You are on page 1of 10

Elsa Lase, Iwan, dan Pity

1. Anatomi Hidung
Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-
bagiannya dari atas ke bawah:
a. Pangkal hidung (bridge)
b. Batang hidung (dorsum nasi)
c. Puncak hidung (tip)
d. Ala nasi
e. Kolumela
f. Lubang hidung (nares anterior)
Bagian puncak hidung biasanya disebut apeks. Agak ke atas dan belakang dari apeks disebut
batang hidung (dorsum nasi), yang berlanjut sampai ke pangkal hidung dan menyatu dengan
dahi. Yang disebut kolumela membranosa mulai dari apeks, yaitu di posterior bagian tengah
bibir dan terletak sebelah distal dari kartilago septum. Titik pertemuan kolumela dengan bibir
atas dikenal sebagai dasar hidung. Disini bagian bibir atas membentuk cekungan dangkal
memanjang dari atas ke bawah disebut filtrum. Sebelah-menyebelah kolumela adalah nares
anterior atau nostril (lubang hidung) kanan dan kiri, disebelah latero-superior dibatasi oleh
ala nasi dan disebelah inferior oleh dasar hidung.
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang
rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa
otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung.
Kerangka tulang terdiri dari:
a. Tulang hidung (os. Nasal)
b. Prosesus frontalis os maksila
c. Prosesus nasalis os frontal
Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di
bagian bawah hidung, yaitu:
a. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior
b. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago ala mayor)
c. Tepi ventral (anterior) kartilago septum
Elsa Lase, Iwan, dan Pity

Otot-otot ala nasi terdiri dari dua kelompok, yaitu:


a. Kelompok dilator terdiri dari m. dilator nares (anterior dan posterior), m. proserus kaput
angulare dan m. kuadratus labii superior
b. Kelompok konstriktor yang terdiri dari m. nasalis dan m. depressor septi

Septum Nasi
Septum membagi cavum nasi menjadi dua
ruang kanan dan kiri. Bagian posterior
dibentuk oleh lamina perpendikularis os
etmoid, bagian anterior oleh kartilago septum
(kuadilateral), permaksila dan kolumella
membranosa, bagian posterior dan inferior
oleh os vomer, krista maksila, krista palatine
serta krista sfenoid.
Septum dilapisi oleh perikondrium pada
bagian tulang rawan dan periosteum pada
bagian tulang, sedangkan di luarnya dilapisi
oleh mukosa hidung.

Kavum nasi
Kavum nasi (rongga hidung) berbentuk terowongan dari depan ke belakang dipisahkan
oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau nares
anterior dan lubang belakang yang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan
kavum nasi dengan nasofaring.
Berikut ini adalah bagian-bagian dari kavum nasi:
a. Dasar hidung
Dibentuk oleh prosesus palatine os maksilla dan prossesus horizontal os palatum
b. Atap
Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal, prosessus
frontalis os maksila, korpus os ethmoid dan korpus os spenoid. Bagian besar atap hidung
dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui filamen-filamen n. olfaktorius yang berasal
Elsa Lase, Iwan, dan Pity

dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan
permukaan cranial concha superior
c. Dinding lateral
Dibentuk oleh permukaan dalam prosessus frontalis os maksila, os lakrimalis, konka
superior dan konka media yang merupakan bagian dari os ethmoid, konka inferior,
lamina perpendikularis os palatum dan lamina pterigoideus medial.
d. Konka
Fossa nasalis dibagi menjadi tiga meatus oleh tiga buah konka. Kadang-kadamg
didapatkan konka ke empat (konka suprema). Yang terbesar dan letaknya paling bawah
ialah konka inferior, konka ini merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila
dan labirin etmoid. kemudian yang lebih kecil ialah konka media, lebih kecil lagi ialah
konka superior, sedangkan yang terkecil dan teratas disebut konka suprema. Konka
suprema ini biasanya rudimenter. Konka media, superior, dan suprema merupakan bagian
dari labirin etmoid.
Konka
inferior
adalah tulang
yang

memanjang berbentuk seperti kulit kerang, bagian superior melekat ke dinding lateral
kavum nasi. Ada tepi melengkung yang memisahkan permukaan medial dengan lateral.
Tepi bebas inferior melengkung dari depan ke belakang dan dari atas ke bawah, dengan
Elsa Lase, Iwan, dan Pity

bagian cembungnya menghadap kea rah septum. Tulang yang membentuk konka
berlubang-lubang seakan-akan mempunyai sel-sel, sehingga penampakannya kasar dan
berlekuk-lekuk. Ujung anterior dan posterior agak meruncing. Permukaan konka
berlubang-lubang di beberapa tempat untuk dilalui pembuluh darah. Mukosa konka tebal,
kaya akan pembuluh darah dan melekat erat pada perikondrium atau periosteum.
Konka media dan konka inferior dilapisi oleh epitel torak berlapis semu bersilia,
yang ujung-ujung anteriornya pada orang dewasa epitelnya dapat berubah menjadi kubus
atau gepeng. Stroma konka media mengandung banyak sekali kelenjar, sedangkan stroma
konka inferior mengandung banyak pembuluh darah. Pada konka inferior juga ada
kelenjar, tetapi tidak sebanyak seperti pada konka media. Pembuluh-pembuluh darah
disini adalah pleksus vena yang membentuk jaringan erektil hidung dan letaknya
terutama pada sisi bawah konka inferior dan ujung posterior konka inferior dan media.
Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang
disebut meatus. Tergantung dari letaknya, meatus ada tiga yaitu meatus inferior, medius,
dan superior.
Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan
dinding lateral rongga hidung. Meatus inferior adalah yang terbesar diantara ketiga
meatus karena pada meatus inferior terdapat muara (ostium) ductus nasolakrimalis yang
terdapat kira-kira antara 3-3.5 cm di belakang batas posterior nostril.
Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral konka hidung.
Meatus medius merupakan celah yang lebih luas daripada meatus superior. Pada meatus
medius terdapat sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior. Di balik bagian
anterior konka media yang letaknya menggantung, pada dinding lateral terdapat celah
yang berbentuk bulan sabit yang dikenal sebagai infundibulum. Ada suatu muara atau
fisura yang berbentuk bulan sabit menghubungkan meatus medius dengan infundibulum,
disebut hiatus semilunaris. Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk
tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. Di atas
infundibulum ada penonjolan hemisfer yaitu bula etmoid yang dibentuk oleh salah satu
sel etmoid. Ostium sinus frontal, antrum maksila dan sel sel etmoid anterior biasanya
bermuara di infundibulum. Sinus frontal dan sel-sel etmoid anterior biasanya bermuara di
bagian anterior atas dan sinus maksila bermuara di posterior muara sinus frontal. Ada
Elsa Lase, Iwan, dan Pity

kalanya sel-sel etmoid bermuara diatas bula ethmoid dan kadang-kadang duktus
nasofrontal mempunyai ostium tersendiri di depan infundibulum.
Meatus superior adalah suatu celah yang sempit, merupakan ruang di antara
konka superior dan konka media dimana terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus
sfenoid. Kelompok sel sel etmoid posterior bermuara di sentral meatus superior melalui
satu atau beberapa ostium yang besarnya bervariasi. Di atas belakang konka superior dan
di depan corpus os sfenoid terdapat resesus sfeno-et-moidal, tempat bermuaranya sinus
sfenoid.
e. Nares
Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara kavum nasi dengan nasofaring,
berbentuk oval dan terdapat di kanan dan kiri septum. Tiap nares posterior bagian
bawahnya dibentuk oleh lamina horisontalis palatum, bagian dalam oleh os vomer,
bagian atas oleh prosesus vaginalis os sfenoid dan bagian luar oleh lamina pterigoideus
sfenoid. Nares anterior menghubungkan rongga hidung dengan dunia luar. Nares anterior
lebih kecil dibandingkan dengan nares posterior yang berukuran kira kira tinggi 2.5 cm
dan lebar 1.25 cm.

Sinus Paranasal
Ada delapan sinus paranasal, empat
buah pada masing masing sisi hidung:
sinus frontal kanan dan kiri, sinus etmoid
kanan dan kiri (anterior dan posterior),
sinus maksila kanan dan kiri (antrum
Highmore) dan sinus sfenoid kanan dan
kiri. Semua rongga sinus ini dilapisi oleh
mukosa yang merupakan lanjutan mukosa
hidung; berisi udara dan semua bermuara
di rongga hidung melalui ostium masing-
masing.

1. Sinus frontal
Elsa Lase, Iwan, dan Pity

Bentuk dan ukuran sinus frontal sangat bervariasi, dan sering kali juga sangat
berbeda bentuk dan ukurannya dari sinus pasangannya. Sinus berhubungan dengan
meatus medius melalui duktus nasofrontal, yang berjalan ke bawah dan kebelakang dan
bermuara pada atau dekat infundibulum atas. Kadang-kadang kanalis frontonasal ini
bermuara langsung di meatus medius. Ukuran rata-rata sinus frontal: tinggi 3 cm, lebar 2-
2.5 cm, dalam 1.5-2 cm dan isi rata rata 6-7 ml.
2. Sinus etmoid
Sel-sel atau labirin ethmoid terletak di kiri kanan cavum nasi kira kira sebelah
lateral di 1/2 atau 1/3 atas hidung dan disebelah medial orbita. Tulang etmoid punya bidang
horizontal dan vertikal yang saling tegak lurus. Bagian superior bidang yang vertikal
disebut krista gali dan bagian inferior disebut lamina prependikularis os ethmoid, yang
merupakan bagian dari septum.
Bidang horizontalnya terdiri dari bagian medial, yang tipis dan berlubang lubang
yaitu lamina kribrosa dan bagian lateral yang lebih tebal dan merupakan atap sel sel
ethmoid. Lamina kribrosa tidak ditutupi oleh sel-sel ethmoid akan tetapi terbuka bebas
pada atap rongga hidung. Terbentuk oleh tulang yang keras dan tidak mudah patah oleh
kekuatan yang biasa digunakan pada operasi hidung, tapi lubang-lubang yang ada dapat
merupakan jalan untuk perjalaran infeksi ke selaput otak. Dinding luar sinus etmoid
adalah os planum atau lamina papirasea os ethmoid dan os lakrimalis.
Ada 2 kelompok sel-sel: kelompok anterior yang bermuara ke meatus medius dan
posterior yang bermuara ke meatus superior. Kelompok anterior terdapat didepan dan
bawahnya sedang kelompok posterior ada diatas dan belakangnya. Sel ethmoid posterior
sering tumbuh pada konka media, konka bulosa, sedangkan sel-sel anterior sering meluas
sampai ager nasi dan prosesus unsinatus.

3. Sinus maksila (Antrum Highmore)


Pada waktu lahir sinus maksila hanya berupa celah kecil di sebelah medial orbita.
Mula-mula dasarnya lebih tinggi daripada dasar rongga hidung, kemudian mengalami
penurunan, sehingga pada usia 8 tahun menjadi sama tinggi. Perkembangan berjalan ke
arah bawah, bentuk sempurna terjadi setelah erupsi gigi permanen. Perkembangan
maksimum tercapai antara 15 – 18 tahun. Merupakan sinus terbesar, bentuk pyramid
Elsa Lase, Iwan, dan Pity

irregular dengan dasarnya menghadap ke fossa nasalis dan puncaknya kearah apeks
prossesus zygomaticus os maksila.
Ukuran rata-rata pada bayi baru lahir: 7-8 x 4-6 mm dan ukuran pada usia 15
tahun 31-32 x 18-20 x 19-20 mm. pada orang dewasa isinya kira-kira 15 ml.

4. Sinus sfenoid
Sebelum anak usia 3 tahun sinus sfenoid masih kecil, namun telah berkembang
sempurna usia 12- 15 tahun. Ukuran ostium sinus sfenoid berkisar antara 0,5-4 mm dan
letaknya kira-kira 10-20 mm di atas dasar sinus, ukuran sinus ini pada anak usia 1 tahun:
2.5 x 2.5 x 1.5 mm dan pada usia 9 tahun 15 x 12 x 10.5 mm. Isi rata rata sekitar 7.5 ml
(0,05 – 30 ml).
Os sinus biasanya terdiri dari membran, sedangkan lingkaran tulangnya jauh lebih
besar daripada orifisiumnya. Letak dekat dengan septum nasi dan tersembunyi di balik
konka media yang berdampingan dengan septum. Bila ada atropi konka atau deviasi
septum ke sisi yang berlawanan, mungkin ostium ini akan tampak pada pemeriksaan
rinoskopi anterior. Sekret purulent mengalir dari ostium melalui koana posterior menuju
nasofaring atau ke ujung posterior konka media.
Nervus optikus dan kelenjar hipofisa terletak diatas sinus dan pons serebri terletak
di posterior. Di lateral luar terdapat sinus cavernosus, a. karotis interna, fisura orbitalis
superior dan beberapa serabut saraf kranial. Pada dinding sphenoid kadang-kadang ada
tulang yang tidak terbentuk, sehingga mukosanya berhubungan langsung dengan struktur
didekatnya.

Persarafan Hidung
a. Saraf sensoris
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat
persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang
merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal
dari n.oftalmikus (N. V-1). Rongga hidung lainnya,
sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari
n,maksila melalui ganglion sfenopalatina.
Elsa Lase, Iwan, dan Pity

b. Saraf otonom
Ganglion sferopalatina, selain memberikan persarafan sensoris, juga memberikan
persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut
saraf sensoris dari n.maksila (N. V-2), serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis
mayor dan serabut saraf simpatis dari n.petrosus profundus. Ganglion sfenopalatina
terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media.
c. Nervus olfaktorius
Fungsi penghidu berasal dari n.olfaktorius. saraf ini turun melalui lamina kribriformis
dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor
penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

Pendarahan Hidung
Bagian atas rongga hidung mendapat
pendarahan dari a. etmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari
a.oftalmika dan a.karotis interna.
Bagian bawah rongga hidung mendapat
pendarahan dari cabang a. maksilaris
interna, di antaranya ialah ujung a. palatina mayor dan a. sfenopalatina yang keluar dari
foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang
ujung posterior konka media.
Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian
depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior,
a.labialis superior dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach (Little’s area).
Pleksus Kiesselbach letaknya superficial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering
menjadi sumber epistaksis (perdarahan hidung), terutama pada anak.
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan
arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang
berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga
merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran innfeksi sampai ke intracranial.
2. Fisiologi Hidung
Elsa Lase, Iwan, dan Pity

Fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah:


a. Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara,
humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal.
Udara inspirasi masuk ke hidung menuju system respirasi melalui nares anterior,
lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring.
Aliran udara di hidung ini berbentuk lengkungan atau arkus.
Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh palut lender. Pada musim
panas, udara hampir jenuh oleh uap air, sehingga terjadi sedikit penguapan udara inspirasi
oleh palut lender, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
Suhu udara yang melalui hidung diatur sehingga berkisar 37ºC. Fungsi pengatur
suhu ini dimungkinkan oleh banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya
permukaan konka dan septum yang luas.
Partikel debu, virus, bakteri dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring
di hidung oleh rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, silia dan palut lender. Debu dan
bakteri akan melekat pada palut lender dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan
dengan refleks bersin.
b. Fungsi penghidu karena terdapatnya mukosa olfaktorius dan reservoir udara untuk
menampung stimulus penghidu.
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dan pengecap dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum.
Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau
bila menarik nafas dengan kuat.
Fungsi hidung untuk membantu indra pencecap adalah untuk membedakan rasa
manis yang berasal dari berbagai macam bahan seperti perbedaan rasa manis strawberi,
jeruk, pisang atau coklat. Juga untuk membedakan rasa asam yang berasal dari cuka dan
asam jawa.
c. Fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses bicara dan
mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang.
Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan
menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang,
sehingga terdengar suara sengau (rinolalia).
Elsa Lase, Iwan, dan Pity

Hidung mebantu proses pembentukan kata-kata. Kata dibentuk oleh lidah, bibir,
dan palatum mole. Pada pembentukan konsonan nasal (m, n, ng) rongga mulut tertutup
dan hidung terbuka, palatum mole turun untuk aliran udara.
d. Fungsi statik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma
dan pelindung panas.
e. Refleks nasal, mukosa hidung merupakan reseptor reflex yang berhubungan dengan
saluran cerna, kardiovaskuler dan pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan
reflex bersin dan napas berhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi
kelenjar liur, lambung dan pankreas.

Referensi:
1. Ballenger, J J. 2010. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher. Jakarta:
Binarupa Aksara. Jilid 1. Hal: 1-9.
2. Soepardi, E A, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala &
Leher. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Ed 6. Hal: 118-122.