You are on page 1of 1

Seorang dengan retardasi mental, karena keaadannya, sepanjang hidupnya menghadapi lebih

banyak resiko dari pada orang normal. Resiko ini rupanya bertambah sesuai dengan beratnya

retardasi mental.

Keterbatasan inteligensinya terdapat juga perkembangan hidup yang dapat mempengaruhi

hubungan antar manusia. Bila didalam keluarga terdapat anak yang pandai, maka

ketidakmampuan untuk bersaing dapat merupakan trauma baginya. Bila orang tua tidak

mengetahui bahwa anak mereka mengalami retardasi mental (karena ketidakmampuan/karena

mekanisme pembelaan, penyangkalan), maka harapan atau tuntutan mengenai perilaku

normal akan menyebabkan frustasi yang dapat mengakibatkan ketegangan, kebingungan atau

kerenggangan hubungan orang tua dan anak.

Sikap umum masyarakat terhadap retardasi mental sangat mempengaruhi reaksi orang tua

terhadap adanya anak retardasi mental dalam keluarga mereka. Mayarakat dengan teknologi

tinggi yang mengutamakan dan kemampuan intelektual, tidak begitu toleran terhadap

penderita retardasi mental, dibandingkan dengan masyarakat dengan teknologi yang lebih

rendah. Bila anak dengan dengan retardasi mental lebih besar, maka diterimanya dia oleh

anak – anak yang lain dipengaruhi oleh sikap, toleransi dan emosi pribadi. Orangtua anak –

anak itu terhadap anak dengan retardasi mental. (Maramis,2005). Prabowo,2014