoyodotirosin (MIT).

Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid yaitu
Thyroid Stimulating Hormon (TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar
hipofisis. Kelenjar ini secara langsung dipengaruhi dan diatur aktifitasnya oleh
kadar hormon tiroid dalam sirkulasi yang bertindak sebagai umpan balik negatif
terhadap lobus anterior hipofisis dan terhadap sekresi hormon pelepas tirotropin
(Thytotropine Releasing Hormon (TRH) dari hipotalamus.

Kelenjar tiroid juga mengeluarkan kalsitonin dari sel parafolikuler. Kalsitonin


adalah polipeptida yang menurunkan kadar kalsium serum dengan menghambat
reabsorbsi kalsium dan tulang.

Fungsi hormon tiroid :

1. Mengatur laju metabolisme tubuh

2. Pertumbuhan testis,saraf ,dan tulang

ii
3. Mempertahankan sekresi GH dan gonadotropin

4. Menambah kekuatan kontraksi otot dan irama jantung

5. Merangsang pembentukan sel darah merah

6. Mempengaruhi kekuatan dan ritme pernafasan,sebagai kompensasi tubuh


terhadap kebutuhan Oksigen akibat metabolisme

7. Antagonis insulin.

KELENJAR PARATIROID

Kelenjar paratiroid tumbuh di dalam endoderm menempel pada bagian anterior


dan posterior kedua lobus kelenjar tiroid yang berjumlah 4 buah terdiri dari chief
cells dan oxyphill cells. Kelenjar paratiroid berwarna kekuningan dan berukuran
kurang lebih

3 x 3 x 2 mm dengan berat keseluruhan sampai 100 mg.

Kelenjar paratiroid mensintesa dan mengeluarkan hormon paratiroid (Parathyroid


Hormon,PTH). Sintesis PTH dikendalikan oleh kadar kalsium dalam plasma.
Sintesis PTH dihambat apabila kadar kalsium rendah.PTH bekerja pada tiga
sasaran utama dalam pengendalian homeostasis kalsium,yaitu di ginjal, tulang dan
usus. Di dalam ginjal PTH meningkatkan reabsorbsi kalsium. Di tulang PTH
merangsang aktifitas osteoplastik sedangkan di usus PTH meningkatkan absorbsi
kalsium.

ii
KELENJAR PANKREAS

Kelenjar pankreas terletak di retroperitoneal rongga abdomen atas dan terbentang


horizontal dari cincin duodenal ke lien. Panjangnya sekitar 10-20 cm dan lebar
2,5-5 cm. Mendapat asupan darah dari arteri mesenterika superior dan splenikus.
Kelenjar pankreas berfungsi sebagai endokrin dan eksokrin. Sebagai organ
endokrin karena di pankreas terdapat pulau-pulau Langerhans yang terdiri dari 3
jenis sel yaitu sel beta (B) 75 %,sel alfa (A) 20 %,dan sel delta (D) 5 %.Sekresi
hormon pankreas dihasilkan oleh pulau Langerhans. Setiap pulau Langerhans
berdiameter 75-150 mikron.

Sel alfa menghasilkan glukagon dan sel beta merupakan sumber insulin,
sedangkan sel delta mengeluarkan somatostatin, gastrin dan polipeptida pankreas.
Glukagon juga dihasilkan oleh mukosa usus menyebabkan terjadinya glikogenesis
dalam hati dan mengeluarkan glukosa ke dalam aliran darah. Fungsi insulin
terutama untuk memindahkan glukosa dan gula lain melalui membran sel ke
jaringan utama terutama sel otot, fibroblast dan jaringan lemak. Bila tidak ada
glukosa maka lemak akan digunakan untuk metabolisme sehingga akan timbul
ketosis dan acidosis.

Dalam meningkatkan kadar gula dalam darah, glukagon merangsang


glikogenolisis (pemecahan glikogen menjadi glukosa) dan meningkatkan
transportasi asam amino dari otot serta meningkatkan glukoneogenesis
(pembentukan glukosa dari yang bukan karbohidrat). Dalam metabolisme lemak,
glukagon meningkatkan lipopisis (pemecahan lemak).

ii
Efek anabolik dari hormon insulin adalah sebagai berikut :

- Efek pada hepar : meningkatkan sintesa dan penyimpanan glukosa,


menghambat glikogenolisis, glukoneogenesis dan ketogenesis
meningkatkan sintesa trigelicerida dari asam lemak bebas di hepar.

- Efek pada otot : meningkatkan sintesis protein, meningkatkan transfortasi


asam amino dan meningkatkan glikogenesis.

- Efek pada jaringan lemak : meningkatkan sintesa trigelicerida dari asam


lemak bebas, meningkatkan penyimpanan trigelicerida dan menurunkan
lipopisis.

KELENJAR ADRENAL

Kelenjar adrenal terletak di kutub atas kedua ginjal. Kelenjar suprarenal atau
kelenjar anak ginjal menempel pada ginjal. Terdiri dari dua lapis yaitu bagian
korteks dan medula.

Korteks adrenal mensintesa 3 hormon,yaitu :

1. Mineralokortikoid (aldosteron)

2. Glukokortikoid

3. Androgen

ii
Mineralokortikoid (aldosteron) berfungsi mengatur keseimbangan elektrolit
dengan meningkatkan retensi natrium dan eksresi kalium. Membantu dalam
mempertahankan tekanan darah normal dan curah jantung.

Glukokortikoid (kortisol) berfungsi dalam metabolisme glukosa


(glukosaneogenesis) yang meningkatkan kadar glukosa darah, metabolisme cairan
dan elektrolit, inflamasi dan imunitas terhadap stressor.

Hormon seks (androgen dan estrogen). Kelebihan pelepasan androgen


mengakibatkan virilisme (penampilan sifat laki-laki secara fisik dan mental pada
wanita) dan kelebihan pelepasan estrogen mengakibatkan ginekomastia dan
retensi natrium dan air.

KELENJAR GONAD

Kelenjar gonad terbentuk pada minggu-minggu pertama gestasi dan tampak jelas
pada minggu pertama. Keaktifan kelenjar gonad terjadi pada masa prepubertas
dengan meningkatnya sekresi gonadotropin (FSH dan LH).

Testis terdiri dari dua buah dalam skrotum.Testis mempunyai duafungsi yaitu
sebagai organ endokrin dan reproduksi.Menghasilkan hormon testoteron dan
estradiol di bawah pengaruh LH. Efek testoteron pada fetus merangsang
diferensiasi dan perkembangan genital ke arah pria.Pada masa pubertas akan
merangsang perkembangan tanda-tanda seks sekunder seperti perkembangan

ii
bentuk tubuh,distribusi rambut tubuh,pembesaran laring,penebalan pita
suara,pertumbuhan dan perkembangan alat genetalia.

Ovarium berfungsi sebagai organ endokrin dan reproduksi.Sebagai organ


endokrin ovarium menghasilkan sel telur (ovum) yang setiap bulannya pada masa
ovulasi siap dibuahi sperma.Estrogen dan progesteron akan mempengaruhi
perkembangan seks sekunder,menyiapkan endometrium untuk menerima hasil
konsepsi serta mempertahankan laktasi.

SEL APUD

Sel endokrin saluran cerna yang mengeluarkan hormon gastrointestinal atau


gastroenteropankreas,didapatkan difus di lambung, usus dan pankreas. Sel ini
termasuk kelompok sel APUD (Amine Precursor Uptake and Decarboxylation)
seperti halnya sel C tiroid, medula anak ginjal, hipofisis, hipotalamus dan
melanosit. Sel APUD saluran cerna tidak membentuk suatu kelenjar melainkan
tersebar di lambung,usus,dan pankreas.

ii
JANTUNG

Anatomi dan Fisiologi Sistem Kardio Vaskular

Struktur dan Anatomi


Organ yang paling menunjang dalam sistem kardiovaskular tentang
hemodinamika (tekanan darah) ini adalah jantung dan pembuluh darah
selain itu terdapat organ lain yang ikut mengontol tekanan darah yaitu,
otak, sistem saraf otonom, ginjal, dan beberapa kelenjar endokrin .
Anatomi Jantung

ii
Anatomi Pembuluh Darah

1. Fungsi, Proses, dan Fisiologi


Pada umumnya seperti yang telah kita semua ketahui, jantung berfungsi
untuk memompa darah dari dank ke seluruh tubuh. Fungsi dari struktur
jantung dan peredran darah yang terjadi di dalam tubu telah dijelaskan
pada pertemuan sebelumnya. Maka dari itu, penulis akan menitik beratkan

ii
pada pembahasan tentang fungsi, proses dan fisiologi dari pembuluh darah
yang akan mengacu pada judul makalah kami yaitu tekanan darah,
Pembuluh darah (vaskuler) berfungsi sebagai saluran yang membawa
darah dari jantung ke seluruh tubuh dan dari seluruh tubuh ke jantung.
Pembuluh darah dibagi menjadi dua jenis, vena (pembukuh balik) dan
arteri (pembuluh nadi).
Fisiologi vaskuler
Sistem vaskuler memiliki peranan penting pada fisiologi kardiovaskuler
karena berhubungan dengan mekanisme pemeliharaan lingkungan internal
dengan sirkulasi darah yang berfungsi sebagai sistem transport oksigen,
karbondioksida, makanan dan hormon serta obat-obatan ke seluruh
jaringan sesuai dengan kebutuhan metabolisme setiap sel dalam organ
tubuh. Sistem kardiovaskuler dipengaruhi oleh faktor perubahan volume
cairan tubuh dan hormonn tertentu. Darah dari sistem vaskuler memiliki
fungsi yang tidak sama dalam menunjang sistem sirkulasi karena tidak
selamanya susunan histologis tiap bagian pembuluh darah dalam vaskuler.
Pembuluh darah Arteri
Arteri mentranspor darah di bawah tekanan tinggi ke jaringan, untuk ini
arteri mempunyai dinding yang tebal dan kuat karena darah mengalir
dengan cepat pada arteri.
Peembuluh Darah Vena
Vena, saluran penampung dan pengangkut darah dari jaringan kembali ke
jantung, karena tekanan pada sistem vena sangat rendah. Dinding vena
sanga tipis akan tetapi dinding vena mempunyai otot untuk berkontraksi
sehingga berfungsi sebagai penampung darah ekstra yang dapat
dikendalikan berdasarkan kebutuhan tubuh.

ii
Tekanan Darah
Tekanan darah adalah kekuatan yang memungkinkan darah mengalir
dalam pembuluh darah untuk beredar dalam seluruh tubuh. Darah
berfungsi sebagai pembawa oksigen serta zat-zat lain yang dibutuhkan
oleh seluruh jaringan tubuh supaya dapat hidup dan dapat melaksanakan
masing-masing tugasnya.

Tekanan Darah Sistolik (TDS) menunjukkan tekanan pada arteri bila


jantung berkontraksi (denyut jantung) atau tekanan maksimum dalam
arteri pada suatu saat. TDS dinyatakan oleh angka yang lebih besar jika
dibaca pada alat pengukur tekanan darah. TDS normal 90-120 mmHg.
Tekanan Darah Diastolik (TDD) menunjukkan tekanan darah dalam arteri
bila jantung berada dalam keadaan relaksasi di antara dua denyutan.

Tekanan Darah Diastolik (TDD) dinyatakan dengan angka yang lebih kecil
jika dibaca pada alat pengukur tekanan darah. TDD normal 60-80 mmHg.
Tingginya TDS berhubungan dengan curah jantung, sedangkan TDD
berhubungan dengan besarnya resistensi perifer.

ii
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah, diantaranya:
1. Curah Jantung
Tekanan darah berbanding lurus dengan curah jantung. Jika denyut
jantung meningkat maka curah jantung meningkat sehingga tekanan
darah juga meningkat.
2. Resistensi Perifer
Yaitu resistensi dari pembuluh darah bagi aliran darah. Arteri dan vena
biasanya sedikit terkonstriksi, sehingga tekanan darah diastol normal.
3. Viskositas Darah
Viskositas darah normal bergantung bergantung keberadaan sel darah
merah dan protein plasma, terutama albumin. Kadar sel darah merah
yang terlalu tinggi dapat menyebabkan peningkatan viskositas darah
dan tekanan darah.
4. Elastisitas Arteri
Saat ventrikel kiri berkontraksi, darah yang memasuki aorta akan
membuat dinding arteri merenggang. Dinding arteri bersifat elastis dan
dapat menyerap sebagian gaya yang dihasilkan aliran darah. Elastisitas
ini menyebabkan tekanan darah diastol yang meningkat dan sistol yang
menurun. Saat ventrikel kiri berelaksasi, dinding arteri juga akan
kembali ke ukuran awal, sehingga tekanan diastol tetap berada dibatas
normal.
5. Hormon
Beberapa hormone memiliki efek terhadap tekanan darah. Contohnya,
pada saat stress, medula kelenjar adrenal akan menyekresikan
norepinefrin dan epinefrin, yang keduanya akan menyebabkan
vasokonstriksi sehingga meningkatkan tekanan darah. Selain dari
vasokonstriksi, epinefrin juga berfungsi meningkatkan heart rate dan
gaya kontraksi. Hormone lain yang berperan adalah ADH yang
disekresikan oleh kelenjar hipofisis posterior saat tubuh mengalami

ii
kekurangan cairan. ADH akan meningkatkan reabsorpsi cairan pada
ginjal sehingga tekanan darah tidak akan semakin turun.
6. Volume Darah
Kehilangan darah dalam jumlah kecil, seperti saat donor darah, akan
menyebabkan penurunan tekanan darah sementara, yang akan
langsung dikompensasi dengan peningkatan tekanan darah dan
peningkatan vasokonstriksi.
7. Emosi
Takut, nyeri dan stress emosi mengakibatkan stimulasi simpatik, yang
meningkatkan frekuensi darah, curah jantung dan tahanan vascular
perifer. Efek stimulasi simpatik meningkatkan tekanan darah.
8. Pola Makan
Makanan yang diawetkan dan garam dapur serta bumbu penyedap
dalam jumlah tinggi, dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah
karena mengandung natrium dalam jumlah yang berlebih.

Mekanisme Tekanan Darah


Tekanan darah dikontrol oleh otak, sistem saraf otonom, ginjal, beberapa
kelenjar endokrin, arteri dan jantung. Otak adalah pusat pengontrol
tekanan darah didalam tubuh. Serabut saraf adalah bagian sistem saraf
otonom yang membawa isyarat dari semua bagian tubuh untuk
menginformasikan kepada otak perihal tekanan darah, volume darah dan
kebutuhan khusus semua organ. Semua informasi ini diproses oleh otak
dan keeputusan dikirim melalui saraf menuju organ-organ tubuh termasuk
pembuluh darah, isyaratnya ditandai dengan mengembang atau
mengempisnya pembuluh darah. Saraf-saraf ini dapat berfungsi secara
otomatis.
Ginjal adalah organ yang berfungsi mengatur fluida di dalam tubuh. Ginjal
juga memproduksi hormon yang disebut hormon renin. Renin dari ginjal
merangsang pembentukan angiotensin yang menyebabkan pembuluh darah
kontriksi sehingga tekanan darah meningkat. Sedangkan hormon dari

ii
beberapa organ juga dapat mempengaruhi pembuluh darah seperti kelenjar
adrenal pada ginjal yang mensekresikan beberapa hormon seperti
adrenalin dan aldosteron juga ovari yang mensekresikan estrogen yang
dapat meningkatkan tekanan darah. Kelenjaar tiroid atau hormon tiroksin,
yang juga berperan penting dalam pengontrolan tekanan darah.
Pada akhirnya tekanan darah dikontrol oleh berbagai proses fisiologis yang
bekerja bersamaan. Serangkaian mekanisme inilah yang memastikan darah
mengalir di sirkulasi dan memungkinkan jaringan mendapatkan nutrisi
agar dapat berfungsi dengan baik. Jika salah satu mekanisme mengalami
gangguan, maka dapat terjadi tekanan darah tinggi (hipertensi) atau
tekanan darah rendah (hipotensi).

Metoda Pengukuran Tekanan Darah


Tekanan darah dapat di ukur dengan 2 metoda, yaitu:
1) Metoda langsung (direct method)
Metoda ini menggunakan jarum atau kanula yang di masukkan ke
dalam pembuluh darah dan di hubungkan dengan manometer. Metode
ini merupakan cara yang sangat tepat untuk pengukuran tekanan darah
tapi butuh peralatan yang lengkap dan keterampilan yang khusus
2) Metoda tidak langsung ( indirect method )
Metoda ini menggunakan shpygmomanometer ( tensi meter ).
Tekanan darah dapat diukur dengan dua cara, yaitu :
Cara palpasi.
Dengan cara ini hanya dapat diukur tekanan sistolik.
Cara auskultasi.
Dengan cara ini dapat diukur tekanan sistolik maupun tekanan
diastolik, cara ini memerlukan alat “stethoscope”

Gangguan Pada Tekanan Darah


Terdapat 2 macam gangguan pada tekanan darah, yaitu:
1. Tekanan Darah Rendah (Hipotensi)

ii
Merupakan kondisi tekanan darah yang tidak normal karena terlalu
rendah. Seeorang dikatakan bertekanan darah rendah bila tensinya
kurang dari 90/60 mmHg.
2. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)
Hipertensi adalah istilah medis yang digunakan pada orang yang
memiliki tekanan darah di atas 140/90 mmHg.

ii
A. Teoritis Cairan dan Elektrolit

PENDAHULUAN

Manusia memiliki daya adaptasi yang besar terhadap perubahan


lingkungan sekitarnya. Pada perbedaan iklim yang cukup besar seperti dari suhu
lingkungan yang dingin kemudian beralih ke panas dapat tidak terlalu
memengaruhinya karena ada beberapa mekanisme homeostasis tubuh yang
mengatur suhu tubuh, keseimbangan cairan dan komposisi elektrolit serta
bermacam zat lainnya yang terdapat dalam cairan tubuh tersebut dapatlah
dibayangkan baahwa manusia mempunyai sistem regulasi yang tangguh untuk
menghadapi setiap tantangan perubahan keadaan lingkungan ini.

Cairan tubuh terkumpul dalam beberapa ruang atau kompartemen.


Masing-masing kompartemen dipisahkan oleh membran khusus dan mengandung
zat-zat dengan konsentrasi maupun zat yang ada di dalamnya. Susunan atau
komposisi elektrolit, zat, atau molekul lainnya.

Rasa haus meruapakan faktor pendorong pemasukan air dari luar. Pusat
pengontrolan rasa haus terdapat pada hipotalamus. Di bawah ini dapat dilihat
diagram mekanisme kendali rasa haus. Tapi kenyataannya mekanisme kendali
keseimbangan cairan melalui rasa haus saja tidak cukup. Pemasukan air sering
tak sebanding dengan pengeluarannya, misalnya terjadi pada bayi dan orang tua.
Keseimbangan cairan diatur pula oleh kerja hormon yaitu : anti-diuretic hormone
(ADH) dan aldosteron. Hormon antidiuresis (ADH) dilepaskan oleh kelenjar
hipofisis posterior terutama bila terjadi pengurangan bolume darah atau
peningkatan osmolalitas darah. Kerja ADH adalah menurunkan pengeluaran urin
dengan cara meningkatkan permeabilitas dinding sel duktus koligentes terhadap
air sehingga air banyak diserap kembali. Faktor lain yang dapat melepaskan ADH
misalnya stres pembedahan; sebaliknya minum alkohol akan mengurangi sekresi
hormon ini.

ii
A. Pengertian dan Defenisi
1. Pengertian

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi


tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah
merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan
elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh.

Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu
(zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel
bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit
masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan
didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti
adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh
bagian tubuh.

Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang


lainnya jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan
cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di
seluruh tubuh, sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel
dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan
interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di
dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel,
sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan
serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.

2. Defenisi

ii
Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena
metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons terhadap
stressor fisiologis dan lingkungan. Cairan dan elektrolit saling berhubungan,
ketidakseimbangan yang berdiri sendiri jarang terjadi dalam bentuk berlebihan
atau kekurangan. Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga
kondisi tubuh tetap sehat.

Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan


salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit
melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh
adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut).
Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik
yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam
tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke
seluruh bagian tubuh.

Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal


dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan
cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu
terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.

B. Komposisi Cairan
1. Komposisi Cairan Tubuh

Cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang

60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini
bervariasi antara individu sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut.
Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dati total berat badan. Pada bayi
dan anak-anak, prosentase ini relative lebih besar dibandingkan orang dewasa dan
lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. Dua pertiga
bagian (67%) dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan
sepertiganya (33%) berada di luar sel (cairan ekstrasel/ CES). CES dibagi cairan

ii
intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat
badan, dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat
badan. Selain kedua kompartmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati
cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun, volumenya diabaikan karena kecil,
yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+ dan
Cl- terutama terdapat pada cairan ekstrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel.
Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling
sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma. Perbedaan komposisi cairan
tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang memisahkan
mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial,
sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam
keadaan normal, terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan dan elektrolit
antar kompartmen. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu
kompartmen, maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartmen
sehingga terjadi keseimbangan kembali.

2. Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh

Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intarseluler maupun


pada plasma terinci dalam tabel di bawah ini :

No. Elektrolit Ekstraseluler Intraseluler Plasma Interstitial


1. Kation :
• Natrium (Na+) 144,0 mEq 137,0 mEq 10 mEq
• Kalium (K+) 5,0 mEq 4,7 mEq 141 mEq
• Kalsium (Ca++) 2,5 mEq 2,4 mEq 0
• Magnesium (Mg ++) 1,5 mEq 1,4 mEq 31 mEq

2. Anion :
• Klorida (Cl-) 107,0 mEq 112,7 mEq 4 mEq
• Bikarbonat (HCO3-) 27,0 mEq 28,3 mEq 10 mEq
• Fosfat (HPO42-) 2,0 mEq 2,0 mEq 11 mEq

ii
• Sulfat (SO42-) 0,5 mEq 0,5 mEq 1 mEq
• Protein 1,2 mEq 0,2 mEq 4 mEq

a. Kation :
• Sodium (Na+) :
- Kation berlebih di ruang ekstraseluler
- Sodium penyeimbang cairan di ruang eesktraseluler
- Sodium adalah komunikasi antara nerves dan musculus
- Membantu proses keseimbangan asam-basa dengan menukar ion hidrigen pada
ion sodium
di tubulus ginjal : ion hidrogen di ekresikan
- Sumber : snack, kue, rempah-rempah, daging panggang.

• Potassium (K+) :
- Kation berlebih di ruang intraseluler
- Menjaga keseimbangan kalium di ruang intrasel
- Mengatur kontrasi (polarissasi dan repolarisasi) dari muscle dan nerves

- Sumber : Pisang, alpokad, jeruk, tomat, dan kismis.

• Calcium (Ca++) :
- Membentuk garam bersama dengan fosfat, carbonat, flouride di dalam tulang
dan gigi untuk membuatnya keras dan kuat
- Meningkatkan fungsi syaraf dan muscle
- Meningkatkan efektifitas proses pembekuan darah dengan proses pengaktifan
protrombin dan trombin
- Sumber : susu dengan kalsium tinggi, ikan dengan tulang, sayuran, dll.

b.Anion :
• Chloride (Cl -) :
- Kadar berlebih di ruang ekstrasel

ii
- Membantu proses keseimbangan natrium
- Komponen utama dari sekresi kelenjar gaster
- Sumber : garam dapur

• Bicarbonat (HCO3 -) :
Bagian dari bicarbonat buffer sistem
- Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam karbonat dan suasana
garam untuk
menurunkan PH.

• Fosfat ( H2PO4- dan HPO42-) :


- Bagian dari fosfat buffer system
- Berfungsi untuk menjadi energi pad metabolisme sel
- Bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang
- Masuk dalam struktur genetik yaitu : DNA dan RNA

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Cairan dan Elektrolit


1. Faktor-Faktor yang mempengaruhi cairan dan elektrolit
a) Usia.

Asupan cairan individu bervariasi berdasarkan usia. Dalam hal ini,


usiaberpengaruh terhadap proporsi tubuh, luas permukaan tubuh, kebutuhan
metabolik, serta berat badan. Bayi dan anak di masa pertunbuhan memiliki
proporsi cairan tubuh yang lebih besar dibandingkan orang dewasa.Karenanya,
jumlah cairan yang diperlukan dan jumlah cairan yang hilang juga lebih besar
dibandingkan orang dewasa. Besarnya kebutuhan cairan pada bayi dan anak-anak
juga dipengaruhi oleh laju metabolik yang tinggi serta kondisi ginjal mereka yang
belum atur dibandingkan ginjal orang dewasa. Kehilangan cairan dapat terjadi
akibat pengeluaran cairan yang besar dari kulit dan pernapasan. Pada individu
lansia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sering disebabkan oleh masalah
jantung atau gangguan ginjal.

ii
b) Aktivitas.

Aktivitas hidup seseorang sangat berpengaruh terhadap kebutuhan cairan dan


elektrolit. Aktivitas menyebabkan peningkatan proses metabolisme dalam tubuh.
Hal ini mengakibatkan penigkatan haluaran cairan melalui keringat. Dengan
demikian, jumlah cairan yang dibutuhkan juga meningkat. Selain itu,kehilangan
cairan yang tidak disadari (insensible water loss) juga mengalami peningkatan laju
pernapasan dan aktivasi kelenjar keringat.

c) Iklim.

Normalnya,individu yang tinggal di lingkungan yang iklimnya tidak terlalu


panas tidak akan mengalami pengeluaran cairan yang ekstrem melalui kulit dan
pernapasan. Dalam situasi ini, cairan yang keluar umumnya tidak dapat disadari
(insensible water loss, IWL). Besarnya IWL pada tiap individu bervariasi,
dipengaruhi oleh suhu lingkungan, tingkat metabolisme,dan usia. Individu yang
tinggal di lingkungan yang bertsuhu tinggi atau di dearah dengan kelembapan
yang rendah akan lebih sering mengalami kehilangan cairandan elektrolit.
Demikian pula pada orang yang bekerja berat di lingkungan yang bersuhu tinggi,
mereka dapat kehilangan cairan sebanyak lima litet sehari melalui keringat.
Umumnya, orang yang biasa berada di lingkungan panas akan kehilangan cairan
sebanyak 700 ml per jam saat berada ditempat yang panas, sedangkan orang yang
tidak biasa berada di lingkungan panas dapat kehilangan cairan hingga dua liter
per jam.

d) Diet

Diet seseorang berpengaruh juga terhadap asupan cairan dan elektrolit. Jika
asupan makanan tidak seimbang, tubuh berusaha memcah simpanan protein

ii
dengan terlebih dahulu memecah simpanan lemak dan glikogen. Kondisi ini
menyebabkan penurunan kadar albumin.

e) Stress

Kondisi stress berpengaruh pada kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh. Saat
stress, tubuh mengalami peningkatan metabolism seluler, peningkatan konsentrasi
glukosa darah, dan glikolisis otot. Mekanisme ini mengakibatkan retensi air dan
natrium.Disamping itu, stress juga menyebabkan peningkatan produksi hormone
anti deuritik yang dapat mengurangi produksi urine.

f) Penyakit

Trauma pada jaringan dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit


dasar sel atau jaringan yang rusak (mis., Luka robek, atau luka bakar). Pasien
yang menderita diare juga dapat mengalami peningkatan kebutuhan cairan akibat
kehilangan cairan melalui saluran gastro intestinal. Gangguan jantung dan ginjal
juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Saat aliran
darah ke ginjal menurun karena kemampuan pompajantung menurun, tubuh akan
melakukan penimbunan cairan dan natrium sehingga terjadi retensi cairan dan
kelebihan beban cairan (hipervelomia). Lebih lajut, kondisi inidapat menyebabkan
edema paru. Normalnya, urine akan dikeluarkan dalam jumlah yang cukup
untukmenyeimbangkan cairan dan elektrolit serta kadar asam dan basa dalam
tubuh. Apabila asupan cairan banyak, ginjal akan memfiltrasi cairan lebih banyak
dan menahan ADH sehingga produksi urine akan meningkat. Sebaliknya, dalam
keadaan kekurangan cairan, ginjal akan menurunkanproduksi urine dengan
berbagi cara. Diantaranya peningkatan reapsorpsi tubulus, retensi natrium dan
pelepasan renin. Apabila ginjal mengalami kerusakan, kemampuan ginjal untuk
melakukan regulasi akan menurun. Karenanya, saat terjadi gangguan ginjal (mis.,
gagal ginjal) individu dapat mengalami oliguria (produksi urine kurang dari 40ml/
24 jam) sehingga anuria (produksi urine kurang dari 200 ml/ 24 jam).

g) Tindakan Medis

ii
Beberapa tindakan medis menimbulkan efek sekunder terhadap kebutuhan
cairan dan elektrolit tubuh. Tindakan pengisapan cairan lambung dapat
menyebabkan penurunan kadar kalsium dan kalium.

h) Pengobatan

Penggunaan beberapa obat seperti Diuretik maupun laksatif secara berlebihan


dapat menyebabkan peningkatan kehilangan cairan dalam tubuh.Akibatnya,
terjadi defist cairan tubuh. Selain itu, penggunan diuretic menyebabkan
kehilangan natrium sehingga kadar kalium akan meningkat. Penggunaan
kortikostreroid dapat pula menyebabkan retensi natrium dan air dalam tubuh.

i) Pembedahan

Klien yang menjalani pembedahan beresiko tinggi mengalami


ketidakseimbangan cairan. Beberapa klien dapat kehilangan banyak darah selama
perode operasi, sedangkan beberapa klien lainya justru mengalami kelebihan
beban cairan akibat asupan cairan berlebih melalui intravena selama pembedahan
atau sekresi hormon ADH selama masa stress akibat obat-obat anastesia.

D. Rute Pengeluaran
a) Urine

Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius
merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal output
urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam. Pada orang
dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam
setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka
produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan
dalam tubuh

b) IWL (Insesible Water Loss)

ii
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan mekanisme
difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini
adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu tubuh
meningkat maka IWL dapat meningkat.

c) Keringat

I WL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan mekanisme


difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini
adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu tubuh
meningkat maka IWL dapat meningkat

d) Feces

Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per hari, yang diatur
melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).

E. Pergerakan Cairan Dalam Tubuh

Pergerakan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu

a) Fase I

Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan
nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal.
b) Fase II
Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel

c) Fase III

Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan


interstitial
masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang
merupakan membran

ii
semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen
dalam cairan tubuh ikut berpindah. Metode perpindahan dari cairan dan
elektrolit tubuh dengan cara :

• Diffusi
• Filtrasi
• Osmosis
• Aktiv Transport

Diffusi dan osmosis adalah mekanisme transportasi pasif. Hampir semua zat
berpindah dengan mekanisme transportasi pasif. Diffusi sederhana adalah
perpindahan partikel-partikel dalam segala arah melalui larutan atau gas.
Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya difusi zat terlarut
menembus membran kapiler dan sel yaitu :

• Permebelitas membran kapiler dan sel


• Konsenterasi
• Potensial listrik
• Perbedaan tekanan.

Osmosis adalah proses difusi dari air yang disebabkan oleh perbedaan
konsentrasi. Difusi air terjadi pada daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang
rendah ke daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang tinggi. Perpindahan zat
terlarut melalui sebuah membrane sel yang melawan perbedaan konsentrasi dan
atau muatan listrik disebut transportasi aktif. Transportasi aktif berbeda dengan
transportasi pasif karena memerlukan energi dalam bentuk adenosin trifosfat
(ATP). Salah satu contonya adalah transportasi pompa kalium dan natrium.
Natrium tidak berperan penting dalam perpindahan air di dalam bagian plasma
dan bagian cairan interstisial karena konsentrasi natrium hampir sama pada kedua
bagian itu. Distribusi air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan hidrostatik

ii
yang dihasilkan oleh darah kapiler, terutama akibat oleh pemompaan oleh jantung
dan tekanan osmotik koloid yang terutama disebabkan oleh
albumin serum. Proses perpindahan cairan dari kapiler ke ruang interstisial disebut
ultrafilterisasi. Contoh lain proses filterisasi adalah pada glomerolus ginjal.

Meskipun keadaan di atas merupakan proses pertukaran dan pergantian


yang terus menerus namun komposisi dan volume cairan relatif stabil, suatu
keadaan yang disebut keseimbangan dinamis atau homeostatis.

F. Bagian (Ion) Elektrolit

G. Gangguan Ketidak Seimbangan elektrolit

Penurunan plasma : peningkatan konsentrasi plasma protein, peningkatan hct


(kecepatan pada hemorrhagic); penurunan tekanan darah —- penurunan cardiac
output —- diuresis menurun dan kolaps pembuluh darah superficial —- kulit
dingin dan berkeringat. Penurunan cairan interstitial —- penurunan turgor kulit,
mukosa membran kering, mata cekung, penurunan bb, peningkatan temp
.
KETIDAKSEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Tidak terjadi sel edema / keriputKetidakseimbangan isotonis perubahan
volume cairan extracell yang disertai dengan perubahan elektrolit secara
proporsional isotonic dengan cairan intracell
Penyebab :
Peningkatan —- >>> infus nacl 0,9 %, hypersekresi aldosteron; peningkatan
volume cairan keseimbangan peningkatan dengan jumlah natrium
Penurunan —- kehilangan cairan yg mengandung natrium secara proporsional —-
perdarahan, >>> respirasi drainage luka
H. Ketidakseimbangan Natrium :
Terjadi oleh karena :

ii
Peningkatan/penurunan natrium, volume cairan tetap.
Natrium tetap, penurunan/penungkatan volume cairan
I. Hyponatremi
Oleh karena :
Penurunan ointake natrium
Peningkatan output natrium
>> cairan hypotonis
Enema dengan air kran
Penurunan output cairan
Sekresi adh oleh karena stress, cancer, cerebral disorder, pain, trauma
surgical, penggunaan morphin/obat anestesi.
J. Konsentrasi Na extracell menurun
Cairan extracell —– intracell —-cell edema
Edema cell otak —- neural symptom
Twitching
Hyper irritable
Disorientasi
Convulsi
Coma
Edema tempat lain —-lemah, anorexia, nausea, vomiting, abdominal
cramp, diarhe.
K. Hypernatremi
Oleh karena :
Peningkatan intake natrium
Penurunan volume darah —- sulit menelan,gangguan rasa haus, penurunan
air di lingkungan, diabetes insipidus, >> perpitasi.
L. Konsentrasi cairan extracell meningkat
Cairan intracell —- extracell —- cell keriput, rasa haus.
Keriput sel otak —- tampak ketakutan, gelisah, koma.
Keriput sel lain —- kulit kering,mukosa membran kering, mata cekung,
lidah beralur jelas.

ii
M. Tanda dan gejala lain pada :
Hyponatremi
Hypernatremi
—- tergantung pada penyebab.
N. Hypokalemia
Penurunan kalium extracell oleh karena :
Penurunan intake kalium
Peningkatan output kalium : gastrointestinal losses — diare, >>> urine,
peningkatan sekresi aldosteron, alkalosis.
O. Penurunan respon otot terhadap rangsang saraf
Gangguan pada otot polos git —- distensi abdomen, vomiting, illeus
paralitic.
Penurunan tonus vaskuler —- hypotensi
Gangguan pada otot rangka —- pernafasan dangkal, kelemahan otot-otot.
Gangguan pada otot jantung —- arrytmia —- heart block, perubahan ekg (
st segment depresi) flattenea t wave,.peningkatan sensitivitas terhadap
digitalis.
Alkalosis
P. Hyperkalemia > 6 mg
Peningkatan k extracell oleh karena :
Peningkatan intake k : >> infus, transfsi.
Penurunan output k : renal failure, addison’s disease, aldosteron inhibiting
drugs (aldactone).
Shift of K Out of intracell : asidosis, luka bakar, crushing injuries, hypoxia
selluler.
Peningkatan respon otot terhadap rangsang saraf
Penurunan kekuatan kontraksi otot.
Gangguan pada otot rangka —- kelemahan otot pernafasan dangkal
Gangguan pada otot jantung : penurunan kekuatan kontraksi, —- dilatasi
dan flaccidity —- penurunan rate jantung / stop, peningkatan respon
terhadap rangsang saraf —- arrytmia ( ventrikel fibrilasi )

ii
Q. Hypokalsemia —- penurunan ca extracell
Oleh karena :
Penurunan absorbsi ca pada git: defisiensi vitamin d, defisiensi nutrisi,
penurunan sekresi pth, penyakit liver, empedu, pancreas.
>> deposit ca pada tulang, peningkatan exkresi ca, alkalosis
R. Peningkatan permiabilitas dan irritabilitas jaringan saraf dan otot
S. Pada otot rangka : twitching, carpopedal spasm, tetany, spasmus
larink,epilepsy —- like seizure.
Pada otot pembuluh darah : numbress, tingling pada jari
Neuromuskuler : troulsean tes +, chvostex’s sign +.
Pada otot jantung : arrytmia
T. Hypercalcemia —–peningkatan ca extrecell
Oleh karena :
Peningkatan absorsi ca git —- >> diet
Peningkatan pemecahan ca dari tulang : peningkatan sekresi pth,
immobilisasi >>>, kanker tulang
Penurunan exkresi ca pada renal asidosis
U. Penurunan permiabilitas dan irritabilitas jaringan saraf dan otot
Penurunan aktivitas otot dan saraf —- penurunan tonus otot
Otot polos git —- distensi abdomen, kembung, konstipasi, nausea,
vomiting.
Penurunan fungsi saraf : lethargy, kelemahan, penurunan reflex normal >
Kecuali pada otot jantung —- peningkatan rangsang jantung —-
peningkatan cardiac output & bp jika >>> —- arrytmia. Penurunan pompa
jantung —- penurunan BP.
Peningkatan ca extracell / plasma —- peningkatan deposit ca pada jaringan
lunak — batu ginjal, renal failure.

ii
V. Gangguan Ketidak Seiumbangan Asam

ii
C. Asuhan Keperawatan

Aturan Keperawatan Cairan dan Elektrolit


1. Biodata

1. Nama :

2. Tempat/Tanggal Lahir :

3. Umur :

4. Jenis Kelamin :

5. Alamat :

6. Agama :

7. Tanggal Masuk :

8. Tanggal Pengkajian :

9. Diagnosa Medis :

2. Riwayat Kesehatan

A. Keluhan Utama

Yang bisa muncul pada saat pasien dengan ganggunan kebutuhan cairan
dan elektrolit antara lain : nyeri abdomen, kram , pusing _____ hiperaktif,
anoreksia, borbarrgani distensi andomen, perasaan resah, peluh keletiha,
sakit kepala, tidakdapat makan, nyeri sakit depekasi ______,_______

B. Riwayat Kesehatan Sekarang

ii
Waktu terjadi, proses terjadinya, upaya yang dilakukan, hasil pemeriksaan
sementara.

C. Riwayat Kesehatan Teradhulu

Pengobatan saat ini dan masa kini, alergi obat/makanan

D. Riwayat Kesehatan kelurga

Apakah ada anggota keluarga yang menderita yang sama atau keturunan.

3. Pola Fungsi Kesehatan

a) Presepsi terhadap kesehatan -- manajemen kesehatan

b) Pola aktrifitas dan latihan

c) Pola istirahat dan tidur

d) Pola nutrisi-metabolisme

e) Pola eliminasi

f) Pola kognitif

g) Pola konsep diri

h) Pola seksual - reproduksi

i) Pola peran hubungan

j) Pola nilai dan kepercayaan

4. Pemeriksaan Fisik

ii
a) Pengukuran klinik

i. Berat badan :

ii. Keadaan Umum

1. TTV

2. Tungkat kesadaran

iii. Pengukuran pemasukan cawan

1. Cairan ovol : NGT dan Oral

2. Obat-obat IV

3. Makanan cenderung mengandung air

4. Pengukuran pengeluaran cairan

a) Urine

b) Muntah

c) IWL

Ukuran keseimbangan cairan dengan aturan L ±200 cc

5. Pemasangan Penunjang

a) Pemeriksaaan elektrolit

b) Darah lengkap

c) pH

d) Berat Jenis Urine

e) AGD ( analisa gula darah)

6. Diagnosa

ii
a) Kekurangan volume cairan berhubugan dengan kehilangan cairan secara
berlebihan

b) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari keseluruhan tubuh berhubungan


dengan ;letak kemampuan untuk mengabsorbsi nutrisi

ii
D. Prosedur Tindakan

Prosedur Tindakan Pengangan Infus

A. Defenisi

Pemberian cairan ke dalam darah lewat kateter intravena atau jarum yang
dimasukkan ke dalam vena reover untuk mengganti cairan yang hilang,
memberikan masukan kalori atau sebagai larutan pembawa obat.

Pemberian terapi intervenadigunakan untuk dimasukkan cairan atau obat


langsung kedalam pembuluh darah vena dalam jumlah banyak dan
dalamwaktu yang lama dengan menggunakan infus set.

B.Tujuan

a) Memberikan caiaran secara intravena

b) Memberikan bolus obat untuk pemeriksaan atau terapi

c) Mengambil bahan pemeriksaan darah

d) Memberikan nutrisi parenteral total

e) Memberikan darah dan produksi darah

C.Macam-Macam cairan Intravena

a) Larutan Nutrien

i. Larutan Nutrien adalah

1. Mengandung Karbohidrat dan air : 5% dekstrasa dalam air


(DSW) : 3.3 %, glukosa dalam 0.3% NaCl : 5% Glukosa dalam :
0.45 % NaCl, Leulosa (Fruktosa), invert sugar (1/2 dekstrosa
dan 1/2 leulosa)

2. Mengandung asam amino : Antigen dan Travamin

ii
3. Mengandung Lemak :Lipomul dan Lyposyn.

ii. Larutan Elektrolit

Larutan Elektrolit meliputi Larutan Salme/ Cairan yang dapat


bersifat isotonik,hipotonik, hipertonik

iii. Cairan Asam Basa

1. Natrium karbonat, natrium laktat

iv. Volume Expanders

1. Jenis larutan yang berfungsi meningkatan volume darah atau


plasma

D. Indikasi

Pemasangan infus diindikasikan pada klien dengan

i. Pemberian cairan intravena

ii. Membersihkan nutrisi parental

iii. Pemberian kantung darah dan produk darah

iv. Pemberian obat yang terus menerus

v. Pra dan pasca bedah

vi. Upaya perilaku sls pada pasien yang tidak stabil misalnya resiko
dehidrasi

E. Kontra Indikasi

i. Fistula artivena pada ekstremitas

ii. Mastektomi pada sisi lengan yang sama / ekstimitas yang terganggu
akibat operasoi

iii. Adanya flektis ,infliktasi skelerosis

ii
F. Lokasi Penempelan Infus

Umumnya pemberian infus dapat dilalkukan pada vena lengan (vena


sekaula, vena basikila dan medianan kebits), vena tungkai dan biasanya
dipasang di daerah lengan atas, tangan dan kaki. Namun, pada bayi infus
biasanya dipasang di daerah kepala (pada kondisi-kondisi tertentu).

G. Pengaturan Tetesan Infus

Tiga hal yang harus perlu diperhatikan pada saat mengatur tekanan infus,
yaitu (ml) cairan yang dibutuhkan , waktu yang dibutuhkan untuk
menambahkan cairan tersebut dan usia :

1. Pada Pasien dewasa

VolumeCairanYangDibu tuhkan FaktorTetesan


TetesanPerMenit 
TotalWaktu( Jam)  60Menit

2. Pada Pasien Anak-Anak

ii
VolumeCairanYangDibu tuhkan FaktorTetesan
TetesanPerMenit 
TotalWaktu( Jam)  60Menit

Keterangan :

a) Faktor Tetesan makro/dewsa : 20 tetes/i

b) Faktro Tetesan mikro/anak-anak : 60 tetes/I

H. Peralatan

Sebuah Nampan Bersih Berisi

1. Set Infus

2. Cawan Infus Sesuai Kebutuhan

3. Tiang Infus

4. Masker

5. Gunting

6. Kapas Alkohol 70%

7. Betadine

8. Truniket

9. Bengkok

10. Sarung tangan steril

11. Perlak

12. Jarum Infus

ii
13. Perban

I. Prosedur

No Tindakan Rasional

1 Pemeriksaan dokter terkait Memastikan prosedur yang benar dilakukan


jenis cairan, jumlah yang pada pasien yang tepat
diberikan, kecepatan aliran
dan lain-lain

2 Identitas Pasien Mendapat data dasar mengenai kondisi


pasien
Periksa TTV, Targetkulit,
alergi terhadap plaster atau
providonide, kecenderungan
pendarahan, penyakit/cedera
pada ekremitas, kondisi vena

3 Periksa apakah ada kontra Mencegah terjadinya kompilasi apapun


indikasi penusukan vena atau
tidak, seperti vistula arteriao
pada lengan sisi yang sama
dengan sisi masektomi,
hebitis,sklerosis

4 Persiapan Pasien Mengurangi kecemasan dan membantu


mendapatkan kerjasama pasien
A. Jelaskan Prosedurnya
pada pasien bahwa
penusukan akan
menimbulkan rasa
tidak nyaman akan

ii
hilang

B. Jelaskan pada pasien


untuk tidak banyak
bergerak

C. Pastikan pakaian pasien


dapat dilepas setelah
infus terpasang

5 Cuci tangan Mencegah infeksi

6 Buka dan siapkan set infus Mengurangi resiko kompikasi akibat infus

A. Periksa bungkus infus


terkait sedimen,
kekeruhan, perubahan
warna dan bagian
kadaluarsa

B. keluarkan selang dan


bungkusnya

C. geser klem rol di


sepanjang slang tepat ke
bagian bawah tabung
tetesan tutup klem

7 Tusuk Botol Cairan Hal ini menjaga sterilitas ujung selang

A. Buka Botol

B. Masukkan obat dengan


memakai sprit dan
jarum

C. Buka Penutup

ii
D. Tusuk wadah cairan

8 Tempel label obat pada wadah Menempel di label


cairan jika ada penambahan ___________________________________
obat campurkan dengan _________________________
cairan, tempel label secara
terbalik

9 Tempel label pada wadah Membantu memastikan apakah kecepatan


cairan yang bertuliskan waktu aliran sudah benar atau belum
ketika infus dipakai dan
kecepatan alirannya

10 Gantung Wadah cairan pada Ketinggian tak diperlukan untuk


tiang infus. Tiang harus diatur memungkinkan grafitasi meng______
sedemikian rupa agar wadah tekanan yang sehingga memudahkan aliran
cairan berada 90 cm diatas cairan kedalam vena
kepala pasien.

11 Isi sebagain botol tetesan Mencegah udara masuk ke lubang sangat


dengan memerasnya sampai ______ jika menggunakan vena yang
terasa setengah penuh _______

12 Pilih Lokasi penusukan vena, Gravitasi memperlambat aliran balik darah


kecuali bila kontra indikasi.
Cari vena yang lurus
pertimbangkan panjang jarum Penghambat aliran arteri

Membantu pengisian vena

Mengkontraksikan otot

13 Lebarkan vena Mencegah penyakit dari ____________--


darah
A. Letakkan ekstremitas pada
posisi tergantung lebih rendah

ii
dari jantung

B. Pasang Tuniket dengan


kencang

C. Jika vena tidak cukup


lebar, pijat vena

D. anjurkan pasien untuk


membuk adan menutup
genggaman tangannya

D. tepuk-tepuk vena secara


ringan

F. Jika semua tahapan diatas


tidak berhasil lipat handset

14 Pakai Sarung Tangan Membersihkan mikroorganisme dari


___________________

15 Bersihkan lengan Penusukan Mengurangi sudut kateter akan


A. Bersihkan dengan cairan mengurangi reaksi tusukan dan terhambat
antiseptik mengarah keluar
melingkar 5 cm

B. Biarkan cairan antiseptik


mengering

16 Tusukkan Jarum Mencegah bocornya jarum, mengurangi


resiko infeksi
A. Gunakan Tangan yang

ii
tidak dominan untuk
mereganggakn kulit

B. Pegang jarum 11-30


derajat dengan lubang jarum
mengarah keatas

C. Ketika terlihat adanya


darah pada Kurangi sudut
jarum. Jarum masuk 0.5-2 cm
. tarik jarum secara perlahan
samnil mendorong tangan
sampai dalam dan longgarkan
konker tarik keluar seluruh
jarum anglochat dan sambung
spult

17 Rekat kateter dengan 3 plaster Menjaga sterilisasi

18 Perban dan beri label


penusukan insitusi

19 Beri label waktu , tanggal,


ukuran jarum yang digunakan

20 Atur kecepatan tetes yang


diperlukan

21 Buang semua peralatan sekali


pakai

22 Buang sarung tengan, cuci


tangan

23 Dokumentasi pasien

24 Pastikan pasien dengan


nyaman

ii
ii