You are on page 1of 4

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin >5 mg/dL dan secara klinis
tampak pewarnaan kuning pada kulit dan membran mukosa yang disebut
ikterus.(Kamilah Budhi Rahardjani: Kadar Bilirubin Neonatus dengan dan Tanpa
Defisiensi Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase yang Mengalami atau Tidak
Mengalami Infeksi).. Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis
yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir. Lebih dari 85% neonatus cukup
bulan yang kembali dirawat dalam minggu pertama kehidupan disebabkan keadaan
ini. (abdulrahman sukadi, neonatologi IDAI). Angka kejadian hiperbilirubinemia
lebih tinggi pada neonatus kurang bulan. (Emil Azlin: Efektifitas fototerapi ganda
dan fototerapi tunggal dengan tirai pemantul sinar pada jaundice)
Bilirubin berasal dari degradasi heme yang merupakan komponen. Pada
neonatus, hepar belum berfungsi secara optimal, sehingga proses konjugasi
bilirubin tidak terjadi secara maksimal. Keadaan ini akan menyebabkan akumulasi
bilirubin tak terkonjugasi didalam darah yang mengakibatkan neonatus terlihat
bewarna kuning pada sklera dan kulit. (abdulrahman sukadi, neonatologi IDAI).
Bilirubin dalam darah terdiri dari dua bentuk, yaitu bilirubin direk danbilirubin
indirek. Bilirubin direk larut dalam air dan dapat dikeluarkan melaluiurin.
Sedangkan bilirubin indirek tidak larut dalam air dan terikat pada albumin.Bilirubin
total merupakan penjumlahan bilirubin direk dan indirek. 4,9
Pada kebanyakan neonatus baru lahir, hiperbilirubinemia tak terkonjugasi
merupakan fenomena transisional yang normal, tetapi pada beberapa neonatus,
terjadi peningkatan bilirubin secara berlebihan sehingga bilirubin berpotensi
menjadi toksik dan menyebabkan kematian dan bila neonatus tersebut dapat
bertahan hidup pada jangka panjang akan menimbulkan sekuele nerologis. Dengan
demikian, setiap neonatus yang mengalami kuning harus dibedakan apakah ikterus
yang terjadi merupakan keadaan yang fisiologis atau patologis serta dimonitor
apakah mempunyai kecenderungan untuk berkembang menjadi hiperbilirubinemia
berat. (Kamilah Budhi Rahardjani: Kadar Bilirubin Neonatus dengan dan Tanpa
Defisiensi Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase yang Mengalami atau Tidak
Mengalami Infeksi)
Tujuan utama dalam penatalaksanaan hiperbilirubinemia adalah
untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang
dapatmenbimbulkan kernikterus atau ensefalopati bilirubin, serta mengobati
penyebab langsung dari hiperbilirubinemia pada neonatus. 1,4,5

Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang paling sering


ditemukan pada bayi baru lahir. Lebih dari 85% bayi cukup bulan yang kembali
dirawat dalam minggu pertama kehidupan disebabkan oleh keadaan ini.
Hiperbilirubinemia menyebabkan bayi terlihat berwarna kuning, keadaan ini timbul
akibat akumulasi pigmen bilirubin (4Z, 15Z bilirubin IX alpha) yang berwarna
ikterus pada sklera dan kulit. Isomer bilirubin ini berasal dari degradasi heme yang
merupakan komponen haemoglobin mamalia. Pada masa transisi setelah lahir,
hepar belum berfungsi secara optimal, sehingga proses glukuronidasi bilirubin tidak
terjadi secara maksimal. Keadaan ini akan menyebabkan dominasi bilirubin tak
terkonjugasi di dalam darah. Pada kebanyakan bayi baru lahir, hiperbilirubinemia
tak terkonjugasi merupakan fenomena transisional yang normal, tetapi pada
beberapa bayi, terjadi peningkatan bilirubin secara berlebihan sehingga bilirubin
berpotensi menjadi toksik dan dapat menyebabkan kematian dan bila bayi tersebut
dapat bertahan hidup pada jangka panjang akan menimbulkan sekuele neurologis.
Dengan demikian, setiap bayi yang mengalami kuning, harus dibedakan apakah
ikterus yang terjadi merupakan keadaan yang fisiologis atau patologis serta
dimonitor apakah mempunyai kecenderungan untuk berkembang menjadi
hiperbilirubinemia yang berat.

Oleh karena itu, setiap bayi dengan ikterus harus mendapatkan perhatian, terutama
apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau bila kadar
bilirubin meningkat > 5 mg/dL (> 86μmol/L) dalam 24 jam. Proses hemolisis darah,
infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk >1
mg/dL juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus
patologis. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-
baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan.
Ikterus neonatorum telah sejak lama dikenal. Penggunaan istilah Kernikterus
telah digunakan sejak awal tahun 1900 untuk menyebutkan pewarnaan kuning pada
basal ganglia neonatus yang meninggal akibat ikterus berat. Sejak tahun 1950
sampai 1970, terjadi peningkatan insidensi penyakit Rhesus hemolitik dan
kernikterus, sehingga pediatrisians menjadi lebih agresif dalam penatalaksanaan
ikterus. Meskipun demikian, beberapa faktor telah merubah manajemen
penatalaksanaan ikterus.1

Penelitian yang dilakukan pada tahun 1980 hingga 1990 menunjukkan bahwa
angka kejadian kernikterus sangat jarang dan terlalu banyak neonatus yang
mendapatkan pengobatan yang sebenarnya tidak diperlukan. Akan tetapi, banyak
juga bayi baru lahir yang dipulangkan dari Rumah Sakit lebih awal sehingga
membatasi kemampuan dokter untuk dapat mendeteksi terjadinya ikterus selama
periode ketika konsentrasi serum cenderung mengalami peningkatan.1

Adanya fakta lain bahwa konsentrasi rendah bilirubin mempunyai


keuntungan sebagai antioksidan menimbulkan pendapat baru bahwa bilirubin tidak
boleh dieliminasi seluruhnya. Karena faktor-faktor tersebut, dokter menjadi kurang
memperhatikan penatalaksanaan ikterus pada neonatus, yang pada akhirnya
meningkatkan jumlah laporan kasus kernikterus yang mematikan. Fakta-fakta
tersebut akhirnya menggerakan para dokter untuk mengembangkan suatu
pendekatan baru dalam prevensi, deteksi, dan pengobatan hiperbilirubinemia.1,2,3

Ikterus terjadi selama usia minggu pertama pada sekitar 60% bayi cukup
bulan dan 80% pada bayi prematur. Di Amerika Serikat, dari 4 juta bayi yang lahir
setiap tahunnya, sekitar 65% mengalami ikterus. Di Indonesia, didapatkan data
ikterus neonatorum dari beberapa rumah sakit pendidikan. Sebuah studi cross-
sectional yang dilakukan di RSCM selama tahun 2003, menemukan prevalensi
ikterus pada bayi baru lahir sebesar 58% untuk kadar bilirubin di atas 5 mg/dl dan
29,3% dengan kadar bilirubin di atas 12 mg/dl pada minggu pertama kehidupan.
RS dr.Sardjito melaporkan sebanyak 85% bayi cukup bulan sehat mempunyai kadar
bilirubin di atas 5 mg/dl dan 23,8% memiliki kadar bilirubin di atas 13 mg/dl.
Pemeriksaan dilakukan pada hari 0, 3, dan 5. Dengan pemeriksaan kadar bilirubin
tiap hari, didapatkan ikterus dan hiperbilirubinemia terjadi pada 82% dan 18,6%
bayi cukup bulan. Sedangkan pada bayi kurang bulan, dilaporkan ikterus dan
hiperbilirubinemia ditemukan pada 95% dan 56% bayi. Tahun 2003 terdapat
sebanyak 128 kematian neonatal (8,5%) dari 1509 neonatus yang dirawat dengan
24% kematian terkait hiperbilirubinemia. Data yang agak berbeda didapatkan dari
RS Dr. Kariadi Semarang, dimana insidens ikterus pada tahun 2003 hanya sebesar
13,7%, 78% di antaranya merupakan ikterus fisiologis dan sisanya ikterus
patologis. Angka kematian terkait hiperbilirubinemia sebesar 13,1%. Didapatkan
juga data insidens ikterus pada bayi sukup bulan sebesar 12,0% dan bayi kurang
bulan 22,8%.1

Sebagian besar ikterus pada neonatus tidak memiliki penyebab dasar atau
disebut ikterus fisiologis yang akan menghilang pada akhir minggu pertama
kehidupan pada bayi cukup bulan. Tetapi sebagian kecil memiliki penyebab seperti
hemolisis, septikemi, penyakit metabolik (ikterus patologik) sehingga
menimbulkan gangguan yang menetap tau menyebabkan kematian. Ensefalopati
bilirubin merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling berat. Selain
memiliki angka mortalitas yang tinggi, juga dapat menyebabkan gejala sisa berupa
cerebral palsy, tuli nada tinggi, paralisis dan displasia dental yang sangat
mempengaruhi kualitas hidup. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus
dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan.1