You are on page 1of 14

Isi Perjanjian Linggarjati, Latar Belakang &

Dampaknya

Advertisement

This makes everyone lose weight! Careful, you start losing up to 1 kg per day

This will burn your belly fat! To lose 16 pounds in 3 days, every night ...

Cara penurunan berat badan paling cepat! Jauhi 4 makanan ini. Telur, mayones...

This will burn your belly fat! To lose 16 pounds in 3 days, every night ...

Sejarah: Isi Hasil Perjanjian Linggarjati, Latar Belakang & Dampaknya| Perjanjian atau
perundingan linggarjati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati,
Jawa Barat dengan menghasilkan suatu persetujuan tentang status kemerdekaan Indonesia. Hasil
perundingan yang terjadi di Istana Merdeka yakni di jakarta tanggal 15 November 1946 yang
ditandatangi oleh kedua pihak yaitu Indonesia dan Belanda pada tanggal 25 Maret 1947.

Sebab/Latar Belakang Terjadinya Perjanjian Linggarjati/Perundingan


Linggarjati

Masuknya AFNEI yang diboncengi NICA ke negara Indonesia karena disaat itu Jepang
menetapkan status quo di Indonesia yang menyebabkan terjadinya konflik antara Indonesia dan
Belanda, contohnya peristiwa 10 November, tidak hanya itu pemerintah Inggris bertanggung
jawab menyelesaikan konflik politik dan militer di Asia. Oleh karena itu, SirArchibald Clark Kerr,
sebagai diplomat Inggris mengundang Indonesia dan juga Belanda dalam merundingkan di Hooge
Veluwe, tetapi perundingan tersebut gagal karena disaat itu Indonesia meminta Belanda untuk
mengakui kedaulatannya atas Jawa, Sumatera dan Pulau Madura, tetapi Belanda hanya ingin
mengakui Indonesia atas Jawa dan Madura saja.
Promoted Content

by
How This Woman Made $2.7 Million In Two Months Will Surprise ...
theconservativeinvestor.co

This Is Why Slavic Girls Make The Best Girlfriends


anastasiabeauties.com

Do You Know Which Vegetable Is Making You Fat?


healthnews04.com
Dwayne "The Rock" Johnson is Gone

Akhir agustus 1946, pemerintah Inggris mengirimkan Lord Killearn ke Indonesia dalam
menyelesaikan perundingan antara Indonesia dengan Belanda. Pada 7 Oktober 1946 yang
bertempat di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta dibuka perundingan Indonesia Belanda yang
dipimpin oleh Lord Killearn yang dalam perundingan tersebut menghasilkan persetujuan untuk
gencatan senjata di tanggal 14 oktober dan mengambil jalan untuk semua masalah tersebut melalui
perundingan Linggarjati yang dilaksanakan pada tanggal 11 November 1946.

Tokoh-Tokoh Dalam Perundingan Linggarjati/Perjanjian Linggarjati

Dalam perundingan linggarjati/perjanjian linggarjati dari wakil Indonesia adalah sebagai


berikut..
Ketua: Sutan Syahrir
Anggota:

 Mr.Moh. Roem
 Mr.Susanto Tirtoprojo
 A.K. Gani

Sedangkan di pihak belanda adalah komisi Tim Jenderal yang terdiri dari...
Ketua/dipimpin: Wim Schermerhorn
Anggota:

 H.J.Van Mook
 Max Van Poll
 F.de Baer

Mediator adalah Lord Killearn dari Inggris.

Hasil Isi Perjanjian Linggarjati/Perundingan Linggarjati

Isi hasil perundingan yang terdiri dari 17 pasal antara lain berisi:
1. Belanda mengakui secara de faktor bahwa wilayah RI yaitu Jawa, Sumatera dan Madura
2. Belanda harus meninggalkan wilayah RI yang paling lambat pada tanggal 1 Januari 1949
3. Pihak Belanda dan Indonesia sepakan untuk membentuk Negara RIS
4. Dalam bentuk negara RIS Indonesia harus tergabung dalam Commonwealth/persemakmuran
Indonesia-Belanda dengan mahkota negeri belanda sebagai kepala Uni.

Pengesahan Perjanjian Linggarjati

Akhirnya, KNIP mengesahkan perjanjian Linggarjati pada tanggal 25 Februari 1947, bertempat
di Istana Negara Jakarta. Persetujuan itu ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947. Apabila
ditinjau dari luas wilayah, kekuasaan Republik Indonesia menjadi semakin sempit, namun bila
dipandang dari segi politik intemasional kedudukan Republik Indonesia bertambah kuat. Hal ini
disebabkan karena pemerintah Inggris, Amerika Serikat, serta beberapa negara-negara Arab telah
memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.

Persetujuan itu sangat sulit terlaksana, karena pihak Belanda menafsirkan lain. Bahkan dijadikan
sebagai alasan oleh pihak Belanda untuk mengadakan Agresi Militer I pada tanggal 21 Juli 1947.
Bersamaan dengan Agresi Militer I yang dilakukan oleh pihak Belanda, Republik Indonesia
mengirim utusan ke sidang PBB dengan tujuan agar posisi Indonesia di dunia internasional
semakin bertambah kuat. Utusan itu terdiri dari Sutan Svahrir, H. Agus Salim, Sudjatmoko, dan
Dr. Sumitro Djojohadikusumo.

Kehadiran utusan tersebut menarik perhatian peserta sidang PBB, oleh karena itu Dewan
Keamanan PBB memerintahkan agar dilaksanakan gencatan senjata dengan mengirim komisi
jasa baik (goodwill commission) dengan beranggotakan tiga negara. Indonesia mengusulkan
Austra-lia, Belanda mengusulkan Belgia, dan kedua negara yang diusulkan itu menunjuk
Amerika Serikat sebagai anggota ketiga. Richard C. Kirby dari A.ustralia, Paul van Zeeland dari
Belgia, dan Frank Graham dari Amerika Serikat. Di Indonesia, ketiga anggota itu terkenal
dengan sebutan Komisi Tiga Negara (KTN). Komisi ini menjadi perantara dalam perundingan
berikutnya.

Dampak Perjanjian Linggarjati/Perundingan Linggarjati

Perjanjian Linggarjati memberikan dampak positif dan negatif bagi bangsa Indonesia antara lain
sebagai berikut...
1. Dampak Positif Hasil Perjanjian Linggarjati
a. Adanya pengakuan Belanda secara de facto mengakui kekuasaan pemerintah RI atas Jawa,
Madura dan Sumatera
b. Dari perundingan linggarjati, berturut-turut negara asing kini mengakui kekuasaan RI seperti..

 Inggris: 31 Maret 1947


 Amerika Serikat 17 April 1947
 Mesir 11 Juni 1947
 Lebanon: 29 Juni 1947
 Suriah: 2 Juli 1947
 Afganistan: 23 September 1947
 Burma: 23 November 1947
 Saudi Arabia: 24 November 1947
 Yaman: 3 Mei 1948
 Rusia: 26 Mei 1948

2. Dampak Negatif Hasil Perjanjian Linggarjati


1. Belanda dapat membangun kembali kekuatan di Indonesia
2. Banyak masyarakat dan kalangan indonesia yang menetang mulai dari Partai Masyumi, PNI,
Partai Rakyat Indonesia, dan Partai Rakyat Jelata. dimana partai tersebut menyatakan bahwa bukti
lemahnya pemerintah Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan negara Indonesia.
3. Pemimpin perundingan linggarjati Indonesia yaitu Sutan Syahrir dianggap memberikan
konsensi bagi Belanda membuat sebagian besar anggota Partai Sosialis di Kabinet dan KNIP
menarik dukungannya kepada Syahrir pada tanggal 26 Juni 1947.

Peristiwa Setelah Perjanjian Linggajarti

Hasil perjanjian linggarjati atau perundingan linggarjati ternyata tidak berjalan muluss, dikarena
dianggap bahwa indonesia tidak mematuhi perjanjian akibat dari indonesia melakukan hubungan
diplomatik yang dianggap belanda, Indonesia tidak memiliki hak atau tidak meminta isin kepada
Belanda karena Indonesia merupakan uni dari Belanda. Tanggal 20 Juli 1947, Gubernur Jenderal
H.J. Van Mook akhirnya menetapkkan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian tersebut
dan ditanggal 21 Juli, terjadi suatu peristiwa dimana Belanda beraksi dengan melakukan Agresi
Militer Belanda 1. Dapat disimpulkan dari permasalahan ini bahwa terdapat perbedaan penafsiran
atau kesalah pahaman mengenai Perjanjian Linggarjati antara Indonesia dan Belanda.

Baca Juga:

Sejarah: Isi Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia RI


Sejarah: Isi Perjanjian Bongaya
Sejarah: Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Tujuan & Dampaknya
Sejarah: Isi Konferensi Meja Bundar (KMB), Tujuan, & Dampaknya
Isi Sumpah Pemuda dan Sejarah Sumpah Pemuda
Demikianlah informasi mengenai Sejarah: Isi Perjanjian Linggarjati, Latar Belakang &
Dampaknya. Semoga teman-teman dapat menerima dan bermanfaat bagi kita semua baik it

Perjanjian Renville

Atas usulan KTN pada tanggal 8 Desember 1947 dilaksanakan perundingan antara Indonesia dan
Belanada di atas kapal renville yang sedang berlabuh di Jakarta. Delegasi Indonesia terdiri
atas perdana menteri Amir Syarifudin, Ali Sastroamijoyo, Dr. Tjoa Sik Len, Moh. Roem, Haji
Agus Salim, Narsun dan Ir. Juanda. Delegasi Belanda terdiri dari Abdulkadir Widjojoatmojo,
Jhr. Van Vredeburgh, Dr. Soumukil, Pangran Kartanagara dan Zulkarnain. Ternyata wakil-
wakil Belanda hampir semua berasala dari bangsa Indonesia sendiri yang pro Belanda. Dengan
demikian Belanda tetap melakukan politik adu domba agar Indonesia mudah dikuasainya.
Setelah selesai perdebatan dari tanggal 8 Desember 1947 sampai dengan 17 Januari 1948
maka diperoleh hasil persetujuan damai yang disebut Perjanjian Renville. Pokok-poko isi
perjanjian Renville, antara lain sebagai berikut :
1. Belanda tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia samapi kedaulatan Indonesia
diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat yang segera terbentuk.
2. Republik Indonesia Serikat mempunyai kedudukan yang sejajar dengan negara Belanda
dalam uni Indonesia-Belanda.
3. Republik Indonesia akan menjadi negara bagian dari RIS
4. Sebelum RIS terbentuk, Belanda dapat menyerahkan sebagain kekuasaannya kepada
pemerintahan federal sementara.
5. Pasukan republic Indonesia yang berda di derah kantong haruns ditarik ke daerah Republik
Indonesia. Daerah kantong adalah daerah yang berada di belakang Garis Van Mook, yakni
garis yang menghubungkan dua derah terdepan yang diduduki Belanda.
Perjanjian Renville ditandatangani kedua belah pihak pada tanggal 17 Januari 1948. adapun
kerugian yang diderita Indonesia dengan penandatanganan perjanjian Renville adalah sebagai
berikut :
1. Indonesia terpaksa menyetujui dibentuknya negara Indonesia Serikat melalaui masa
peralihan.
2. Indonesia kehilangan sebagaian daerah kekuasaannya karena grais Van Mook terpaksa harus
diakui sebagai daerah kekuasaan Belanda.
3. Pihak republik Indonesia harus menarik seluruh pasukanya yang berda di derah kekuasaan
Belanda dan kantong-kantong gerilya masuk ke daerah republic Indonesia.
Penandatanganan naskah perjanjian Renville menimbulkan akibat buruk bagi pemerinthan
republik Indonesia, antra lain sebagai berikut:
1. Wilayah Republik Indonesia menjadi makin sempit dan dikururung oleh daerah-daerah
kekuasaan belanda.
2. Timbulnya reaksi kekerasan dikalangan para pemimpin republic Indonesia yang
mengakibatkan jatuhnya cabinet Amir Syarifuddin karena dianggap menjual negara kepada
Belanda.
3. Perekonomian Indonesia diblokade secara ketata oleh Belanda
4. Indonesia terpaksa harus menarik mundur kesatuan-kesatuan militernya dari daerah-daerah
gerilya untuk kemudian hijrah ke wilayah Republik Indonesia yang berdekatan.
5. Dalam usaha memecah belah Negara kesatuan republic Indonesia, Belanda membentuk
negara-negara boneka, seperti; negara Borneo Barat, Negara Madura, Negara Sumatera
Timur, dan Negara jawa Timut. Negara boneka tersebut tergabung dalam BFO
(Bijeenkomstvoor Federal Overslag).
Beranda

My Chat Room

 Beranda
 Zaman Prasejarah
 Latar belakang Orde Baru
 Konferensi Meja Bundar ( KMB )
 Perjanjian Renville
 G 30 S-PKI
 Pemberontakan Di/TII
 Konflik Indonesia Belanda
 Orde Lama
 Sejarah
 Timeline era reformasi

Blog Archive

 ▼ 2011 (3)
o ▼ Mei (3)
 Sejarah
 Latar belakang Orde Baru
 Zaman Prasejarah

yang susah....
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Dwinda Permatasari

Lihat profil lengkapku

Followers

Translate

Pasang Translate di Blog Kamu

RADIO ONLINE
Widget By: Forantum
Dwinda

Kasih makan dulu...

Music Playlist at MixPod.com

Subscribe To

Pos

Semua Komentar

PASUKAN SILIWANGI HIJRAH KE JAWA TENGAH

Disaat perjuangan perlawanan terhadap Belanda di Jawa Barat sedang memuncak dan
inisiatif ditangan Indonesia, pihak Belanda sekali lagi memaksa diadakannya
perundingan yang diselenggarakan diatas Kapal “Renville” yang sedang berlabuh di teluk
Jakarta pada tanggal 17 Januari 1948. Isi perjanjian Renville itu antara lain adalah bahwa
: Mengharuskan pasukan Siliwangi Hijrah ke Jawa Tengah ke daerah-daerah yang masih
di kuasai oleh RI. Dipandang dari segi Politik, secara militer dan segi ekonomi sangat
merugikan Republik Indonesia khususnya TNI.
Dari segi politik persetujuan Renville tersebut berarti pengakuan RI secara “De Jure” atas
kedaulatan Kerajaan Belanda atas tanah air kita. Sedangkan dipandang secara militer
perjuangan itu berarti menyerahkan kantong-kantong gerilya kita yang tidak dapat direbut
Belanda itu kepada pihak Belanda sehingga kita menjadi terkepung. Dipandang dari segi
ekonomi persetujuan itu berarti kita menerima keadaan bahwa semua kota-kota besar,
pusat-pusat produksi dan perdagangan keluar, telah berada pada tangan Belanda,
ekonomi kita berada dalam keadaan terkepung, terblokade dan terjepit.
1 Februari 1948, di Cirebon, ribuan tentara dari Jawa Barat mulai bergerak meninggalkan
daerah Jawa Barat menuju Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kepindahan besar-besaran ini
kelak masyhur disebut sebagai Hijrah Divisi Siliwangi.
Sebagian anggota Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah melalui laut. Mereka diangkut
dari pelabuhan Cirebon menuju pelabuhan Rembang. Sebagian lagi diangkut lewat
kereta api. Anggota Siliwangi yang dikirim lewat kereta berkumpul lebih dulu di stasiun
Parujakan (1 km sebelah selatan dari stasiun Cirebon sekarang) untuk diangkut ke
Yogya.
Hijrah merupakan konsekuensi kesepakatan pemerintah Indonesia dengan Belanda
pada Perundingan Renville. Salah satu klausul kesepakatan menyebutkan pemerintah
Indonesia harus mengosongkan daerah-daerah yang masuk Garis van Mook, di
antaranya Jawa Barat. Itu artinya, tentara dan aparat pemerintahan harus hijrah ke
wilayah resmi Indonesia yang hanya meliputi Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Kedu,
Madiun, sebagian keresidenan Semarang, Pekalongan, Tegal bagian selatan dan
Banyumas.
Selain Divisi Siliwangi, tentara Indonesia di daerah lain yang masuk garis van Mook juga
harus pindah. Di Jawa Timur, sekira 6000 tentara harus hijrah ke daerah Indonesia.
Sementara di Sumatera tidak banyak yang harus dihijrahkan karena pasukan Indonesia
yang berada di daerah van Mook tidaklah banyak. Pasukan Siliwangi menjadi pasukan
hijrah terbanyak.
Sebenarnya, di kalangan tentara Indonesia telah timbul rasa kecewa terhadap perintah
hijrah tersebut. Cukup banyak tentara Indonesia yang bahkan meminta berhenti sebagai
protes. Pada 9 Januari 1948, Letnan Oerip Soemohardjo dan Didi penasehat militer
delegasi Indonesia dalam Perundingan Renville sudah menentang keras ultimatum yang
dikeluarkan van Mook. Oerip Soemohardjo bahkan sempat mengundurkan diri sebagai
bentuk pernyataan protes.
Kendati demikian, hijrahnya Divisi Siliwangi ini bukannya tak memunculkan polemik.
Ketika pemerintah melansir reorganisasi militer Indonesia yang memangkas nyaris
separuh jumlah tentara Indonesia. Sehingga sebagian dari pasukan Siliwangi yang turut
hijrah pun terpaksa tidak dapat masuk formasi dan akhirnya hidup terkatung-katung di
tanah rantau. Beleid itu memunculkan perlawanan dan protes dari banyak kalangan,
termasuk dari beberapa komandan batalyon yang berbasis di Jawa Tengah dan Jawa
Timur.
Pasukan Siliwangi adalah pendukung utama beleid rasionalisasi itu sehingga kekuatan
antara yang pro dan kontra rasionalisasi menjadi lebih seimbang. Pasukan Siliwangi,
yang lebih lengkap persenjataannya dan relatif lebih disiplin dan modern, menjadi
pasukan elit yang tampak diistimewakan, terlebih konsep dan cetak biru rasionalisasi
memang disusun berdasarkan gagasan Nasution. Muncul rasa tidak puas dan
kecemburuan dari beberapa batalyon yang harus kehilangan banyak tentaranya akibat
program rasionalisasi tersebut.
Pada saat menjelang hijrah unsur-unsur pimpinan Divisi Siliwangi terdiri dari : Panglima
Divisi Kolonel A.H. Nasution, Kepala Staf Kolonel Hidayat, Komandan Brigade-I/Tirtayasa
di Banten Letkol Dr. Arie Sudewo yang menggantikan Letkol Suganda Brata Manggala,
Komandan Brigade-II/Suryakencana di Sukabumi Letkol A.E. Kawilarang. Komandan
Brigade-III/Kiansantang di Purwakarta Letkol Sidik Brata Kusumah, Komandan Brigade-
IV/Guntur di Bandung Selatan Letkol Daan Yahya. Komandan Brigade-V/Sunan Gunung
Jati di Cirebon Letkol Abimanyu.
Didalam melaksanakan perintah Hijrah dari pemerintah pusat tidak semua unsur jajaran
Divisi Siliwangi digerakkan berhijrah. Misalnya Brigade-I/Tirtayasa tidak disertakan dalam
gerakan hijrah, karena masih menguasai keadaan sepenuhnya. Demikian pula berbagai
unsur badan perjuangan ada yang tinggal di Kampung halaman, akibat dari adanya
perintah hijrah ini pasukan Siliwangi/Divisi Siliwangi kehilangan kesempatan untuk
mencicipi kemenangan dalam menanggulangi agresi Militer Belanda yang pertama di
Jawa Barat, tetapi juga menyebabkan Divisi Siliwangi tersebar dan harus terlempar dari
kampung halamannya sendiri.
Pada tanggal 22 Pebruari 1948, telah selesai dihijrahkan kurang lebih 29.000 prajurit
Siliwangi meninggalkan kantong-kantong gerilya di Jawa Barat. Route perjalanan hijrah
terbagi dua jalur yaitu melalui jalan darat dengan menggunakan kereta api dan melalui
laut dengan kapal laut.

Setelah hijrah, lalu datang perintah adanya rekonstruksi dan rasionalisasi untuk
ketigakalinya bagi Siliwangi. Ini dirasakan berat bagi Siliwangi terutama bagi anggota
yang tidak masuk dalam formasi sehingga harus berpisah dengan teman sejawat dan
pimpinan yang dicintainya. Akibat kesedihan dan cobaan yang cukup berat melahirkan
lagu yang kemudian menjadi Mars Siliwangi, yang terus dilantunkan selama hijrah. Lagu
Mars Siliwangi ini bukanlah ciptaan satu orang tetapi hasil karya dari beberapa orang. Ide
untuk menciptakan lagu ini datang dari Kapten Cecep Aryana (Perwira Staf Divisi
Siliwangi) dan Letnan Sunar Pirngadi, ide tersebut muncul disaat berada di kapal MS
Plancius yang mengangkut sebagian prajurit Siliwangi yang melaksanakan hijrah ke
Jawa Tengah.
Divisi Siliwangi yg berbasis gerilya di Jawa Barat harus pergi meninggalkan basisnya dan
pergi ke daerah Republik. Perintah ini tidak bisa ditawar. Mereka harus mematuhi
perintah Presiden Soekarno selaku Panglima Tertinggi TRI. Bukan karena kalah
berperang melawan Belanda, melainkan akibat para politikus yang kalah berunding
dengan Belanda di atas kapal USS Renville.
Pasukan Siliwangi yang diangkut dengan kereta api dan kapal laut melalui embarkasi
Cirebon. Menyedihkan, karena sebagai tentara mereka diangkut tanpa membawa
senjata. Persenjataan dikirimkan terpisah untuk menghindarkan bentrokan dengan pihak
Belanda. Serdadu yang naik kereta api berakhir di Gombong sedangkan yang
menggunakan kapal laut, berakhir di Rembang.
Setelah itu mereka disebar ke daerah Solo, Yogyakarta dan Magelang dan ditetapkan
sebagai pasukan cadangan. Namun semuanya bisa terangkut kereta api dan kapal laut,
sebagian ada yg pergi berjalan kaki menuju daerah-daerah Jawa Tengah. “Itulah hijrah
Siliwangi, mengalah untuk menang,” kata Presiden Soekarno tentang peristiwa pada
Februari 1948 tersebut.
Tentara Siliwangi tidak disediakan asrama selayaknya anggota militer, tetapi ditempatkan
di bekas pabrik-pabrik gula yang banyak terdapat di sana. Keadaan lingkungan yang
berbeda dengan daerah asalnya mempengaruhi sikap sehari-hari mereka. Namun, hal
itu tidak dijadikan sebuah penghalang karena kedatangan mereka untuk mematuhi
perintah para pemimpinnya. Dan, yang terpenting untuk menegakkan proklamasi
Kemerdekaan yang sedang diusik kembali oleh Belanda.