You are on page 1of 7

A.

Abu Bakar Ash-Shiddiq

a. Biografi Abu Bakar

Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafa At Tamimi. Di zaman

pra Islam bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh nabi menjadi Abdullah. Ia

termasuk salah seorang sahabat yang utama. Dijuluki Abu Bakar karena dari pagi-pagi

betul (orang yang paling awal) memeluk Islam. Gelar Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia

dengan segera membenarkan nabi dalam berbagai peristiwa, terutama Isra’ dan Mi’raj.

Seringkali mendapingi Rasullah disaat-saat penting atau jika berhalangan, Rasullah

mempercainya sebagai pengganti untuk menaggani tugas-tugas keagamaan dan atau

mengurusi persoalan-persoalan actual di Madinah.[1]

Abu Bakar selalu terlibat dalam semua peristiwa yang dialami Rasullah. Dia adalah

orang yang tidak lari dan tetap ajeg ketika banyak pasukan melarikan diri pada saat

perang Hunain. Abu Bakar dikenal sebagai seorang yang pemberani yang selalu gagah di

segala medan perang dia tidak akan bergeser dari sisi Rasullah dan selalu membela dan

membentenginya. Abu bakar dikenal sebagai sosok yang dermawan dan menginfakkanya

sebagian besar hartanya di jalan Allah.[2]

Dialah yang dimaksud dalam firman Allah,


4’ª1u”tItƒ ¼ã&s!$tB ’ÎA÷sム“Ï%©!$# ÇÊÐÈ ’s+ø?F{$# $pkâ:¨Zyfã‹y™ur
ÇÊÑÈ
Artinya: “17. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,18.

Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya” QS. Al-Lail :17-18

Pada perang Tabuk Abu Bakar menyedekahkan semua hartanya untuk bekal

pasukan Islam. Sedangkan Panji Islam dalam perang ini berada ditangannya. Banyak

sahabat yang masuk Islam melaluianya. Dia telah membeli dan membebaskan budak yang

mendapat siksaan yang keras dari tuanya antara lain Bilal bin Ra’bah, Amir bin Fuhairah,

Zanirah, dan lain sebagainya.[3]


b. Masa pemerintahan Abu Bakar

Abu Bakar memangku jabatan khalifah selama dua tahun lebih sedikit, yang

dihabiskanya terutama untuk menguasai berbagai masalah dalam negeri yang muncul

akibat wafatnya nabi. Terpilihnya Abu Bakar telah membagun kembali kesadaran dan

tekat umat untuk bersatu melanjutkan tugas mulia nabi.

Wafatnya nabi menimbulkan beberapa masalah bagi masyarakat muslim. Beberapa

orang Arab yang lemah imannya justru menyatakan murtad, yaitu keluar dari Islam.

Mereka melepaskan kesetiaan dengan menolak memberikan baiat kepada khalifah yang

baru dan bahkan menentang agama Islam, karena mereka menganngap bahwa perjanjian-

perjanjian yang dibuat bersama Muhammad dengan sendirinya batal disebabkan

kematian nabi.[4]

Maka tidaklah heran dengan banyaknya suku Arab yang melepaskan diri dari ikatan

agama Islam. Mereka melakukan riddah, yaitu gerakan pengingkaran terhadap

Islam. Riddah berarti murtad, beralih agam dari Islam ke kepercayaan semula.

Oleh karena itu, khalifah dengan tegas melancarkan operasi pembersihan terhadap

mereka. Mula-mula hal itu diamsudkan sebagai tekanan untuk mengajak mereka kembali

ke jalan yang benar, lalu berkembang menjadi perang merebut kemenangan. Tindakan

pembersihan juga dilakukan untuk menumpas nabi-nabi palsu dan orang-orang yang

enggan membayar zakat.[5]

Masa Abu Bakar lebih banyak terpakai untuk menstabilkan politik Islam dalam

negeri dengan kemunculan nabi palsu ataupu kelompok yang murtad sepeninggal nabi.

Untuk itu Abu bakar mengirimkan 11 panglima untuk menstabilkan politik.[6]

Perang melawan orang murtad berakhir. Namun, tak ada pilihan lain kecuali

melakukan jihad. Sedangkan, musuh pemerintahan Islam saat itu adalah Persia dan

Romawi. Keduanya adalah kekaisaran terbesar pada masa itu. Untungnya keduanya
selalu terlibat sengketa yang sengit. Kondisi inilah yang memudahkan jihad kaum

muslimin. Mereka menyerbu kedua kekaisaran itu pada saat yang bersamaan. [7]

Satu kerja besar yang dilakukan oleh Abu Bakar ialah penghimpunan Al Qur’an.

Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk menjaga kelestarian Al Qur’an setelah syahidnya

beberapa orang penghafal Al Qur’an di Perang Yamamah. Umarlah yang mengusulkan

pertama kali penghimpunan Al Qur’an ini. Sejak itulah Al Qur’an dikumpulkan dalam

satu mushaf. Untuk pertama kalinya Al Qur’an dihimpun.[8]

Tatkala Abu Bakar merasa bahwa kematiannya telah dekat dan sakitnya semakin

parah, dia ingin untuk memberikan kekhalifahanya kepada seseorang sehingga

diharapkan manusia tidak terlibat banyak konflik. Maka jatuhlah pilihanya kepada Umar

ibnul-Khaththab. Dia meminta pertimbangan sahabat-sahabat senior. Mereka semua

mendukung pilihan Abu Bakar. Maka, dia pun menulis wasiat untuk itu, lalu dia

membaiat Umar. Beberapa hari setelah itu Abu Bakar meninggal.[9]

B. Umar bin Khaththab

a. Biografi Umar

Umar bin Khaththab nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nufail

keturunan Abdul Uzza Al-Quraisy dari suku Adi, salah satu suku yang terpandang mulia.

Umar dilahirkan di Mekkah empat tahun sebelum kelahiran nabi. Ia adalah orang yang

berbudi luhur, fasih, dan adil serta pemberani. Ia ikut memelihara ternak ayahnya, dan

berdagang hingga Syiria. Ia juga dipercaya oleh suku bangsanya Quraisy untuk berunding

dan mewakilinya jika ada persoalan dengan suku-suku yang lain. Umar masuk Islam pada

tahun kelima setelah kenabian, dan menjadi salah satu sahabat terdekat nabi serta

dijadikan sebagai tempat runjukan oleh nabi mengenai hal-hal yang penting. Ia dapat

memecahkan masalah yang rumit tentang siapa yang berhak mengganti rasullah dalam

memimpin umat setelah Rasullah wafat. Dengan memilih dan membaiat Abu Bakar

sebagai Khalifah Rasullah sehingga ia mendapat penghormatan yang tinggi serta dimintai
nasihatnya serta menjadi tangan kanan khalifah yang baru itu. Sebelum meninggal dunia

Abu Bakar telah menunjuk Umar menjadi penerusnya [10]

Umar mengikuti semua peperangan yang dipimpin Rasullah. Ia adalah orang yang

senantiasa selalu dekat dengan Rasullah dalam setiap kali peperangan dan tidak pernah

berpisah denganya. Dia membela dan melindungi beliau dari bahaya yang mengancamnya.

Ia tidak melakukan ijtihad dan selalu menerapkan firman Allah dan Sabda Rasullah

secara literal.

Umar diaggap sebagai sahabat Rasulullah kedua setelah Abu Bakar. Pada masa

pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq, dia menjadi penasihat dan tangan kananya. Juga

menjadi orang yang banyak terlibat dalam mengendalikan roda pemerintahan.[11]

b. Masa pemerintahan Umar

Masa dua tahun bagi Abu Bakar belumlah cukup untuk menjamin stabilitas

keamanan terkendali, maka penunjukan ini dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan

terjadinya perselisihan dikaangan umat Islam.

Umar bin Khaththab menyebutkan dirinya “ Khalifah Khalifati Rasulillah”

(pengganti dari pengganti Rasullullah). Ia juga mendapat gelar Amir Al-Mukiminin

(komandan orang-orang beriman) sehubungan dengan penaklukan-penaklukan yang

berlasung pada masa pemerintahanya.

Keberhasilan pasukan Islam dalam penaklukan Suriah di masa Khalifah Umar tidak

lepas dari rentetan penaklukan pada masa sebelumnya. Khalifah Abu Bakar telah

mengirim pasukan besar dibawah Abu Ubaidah bin Jarrah ke Front Syiria. Ketika

pasukan itu terdesak, Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid yang sedang dikirim

untuk memimpin pasukan ke front Irak untuk membantu pasukan di Syiria.[12]

Dari Syiria pasukan muslim melanjutkan langkah ke Mesir dan membuat

kemenangan-kemenagan di wilayah Afrika bagian utara. Bangsa Romawi telah menguasai

Mesir sejak tahun 30 sebelum masehi, dan menjadikan wilayah subur itu sebagai sumber
pemasok gandum terpenting bagi Romawi. Berbagai macam pajak naik sehingga

menimbulkan kekacauan di negeri yang pernah diperintah oleh raja Fir’aun itu. ‘Amr bin

Ash meminta izin Khalifah Umar untuk menyerang wilayah itu, tetapi khalifah masih

ragu-ragu karena pasukan Islam masih terpencar di beberapa front pertempuran.

Akhirnya permintaan itu dikabulkan juga leh khalifah dengan mengirimkan 4000 tentara

Mesir untuk membantu ekspedisi tersebut. Tahun 18 H pasukan muslimin mencapai kota

Aris dan mendudukinya tanpa perlawanan. Kemudian menundukkan Pelusium pelabuhan

di pantai Laut Tengah yang merupakan pintu gerbang ke Mesir.

Iskandariah, ibu kota Mesir dikepungselama empat bulan sebelum ditaklukan oleh

pasukan Islam dibawah pimpinan Ubadah bin Samit yang dikirim oleh khalifah di front

peperangan Mesir. Cyrus menandatangani perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Perjanjian tersebut berisi beberapa hal sebagai berikut :

1. Setiap warga Negara diminta untuk membayar pajak perorangan sebanyak 2 dinar setiap

tahunya.

2. Gencatan senjata akan berlangsung selama 7 bulan

3. Bangsa Arab akan tinggal dimarkasnya selama gencatan senjata dan pasukan Yunani

tidak akan menyerang Iskandariah harus menjauhkan diri dari permusuhan.

4. Umat Islam tidak akan menghancurkan gereja-gereja dan tidak boleh mencampuri

urusan umat Kristen.

5. Pasukan tetap Yunani harus meninggalkan Iskandariah dengan membawa harta benda

dan uang, mereka akan membayar pajak perorangan selama satu bulan.

6. Umat Yunani harus tetap tinggal di Iskandariah

7. Umat Islamharus menjaga 150 tentara Yunani dan 50 orang sipil sebagai sandera sampai

batas waktu dari perjanjian ini dilaksanakan.

Dengan jatuhnya Iskandaria maka sempurnalah penaklukan atas Mesir. Ibu kota

negeri itu dipindahkan ke kota baru yang bernama Fustat yang dibangun oleh ‘Amr bin
Ash pada tahun 20 H. masjid ‘Amr masih berdiri tegak dipinggiran kota Kairo hingga kini

sebagai saksi sejarah yang tidak dapat dihilangkan.[13]

Pusat kekuasaan Islam di Madinah mengalami perkembangan yang sangat pesat,

bersamaan dengan keberhasilan. Umar telah berhasil membuat dasar-dasar bagi suatu

pemerintahan yang handal untuk melayani tuntutan masyarakat baru yang terus

berkembang. Umar mendirikan beberapa dewan membangun baitul mal, mencetak mata

uang, membentuk kesatuan tentara untuk melindungi daerah tapal batas, mengatur gaji,

mengangkat para hakim dan menyelenggrakan “hisbah”.

Khallifah Umar dikenal bukan saja pandai menciptakan peraturan-peraturan baru,

ia juga memperbaiki dan mengkaji ulang terhadap kebikasanaan yang telah ada jika itu

diperlakukan demi tercapainya kemaslahatan umat Islam. Mislanya mengenai

kempemilika tanah-tanah yang diperoleh dari suatu peperangan. Khalifah Umar

membiarkan tanah digarab oleh pemiliknya sendiri dinegeri yang telah ia taklukkan dan

melarang kaum muslimin karena mereka menerima tunjangan dari baitul mal atau gaji

bagi prajurit yang masih aktif. Sebagai gantinya, atas tanah itu dikenakan pajak.[14]

Begitu pula Umar meninjau kembali bagian-bagian zakat yang diperuntukan kepada

orang-orang yangn dijinakkan hatinya mengenai syara-syarat pemberiannya.

Berikut adalah beberapa hasil kerja Umar

1. Khalifah Umar adalah orang pertama yang menggelari dirinya Amirul Mukminin

2. Dia adalah orang pertama yang membentuk kantor/kementrian. Ada kantor tentara,

kantor distribusi, pengiriman surat melalui kurir, dan membuat mata uang.

3. Dia adalah orang pertama yang membuat penaggalan Islam dengan menjadikan awla

hijrah Rasullah sebagai awalnya.

4. Umar melakukan perluasan Masjidil Haram.[15]

Khalifah umar memerintah selama 10 tahun lebih 6 bulan 4 hari. Kematiannya

sangat tragis, seorang budak bangsa Persia bernama Fairuz atau Abu Lu’lu’ah secara
tiba-tiba menyerang dengan tikaman pisau tajam kearah khalifah yang akan mendirikan

shalat subuh yag telah ditunggu oleh jama’ahnya di masjid Nabawi di pagi buta itu.

Khalifah terluka parah dari pembaringan ia mengangkat “Syura” (komisi pemilihan)

yangn akan memilih penerus tongkat kekhallifahanya. Khalifah Umar wafat tiga hari

setelah peristiwa penikaman atas dirinya, yakni 1 Muharram 23 H/644 M.[16]