You are on page 1of 1

AGONIS OPIOID

Opioid memiliki efek konstipasi yang bermakna (lihat bab 31). Obat ini
meningkatkan aktivitas segmentasi fasik kolon melalui inhibisi saraf kolinergik
prasinaptik dalam pleksus submukosus dan mienterikus sehingga menyebabkan
peningkatan waktu transit dalam kolon dan penyerapan air dalam feses. Agonis
opioid juga menurunkan pergerakan massal kolon dan reflex gastrokolik.
Meskipun semua opioid memiliki efek antidiare, efeknya terhadap sistem saraf
pusat dan adanya potensi kecanduan membatasi penggunaan sebagian besar
opioid. Loperamid merupakan agonis opioid bebas yang tidak melintasi sawar
darah-otak serta tidak memiliki sifat analgesic atau potensi menimbulkan
kecanduan. Toleransi terhadap penggunaan jangka-panjang loperamide belum
dilaporkan terjadi. Obat ini biasanya diberikan dalam dosis 2 mg yang digunakan
satu hingga empat kali sehari. Difenoksilat adalah agonis opioid lainnya yang
tidak memiliki sifat analgesic pada dosis standar; namun, dosisnya yang lebih
tinggi berefek terhadap sistem saraf pusat sehingga penggunaan jangka-
panjangnya dapat menyebabkan ketergantungan opioid. Sediaan dagangnya
umumnya mengandung sejumlah kecil atropine untuk mencegah overdsosis (2,5
mg difenoksilat dengan 0,025 mg atropine). Sifat antikolinergik atropine dapat
berperan dalam timbulnya efek antidiare.

KAOLIN & PEKTIN


Kaolin adalah magnesium alumunium silikat terhidrasi (atapulgit) yang terdapat
di alam, dan pektin merupakan karbohidrat tak-tercerna yang berasal dari apel.
Keduanya tampaknya bekerja sebagai absorben bakteri, toksin, dan cairan
sehingga menurunkan kecairan dan jumlah feses. Obat-obat ini dapat bermanfaat
pada diare akut tetapi jarang digunakan untuk waktu yang lama. Sediaan dagang
yang umum dikenal adalah Kaopectate. Dosis biasanya adalah 1,2-1,5 g setelah
setiap defekasi (maksimum: 9 g/hari). Sediaan kaolin-pektin tidak di